cover
Contact Name
Maya Nuriya Widyasari
Contact Email
medica.hospitalia@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
medica.hospitalia@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Medica Hospitalia
ISSN : 23014369     EISSN : 26857898     DOI : https://doi.org/10.36408/mhjcm
Core Subject : Health,
Medica Hospitalia: Journal of Clinical Medicine adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan RSUP Dr. Kariadi dan menerima artikel ilmiah dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang diharapkan dapat menjadi media untuk menyampaikan temuan dan inovasi ilmiah dibidang kedokteran atau kesehatan kepada para praktisi dan akedemisi di bidang kesehatan dan kedokteran.
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 2 (2018): Med Hosp" : 13 Documents clear
Faktor Resiko Kejadian Tuberkulosis Paru Pada Masyarakat Pedesaan Di Kabupaten Banjarnegara Galuh Chandra Irawan; Ani Margawati; Ali Rosidi
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 5 No. 2 (2018): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.091 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v5i2.354

Abstract

Latar Belakang: Prevalensi penderita tuberkulosis paru di Jawa Tengah menduduki peringkat ke-5 yaitu 0.4% menurut Riskesdas tahun 2013. Kabupaten Banjarnegara pada tahun 2013  dengan prevalensi kecenderungan 0,3 % per 100.000 penduduk. Menurut data profil Dinas Kesehatan Kabupaten Banjarnegara tahun 2014 prevalensi tuberkulosis paru yaitu 180 per 100.000 penduduk. Jumlah penderita  tuberkulosis paru pada tahun 2014-2016.  di Kecamatan Karangkobar mengalami pasang surut yaitu 14 kasus pada tahun 2014, 123 Suspek dan 30  kasus pada tahun 2015 dan pada bulan Mei 2016  terdapat 19 kasus. Selain faktor kesehatan lingkungan rumah, status gizi juga berhubungan dengan kejadian tuberkulosis paru. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan disain case control. Subjek dalam penelitian adalah masyarakat yang terdiri dari 19 kasus (tuberkulosis paru) dan 38  kontrol (bukan Pasien Tuberkulosis paru). Data asupan zat gizi diperoleh dengan metode Food Frequency Questionnaires (FFQ) semikuantitatif,data riwayat pendidikan, pendapatan dan perilaku merokok diperoleh melalui wawancara terstruktur. Data dianalisis dengan uji Chi Square dan Regresi Logistik untuk menghitung Odds Rasio (OR).Hasil: Uji regresi logistik menunjukan bahwa tingkat konsumsi protein yang kurang (OR=6,5 ; 95%CI: 1,6-26,6) dan pendidikan rendah ((OR=9,5 ; 95%CI: 1,5-60,5)   merupakan faktor resiko kejadian tuberkulosis paru.Simpulan: tingkat konsumsi protein yang kurang dan pendidikan rendah  merupakan faktor resiko kejadian tuberkulosis paru di Kecamatan Karangkobar Kabupaten Banjarnegara. Kata Kunci: Faktor Risiko, Tuberkulosis Paru, Masyarakat Pengunungan  
Penatalaksanaan Endoscopic Dacryocystorhinostomi Pada Dakriostenosis Rosa Putrie Anindya; Anna Mailasari Kusuma Dewi
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 5 No. 2 (2018): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.246 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v5i2.355

Abstract

Latar belakang :Dacryocystorhinostomy (DCR) adalah prosedur pilihan untuk obstruksi duktusnasolakrimalis dan dakriosistitis. Dua pendekatan utama yang dapat digunakan adalah pendekatan eksternal melalui sayatan transkutan dan pendekatan endonasal dengan endoskopi.Tingkat kesuksesan endoscopic DCR sebesar 84% sedangkan DCR eksternal sebesar 70%.Keuntungan endoscopic DCR yaitu dapat dilakukan pada dakriosistitisakut, tidak ada luka parut di kulit dan nyeri pasca operasi minimal.Tujuan:Melaporkan tindakan endoscopic DCR pada pasien dakriostenosisdi RSUP dr. Kariadi. Kasus:Pasien pertama laki-laki dengan mata kiri dakriosistitiskronik dan fistula saccuslakrimalise.cdakriostenosis dan pasien kedua anak dengan dakriostenosisduplek.Penatalaksanaan:Dilakukan tindakan endoscopic DCR dan pemasangan silicon tube Kesimpulan:TindakanendoscopicDCR memberikanhasil yang baik pada pasien dengan dakriosistitiskronike.cdakriostenosisKata kunci: Dakriostenosis, EndoscopicDacryocystorhinostomy
Korelasi antara Penambahan Berat Badan Janin dengan Asupan Protein Pada Kehamilan Trimester III Eva Martiana; Julian Dewantiningrum; Maria Mexitalia
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 5 No. 2 (2018): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.925 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v5i2.356

Abstract

Latar Belakang.Kehamilan merupakan periode penting dalam pembentukan kualitas sumber daya manusia di masa yang akan datang. Asupan protein akan meningkatkan transpot asam amino ke dalam plasenta. Asam amino, khususnya arginin akan meningkatkan vasodilator NO sehingga akan meningkatkan transfer nutrisi ke janin. Selain itu, asupan protein yang cukup akan merangsang sekresi IGF-1 yang akan mendukung pertumbuhan janin. Di sisi lain, asupan protein yang berlebihan pada awal kehamilan merupakan faktor risiko terjadinya obesitas pada masa kanak-kanak yang dapat berlanjut menjadi penyakit jantung koroner dan sindroma metabolik pada saat dewasa. Faktor metabolik dan neuroendokrin yang berperan sejak masa kehamilan ini dikenal sebagai metabolic programming. Oleh karea itu perlu dilakukan penelitian awal untuk mengetahui korelasi antara penambahan berat badan janin dengan asupan protein pada kehamilan trimester 3.Tujuan. Membuktikan korelasi antara intake protein pada kehamilan Trimester III dengan penambahan berat badan janin intrauterin.Metode.Penelitian ini adalahpenelitinanalitik observasional. Intake protein dinilai dengan metode food recallselama 24 jam dan dilakukan nutrisurvey untuk menilai kecukupan intake protein (cukup atau kurang). Penambahan berat badan janindinilai dengan menghitung selisih berat badan bayi saat lahir dengan berat janin pada usia kehamilan 30 – 34 mingguHasil.Sebanyak42subyek dilakukanfood recall untuk mengetahui kecukupan protein pada kehamilan trimester III. Sebanyak 27 orang telah bersalin dan dinilai korelasi antara kecukupan intake protein dan penambahan berat badan janin. Hasil analisa didapatkan korelasi positif dengan derajat sedang antara penambahan berat badan janin dengan kecukupan protein pada kehamilan trimester III (r 0,48 ;p 0,012). Kesimpulan.Kecukupan intake protein pada kehamilan trimester III mempunyai korelasi dengan penambahan berat badan janin.      Kata kunci. Kecukupan asupan protein, berat badan bayi, penambahan berat badan janin, food recall
Hubungan Antara Indeks Trombosit (Jumlah Trombosit, MPV, PDW, P-LCR) Dengan CKMB DanTroponinPada Pasien Sindrom Koroner Akut Angeline Barbara Mailoa; Purwanto Adhipireno
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 5 No. 2 (2018): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.629 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v5i2.357

Abstract

Latar Belakang: Sindrom koroner akut erat kaitannya dengan proses aterosklerosis. Aterosklerosis terjadi sebagai respon adanya kerusakan pada endotel. Trombosit memegang peran penting dalam proses rupturnya plak yang akan membentuk trombus dan menjembatani proses inflamasi. Indeks trombosit memiliki korelasi dengan aktivitas dan fungsi trombosit dan menjadi salah satu faktor risiko terjadinya aterosklerosis.Tujuan: Untukmengetahui hubungan indeks trombosit (jumlah trombosit, MPV, PDW, P-LCR) dengan CKMB dan Troponin pada pasien sindrom koroner akutMetode: Rancangan penelitian belah lintangterhadap pasien sindrom koroner akut yang berobat di RSUP Dr.Kariadi. Uji normalitas data menggunakan Kolmogorov-Smirnov dan analisis hubungan menggunakan korelasi Spearman dengan signifikansi p<0.01.Hasil: Subjek penelitian berjumlah68 orang dengan rentang usia 32-94 tahun. Terdapat hubungan antaraMPV dengan CKMB (r=0.873, P=0.000) dan troponin(r=0.665, P=0.000), PDW dengan CKMB (r=0.849, P=0.000) dan troponin  (r=0.610, P=0.000), P-LCR dengan CKMB (r=0.903, p=0.000) dan troponin  (r=0.685, P=0.000). Tidak terdapat hubungan antara jumlah trombosit dengan CKMB(r=-0.0150, P=0.224), troponin (r=-0.045, P=0.715).Kesimpulan: Terdapat hubungan bermakna antara MPV, PDW, P-LCRdenganCKMB dan troponin. Tidak terdapat hubungan antarajumlah trombosit dengan CKMB dan troponin pada pasien sindrom koroner akut.Kata Kunci : Indeks trombosit, CKMB, troponin, sindrom koroner akut
Pengaruh Derajat Oligohidramnion terhadap Kejadian Korioamnionitis pada Ketuban Pecah Dini Fadhila Khairunnisa Poerwoko; Julian Dewantiningrum; Arufiadi Anityo Mochtar; Ratnasari Dwi Cahyanti; Dik Puspasari; Nahwa Arkhaesi
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 5 No. 2 (2018): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.513 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v5i2.358

Abstract

Latar Belakang: Korioamnionitis merupakan penyebab terbesar angka kematian ibu. Oligohidramnion merupakan faktor risiko terjadinya korioamnionitis.Kondisi oligohidramnion dapat diukur dengan metode amniotic fluid index (AFI) atau single deepest pocket (SDP) pada pemeriksaan sonogafi.Tujuan: Mengetahui pengaruh derajat oligohidramnion terhadap kejadian korioamnionitis pada ketuban pecah dini.Metode:Penelitian observasional analitik dengan desain belah lintang. Subjek 31 ibu hamil dengan ketuban pecah dini disertai oligohidramnion yang  melahirkan di RSUP Dr. Kariadi dan rumah sakit jejaring pendidikan pada Februari – Juni tahun 2017, Kriteria inklusi usia kehamilan ≥ 34 minggu, belum masuk fase aktif inpartu, janin tunggal hidup intra uterin. Subyek dipilih secara consecutive sampling. Identitas subyek, karakteristik obstetri, dan nilai AFI atau SDP dicatat, kulit ketuban  diperiksa adanya korioamnionitis secara histopatologis. Analisis data dengan uji chi-square.Hasil: Didapatkan 91,7% korioamnionitis pada oligohidramnion berat lebih tinggi dibandingkan dengan oligohidramnion ringan (78,9%). Nilai p sebesar 0,342.Kesimpulan: Derajat oligohidramnion tidak berpengaruh terhadap kejadian korioamnionitis pada ketuban pecah dini. Kata kunci: Oligohidramnion, korioamnionitis, ketuban pecah dini
Faktor yang berpengaruh pada perkembangan bicara anak kurang dengar yang menggunakan alat bantu dengar Nastiti Dwi; Muyassaroh .
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 5 No. 2 (2018): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.948 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v5i2.359

Abstract

Latar belakang : Deteksi dini tuli kongenital sudah dilakukan di RSUP Dr. Kariadi. Rata-rata kunjungan anak kurang dengar sejak lahir sebanyak 10-20 pasien per bulan. Salah satu metode intervensi dengan pemakaian alat bantu dengar (ABD). Keluaran penting bagi anak pengguna ABD adalah persepsi bicara, bahasa, kemampuan komunikasi. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor yang mempengaruhi perkembangan auditori, bahasa dan wicara pada anak kurang dengar yang menggunakan ABD.Metode : Penelitian belah lintang. Sampel adalah anak kurang dengar dengan ABD usia pendengaran kurang dari 2 tahun. Data umur pertama memakai alat bantu dengar (ABD), lama penggunaan ABD perhari, jumlah ABD didapatkan dari wawancara. Derajat kurang pendengaran dari hasil BERA. Data kelainan lain pada sampel didapat dari rekam medis. Perkembangan auditori, bahasa dan wicara dinilai dengan LittlEARS Auditory Questionnaire (LEAQ). Analisis data dengan uji Chi square menggunakan regresi logistic multivariate.Hasil : Sampel berjumlah 35 anak, 17 (48,6%) anak menggunakan ABD di usia kurang dari atau sama dengan 3 tahun dan 18 anak (51,4%) menggunakan ABD setelah 3 tahun. Data derajat kurang pendengaran profound 80%, sedang-berat 20%. Lama pemakaian ABD diatas 8 jam sebanyak 45,7% dan 54,3% anak dibawah 8 jam. Terdapat kelainan lain 20% dan tanpa kelainan 80%. Frekuensi terapi wicara kurang dari 2 kali perminggu 54,3% dan lebih dari sama dengan 2 kali perminggu 45,7%. Hasil LittlEARS Auditory Questionnaire (LEAQ) dibawah kurva 52,4% dan 47,6% sesuai kurva normal. Didapatkan agka yang signifikan (p<0,005) pada lama pengunaan alat dan frekuensi terapi wicara. Simpulan : Lama penggunaan ABD dan frekuensi terapi wicara merupakan faktor yang berpengaruh dalam perkembangan bicara pada anak kurang pendengaran yang menggunakan ABD. Kata Kunci : Alat bantu dengar, perkembangan auditori, kurang pendengaran
Pengaruh vitamin C terhadap peroksidasi lipid, gejala klinik dan kualitas hidup penderita tonsilitis kronik Nancy Liwikasari; Farokah .; Suprihati .
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 5 No. 2 (2018): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.315 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v5i2.360

Abstract

Latar belakang: Masalah tonsilitis kronik sering pada anak. Gejala klinik yang muncul berdampak negatif sehingga menurunkan kualitas hidup. Radikal bebas berperan dalam tonsilitis kronik. Potensi kerusakan radikal bebas dibatasi antioksidan. Tujuan: Membuktikan vitamin C menurunkan kadar peroksidasi lipid, memperbaiki gejala klinik dan kualitas hidup penderita tonsilitis kronik. Material dan metode: Penelitian Randomized Controlled Trial dengan simple random sampling. Penilaian kadar peroksidasi lipid, gejala klinik dan kualitas hidup dilakukan sebelum dan sesudah pemberian vitamin C. Hasil: Total 51 penderita, 10 drop out dan 41 dianalisis. Kadar peroksidasi lipid sesudah perlakuan kelompok vitamin C (3,41 (0,53-4,65)) tidak berbeda bermakna dibandingkan sebelum perlakuan (3,43 (0,39-4,16)) (p=0,237). Skor total gejala klinik sesudah perlakuan kelompok vitamin C (14,76±4,34) lebih rendah dibandingkan sebelum perlakuan (20,38±5,25) (p=0,000). Skor total kualitas hidup sesudah perlakuan kelompok vitamin C (65 (52 – 79)) lebih rendah dibandingkan sebelum perlakuan (78 (57 – 88)) (p=0,000). Kesimpulan: Kadar peroksidasi lipid yang diberikan vitamin C tidak berbeda bermakna dibandingkan tanpa diberikan vitamin C (p=0,237). Gejala klinik dan kualitas hidup yang diberikan vitamin C lebih baik dibandingkan tanpa diberikan vitamin C. Kata kunci: tonsilitis kronis, kadar peroksidasi lipid, gejala klinik, kualitas hidup
Hubungan korioamnionitis dengan Asfiksia Neonatus pada kehamilan dengan ketuban pecah dini. Naura Laras Rif'ati; Herman Kristanto; Putri Sekar Wijayati; Nahwa Arkhaesi
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 5 No. 2 (2018): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.865 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v5i2.361

Abstract

Latar Belakang:KPD merupakan masalah penting yang dapat menempatkan ibu dan anak pada risiko infeksi. Infeksi sekunder secara asenderen dapat terjadi pada KPD yang kemudian dapat menyebabkan  desiduitis, korioamnionitis ataupun infeksi pada janin. Korioamnionitis dapat dikaitkan dengan rendahnya kesejahteraan bayi saat lahir yang dinilai dengan skor APGAR, kebutuhan untuk resusitasi pada saat kelahiran, dan kejang neonatal. Tujuan: Mengetahui hubungan korioamnionitis dengan Asfiksia Neonatus pada kehamilan dengan ketuban pecah dini. Metode:Penelitian ini merupakan penelitian observational dengan desain belah lintang. Subyek penelitian adalah 31 ibu hamil dengan KPD disertai korioamnionitis yang melahirkan di RSUP Dr. Kariadi dan rumah sakit jejaring pendidikan pada Februari – Juni 2017 yang dipilih secara consecutive sampling.Terhadap subjek penelitian dilakukan pengambilan data identitas, karakteristik obstetri dan skor APGAR, lalu diambil sampel kulit ketuban untuk diperiksa adanya korioamnionitis secara histopatologis.Uji statistik menggunakan Uji Gamma. Hasil: Dari seluruh subjek penelitian, 71% (n=22) pasien KPD mengalami korioamnionitis sedangkan 29% (n=9) lainnya tidak mengalami korioamnionitis. Sebesar 100% pasien tidak memiliki bayi asfiksia pada korioamnionitis tingkat 1 (n=2) dan tingkat 2 (n=1). Pada korioamnionitis tingkat 3, sebesar 91,7% (n=11) pasien tidak memiliki bayi asfiksia dan 8,3% (n=1) pasien memiliki bayi asfiksia ringan-sedang. Pada korioamnionitis tingkat 4, sebesar 85,7% (n=6) pasien tidak memiliki bayi asfiksia dan 14,3% (n=1) pasien memiliki bayi asfiksia berat. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara korioamnionitis  denganasfiksia neonatus dengan nilai p sebesar 0,210 ( p > 0.05). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara korioamnionitis dengan asfiksia neonatus pada kehamilan dengan KPD. Kata kunci: Asfiksia Neonatus, Ketuban Pecah Dini, Korioamnionitis
Penegakkan Diagnosis Dan Manajemen Tatalaksanakista Odontogenik Regio Maksilla Anterior Di RSUP Dr.Kariadi Semarang Christin Rony Nayoan; Riece Hariyati; Anna Mailasari Kusuma Dewi; Dwi Antono
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 5 No. 2 (2018): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.233 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v5i2.362

Abstract

Latarbelakang :Kistaodontogenic adalah kista dengan struktur epitel berasal dari struktur gigi.Kistaodontogenic sering terjadi didaerah rahang,terutama diregiomaksillaanterior.Tujuan :Untuk memberikan informasi penegakkan diagnosiskista odontogenik terutama di regio maksilla anterior yang sering memberikan gambaran tumor jinak.Laporan kasus :Serial kasus kista odontogenicdiregiomaksilla anterior pada 2 pasien dewasa dengan tatalaksana berupa tindakan ekstirpasi dengan cara enukleasi menggunakan pendekatan midfacialdegloving dan Denkerrhinotomy.Kesimpulan :Kasus yang dilaporkan menunjukkan bahwa kista odontogenik regio maksilla anteriorsering tidak terdiagnosis karena penampakannya menyerupai massa jinak.  Kata kunci :Kistaodontogenik,  maksilla, diagnosis, enukleasi
Terapi Siklosporin Pada Psoriasis Pustulosa Generalisata Dengan Liver Injury Karena Penggunaan Acitretin Jangka Panjang Renni Yuniati; Intan Nurmawati Putri
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 5 No. 2 (2018): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (629.246 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v5i2.363

Abstract

Latar belakang: Psoriasis pustulosa generalisata (PPG) merupakan salah satu jenis psoriasis yang jarang terjadi. Angka kejadian PPG 0,6-0,7 kasus per satu juta jiwa. Gejala khas PPG yaitu terdapat pus steril dengan ukuran 2-3 mm yang tersebar generalisata diatas kulit yang eritem. Terapi yang biasa digunakan diantaranya siklosporin, acitretin, atau metrotekstat. Tujuan: Tujuan dari kasus ini untuk membahas tentang faktor pencetus PPG, pilihan obat, komplikasi, dan efek samping dari terapi PPG jangka panjang.Kasus: Seorang wanita usia 37 tahun dengan riwayat psoriasis datang dengan keluhan terdapat pustula generalisata, makula eritem dan skuama. Faktor predisposisi dan pencetus pada pasien ini adalah obesitas dan stres emosional. Pasien pernah mendapatkan terapi siklosporin selama 3 tahun kemudian diganti asitretin satu tahun terakhir. Hasil histopatologi didapatkan gambaran abses munro dan parakeratosis sesuai dengan PPG. Didapatkan leukositosis dan kelainan tes fungsi hati pada pemeriksaan laboratorium, sehingga terapi kembali diganti dengan siklosporin dosis rendah selama 10 hari dan memberikan hasil yang memuaskan.Pembahasan: PPG merupakan penyakit autoimun. Stres emosional merupakan faktor yang paling berpengaruh; pada kasus ini pasien telah lama menderita PPG dan terapi sistemik jangka panjang, emosi pasien menjadi tidak terkontrol sehingga sering terjadi kekambuhan. Acitretin dapat menyebabkan kerusakan hepar; siklosporin dapat menjadi pilihan yang lebih baik. Simpulan: PPG masih menjadi masalah besar. Stres emosional merupakan faktor yang mempengaruhi kejadian PPG. Terapi jangka panjang dan efek samping menyebabkan ketidakpatuhan pasien untuk konsumsi obat. Penting bagi pasien untuk melanjutkan terapi obat sistemik dan mengontrol emosiKata kunci: Psoriasis pustulosa generalisata, Acitretin, Siklosporin, Kerusakan Hepar.Key Words: Psoriasis, Hypocalcemia, Hypoparathyroidism, Psoriasis of von ZumbuschPsoriasis is an autoimmune disease triggered by different conditions in genetically susceptible people. It is characterized by variable cutaneous manifestations including localized or disseminated pustules. Generalized pustular psoriasis (GPP) has two main clinical forms: von Zumbusch psoriasis, characterized by severe erythrodermia and scaling skin after the resolution of pustules, and the annular form. GPP may also present severe extracutaneous manifestations including pneumonitis, heart failure and hepatitis. Old reports showed a relationship between hypoparathyroidism and hypocalcemia as triggers for GPP highlighting the importance of adequate workup of the patient and possible therapeutic changes in acute situations. Here, we present a case of severe von Zumbusch psoriasis with life-threatening complications triggered by severe hypocalcemia secondary to hypoparathyroidism successfully treated with aggressive calcium reposition.Key Words: Psoriasis, Hypocalcemia, Hypoparathyroidism, Psoriasis of von Zumbusch

Page 1 of 2 | Total Record : 13