cover
Contact Name
dentin
Contact Email
dentin.jtamfkg@ulm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
dentin.jtamfkg@ulm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Dentin
ISSN : 26140098     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Dentin [e-issn: 2614-0098] merupakan terbitan berkala ilmiah tugas akhir berbahasa Indonesia berisi artikel penelitian dan kajian literatur tentang kedokteran gigi. Kontributor Dentin adalah kalangan akademisi (dosen dan mahasiswa). Dikelola oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Lambung Mangkurat dan terbit 3 (tiga) kali setahun setiap April, Agustus dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 249 Documents
PENGARUH EKSTRAK KULIT BATANG MANGGA KASTURI (Mangifera casturi) TERHADAP KEPADATAN HARD CALLUS Taqwa Handraji Manto; Bayu Indra Sukmana; Muhammad Yanuar Ichrom Nahzi
Dentin Vol 5, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Dental and oral health is a unity of body health, so their health must be maintained. One of the most common dental and oral diseases suffered by Indonesians is dental caries. This dental and oral health problem resulted in tooth extraction due to caries, so it requires medication to accelerate wound healing after tooth extraction. Some parts of the kasturi mango plant, such as leaves, fruits, and bark are known to have active substances and potentially against the density of hard callus. Purpose: to review various research articles related to the overview of the effect of mango kasturi bark extract (Mangifera casturi) on hard callus density. Method: All reviewed articles are obtained from Google Scholar and Science Direct data sources searches, and has a maximum journal publishing time span of the last 10 years. Result: The review was conducted in 10 journals found to fit inclusion criteria such as journals available in full-text form and research subjects extracting mango kasturi bark (Mangifera casturi). Conclusion: Kasturi mango bark extract has a direct and indirect influence on hard callus density. Keywords :, hard callus, mango kasturi bark extract, wound healing ABSTRAK Latar Belakang: Kesehatan gigi dan mulut merupakan satu kesatuan dari kesehatan tubuh yang harus dipelihara kesehatannya, salah satu penyakit gigi dan mulut yang paling banyak diderita masyarakat Indonesia ialah karies gigi. Permasalahan kesehatan gigi dan mulut ini mengakibatkan pencabutan gigi karena karies, sehingga memerlukan obat untuk mempercepat penyembuhan luka pasca ekstraksi gigi. Beberapa bagian tanaman mangga kasturi, seperti daun, buah, dan kulit batangnya diketahui memiliki zat aktif dan berpotensi terhadap kepadatan hard callus. Tujuan: mengulas berbagai artikel penelitian yang berkaitan dengan gambaran pengaruh ekstrak kulit batang mangga kasturi (Mangifera casturi) terhadap kepadatan hard callus. Metode: Semua artikel yang direview diperoleh dari pencarian sumber data Google Scholar, dan Science Direct yang memiliki rentang waktu penerbitan jurnal maksimal 10 tahun terakhir. Hasil: Review dilakukan pada 10 jurnal yang ditemukan sesuai dengan kriteria inklusi seperti jurnal tersedia dalam bentuk full-text dan subjek penelitian ekstrak kulit batang mangga kasturi (Mangifera casturi). Kesimpulan: Ekstrak kulit batang mangga kasturi memiliki pengaruh secara langsung dan tidak langsung terhadap kepadatan hard callus. Kata kunci: Penyembuhan luka, ekstrak kulit batang mangga kasturi, hard callus
PENGARUH EKSTRAK DAUN KARAMUNTING (Rhodomyrtus tomentosa) TERHADAP JUMLAH SEL NAUTROFIL PADA PULPA Reisa Dahliani; Muhammad Yanuar Ichrom Nahzi; Raden Harry Dharmawan Setyawardhana
Dentin Vol 5, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Caramunting leaf (Rhodomyrtus tomentosa) is an alternative pulp capping material that can provide anti-inflammatory effects. Phytochemical screening showed that caramunting leaf has secondary metabolites that inhibit oxidant production by neutrophils, monocytes, and macrophages. The decrease in inflammatory activity was marked by a decrease in the number of neutrophils on 3rd day as the inflammatory process decreased. Purpose: To determine and analyze the effect of Karamunting leaf extract (Rhodomyrtus tomentosa) at the dose of 800mg/KgBB on the neutrophil number in pulp inflammation of Wistar rats on 1st and 3rd day. Methods: This study was true experimental research (post-test only with control group design) using 30 Wistar rats divided into 6 groups which were given pulp capping material on the 1st and 3rd day using calcium hydroxide, Karamunting leaf extract, and without pulp capping material. The number of neutrophils was observed microscopically on the 1st and 3rd day. Results: One-way ANOVA and Post hoc Bonferroni test showed significant differences (p<0.05) in all groups. Conclusion: The administration of Karamunting leaf extract (Rhodomyrtus tomentosa) at the dose of 800mg/KgBB had a significant effect on reducing the neutrophil number in pulp inflammation of Wistar rats on 1st and 3rd day. Keywords: Karamunting leaf (Rhodomyrtus tomentosa), neutrophils, pulp capping. ABSTRAKLatar Belakang: Daun Karamunting (Rhodomyrtus tomentosa) merupakan salah satu bahan alternatif pulp capping yang dapat memberikan efek antiinflamasi. Skrining fitokimia menunjukan daun karamunting memiliki metabolit sekunder yang menghambat produksi oksidan oleh neutrofil, monosit dan makrofag. Penurunan aktivitas inflamasi salah satunya ditandai oleh penurunan jumlah neutrofil dihari ke-3 seiring berkurangnya proses inflamasi. Tujuan: Mengetahui dan menganalisis pengaruh pemberian ekstrak daun karamunting (Rhodomyrtus tomentosa) dosis 800mg/KgBB terhadap jumlah sel neutrofil pada inflamasi pulpa tikus wistar di hari ke-1 dan ke-3. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni dengan rancangan post-test only with control group design menggunakan 30 ekor tikus wistar dibagi menjadi 6 kelompok yang akan diberikan bahan pulp capping pada hari ke-1 dan ke-3 menggunakan kalsium hidroksida, ekstrak daun karamunting, dan tanpa pemberian bahan pulp capping. Jumlah neutrofil diamati secara mikroskopis di hari ke-1 dan hari ke-3. Hasil: One-way Anova dan Post hoc bonferroni menunjukkan perbedaan bermakna (p<0,05) pada semua kelompok. Kesimpulan: Pemberian ekstrak daun karamunting (Rhodomyrtus tomentosa) dosis 800mg/KgBB memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penurunan jumlah sel neutrofil pada inflamasi pulpa tikus wistar di hari ke-1 dan ke-3. Kata kunci : daun karamunting (Rhodomyrtus tomentosa), neutrophil, pulp capping.
UJI TOKSISITAS EKSTRAK KULIT BATANG ULIN (Eusideroxylon zwageri) TERHADAP SEL FIBROBLAS BHK-21 SECARA IN VITRO Ismi Natasya Salwa; I Wayan Arya Krishnawan Firdaus; Aulia Azizah
Dentin Vol 5, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Antioxidants can come from plants that contain flavonoids such as ironwood. The bark of ironwood is declared effective to be used as a mouthwash because of the content of flavonoids, phenolics, tannins, saponins, alkaloids, and terpenoids. Ironwood bark extract to be used as an alternative material must be safe for oral tissues, so it is necessary to do a toxicity test. Objective: To analyze the toxic effect of ironwood bark extract through IC50 on BHK-21 fibroblast cells. Methods: This study was a pure laboratory experimental study with posttest-only control group design, consisting of 12 groups with 10 treatment groups given ironwood bark extract at concentrations of 5%, 15%, 25%, 35%, 45%, 55%. , 65%, 75%, 85%, and 95% and 2 control groups, namely cell control and media control. It was repeated 3 times so that the total sample was 36 samples. Toxicity test media used MTT assay which produced color absorbance and cell viability was calculated. Results: The results showed that the cell viability of the entire treatment group was >60% so it had no toxic effect. In addition, based on the IC50> 0.1%, which is 3.746%, it has no toxic effect on BHK-21 fibroblast cells. Conclusion: Ironwood bark extract at concentrations of 5%, 15%, 25%, 35%, 45%, 55%, 65%, 75%, 85%, and 95% had no toxic effect on BHK-21 fibroblast cells.   Keywords: BHK-21 fibroblast cells, Ironwood bark extract, , toxicity ABSTRAKLatar Belakang: Antioksidan dapat berasal dari tanaman yang mengandung flavonoid seperti ulin. Kulit batang ulin dinyatakan efektif untuk dijadikan obat kumur karena adanya kandungan flavonoid, fenolik, tanin, saponin, alkaloid, dan terpenoid.  Ekstrak kulit batang ulin untuk dijadikan sebagai bahan alternatif harus bersifat aman untuk jaringan rongga mulut sehingga perlu dilakukan uji toksisitas. Tujuan: Menganalisis efek toksik ekstrak kulit batang ulin melalui IC50 terhadap sel fibroblas BHK-21. Metode: Penelitian eksperimental laboratoris murni dengan posttest-only with control group design, terdiri dari 12 kelompok dengan 10 kelompok perlakuan yang diberi ekstrak kulit batang ulin konsentrasi 5%, 15%, 25%, 35%, 45%, 55%, 65%, 75%, 85%, dan 95% dan 2 kelompok kontrol, yaitu kontrol sel dan kontrol media. Dilakukan 3 kali pengulangan sehingga total sampel berjumlah 36 sampel. Media uji toksisitas menggunakan MTT assay yang menghasilkan absorbansi warna dan dilakukan perhitungan viabilitas sel. Hasil: Viabilitas sel seluruh kelompok perlakuan adalah >60% sehingga tidak memiliki efek toksik. Selain itu, berdasarkan nilai IC50>0,1% yaitu sebesar 3,746% tidak memiliki efek toksik terhadap sel fibroblas BHK-21. Kesimpulan: Ekstrak kulit batang ulin pada konsentrasi 5%, 15%, 25%, 35%, 45%, 55%, 65%, 75%, 85%, dan 95% tidak memiliki efek toksik terhadap sel fibroblas BHK-21. Kata kunci: Esktrak kulit batang ulin, sel fibroblas BHK-21, toksisitas.
KEBUTUHAN PERAWATAN ORTODONTI BERDASARKAN INDEX OF ORTHODONTIC TREATMENT NEED PADA REMAJA Hikmah Nurfajri Suala; Diana Wibowo; Raden Harry Dharmawan Setyawardhana
Dentin Vol 5, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: The condition of oral health in Indonesia and the world remains a serious problem. One of the dental and oral health problems with a high prevalence is malocclusion. Malocclusion can be experienced by children, adolescents, and adults. Malocclusion require proper treatment by performing orthodontic treatment. Orthodontic treatment needs can be measured by using a malocclusion index, one of them is the Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN).  Purpose: The purpose was to determine the need  of orthodontic treatment based on  the Index of Orthodontic Treatment Need in  adolescents. Methods: The literature review with the narrative review analysis method by looked for similarities and dissimilarities, provided viewpoint, compared, and created summaries. Results: The need of orthodontic treatment based on the Index of Orthodontic Treatment Need showed an average of 60.5% of adolescents did not need orthodontic treatment with the lowest prevalence of 22.4% and the highest prevalence of 96.6%, at the same time,  adolescents who urgently needed orthodontic treatment an average of 20.6%, with the lowest prevalence  approximately 0.028% and the highest  prevalence of 63.3%. Conclusion: The level of orthodontic treatment needs based on the Index of Orthodontic Treatment Need showed that an average of 60.5% of adolescents did not need orthodontic treatment and an average of 20.6% of adolescents were in highly need of orthodontic treatment. Through this study, the community was expected to take care of dental and oral health, especially related to malocclusion to prevent the increase of  orthodontic treatment needs. Keywords: adolescents, index, orthodontic treatment need, school children ABSTRAKLatar belakang: Kondisi kesehatan gigi dan mulut masyarakat di Indonesia maupun dunia masih menjadi masalah serius. Salah satu masalah kesehatan gigi dan mulut dengan prevalensi tinggi adalah maloklusi. Maloklusi dapat dialami oleh anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Kondisi maloklusi membutuhkan penanganan yang tepat yaitu dengan melakukan perawatan ortodontik. Kebutuhan perawatan ortodonti seseorang dapat diukur menggunakan indeks maloklusi, salah satunya dengan Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN). Tujuan: Tujuan studi literatur ini adalah untuk mengetahui kebutuhan perawatan ortodonti berdasarkan Index of Orthodontic Treatment Need pada remaja. Metode: Literature review dengan metode analisis narrative review dengan mencari kesamaan, mencari ketidaksamaan, memberikan pandangan, membandingkan, dan membuat ringkasan. Hasil: Kebutuhan perawatan ortodonti berdasarkan Index of Orthodontic Treatment Need menunjukkan rata-rata 60,5% remaja tidak membutuhkan perawatan ortodonti dengan prevalensi paling rendah sebesar 22,4% dan prevalensi paling tinggi adalah 96,6%, sedangkan remaja yang sangat membutuhkan perawatan ortodonti rata-rata 20,6% dengan prevalensi paling rendah sekitar 0,028% dan prevalensi paling tinggi adalah 63,3%. Kesimpulan: Tingkat kebutuhan perawatan ortodonti berdasarkan Index of Orthodontic Treatment Need menunjukkan bahwa rata-rata 60,5% remaja tidak membutuhkan perawatan ortodonti dan rata-rata 20,6% remaja sangat membutuhkan perawatan ortodonti. Melalui studi ini masyarakat diharapkan dapat menjaga kesehatan gigi dan mulutnya khususnya terkait maloklusi untuk mencegah peningkatan kebutuhan perawatan ortodonti. Kata kunci: anak sekolah, indeks, kebutuhan perawatan ortodonti, remaja
PENGARUH MINUMAN JUS BUAH TERHADAP PERUBAHAN DERAJAT KEASAMAN (pH) SALIVA Disi Raudatul Janah; Widodo Widodo; Rosihan Adhani
Dentin Vol 5, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Caries is a hard tissue disease of teeth, namely enamel, dentin and cementum, which is caused by an activity of a microorganism in a carbohydrate. The cause of the mainstay of the teeth is a factor, which is caused by mineral substances with nutrients rich in carbohydrates. One of the predisposing factors for dental caries is drinking. Drinks that can cause a decrease in the acidity (pH) of saliva are drinks that contain sugars such as fructose, glucose, sucrose, citric acid and ascorbic acid. Methods: All articles reviewed were obtained from searches for data sources Google Scholar, and Science Direct which had a range maximum journal publication time in the last 10 years. Results: The review was conducted on 12 journals which were found to fit the inclusion criteria, such as journals available in full text form and research subjects fruit juice which is often consumed by the public. Conclusion: there is a decrease in salivary pH after consuming fruit juice. Keywords: acidity, fruit juice, pH of saliva. ABSTRAK       Latar Belakang: Karies merupakan suatu penyakit jaringan keras gigi, yaitu email, dentin dan sementum, yang disebabkan oleh aktivitas suatu jasad renik dalam suatu karbohidrat. Penyebab terjadinya karies gigi dipengaruhi beberapa faktor, seperti disebabkan zat mineral dengan dominan nutrisi kaya akan karbohidrat. Faktor predisposisi karies gigi salah satunya adalah minuman. Minuman yang dapat menyebabkan turunnya derajat keasaman (pH) saliva adalah minuman yang mengandung gula seperti fruktosa, glukosa, sukrosa, asam sitrat dan asam askorbat. Metode: Semua artikel yang direview diperoleh dari pencarian sumber data Google Scholar, dan Science Direct yang memiliki rentang waktu penerbitan jurnal maksimal 10 tahun terakhir. Hasil: Review dilakukan pada 12 jurnal yang ditemukan sesuai dengan kriteria inklusi seperti jurnal tersedia dalam bentuk full-text dan subjek penelitian jus buah yang sering dikonsumsi masyarakat. Kesimpulan: terjadi penurunan pH saliva setelah minum jus buah. Kata kunci: derajat keasaman, jus buah, pH saliva.
PENGARUH PAPARAN RADIASI TERHADAP pH SALIVA Nida Aulia; Bayu Indra Sukmana; Sherli Diana
Dentin Vol 5, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: The field of medicine is currently experiencing high progress, one of which is the radiography. The use of X-rays in medicine is as a diagnostic and therapeutic aid. X-rays can be used for diagnosis and treatment of patients. Therapy using radiation is called radiotherapy. Radiotherapy is one way of dealing with cancer, including cancer of the head and neck. The basic principle in radiotherapy for cancer or malignancy is to cause damage to every molecule that is exposed to radiation, resulting in the rupture of cell molecules so that cell damage occurs. Objective: To review various research articles related to the description of the effect of radiation on salivary pH. Methods: A review was conducted on 8 journals that were found to match the inclusion criteria such as journals available in full-text form and research subjects on the effect of radiation on salivary pH. Results: Based on 8 articles that have been reviewed, it was found that 8 articles (100%) stated that there was an effect of radiation on salivary pH after exposure to radiation after radiotherapy. The results showed that articles related to decreasing salivary pH stated that after being exposed to radiation after radiotherapy they tended to decrease salivary pH rather than increase it. Conclusion: there was a decrease in salivary pH after exposure to radiation. Keywords: Radiation, radiotherapy, salivary glands, salivary pH, X-rays. ABSTRAK Latar Belakang: Bidang kedokteran saat ini telah mengalami kemajuan yang tinggi, salah satunya bagian radiografi. Penggunaan sinar-X dalam bidang kedokteran adalah sebagai alat bantu diagnostik dan terapi. Sinar-X dapat dimanfaatkan untuk diagnosa maupun terapi pasien. Terapi dengan menggunakan radiasi disebut radioterapi. Radioterapi merupakan salah satu cara dalam usaha menanggulangi kanker, termasuk kanker pada bagian kepala dan leher. Prinsip dasar dalam radioterapi kanker atau keganasan adalah menimbulkan kerusakan pada setiap molekul yang terkena paparan sinar radiasinya mengakibatkan pecahnya molekul-molekul sel sehingga terjadi kerusakan sel.  Tujuan: Mengulas berbagai artikel penelitian yang berkaitan dengan gambaran pengaruh radiasi terhadap pH saliva. Metode: Review dilakukan pada 8 jurnal yang ditemukan sesuai dengan kriteria inklusi seperti jurnal tersedia dalam bentuk full-text dan subjek penelitian pengaruh radiasi terhadap pH saliva. Hasil: Berdasarkan 8 artikel yang telah dilakukan telaah, didapatkan bahwa 8 artikel (100%) menyatakan bahwa terdapat pengaruh radiasi terhadap pH saliva setelah terkena paparan radiasi pasca radioterapi. Hasil penelitian didapatkan bahwa artikel yang berkaitan dengan penurunan pH saliva menyatakan setelah terkena radiasi pasca radioterapi cenderung dapat menurunkan pH saliva daripada meningkatkan pH tersebut. Kesimpulan: Terjadi penurunan pH saliva setelah terkena paparan radiasi. Kata kunci: Kelenjar saliva, , pH saliva, radiasi, radioterapi, sinar-X.
HUBUNGAN KEPARAHAN KARIES DINI DENGAN KUALITAS HIDUP ANAK DARI ASPEK GANGGUAN MAKAN, BERBICARA, BELAJAR DAN TIDUR Nadia Febrila Putri; Rosihan Adhani; Ika Kusuma Wardani
Dentin Vol 5, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Children aged 5 years have a number of dental caries experiences (dmft > 6) or are included in the category of severe early childhood caries (S-ECC). A child who has a relatively high caries problem can affect their quality of life. Purpose: this study was to analyze the relationship between severe early childhood caries and children’s quality of life from aspects of eating, speaking, learning, and sleeping disorders. Methods: This study used an analytical observational method with a cross sectional approach. Data analysis used Univariate analysis and bivariate analysis with Spearman test. Results: The results showed that the def-t index (S-ECC) was very high (90.3%). The Spearman correlation test showed that there was a significant relationship between the severity of early caries (S-ECC) and children’s quality of life from the aspect of eating disorders (p = 0.017). Conclusion: The def-t index (S-ECC) is very high. There is a significant relationship between the severity of early caries and the quality of life of children from the aspect of eating disorders while from the aspects of speech, learning, and sleep disorders there is no significant relationship. Keywords: dental caries, oral health, quality of life ABSTRAKLatar Belakang: Anak usia 5 tahun memiliki angka karies gigi (dmft > 6) atau termasuk dalam kategori karies anak usia dini yang parah/ severe early childhood caries (S-ECC). Seseorang yang mengalami masalah karies cukup tinggi dapat mempengaruhi kualitas hidup seorang anak. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan keparahan karies dini dengan kualitas hidup dari aspek gangguan makan, berbicara, belajar dan tidur. Metode: Menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Data penelitian diperoleh melalui hasil pemeriksaan secara teledentistry kepada responden penelitian. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji Spearman. Hasil: Indeks def-t (S-ECC) kategori sangat tinggi (90,3%). Uji korelasi Spearman menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat keparahan karies dini (S-ECC) dengan kualitas hidup anak dari aspek gangguan makan (p = 0,017). Kesimpulan: Indeks def-t (S-ECC) sangat tinggi. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat keparahan karies dini dengan kualitas hidup anak dari aspek gangguan makan sedangkan dari aspek gangguan berbicara, belajar, dan tidur tidak terdapat hubungan yang signifikan. Kata kunci: karies gigi, kesehatan gigi dan mulut, kualitas hidup
EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN RAMBAI (Sonneratia caseolaris) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Porphyromonas gingivalis Prilly Sonya Puteri; Beta Widya Oktiani; Didit Aspriyanto
Dentin Vol 6, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v6i3.6822

Abstract

ABSTRACTBackground: The most common periodontal disease is periodontitis and one of its type is chronic periodontitis. The dominant bacteria in chronic periodontitis with 96,2% of prevalence is Porphyromonas gingivalis. Supporting therapy is by giving mouthwash in the form of 0.2% chlorhexidine gluconate. However, its use in the long term can cause side effects such as xerostomia and changes in taste sensation so that natural antibacterial alternatives are needed. One of the natural plants typical of South Kalimantan, namely the rambai plant, contains antibacterial compounds such as flavonoids, tannins, phenols, saponins and steroids. Purpose: To analyze the antibacterial effectiveness of rambai leaf extract (Sonneratia caseolaris) against the growth of Porphyromonas gingivalis bacteria. Methods: This research uses True Experimental with post test only with control group design. The treatments in this study were rambai leaf extract with concentrations of 20%, 40%, 60%, 80%, 100%, positive control in the form of 0.2% chlorhexidine gluconate and negative control in the form of aquadest. Antibacterial test using liquid dilution method to determine MIC and solid dilution to determine MBC. Results: Based on the results and data analysis, it was found that the rambai leaf extract had MIC at concentration of 20% and MBC at concentration of 100%. Conclusion: Leaf extract of Rambai (Sonneratia caseolaris) is able to inhibit and has antibacterial properties against the growth of Porphyromonas gingivalis bacteria. Keywords: Chronic periodontitis, Porphyromonas gingivalis, Sonneratia caseolaris ABSTRAKLatar Belakang: Penyakit periodontal yang paling umum yaitu periodontitis dan salah satu jenisnya yaitu periodontitis kronis. Bakteri dominan pada periodontitis kronis dengan prevalensi 96,2% yaitu Porphyromonas gingivalis.Terapi penunjang yaitu dengan pemberian obat kumur berupa klorheksidin glukonat 0,2%. Namun, penggunaannya dalam jangka panjang dapat menimbulkan efek samping seperti xerostomia dan perubahan sensasi pengecapan, sehingga diperlukan alternatif antibakteri berbahan alami. Salah satu tumbuhan alami khas Kalimantan Selatan yaitu tumbuhan rambai mengandung senyawa antibakteri seperti flavonoid, tanin, fenol, saponin dan steroid. Tujuan: Menganalisis efektivitas antibakteri ekstrak daun rambai (Sonneratia caseolaris) terhadap pertumbuhan bakteri Porphyromonas gingivalis. Metode: Penelitian ini menggunakan True Experimental dengan post test only with control group design. Perlakuan pada penelitian ini yaitu ekstrak daun rambai konsentrasi 20%, 40%, 60%, 80%, 100%, kontrol positif berupa klorheksidin glukonat 0,2% dan kontrol negatif berupa aquadest. Uji antibakteri menggunakan metode dilusi cair untuk mengetahui KHM dan dilusi padat untuk mengetahui KBM. Hasil: Berdasarkan hasil dan analisis data didapatkan bahwa ekstrak daun rambai memiliki KHM pada konsentrasi 20% dan KBM pada konsentrasi 100%. Kesimpulan:  Ekstrak daun rambai (Sonneratia caseolaris) mampu menghambat dan memiliki sifat antibakteri terhadap pertumbuhan bakteri Porphyromonas gingivalis. Kata kunci: Daun Rambai, Periodontitis Kronis, Porphyromonas gingivalis 
UJI FITOKIMIA KUALITATIF DAN KUANTITATIF EKSTRAK KULIT BUAH RAMBAI (Baccaurea Motleyana) KONSENTRASI 100% Diza Afira Hutasuhut; Didit Aspriyanto; I Wayan Arya Krishnawan Firdaus
Dentin Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v6i2.6394

Abstract

ABSRACTBackground: A typical plant from Kalimantan that is effective as a herbal medicine is rambai fruit (Baccaurea Motleyana). The rind of the rambai fruit contains secondary metabolites, namely alkaloids, phenolics, and flavonoids which has activity as an antioxidant, anti-inflammatory, anti-inflammatory, and antimicrobial. Utilization of rambai fruit peel (Baccaurea Motleyana) in addition to the potential to be used as an alternative herbal medicine can also reduce waste from rambai fruit skin. Therefore, quantitative and qualitative phytochemical tests are needed to obtain information on the content of each compound in the rambai fruit peel. Objective: To analyze the results of qualitative and quantitative phytochemical tests of rambai fruit peel extract (Baccaurea Motleyana) with a concentration of 100%. Methods: Non-experimental with qualitative laboratory examination to determine the compound and quantitative to determine the concentration of the sample. Results: The results of qualitative and quantitative phytochemical tests showed that alkaloid compounds were 136.41 mg/ml, saponins were 102.35 mg/ml, phenolic compounds were 109.96 mg/ml, flavonoids were 71.33 mg/ml, triterpenoids were 353, 47 mg/ml, and steroids at 28.71 mg/ml. Conclusion: The highest levels were found in triterpenoids at 353.47 mg/ml and the lowest levels were found in steroid compounds at 28.71 mg/ml.Keywords: Baccaurea Motleyana, Qualitative test, Quantitative test. ABSTRAKLatar Belakang: Tanaman khas dari Kalimantan yang efektif sebagai obat herbal adalah buah rambai (Baccaurea motleyana). Kulit buah rambai memiliki kandungan metabolit sekunder yaitu alkaloid, fenolik, dan flavonoid yang memiliki aktivitas sebagai antioksidan, anti radang, antiinflamasi, dan antimikroba. Pemanfaatan kulit buah rambai (Baccaurea motleyana) selain berpotensi dapat dijadikan alternatif obat herbal dapat juga mengurangi limbah dari kulit buah rambai. Oleh sebab itu, diperlukan uji fitokimia kuantitatif dan kualitatif untuk mendapatkan informasi kandungan tiap senyawa pada kulit buah rambai. Tujuan: Menganalisis hasil uji fitokimia kualitatif dan kuantitatif ekstrak kulit buah rambai (Baccaurea motleyana) konsentrasi 100%. Metode: Non eksperimental dengan pemeriksaan laboratorium secara kualitatif untuk menentukkan senyawa dan kuantitatif untuk menetapkan kadar sampel. Hasil: Hasil uji fitokimia kualitatif dan kuantitatif didapatkan senyawa alkaloid sebesar 136,41 mg/ml, saponin sebesar 102,35 mg/ml, fenolik sebesar 109,96 mg/ml, flavonoid sebesar 71,33 mg/ml, triterpenoid sebesar 353,47 mg/ml, dan steroid sebesar 28,71 mg/ml. Kesimpulan: Kadar tertinggi terdapat pada senyawa triterpenoid sebesar 353,47 mg/ml dan kadar terendah terdapat pada senyawa steroid sebesar 28,71 mg/ml. Kata kunci: Baccaurea Motleyana, Uji Kualitatif, Uji Kuantitatif.
HUBUNGAN INDEKS KARIES DMF-T DENGAN KONSUMSI AIR MINUM DAN PERILAKU MENYIKAT GIGI PADA MASYARAKAT DI INDONESIA Novridha Dewi Ardiyanti; Rosihan Adhani; Isnur Hatta
Dentin Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v6i1.6235

Abstract

ABSTRACT Background: Dental and oral health is important. HL Blum stated that the health status of a person or society is influenced by four factors. Environmental factors and behavioral factors play an important role in influencing the health status of teeth and mouth, especially dental caries. Based on RISKESDAS data in 2018, 57.6% of Indonesians have dental and oral health problems. Dental caries prevalence In Indonesia, the degree of severity is high at 88.8%. Dental caries can occur due to poor dental and oral hygiene. Maintaining individual oral and dental health can prevent caries, one of which is by brushing your teeth. 2.3% brushed their teeth properly in 2013 and decreased to 2% in 2018. Objectives: This study aims This study aims to determine the relationship between DMF-T caries index with drinking water consumption and tooth brushing behavior in Indonesian society. Method:literature review with the type of narrative review research. Search data sources using Google Scholar, and PubMed which have a maximum article publisher time span of the last 10 years. Results: There is a difference between the DMF-T caries index and consumption of rain water, river water, well water, mountain water, bottled water and PDAM water with the incidence of dental caries and there is a significant relationship between tooth brushing habits, and how to brush teeth with dental caries. Conclusion: The results of a review of the journal stated that brushing behavior has more influence on the DMF-T caries index than drinking water consumption patterns Keywords: Drinking water consumption, Index DMF-T caries, Tooth brushing behavior. ABSTRAK Latar Belakang: Kesehatan gigi dan mulut merupakan hal penting. H. L. Blum menyatakan derajat kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh empat faktor. Faktor lingkungan dan faktor perilaku memegang peranan penting dalam memengaruhi status kesehatan gigi dan mulut, khususnya karies gigi. Berdasarkan data RISKESDAS tahun 2018 sebanyak 57,6% masyarakat Indonesia mempunyai permasalahan kesehatan gigi dan mulut. Prevalensi karies gigi di Indonesia derajat keparahannya tinggi yaitu sebesar 88,8%. Karies gigi dapat terjadinya karena rendahnya kebersihan gigi dan mulut. Menjaga kesehatan gigi dan mulut perorangan dapat mencegah terjadinya karies, salah satunya dengan cara melakukan sikat gigi. Sebesar 2,3% yang menyikat gigi dengan benar pada tahun 2013 dan menurun menjadi 2% pada tahun 2018. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan indeks karies DMF-T dengan konsumsi air minum dan perilaku menyikat gigi pada masyartakat di Indonesia. Metode: literatur review dengan jenis penelitian narrative review. Pencarian sumber data menggunakan Google Scholar, dan PubMed yang memiliki rentang waktu penerbit artikel maksimal 10 tahun terakhir. Hasil: Terdapat perbedaan antara indeks karies DMF-T dengan konsumsi air hujan, air sungai, air sumur, air pegunungan, air  kemasan dan air PDAM dengan kejadian karies gigi dan terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan menyikat gigi, dan cara menyikat gigi dengan karies gigi. Kesimpulan: Hasil dari telaah jurnal menyatakan perilaku menyikat gigi lebih berpengaruh terhadap indeks karies DMF-T dibandingkan pola konsumsi air minum Kata kunci: Indeks karies DMF-T, Konsumsi air minum, Perilaku menyikat gigi.