cover
Contact Name
Agusri Fauzan
Contact Email
agusri.fauzan@iainbengkulu.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
elafkar@iainbengkulu.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
EL-AFKAR : Jurnal Pemikiran Keislaman dan Tafsir Hadis
ISSN : 25025384     EISSN : 26852918     DOI : -
Core Subject : Religion,
El-Afkar adalah jurnal Ilmiah yang diterbitkan untuk mengakomodir ide, gagasan serta pemikiran Keislaman bagi seluruh Dosen di Lingkungan IAIN Bengkulu secara umum. Meskipun demikian, nuasa dan trade mark yang akan diciptakan nantinya serta menjadi core identitynya adalah kajian ilmu ke-Ushuluddin-an khususya yang berkaitan dengan pemikiran, filsafat Islam, dan Tafsir Hadis.
Arjuna Subject : -
Articles 151 Documents
AKSIOLOGI HADIS AHKAM TENTANG MAHAR Zurifah Nurdin
El-Afkar: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Tafsir Hadis Vol 5, No 2 (2016): Desember
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (691.097 KB) | DOI: 10.29300/jpkth.v5i2.1129

Abstract

Pemberian mahar oleh laki-laki kepada perempuan yang akan menjadi istrinya adalah merupakan pemberian wajib, karena mahar merupakan simbol kemampuan dan kewajiban suami akan nafkah terhadap istri. Al qur’an maupun hadis menerangkan bahwa mahar itu pemberian wajib, Rasulullah sendiri juga memberikan mahar kepada perempuan yang akan dikawininya. Adapun besaran dari pada mahar disesuaikan dengan kemampuan laki-laki dan disesuaikan dengan kebiasaan yang ada, lain dari pada itu mahar juga harus diatas kerehdo’an perempuan yang akan dikawininya
STUDI KOMPARATIF TEORI ILMU HADIS AL-HAKIM AL-NAISABURIY DAN IBNU SHALAH Agusri Fauzan
El-Afkar: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Tafsir Hadis Vol 7, No 1 (2018): Juni
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (901.489 KB) | DOI: 10.29300/jpkth.v7i1.1587

Abstract

Para ulama dalam menilai status suatu hadis memiliki perbedaan pemahaman dan cara pengambilan keseimpulan, perbedaan-perbedaan tersebut akan coba dilihat dalam tatanan teori yaitu ilmu hadis. Pemilihan tokoh al-Hâkim al-Naysâbûriy dan Ibnu al-Shalâh sangat beralasan karena keduanya mengarang kitab yang membahas ilmu hadis yang masyhur pada masanya. Kemunculan kitab-kitab ini terjadi pada masa-masa awal pembukuan ilmu hadis, maka diharapkan teori-teori yang dimunculkan bersifat orisinil. Al-Hâkim al-Naysâburiy membahas dalam kitab Ma’rifat‘Ulûm al-Hadîts, teori-teori ilmu hadîts yang berjumlah 52 cabang,  sedangkan teori Ibnu al-Shalâh tentang ilmu hadis dalam kitab Muqaddimah Ibn al-Shalâh berjumlah 65 cabang. Dari jumlah tersebut terdapat lebih kurang 29 teori yang sama-sama dibahas oleh al-Hâkim dan Ibnu al-Shalâh. Khusus kepada al-Hâkim, Ibnu al-Shalâh banyak membahas teori al-Hâkim, ada yang hanya disebutkan sebagai pembanding, namun ada yang dikritisi. Proses pembandingan dan pengkritisan ini membentuk suatu jalur kronologi  sejarah perkembangan ilmu hadis.
PEMIKIRAN FILSAFAT POLITIK (Studi Komperatif Al-Farabi dengan Thomas Aquinas) Edi Sumanto
El-Afkar: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Tafsir Hadis Vol 6, No 2 (2017): Desember
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.396 KB) | DOI: 10.29300/jpkth.v2i6.1237

Abstract

Dalam pemikiran filsafat politik  Al-Farabi  membahas tentang: pemerintahan,  negara, masyarakat dan politik kenegaraan.  Yang terkenal pendapatnya tentang negara utama dibaginya kepada negara yang sempurna dan yang tidak sempurna.  Al-Farabi juga mengemukakan bahwa individu yang berbeda dari sebuah bangsa memiliki watak yang berbeda pula. Sebagaian mereka ada yang memerintah dan sebagaian yang lainnya lebih suka di perintah.  Sedangkan Thomas Aquinas gagasan dan pemikiran-pemikiran politiknya mampu memberikan kontribusi dalam memajuka dan mengembangkan ilmu politik. Ajaran yang dikembangkan tentang hukum alam, negara dan kekuasaan. Selain itu juga Thoma Aquinas dianggap sebagai yang mampu mengembangkan doktrin atau ajaran kristiani dengan sangat baik. Dalam pandangan masalah hukum, negara, dan kekuasaan tidak dapat lepas dari hukum kodrat (Natural Law), yang dalam pemikiranya diartikan sebagai partisipsi rasional dalam hukum abadi (eternal law). Eternal law itu sendiri sebagai kebijakan dan akal budi abadi Tuhan.  
PERAN TASAWUF DALAM KEHIDUPAN MANUSIA MODERN (Perspektif Sayyed Hossein Nasr) Lina Nurhasanah
El-Afkar: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Tafsir Hadis Vol 6, No 2 (2017): Desember
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.519 KB) | DOI: 10.29300/jpkth.v6i2.2337

Abstract

Pada Tulisan ini bagaimana tasawuf  berperan dalam kehidupan manusia modern yang merujuk pada pemikiran Sayyed Hossein Nasr dimana tasawuf yang berperan dalam kehidupan manusia modern adalah tasawuf yang mempertahankan integritasnya dan kemurniannya sendiri. Sufisme tersebut harus dapat melawan kekuatan-kekuatan dahsyat yang saat ini terlihat dimana-mana.Sayyed Hossein Nasr memiliki tujuan untuk menyajikan sufisme yang dapat diterima dan dipraktekkan manusia modern sehingga mereka menyadari bahwa dengan tradisi suci (tasawuf) sajalah mereka dapat menyelamatkan diri. Oleh karenanya tasawuf sangat dibutuhkan oleh manusia modern dikarenakan tasawuf merupakan solusi alternative terbaik untuk mengisi kekosongan batin manusia modern yang diakibatkan oleh kemajuan manusia yang menyebabkan manusia hilang akan eksistensinya.
METODOLOGI IMAM AL-THAHAWI DALAM MENYELESAIKAN MUSYKIL AL-HADIS DENGAN PENDEKATAN MUBHAM AL-HADIS Almunadi Almunadi; Adriansyah Adriansyah
El-Afkar: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Tafsir Hadis Vol 6, No 2 (2017): Desember
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.166 KB) | DOI: 10.29300/jpkth.v6i2.2338

Abstract

Kritik sanad dan matan hadis sangat diperlukan untuk mengetahui dan mengidentifikasi ke-shahih-an sebuah hadis. Pandangan para Muhadditsin menegaskan bahwa ke-shahih-an sanad hadis bukan jaminan mutlak bagi ke-shahih-an matannya. Seringkali sebuah hadis dinilai shahih atau hasan dari sisi sanadnya, namun sejatinya hadis tersebut tidak demikian, karena tercederai oleh unsur-unsur syaz dan ‘illat yang bukan saja berada pada sanadnya, tetapi juga dapat muncul pada matannya. Secara umum, makna musykil hadis diklasifikasikan kepada dua kategori ; mukhtalaf al-hadis dan hadis yang mengandung makna samar. Musykil hadis kategori kedua adalah hadis yang tidak mengandung unsur kontradiktif dengan semua hadis atau dengan lainnya tetapi hanya mengandung makna samar dan karenanya memerlukan penjelasan. Untuk menyelesaikan problematika yang terdapat dalam hadis tersebut, al-Thahawi melakukan penjelasan maknanya.
LI’AN DALAM PERSPEKTIF YURIDIS, PSIKOLOGIS, SOSIOLOGIS DAN EKONOMIS Suryani Suryani
El-Afkar: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Tafsir Hadis Vol 5, No 2 (2016): Desember
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.05 KB) | DOI: 10.29300/jpkth.v5i2.1138

Abstract

Makna dasar dari sebuah  perkawinan adalah suatu ikatan, dengan konsekwensi sebuah ikatan itu dapat lepas, yang kemudian itu disebut thalaq.  makna dasar thalak itu adalah melapaskan ikatan atau melepaskan perjanjian. Putusnya suatu perkawinan telah diatur baik dalam fiqih maupun dalam undang-undang dengan adanya thalaq, Para ulama telah membahas tentang masalah terputusnya perkawinan, dan sebab-sebabnya, dan di antara sebab tersebut adalah li’an. Memperhatikan sebab li’an di atas maka, yang menjadi bahasan dalam tulisan ini adalah Sebab-sebab terjadinya li’an , tujuan li’an,  ketentuan li’an, syarat syahnya li’an, akibat-akibat yang ditimbulkan oleh adanya li’an serta li’an dalam Perspektif Yuridis, Psikologis, Sosiologis dan Ekonomis.
NILAI-NILAI FILSAFAT DALAM KAJIAN KEILMUAN DAKWAH Rodiyah Rodiyah
El-Afkar: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Tafsir Hadis Vol 6, No 2 (2017): Desember
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.747 KB) | DOI: 10.29300/jpkth.v6i2.2339

Abstract

Nilai-nilai fisafat seperti, rasionalis, kritis, sistematis dan universal menjadi hal penting ketika berbicara tentang dakwah, karena-nilai-nilai tersebut juga menjadi komponen penting dalam kajian hakikat dakwah. Nilai-nilai tersebut penting untuk proses kegiatan dakwah, seperti materi yang disampaikan haruslah rasional, kemudian dai dan mad’u dituntut untuk bersikap kritis terhadap materi dakwah, selanjutnya dakwah perlu dilakukan secara sistematis dengan cakupan materi yang universal mencakup semua aspek kehidupan dan aspek  sasaran dakwah yang luas dan tidak terbatas
SEJARAH DAN PERKEMBANGAN TAREKAT DI NUSANTARA Muhammad Awaludin
El-Afkar: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Tafsir Hadis Vol 5, No 2 (2016): Desember
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.636 KB) | DOI: 10.29300/jpkth.v5i2.1139

Abstract

Keberadaan tarekat merupakan rangkaian sejarah timbulnya sufisme/tasawuf dalam Islam yang pada awalnya merupakan jalan yang ditempuh umat Islam dalam usaha mencari keridhaan Allah Swt dan Rasul-Nya, kemudian pada akhirnya bergeser pada organisasi keagamaan yang sangat besar pengaruhnya didalam perkembangan masyarakat Islam, baik internasional umumnya, maupun Indonesia khususnya. Salah satu Tarekat yang berkembang pesat di Indonesia adalah Tarekat Naqsabandiyah yang berkembang dan bercabang-cabang di beberapa daerah dari benua Asia seperti Cina, Turki, India dan Jawa.Pada Tulisan ini akan diangkat sejarah perkembangan tarekat di nusantara dari berbagai aspek.
ANALISIS IMPERTIF DALAM AL QUR’AN SURAT YĀSĪN Abdul Aziz Al Khumairi
El-Afkar: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Tafsir Hadis Vol 8, No 1 (2019): Juni
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (531.298 KB) | DOI: 10.29300/jpkth.v8i1.2457

Abstract

Tuturan imperatif dalam bahasa Arab mempunyai empat bentuk, yaitu: 1) fi‘l amr, 2) fi‘l mudari‘ yang didahului dengan lam amr, 3) masdar yang menggantikan fi‘l amr.1, dan 4) amr dengan redaksi khabar. Dalam suratyāsīn penutur (Allah SWT) banyak menggunakan redaksi tindak tutur imperatif dalam melakukan komunikasi.Penelitian ini adalah penelitian linguistik yang bertujuan untuk mengungkap bagaimana bentuk tindak tutur imperatif dalam suratyāsīndan apa arti penggunaan pragmatis tindak tutur imperatif dalam surat yā sīn. Bentuk Amr yang terdapat dalam surah Yāsīnsebanyak 12 buah, tersebar dalam 12 ayat.Bentuk amr yang sebanyak 12 tersebar dalam ayat-ayat sebagai berikut: 11. 13,20. 21,25,26.45,47, 61. 64.79 dan 82. Seluruhnya berbentuk fi 'il Amr. Adapun bentuk fi’il mudhari yang didahului lam amr. bentuk masdar pengganti fi ’il amr. dan bentuk isim fi 'il amr tidak ditemukan dalam surah Yā sīn.Makna pragmatik tindak tutur imperatif (al-’amriy) dalam surat yāsīn yaitu: Penghormatan/ikram, Pelajaran /i’tibar, Tawaran /iltimas, Mengharapkan / at-tammanni, Melemahkan / ta’jiz, Menakut-nakuti /at-tahwil , Sesuatu yang jauh dari kenyataan /al-istib’ad, Penghinaan /al-ihanah, Kecaman /tahdid, penghinaan /at-tahqir.
Tipologi Pemahaman Hadis (Studi Pemikiran Hadis Mahmud Saltut) Ach Baiquni
El-Afkar: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Tafsir Hadis Vol 8, No 2 (2019): Desember
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/jpkth.v8i2.2098

Abstract

Most Muslim societies especially in Indonesia understand that all traditions contain innocence but in reality scholars try to reclassify that in understanding the traditions, people who will understand the traditions must know and sort out and choose whether the traditions that contain shariah or not, Mahmud Syaltut is present to offering this theory, so that the Islamic Community is not complacent that everything contained in the hadith contains Shariah, even though it is not because in living everyday life the Prophet Muhammad works as the head of the State, the Messenger of God, the husband, the father of his child and the leader of the war. Now this is what makes the reason someone who wants to understand the hadith must know the text and context of the hadith. The purpose of this study is to elaborate on the thought of the Hadith Mahmud Syaltut about how to understand the hadith, while the research method is literature by examining the book by Mahmud Syaltut "al-Islam al-Aqidah Wa Shari'at as a primary source while other books related to hadith thought used as a secondary source. The research concluded that Mahmud Syaltut offered and popularized the theory in understanding hadith with the terms tasri and ghairu tasri, even though the theory had been conceptualized differently by previous scholars such as al-Dikhlawi and al-Qarafi.

Page 7 of 16 | Total Record : 151