cover
Contact Name
A.A. Diah Indrayani
Contact Email
diahindra17@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
diahindra17@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Kalangwan: Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra
ISSN : 1979634X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Kalangwan, Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra yang diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Agama Fakultas Dharma Acarya IHDN Denpasar memiliki misi menghidupkan dan mengoptimalkan kesadaran keindahan ilmu pengetahuan yang ada dalam diri setiap orang. Maka dengan kesadaran tersebut akan membuat setiap insan tergerak untuk terus menimba menambah dan memperdalam pengetahuan demi kemajuan dan peningkatan kualitas SDM kampus. Keindahan ilmu pengetahuan akan membuka sisi estetika dan kelembutan menuju manusia yang ramah rendah hati jujur dan terbuka.
Arjuna Subject : -
Articles 151 Documents
NILAI PENDIDIKAN KARAKTER YANG TERKANDUNG DALAM TEMBANG BALI Putra, I Gusti Ngurah Arya
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 10, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v10i1.1397

Abstract

Masyarakat Bali dalam hidupnya tak pernah terlepas dengan sebuah sastra. Dalam sastra itu sendiri memiliki beberapa bentuk yaitu Gancaran, Tembang, dan Palawakya. Tembang (Prawiradisastra,1991:64) yaitu seni suara yang dibangun dari bermacam-macam laras dan nada sebagai bahannya. Tembang yang dikenal masyarakat bali yaitu sekar rare, sekar alit, sekar madya, sekar agung dan tembang pop bali pun juga termasuk yang sangat digemari. Dengan adanya tembang membantu dalam transfer nilai pendidikan karakter. Nilai karakter ialah suatu penggabungan dalam pengelolaan pemikiran, sikap maupun budi pekerti dalam menentukan apa yang baik dilakukan maupun yang tidak baik dilakukan, dalam bentuk permikiran, perkataan maupun perbuatan sehingga terciptanya sifat atau pribadi individu yang khas. Diharapkan agar tembang ini bukan hanya sebagai sarana pelipur lara atau penuangan ekspresi jiwa tetapi mampu berguna sebagai sarana penanaman nilai pendidikan karakter bagi seseorang. Jenis penelitian ini yaitu kualitatif dengan menggunakan metode analisis.
UNSUR INTRINSIK DAN PERMASALAHAN SOSIAL DALAM CERPEN ULIAN LACUR KARYA NENGAH RUSMADI Nuryana, I Wayan
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 9, No 2 (2019)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v9i2.1236

Abstract

Short story is one of literature in the form of prose. Short story is a work that is built through various intrinsic elements and extrinsic elements. Element element of the short story will build a short story in totality and is artistic. Short stories have intrinsic and extrinsic elements, intrinsic element is the element of the story builder that comes from within the short story itself. If likened to a building, then the intrinsic element is the components of the building. The intrinsic elements are themes, plot, figure, background, point of view and mandate. In addition to intrinsic elements also analyze the social value in this story which contains social problems such as poverty, faded empathy and so forth. As for the benefits of peeling a short story is very diverse, from the first did not know to know, who did not understand to understand, analyze / peel thoroughly a short story is very useful for writers and readers. Writers and readers will very easily understand the contents contained in a short story, especially for people who like to short stories.
GURU SUSRUSA DALAM TEKS ADIPARWA Saitya, Ida Bagus Subrahmaniam
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 10, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v10i1.1393

Abstract

Catur guru berarti empat guru atau orang yang berpengetahuan dan memberikan pencerahan serta mampu untuk mengarahkan orang lain. Dalam agama Hindu, guru merupakan simbol bagi suatu tempat suci yang berisi ilmu (vidya) dan juga pembagi ilmu. Catur guru terdiri dari guru rupaka, guru pengajian, guru wisesa, dan guru swadyaya. Di dalam ajaran Pañca Nyama Brata terdapat ajaran guru suśrusa. Guru suśrusa berarti mendengarkan atau menaruh perhatian terhadap ajaran-ajaran dan nasihat-nasihat guru. Di dalam teks Ādiparwa diceritakan saat Sang Āruṇika melaksanakan kewajibannya untuk menjaga sawah yang diperintahkan oleh gurunya Bhagawān Dhomya. Murid yang lain, Sang Utamanyu diperintahkan menggembala sapi, dalam melaksanakan tugasnya ia sangat lapar dan haus maka ia minta-minta terhadap orang-orang, namun perbuatan itu dilarang oleh Bhagawān Dhomya. Selanjutnya Sang Utamanyu meminum sisa susu sapi dari anak sapi yang digembala juga dilarang oleh gurunya sehingga ia meminum getah daun waduri yang menyebabkan Sang Utamanyu menjadi buta. Perbuatan tersebut merupakan perwujudan ajaran guru suśrusa yang tulus kepada seorang guru. Ajaran guru suśrusa juga ditunjukkan oleh Sang Weda kepada sang guru. Ia diperintahkan untuk memasak dan menghidangkan berbagai hasil masakannya dan perintah Bhagawān Dhomya dilaksanakan sebaik mungkin. Ajaran guru suśrusa berkaitan erat dengan guru bhakti. Bhakti bukan hanya kepada Tuhan saja, ajaran bhakti juga diterapkan kepada orang tua. Bhīṣma dengan bhakti-nya kepada ayahnya Raja Śantanu rela untuk brāhmacari selama hidupnya dan tidak menjadi raja di Hāstina agar ayahnya dapat mengawini Gandhawati. Wujud bhakti kepada orang tua juga ditunjukkan oleh Sang Garuḍa untuk membebaskan ibunya Dewi Winatā dari perbudakkan yang dilakukan oleh Dewi Kadrū berserta anak-anaknya.
HUBUNGAN GEGURITAN BRAYUT DENGAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT BALI Indrayani, A.A. Diah
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 9, No 2 (2019)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v9i2.1232

Abstract

Literature and culture have the same object that is a human being which existed in a community as a social fact and as a cultural creature. They have a special place in a society due to their close relationship. The figure can be found on a various art creations in Bali such as painting, sculpture and traditional song. Meanwhile, the government promotes family planning as a program to the citizen. The problems discussed on this research is how  the relation between geguritanBrayut and social and cultural of the Balinese.The methodology of this study is a qualitative research through non-interactive research by analyzing a textual research which is not related to the community on its organic environment. The research approach used in this study is thematic philosophy. The theory applied in this research are theory of deconstruction and semiotic.The result of this research shows that the relation between GeguritanBrayut with social and culture of  Balinese community can be seen on their marriage concept according to Hindu belief, family prosperity, child nurture, the genetic system (matrilineal and patrilineal).
STRATEGI SEKOLAH DALAM MENANAMKAN PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI DHARMAGITA DI SMK KHARISMA, MENGWI, BADUNG Artayasa, I Wayan
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 10, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v10i1.1398

Abstract

Sebagai Sekolah Kejuruan yang nota bena adalah siswa yang berjiwa interprenersif sangat sulit untuk menanamkan karakter dari segi agama, kearifan lokal apalagi dengan megeguritan atau mekidung karena pada zaman sekarang serba modern dan serba spontan apalagi perkembangan yang sangat pesat yaitu perkembangan IT. Perkembangan IT sangat cepat mempengaruhi sehingga banyak siswa yang terjerumus ke hal positif maupun negatif. Para guru, pihak sekolah sangat sulit menerapkan atau mengajarkan, mendidik dengan Dharmagita karena banyak siswa yang menganggap bahwa Dharmagita tersebut kuno, tradisonal, katrok dan lain sebagainya. Padahal dalam Dharmagita terkandung kalimat yang bermakna dalam hidup ini. Dengan adanya strategi sekolah untuk menanamkan pendidikan karakter pada siswa di SMK Kharisma tertarik untuk diteliti, sehingga dapat dirumuskan masalahnya dengan rumusan masalah 1) Bagaimanakah Bentuk Dharmagita Dalam Menanamkan Karakter Siswa Di SMK Karisma Mengwi Badung ? 2) Bagaimana Strategi Sekolah Dalam Menanamkan Pendidikan Karakter Siswa SMK Karisma Mengwi Badung ? sebagai rambu-rambu atau meramal untuk menjawab rumusan masalah maka teori yang digunakan adalah ; Teori Perubahan Sosial, Teori Fakulti. Dengan metode pengumpulan data ; observasi langsung, wawancara tidak berstruktur, pustaka, dokumentasi. Serta tehnik analisis data menggunakan : Pengelompokan Data, Reduksi Data, Transformasi Data, Pengecekan Keabsahan temuan, Penyajian Data, Penyimpulan dan Verifikasi.Hasil penelitian yang didapatkan adalah Kidung yang diberikan di SMK Kharisma Mengwi Badung dengan menyampaikan nilai-nilai karakter yang terkandung didalamnya, karena dengan cerita-cerita yang terdapat dalam kidung tersebut suasana menjadi baik, hening, dan mudah diresapi oleh Siswa. Selain itu juga yang paling sering diberikan di SMK Kharisma, Mengwi, Badung dan sekaligus latihan mengidungkan yaitu dalam persembahyangan         Strategi Pembelajaran Individual ;  Siswa yang mengalami kesulitan, seorang guru terutama guru Agama Hindu membimbing secara pribadi atau individu dalam artian guru Dharmagita mengajari, memberitahukan dengan satu persatu sampai bisa, kalau sudah bisa kemudian lagi dilakukan dengan bersama-sama         Strategi dengan Persahabatan Seorang Guru Dharmagita dalam pergaulannya sehari-hari dengan menganggap Siswa sebagai sahabat, karena selalu sebagai sahabat maka Siswa tersebut merasa  nyaman, tidak sungkan untuk bertanya, lebih aktif, tidak ada keragu-raguan. Para Siswa bebas mengemukakan unek-uneknya yang ditanggapi dengan iklas, senyum, oleh gurunya.
ANALISIS STRUKTUR YANG TERKANDUNG DALAM CERPEN UMAH Rahayu, Ni Luh Putu Nitahapsari
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 9, No 2 (2019)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v9i2.1237

Abstract

Literary works are creations communicated expressively about the author`s intent for aesthetic purposes.. This study examines the intrinsic contained in the short story of  Bali language entitled ?umah? generally have opinions and different interpretation of a short story. The intrinsic element is all the outside elements that underlies and creation of literary works. The method used in this research descriptive research using descriptive research method. Method is a methodthe status of a human group, an object, a set of conditions, a system ofthought, or a classof events in the present. In the analysis of the short stories in Bali language, the work of this I Dewa Ketut Raka Kusuma, contains many moral values and social value that can be taken and learned by the readers.
PENGINTEGRASIAN NILAI PERDAMAIAN DALAM PEMBELAJARAN BAHASA DAERAH SEBAGAI PERKUAT BUDAYA LOKAL Sueca, I Nyoman
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 9, No 2 (2019)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v9i2.1225

Abstract

Kondisi masyarakat di masing-masing daerah di Indonesia dewasa ini diwarnai oleh berbagai bentuk tindak kekerasan yang dipicu oleh masalah sederhana sampai yang cukup pelik. Pelakunya meliputi golongan tidak berpendidikan dan golongan berpendidikan. Wilayah terjadinya di lingkungan desa adat di Bali dan kota-kota kecil, tidak terkecuali di kota metropolitan dan pusat pemerintahan. Berbagai konflik telah muncul dalam masyarakat Indonesia yang berbeda suku, agama, atau kepentingan telah menimbulkan kerusuhan massal, yang banyak menimbulkan korban jiwa dan harta. Tawuran antarpelajar sering terjadi di berbagai tempat. Budaya kekerasan telah merusak jalinan persatuan sesama warga negara, yang tentu saja menurunkan kualitas budaya. Mengatasi hal tersebut, lembaga pendidikan merupakan wahana penting untuk membangun kekuatan intlektual generasi bangsa. Semua lembaga pendidikan  mempunyai tujuan untuk mengembangkan nilai teoretis, meskipun kadar dan kebutuhannya bervarisai antara lembaga pendidikan yang satu dengan yang lainnya, sesuai dengan jenis dan tingkat pendidikkannya. Oleh karena itu lembaga pendidikan merupakan wahana untuk mengembangkan budaya progresif. Budaya progresif tercermin dalam kemauan untuk maju dan berkembang, didukung oleh penemuan ilmiah serta pemenuhan kebutuhan secara efisien berdasarkan pemikiran secara rasional dan logis. Mengingat masing-masing daerah di Nusantara telah memiliki budaya tradisional yang disebut kearifan lokal (lokal wisdom), kebertahana ini didasari atas pentingnya pembelajaran bahasa daerah di masing-masing wilayah dimana mereka hidup untuk membangun kebudayaan. Sehingga pengintegrasian nilai perdamaian dalam mewujudkan keharmonisan dalam suatu wilayah dapat dilakukan melalui belajar bahasa terutama belajar bahasa daerah. Mengingat daerah di Indonesia terdiri banyak suku, etnis, agama, sehingga kita kaya dengan bahasa daerah. Bahasa daerah akan dapat memperkuat budaya pada masing-masing daerah sebagai sebuah lokal wisdom.
PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 80 TAHUN 2018 TENTANG PELINDUNGAN DAN PENGGUNAAN BAHASA, AKSARA, DAN SASTRA BALI SERTA PENYELENGGARAAN BULAN BAHASA BALI Muliani, Ni Kadek; Muniksu, I Made Sukma
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 10, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v10i1.1394

Abstract

Bahasa adalah alat untuk berkomunikasi dan mengadakan interaksi sosial. Bahasa daerah (bahasa Ibu) merupakan salah satu warisan kekayaan intelektual yang diturunkan dari satu generasi ke generasi lainnya. Keragaman bahasa daerah memberikan nuansa unik terhadap Indonesia di mata dunia. Bahasa daerah sudah sepatutnya dibina, dikembangkan dan dilestarikan supaya tidak mengalami kepunahan.Bahasa Bali (Bahasa daerah Provinsi Bali) dilindungi oleh Pergub no.80 tahun 2018 yang mengatur tentang penggunaan bahasa daerah secara intens di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan kerja. Kemampuan bahasa akan semakin terasah apabila sering diterapkan. Penggunaan bahasa Bali sebagai bahasa pergaulan sehari-hari mendorong generasi muda untuk semakin mencintai bahasa daerahnya.
INTERPRETASI BHATARA KALA SEBAGAI PEMBATAS ETIKA BUDAYA BALI DALAM LONTAR KALA-PURANA Mandra, I Wayan
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 9, No 2 (2019)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v9i2.1233

Abstract

Lontar Kala-Purana merupakan sebuah geguat atau dasar yang jelas (indik-indik) yang dipergunakan masyarakat Bali untuk melakukan panglukatan pada setiap orang yang terlahir pada saniscara (sabtu) wara Wayang. Ini merupakan satu bentuk refleksi yang secara nyata merupakan perpaduan antara tattwa, etika, upacara secara simultan dan dibungkus dengan budaya Bali. Jika berbicara masalah tattwa, maka narasi Kala-Tattwa sudah memberikan penjabaran bagaimana Bhatara Kala, yang merupakan personifikasi dari sebuah kekuatan (energi) penghancur merupakan sebuah hal yang badai. Bahkan dalam beberapa kitab mantra samhita, Upanisad, maka ?Kala? merupakan menghancur yang agung. Sebab waktu, adalah kekal dan yang menghancurkan. Kitab Bhagavadgita sendiri menyatakan bahwa diantara yang menghancurkan, tidak ada yang lebih baik selain ?Kala? (waktu) itu sendiri
ANALISIS PENOKOHAN DALAM GEGURITAN BATUR TASKARA Giri, I Putu Agus Aryatnaya; Arta, Putu Eddy Purnomo
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 10, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v10i1.1399

Abstract

The main character in Geguritan Batur Taskara (GBT) is Batur Taskara. Whereas the secondary figures are Raja Patali, Maya's Wife, and Batur Taskara's son. As well as complementary figures are the servants of the king, Empu Bajra Satwa, Pranda Wife, and Hyang Wirocana. Analysis of characterizations in GBT, among others; 1) Batur Taskara is the main character in Geguritan Batur Taskara because he fully supports the story / gets the most portrayal of the figures from other figures. When viewed from the psychological aspect, the Batur Taskara figure is described as a figure who is not good because it always creates chaos in Patali. However, Batur Taskara is not always portrayed as a figure who always does evil. In the end he regretted all the evil deeds he had done and wanted to repent. 2) Raja Patali, from the psychological and sociological aspects, was a king who was highly respected by his people because he ruled in a strict and peaceful manner. 3) Maya's wife is the wife of Batur Taskara who is described as an evil and very devious woman. With her beauty and guile, she tried to win Batur Taskara's heart. 4) Batur Taskara's son is portrayed as an intelligent child and very loyal to his mother, 5) The king's servants are portrayed as being very loyal but rash in their actions. 6) Empu Bajra Satwa has a very high sense of humanity and love because even though he knows that Batur Taskara has committed many crimes, he still wants to accept Batur Taskara as his student, 7) Pranda This wife also has a sense of humanity and love that very high because they are willing to accept Batur Taskara in Pasraman very friendly. 8) Hyang Wirocana is a figure of God who lives in a grave with a good character because he forbids Batur Taskara from returning to Patali at Badra Wada because he could find death.

Page 4 of 16 | Total Record : 151