cover
Contact Name
A.A. Diah Indrayani
Contact Email
diahindra17@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
diahindra17@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Kalangwan: Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra
ISSN : 1979634X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Kalangwan, Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra yang diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Agama Fakultas Dharma Acarya IHDN Denpasar memiliki misi menghidupkan dan mengoptimalkan kesadaran keindahan ilmu pengetahuan yang ada dalam diri setiap orang. Maka dengan kesadaran tersebut akan membuat setiap insan tergerak untuk terus menimba menambah dan memperdalam pengetahuan demi kemajuan dan peningkatan kualitas SDM kampus. Keindahan ilmu pengetahuan akan membuka sisi estetika dan kelembutan menuju manusia yang ramah rendah hati jujur dan terbuka.
Arjuna Subject : -
Articles 151 Documents
KONSEP KOSMOLOGI HINDU DALAM TEKS BHUANA KOSA Sena, I Gusti Made Widya
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 7, No 1 (2017)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.204 KB) | DOI: 10.25078/klgw.v7i1.1073

Abstract

One of the truths implied in Scripture Veda is the doctrine or concept of cosmology (creation of the universe). Cosmology is one of the important knowledge in Hinduism, because cosmology not only provides knowledge about the creation of the universe, cosmology can further explain the nature of actual human will, which is still difficult to understand.Doctrine cosmology in Bali is expressed in local theology. Particularly lontar or texts Siwaistik always focuses on the teachings or knowledge of the Lord (Shiva) and knowledge of the way to achieve them as well as the creation of the universe, be it Bhuana Agung or Bhuana Alit.For this reason the right knowledge and also appropriately implement this concept, in particular the concept of Hindu cosmology in the text Bhuana Kosa very important to understanding in daily life towards a harmonious life and increased devotion to God.The concept of Hindu cosmology In the Text Bhuana Kosa is taking the concept of Tattwa Rudra. Tattwa Rudra occur from Shiva as the supreme reality, then united with Rudra became Purusa, of Purusa born Awyakta, of awyakta born Buddhi, of Buddhi (as a symbol of sattwam) was born Ahamkara / Ahangkara (symbol tattoo), then born Panca Tan Matra as a symbol tamas, manas (mind) and Panca Maha Bhuta.
KAJIAN FILOLOGI DAN NILAI PENDIDIKAN DALAM LONTAR TUTUR AJI SARASWATI Sentana, Gek Diah Desi
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 7, No 1 (2017)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.339 KB) | DOI: 10.25078/klgw.v7i1.1074

Abstract

Kesusatraan sebagai suatu hasil karya pengarang atau pengawi berupa tulisan yang mengandung nilai-nilai budhi pekerti yang luhur serta memiliki nilai keindahan. Kesusastraan Bali dibagi menjadi dua, yaitu kesusastraan Bali Purwa dan kesusastraan Bali Anyar (modern). Kesusastraan Bali purwa yaitu kesusastraan yang tertua di Bali, yang sering disebut dengan kesusastraan rakyat yang menjadi sebuah tradisi turun-temurun hingga saat ini. Sedangkan kesusastraan Bali Anyar adalah hasil karya cipta seseorang yang menceritakan kehidupan masyarakat yang sudah dipengaruhi oleh dunia luar. Salah satu kesusastraan yang termasuk bagian dari kesusastraan Bali Purwa yaitu, kesusastraan berupa lontar sebagai warisan budaya, yang ditulis oleh para leluhur di atas daun lontar (daun ental). Dari keunikan masing-masing karya sastra tersebut, tertarik untuk mengkaji lontar TuturAji Saraswati yang akan dibahas pada tulisan ini mengenai perbandingan dan nilai pendidikan yang terkandung dalam lontar TuturAji Saraswati. Karena dalam lontar tersebut mengandung pengetahuan tentang aksara Bali. Lontar Tutur Aji Saraswati digunakan untuk mengetahui aksara bali yang terdapat dalam Bhuana Agung dan BhuanaAlit, begitu juga untuk mempermudah kita mempelajari sastra-sastra yang terdapat dalam Wariga, Usadha, Tutur, Agama dan intisari beserta penjelasannya.
WACANA PUNAHNYA BAHASA DAERAH DALAM PERGAULAN GLOBALISASI Astawa, I Nyoman Temon
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 7, No 1 (2017)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.509 KB) | DOI: 10.25078/klgw.v7i1.1076

Abstract

Wacana akan punahnya suatu bahasa dicemaskan oleh banyak pihak, hal ini berangkat dari keprihatinan akan matinya banyak bahasa. Ada alasan mendasar mengapa kepunahan suatu bahasa sangat dikhawatirkan. Bahasa memiliki jalinan yang sangat erat dengan budaya sehingga keduanya tidak dapat dipisahkan. Karena begitu eratnya jalinan antara bahasa dan budaya, tanpa bahasa budayapun akan mati.  Hal ini bisa terjadi karena bahasa adalah penyangga budaya; sebagian besar budaya terkandung didalam bahasa dan diekspresikan melalui bahasa, bukan melalui cara lain. Ketika berbicara tentang bahasa, sebagian besar yang dibicarakan adalah budaya.
MITOS PAN BALANG TAMAK DI DESA NONGAN KECAMATAN RENDANGKABUPATEN KARANGASEM: SASTRA LISAN Pebriyani, Ni Komang Ari; Duija, I Nengah; Subagia, I Nyoman
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 9, No 1 (2019)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.349 KB) | DOI: 10.25078/klgw.v9i1.1072

Abstract

The gap of Pan Balang Tamak character who was usually known by Balinese people in general happened in Nongan Village, Rendang Distric, Karangasem Regency. Beyond Pan Balang Tamak character precisely was respected by showing himself in the term of Balang Tamak temple in Nongan Village. The connection of Pan Balang Tamak myth with the folklore material in the village including the tradition which use janggi in the meeting, village rules, Pan Balang Tamak temple, Bale Pegat temple, Shrine in Subak Petian, and Karang Suung. There is a widening story then like Pan Balang Tamak myth according to the family of the landlord in Subak Petian area which connected with the family tree of Pasek Prateka and Pan Balang Tamak myth which connected with Rejang Buah dance and Baris Kumbang they arise as the result of the behavior of Pan Balang Tamak’s daughters.
TRADISI MABEBASAN SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN BAHASA BALI Mastini, Gusti Nyoman
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 7, No 1 (2017)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.637 KB) | DOI: 10.25078/klgw.v7i1.1077

Abstract

Tradisi mebebasan merupakan cabang seni yang bersumber pada puisi Bahasa Jawa Kuna atau Bahasa Kawi. Bahasa Kawi sebagai bahasa pokok untuk dibaca dan ditembangkan, yang kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Bali, dan kadang-kadang diberi ulasan dengan Bahasa Bali atau Bahasa Indonesia jika situasi kontekstual menuntutunya. Terkait dengan hal di atas dapat disimpulkan bahwa Bahasa Kawi sebagai Bahasa Sumber, Bahasa Nusantara yang paling tua, dan sebagai bahasa sastra religius. Bahasa Bali berkedudukan sebagai sebagai bahasa daerah besar dan berfungsi sebagai bahasa pergaulan, bahasa sasaran untuk menerjemahkan Bahasa Kawi dan sebagai bahasa pengulas. Sedangkan Bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa pengulas sama seperti Bahasa Bali.
DALAM KIDUNG BHRAMARA SAṄU PATI Putra, I Gde Agus Dharma; Sutjaja, I Gusti Made; Putra, Ida Bagus Rai; Sudarsana, I Ketut
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 7, No 1 (2017)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.117 KB) | DOI: 10.25078/klgw.v7i1.1075

Abstract

Kalangwan is state of Beauty and cause melting of the distance between the seeker and the sought after. The melting distance causes the soul to drift into the sublime beauty. Distance not only as the conception of space and time, but also the consciousness that separate subject and object. Melting distance means the dissapearance of space, time, and consciousness. Such a condition become a goal by Kawi.Bhramara Sangu Pati more like a monologue that contains the expressions of love for the godness. Love expressions of hope, disappointment, sadness, beauty, especially the longing. Such expressions are axpressed in a soft metamorphosis. Literary is a kind of literature that is still in vague areas especially for researchers.Kalangwan in this text does not stop only on the aesthetic, but also the miystical. Aesthetic because it is a literary work of a hymn that has its own prosody. Mystical because in it there are teachings, especially the teachings that can be used as death. Kalangwan in this study is the level that must  be followed by those who want to achieve death. Kalangwan is not abolished, but skipped. Its like climbing a ladder, to get to the tenth step, it must be through the first, second, third and so on.
TUJUAN HIDUP DALAM KACAMATA KITAB SARASAMUCCAYA Wiraputra, Anak Agung Gede
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 10, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v10i1.1396

Abstract

Weda merupakan sumber ajaran agama Hindu. Selain kitab suci Weda, agama Hindu juga mengenal yang dinamakan kitab smerti. Kitab Sarasamuccaya merupakan kitab smerti yang kaya akan ajaran susila di dalamnya. Salah satu ajaran terkait susila dalam kitab Sarasamuccaya adalah Catur Purusartha atau Catur Warga yang dikenal sebagai empat tujuan hidup manusia, seperti dharma (kebenaran), artha (harta/tujuan), kama (nafsu/keinginan), dan moksa (tujuan akhir/kelepasan). Tulisan ini berusaha untuk mengungkap ajaran Catur Purusartha atau Catur Warga yang terdapat dalam kitab Sarasamuccaya dengan perangkat berupa teori struktur dan teori religi yang didukung oleh metode analisis isi dan deskriptif analisis. Hasil dari analisis tersebut menunjukkan bahwa dasar tujuan hidup manusia pada hakikatnya adalah untuk senantiasa selalu mengusahakan berbuat baik dan menolong diri sendiri dari penderitaan, sehingga dapat mewujudkan hidup yang lebih baik. Adapun pembahasan tujuan hidup (Catur Purusartha atau Catur Warga) dalam kitab Sarasamuccaya, yaitu: ajaran dharma diuraikan dalam segmen keagungan dharma, sumber dharma, dan pelaksanaan dharma. Artha diuraikan melalui keutamaan dana punia. Kama atau nafsu diuraikan dalam pembahasan kama (nafsu) dan perempuan nakal. Terakhir, ajaran kelepasan (moksa) diuraikan dalam konsep dan hakikat orang bijaksana. Keseluruhan pembahasan tersebut merupakan pedoman praktis yang sangat berguna untuk mewujudkan kehidupan yang utama.  
STRUKTUR FONOLOGI DIALÉK BALI AGA DÉSA PAKRAMAN SELULUNG, KECAMATAN KINTAMANI, KABUPATÉN BANGLI Ranem, I Nyoman
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 9, No 2 (2019)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v9i2.1235

Abstract

Basa Bali dialék Bali Aga Selulung pinaka basa Ibu etnis Selulung madué genah miwah kawigunan sané mabuat pisan. Pinaka piranti mabebaosan, basa Bali dialék Bali Aga Selulung madué sistem pelafalan sané kahanannyané prasida nyantenang pabinayan cihnan basa majeng ring basa-basa sané tiosan. Pabinayan basa punika jagi nyantenang identitas jadma, inggih punika sakéng napi wit jadmané punika. Interaksi verbal serahina-rahina (utamanyané ri sajeroning kulawarga) etnis Selulung didominasi olih kanggénnyané basa Bali dialék Bali Aga Selulung punika, bilih-bilih ngenénin indik bebaosan sané kahanannyané tradisional, minakadi ngawedarang indik kawéntenan adat, kabudayaan, miwah agama.
AKSARA WREASTRA DAN WIJAKSARA DALAM AKSARA BALI (STUDI STRUKTUR DAN MAKNA DALAM AGAMA HINDU) Widiantana, I Kadek; Wiradnyana, I Made
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 10, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v10i1.1392

Abstract

Humans as socio-cultural creatures can never be separated from the use of symbols, including symbols related to linguistics, which are used as sacred symbols in Hinduism in Bali, namely scripts, both Wreastra and Wijaksara Scripts. Hindus in Bali, for the most part, consider that the Wreastra script is only an ordinary script, which has no philosophical meaning, making researchers interested in studying the philosophical meaning in the Wreastra Script that is accompanied by the study of Wijaksara Script.Starting from this background, there are several research problem formulations, namely what is the meaning of the Wreastra and the Wijaksara Scripts in Hinduism. To answer these problems, the researcher use structural theories, semiotic theories, and theories of meaning. This type of research is qualitative research, with a philosophical-symbolic approach.The results of this study are the Wreastra and Wijaksara scripts have a meaning as worship to the God with all its manifestations adjusted to the script used. The application of the Wreastra and Wijaksara scripts in religious ritual activities in Bali as part of socio-religious activities can be seen from its use in the Rerajahang Kajang, Ulap-Ulap and Pecaruan rites.The conclusion that can be drawn is that the Wreastra and Wijaksara scripts have a high philosophical meaning of God, so that in writing and its use is not arbitrary, always starting with prayer of worship to the God.
RASA BAHASA DALAM BAHASA BALI Mastini, Gusti Nyoman
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 9, No 2 (2019)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v9i2.1231

Abstract

Rasa bahasa di dalam percakapan menggunakan Bahasa Bali sangatlah penting, karena ketika berbicara jika rasa bahasanya sudah sesuai dengan unggul-ungguling Bahasa Bali akan dapat menimbulkan rasa senang. Tetapi sebaliknya jika rasa bahasanya tidak sesuai dengan anggah-ungguhing, maka akan menimbulkan rasa tidak enak/ janggal.Bahasa Bali jika dilihat dari rasa bahasanya dapat dibagi menjadi 3 yakni (1) Rasa bahasa dalam bentuk kata meliputi : (a) kruna alus mider,  (b) kruna alus madia, (c) kruna alus singgih, (d) kruna alus singgih, (e) kruna alus sor, (f) kruna mider, (g) kruna andap, dan (h) kruna kasar. (2) Rasa bahasa dan bentuk kalimat meliputi : (a) lengkara alus singgih,  (b) lengkara alus madia, (c) lengkara alus sor, (d) lengkara andap, dan (e) lengkara kasar. (3) Selanjutnya Bahasa Bali dilihat dari rasa bahasanya dibagi menjadi (a) bahasa alus, (b) bahasa madia, (c) bahasa andap, dan (d) bahasa kasar.

Page 3 of 16 | Total Record : 151