cover
Contact Name
I Gusti Ngurah Triyana
Contact Email
ngrtriyana@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalgunawidya@ihdn.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
GUNA WIDYA: JURNAL PENDIDIKAN HINDU
ISSN : 23555696     EISSN : 25550156     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Jurnal Guna Widya adalah Jurnal Pendidikan Hindu yang dikelola oleh Jurusan Pendidikan Agama Fakultas Dharma Acarya. Guna Widya memuat hasil penelitian maupun hasil pemikiran akademisi dan praktisi pendidikan Agama Hindu. Jurnal Guna Widya memberikan ruang gerak terhadap penulis yang ingin mengembangkan dan menyebarkan nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam ajaran Agama Hindu yang bersifat mendidikan sehingga dapat membentuk karakter masyarakat Hindu yang cerdas dan berbudi pekerti yang luhur. Guna Widya juga memuat tentang aplikasi ajaran Agama hindu yang disesuaikan dengan adat, budaya dan tradisi masyarakat pendukungnya. Guna Widya lahir dengan harapan membuka cakrawala pendidikan yang luas khususnya dalam bidang pendidikan Agama Hindu
Arjuna Subject : -
Articles 199 Documents
GEGURITAN NALADAMAYANTI ANALISIS PENOKOHAN I Wayan Sugita
GUNA WIDYA: JURNAL PENDIDIKAN HINDU Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/gw.v4i1.386

Abstract

Tokoh utama (protagonis) diduduki oleh Raja Nala, sedangkan tokoh antagonis diperankan oleh Dewi Damayanti. Penokohan Raja Nala mengalami perubahan atau dilukiskan secara dinamis, secara fisik, semula tampan, kemudian berubah menjadi cacat, kurus, dan kotor, akhirnya kembali tampan sesuai dengan rangkaian peristiwa yang dialaminya. Raja Nala secara psikologis diceritakan berwatak jujur, adil, bijaksana, dan setia. Perilaku Raja Nala didorong oleh faktor kekuasaan dan seks, yakni ia berusaha merebut kembali cinta kasihnya dengan Dewi Damayanti yang telah ditinggalkannya di tengah hutan. Beliau mengalami kesedihan dan kesengsaraan karena tidak mampu mengendalikan pikirannya dan mengingkari kesetiaannya kepada Dewi Damayanti. Pernikahan dengan Raja Nala merupakan pertemuan jodoh yang serasi, harmonis, dan sangat setia. Kesetiaan Dewi Damayanti diuji oleh Catur Dewata.Kata Kunci: Penokohan
PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU PAH DALAM MEMANFAATKAN LINGKUNGAN SEKOLAH SEBAGAI SUMBER BELAJAR MELALUI DISKUSI KELOMPOK KERJA GURU (KKG) DI GUGUS KAWAN KECAMATAN BANGLI TAHUN 2018 I Nyoman Wiranata
GUNA WIDYA: JURNAL PENDIDIKAN HINDU Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/gw.v6i1.863

Abstract

One of the government agenda is to improve the quality of national education curriculum. The Centralistic of National curriculum system implementation has produced cognitive behaviors of students who are less flexible. According to the current 2013 curriculum, it requires new strategies, especially in learning activities. The learning approach which was previously dominated by the role of the teacher (teacher centered) was updated with a student-centered learning system. One of this learning strategies are using the Pakem approach. By utilizing the school environment as a learning resource, the implementation standard of learning, the students will be able to develop creativity, motivation and participation in learning process. Furthermore, based on the results of the observation as a supervisors of Hinduism education, (PAH) teachers in the Cluster of Bangli district, are very rare and never used the school environment as a source of learning. The study was conducted to utilize the school environment as a learning resource and to find out the weaknesses and strengths of the (PAH) Teacher Working Group (KKG) discussion in improving teachers' ability. This study was a School Action Research which carried out in two cycles, where each cycle was carried in three meetings. The subjects of this study were (PAH) teachers in Cluster which 8 number of people. The data was collected by using the observation format, learning scenario assessment instruments and assessment instruments for learning implementation. Furthermore, the collected data is analyzed by using descriptive analysis. Based on the result of this study it can be found that, in the first cycle the average value obtained from the teacher's attitude to discuss the discussion was 79.38, while in the second cycle the average value obtained was 84.88. The average value obtained from the assessment of learning scenario in the first cycle is 78.75, while in the second cycle the average value obtained 82.50. The average value obtained from the assessment of learning implementation in the first cycle is 78.33, while in the second cycle the average value obtained 82.08. By looking at the average value obtained from the results of the analysis, it can be concluded that, from cycle I to cycle II, an increase in the average value obtained from each component is observed and assessed, which means that the guidance through the teacher working group discussion approach can improve the ability of teachers in using the school environment. Based on the result mentioned above, it is suggested to (PAH) teachers in Bangli Districts to optimize the use of the school environment as a learning resource by increasing the variety of learning methods in the preparation of learning scenarios and in the implementation of learning.
Kawin Massal/Makandal Massal Studi Kasus Di Desa Songan A Dan B Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli gede rai parsua; I Gusti Ngurah Triyana
GUNA WIDYA: JURNAL PENDIDIKAN HINDU Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/gw.v7i1.1212

Abstract

Perkawinan merupakan suka sama suka antara orang Pria dan Perempuan dengan di saksikan oleh tiga saksi yaitu Dewa saksi, Manusia saksi, Bhuta saksi. Perkawinan yang dilakukan di luar itu belum sah. Perkawinan yang paling sering terjadi di Bali adalah Perkawinan meminang (meminta) oleh pihak laki-laki kerumah perempuan. Biaya perkawinan dizaman modern ini lumayan besar menghabiskan uang apalagi istrinya dari jauh desa yang berbeda. Besarnya biaya tersebut dari pertama mesedek (memberitaukan kepihak wanita), meminang (mengambil), upacara perkawinan sampai resepsi. Besarnya biaya yang dihabiskan termasuk di Songan sehingga banyak melakukan tahapan Perkawinan satu tahapan saja. Tidak semua masyarakat yang melakukan upacara kawin massal di Songan. Yang melakukan upacara kawin massal di Songan hanya karena ada masalah saja. Penyebab adanya upacara kawin massal di Songan karena kawin lari, karena ada yang mengambi listri lebih dari satu, yang istrinya kedua, ketiga dan seterusnya di upacarai dengan kawin massal disamping itu juga ada yang karena belum tamat sekolah keburu kawin, karena keburu meninggal, karena ekonominya lemah. Berbagai macam fenomena ini khususnya yang keburu meninggal karena ekonomi lemah dan karena pada zaman dulu sering ada bencana, belum disetujui oleh orang tua yang perempuan sehingga sampai belum lengkap tahapan perkawinannya. Semua masyarakat Songan upacara perkawinannya dilakukan di Pura Desa. Tetapi sebelum ke Pura Desa terlebih dahulu dilakukan tahapan-tahapan. Tahapan yang pertama beakaon di rumah masing-masing. Tahapan selanjutnya seperti misalnya metipatbantalan (mendatangi rumah yang perempuan) bagi yang sudah meninggal biasanya dilakukan setelah diaben dengan mepiuning/nangiang Dewa Hyang untuk diiring diajak untuk kerumah perempuan dengan simbul pejati atau Daksina sebagaimana layaknya orang yang masih hidup dengan proses yang sama. Dari latar belakang tersebut dapat dirumuskan permasalahannya sebagai berikut : Bagaimanakah Bentuk Perkawinan Massal Di Desa Songan, Kintamani, Bangli ?, Mengapa Perkawinan Massal di lakkukan di Songan, Kintamani, Bangli ?, Bagaimanakah Implikasi Perkawinan Massal Di Songan, Kintamani, Bangli ?. teori yang digunakan adalah teori fungsionalis struktural, teori fenomenologi dan teori perubahan sosial. Metode Penelitian ; Jenis dan Pendekatan Penelitian, Jenis dan Sumber Data. Metode Pengumpulan Data ; observasi langsung nonpartisifan, wawancara tidak berstruktur, Pustaka, pencatatan dokumen. Tehnik Analisis Datanya; Pengelompokan Data, Reduksi Data, Transformasi Data, Pengecekan Keabsahan temuan, Penyajian Data, Penyimpulan dan VerifikasiPerkawinan di Desa Songan ada yang melakukan Perkawinan/Makandal sendiri-sendiri atau non massal, dan ada yang melakukan Perkawinan Massal/Makandal Massal. Perkawinan massal maupun Perkawinan non massal di Songan dilakukan di Pura Bale Agung, semua masyarakat Songan melakukan Upacara Perkawinan di Pura Bale Agung baik massal maupun non massal. Idealnya sebuah perkawinan di Songan yaitu kalau sudah ada Tri Upasaksi (tiga saksi) yaitu Bhuta Saksi, Manusa Saksi, Dewa Saksi, maka Perkawinan menurut adat Songan tersebut Sah.Perkawinan Massal atau Makandal Massal dilakukan di Pura Desa/Pura Bale Agung Songan karena sudah turun temurun dan setelah Makandal Massal agar bisa memasuki Pura-pura yang ada di Songan. Selain itu Kawin Massal atau Makandal Massal dilakukan agar lebih efektif dan efisien karena jauh lebih hemat dibandingkan dengan non massalImplikasi Perkawinan Massal atau Makandal Massal di Songan  membawa dampak yang sangat jelas dirasakan, semua masyarakat Songan kalau sudah kawin langsung otomatis ngayah, atau disebut Ngayahang Kurenan, Ngayahang Kurenan artinya begitu kawin langsung melaksanakan kewajiban membayar peturunan di desa adat, segala macam urunan atau biaya upacara di Pura maupun suka-duka langsung mereka kena peturunan baik itu orang tuanya masih hidup maupun orang tuanya sudah meninggal.
FUNGSI TRADISI MEBANTEN TEBASAN PADA HARI PANAMPAHAN GALUNGAN DI DESA BERINGKIT BELAYU KECAMATAN MARGA KABUPATEN TABANAN Ni Wayan Arini; Ni Nyoman Rai Triyantini
GUNA WIDYA: JURNAL PENDIDIKAN HINDU Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/gw.v5i2.643

Abstract

Keberadaan aktifitas yajna khususnya di Bali, selain berperan sebagai suatu rutinitas spiritual keagamaan, juga berperan sebagai identitas keagamaan budaya dan tradisi. Suatu realita nyata yang terlihat di lapangan adalah pesatnya perkembangan tekhnologi era modern yang seolah melaju tanpa henti. Namun uniknya meski demikian pesat perkembangan tekhnologi, eksestensi budaya khususnya yajna di Bali tetap mampu bertahan bahkan bersinergi dengan perkembanganyang terjadi di masyarakat. Hari raya Galungan sebagai hari pawedalan jagat, sehingga wajib memuja Ida Sang Hyang Widi atas terciptanya alam semesta beserta isinya, dan mengucapkan rasa terima kasih dengan ketulusan hati dan penuh kesucian atas kemurahan yang telah diberikan. Pada hari ini juga para dewa turun ke dunia termasuk juga para pitara yang merupakan leluhur kita. Dalam rangkaian hari raya Galungan mulai dirayakan pada hari Minggu Pahing Dungulan yang disebut Panyekeban. Biasanya umat Hindu mulai memproses buah-buahan yang masih mentah terutama pisang yang masih mentah agar matang pada saat hari Galungan tiba. Pada hari Senin Pon Dungulan dinamakan Panyajan pada waktu itu umat Hindu biasanya membuat berbagai macam kue atau jaja sebagai sesajen persembahan kepada para dewa pada hari raya Galungan. Kemudian pada hari Selasa Wage Dungulan dinamakan Panampahan. Barulah kemudian pada Rabu Kliwon Dungulan puncaknya hari suci Galungan, setelah Galungan dikenal hari manis Galungan. Desa Beringkit Belayu merupakan salah satu wilayah yang memiliki tradisi yang cukup unik pada hari raya Galungan tepatnya pada hari Panampahan Galungan yaitu tradisi Mebanten Tebasan. Tradisi Mebanten Tebasan ini merupakan suatu aktivitas keagamaan yang bersifat kearifan lokal. Adapun fungsi tradisi Mebanten Tebasan yaitu Fungsi Meningkatkan Sradha dan Bhakti, Fungsi Sosial, Fungsi Pelestarian Budaya dan Fungsi Media Pendidikan.Kata Kunci: Fungsi, Tradisi Mabanten Tebasan
MENUAI KEBERHASILAN KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN PERSPEKTIF KECERDASAN SPIRITUAL (SQ) I Kadek Arta Jaya
GUNA WIDYA: JURNAL PENDIDIKAN HINDU Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/gw.v6i2.1160

Abstract

The success and failure of educational leadership is determined by the nature and leadership style of the educational institution. To achieve educational leadership success spiritual intelligence is needed. spiritual intelligence and educational leadership are integrated into the framework of achieving of achieving educational success not only in the realm of intelligence, but also success in the spiritual realm. In the specific context spiritual intelligence is intelligence to deal with and solve problems of meaning and value in life, and place behaviour in a broader and richer contect. People who have high spiritual intelligence are indicated by high contemplation abilities, namely having the ability to get inspiration from various things, the ability to convey values and meanings to others, observing various things to attract wisdom or get inspiration, have high creativity and innovation abilities that inspire inspiration. Leaders who have spiritual intelligence will be able to influence their subordinates according to nature and swadharma humanity regadless of race, ethnicity or religion. In the end, it will be able to form a constructive organizational order to achieve accelerative and effective educational goals.
KITAB SUCI VEDA SEBAGAI SUMBER PENDIDIKAN BUDI PEKERTI I Ketut Manik Asta Jaya; Ni Made Ayu Erna Tanu Ria Sari
GUNA WIDYA: JURNAL PENDIDIKAN HINDU Vol 8, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/gw.v8i2.2126

Abstract

Orientasi pendidikan nasional yang cenderung melupakan pengembangan dimensi nilai, telah merugikan peserta didik secara individual maupun kolektif. Tendensi yang muncul adalah, peserta didik akan mengetahui banyak tentang sesuatu, namun ia menjadi kurang memiliki sistem nilai, sikap, minat maupun apresiasi secara positif terhadap apa yang diketahui. Anak akan mengalami perkembangan intelektual tidak seimbang dengan kematangan kepribadian sehingga melahirkan sosok spesialis yang kurang peduli dengan lingkungan sekitarnya dan rentan mengalami distorsi nilai, sebagai dampaknya, peserta didik akan mudah tergelincir dalam praktik pelanggaran moral karena sistem nilai yang seharusnya menjadi standar dan patokan berperilaku sehari-hari belum begitu kokoh. Bercermin pada keterbatasan upaya lembaga pendidikan dalam membekali nilai-nilai moral peserta didik selama ini telah mengilhami munculnya.
MEDIA SOSIAL DALAM PROSES PEMBELAJARAN DI PERGURUAN TINGGI I Gusti Ngurah Triyana
GUNA WIDYA: JURNAL PENDIDIKAN HINDU Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/gw.v5i1.614

Abstract

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengungkapkan pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai 63 juta orang. Dari angka tersebut, 95 persennya menggunakan internet untuk mengakses jejaring sosial.  Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendefinisikan media sosial sebagai "sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0, dan yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated contens.  Fungsi aplikasi ini adalah untuk memudahkan manusia berinteraksi satu dengan lainnya. Aplikasi media sosial ada banyak,  seperti facebook,  twitter, instagram,  dll. Fitur-fitur yang dikembangkan media sosial setiap hari disempurnakan oleh pengembangnya. Fiturfitur yang ada pada media sosial ini menentukan jenis/kelompok media sosial berdasarkan kegunaanya. Berikut ini adalah contoh media sosial dilihat dari fungsi atau kegunaanya : (1). Relationship Networks (2). Media Sharing Networks (3). Online Reviews (4). Forum Diskusi (5). Social Publishing Platforms (6). Bookmarking Sites (7). Interest-based networks (8). E-commerce.  Media sosial sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari internet telah menjadi tren baru di masyarakat. Penggunaannya yang begitu masif juga dapat dimanfaatkan dalam mendukung proses pembelajaran di perguruan tinggi. Media sosial memiliki  beberapa kelebihan diantaranya mudah untuk digunakan, membangun hubungan atau relasi, jangkauanya global, dan terukur. Selain e-learning, perguruan tinggi dapat memanfaatkan media untuk sharing materi, diskusi, maupun tanya jawab. Beberapa contoh pemanfaatan media sosial untuk menunjang proses pembelajaran : (1). Tugas Kelompok Menggunakan Grup Facebook; (2). Konferensi Video Kelas Menggunakan Google Hangouts; (3). The Flipped Classroom Menggunakan Youtube; (4). Jaringan Industri Menggunakan LinkelIn; (5) Q & A Menggunakan Twitter / Reddit; (6) Penelitian dan Debat Menggunakan Quora; (7) Pengembangan Kesenian dan Kerajinan Tangan –Pinterest. Kata Kunci : Media Sosial, Pembelajaran.
UPAYA GURU DALAM MENINGKATKAN KREATIVITAS PESERTA DIDIK DI ERA GLOBALISASI Ni Nengah Selasih
GUNA WIDYA: JURNAL PENDIDIKAN HINDU Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/gw.v4i2.1054

Abstract

Changes in time will bring changes in education which are dynamic and drastic so that the adaptation of educators with knowledge, skills, and values is highly needed to be invested to the students. Being a teacher is a challenging profession. A good teacher is a teacher who enjoys his work, believes in taught material, hard worker, spends a lot of time preparing lesson plans, uses parenting patterns, cares about his students' needs, and seeks to enable all students in learning. Being a creative and innovative teacher is not something that comes in just a second, it takes a long process. Therefore, to be an inspirational teacher, it can be done by keeping a commitment to keep giving creative, inspirational, and innovative spirit to the students. With the spirit given, teachers can create superior human creativity and competitive ability. Teachers are role models, role models for their students so that teachers should prioritize their desires to students, they must be creative, inspirational, innovative, and productive.Keywords: Teachers’ Effort, Creativity of Learners, Globalization Era
PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING BER BANTUAN KARTU “SULANG MAYA” UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA HINDU SISWA KELAS VII A SMP NEGERI 1 BANGLI TAHUN AJARAN 2018/2019 I Nengah Asrama Juta Ningrat; Ayu Veronika Somawati
GUNA WIDYA: JURNAL PENDIDIKAN HINDU Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/gw.v8i1.2010

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas serta hasil belajar siswa  melalui penggunaan Model Pembelajaran Problem Based Learning berbantuan kartu Sulang-Maya pada siswa kelas VII A SMP Negeri 1 Bangli tahun pembelajaran 2018/2019 pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan tes dan observasi, serta data hasil penelitian ini dianalisis menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui penggunaan Model Pembelajaran Problem Based Learning berbantuan kartu Sulang-Maya pada siswa kelas VII A SMP Negeri 1 Bangli tahun pembelajaran 2018/2019 dapat meningkatkan aktivitas serta hasil belajar pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu.