cover
Contact Name
I Wayan Suyanta
Contact Email
suyanta.kaler@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
pratamawidyajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
PRATAMA WIDYA : JURNAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
ISSN : 25284037     EISSN : 26158396     DOI : -
Pratama Widya : Jurnal Pendidikan Anak Usia yang diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Hindu Fakultas Dharma Acarya Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar ini didedikasikan sebagai media untuk mempublikasikan pemikiran maupun penelitian yang berkaitan dengan topik pendidikan anak usia dini. Fokus Pratama Widya : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini : Paradigma, Filosofi, Teori, Strategi, Pendekatan, Metode, Model serta Kebijakan-kebijakan Pendidikan Anak Uisia Dini.
Arjuna Subject : -
Articles 181 Documents
MENGENAL DAN MEMAHAMI KONSEP PEMBELAJARAN SAINS DAN MATEMATIKA UNTUK ANAK USIA DINI Lestiawati, I Made
PRATAMA WIDYA : JURNAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1614.413 KB) | DOI: 10.25078/pw.v4i2.1170

Abstract

Abstrak Sains merupakan suatu kreasi dari pemikiran manusia  dengan ide yang bebas serta adanya konsep (Einstein, 1938). Sains adalah kerangka pengetahuan yang sedari dulu sampai sekarang merupakan suatu sistem yang alami dan proses dari kerangka pengetahuan yang  telah di atur, secara simultan diperpanjang, ditingkatkan serta diperbaiki kesalahannya. Sains tidak hanya sekumpulan dari peraturan atau sebuah katalog dari fakta yang tidak berkaitan. Sains dan matematika merupakan dua aspek pengembangan pendidikan pada anak usia dini. Kedua bidang tersebut harus dipandang dalam tiga perspektif yakni perspektif perkembangan, perspektif aktivitas dan perspektif subject matter atau isi materi pembelajaran. Sains sebagai Konsep dan Konten : Scientific inquiry, History and nature of science, Science in personal dan social perspective, Science and technology, Physical science, Life science, Earth and space science. Adanya konsep dalam bermain matematika pada anak usia dini yaitu: Acuan Konsep dari Teori Piaget yaitu pemahaman bilangan pada anak mencakup: Klasifikasi sesuatu (benda, bentuk, warna, ukuran, tekstur, fungsi), Mengurutkan bilangan, Konservasi :(1) Konservasi Jumlah dan (2) Konservasi Bilangan, Korespondensi dasar dari menghitung. Tingkatan Belajar Matematika  (Underhill): Konkrit : manipulasi objek, Semi konkrit: ilustrasi benda-benda dalam matematika, Abstrak : penggunaan bilangan.  Kata kunci: Sains dan Matematika, Konsep Sains, Konsep Bermain Matematika.  Abstract                Science is a creation of human thought with free ideas and concepts (Einstein, 1938). Science is a knowledge framework that has, until now, been a natural system and process of a set of knowledge frameworks, simultaneously extended, improved and corrected for errors. Science is not just a set of rules or a catalog of unrelated facts. Science and mathematics are two aspects of developing education in early childhood. Both fields must be viewed in three perspectives, namely developmental perspectives, activity perspectives and perspective subject matter or content of learning material. Science as a Concept and Content: Scientific inquiry, History and nature of science, Science in personal and social perspective, Science and technology, Physical science, Life science, Earth and space science. The concept of playing mathematics in early childhood is: Reference The concept of Piaget's theory of understanding numbers in children includes: Classification of things (objects, shapes, colors, sizes, textures, functions), Sort numbers, Conservation: (1) Conservation of Amounts and (2) Conservation of Numbers, Basic correspondence from counting. Levels of Learning Mathematics (Underhill): Concrete: object manipulation, Semi concrete: illustration of objects in mathematics, Abstract: use of numbers. Keywords: Science and Mathematics, Science Concepts, Concepts of Playing Mathematics.
ECO FAMILY : METODE PARENTING ANAK USIA DINI UNTUK MEMBENTUK GENERASI LITERASI LINGKUNGAN Wisnu Budi Wijaya, I Komang
PRATAMA WIDYA : JURNAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.76 KB) | DOI: 10.25078/pw.v4i1.1067

Abstract

Menurut ajaran agama Hindu, agar manusia bisa mencapai kebahagaiaan maka salah satu cara yang ditempuh adalah menjaga keharmonisan terhadap lingkungan. Manusia dan lingkungan adalah dua subjek yang saling membutuhkan. Kehidupan manusia bisa berlangsung tergantung pada keadaan tumbuhan dan kelestarian tumbuhan berada di tangan manusia. Namun, faktanya kerusakan lingkungan sudah semakin parah dan ironisnya manusia adalah sebagai aktor utama dari kerusakan lingkungan tersebut. Oleh karena itu perlu pembentukan generasi berliterasi lingkungan untuk menjaga keajagean lingkungan. Pembentukan jiwa literasi lingkungan sebaiknya dimulai sejak anak berusia dini. Peran keluarga untuk membentuk anak berliterasi lingkungan sangatlah besar. Agar proses pembentukan jiwa literasi lingkungan berjalan optimal, maka diperlukan sebuah desain keluarga berwawasan lingkungan yaitu Eco-family. Eco-family adalah sebuah konsep keluarga yang memiliki sikap peduli lingkungan yang diwujudkan dalam tindakan sehari-hari. Penanaman nilai literasi lingkungan terhadap anak usia dini melalui konsep Eco-family diutamakan pada dimensi sikap. Kata kunci : literasi, lingkungan, anak, eco-family Abstract According to Hinduism, humans achieve happiness through several methods, one of them is to maintain the harmonywith environment. Humans and the environment are two subjects who demand each other. Human life depends on the state of plants and the preservation of plants by humans. However, the fact is, decaying of environment is getting worse and, ironically, humans are the main actors of the damage. Therefore, it is necessary to establish a generation with environment literacy to maintain environment stability. The formation of environment literacy spirit should start from early childhood. The role of the family to form children with environment literacy is enormous. In order to build spirit of environment literacy optimally, it is necessary to have a conception of environmental design on family: Eco-family. Eco-family is a family concept that has an environment caring attitude which is manifested in daily actions. Planting the value of environment literacy on early childhood through the concept of Eco-family takes precedence on the dimensions of attitude.Keywords: literacy, environment, children, eco-family
PEDEKATAN KONTEKTUALDALAM PEMBELAJARAN UNTUK MEWUJUDKAN PROSES BELAJAR AKTIP, KREATIF DAN MENYENANGKAN Tanu, I Ketut
PRATAMA WIDYA : JURNAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/pw.v4i1.1071

Abstract

Pembelajaran kontekstual bertujuan membantu peserta didik melihat makna dalam bahan pelajaran yang dipelajari dengan cara menghubungkannya pada konteks kehidupan sehari-hari, yaitu dengan konteks lingkungan pribadi, agama, sosial dan budaya. untuk mencapai tujuan tersebut, maka pembelajaran kontektual akan menuntun peserta didik melakukan kegiatan yang bermakna, mengatur cara belajar sendiri, bekerja sama, berpikir kritis dan kreatif.Untuk menerapkan pembelajaran kontekstual dalam belajar terlebih dahulu harus memahami dasar teori pembelajaran kontekstual, karakteristik pembelajaran kontekstual, dan komponen- komponen apa saja yang terkandung dalam pembelajaran kontekstual. Dengan hal tersebut baru akan dipahami bagaimana cara menerapkan pembelajaran kontekstual dalam belajar agar proses pembelajaran menjadi baik sesuai apa yang ingin dicapai oleh seorang pengajar.Kata kunci : Pendekatan kontekstual, Belajar .  Contextual learning aims to help students see meaning in the learning material learned by connecting it to the context of everyday life, namely in the context of personal, religious, socialand cultural environments. to achieve this goal, contextual learning will guide students to carry out meaningful activities, organize their own learning, work together, think critically and creatively.To apply contextual learning in learning must first understand the basic contextual learning theory, the characteristics of contextual learning, and what components are contained in contextual learning. With this, it will be understood how to apply contextual learning in learning so that the learning process becomes good according to what the teacher wants to achieve. Keywords: contextual approach, learning.
PENGARUH SOSIALISASI DAN PENDAMPINGAN PROGRAM AKREDITASI TERHADAP MOTIVASI AKREDITASI PENGELOLA PAUD DI PROVINSI PAPUA BARAT Yudiawan, Agus
PRATAMA WIDYA : JURNAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.508 KB) | DOI: 10.25078/pw.v4i2.1171

Abstract

Abstrak Kualitas mutu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dapat diukur melalui mekanisme akreditasi. Pelaksanaan akreditasi dapat terwujud apabila ada kepedulian dari pengelola untuk mengajuakan akreditasi lembaganya. Banyaknya Lembaga PAUD yang belum terakreditasi menjadi masalah tersendiri dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di Papua Barat. Penelitian bertujuan untuk mengetahui dan membuktikan pengaruh sosialisasi dan pendampingan akreditasi terhadap motivasi akreditasi pengelola PAUD di Provinsi Papua Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan populasi 931 lembaga dan diambil sampel sebanyak 150 sampel lembaga. Teknik pengambilan sampel menggunakan sampel dengan Teknik simple random sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan menggunakan data skunder dari BAN Provinsi Papua Barat berupa arsip nilai akreditasi lembaga. Analisis data menggunakan regresi berganda dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya pengaruh positif dan signifikan antara sosialisasi dan pendampingan terhadap motivasi akreditasi pengelola PAUD. Kesimpulan yang diperoleh adalah semakin besar rutin dilakukan sosialisasi dan pendampingan maka akan semakin banyak Lembaga yang mengusulkan akreditasi dan sebaliknya. Kata kunci: Sosialisasi, Pendampingan, Motivasi Akreditasi Abstract The quality of Early Childhood Education (PAUD) can be measured through an accreditation mechanism. The implementation of accreditation can be realized if there is concern from the manager to apply for the accreditation of the institution. The number of PAUD institutions that have not been accredited has become a problem in efforts to improve the quality of education in West Papua. The research aims to find out and prove the effect of socialization and accreditation assistance on the motivation of PAUD management accreditation in West Papua Province. This study uses a quantitative approach with a population of 931 institutions and a sample of 150 institutional samples. The sampling technique uses simple random sampling technique. Data were collected using secondary data from BAN West Papua Province in the form of an archive of accreditation scores for institutions. Data analysis used multiple regression with a confidence level of 95%. The results showed that there was a positive and significant effect between socialization and mentoring on the motivation of PAUD management accreditation. The conclusion obtained is that the greater the routine socialization and assistance, the more institutions will propose accreditation and vice versa.
SUMBER DAN INSPIRASI BELAJAR DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KARAKTER ANAK USIA DINI Utami Dewi, Ida Ayu Putu; Suyanta, I Wayan
PRATAMA WIDYA : JURNAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2871.986 KB) | DOI: 10.25078/pw.v3i1.590

Abstract

AbstractHave we become inspirational teachers? Why should be an inspirational teacher? Have our students answered ?Master is inspiration? when someone asks ?children, what do you think about your teacher?? Good teachers who inspire teachers for learners, for example, advice, build learners to learn fun not stress and children are not afraid. Professional teachers should be able to educate children to be brave. Learning resources, all sources either in the form of data, people and certain forms that can be driven learners. Inspiration is interpreted with creative ideas that arise from within the self after an external stimulus. Therefore, teachers should be able to become ?stimulants? for their students, inspiring for inspiration so that children can always be encouraged to bring up ideas, ideas, thoughts, actions, values, and positive creativity. Learning is the most priority activity in school activities. In the learning activities, the teacher is like a captain who controls the pace of the learning process in the classroom. In this learning process, teachers are required to be able to plan, design and implement approach / learning model using the method until the proper learnin media. The principles of APE are principles of productivity, creativity, activity, effective and efficient, and interesting and fun. From a material perspective, APE must be able to develop thinking power (cognition), rapid power, language, motor and skill aspects. Through tools used as a means of play, so that the child is expected to develop the function of intelligence, emotion and spiritual so that emerging intelligence that skyrocketed.Keywords: My Teacher Inspiration, My Student SourceAbstrakSudahkah kita menjadi guru inspiratif? Mengapa harus menjadi guru inspiratif? Sudahkah siswa kita akan menjawab ?Guru adalah inspirasi? ketika ada orang yang bertanya tentang ?Nak, bagaimana pendapatmu tentang gurumu??Guru yang baik guru yang menginspirasi untuk peserta didik, sebagai teladan, contoh, nasehat membangun peserta didik agar belajar menyenangkan tidak tertekan dan anak tidak takut. Guru profesional harus dapat mendidik anak menjadi berani. Sumber belajar, semua sumber baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat digerak peserta didik. Inspirasi dimaknai dengan gagasan-gagasan kreatif yang muncul dari dalam diri setelah ada rangsangan dari luar. Maka dari itu, guru harus bisa menjadi ?perangsang? bagi siswanya, memberi inspirasi demi inspirasi agar anak senantiasa dapat terdorong untuk memunculkan ide, gagasan, pemikiran, tindakan, nilai, hingga kretifitas yang positif. Belajar merupakan kegiatan paling prioritas dalam aktifitas di sekolah. Dalam kegiatan pembelajaran, guru bagaikan nahkoda yang mengontrol laju proses pembelajaran di kelas. Dalam proses pembelajaran ini, guru dituntut untuk bisa merencanakan, merancang hingga melaksanakan pendekatan/model pembelajaran menggunakan metode hingga media pembelajaran yang tepat.
PARENTING EDUCATION GUNA MENINGKATKAN PARENTING SELF-EFFICACY PADA ORANG TUA DARI ANAK DENGAN GANGGUAN AUTISME Ekaningtyas, Ni Luh Drajati
PRATAMA WIDYA : JURNAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.816 KB) | DOI: 10.25078/pw.v4i1.1066

Abstract

Orang tua dari anak dengan gangguan autisme menghadapi banyak tantangan dan beban psikologis yang dapat menyebabkan stres dan depresi sehingga mempengaruhi kualitas pengasuhan yang diberikan. Parenting self-efficacy yang tinggi dapat membantu mengatasi stressor yang muncul terkait pengasuhan. Parenting education dalam bentuk psikoedukasi dapat digunakan untuk membentuk dan meningkatkan parenting self-efficacy karena dapat membentuk atau mengubah persepsidan meningkatkan aspek kognitif atau pemahaman orang tua mengenai strategi penanganan anak dengan gangguan autisme. Kata Kunci: Parenting education, parenting self-efficacy, pengasuhan anak autis Abstract Parents of children with autism disorder faces many challenges and psychological burdens which can cause stress and depression that can affect parenting quality given to the children. Hence, the ideal amount of parenting self-efficacy is needed in order to overcome stressors related to parenting. Parenting education in a form of psychoeducation can be used to create and improve parenting self-efficacy by establishing/intensifying perceptions and increasing the parent?s cognitive or understanding regarding parenting strategy of children with autism disorder. Keywords: Parenting education, parenting self-efficacy, children with autism
MENINGKATKAN KETERAMPILAN SOSIAL MELALUI PENERAPAN TEKNIK MODELING ANAK KELOMPOK A DI TK TUNAS KARTINI 1 CULIK Redana, I Wayan
PRATAMA WIDYA : JURNAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.274 KB) | DOI: 10.25078/pw.v4i2.1165

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan keterampilan sosial dengan penerapan teknik modeling pada anak kelompok A Semester I  di TK Tunas Kartini 1 Culik Tahun Pelajaran 2017/2018. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari tahap perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi/evaluasi dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah 14 anak kelompok A TK Tunas Kartini 1 Culik Tahun Pelajaran 2017/2018. Data tentang keterampilan sosial anak dikumpulkan dengan menggunakan metode observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan teknik modeling dapat meningkatkan keterampilan sosial anak kelompok A di TK Tunas Kartini 1 Culik Tahun pelajaran 2017/2018. Hal ini dapat dilihat dari gains skor keterampilan sosial anak sebesar 0,82 yang berada pada kriteria tinggi. Tingginya skor yang diperoleh membuktikan bahwa penerapan teknik modeling dapat meningkatkan keterampilan sosial anak. Kata-kata kunci: anak usia dini, keterampilan sosial, teknik modeling Abstract This study aims to determine the increase in social skills with the application of modeling techniques in group A one Semester children in kindergarten Tunas Kartini 1 Culik in the academic year 2017/2018. This research is a classroom action research conducted in two cycles. Each cycle consists of a phase of action planning, action, observation/evaluation and reflection. The subjects were 14 children in group A  Tunas Kartini 1 Culik in the academic year 2017/2018. Data on the social skills of children collected using observational methods. The results showed that the application of modeling techniques can enhance social skills in kindergarten children in group A Tunas Kartini 1 Culik in the academic year 2017/2018. It can be seen from a child's social skills gains score of 0.82 which are in the high criteria. The high scores obtained prove that the application of modeling techniques can improve the social skills of children.  
PERAN KOMUNIKASI KELUARGA TERHADAP KONSEP DIRI Magta, Mutiara
PRATAMA WIDYA : JURNAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/pw.v4i1.1070

Abstract

Konsep diri adalah gambaran seseorang berdasarkan pengetahuan, pengharapan dan penilaiannya tentang dirinya sendiri melalui berbagai pengalaman yang dialaminya. Perkembangan konsep diri yang dipelajari manusia sejak kanak-kanak akan mengantarkannya kepada aktualisasi diri sebagai wujud eksistensi dirinya di kehidupan bermasyarakat. Pengalaman pertama kehidupan anak terjadi di dalam keluarga. Interaksi antar anggota keluarga mempengaruhi cara pandang seseorang terhadap dirinya dan lingkungan sekitarnya. Bentuk komunikasiyang beragam memberikan kekayaan pengalaman dalam membentuk konsep diri positif atau negative. Kata kunci : konsep diri, komunikasi, keluarga, anak usia dini Abstract. Self-concept is a picture of a person based on his/her knowledge, expectation and judgment about him/herself through the various experiences. The development of self-concept that a person learn from childhood will lead them to self-actualization as a manifestation of their existence in social life. The first experience of a child?s life takes place in the family. Interactions between family members affect the way a person views him and his surroundings. Various forms of communication provide a wealth of experience in shaping positive or negative self-concept Keywords : self concept, communication, family, early childhood
PEMANFAATAN LITERASI VISUAL GUNA MEMBENTUK KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS ANAK USIA DINI Sastrika Ayu, Putu Eka
PRATAMA WIDYA : JURNAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/pw.v4i2.1172

Abstract

Abstrak Kemampuan berpikir kritis dapat membantu manusia membuat keputusan yang tepat berdasarkan usaha yang cermat, sistematis dan logis. Kemampuan berpikir kritis dapat diasah dari anak- anak.  Melatih anak berpikir kritis sejak dini memang dimungkinkan, tentu saja dengan mempertimbangkan tahap perkembangannya. Hal itu dapat dilakukan dengan memanfaatkan literasi visual yang merupakan salah satu inti dari kompetensi literasi informasi. Berbagi macam literatur menunjukkan penggunaan visual dalam proses pembelajaran menghasilkan tingkat belajar yang lebih optimal. Literasi visual memiliki peran penting dalam membangun proses kognitif seseorang. Literasi visual membuat pembelajar lebih mudah memahami konsep dan meningkatkan ingatan serta pemanggilan informasi. Kata kunci: Literasi Visual, Berpikir Kritis, Anak Usia Dini Abstract The ability of critical thinking can help people make informed decisions based on a careful, systematic and logical effort. The ability of critical thinking can be honed from children.  Training children think critically early on is possible, of course, taking into consideration the development stage. It can be done by utilizing visual literacy which is one of the core of information literacy competencies. Sharing a variety of literature demonstrates the visual use in the learning process resulting in a more optimal learning level. Visuals play an important role in building one's cognitive processes. Visuals make learners easier to understand concepts and improve memory and calling information.
PENERAPAN BELAJAR YOGA SEBAGAI PENINGKATAN KECERDASAN EMOSI GURU DAN MURID Werdi Purniasih, Ida Ayu Komang; Suyanta, I Wayan
PRATAMA WIDYA : JURNAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.152 KB) | DOI: 10.25078/pw.v4i1.1065

Abstract

Penelitian ini memfokuskan kajian pada penerapan pembelajaran yoga yang dilaksanakan oleh para guru dan siswa. Keseharian dilakukan dengan meditasi dan yoga asana sebelum memulai pembelajaran. Kajian pustaka terkait dengan kecerdasan emosional anak usia dini dan yoga sutra patanjali. Metode pada penelitian ini menggunakan analisis observasi, pre test dan post test. Melibatkan peserta didik dan guru dari TK Madhu Vidya yang berjumlah 57 anak dan 3 orang guru. Penelitian ini menunjukkan adanya (1) mengenal bentuk bentuk emosi diri sendiri, (2) meningkatkan kemampuan guru dan peserta didik dalam mengelola emosi dalam diri, (3) membina hubungan dan berkomunikasi dengan orang lain.Kata Kunci: Anak Usia Dini, Kecerdasan Emosional, YogaThis research focuses on the study of the application of yoga learning carried out by teachers and students. Their life is done by meditation and yoga asana before starting learning. The literature review is related to emotional intelligence of early childhood and Yoga Sutra Patanjali. The method in this study used observation analysis, pre test and post test. Involving students and teachers from Madhu Vidya Kindergarten, totaling 57 children and 3 teachers. This study shows that there is (1) recognizing the formof self-emotion, (2) increasing the ability of teachers and students in managing emotions in themselves, (3) building relationships and communicating with others.Keywords: Early Childhood, Emotional Intelligence, Yoga

Page 5 of 19 | Total Record : 181