cover
Contact Name
Prima Hariyanto
Contact Email
patriyawhura@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
patriyawhura@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bangka tengah,
Kepulauan bangka belitung
INDONESIA
Sirok Bastra
ISSN : 23547200     EISSN : 26212013     DOI : -
SIROK BASTRA is a journal which publishes language literature and language literature education research, either Indonesian, local, or foreign research. All articles in SIROK BASTRA have passed the reviewing process by peer reviewers and edited by editors. SIROK BASTRA is published by Kantor Bahasa Kepulauan Bangka Belitung twice times a year, in June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 220 Documents
KAJIAN MAKNA PADA AKSESORI PAKAIAN ADAT LAMPUNG PEPADUN (The Study of Semantics on Lampoong Pepadun Clothes Accessories) Roveneldo Roveneldo
Sirok Bastra Vol 6, No 2 (2018): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.343 KB) | DOI: 10.37671/sb.v6i2.137

Abstract

Penelitian ini membahas tiga hal, (1) apa saja nama dan makna aksesori pakaian adat Lampung Pepadun dikaji dari sisi semantik leksikal, (2) apakah makna sosial dan makna kultural dari aksesoris pakaian adat Lampung Pepadun dari sisi semiotic, dan (3) bagaimana sikap masyarakat Lampung terhadap eksisitensi pakaian adat Lampung Pepadun secara umum. Tujuan penelitian (1) mengetahui perkembangan pakaian adat Lampung pepadun, (2) memahami sikap masyarakat Lampung terhadap pakaian adat Lampung pepadun, dan (3) menelaah filosofi dan makna dalam pakaian adat Lampung pepadun. Metode yang digunakan dalam penelitian ini metode kualitatif deskiptif, linguistik antropologi. Selanjutnya teori untuk mengupas penelitian ini memakai teori semantik leksikal dan teori simeotik. Hasil penelitian yang ditemukan, perkembangan pakaian adat Lampung pepadun sangat baik. Sikap masyarakat, bangga terhadap pakaian adat Lampung pepadun. Begitu juga masyarakat pengrajin aksesoris pakaian adat dan desainer terus berinovasi. Terdapat dua puluh kosa kata aksesori pakaian adat Lampung Pepadun, yaitu (1) sigor/siger, (2) kembang cempaka, (3) beringin tumbuh, (4) serajo bulan, (5) bulang taji, (6) bebe, (7) papan jajar, (8) gelang burung, (9) gelang kano, (10) gelang ruwi, (11) gelang bibit, (12) buah manggus, (13) kalung bulan temenggal, (14) sabik inuh, (15) sabik buluh perindu, (16) selempang pinang buah jukum, (17) bidak bekilas, (18) ikat pinggang bulu serati, (19) tapis jung satrat, dan (20) tanggai. This research discusses three things (1) what are the names and meanings of Lampung Pepadun traditional clothing accessories studied from the side of lexical semantics (2) What is the social meaning and cultural meaning of the accessories of the Lampung Pepadun traditional clothing in terms of semiotics (3) how the attitude of Lampung people for the existence of the Lampung Pepadun traditional clothing in general. The purpose of the study is (1) to know the development of Lampung pepadun traditional clothing. (2) to understand the attitude of the Lampung community towards Lampung pepadun traditional clothing (3) to examine the philosophy and meaning in Lampung traditional pepadun clothing. The method used in this study is descriptive qualitative methods with anthropology linguistic. Furthermore, the theory used to explore this research are lexical semantic theory and simeotic theory. The results of the research show that the development of Lampung traditional pepadun clothing is very good. The people of Lampung are proud of Lampung traditional clothing pepadun. Likewise, the crafters of traditional clothes accessories and designers continue to innovate. There are twenty vocabularies of Lampung Pepadun traditional clothing accessories, they are (1) sigor/siger, (2) kembang cempaka, (3) beringin tumbuh, (4) serajo bulan, (5) bulang taji, (6) bebe, (7) papan jajar, (8) gelang burung, (9) gelang kano, (10) gelang ruwi, (11) gelang bibit, (12) buah manggus, (13) kalung bulan temenggal, (14) sabik inuh, (15) sabik buluh perindu, (16) selempang pinang buah jukum, (17) bidak bekilas, (18) ikat pinggang bulu serati, (19) tapis jung satrat, dan (20) tanggai.
MENCIPTA-KREATIF NASKAH DRAMA DENGAN STRATEGI MENULIS TERBIMBING Sony Sukmawan
Sirok Bastra Vol 1, No 2 (2013): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (572.473 KB) | DOI: 10.37671/sb.v1i2.23

Abstract

Dalam penelitian ini, upaya peningkatan pembelajaran apresiasi sastra difokuskan pada apresiasi drama yang dikhususkan pada kegiatan menulis kreatif naskah drama. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk pembelajaran menulis naskah drama dengan strategi menulis terbimbing (SMT) yang efektif untuk memahamkan siswa tentang struktur naskah dan membentuk kemampuan siswa menulis naskah drama. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (action research) dengan rancangan penelitian kualitatif yang dilaksanakan melalui tiga tahap, yaitu tahap (i) perencanaan pembelajaran, (ii) pelaksanaan pembelajaran, (iii) evaluasi hasil pembelajaran. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bimbingan dalam bentuk pemberian model naskah drama dan kartu struktur naskah yang tepat serta pemberian variasi strategi belajar dan  praktik berbagi hasil, telah mampu mengarahkan siswa menulis naskah drama dengan beragam tema; dengan keringkasan, ketepatan, dan kelengkapan pemaparan perwatakan pelaku; dengan latar yang ringkas, nyata, khusus, dan lengkap; serta  dengan penggarapan konflik yang hidup.
ANALISIS INTERTEKSTUAL PUISI “TANGISAN BATU” DAN “AIR MATA LEGENDA” KARYA ABDURRAHMAN EL HUSAINY Agus Yulianto
Sirok Bastra Vol 3, No 1 (2015): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.723 KB) | DOI: 10.37671/sb.v3i1.56

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara teks dua buah puisi, yaitu puisi “Tangisan Batu” dan puisi “Air Mata Legenda” karya Abdurrahman el Husainy dengan teks legenda rakyat Kalimantan Selatan yang berjudul “Diang Ingsun dan Raden Pengantin”. Kajian ini menggunakan pendekatan objektif dengan teori strukturalisme dan interteks. Berdasarkan kajian, dapat diketahui bahwa terdapat hubungan antara teks dua buah puisi, yaitu puisi “Tangisan Batu” dan puisi “Air Mata Legenda” karya Abdurrahman el Husainy dengan teks cerita legenda rakyat Kalimantan Selatan yang berjudul “Diang Ingsun dan Raden Pengantin”.
KLASIFIKASI WARNA MASYARAKAT BETAWI DI MARUNDA, JAKARTA UTARA Satwiko Budiono
Sirok Bastra Vol 4, No 2 (2016): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (571.896 KB) | DOI: 10.37671/sb.v4i2.79

Abstract

Kosakata warna sekiranya dapat memperlihatkan lingkungan penuturnya. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Sapir bahwa kosakata apa pun dalam suatu bahasa mencerminkan lingkungan penuturnya, misalnya, masyarakat pesisir cenderung menyebut biru laut dibandingkan biru langit yang cenderung dipakai masyarakat pegunungan. Hal tersebut sekiranya membuat penamaan warna menjadi menarik untuk diteliti sebab berbeda masyarakat berbeda pula penyebutan warnanya walaupun berada dalam satu wilayah yang sama. Menariknya lagi, penelitian seperti ini masih jarang dilakukan sehingga kesempatan melakukan penelitian tentang warna masih sangat terbuka di Indonesia. Oleh karena itu, pada penelitian ini akan dibahas penamaan warna masyarakat Betawi di Marunda, Jakarta Utara. Masyarakat Betawi di Marunda dipilih sebagai objek penelitian karena masyarakat Betawi di Marunda sekiranya masih belum banyak mendapatkan pengaruh dari luar. Hal ini dilihat dari lokasinya yang jauh dari pusat kota dibandingkan masyarakat Betawi lainnya. Dengan begitu, dapat diketahui masyarakat Betawi di Marunda memiliki penggolongan penyebutan warna berdasarkan sebelas kategori, yaitu buah, alat berat, minuman, makanan, anggota atau bagian tubuh, bagian mobil, warna, wajah, alam, tingkat kecerahan, dan tumbuhan. Selain itu, warna yang jarang ditemui hanya disebutkan berdasarkan tingkat kecerahan muda dan tua tanpa adanya asosiasi ke hal lainnya.
FILOSOFI JAWA DALAM SENI KETHEK OGLENG DESA TOKAWI, KECAMATAN NAWANGAN, KABUPATEN PACITAN Agoes Hendriyanto; Arif Mustofa; Bakti Sutopo
Sirok Bastra Vol 6, No 1 (2018): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.584 KB) | DOI: 10.37671/sb.v6i1.110

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan nilai filosofis yang terkandung dalam seni Kethek Ogleng Desa Tokawi, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan. Seni Kethek Ogleng merupakan satu-satunya seni yang dimiliki oleh masyarakat Desa Tokawi. Keberadaan seni tersebut sekarang dikenal di beberapa kalangan dan telah dikelola secara baik oleh Sukisno dengan mendirikan Paguyuban Condro Wanoro sebagai wadah untuk melestarikan sekaligus memasyarakatkan seni yang dikreasi oleh Sutiman. Seni Kethek Ogleng berbasis nilai yang ada di sekitar masyarakat sehingga filosofi yang dimaksud adalah filosofi masyarakat Jawa. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif. Data diperoleh dengan observasi, wawancara, dan studi pustaka. Adapun analisis data menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gerakan seni Kethek Ogleng mengandung filsafat yang berhubungan dengan kehidupan masyarakat Jawa. Hal filosofis tersebut menyangkut manusia sebagai individu maupun mahluk sosial. Secara individu, segi filosofis mengajarkan hakikat manusia, tata cara manusia berkegiatan dalam kehidupan, dan mengajarkan hidup hemat sebagaimana prinsip orang Jawa. Adapun dimensi sosial menekankan pentingnya relasi antarmanusia dilaksanakan secara baik dan damai serta menghindarkan diri dari ketegangan dan konflik agar terjalin hubungan yang hormonis sebagaimana manusia dititahkan sebagai makhluk yang berpikir dan berbudaya serta sebagai salah satu entitas dalam kesemestaan.
CERITA GEMPA: ANALISIS TERHADAP STRUKTUR DAN TEMA TEKS Irna Gayatri D. Ardiansyah
Sirok Bastra Vol 1, No 1 (2013): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (749.877 KB) | DOI: 10.37671/sb.v1i1.8

Abstract

The writing of knowledge was occur since previous period and it has become the tradition that given to the nextgeneration. In Java, this tradition could be found in primbon form. The notes containt information, so it isimportant to comprehend primbon manuscript text. In Ambon, this tradition can be seen in Cerita Gempamanuscript that containt notes as in primbon. This paper is an attempt to explain primbon and primbonmanuscript in a general manner. Primbon manuscript which used in thi paper is Cerita Gempa. Then, this paperwill discussed analysis of structure and theme in Cerita Gempa manuscript. This paper give description aboutthe content of Cerita Gempa manuscript by explain text’ structure and theme of this manuscript. The structureand theme are analyzed using theory of structural analysis that discussed structure and text theme. Thisqualitative research used descriptive analytic method. The aims of this research is to describe and explainstructure and text theme in Cerita Gempa manuscript. Through the analysis, known that CG manuscript text hastwo texts and three principal ideas with one theme, that is primbon.
MENGGUGAT ARJUNA SEBAGAI LELANANGING JAGAD1: SEBUAH STRATEGI PEMBACAAN DEKONSTRUKSI KARAKTER ARJUNA DALAM LAKON-LAKON WAYANG PURWA Bagus Kurniawan
Sirok Bastra Vol 2, No 2 (2014): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (538.215 KB) | DOI: 10.37671/sb.v2i2.46

Abstract

Sejak masa Hindu-Budha, tradisi pertunjukan wayang telah dikenal dan berkembang di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Bagi masyarakat Jawa, pertunjukan wayang mempunyai nilai sosial yang penting. Pertunjukan wayang tidak hanya dipandang sebagai sebuah tradisi yang harus dijaga dan dilestarikan, tetapi juga menjadi suatu bentuk tradisi yang mempunyai nilai sosial yang sakral. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila kemudian tradisi wayang digunakan sebagai sarana komunikasi maupun dakwah. Artinya, wayang bukan sekadar sarana hiburan, melainkan juga sebagai media komunikasi, media penyuluhan dan media pendidikan. Pemaknaan terhadap wayang masa kini mulai beragam, tidak hanya melalui dikotomi hitam-putih, tetapi juga melalui berbagai tafsir yang kemudian mendekonstruksi makna yang sudah mapan. Dalam tulisan ini, diuraikan pembacaan lakon-lakon wayang melalui metode dekonstruksi. Dengan menggunakan beberapa lakon wayang berbahasa Indonesia yang diterbitkan di majalah Cempala, dalam tulisan ini diuraikan strategi pembacaan secara dekonstruksi terhadap karakter Arjuna.
EUFEMISME DAN DISFEMISME PADA FEATURE-FEATURE KARYA RUSLAN ISMAIL MAGE Muhammad Fadely
Sirok Bastra Vol 5, No 2 (2017): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.767 KB) | DOI: 10.37671/sb.v5i2.103

Abstract

Penelitian ini membahas makna dan bentuk pemakaian eufemisme dan disfemisme dalam feature karya Ruslan Ismail Mage. Penelitian ini bertujuan untuk mendekripsikan pemakaian makna dan bentuk eufemisme dan disfemisme yang bermanfaat bagi pengajaran bahasa Indonesia dan pengembangan bahasa di media massa cetak. Sumber data dalam penelitian ini adalah  feature-feature yang dimuat dalam buku Campus Undercover karya Ruslan Ismail Mage. Objek penelitian ini adalah pemakaian eufemisme dan disfemisme berupa bentuk dan maknanya. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi, sedangkan data dianalisis dengan distribusi, ekspansi, kolokasi, dan komponen makna. Hasil analisis menunjukkan bahwa pemakaian eufemisme lebih banyak daripada pemakaian disfemisme. Berdasarkan simpulan tersebut, peneliti menyarankan bahwa dalam menyampaikan suatu informasi kepada khalayak umum hindari tulisan-tulisan yang dapat mengaburkan dan tidak terus terang demi maksud-maksud tertentu.
POLA PENGEMBANGAN PARAGRAF PEMBUKA DALAM BERITA UTAMA KORAN DI CIREBON DAN DI BOGOR JAWA BARAT (The Development Pattern of Opening Paragraph in the Newspaper Headlines in the City of Bogor and Cirebon West Java) Dindin Samsudin
Sirok Bastra Vol 7, No 1 (2019): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (638.922 KB) | DOI: 10.37671/sb.v7i1.153

Abstract

Di dalam sebuah naskah berita media cetak, terdapat bagian yang agak menjorok ke dalam yang disebut dengan paragraf. Dari kumpulan paragraf inilah para pembaca menerima segala informasi terkait hal-hal yang dibacanya. Meskipun industri media mengalami perkembangan, media cetak masih mendapat perhatian yang cukup besar dari khalayak hingga saat ini. Agar tidak kehilangan pembacanya, media cetak harus menyajikan berita-berita yang akurat dan mendalam dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masyarakat. Keakuratan sebuah berita tergantung pada setiap kalimat yang terdapat dalam paragraf yang baik karena paragraf merupakan kesatuan kecil dalam naskah berita untuk menyampaikan suatu maksud. Sebuah paragraf yang baik di antaranya harus memiliki unsur kesatuan, kepaduan, kelengkapan, dan keruntutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan metode pola pengembangan paragraf yang ada dalam naskah berita utama di koran yang ada di wilayah Kota Cirebon dan Bogor Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum, Pola pengembangan paragraf pembuka dalam naskah berita utama di koran yang terbit di wilayah Cirebon dan Bogor Jawa Barat terdiri atas tiga metode, yaitu kronologi, sebab-akibat, dan ilustrasi.    In the news script of print media, there is a part that is indented that we called paragraph. From the unity of these paragraphs, the readers can receive all the information related to the things that they've read. Although the industry of media has developed, until now print media still have considerable attention from the public. In order not to lose its reader, print media must present in-depth and accurate news from the events and incidents that occur in society. The accuracy of news depends on each sentence contained in a good paragraph because the paragraph is a small unit of news script that's used to convey an intention. A good paragraph must include these elements of unity, cohesion, completeness, and coherence. This study aimed to reveal the method of the development pattern of opening paragraph in headlines script of the newspapers published in the City of Bogor and Cirebon, West Java Province. This study used a qualitative approach with descriptive method. The result of this study showed that generally, the development pattern of opening paragraph in headlines script of newspapers published in the City of Bogor and Cirebon consists of three methods, namely chronology, causation, and illustration.
PERBEDAAN BENTUK VERBA PADA BAHASA MELAYU TINGGI DAN BAHASA MELAYU RENDAH: STUDI KASUS INJIL MATIUS TERJEMAHAN KLINKERT Hotnida Novita Sary
Sirok Bastra Vol 2, No 1 (2014): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (715.77 KB) | DOI: 10.37671/sb.v2i1.37

Abstract

Sebagai lingua franca di Nusantara, bahasa Melayu berkembang hingga memiliki ragam bahasa Melayu tinggi (BMT) dan bahasa Melayu rendah (BMR). Perbedaan ini pada akhirnya juga menimbulkan perbedaan bentuk verba. Penelitian ini akan mengkaji perbedaan bentuk verba yang terdapat dalam BMT dan BMR yang terdapat dalam Injil Matius terjemahan Klinkert. Metode yang digunakan adalah analisis dokumen. Peneliti mengunduh data dari laman sabda.org. Kedua versi Injil Matius ini kemudian dibandingkan dan dicatat satu ayat dengan ayat yang sama. Hasil pencatatan ini kemudian yang akan dianalisis. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah ragam BMT cenderung menggunakan bentuk berimbuhan, sedangkan BMR cenderung menggunakan bentuk dasar.

Page 10 of 22 | Total Record : 220