cover
Contact Name
Prima Hariyanto
Contact Email
patriyawhura@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
patriyawhura@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bangka tengah,
Kepulauan bangka belitung
INDONESIA
Sirok Bastra
ISSN : 23547200     EISSN : 26212013     DOI : -
SIROK BASTRA is a journal which publishes language literature and language literature education research, either Indonesian, local, or foreign research. All articles in SIROK BASTRA have passed the reviewing process by peer reviewers and edited by editors. SIROK BASTRA is published by Kantor Bahasa Kepulauan Bangka Belitung twice times a year, in June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 220 Documents
KOHESI GRAMATIKAL DAN LEKSIKAL DALAM PANTUN BANGKA (Gramatical and Lexical Cohesion in Bangka Pantun) Hidayatul Astar
Sirok Bastra Vol 7, No 1 (2019): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.131 KB) | DOI: 10.37671/sb.v7i1.152

Abstract

Berpantun merupakan cara berkomunikasi yang khas dalam masyarakat Melayu. Ada sampiran dan ada isi. Pada umumnya, antarsampiran dan antarisi memiliki hubungan atau kohesif yang ditandai oleh pemarkah kohesi. Dalam artikel ini akan dibahas perangkat kohesi dan satuan bahasa yang dihubungkannya. Alat analisis digunakan adalah takosomi kohesi yang dikemukakan Hallliday dan Hasan (76). Hasil kajian terhadap pantun, khususnya Pantun Bangka, menunjukkan bahwa dua jenis kohesi, yaitu kohesi gramatikal dan kohesi leksikal, digunakan. Kohesi antarsampiran dan antar isi terbagi dua, yaitu kohesi intrakalimat dan kohesi antarkalimat. Data kuantititaf menunjukkan bahwa antarsampiran pantun Bangka lebih banyak berkohesi antarkalimat daripada berkohesi intraklimat. Dari 202 pasangan sampiran 76 atau 37, 62% berkohesi intrakalimat, 103 atau 50,99% berkohesi antarkalimat, dan 23 atau 11,39% tidak berkohesi. Kohesi antarkalimat ditandai oleh konjungtor, pengulangan kata atau frasa, pengacuan, dan hiponimi. Sementara itu, kohesi intrakalimat ditandai oleh konjungtor penanda kalimat majemuk yang menyatakan hubungan tertentu. Jika kohesi antarsampiran lebih banyak berkohesi antarkalimat, kohesi antarisi sebaliknya, yaitu lebih banyak berkohesi intrakalimat daripada antarkalimat. Dari 202 pasangan isi 116 atau 57, 43% berkohesi intrakalimat, 74 atau 36,63% berkohesi antarkalimat, dan 12 atau 5,94% tidak berkohesi. Data kuantitaif ini menujukkan bahwa isi pantun lebih mengutamakan kalimat yang mudah dipahami. Oleh karena itu, hubungan intrakalimat lebih banyak daripada hubungan antarkalimat. Seperti dalam sampiran, kohesi intrakalimat antarisi ditandai oleh konjungtor kalimat majemuk dan kohesi antarkalimat oleh konjungtor antarkalimat, pengulangan kata atau frasa, pengacuan, dan hiponimi. Talking through pantun is a typical way of communicating in Malay. There is sampiran and there is content. In general between one another sampiran and another content have a relationship or cohesive characterized by cohesion device. In this article we will discuss the cohesion device and the unit of language it connects. As an analytical tool used cohesion takosomy presented.The cohesion tool can be explicit and can olso implicit. The results of the study of the pantun especially the Bangka’Pantun show that there are two types of cohesion, namely grammatical cohesion and lexical cohesion. Quantitative data shows that in the Bangka's pantun between one sampiran and another has more cohesion between between one sentence and the another than the cohesion in the sentence. Of the 202 couples sampiran 76 or 37, 62% use in cohesion in the sentence, 103 or 50.99% use in the cohesion between one sentence and other, and 23 or 11.39% no cohesion. Cohesion between one and other sentence is characterized by conjunctors, repetition of words or phrases, reference, and hyponymy. Meanwhile, cohesion in the sentence is characterized by conjunctors of compound sentences that express certain relationshipsIf the cohesion between one sampiran and other is more many the have cohesion between one sentence and other, the cohesion between one contens and other is the opposite, is more many have the cohesion ini one sentence. Of the 202 pairs of contents 116 or 57, 43% had the cohesion in the sentence, 74 or 36.63% had the cohesion one sentence and other, and 12 or 5.94% had no cohesion. This quantitative data shows that the contents of the pantun give priority to easily understood sentences. Therefore, The cohesion in the sentence are more than the cohesion between one and another sentence. As on the sampiran, the cohesion one conten and other is characterized by conjunctors of compound sentences and the cohesion between one sentence and other also characterized by inter-sentence conjunctors, repetition of words or phrases, reference, and hyponymy.
KATA BERINFIKS -ER- DALAM BAHASA INDONESIA Prima Hariyanto
Sirok Bastra Vol 2, No 1 (2014): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (786.707 KB) | DOI: 10.37671/sb.v2i1.36

Abstract

Dalam makalah ini, dibahas kata berinfiks -er- dalam bahasa Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah analisis kepustakaan. Korpus data penelitian ini adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, ditemukan 62 kata berinfiks -er- yang terdiri dari 14 jenis kelompok makna. Selain memaparkan kata berinfiks yang ada, penelitian ini juga mencoba memaparkan metode pendefinisian lema kata berinfiks yang -er- bermakna ‘sama dengan bentuk dasarnya’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.
PERBEDAAN PREFIKS BER- DAN ME- DARI SUDUT MAKNA INHEREN TELIS DAN ATELIS Dwi Agus Erinita
Sirok Bastra Vol 4, No 1 (2016): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.564 KB) | DOI: 10.37671/sb.v4i1.69

Abstract

Penelitian ini beranjak dari kesulitan mahasiswa asing dalam mempelajari prefix ber- dan me- secara bersamaan. Kedua prefiks tersebut merupakan imbuhan pertama yang dipelajari oleh peserta BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing). Dengan menggunakan metode deskriptif,  penelitian kecil ini bertujuan mendeskripsikan perilaku prefiks ber- dan me- apabila bersanding dengan sebuah kata dasar.Perbedaan antara ber- yang bermakna ‘sedang melakukan’ dan me- yang bermakna ‘melakukan’ tidak dengan mudah dipahami oleh pengajar dan pembelajar bahasa Indonesia. Namun, jika kita memandang keduanya dari sudut situasi telis dan atelis, akan lebih mudah menjelaskannya. Berdasarkan analisis, makna prefiks ber- yang dapat dianalisis berdasarkan situasi telis dan atelis ialah leksem berkategori verba yang mempunyai makna ‘(sedang) melakukan sesuatu’, sedangkan pada prefiks me- yang dapat dianalisis ialah leksem berkategori verba yang bermakna ‘melakukan’.
PREFIKS {N-} DALAM BAHASA JAWA DIALEK BANYUMAS Rahmat Muhidin
Sirok Bastra Vol 5, No 1 (2017): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (644.869 KB) | DOI: 10.37671/sb.v5i1.93

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan prefiks bahasa Jawa dialek Banyumas yang dituturkan oleh masyarakat di Kabupaten Cilacap. Subjek penelitian ini adalah penutur bahasa Jawa dialek Banyumas yang berdomisili di Pangkalpinang. Pengumpulan data dilakukan dengan metode simak, sedangkan analisis data dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif. Fungsi prefiks {N-} adalah membentuk kata kerja. Makna prefiks {N-} adalah ‘melakukan’, ‘bekerja dengan alat’, ‘membuat barang’, ‘bekerja dengan bahan’, ‘memakan’, ‘meminum atau mengisap’, ‘menuju ke arah’, ‘mengeluarkan’, ‘menjadi’, dan ‘memperingati’. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prefiks {N-} dalam bahasa Jawa dialek Banyumas memiliki beberapa variasi prefiks, yakni (1) prefiks  {N-}, (2) prefiks {NY-}, (3) prefiks {NG-}, dan (4) prefiks {M-}.
NILAI-NILAI BUDAYA DALAM CERITA RAKYAT KALIMANTAN BARAT BURUNG ARUE DAN BURUNG TALOKOT (Cultural Values of West Kalimantan Folklore Burung Aroe dan Burung Talokot) Binar Kurniasari Febrianti
Sirok Bastra Vol 6, No 2 (2018): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.837 KB) | DOI: 10.37671/sb.v6i2.134

Abstract

Tulisan ini memaparkan nilai-nilai budaya dalam cerita rakyat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui budaya daerah melalui nilai-nilai budaya yang terdapat dalam cerita rakyat. Cerita rakyat Burung Arue dan Burung Talokot berasal dari suku Dayak Kanayan, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Cerita ini dipilih karena merupakan cerita lokal dan masih dipercaya masyarakat setempat hingga sekarang. Sumber data dalam penelitian ini berasal dari cerita rakyat Burung Aroe dan Burung Talokot berupa buku yang sudah diterbitkan. Metode yang digunakan untuk pengumpulan data adalah studi pustaka dengan pendekatan antropologi sastra. Adapun analisis penelitian menggunakan metode deskriptif, yakni metode yang menggambarkan data secara sistematis, faktual, dan akurat. Hasil analisis penelitian menerangkan bahwa cerita rakyat merupakan warisan budaya yang mempunyai arti penting dan berkaitan dengan kehidupan masyarakatnya. Hal ini diperkuat dengan unsur-unsur pembangun cerita yang mengungkapkan gagasan, pandangan hidup, dan ajaran moral yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat yang bisa dijadikan pedoman hidup. Di lain sisi, nilai-nilai budaya dalam cerita ini adalah rumah adat, simbol budaya, sumber daya alam, bersyukur kepada Tuhan, menepati janji dan amanah, nilai kasih sayang, nilai kesabaran, dan menjaga persaudaraan.This paper describes cultural values in folklore. This study aims to find out regional culture through cultural values contained in folklore. Folklore of Burung Arue dan Burung Talokot comes from the Dayak Kanayan ethnic, Mempawah Regency, West Kalimantan. This story was chosen because it is a local folklore and is still trusted by the local community until now. The source of the data in this study comes from the folklore of Burung Arue dan Burung Talokot in the form of published books. The method used for data collection is literature study with the literal anthropogy approach. The analysis of the study uses descriptive methods that describe data systematically, factually, and accurately. The results of the research analysis explain that folklore is a cultural heritage that has important values and related to the lives of its people. This is reinforced by the story building elements that express ideas, views of life, and moral lessons related to people's lives that can be used as guidelines for life. On the other hand, cultural values in this story are traditional house, cultural symbols, natural resources, giving thanks to God, keeping promises and mandates, values of compassion, the value of patience, respect for parents, and maintaining brotherhood.
RELIGIOUS AND MORAL VALUES IN MADURA FOLKTALES Imron Wakhid Harits
Sirok Bastra Vol 1, No 2 (2013): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (438.068 KB) | DOI: 10.37671/sb.v1i2.27

Abstract

Madura has a lot of Folktales as the reflection of its values in its social life. As the cultural identity, most of Madura folktales are the mirror of social values and characteristics of Madura society. Thus, the Madura folktales contain the moral and religious values as the most important element for Madura society. The aim of this paper is to identify and to investigate five Madura folktales, these are: The Origin of Madura, Bangsadcara and Ragapadme, The Origin of Tajungan, Aer Mata Ebu, and Aryo Menak. These five folktales are chosen because they are the most popular Madura folktales among others. While, the aspects of moral and religious values are the most dominant elements that can be found in these five Madura folktales. Such two aspects are the local genious that can be bequeathed from one generation to the next generation. The aspect of moral will have the close relation with the appreciation and respecting to the parents and teacher on the other hand, the aspect of religious values are related with sufism and another Islamic values. Both of two aspects are used as the fundamental of social construction in Madura. Therefore the religious and moral aspects sourced in Madura Folktales must be explored to look for the identity as Madurese.
PENERAPAN MODEL SAVI DALAM PEMBELAJARAN MENYIMAK UNSUR ALUR, PERWATAKAN, SUDUT PANDANG, DAN TEKNIK PENCERITAAN CERPEN PADA SISWA KELAS X MA DDI ALLIRITENGAE KABUPATEN MAROS Abdul Azis; Nurwati Syam
Sirok Bastra Vol 3, No 2 (2015): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.836 KB) | DOI: 10.37671/sb.v3i2.60

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan kemampuan menyimak unsur cerpen; (2) mendeskripsikan kemampuan menyimak unsur cerpen setelah penggunaan model pembelajaran SAVI; dan (3) mendeskripsikan tingkat keefektivan penerapan model SAVI dalam pembelajaran menyimak unsur cerpen siswa. Desain yang digunakan adalah desain penelitian yang bersifat eksperimen semu. Populasi adalah siswa kelas X dengan sampel  sebanyak 20 siswa. Penarikan sampel dilakukan dengan cara cluster sampling. Teknik yang digunakan yaitu pretest dan posttest. Data yang diperoleh dianalisis dengan teknik statistik deskriptif dan inferensial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) kemampuan menyimak unsur-unsur cerpen sebelum menggunakan model SAVI dikategorikan rendah, (2) kemampuan menyimak unsur cerpen dengan menggunakan model SAVI dikategorikan tinggi; (3) model SAVI efektif diterapkan dalam pembelajaran menyimak unsur cerpen dengan nilai thitung ttabel atau 11,882,0414 pada taraf signifikan 0,05.
ANALISIS PELANGGARAN MAKSIM SEBAGAI STRATEGI PENGUNGKAPAN HUMOR DALAM VIDEO HUMOR DI AKUN INSTAGRAM RIA YUNITA Siti Hannah Sekarwati
Sirok Bastra Vol 4, No 2 (2016): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (563.154 KB) | DOI: 10.37671/sb.v4i2.83

Abstract

Topik makalah ini adalah pelanggaran maksim sebagai strategi pengungkapan humor dalam video humor di akun Instagram Ria Yunita (@riaricis1795). Ricis seringkali menyelipkan pesan-pesan moral saat mengunggah foto, video, dan meme itu melalui akunnya tersebut. Tindak tutur yang dianalisis oleh penulis berjumlah lima belas tuturan dari tiga video yang dipilih sebagai sampel. Dari kelima belas tindak tutur pada video-video tersebut ditemukan bahwa daya ilokusi yang paling sering muncul adalah daya ilokusi direktif dan deklaratif. Daya ilokusi direktif berupa pertanyaan dan deklaratif berupa jawaban dari pertanyaan. Penggunaan jenis daya ilokusi direktif dan deklaratif serta pelanggaran maksim yang ditemukan dalam data ini diasumsikan penulis sebagai strategi humor pada tindak tutur video di akun instagram Ria Ricis. Selanjutnya, pelanggaran maksim yang ditemukan dari kedua belas tuturan ini adalah pelanggaran maksim kualitas dan maksim relevansi.
PENERAPAN METODE LATIHAN (DRILL) DALAM PEMBELAJARAN MENULIS RESENSI BUKU PENGETAHUAN Sakila Sakila
Sirok Bastra Vol 6, No 1 (2018): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.558 KB) | DOI: 10.37671/sb.v6i1.119

Abstract

Metode sangat penting dan harus dimiliki oleh guru sebelum memasuki ruang belajar. Hal ini disebabkan karena metode merupakan pondasi awal untuk mencapai tujuan pendidikan dan keberhasilan sebuah pembelajaran. Guru memegang peranan penting dalam proses dan peningkatan mutu pendidikan. Peningkatan kompetensi guru berbanding lurus dengan prestasi siswa. Tujuan penulisan ini adalah untuk memberi sumbangan pemikiran dan gagasan, dan langkah-langkah penerapan metode latihan (drill) dalam pembelajaran menulis resensi buku pengetahuan sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IX dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Teknik dan langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan metode latihan (drill) dapat diterapkan pada pembelajaran materi pokok meresensi buku pengetahuan. Siswa ditempatkan sebagai subyek yang belajar. Mereka tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara verbal, tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pelajaran yang sedang dipelajarinya. Kesimpulan akhir dapat disampaikan bahwa penerapan metode latihan (drill) memungkinkan para siswa melatih dirinya sendiri menulis resensi buku pengetahuan dan menemukan sendiri informasi yang diperlukan untuk mencapai tujuan instruksional pada mata pelajaran Bahasa Indonesia.
PERBEDAAN MAKNA NOMINA BERAFIKS PE-, PER-, PE--AN, DAN PER--AN DALAM NASKAH HIKAYAT BAYAN BUDIMAN, HIKAYAT MUHAMMAD HANAFIYYAH, DAN HIKAYAT RAJA PASAI Rindias Helenamarta Fatmasari
Sirok Bastra Vol 1, No 2 (2013): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (713.927 KB) | DOI: 10.37671/sb.v1i2.16

Abstract

Penelitian ini membahas nomina berafiks pe-, per-, pe--an, dan per--an dalam naskah Hikayat Bayan Budiman, Hikayat Muhammad Hanafiyyah, dan Hikayat Raja Pasai. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah analisis kepustakaan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, terdapat beberapa perbedaan makna afiks pe-, per-, pe--an, dan per--an pada beberapa nomina yang terdapat dalam naskah Hikayat Bayan Budiman, Hikayat Muhammad Hanafiyyah, dan Hikayat Raja Pasai.

Page 8 of 22 | Total Record : 220