cover
Contact Name
Prima Hariyanto
Contact Email
patriyawhura@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
patriyawhura@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bangka tengah,
Kepulauan bangka belitung
INDONESIA
Sirok Bastra
ISSN : 23547200     EISSN : 26212013     DOI : -
SIROK BASTRA is a journal which publishes language literature and language literature education research, either Indonesian, local, or foreign research. All articles in SIROK BASTRA have passed the reviewing process by peer reviewers and edited by editors. SIROK BASTRA is published by Kantor Bahasa Kepulauan Bangka Belitung twice times a year, in June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 220 Documents
RELIGIOSITAS MASYARAKAT TIONGHOA DALAM CERPEN DI MAJALAH STAR WEEKLY, LIBERAL, DAN PANTJAWARNA TAHUN 1954—1956 Dea Letriana Cesaria
Sirok Bastra Vol 8, No 1 (2020): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v8i1.205

Abstract

Sastra Peranakan Tionghoa adalah karya sastra dalam bahasa Indonesia yang dihasilkan oleh orang Tionghoa yang dilahirkan di Indonesia. Seusai Perang Dunia II, sastra peranakan tetap berkembang. Bentuknya bukan lagi novel tetapi cerpen. Namun, berbeda dengan keadaan sebelum Perang Dunia II, pada zaman Pasca-Perang itu tidak lagi terdapat majalah seperti Tjerita Romans atau Penghidoepan. Kebanyakan karya dimuat dalam majalah-majalah umum atau berita, seperti Star Weekly, Liberal, dan Pantjawarna. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat kontribusi majalah Star Weekly, Pantjawarna, dan Liberal pada tahun 1950-an terhadap publikasi karya penulis Tionghoa. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dan deskriptif.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerpen dalam majalah Star Weekly, Liberal, dan Pantjawarna menggambarkan religiositas masyarakat Tionghoa dalam menjalani kehidupan yang multikultural di Indonesia. Konsep kemanusiaan dalam ajaran Konghucu erat kaitannya dengan konsep Tepa Sarira dalam kebudayaan Jawa. Chinese Literature is literary works in Indonesian produced by Chinese people who were born in Indonesia. After World War II, peranakan literature continued to flourish. The form is no longer a novel but a short story. However, in contrast to the situation before World War II, the Post-War era there were no magazines anymore, such as Tjerita Romans or Penghidoepan. Most of his work is published in public magazines or news, such as Star Weekly, Liberal, and Pantja Warna. The purpose of this study is to look at the contributions of Star Weekly, Pantja Warna and Liberal magazines in the 1950s to the publication of works by Chinese writers. The method used is qualitative and descriptive methods. The results showed that short stories in Star Weekly, Liberal, and Pantjawarna, magazines illustrate the religiosity of the Chinese community in leading a multicultural life in Indonesia. The concept of humanity in Confucianism is closely related to the concept of Tepa Sarira in Javanese culture.
STRATEGI KESANTUNAN DALAM TINDAK TUTUR MENYURUH PADA KEGIATAN ULAON UNJUK ADAT BATAK TOBA: PERSPEKTIF JENDER Christina Natalina Saragi
Sirok Bastra Vol 8, No 1 (2020): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v8i1.192

Abstract

Tujuan penelitian mengidentifikasi perbedaan strategi kesantunan dalam tindak tutur menyuruh tamu pria dan wanita Batak Toba dalam kegiatan ulaon unjuk (upacara puncak pernikahan) adat Batak Toba di Tebing Tinggi. Desain penelitian ini adalah deskriptif kualitatif.  Strategi kesantunan yang paling dominan dituturkan oleh tamu pria adalah strategi kesantunan langsung, tidak langsung yang direalisasikan dengan metafor, positif yang direalisasikan dengan berkelakar membuat lelucon dan negatif yang direalisasikan dengan kurangi kekuatan atau daya ancaman terhadap muka lawan tutur; sedangkan tamu wanita Batak Toba adalah kesantunan langsung. Strategi kesantunan yang digunakan oleh tamu pria Batak Toba dipengaruhi oleh faktor sikap tamu pria Batak Toba yang langsung dalam mengungkapkan suatu hal, tidak bertele-tela, faktor pengalaman yang lebih di dalam adat istiadat sehingga dapat berkelakar serta bermetafor, dan faktor kebudayaan yaitu patrialisme, kekuasaan berada ditangan pria batak Toba, hal ini yang melatar belakangi pria batak Toba menggunakan empat strategi kesantunan Brown dan Levinson (1987) sedangkan tamu wanita Batak Toba, faktor situasional melatarbelakangi sehingga tamu wanita lebih dominan menuturkan strategi kesantunan langsung dan faktor kebudayaan yaitu sikap dan peran yang sudah diwariskan kepada wanita batak Toba, sikap wanita Batak Toba yaitu ramah, lemah lembut, teliti serta mudah diterima dimasyarakat dan peran sebagai istri yang melayani suami, membesarkan dan mengajari  anak-anak serta mengurus rumah tangga yang melatar belakangi tamu wanita batak Toba menggunakan empat strategi kesantunan Brown dan Levinson (1987). The purpose of the study was to identify differences in politeness strategies in order speech acts of male and female Batak Toba guests in the ulaon unjuk (the peak wedding ceremony) of the Batak Toba custom in Tebing Tinggi. The design of this research was descriptive qualitative. The most dominant politeness strategies spoken by male guests are direct politeness strategies, indirectly realized by metaphors, positive realized by making jokes, and negatives realized by reducing the strength or power of threat to the face of the opposing speaker, whereas female guests of the Toba Batak are direct politeness. The politeness strategy used by male guests of Batak Toba was influenced by factors in the attitude of male Batak Toba guests who are directly in expressing a matter, not rambling, more experience factors in customs so that they can joke and report, and cultural factors namely patrialism, in which the power in the hands of Toba Batak men, this was the background of Toba Batak men using four politeness strategies Brown and Levinson (1987) while female guests of Toba Batak, situational factors lie behind so that female guests are more dominant in telling direct politeness strategies and cultural factors namely attitudes and roles has been passed down to Toba Batak women, the attitude of Batak Toba women is friendly, gentle, conscientious and easily accepted in the community and the role as a wife who serves her husband, raising and teaching children and taking care of the household that is the background of Toba Batak women guests using four strategies Brown politeness and Levinson (1987).
TEMA DAN KEKHASAN BAHASA DALAM TEKS SEGALA CERITA ANAK SEKULA Putri Susanti
Sirok Bastra Vol 8, No 1 (2020): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v8i1.204

Abstract

Penelitian ini muncul dari penelusuran penulis terhadap naskah Melayu yang berjudul Segala Cerita Anak Sekula (SCAS), sebuah naskah yang dapat digolongkan sebagai hikayat dengan tujuh cerita tentang hewan (fabel). Dari judul naskah tersebut, penulis akan menganalisis tema cerita dan kekhasan bahasa Melayu karena ada kemungkinan naskah ini dijadikan bahan ajar untuk anak sekolah. Sesuai dengan hal tersebut, tujuan dari penelitian ini adalah menunjukkan kekhasan bahasa dan tema cerita dalam SCAS, serta mengidentifikasikan secara tematik bahan bacaan anak-anak sekolah pada masa-masa akhir abad ke-19. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan struktural dalam penyimpulan tema terkait hubungannya dengan tokoh, latar, dan alur. Dari penelitian ini, diperoleh paparan kekhasan bahasa yang tidak menyulitkan penulis dalam membaca naskah ini dan tema-tema cerita yang muncul dalam naskah SCAS. This research emerged from the author's search to the Malay Manuscript that titled Segala Cerita Anak Sekula (SCAS), a text that can be classified as a saga with seven stories about animals (fables). From the title of the manuscript, author will analyze the theme of the story and the uniqueness of the Malay language because there is a possibility that this script will be used as teaching material for school children. According to, the purpose of this study is to show the uniqueness of  the language and story themes in SCAS, and to identify thematically the reading material of school children in the late 19th century. The method used in this study is a structural approach in the inference of themes related to the relationship with figures, settings, and plot. From this study, it was obtained exposure to language uniqueness that did not complicate the writer in reading this manuscript and the themes of the stories that appeared in the SCAS manuscript.
KEBERAGAMAN MOTIF DALAM CERITA RAKYAT ULAR RENGGIONG DAN PUTRI GUNUNG LABU DARI BELITUNG TIMUR: ANALISIS MOTIF MODEL STITH THOMPSON Dwi Oktarina
Sirok Bastra Vol 8, No 1 (2020): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v8i1.199

Abstract

Kabupaten Belitung Timur yang masuk ke wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung me miliki kekayaan budaya sastra lisan, khususnya cerita rakyat yang belum banyak dikaji. Selain cerita rakyat, wilayah ini juga kaya akan pantun, syair, mantra, juga peribahasa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keberagaman motif cerita rakyat dalam dua legenda, yakni “Ular Renggiong” dan “Putri Gunung Labu” berdasarkan klasifikasi Motif Indeks Stith Thompson. Kajian ini termasuk ke dalam jenis penelitian kualitatif. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif analisis. Kedua cerita menggambarkan kondisi sosial budaya masyarakat Melayu Belitung yang masih sangat kental menjaga tradisi dan adat dalam kehidupan. Setelah dianalisis, didapatkan hasil cerita “Ular Renggiong” memiliki sembilan motif, sementara “Putri Gunung Labu” memiliki 15 motif. Hal ini menandakan keberagaman motif cerita rakyat yang ada di wilayah Belitung Timur. East Belitung Regency in Bangka Belitung Province has it cultural richness includes diversity in anything that has to do with how people live. This region has it oral literary culture, especially folklore like folktale, pantun, syair, mantras, as well as proverbs. This study is focused on the motifs in the folktale. This research aimed to describe the motifs of the folktale "Ular Renggiong" and "Putri Gunung Labu" based on Thompson motif index classification. This research is a qualitative research using descriptive analysis method. Both folktale showed the socio-cultural conditions of the Belitung’s people who are still very strong in maintaining traditions and customs in life. The story of "Ular Renggiong" has 9 motives while "Putri Gunung Labu" has 15 motifs based on the Thompson Index Motif theory. This indicates the diversity of folktale motifs in the East Belitung region.
STRUKTUR FRASA, KLAUSA, DAN KALIMAT BAHASA TALONDO Wati Kurniawati
Sirok Bastra Vol 8, No 1 (2020): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v8i1.207

Abstract

Penelitian ini mengidentifikasi struktur frasa, klausa, dan kalimat bahasa Talondo yang dituturkan oleh masyarakat Talondo, di Desa Bonehau, Kecamatan Bonehau, Kabupaten Mamuju.  Fokus masalah dalam penelitian ini bagaimana struktur frasa, klausa, dan kalimat bahasa Talondo? Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi struktur frasa, klausa, dan kalimat bahasa Talondo. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data berupa aspek kebahasaan, yaitu frasa, klausa, dan kalimat dilakukan dengan teknik kerja sama dengan informan dan teknik kuesioner. Pengumpulan data itu dilakukan dengan kuesioner, simak, wawancara, dan catat. Sumber data lisan diperoleh dari informan penutur asli. Penentuan informan berpedoman pada kualifikasi dan kemampuan penutur. Sampel dalam penelitian ini dipilih berdasarkan kriteria responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Talondo memiliki struktur frasa endosentris yang berkonstruksi atributif dan koordinatif. Konstruksi atributit memiliki empat tipe, yaitu nomina, verba, adjektiva, dan numeralia sebagai konstituen induk. Konstruksi koordinatif memiliki enam tipe, yaitu nomina, verba, adjektiva, preposisi, numeralia, dan adverbia sebagai konstituennya. Selain frasa endosentris, bahasa Talondo memiliki struktur frasa eksosentris yang berkonstruksi direktif, konektif, objektif, dan predikatif. Konstruksi direktif memiliki empat struktur frasa. Konstruksi konektif memiliki delapan struktur frasa. Konstruksi objektif memiliki satu struktur frasa. Konstruksi predikatif memiliki delapan struktur frasa. Sementara itu, konstruksi klausa terdiri atas unsur subjek dan predikat yang terdiri atas satu predikat atau lebih. Kalimat terdiri atas unsur predikat dan subjek dengan atau tanpa objek, pelengkap dan keterangan. Unsur predikat dan subjek merupakan unsur yang kehadirannya selalu wajib. Pola kalimat dasar meliputi tipe S-P, S-P-O, S-P-Pel, S-P-Ket, S-P-O-Pel, dan S-P-O-Ket. This research identifies the structure of phrases, clauses and sentences in the Talondo language spoken by the Talondo community, in Bonehau Village, Bonehau District, Mamuju Regency. The focus of the problem in this research is how the structure of phrases, clauses and sentences in the Talondo language? This study aims to identify the structure of Talondo phrases, clauses and sentences. This research is a field research using descriptive qualitative method. Data collection techniques in the form of linguistic aspects, i.e. phrases, clauses and sentences, were carried out in collaboration with informants and questionnaire techniques. Data collection was carried out by questionnaire, refer, interview, and note. Sources of oral data were obtained from native speakers of the Talondo language in Talondo Hamlet, Bonehau Village, Bonehau District, Mamuju Regency, West Sulawesi Province. The determination of informants is based on the qualifications and abilities of the speaker.The sample in this study was chosen based on the criteria of the respondents. The results showed that the Talondo language had an endocentric phrase structure that was attributive and coordinated constructions. Atributive construction have four types, namely nouns, verbs, adjectives, and numeralia as parent constituents. Coordinative construction has six types, namely nouns, verbs, adjectives, prepositions, numeralia, and adverbs as constituents. In addition to endocentric phrases, Talondo has an exocentric phrase structure that has directive, connective, objective, and predictive constraction. The directive construction has four phrase structures. Connective construction has eight phrase structures. Objective construction has one phrase structure. The predictive construction has eight phrase structures. Meanwhile, clause construction consists of subject and predicate elements consisting of one or more predicates. Sentences consist of predicate elements and subjects with or without objects, complements and captions. The element of predicate and subject is an element whose presence is always mandatory. The basic sentence patterns include type S-P, S-P-O, S-P-Comp, S-P-Capt, S-P-O-Comp, and S-P-O-Capt.
POTRET MERDEKA BELAJAR DALAM NOVEL “GURU AINI” KARYA ANDREA HIRATA Ni Nyoman Ayu Suciartini
Sirok Bastra Vol 8, No 2 (2020): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v8i2.212

Abstract

Pendidikan di Indonesia sedang berbenah menuju kualitas pendidikan yang lebih unggul dan berkarakter. Salah satunya diwujudkan dengan adanya terobosan baru bernama merdeka belajar-kampus merdeka yang diluncurkan oleh Kemendikbud, menyasar pendidikan dasar dan menengah hingga perguruan tinggi. Konsep merdeka belajar merupakan konsep yang diyakini dapat memerdekakan dalam artian positif, siswa dan guru sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung secara maksimal. Penulis menemukan bahwa konsep merdeka belajar termuat dalam novel Guru Aini karya Andrea Hirata. Masalah pokok dalam penelitian ini adalah bagaimana potret konsep merdeka belajar dalam novel Guru Aini karya Andrea Hirata tahun 2020? Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan potret konsep merdeka belajar dalam novel Guru Aini. Metode yang digunakan adalah penelitian deksripstif kualitatif dengan teori sosiologi sastra sebagai pedoman dalam analisisnya. Hasil penelitian ini menganalisis bahwa di novel Guru Aini memuat potret merdeka belajar seperti adanya proyek kemanusiaan, guru dan peserta didik yang merdeka dan bahagia dalam proses pembelajaran serta adanya nilai moral, etika, pendidikan, agama, sosial yang ditinjau dari konsep sosiologi sastra. Education in Indonesia is tending to a superior quality of education and character. One of them is realized with the existence of a new breakthrough called merdeka-independent campus learning launched by the Ministry of Education and Culture, targeting primary and secondary education to tertiary institutions. The concept of independent learning is a concept that is believed to be able to liberate in a positive sense, students and teachers so that the learning process can take place optimally. The author finds that the concept of freedom of learning is contained in the novel Guru Aini by Andrea Hirata. The main problem in this research is how the portrait of the concept of freedom of learning in the novel "Guru Aini"? The aim is to describe the portrait of the concept of independent learning in the novel "Guru Aini". The method used is qualitative descriptive research method with the theory of literary sociology as a guide in its analysis. The results of this study analyze that in the novel "Guru Aini" contains a portrait of independent learning such as a humanitarian project, teachers and students who are independent and happy in the learning process as well as the existence of moral values, ethics, education, religion, social in terms of the concept of sociological literature.
ANALISIS KONTEKS DAN WUJUD EKOLOGI DINDANG ANAK UNGGAT-UNGGAT APUNG ETNIK BANJAR KALIMANTAN SELATAN Norvia Norvia
Sirok Bastra Vol 8, No 2 (2020): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v8i2.196

Abstract

Dindang (nyanyian atau lagu) Unggat-Unggat Apung etnik Banjar adalah dindang yang mengiringi sebuah permainan tradisional anak-anak yang berfungsi sebagai hiburan di waktu berkumpul orang tua dengan anak-anaknya di rumah. Sastra lisan khususnya dindang anak Unggat-Unggat Apung etnik Banjar merupakan dindang yang mulai kehilangan penuturnya. Hal ini disebabkan minimnya pelestarian dindang ini dalam bentuk dokumentasi tertulis, serta sudah tidak dikenalnya dindang ini di kalangan anak-anak etnik Banjar. Dindang sebagai salah satu bagian dari representasi kehidupan manusia seringkali memuat unsur budaya dan lingkungan manusia. Adanya penuangan unsur ekologi dalam sastra lisan khususnya dindang anak Unggat-Unggat Apung etnik Banjar semakin memperkuat adanya hubungan yang erat antara etnik Banjar dengan alam. Metode deskriptif kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini akan memberikan gambaran dalam bentuk kata-kata dan gambar yang mengacu pada tujuan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 33 larik dindang anak Unggat-Unggat Apung etnik Banjar ditemukan unsur ekologi flora 3 kata, unsur ekologi fauna 4 kata, dan unsur ekologi budaya yang tergolong peralatan dan perlengkapan hidup etnik Banjar terdiri atas 4 kata. Kajian ekologi sastra dalam penelitian ini diterapkan sebagai upaya menggali hubungan antara sastra dan ekologi etnik Banjar sebagaimana tertuang dalam dindang anak Unggat-Unggat Apung etnik Banjar.Dindang (song) Unggat-Unggat Apung of the Banjar ethnic group is a song that accompany a traditional children's game that functions as entertainment when parents gather with their children at home. Oral literature, especially the Dindang children of Banjar ethnics, Banjar ethnic is a song that has lost its speakers, this is due to the lack of preservation of this song in the form of written documentation, and this song is unknown among the Banjar ethnic children. Dindang as one part of the representation of human life often includes elements of human culture and environment. The existence of the pouring of ecological elements in oral literature, especially the existence of a close relationship between ethnic Banjar with its nature which is reflected in the song. The qualitative descriptive method used in this study will provide an overview in the form of words and images that refer to the purpose of the study. The results of the study found that from 33 lines of Dindang Unggat-Unggit Apung, found three ecological elements of flora, four ecological elements of fauna, and cultural ecological elements belonging to Banjar ethnic equipment and life equipment consisting of 4 words. The study of literary ecology in this study was applied as an effort to explore the relationship between literature and ecology of the Banjar ethnicity as set in the song of Dindang Unggat-Unggit Apung.
ELSA DALAM CENGKERAMAN DISNEY Resti Nurfaidah
Sirok Bastra Vol 8, No 2 (2020): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v8i2.249

Abstract

Beberapa dekade terakhir, Disney menghadirkan tokoh princess dengan konsep baru, seperti Merida (The Brave), Mulan, atau Elsa. Para princess konsep baru itu seolah mendapatkan kebebasan yang lebih banyak untuk berkiprah di ranah publik daripada para princess terdahulu, seperti Cinderela atau Snow White. Jika ditelaah lebih lanjut, tidak ada perbedaan berarti di antara para putri tersebut. Disney tetaplah pemangku adat patriarkis yang tidak pernah melepas stigma yang dihadirkan dalam konsep putri tradisionalnya. Tujuan penelitian ini untuk mengamati apakah sosok Elsa hadir dengan konsep kebebasan yang seutuhnya. Penelitian tentang konsep princess tersebut dibatasi pada kondisi Elsa sebagai objek penelitian dalam film Frozen II yang merupakan sekuel dari Frozen I. Penelitian kualitatif ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif pada data primer berupa lirik lagu original soundtrack (OST) dan data sekunder berupa gambar adegan dalam film yang relevan dengan poin-poin dalam lirik tersebut. Pembahasan tentang Elsa dilakukan dengan Analisis Framing dari Pan dan Kosicki. Analisis tersebut membingkai beberapa hal yang menjadi penjara sublime maskulin bagi seorang Elsa dalam lirik dan data visual. Hasil amatan sementara dalam penelitian ini adalah bahwa Elsa tidak sepenuhnya diberikan kebebasan sebagai princess dengan konsep baru.In the last few decades, Disney presents princess figures with new concepts, such as Merida (The Brave), Mulan, or Elsa. The new concept of princesses seemed to get more freedom on being public domain than the previous princesses, such as Cinderella, and Snow White. However, if explored further, there are no significant differences between them. Disney remains the absolute holder of masculinity. He never let go of the presented princesses from his traditional princess concept. The purpose of this research was to aprrove whether Elsa was completely present with the concept of freedom? Research on the concept of princess is limited to Elsa's condition as an object of research in Frozen II as a sequel to Frozen I. This research is a qualitative study conducted with descriptive methods in the primary data in the form of OST song lyrics and secondary data in the form of image scenes in films that are relevant to the points in the lyrics. The discussion about Elsa was carried out with Framing Analysis from Pan and Kosicki. The analysis well-framed those matters that could be her masculine sumblime barriers, found at lyrics and visual corpus. The result of a temporary observation in this study was that Elsa was not fully freed as a princess with a new concept. 
KONSERVASI ALAM DALAM NOVEL KEKAL KARYA JALU KANCANA (KAJIAN EKOKRITIK) Mamad Ahmad; Asep Supriyadi
Sirok Bastra Vol 8, No 2 (2020): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v8i2.252

Abstract

Novel Kekal karya Jalu Kancana menceritakan kegiatan eksploitasi yang dilakukan oleh perusahaan tambang panas bumi di Kawasan Cagar Alam Kamojang. Eksploitasi berdampak pada kerusakan alam dan kepunahan kekayaan flora dan fauna yang selama ini menjadi bagian keragaman hayati dunia. Penelitian ini membahas kerusakan dan upaya yang dilakukan oleh konservasionis terhadap kerusakan alam. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk kerusakan hutan dan perjuangan kaum konservasi dalam menjaga dan melestarikan hutan berdasarkan kajian ekokritik Greg Garrard. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah interpretasi dan pemahaman dengan analisis konten. Sumber data penelitian ini ialah novel dengan judul Kekal karya Jalu Kancana yang diterbitkan oleh Buku Mojok di Sleman Yogyakarta tahun 2019. Hasil analisis menunjukkan dampak dari eksploitasi telah mengakibatkan kerusakan hutan secara masif di sebagian wilayah hutan Indonesia umumnya dan Kawasan Cagar Alam Kamojang pada khususnya. Perlawanan yang dilakukan bersifat ideologis melalui tulisan yang kritis terhadap pemerintah.Novel Kekal by Jalu Kancana tells about the exploitation activities carried out by a geothermal mining company in the Kamojang Nature Reserve. Exploitation has an impact on the destruction of nature and the extinction of flora and fauna that have been part of the world's biodiversity. This study discusses the damage and efforts made by conservationists. This study aims to describe the form of forest destruction and the struggle of conservationists in protecting and conserving forests based on Greg Garrard's ecocritical study. The data analysis method used in this research is interpretation and understanding with content analysis. The data source for this research is a novel entitled Kekal by Jalu Kancana, published by Buku Mojok in Sleman Yogyakarta in 2019. The results of the analysis show that the impact of exploitation has resulted in massive forest destruction in parts of Indonesia's forest in general and in the Kamojang Nature Reserve in particular. Therefore, there are efforts made by conservationists to restore forest harmony.
PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING YANG BERORIENTASI HOTS DALAM PEMBELAJARAN MATERI TEKS DESKRIPSI DI KELAS VII Sakila Sakila
Sirok Bastra Vol 8, No 2 (2020): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v8i2.188

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model discovery learning yang berorientasi HOTS pada pembelajaran menulis teks deskripsi dalam meningkatkan kemampuan siswa. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah penerapan model discovery learning yang berorientasi HOTS dalam meningkatkan keterampilan siswa pada materi pembelajaran menulis teks deskripsi. Pentingnya permasalahan ini dibahas karena pembelajaran teks deskripsi dengan menggunakan model pembelajaran sangat penting untuk dipelajari dan teks deskripsi bertujuan untuk memberikan gambaran detail tentang sesuatu atau seseorang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan model discovery learning yang berorientasi HOTS meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis teks deskripsi. Model pembelajaran discovery learning yang berorientasi HOTS dapat dijadikan salah satu alternatif untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam pembelajaran menulis teks deskripsi.This study aims to describe the application of HOTS-oriented discovery learning models to learning to write descriptive text in improving students' abilities. The problematic formulation in this research is how the application of discovery learning model that is HOTS oriented in improving students' skills in learning material to write description text. The importance of this problem is discussed because learning the description text using the learning model is very important to learn and the description text aims to provide a detailed picture of something or someone. This study used descriptive qualitative method. The results showed that the use of discovery learning models that were oriented to HOTS improved the ability of students to write description texts. HOTS-oriented discovery learning model can be used as an alternative to improve students' ability in learning to write descriptive text.