cover
Contact Name
Prima Hariyanto
Contact Email
patriyawhura@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
patriyawhura@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bangka tengah,
Kepulauan bangka belitung
INDONESIA
Sirok Bastra
ISSN : 23547200     EISSN : 26212013     DOI : -
SIROK BASTRA is a journal which publishes language literature and language literature education research, either Indonesian, local, or foreign research. All articles in SIROK BASTRA have passed the reviewing process by peer reviewers and edited by editors. SIROK BASTRA is published by Kantor Bahasa Kepulauan Bangka Belitung twice times a year, in June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 220 Documents
PENGETAHUAN REMAJA SUNDA PERKOTAAN TERHADAP ISTILAH AKTIVITAS DI DAPUR TRADISIONAL SUNDA (The Knowledge of Urban Sundanese Teenagers in Terms of Activities in Sundanese Traditional Kitchen) Dindin Samsudin; Aef Saefullah
Sirok Bastra Vol 9, No 2 (2021): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v9i2.316

Abstract

Perkembangan zaman yang berimbas pada perubahan berbagai aspek kehidupan sangat memengaruhi ditinggalkannya bahasa Sunda oleh generasi muda. Jika kenyataan tersebut terus terjadi, tidak menutup kemungkinan dalam beberapa generasi ke depan, bahasa Sunda akan punah. Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah pengetahuan remaja Sunda perkotaaan terhadap kosakata istilah aktivitas rumah tangga di dapur tradisional Sunda. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan penguasaan remaja Sunda perkotaan terhadap kosakata istilah aktivitas rumah tangga di dapur tradisional Sunda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Sampel penelitian dipilih sebanyak 86 orang secara purposive sampling yang berasal dari wilayah Bandung Raya. Teknik analisis data menggunakan statistika deskriptif (crosstab). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan remaja Sunda perkotaaan terhadap kosakata istilah aktivitas rumah tangga di dapur tradisional Sunda mencapai rata-rata 70.5814% sehingga dapat dikategorikan cukup. Terdapat sekelompok remaja Sunda di perkotaan yang mengetahui keseluruhan istilah aktivitas rumah tangga di dapur tradisional Sunda yang ditanyakan, tetapi ada juga kelompok remaja lainnya yang hanya mengetahui beberapa istilah. The development of the times which impacted the changes in various aspects of life, significantly affected the abandonment of the Sunda language by the younger generation. If this fact continues, it is possible that in the next few generations, the Sunda language will become extinct. The problem discussed in this study is the knowledge of urban Sundanese teenagers in the vocabulary of the activities in Sundanese traditional kitchens. This study aims to reveal the mastery of urban Sundanese teenagers in terms of activities in Sundanese traditional kitchens. This study uses a quantitative approach with a survey method. 86 persons from Great Bandung areas were chosen purposively as the research samples. The data analysis technique used descriptive statistics (crosstab). The results showed that the knowledge of urban Sundanese teenagers in terms of household activities in Sundanese traditional kitchen reached an average of 70,5814% so it could be categorized as sufficient. There is a group of urban Sundanese teenagers who know all the terms of household activities in Sundanese traditional kitchens that asked, there is also another group of teenagers who only know a few.
KEKERASAN VERBAL DALAM NASKAH DRAMA “PERANG BANJAR HAMPIR BERAKHIR” KARYA H. ADJIM ARIJADI (Verbal Violence In The Drama Text Of “Perang Banjar Hampir Berakhir” by H. Adjim Arijadi) Annisa Nurshifariani Ahya
Sirok Bastra Vol 9, No 1 (2021): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v9i1.275

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kekerasan verbal yang terdapat pada naskah drama. Kekerasan verbal adalah bentuk kekerasan menggunakan kata-kata yang bisa menyakiti hati seseorang. Penelitian ini berjenis penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Sumber data berupa naskah drama “Perang Banjar Hampir Berakhir” Karya H. Adjim Arijadi dan data berupa kutipan kata dan kalimat dialog dalam naskah drama yang mengandung unsur kekerasan verbal. Teori yang digunakan adalah teori pragmatik tindak tutur direktif dan ekspresif. Teknik pengumpulan data dengan teknik catat, yaitu mencatat hasil temuan kekerasan verbal dalam naskah drama kemudian tahap pengolahan data dilakukan dengan aktivitas reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis, menunjukkan bahwa tuturan yang paling banyak ditemukan yaitu pada tuturan yang mengandung kekerasan verbal bentuk mencela sebanyak 9 tuturan, sedangkan fungsi menolak yang paling banyak ditemukan pada tindak tutur direktif sebanyak 9 tuturan, dan fungsi rasa tidak senang yang paling banyak ditemukan pada tindak tutur ekspresif sebanyak 8 tuturan. This study aims to describe the verbal violence contained in drama scripts. Verbal abuse is a form of violence using words that can hurt someone. This research is a qualitative research with descriptive methods. The data sources are in the form of a drama script “The Banjar War Almost Ending” by H. Adjim Arijadi and the data are quotations of words and dialogue sentences in the drama script that contain elements of verbal violence. The theory used is the pragmatic theory of directive and expressive speech acts. The data collection technique uses note-taking techniques, namely recording the findings of verbal violence in a drama script and then the data processing stage is carried out by data reduction, data presentation, and conclusion drawing. Based on the results of the analysis, it shows that 9 utterances that contain verbal violence in the form of censure are mostly found, while the function of rejecting is mostly found in directive speech acts as many as 9 utterances, and the function of displeasure is mostly found in actions expressive speech in 8 speeches.
REPRESENTASI PEREMPUAN DALAM SASTRA DAN MEDIA SOSIAL: SEBUAH PERBANDINGAN (Female Representation on Literature and Social Media: A Comparison) Resti Nurfaidah
Sirok Bastra Vol 9, No 2 (2021): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v9i2.296

Abstract

Sastra merupakan representasi dari realitas. Dalam sastra kita dapat membandingkan dan menelusuri realitas yang direkonstruksikan. Media sosial merupakan sarana baru pengungkapan jati diri dan kreativitas dalam berbagai rekonstruksi. Berangkat dari telaah kedua data dalam kedua media itu, artikel ini merupakan sebuah telaah bandingan tentang representasi perempuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan berfokus pada representasi rekonstruksi perempuan dalam sastra terutama dalam novel karya Indah Hanaco berjudul Black Angel, The Curse of Beauty: Sexuality Exploitation towards Sales Promotion Girls, Heartling, Out of The Blue, dan Fixing a Broken Heart serta sederet akun TikTok yang diunduh pada periode waktu tertentu. Hal itu dilakukan untuk melihat bagaimana relasi perempuan dengan orang-orang di sekitar lingkungan sosial, bagaimana reaksi yang diterima dari orang sekitar dan lingkungan sosial pada sosok perempuan itu; serta apa dampak yang harus ia terima jika ia tidak dapat menyelaraskan diri dengan konflik atau solusi yang dihadapi. Analisis dilakukan dengan sudut pandang telaah antropologis, mengingat banyaknya aspek kebudayaan yang muncul dalam video TikTok. Hasil penelitian dibagi dalam lima kategori, yaitu perempuan tangguh, perempuan lemah, perempuan alternatif, gaya hidup, dan trauma masa lalu. Literature is a representation of reality. In literature, we can compare and trace the reconstruction of reality. Social media is a new means of expressing identity and creativity in various reconstructions. Based on the study of the two data in the two media, this article is a comparative study of women's representation. This research are qualitative and had been focused on the women's reconstruction in literature, especially a few of Indah Hanaco's novels: Black Angel, The Curse of Beauty: Sexuality Exploitation towards Sales Promotion Girls, Heartling, Out of The Blue, dan Fixing a Broken Heart, and a series of TikTok videos that of a certain period. These questions are how their relationships with their surroundings, and what environment's reactions they received; and what result they will have if cannot reconcile on the conflict or solution. Those data are analyzed by anthropologic perspectives, considering the many cultural aspects that appear in TikTok videos. Results are these five categories: tough women, weak women, alternative women, lifestyle, and post-trauma.
KOLOKIAL BERBAHASA INDONESIA DALAM PERCAKAPAN MAHASISWA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) LHOKSEUMAWE (Indonesian-Language Colloquial Speakers in the Lhokseumawe State Islamic Institute (IAIN) Student Conversation) Muhammad Iqbal; Istiqamah Istiqamah; Riazul Muna
Sirok Bastra Vol 9, No 1 (2021): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v9i1.235

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kolokial berbahasa Indonesia dalam percakapan mahasiswa IAIN Lhokseumawe serta mendeskripsikan ragam kolokial berbahasa Indonesia mahasiswa IAIN Lhokseumawe. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Sumber data penelitian ini adalah mahasiswa IAIN Lhokseumawe. Analisis data menggunakan teknik analisis kualitatif deskriptif menurut pendapat Moleong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa kolokial yang terjadi dalam percakapan mahasiswa IAIN Lhokseumawe adalah bahasa santai yang digunakan sehari-hari ketika berbicara dengan orang lain. Tiga ragam kolokial yang terjadi dalam percakapan mahasiswa IAIN Lhokseumawe meliputi (1) kolokial yang menghilangkan huruf vokal [a], [i], [e], [o], [au], dan [ai]; (2) kolokial yang menghilangkan huruf konsonan [s], [h], [m], dan [k]; dan (3) kolokial yang menghilangkan huruf vokal dan huruf konsonan [ba], [ang], [ka], [id], [gan], [er], [du], [un], [be], [ya], [bagai], dan [te]. The purpose of this study is to describe Indonesian-language colloquials in the IAIN Lhokseumawe students' conversation and describe the Indonesian-language colloquial diversity of IAIN Lhokseumawe students. The method used is a qualitative method with a descriptive approach. The data source of this research is Lhokseumawe IAIN students. Data analysis uses descriptive qualitative analysis techniques in the opinion of Moleong. The results of this study indicate that colloquial language that occurs in IAIN Lhokseumawe students' conversation is a casual language that is used daily when talking to others. Three types of colocials that occur in IAIN Lhokseumawe students' conversations include (a) colloquial which removes vowels [a], [i], [e], [o], [au], and [ai]; (b) colloquial which removes the consonant letters [s], [h], [m], and [k]; and (c) colloquial which removes vowels and consonants of [ba], [ang], [ka], [id], [gan], [er], [du], [un], [be], [ya], [bagai], and [te].
Preference Sirok Bastra
Sirok Bastra Vol 7, No 2 (2019): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v7i2.185

Abstract

LEKSIKON PERBURUAN SUKU DAYAK MERATUS: KAJIAN ETNOLINGUISTIK (Hunting Lexicon of Dayak Meratus Tribe: Ethnolinguistic Study) Derri Ris Riana
Sirok Bastra Vol 7, No 2 (2019): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v7i2.167

Abstract

AbstrakHutan bagi suku Dayak Meratus merupakan sumber penghidupan. Untuk memanfaatkan sumber daya alam, kegiatan berburu dilakukan dengan menggunakan teknik berburu dengan alat-alat tradisional yang dibuat khusus. Teknik tersebut tampak pada leksikon perburuan masyarakat suku Dayak Meratus. Masalah dalam tulisan ini adalah bagaimana makna leksikal dan makna kultural leksikon perburuan suku Dayak Meratus dan bagaimana fungsi leksikon perburuan suku Dayak Meratus. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna leksikal dan makna kultural leksikon perburuan suku Dayak Meratus, dan mendeskripsikan fungsi leksikon perburuan suku Dayak Meratus melalui bahasa yang digunakan dalam cerita rakyat. Teknik analisis data dilakukan dengan cara struktural dan etnolinguistik terhadap leksikon yang digunakan dalam perburuan suku Dayak Meratus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna leksikal dan makna kultural leksikon perburuan suku Dayak Meratus mencakup tiga hal, yaitu berkaitan dengan alat yang digunakan, hasil buruan, dan aktivitas pemburu. Sementara itu, fungsi penggunaan leksikon perburuan suku Dayak Meratus adalah sebagai wujud untuk melestarikan hutan, memanfaatkan sumber daya alam, dan menggunakan alat berburu tradisional.Kata kunci: perburuan, makna leksikal, makna kultural, etnolinguistik, Dayak Meratus AbstractForest for the Meratus Dayak tribe is a source of livelihood. To utilize natural resources, hunting activities are carried out using hunting techniques with traditional tools made specifically. The techniques are seen in the hunting lexicon of the Meratus Dayak tribe. The problems in this paper are how the lexical meaning and cultural meaning of the hunting lexicon of Dayak Meratus tribe are and how the function of the Dayak Meratus tribe lexicon are. This paper aims to describe the lexical meaning and cultural meaning of the Dayak Meratus tribe lexicon hunting and describe the function of the Dayak Meratus tribe hunting lexicon through the language used in folklore. The data analysis technique was carried out by structural and ethnolinguistic methods of the lexicon used in the hunting of the Meratus Dayak tribe. The results show that the lexical meaning and the cultural meaning of the Dayak Meratus hunting lexicon include three things, which are related to the tools used, hunting results, and hunter activities. Meanwhile, the function of the use of the Dayak Meratus tribe hunting lexicon is as a form of conserving forests, utilizing natural resources, and using traditional hunting tools.Keywords: hunting, lexical meaning, cultural meaning, ethnolinguistic, Meratus Dayak
CIRI MORFOSEMANTIK AFIKS DERIVASIONAL {ME(N)-} DALAM KONSTRUKSI VERBA DENUMERAL BAHASA INDONESIA (Morphosemantic Features of Derivational Affix {Me(N)-} in The Indonesian Denumeral Verb Constructions) Danang Satria Nugraha
Sirok Bastra Vol 9, No 2 (2021): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v9i2.317

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan ciri-ciri morfosemantik afiks derivasional {me(N)-} dalam konstruksi verba denumeralia bahasa Indonesia (bI). Konstruksi verba denumeralia dipahami sebagai kata kerja derivasional atau verba turunan. Sebagai konstruksi derivasional, sumber asal verba denumeralia adalah kata bilangan atau numeralia. Beberapa contoh konstruksi dalam bI antara lain (a) {menyatu} seperti dalam klausa “setiap reaksi hidup kita akan menyatu dengan Firman-Nya” dan (b) {mendua} seperti dalam klausa “banyak kata yang kini artinya mendua”. Data dalam penelitian ini berupa konstruksi verba denumeralia berpemarkah afiks {me(N)-}. Sumber data adalah korpus bI dengan identitas Leipzig Corpora Collection dengan alamat https://corpora.uni-leipzig.de/en?corpusId=ind_mixed_2013. Data dikumpulkan melalui teknik korpus. Data dianalisis berdasarkan teknik bagi unsur langsung dengan mengacu pada teori Morfologi Derivasional (Lieber, 2017) dan Semantik Transposisional (Lieber, 2015). Berdasarkan analisis, dihasilkan dua temuan sebagai berikut. Pertama, secara umum afiks derivasional {me(N)-} berstatus sebagai pembawa ciri morfosemantik pada proses derivasi numeralia ke dalam verba. Tanpa kehadiran afiks {me(N)-}, ciri-ciri verba tidak dapat disematkan pada numeralia. Kedua, secara khusus, konstruksi verba denumeralia berpemarkah {me(N)-} memiliki kecenderungan untuk (a) menderivasikan numeralia kardinal baik takrif maupun tak takrif, (b) membentuk tipe semantis verba ‘proses’ dan makna gramatikal “X menjadi Y”, dan (c) memberikan status peran ‘pengalam’ pada argumen letak kiri yang menyertai VDnum. Sebagai simpulan, dapat dinyatakan bahwa ciri morfosemantik afiks derivasional {me(N)-} dalam konstruksi VDnum tercipta melalui proses morfologi derivasional. Ciri tersebut dapat dideskripsikan ketika afiks {me(N)-} berdistribusi secara lengkap bersama numeralia kardinal dalam suatu konstituen verba bI. This study aims to describe the morphosemantic characteristics of derivational affix {me(N)-} in the construction of Indonesian denumeral verbs (bI). Denumeral verb construction is understood as a verb or derived verb. As a derivational construction, the source of the origin of denumeral verbs is the word number or numeralia. Some examples of constructions in bI include (a) uniting as in the clause that every reaction of our lives will unite with His Word and (b) ambiguity as in the clause of many words which now have two meanings. The data in this study are denumeral verb constructions with affix mark {me(N)-}. The data source is the bI corpus with the identity of the Leipzig Corpora Collection with the address https://corpora.uni-leipzig.de/en?corpusId=ind_mixed_2013. Data were collected through the corpus technique. The data were analyzed based on the technique for direct elements regarding the theory of Derivational Morphology (Lieber, 2017) and Semantics of Transposition (Lieber, 2015). Based on the analysis, two findings were produced as follows. First, in general, derivational affixes {me(N)-} have the status as carriers of morphosemantic characteristics in the derivation process of numerals into verbs. Signs of the presence of affixes {me(N)-}, verb characteristics cannot be attached to numerals. ralia. Second, in particular, the construction of denumeral verbs marked with {me(N)-} tends to (a) derive cardinal numerals both indicative and non-descriptive, (b) form the semantic type of the verb 'process' and the grammatical meaning of "x menjadi Y, and (c) assigns the role state 'experience' to the left position argument accompanying veba. In conclusion, it can be stated that the morphosemantic characteristics of derivational affix {me(N)-} in the construction of denumeral verbs are created through a derivational morphological process. These characteristics can be described when the affix {me(N)-} is completely distributed with cardinal numerals in a constituent verb of bI.
THE USE OF DEIXIS IN WONDER WOMAN MOVIE (Penggunaan Deiksis dalam Film Wonder Woman) Didin Nuruddin Hidayat; Leny Hikmah Rentiana; Alek Alek; Yudi Septiawan
Sirok Bastra Vol 9, No 1 (2021): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v9i1.276

Abstract

This research analyzes the use of deixis in the Wonder Woman script. It describes the types and the deixis in the Wonder Woman script performed by both the actors and the actresses. A qualitative method employing a descriptive analysis design was utilized. The data source of this research was collected by downloading the movie script from YouTube. The data were observed, transcribed, and categorized into some types of deixis. The result showed five kinds of deixis performed in the Wonder Woman movie: first person, second person, third person, temporal, and discourse. The research concluded that the most performed deixis to the least one in the Wonder Woman movie is the first-person deixis, followed by second-person deixis, discourse deixis, third-person deixis, and temporal deixis. Substantially, this research had shown that film also used deixis as its speech type related to the communication done in the real world, although the film used in this study, Wonder Woman movie, was a fictional one. Penelitian ini menganalisis penggunaan deiksis dalam naskah film Wonder Woman. Penelitian bertujuan mendeskripsikan tipe dan deiksis dalam naskah film Wonder Woman yang diujarkan oleh aktor maupun aktris. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain analisis deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan mengunduh naskah film dari YouTube. Data diamati, ditranskrip, dan dikategorikan ke dalam beberapa jenis deiksis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada lima macam deiksis yang terdapat dalam film Wonder Woman: orang pertama, orang kedua, orang ketiga, temporal, dan wacana. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa deiksis yang paling banyak muncul dalam film Wonder Woman adalah deiksis orang pertama, diikuti oleh deiksis orang kedua, deiksis wacana, deiksis orang ketiga, dan deiksis temporal. Secara substansial, penelitian ini menunjukkan bahwa film ini juga menggunakan deiksis sebagai jenis tuturannya terkait dengan komunikasi yang dilakukan di dunia nyata meskipun film yang digunakan dalam penelitian adalah film fiksi.
REPRESENTASI KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT BANGKA DALAM CERITA RAKYAT BANDAR AKEK ANTAK (Representation of Bangkanese People Local Wisdom in Bandar Akek Antak Story) Nurjanah Nurjanah; Yurdayanti Yurdayanti
Sirok Bastra Vol 7, No 2 (2019): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v7i2.179

Abstract

AbstrakTujuan penelitian untuk mengetahui representasi kearifan lokal masyarakat Bangka melalui cerita rakyat Bandar Akek Antak. Pendekatan peneltian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deangan menggunakan kajian struktural. Penelitian ini bersifat deskriptif karena data yang dikumpulkan berbentuk kata atau gambar. Data dalam penelitian kualitatif berupa teks cerita rakyat Bandar Akek Antak. Pendekatan kualitatif digunakan agar dapat mengungkap kearifan lokal masyarakat Bangka yang tersurat maupun tersirat dari cerita rakyat Bandar Akek Antak. Hasil analisis meliputi dua tingkat yakni analisis struktural cerita rakyat dan analisis representasi kearifan lokal. Terdapat struktur plot, sudut pandang, latar, serta penokohan. Representasi kearifan lokal masyarakat Bangka dalam cerita Bandar Akek Antak digambarkan dengan sikap pekerja keras dalam berkebun, melakukan musyawarah mufakat dalam menyelesaikan masalah melalui karakter tokoh Antak sebagai tokoh utama dan karakter tokoh lainnya. Nilai pendidikan karakter terdapat dalam cerita Bandar Akek Antak yakni karakter religius, jujur, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, serta tanggung jawab.Kata kunci: kearifan lokal, cerita rakyat, struktural AbstractThe research objective is to study the representation of local wisdom of the Bangkanese people through the folklore of Bandar Akek Antak. The research assessment used is a qualitative review using structural structure studies. This study describes descriptive, presented thus because the data collected in the form of words or images. The data in this qualitative research are in the form of Bandar Akek Antak folklore text. Qualitative guidelines are used with the aim of expressing the local wisdom of the Bangka people expressed or implied by the Bandar Akek Antak folklore with structural studies. The results of the analysis include two levels of analysis namely structural analysis of folklore and analysis of representation of local wisdom. There is a plot structure, point of view, setting, and characterization. Representation of local wisdom of the Bangka people in the Bandar Akek Antakutih story with the attitude of hard workers in gardening, holding consensus in solving problems through Antak's character as the main character and other characters. The value of character education contained in the Bandar Akek Antak story is religious, honest, disciplined, hard working, creative, independent, and responsible.Keywords: local wisdom, folklore, structural
CITRA PEREMPUAN DALAM KUMPULAN PUISI MILK AND HONEY (Image of Women in Milk and Honey Poetry) Adella Rizkia; Dadan Rusmana; Resti Nurfaidah; Rini Widiastuti
Sirok Bastra Vol 9, No 2 (2021): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v9i2.303

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan mengidentifikasi citra perempuan pada kumpulan puisi Milk and Honey karya Rupi Kaur. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan menggunakan kritik sastra feminisme. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik simak catat. Sedangkan tahapan penelitian data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis data. Citra perempuan diklasifikasikan menjadi tiga aspek, yaitu fisik, psikis, dan sosial. Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa citra perempuan tidak hanya memberikan gambaran mengenai tingkah laku, mental, dan sosial perempuan, tetapi juga memperlihatkan gambaran mengenai berbagai permasalahan yang dihadapi perempuan di dalam masyarakat patriarki. The purpose of this study was to describe and identify the image of women in the collection of poetry Milk and Honey by Rupi Kaur. The research method used is a qualitative method using feminist literary criticism. The data collection technique was carried out using the note-taking technique. While the data research stages are carried out using data analysis techniques. The image of women is classified into three aspects, namely physical, psychological, and social. The results of the research and discussion show that the image of women not only provides an overview of women's behavior, mental and social, but also shows an overview of the various problems faced by women in a patriarchal society.