cover
Contact Name
Prima Hariyanto
Contact Email
patriyawhura@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
patriyawhura@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bangka tengah,
Kepulauan bangka belitung
INDONESIA
Sirok Bastra
ISSN : 23547200     EISSN : 26212013     DOI : -
SIROK BASTRA is a journal which publishes language literature and language literature education research, either Indonesian, local, or foreign research. All articles in SIROK BASTRA have passed the reviewing process by peer reviewers and edited by editors. SIROK BASTRA is published by Kantor Bahasa Kepulauan Bangka Belitung twice times a year, in June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 220 Documents
REPRESENTASI IDEOLOGI PESANTREN DALAM CERPEN KANG MAKSUM KARYA A. MUSTOFA BISRI (Representation of Pesantren Ideology in Kang Maksum Short Story by A. Mustofa Bisri) Yuliadi M. R.
Sirok Bastra Vol 7, No 2 (2019): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v7i2.165

Abstract

AbstrakRepresentasi ideologi pesantren dalam cerpen Kang Maksum karya A. Mustofa Bisri dianalisis menggunakan teori representasi dan makna diungkap dengan menggunakan teori semiotik. Penelitian ini bertujuan mengungkapkan representasi ideologi pesantren yang membangun makna tentang kehidupan pesantren dalam cerpen Kang Maksum. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif. Metode deskriptif digunakan sebagai prosedur pemecahan masalah yang sedang diselidiki dengan pemahaman dan penafsiran dalam pandangan Teori Semiotik Saussure berdasarkan fakta yang didapat dalam teks. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam cerpen Kang Maksum Karya A. Mustofa Bisri didapat representasi santri ideal, representasi pendidikan Islami, dan makna representasi ideologi pesantren sebagai suatu kehidupan Islami dalam dunia pendidikan.Kata kunci: representasi, pesantren, ideologi AbstractThe representation of pesantren ideology in the short story of Kang Maksum by A. Mustofa Bisri analyzed using representation theory and semiotic theory to reveal the meaning of the story. This study aims to reveal the representation of pesantren ideology that builds meaning about life in pesantren in Kang Maksum short story. The research method using descriptive methods as a problem solving procedure that being investigated with understanding and interpretation in the Saussure's semiotic theory based on facts obtained in the text. The analysis showed that in the short story of Kang Maksum by A. Mustofa Bisri obtained an ideal santri representation, representation of Islamic education, and the meaning of Islamic boarding school ideology as Islamic teaching in the world of education.Keyword: representation, pesantren, ideology
KONSTRUKSI INGATAN BUDAYA DAN IDENTITAS PAHLAWAN NASIONAL DALAM KARYA SASTRA SEBAGAI BUDAYA MATERIAL (The Construction of Cultural Memory and Identity of National Heroes in Literary Works as Material Culture) Cut Novita Srikandi
Sirok Bastra Vol 7, No 2 (2019): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v7i2.184

Abstract

AbstrakKajian tentang ingatan budaya menekankan bahwa ingatan kita ternyata sangat selektif. Ingatan budaya dapat dikomunikasikan melalui media tertentu. Media-media tersebut dapat berupa bentuk budaya material yang paling dasar misalnya pidato lisan, cerita kakek tentang masa lalu, dan dapat pula berupa budaya material yang biasanya memiliki wujud dan beroperasi melalui sistem simbolik seperti monumen, foto sejarah, lukisan, film dokumenter, novel historis, dan bangunan-bangunan sejarah. Dengan demikian, karya sastra dapat ditempatkan sebagai salah satu budaya material. Mengingat eratnya keterkaitan ingatan budaya dengan budaya material, tulisan ini berupaya mengungkap bagaimana budaya material dan pembentukan ingatan budaya dapat menjadi kajian yang menarik dalam penelitian sastra. Tulisan ini mengungkap bagaimana representasi ingatan budaya tokoh pahlawan nasional di dalam berbagai budaya material, termasuk karya sastra. Representasi ini terkait dengan identitas budaya tokoh pahlawan nasional tersebut yang menjadi bagian dari ingatan budaya masyarakat Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapatnya perbedaan yang cukup siginfikan dalam representasi tokoh pahlawan nasional dalam masing-masing budaya material, terkait identitas budaya yang dihadirkan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ‘cara mengingat’ mempengaruhi pembentukan budaya material termasuk karya sastra dan identitas budaya terhadap tokoh pahlawan nasional yang pernah hidup di suatu masa.Kata kunci: budaya material, ingatan budaya, penelitian sastra sejarah, konstruksi identitas AbstractThe focus of cultural memory studies emphasizes on our selective memory. Cultural memory would be communicated by certain media. These media can These media can be the most basic forms of material culture such as oral speech, grandfather's story about the past, and can also be a material culture that usually has a form and operates through a symbolic system such as monuments, historical photographs, paintings, documentaries, historical novels, and historical buildings. Thus, literary works can be placed as one of material culture. Considering the close relationship between cultural memories and material culture, this paper seeks to reveal how material culture and the formation of cultural memories can be interesting studies in literary research. This paper will reveal how the cultural memory representation of national hero figures in various material cultures, including literary works. This representation is related to the cultural identity of the national hero who takes part of the cultural memories of the Indonesian people. The results showed that there were significant differences in the representation of national hero figures in each material culture, related to the cultural identity presented. Thus, it can be concluded that the 'way of remembering' influences the formation of material culture including literary works and cultural identity of national hero figures who have lived at a time.Keywords: material culture, cultural memory, the research of historical literature, identity construction
PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA MENGKRITIK/MEMUJI BERBAGAI KARYA (SENI/PRODUK) DENGAN BAHASA LUGAS DAN SANTUN (The Use of Image Media in Increasing The Ability of Students to Criticize/Promote Various Works [Art/Products] with Labor and Helpful Language) Sakila Sakila
Sirok Bastra Vol 7, No 2 (2019): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v7i2.172

Abstract

AbstrakPenelitian ini mengkaji penggunaan media gambar sebagai strategi mengajar mengkritik/memuji berbagai karya seni produk dengan bahasa lugas dan santun. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penggunaan media gambar sebagai strategi mengajar mengkritik/memuji berbagai karya seni produk dengan bahasa lugas dan santun. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimanakah penggunaan media gambar sebagai strategi mengajar mengkritik/memuji berbagai karya seni produk dengan bahasa lugas dan santun. Proses pengumpulan data dilakukan dengan metode studi kepustakaan. Data penelitian berupa data tulis, yang terkumpul diseleksi dan diurutkan sesuai dengan topik kajian. Kemudian dilakukan penyusunan karya tulis berdasarkan data yang telah dipersiapkan secara logis dan sistematis. Teknik analisis data bersifat deskriptif argumentatif. Berdasarkan analisis data disimpulkan bahwa dengan menggunakan media gambar dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam pembelajaran mengkritik/memuji berbagai karya seni produk dengan bahasa lugas dan santun. Berdasarkan hal tersebut, disarankan agar guru dapat menggunakan media gambar sebagai strategi mengajar mengkritik/memuji berbagai karya seni produk dengan bahasa yang lugas dan santun.Kata Kunci: media, pembelajaran, memuji, mengkritik, karya AbstractThis study examines the use of image media as a teaching strategy to criticize / praise various product artworks with straightforward and polite language. The purpose of this study was to describe the use of image media as a teaching strategy to criticize / praise various product artworks with straightforward and polite language. The formulation of the problem in this study is how the use of image media as a teaching strategy criticizes / praises various product art works with straightforward and polite language. The data collection process is carried out using the literature study method. Research data in the form of written data, which is collected is selected and sorted according to the topic of study. Then the preparation of the paper is based on data that has been prepared logically and systematically. Data analysis techniques are argumentative descriptive. Based on the data analysis, it was concluded that using image media could improve students' ability in learning to criticize / praise various art products with straightforward and polite language. Based on this, it is recommended that teachers can use picture media as a teaching strategy to criticize / praise various product art works with straightforward and polite language.Keywords: media, learning, praising, criticizing, works
AKRONIM DAN BENTUK PANJANG DALAM SUSUNAN ORGANISASI DAN SATUAN KERJA PADA TINGKAT MARKAS BESAR KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA Rima Gustiar Nadhia Putri
Sirok Bastra Vol 3, No 1 (2015): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v3i1.50

Abstract

Tulisan ini membahas pola pengekalan bentuk akronim dalam susunan organisasi dan satuan kerja Mabes Polri. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan pola pengekalan pada bentuk panjang akronim berdasarkan jenis kata di dalam bentuk panjang akronimnya. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk memudahkan penulisan serta pembentukan akronim dalam Kepolisian Negara Republik Indonesia berdasarkan jenis kata dari kata yang ingin dikekalkan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan metode penulisan deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa bentuk panjang dalam akronim dapat dibagi menjadi dua jenis kata, yaitu monomorfemis dan polimorfemis. Jenis kata inilah yang membedakan pembentukan pengekalan kata dalam sebuah akronim. Pada jenis kata monomorfemis ditemukan 17 tipe pengekalan dan jenis kata polimorfemis ditemukan 2 tipe pengekalan.
ANDEI-ANDEI RADINDO ASO DAN BAGINDO ASO: PENDEKATAN MORFOLOGIS VLADIMIR PROPP Sarman Sarman
Sirok Bastra Vol 3, No 2 (2015): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v3i2.64

Abstract

Saat ini, sebagai salah satu produk kebudayaan, sastra lisan kurang mendapat tempat di dalam masyarakat pemiliknya. Padahal, sastra lisan banyak memuat nilai-nilai kearifan lokal yang pada zamannya menjadi tuntunan dan pedoman hidup. Salah satu masyarakat di Pulau Bangka yang masih mengenal kearifan lokal adalah suku Jerieng yang berada di Kampung Kundi. Mereka memiliki berbagai kekayaan sastra lisan. Salah satunya adalah “Andei-Andei Radindo Aso dan Bagindo Aso”. Dalam tulisan ini, sastra lisan tersebut dikaji melalui pendekatan morfologis Vladimir Propp. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fungsi dan peranan tokoh dalam “Andei-Andei Radindo Aso dan Bagindo Aso”. Metode yang digunakan adalah metode deskriftif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh dalam sastra lisan ini memiliki tiga belas fungsi dan peranannya masing-masing, yakni absentation, mediation, vilainy,  first function of the donor, guidance, strugle, return, unfounded claims dificult task, solution, dan transfiguration. Peranan tokohnya adalah the villain, the donor, the dispatcher, dan the false hero. “Andei-Andei Radindo Aso dan Bagindo Aso” menjadi cerita yang melegenda dan dianggap sebagai asal usul nenek moyang masyarakat Jerieng.
DISKRIMINASI KELAS DAN GENDER DALAM NOVEL KASTA KARYA WITRI PRASETYO AJI Dara Windiyarti
Sirok Bastra Vol 8, No 1 (2020): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v8i1.202

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkapkan diskriminasi kelas dan gender dalam novel Kastakarya Witri Prasetyo Aji yang diterbitkan pada tahun 2017 oleh Bhuana Sastra, Jakarta. Tokoh perempuan bernama Ida Ayu Made Maharani (Rani) merupakan subjek yang digunakan pengarang untuk menggugat ketidakadilan atau diskriminasi kelas dan gender yang hidup dalam masyarakat Bali. Diskriminasi kelas dan gender yang dialami tokoh Rani adalah bahwa ia harus meninggalkan kekasihnya yang berbeda kelas (kasta) dan menikah dengan laki-laki yang sederajat demi mempertahankan kadar kebangsawanannya. Namun faktanya, ia harus menderita karena ia adalah perempuan (istri) yang dianggap tidak memiliki hak yang sama dengan laki-laki (suami). Sementara, kadar kebangsawanan juga tidak menjamin kemuliaan moral seseorang. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori feminisme. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik kepustakaan. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah deskriptif analisis dengan pendekatan feminis. Berdasarkan hasil pembacaan kritis dengan pendekatan feminisme kultural diperoleh kesimpulan bahwa perempuan Bali melalui tokoh utama perempuan dalam novel tersebut berupaya melakukan resistensi terhadap dominasi patriarki yang berlaku terhadap diri mereka.  The purpose of this study is to reveal class and gender discrimination in the Kasta novel by Witri Prasetyo Aji published in 2017 by Bhuana Sastra, Jakarta. A female figure named Ida Ayu Made Maharani (Rani) is a subject used by the author to challenge injustice or class and gender discrimination living in Balinese society. Class and gender discrimination experienced by the character Rani is that he must leave his beloved of a different class (caste) and marry a man who is equal in order to maintain his level of nobility. But the fact is, she must suffer because she is a woman (wife) who is deemed not to have the same rights as a man (husband). Meanwhile, nobility also does not guarantee one's moral dignity. The theory used in this research is the theory of feminism. Data collection is done using library techniques. The method used in this study is descriptive analysis with feminist approach. Based on the results of the critical reading using the cultural feminism approach, it was concluded that Balinese women through the main female characters in the novel sought to resist the patriarchal domination that prevailed against them.
Preference Sirok Bastra
Sirok Bastra Vol 8, No 1 (2020): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v8i1.234

Abstract

PERMAINAN BUNYI DALAM PENCIPTAAN HUMOR KOMIK @TAHILALATS DI INSTAGRAM Habib Safillah Akbariski
Sirok Bastra Vol 8, No 1 (2020): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v8i1.193

Abstract

Manusia disebut sebagai homo ludens yang artinya manusia adalah seorang pemain, termasuk memainkan bahasa secara kreatif dalam pelbagai situasi dan kondisi. Dalam hal ini, permainan bahasa yang dimaksud adalah permainan bunyi yang dimanfaatkan untuk menciptakan humor. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan empat hal. Pertama, teknik permainan bunyi yang digunakan dalam membangun humor komik Tahilalats. Kedua, cara bunyi tersebut membangun humor dalam komik @Tahilalats. Ketiga, interpretasi penggunaan teknik permainan bunyi. Keempat, memaparkan model tuturan dalam komik @Tahilalats. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 90 edisi komik @Tahilalats yang dianalisis terdapat 129 data permainan bunyi. Teknik permainan bunyi dalam komik @Tahilalats terdiri atas 10 jenis teknik yang apabila dipecah dapat menjadi 15 teknik. Proses bunyi dalam membangun humor bergantung pada masing-masing teknik yang diterapkan dalam komik. Interpretasi data menunjukkan bahwa teknik substitusi merupakan teknik yang paling banyak dimanfaatkan dalam komik @Tahilalats. Model tuturan dalam komik ini dirumuskan berdasarkan teori SPEAKING oleh Dell Hymes dengan memanfaatkan aspek ends, act, dan key. Komik @Tahilalats memanfaatkan aspek verbal-nonverbal dan bunyi segmental-suprasegmental dalam penciptaan humor dan tuturan.  Mankind called as homo ludens means a player who plays the game, it is included creatively playing the language in certain terms and conditions. Language game refers to the sound change for the sake of humor. This research aims to define four points. Firstly, sound change techniques build humorous materials in @Tahilalats comic. Secondly, identifying the process of the sound builds the humorous materials in @Tahilalats comic. Thirdly, interpretating the use of language games' technique. Lastly, explaining  the type of information in @Tahilalats comic. This research use qualitative description research as its method. The result shows that there are 129 sound change data from 90 editions of @Tahilalats comic.  The techniques of @Tahilalats comic consisted of 10 types which will be differed into 15 techniques. The process of humor building depends on each type of techniques which are applied in the comic. The data interpretation shows substitution technique is the most common technique used in the @Tahilalats comic. Information model in this comic is formulated into SPEAKING theory by Dell Hymes included aspects; ends; act; and key. @Tahilalats comic utilizes verbal-nonverbal information and segmental-suprasegmental sound in humor and information building.
KONSTRUKSI SEPADAN DAN TAK SEPADAN ANTARA LARIK SAMPIRAN DAN LARIK ISI SEBUAH PANTUN Hidayatul Astar
Sirok Bastra Vol 8, No 1 (2020): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v8i1.201

Abstract

Pantun merupakan salah satu puisi lama Melayu yang memiliki ciri keindahan atau keteraturan bahasanya. Banyak tulisan yang telah membahas hal tersebut, tetapi belum ada yang membahas secara lebih spesifik dari sisi konstruksi sepadan dan tak sepadan antara larik sampiran pertama (S-1) dan isi pertama (I-1) dan antara larik sampiran kedua (S-2) dan isi kedua (I-2). Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Konsepsi tentang linguistik struktural hubungan sintagmatik yang dikemukan Robins (1992) dan konsepsi Alwi et.al. (2017) tentang unsur kalimat, fungsi sintaksis, susunan unsur, dan jenis kalimat menjadi acuan analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada tiga bentuk konstruksi pantun. Dari 100 pantun yang diteliti, 39 pantun atau 39% berkonstruksi sepadan penuh, 41 atau 41% berkonstruksi sepadan sebagian, dan 20 atau 20% berkonstruksi tak sepadan. Ketiga kategori konstruksi tersebut ditandai oleh ciri-ciri tertentu. Pantun kategori pertama ditandai oleh jumlah unsur, jumlah kata, fungsi sintaksis, susunan unsur, dan jenis kalimat yang sama; pantun kategori kedua ditandai oleh kesamaan dan ketaksamaan kelima aspek tersebut; pantun kategori ketiga ditandai oleh jumlah unsur dan fungsi sintaksis yang tak sama dan susunan unsur dan jenis kalimat yang sama dan tak sama. Pantun berkonstruksi sepadan lebih indah atau lebih teratur bahasanya daripada yang tak sepadan dan dapat menjadi acuan ketika berpantun. Pantun is one of the old Malay poems which has a characteristic of regularity of language. The beauty of pantun language has been discussed in many writings, but no one has discussed more specifically in term of its construction. This article discusses the form construction between the first sampiran lines (S-1) and the first content (I-1) and between the second sampiran lines (S-2) and the second content (I-2) of a pantun. The method used is descriptive qualitative method. A reference for data analysis is followed the conception of structural linguistics of syntagmatic relations proposed by Robins (1992) and Alwi et.al. (2017) specially syntactic elements, syntactic functions, sequence of elements, and type of sentence. The results of this study to show that there are three construction of pantun. Out of 100 pantun studied, 39 or 39% had full commensurate construction, 41 or 41% had partially commensurate construction, and 20 or 20% had incommensurate construction. All three construction kategories are marked by certain charecteristics. The first pantun kategories is characterized by the number of elements, number of words, syntactic functions, sequence of elements, and type of sentence of the same. The second pantun kategories is characterized by all five aspects of the same and not.The third pantun kategories is characterized by the number of elements and syntactic functions that are not the same and the sequence of elements and type of sentence of the same and not. Pantuns with commensurate constructions are more beautiful than pantuns that incommensurate and can be reference.
VARIASI FONOLOGI DAN LEKSIKAL DIALEK MERANGIN DI DESA BUNGOTANJUNG, KAMPUNGLIMO, DAN SUNGAIJERING KECAMATAN PANGKALANJAMBU Rengki Afria; Mailani Muadzimah Lijawahirinisa
Sirok Bastra Vol 8, No 1 (2020): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v8i1.197

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan variasi fonologi dan leksikal dialek Merangin di Desa Bungotanjung, Kampunglimo, dan Sungaijering (TP) Kecamatan Pangkalanjambu (DP). Penelitian ini perlu dilakukan untuk mendeskripsikan situasi kebahasaan di DP berdasarkan penghitungan dialektometri. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif-kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui metode cakap, simak, rekam, dan catat. Sumber data berasal dari bahasa Melayu dialek Merangin. Data berupa 200 kosakata Swadesh. Metode analisis data adalah metode padan dan metode dialektometri. Hasil perbandingan titik pengamatan ditemukan variasi fonologi didapatkan 1% (2 varian) pada TP1-TP2, 2% (4 varian) pada TP2-TP3, dan 2,5% (5 varian ) pada TP3-TP1. Sementara, variasi leksikal didapatkan 22 varian atau 11% pada TP1-TP2, 28 varian atau 14% pada TP2-TP3, dan 28 varian atau 14% pada TP3-TP1. Hasil variasi fonologi dan leksikal tersebut menunjukkan status kebahasaan tidak ada perbedaan. Hal tersebut dipengaruhi oleh faktor pertahanan identitas bahasa/dialek, prestise pemakaian bahasa/dialek, faktor kekeluargaan, faktor budaya dan faktor sosial. Oleh karena itu, penelitian ini telah mengidentifikasi bahwa isolek Pangkalanjambu merupakan bagian dari bahasa Melayu, dialek Merangin. This study aims to describe the phonological and lexical variations of the Merangin dialect in the villages of Bungotanjung, Kampunglimo, and Sungaijering (TP), Pangkalanjambu District (DP). This research needs to be done to describe the linguistic situation in DP based on dialectometric calculations. The research method uses descriptive quantitative-qualitative methods. Data collection using a method of proficient, consider, and record. The data source is Malay language in Merangin dialect. Data in the form of 200 Swadesh vocabulary’s. Data analysis is matching and dialectometry method. The results of comparison of observation points found phonological variation found 1% (2 variants) on TP1-TP2, 2% (4 variants) on TP2-TP3, and 2.5% (5 variants) on TP3-TP1. Meanwhile, lexical variation found 22 variants or 11% in TP1-TP2, 28 variants or 14% in TP2-TP3, and 28 variants or 14% in TP3-TP1. The results of phonological and lexical variations show that there is no difference in linguistic status. This is influenced by language/dialect identity defense factors, prestige of language/dialect usage, family factors, cultural factors and social factors. Therefore, this study has identified that the Pangkalanjambu isolect is part of the Malay language, Merangin dialect.