cover
Contact Name
Prima Hariyanto
Contact Email
patriyawhura@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
patriyawhura@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bangka tengah,
Kepulauan bangka belitung
INDONESIA
Sirok Bastra
ISSN : 23547200     EISSN : 26212013     DOI : -
SIROK BASTRA is a journal which publishes language literature and language literature education research, either Indonesian, local, or foreign research. All articles in SIROK BASTRA have passed the reviewing process by peer reviewers and edited by editors. SIROK BASTRA is published by Kantor Bahasa Kepulauan Bangka Belitung twice times a year, in June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 220 Documents
STRUKTUR DAN FUNGSI MANTRA HIDU-MAHIDU TATAMBA ANAK PADA MASYARAKAT DAYAK BAKUMPAI Hestiyana Hestiyana
Sirok Bastra Vol 8, No 2 (2020): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v8i2.253

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan struktur dan fungsi mantra hidu-mahidu tatamba anak pada masyarakat Dayak Bakumpai. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan struktural semiotik. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data primer dan sekunder. Data penelitian ini adalah tuturan-tuturan dalam mantra hidu-mahidu tatamba anak masyarakat Dayak Bakumpai yang berupa kata, frasa, kalimat, dan ungkapan dalam mantra tersebut. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini, yaitu teknik observasi, teknik wawancara tidak terarah, dan teknik studi pustaka. Dari hasil analisis, ditemukan bahwa struktur mantra hidu-mahidu tatamba anak terdiri atas diksi dan imajinasi. Diksi yang terdapat dalam mantra hidu-mahidu tatamba anak meliputi kata umum dan kata khusus. Imajinasi yang terdapat dalam mantra hidu-mahidu tatamba anak meliputi (1) imajinasi visual, (2) imajinasi auditif, dan (3) imajinasi taktil. Fungsi yang terdapat dalam mantra hidu-mahidu tatamba anak meliputi (1) fungsi sebagai sistem proyeksi (projective system); (2) sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan; (3) sebagai alat pendidikan anak (pedagogical device); dan (4) sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi anggota kolektifnya.This study aims to describe the structure and function of the mantra hidu-mahidu tatamba anak in Dayak Bakumpai community. The method used in this research is descriptive qualitative with a semiotic structural approach. Sources of data used in this study are primary and secondary data sources. The data of this research are the utterances in the mantra hidu-mahidu tatamba anak of the Dayak Bakumpai community, in the form of words, phrases, sentences, and expressions in the mantra. Data collection techniques in this study, namely observation techniques, unfocused interview techniques, and literature study techniques. From the analysis, it was found that the structure of the mantra hidu-mahidu tatamba anak consisted of diction and imagination. The diction contained in the mantra hidu-mahidu includes general words and special words. The imagination contained in the mantra hidu-mahidu tatamba anak includes (1) visual imagination, (2) auditive imagination, and (3) tactile imagination. Meanwhile, the functions contained in the mantra hidu-mahidu tatamba anak include (1) function as a projective system; (2) as a means of ratifying cultural institutions and institutions; (3) as a pedagogical device; and (4) as a means of coercion and supervision so that the norms of society will always be obeyed by their collective members. 
BAHASA MELAYU: ANTARA BARUS DAN MALAKA Sahril Sahril
Sirok Bastra Vol 8, No 2 (2020): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v8i2.206

Abstract

Topik mengenai asal-usul bahasa Melayu sudah diperbincangkan bahkan jauh sebelum NKRI ada. Umumnya, para ahli bersepakat bahwa bahasa Melayu di Nusantara ini berasal dari masa Kerajaan Sriwijaya (Melayu Kuno) dan Kesultanan Malaka untuk bahasa Melayu baru. Kajian ini berusaha membantah pandangan para ahli bahasa tersebut bahwa ada mata rantai yang terputus mengenai jejak awal bahasa Melayu baru, yaitu di Barus, kemudian berkembang di Kerajaan Haru dan Aceh, baru kemudian di Malaka. Teori yang digunakan adalah teori historiografi linguistik untuk melihat sejarah perkembangan bahasa. Metode yang digunakan, yaitu kualitatif mengacu pada pendekatan diakronis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa jejak awal bahasa Melayu baru berdasarkan sejarah masuknya Islam ke Nusantara ialah dengan aksara Jawi yang bermula di Barus. Temuan ini membantah pendapat para ahli bahasa yang mengatakan bahwa bahasa Melayu baru bermula di Malaka. Fakta ini didukung oleh karya-karya Hamzah Fansuri pada abad XVI yang menulis karyanya menggunakan bahasa Melayu yang dominan dipengaruhi bahasa Arab dan Persia. Sementara itu, Raja Ali Haji menulis karya, sekitar abad XIX. Bahasa Melayu berkembang di Aceh. Setelah Aceh berhasil ditaklukkan Malaka, barulah bahasa Melayu turut berkembang di Malaka.Debate and discussion about the origin of the Malay language long before the Republic of Indonesia was discussed. Generally, the opinions of experts agree that the Malay language in the archipelago originated from the Kingdom of Srivijaya (Ancient Malay) and the Malacca Sultanate for the new Malay Language. This study tries to refute the views of the linguists, that there is a broken link regarding the initial traces of the new Malay language, namely in Barus, then developing in the Kingdom of Haru and Aceh, only later in Malacca. The theory used is the theory of linguistic historiography to see the history of language development. The method used is qualitative refers to the diachronic approach. The research findings show that based on the history of the entry of Islam into the archipelago, the initial traces of the new Malay language, namely the Jawi script originated in Barus, so that the opinions of linguists who say say originated in Malacca. This fact is supported by the works of Hamzah Fansuri in the XVI century who wrote his work using Malay which was predominantly influenced by Arabic and Persian languages. While Raja Ali Haji wrote the work, around the XIX century. Malay language developed in Aceh, only after Aceh was conquered by Malacca, the next development in Malacca.
Preference Sirok Bastra
Sirok Bastra Vol 8, No 2 (2020): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v8i2.233

Abstract

KESALAHAN BERBAHASA PADA PENULISAN BERITA ONLINE SOROT SUKOHARJO EDISI MEI 2019 Ferdian Achsani
Sirok Bastra Vol 8, No 2 (2020): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v8i2.190

Abstract

Berita merupakan salah satu laporan peristiwa yang bersifat faktual dan akurat sehingga dalam menulis berita perlu memperhatikan kaidah kebahasaan yang baik dan benar. Namun, hal tersebut belum tecermin dalam media berita online Sorot Sukoharjo. Masih ditemukan beberapa kesalahan berbahasa dalam penulisan berita di media online tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesalahan berbahasa pada penulisan media berita online Sorot Sukoharjo. Penelitian ini termasuk dalam jenis deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik baca dan catat, yaitu peneliti membaca berita-berita di media daring Sorot Sukoharjo edisi Mei 2019. Kemudian, peneliti mencatat kesalahan berbahasa yang ditemukan pada penulisan berita yang diunggah. Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kesalahan-kesalahan berbahasa dalam penulisan berita di media Sorot Sukoharjo meliputi tataran sintaksis 13 data, tataran ejaan 25 data, dan kesalahan tataran fonologi 15 data. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa kesalahan ejaan merupakan kesalahan berbahasa yang paling dominan dalam penulisan berita di media online Sorot Sukoharjo.News is one of the factual and accurate reports, therefore it is necessary to use a good and correct language rules in writing news. However, this has not been reflected in some online news media. Several language errors in writing news still found in the online media. This study aims to analyze language errors in writing online news media, precisely in Sorot Sukoharjo. This research is classified as a qualitative descriptive type. Data collection was carried out using reading and note-taking techniques. Furthermore, the researcher reading the news in the May 2019 edition of Sorot Sukoharjo online media then recording the language errors found in the uploaded news. Based on the research results, it can be concluded that the language errors in the Sorot Sukoharjo media include syntactic level of 13 data, spelling level of 25 data, and phonological level error of 15 data. Therefore, it can be concluded that spelling are the most dominant language errors in writing news on the Sorot Sukoharjo online media.
ANALISIS STILISTIKA PADA PUISI “ENGKAU SALAT DALAM HUTAN” DAN PUISI “DI PUNCAK BUKIT MANGKOSO” KARYA D. ZAWAWI IMRON Nurjanah Nurjanah; Yurdayanti Yurdayanti
Sirok Bastra Vol 8, No 2 (2020): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v8i2.195

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan gaya bahasa dan citraan pada puisi “Engkau Salat dalam Hutan” dan puisi “Di Puncak Bukit Mangkoso” karya D. Zawawi Imron. Metode penelitian yang dipakai adalah metode kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik pustaka dan catat. Analisis data dilakukan dengan identifikasi, interpretasi, analisis, dan pemberian kesimpulan. Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa stilistika dalam puisi “Engkau Salat dalam Hutan” dan puisi “Di Puncak Bukit Mangkoso” memiliki keunikan yang khas D. Zawawi Imrom. Hal tersebut merupakan wujud karakteristik estetis individualisasi penyair. Kekhasan tersebut antara lain ditunjukkan dalam pemakaian gaya bahasa dan citraan. Penggunaan gaya bahasa dilakukan dengan memanfaatkan bahasa figuratif atau bahasa kiasan. Penggunaan gaya bahasa tersebut menyebabkan sajak menjadi menarik perhatian, menimbulkan kesegaran, hidup, dan terutama menimbulkan kejelasan gambaran angan. Adapun bahasa figuratif yang dimanfaatkan penyair dalam puisi tersebut adalah bahasa figuratif personifikasi, anafora, simile, klimaks, dan repitisi. Penggunaan citraan yang dimanfaatkan penyair dalam puisi “Engkau Salat dalam Hutan” dan puisi “Di Puncak Bukit Mangkoso” adalah citraan penglihatan (visual), citraan pendengaran (audiovisual), dan citraan gerak. Pemanfaatan citraan dalam puisi tersebut mampu menghidupkan imaji pembaca dalam merasakan apa yang dirasakan oleh penyair.The purpose of this study is to describe the style of language and imagery in the poetry poem "Engkau Salat dalam Hutan" and the poem "Di Puncak Bukit Mangkoso" by D. Zawawi Imron. The research method used is descriptive qualitative method. Data collection is done by library and note techniques while data analysis is done by identifying, interpreting, analyzing, and providing conclusions. The results of the research and discussion are the stylistics in the poem "Engkau Salat dalam Hutan" and the poem "Di Puncak Bukit Mangkoso", has a unique D. Zawawi Imrom which is a form of aesthetic characteristics of the poet individualization. This particularity is shown among others in the use of language styles and images. The use of language style is done by utilizing figurative language or figurative language causing poetry to attract attention, give rise to freshness, life, and especially cause clarity of imaginary images. The figurative language used by the poet in the poetry is the figurative language of personification, anaphora, simile, climax, and repetition. The use of images used by poets in the poem "Engkau Salat dalam Hutan" and the poem "Di Puncak Bukit Mangkoso" are vision images (visual), hearing images (audiovisual), and motion images. The use of images in the poem is able to animate the reader's image in feeling what is felt by the poet. 
KESALAHAN PENGANALISISAN KALIMAT PASIF DARI BAHASA JEPANG KE DALAM BAHASA INDONESIA Iriantini Sri; Vina Febriani Setiawan; Toni Heryadi
Sirok Bastra Vol 8, No 2 (2020): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v8i2.255

Abstract

Penelitian ini mendeskripsikan perbedaan antara kalimat pasif dalam dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan Jepang. Kalimat pasif bahasa Jepang dapat ditunjukkan dengan verba benefaktif yarimorai yang dilekatkan pada verba inti untuk makna benefaktif, sedangkan dalam kalimat pasif bahasa Indonesia ditandai dengan prefiks di-, ter- dan ke-an. Verba benefaktif dalam bahasa Indonesia bukan kalimat pasif, melainkan kalimat aktif. Perbedaan itu sering membuat pembelajar bahasa Jepang melakukan kesalahan ketika pembelajar mengaplikasikan kalimat pasif bahasa Jepang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kesalahan analisis pembelajar bahasa Jepang dalam mengubah kalimat pasif bahasa Jepang ke dalam Bahasa Indonesia. Metode penelitian yang diterapkan adalah metode deskriptif kualitatif, sedangkan teknik penelitian adalah studi kepustakaan dan metode kajiannya adalah kajian distribusional. Hasil penelitian ini adalah prefiks di- yang merupakan salah satu penanda pasif dalam bahasa Indonesia jika diungkapkan ke dalam bahasa Jepang tidak selalu bisa dipadankan dengan bentuk pasif reru/rareru sehingga hal ini menjadi kendala bagi pembelajar bahasa Jepang yang berbahasa ibu bahasa Indonesia.This study describes the difference between passive sentences in two languages, namely Indonesian and Japanese. Japanese passive sentences can be indicated by the benefactive verb yarimorai which is attached to the core verb for the benefactive meaning, while in Indonesian passive sentences it is marked with the prefix di-, ter- and ke-an. Benefactive verbs in Indonesian are not passive sentences, but active sentences. This difference often makes Japanese learners make mistakes when learners apply Japanese passive sentences. The purpose of this study was to describe the mistakes of Japanese learners in confirming Japanese sentences. The research method applied is descriptive qualitative method, while the research technique is literature study and the method of study is distributional studies. The result of this research is that the prefix di- which is one of the passive markers in Indonesian when expressed in Japanese cannot always be matched with the passive form reru / rareru so this becomes an obstacle for Japanese learners who speak Indonesian as their mother tongue.
THE USE OF INDONESIA TRADITIONAL GAME TO UPGRADE PUPILS SPEAKING SKILLS AND LESSEN PUPILS SPEAKING ANXIETY Nukmatus Syahria
Sirok Bastra Vol 8, No 2 (2020): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v8i2.203

Abstract

This article examine the effectiveness of Indonesia traditional game, engklek, to upgrade the pupils speaking skills and to minimize the pupils speaking anxiety. The study found that games have several of disadvantages. One of the game are not appropriate to be applied in the upper level (adult) because some of them consider that games are bothering. Other study claims that games give several kinds of advantages in the teaching and learning activities and it is suitable to be applied for any level of age. The clashing research findings from both studies lead the researcher’s curiosity to investigate the effectiveness of Indonesia traditional game to boost university pupils speaking skills. The designs adopt in this study are experimental design and descriptive design. The results showed that the treatment given to the experimental group (engklek game) is able to give an impact to increase the score of pupils speaking skills that is higher than the control group (presentation technique). The majority of the pupils agree that engklek game is effective to upgrade the pupils speaking fluency, lessen the pupils anxiety, and boost the pupils motivation, cognitive and social skills.Penelitian ini menguji keefektifan permainan tradisional Indonesia, engklek, untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa dan mengurangi kecemasan berbicara siswa. Salah satu penelitian menemukan bahwa permainan memiliki beberapa kekurangan, salah satunya yaitu permainan tidak seharusnya diterapkan di level atas (dewasa) karena beberapa di antaranya menganggap hal tersebut tersebut mengganggu dan merepotkan. Dalam penelitian lain, dinyatakan bahwa permainan menawarkan beberapa macam keunggulan dalam kegiatan belajar mengajar dan cocok untuk diterapkan di segala tingkatan usia. Temuan penelitian yang saling bertabrakan dari kedua studi tersebut mendorong rasa keingintahuan peneliti untuk menyelidiki keefektifan permainan tradisional Indonesia dalam meningkatkan kemampuan berbicara para mahasiswa. Penelitian ini mengadopsi desain eksperimental dan desain deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan kepada kelompok eksperimen (engklek) mampu memberikan dampak peningkatan pada skor speaking siswa yang lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol (teknik presentasi). Mayoritas siswa setuju bahwa permainan engklek efektif untuk meningkatkan kefasihan berbicara siswa, mengurangi kecemasan siswa, dan meningkatkan motivasi, keterampilan kognitif, dan sosial siswa.
SEBARAN DAN FORMASI IDEOLOGI PADA CERPEN “SARMAN” KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA: ANALISIS HEGEMONI GRAMSCI (The Distribution and Formation of Ideology in Seno Gumira Ajidarma’s Short Story “Sarman”: Gramsci’s Analysis of Hegemony) Yuniardi Fadilah
Sirok Bastra Vol 9, No 1 (2021): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v9i1.250

Abstract

Penelitian ini berupaya untuk mengidentifikasi serta mendeskripsikan sebaran dan formasi ideologi yang ada dalam cerpen “Sarman” karya Seno Gumira Ajidarma. Cerpen “Sarman” ditulis pada tahun 1986. Permasalahan ini coba dibahas karena tokoh-tokoh dalam cerpen, khususnya tokoh Sarman sebagai tokoh sentral, dengan segala interaksi dan tindak-tuturnya, merepresentasikan ideologi-ideologi tertentu. Analisis formasi ideologi yang dilakukan berdasar pada teori hegemoni Antonio Gramsci. Teori ini memungkinkan analisis tentang praktik hegemonik maupun resistensi yang ada di dalam cerpen sehingga dapat dilihat keberadaan ideologi-ideologi yang saling berinteraksi. Lalu, sebagai sebuah situs hegemoni, karya sastra dipandang sebagai dunia gagasan atau ideologi yang berpengaruh. Oleh karena itu, penelitian ini mengidentifikasi sebaran ideologi dalam cerpen dan menemukan lima ideologi, yaitu anarkisme, anti-materialisme, individualisme, materialisme, dan kapitalisme. Formasi ideologi yang ditemukan dalam cerpen terbentuk dalam tiga hubungan: hubungan kontradiktif, hubungan korelatif, dan hubungan subordinatif. Berdasarkan temuan formasi ideologi dalam cerpen, kemudian, tampak kecenderungan pengarang dalam mengkritik ideologi yang satu dengan lainnya. This study seeks to identify and describe the distribution and formation of ideology in the short story "Sarman" by Seno Gumira Ajidarma. This short story was written in 1986. This study try to discuss this problem because the characters in the short stories, with all their interactions and speech acts, represent certain ideologies. The analysis of the formation of ideology is based on Antonio Grasmsci’s theory of hegemony. This theory allows an analysis of the hegemonic practice and resistance that exists in the short story so that it can be seen the existence of interacting ideologies. Then, as a hegemonic site, literature is seen as a world of influential ideas or ideologies. Therefore, this research then identifies the distribution of ideology in short stories and finds five ideologies: anarchism, anti-materialism, individualism, materialism, and capitalism. Formation of ideology in short stories exists in three relationships: contradictory relationships, correlative relationships, and subordinative relationships. Based on the findings of the formation of ideology in the short story, then, it appears that the author's tendency to criticize some ideology.
NOVEL BURUNG KAYU KARYA NIDUPARAS ERLANG: REPRESENTASI BUDAYA MASYARAKAT TRADISIONAL SUKU MENTAWAI YANG TERKOYAK (Burung Kayu Novel by Niduparas Erlang: Culture Representation of Mentawai Traditional Community Thought) Dara Windiyarti
Sirok Bastra Vol 9, No 2 (2021): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v9i2.289

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan budaya masyarakat tradisional Suku Mentawai yang terkoyak dalam novel Burung Kayu karya Niduparas Erlang. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah paradigma antropologi sastra khususnya unsur-unsur kebudayaan beserta ciri-cirinya seperti tradisi, citra primodial, citra arketipe, aspek-aspek kearifan lokal dengan fungsi dan kedudukannya masing-masing. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik kepustakaan. Metode yang digunakan untuk analisis data adalah deskriptif analisis, yakni mendeskripsikan fakta-fakta kemudian disusul analisis. Dari hasil analisis diketahui bahwa: (1) masyarakat tradisional Suku Mentawai yang tinggal di hulu masih menjalankan tradisi-tradisi warisan leluhur mereka; (2) masyarakat Suku Mentawai mengalami konflik batin ketika tinggal di barasi; (3) masyarakat Suku Mentawai kembali ke uma setelah bernegosiasi dengan budaya modern; dan (4) masyarakat Suku Mentawai kembali ke barasi dengan konsep baru. Dengan demikian disimpulkan bahwa masyarakat tradisional Suku Mentawai yang memiliki tradisi sangat kuat itu dapat bernegosiasi dengan budaya modern sehingga bisa menjalani kehidupannya yang selaras dengan jiwanya dan alamnya.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                This study aims to describe the traditional culture of the Mentawai Tribe which was torn apart in the novel Burung Kayu by Niduparas Erlang. The theory used in this research is the paradigm of literary anthropology, especially the elements of culture and their characteristics such as tradition, primodial images, archetypal images, aspects of local wisdom with their respective functions and positions. Data collection is done by library technique. The method used for data analysis is descriptive analysis, which is to describe the facts and then followed by analysis. From the results of the analysis, it is known that: (1) the traditional Mentawai people who live upstream still carry out their ancestral traditions; (2) the Mentawai people experience an inner conflict when living in barasi; (3) the Mentawai people return to uma after negotiating with modern culture; and (4) the Mentawai people returned to barasi with a new concept. Thus, it is concluded that the traditional Mentawai people have very strong traditions that can negotiate with modern culture so that they can live their lives in harmony with their souls and nature.
OBSESI PARA TOKOH NOVEL TEEN LIT “MISS CLEAN” KARYA SARA TEE (Obsession of Characters in Teen Lit Miss Clean by Sara Tee) Tania Intan
Sirok Bastra Vol 9, No 1 (2021): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v9i1.208

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkap obsesi yang dialami para tokoh remaja dalam novel Miss Clean karya Sara Tee. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif dan menggunakan pendekatan psikologi sastra. Data dikumpulkan dengan metode dokumentasi dan dikaji dengan landasan teoretis yang relevan. Teori tentang obsesi yang diterapkan merupakan gagasan dari Kaplan, Nevid, Rathus, Greene, dan Barzilay. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari empat tokoh remaja yang dikaji, terdapat tiga jenis obsesi yaitu kebersihan, cinta, dan kepemilikan. Penyebab dari obsesi tersebut adalah karena pendidikan dari orang tua, keinginan untuk memiliki pasangan, serta hasrat untuk mendapatkan objek yang diinginkan. Dampak dari obsesi pada para tokoh adalah konflik dengan sekitarnya, kekecewaan, dan tercapainya tujuan. Sebagai karya populer, teen lit Miss Clean merepresentasikan kondisi nyata dari permasalahan remaja yang memiliki kecenderungan sifat obsesif.  This study aims to uncover the obsession experienced by teenage characters in the novel Miss Tee by Sara Tee. The study was conducted with a descriptive qualitative method and using a psychological approach. Data is collected by the documentation method and reviewed on a relevant theoretical basis. The theory of obsession applied is from Kaplan, Nevid, Rathus, Greene, and Barzilay. The results showed that of the four teenage characters studied, there were three types of obsessions, namely cleanliness, love, and ownership. The cause of the obsession is due to education from parents, the desire to have a partner, and the desire to get the desired object. The impact of obsessions on the characters in conflict with the surroundings, disappointment, and the achievement of goals. As a popular work, teen lit Miss Clean represents the real conditions of adolescent problems that have obsessive tendencies.