cover
Contact Name
Fredi Setiawan
Contact Email
fredi@malahayati.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.analisfarmasi@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Analis Farmasi
ISSN : 2503233X     EISSN : 26567598     DOI : -
Core Subject : Health,
Berisikan berbagai kara ilmiah kefarmasian obat dan makanan, mulai terbit tahun 2016, terbit 4 kali setahun.
Arjuna Subject : -
Articles 228 Documents
FORMULASI ACNE GEL EKSTRAK KAYU SECANG (Caesalpinia sappan L) DENGAN HPMC SEBAGAI GELLING AGENT Yulyuswarni Yulyuswarni
Jurnal Analis Farmasi Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.003 KB) | DOI: 10.33024/jaf.v4i1.1309

Abstract

FORMULATION OF ACNE GEL SAPPAN WOOD EXTRACT (Caesalpinia sappan L) WITH HPMC AS GELLING AGENT Acne (acne vulgaris) is an abnormal condition of the skin due to the production of excess oil glands which causes blockage of the skin pores. These troublesome skin conditions can cause significant physiological problems such as the crisis of self-confidence. Acne develops into inflammation (inflammatory acne) when infected with bacteria, especially the bacteria Propioni bacterium acnes.Secang wood (Caesalpinia Sappan L) is one of the potential plants as anti-bacterial, anti-inflammatory, antihistamine, and anti-oxidant which has been widely used by the people of Indonesia. This study aimed to obtain a formulation of acne gel secang wood extract (Caesalpinia sappan L) at a concentration of 1% and on the basis of HPMC (Hydroxypropyl Methylcellulosa) as a gelling agent at concentrations of 3%, 4%, and 5% that met organoleptic requirements, homogeneity, pH and spreadability. Acne Gel of Sappan wood (Caesalpinia sappan L) with HPMC as gelling agent have a yellowish-red color, semi-solid texture, homogeneous, pH range 4.6-5.1, spreadability that meets the requirements of 6.3 cm. The formula for acne gel that fulfills the requirements is formula 1 with 3% HPMC concentration.Keywords : Gel, secang wood extract, HPMCJerawat (acne vulgaris) adalah kondisi abnormal kulit akibat produksi kelenjar minyak berlebih yang menyebabkan penyumbatan pori-pori kulit. Kondisi kulit yang menyusahkan ini dapat menyebabkan masalah fisiologis yang signifikan seperti krisis kepercayaan diri. Jerawat berkembang menjadi inflamasi(inflammatory acne) apabila terinfeksi bakteri, terutama bakteri Propioni bacterium acnes. Kayu Secang (Caesalpinia Sappan L) merupakan salah satu tanaman yang potensial sebagai anti bakteri, anti inflmasi, antihistamin, dan anti oksidan yang sudah banyak di gunakan oleh masyarakat Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formulasi sediaan acne gel ekstrak kayu secang (Caesalpinia sappan L) pada konsentrasi 1% dandengan basis HPMC (Hydroxypropyl Methylcellulosa) sebagai gelling agent pada konsentrasi 3%, 4%, dan 5% yang memenuhi syarat organoleptik, homogenitas, pH, dan daya sebar. Sediaan acne gel ekstrak kayu Secang (Caesalpinia sappan L) dengan HPMC sebagai gelling agent memiliki warna merah coklat kekuningan, tekstur setengah padat, homogen, range pH 4.6-5.1, daya sebar yang memenuhi syarat 6.3 cm. Formula acne gel yang memenuhi syarat adalah formula 1 dengan konsentrasi HPMC 3%.Kata Kunci : Gel, Ekstrak Kayu Secang, HPMC
UJI DAYA HAMBAT EKSTRAK ETANOL DAUN UNGU (Graptophyllum pictum (L.) GRIFF) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus epidermidis DAN BAKTERI Propionibacterium acnesPENYEBAB JERAWAT DENGAN METODE CAKRAM Agustina Retnaningsih; Annisa Primadiamanti; Anisah Febrianti
Jurnal Analis Farmasi Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (596.987 KB) | DOI: 10.33024/jaf.v4i1.1300

Abstract

INHIBITORY TEST OF PURPLE LEAF ETHANOL EXTRACT (Graptophyllum pictum (L.) GRIFF) ON Staphylococcus epidermidis BACTERIA AND Propionibacterium acnes BACTERIA CAUSES OF ACNE WITH DISCUSSION METHODSAcne is a condition in which the pores of the skin become blocked causing an inflamed pus sac. One of the factors causing acne is bacteria. The bacteria Propionibacterium acnes and Staphylococcus epidermidis are bacteria that are present in acne. Antibiotics are one way to deal with acne problems. However, improper use of bacteria can cause resistance. The use of medicinal plants is an alternative to avoid resistance. Purple Leaves (Graptophyllum pictum (L.) Griff) is one of the plants that can be useful as a medicine. The purpose of this study was to determine the purple leaf extract can inhibit the growth of Staphylococcus epidermidis and Propionibacterium acnes bacteria causing acne, then the inhibitory test of purple leaf ethanol extract using disc method using distilled water as a negative control and erythromycin discs as positive control.The inhibitory test of purple leaf ethanol extract was carried out using concentrations of 100%, 80%, 60%, 40% and 20%. The results of this study found that the ethanol extract of purple leaves (Graptophyllum pictum (L.) Griff) at each concentration could not inhibit the bacteria Staphylococcus epidermidis and Propionibacterium acnes because there was no inhibition zone or clear zone around the disc. Keywords:   Purple Leaf, Staphylococcus epidermidis, Propionibacterium acnes, Diffusion.Jerawat adalah suatu keadaan dimana pori-pori kulit tersumbat sehingga menimbulkan kantung nanah yang meradang.Salah satu faktor penyebab jerawat adalah bakteri.Bakteri Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis merupakan bakteri yang ada pada jerawat. Antibiotik merupakan salah satu cara dalam mengatasi masalah jerawat. Namun, penggunaan bakteri yang tidak tepat dapat menyebabkan terjadinya resistensi.Pemanfaatan tanaman yang berkhasiat obat merupakan alternatif untuk menghindari terjadinya resistensi.Daun Ungu (Graptophyllum pictum (L.) Griff) merupakan salah satu tanaman yang dapatberkhasiat sebagai obat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ekstrak daun ungu dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidisdan Propionibacterium acnes penyebab jerawat, maka dilakukan uji daya hambat ekstrak etanol daun ungu menggunakan metode cakram dengan menggunakan akuades sebagai kontrol negatif dan cakram eritromisin sebagai kontrol positifnya. Uji daya hambat ekstrak etanol daun ungu dilakukan dengan menggunakan konsentrasi sebesar 100%, 80%, 60%, 40% dan 20%.Hasil dari penelitian ini didapat bahwa ekstrak etanol daun ungu (Graptophyllum pictum (L.)Griff)  pada setiap konsentrasi tidak dapat menghambat bakteri Staphylococcus epidermidis dan Propionibacterium acnes karena tidak adanya zona hambat atau zona bening disekitar cakram. Kata kunci:    Daun Ungu, Staphylococcus epidermidis, Propionibacterium acnes, Difusi
ANALISIS BAKTERI Escherichia coli PADA MINUMAN CAPPUCINO CINCAU YANG DIJUAL DI KAWASAN RAJABASA Annisa Primadiamanti; Gusti Ayu Rai Saputri; Afri Asia Nata Nyaman
Jurnal Analis Farmasi Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (778.923 KB) | DOI: 10.33024/jaf.v2i2.1167

Abstract

Akhir-akhir ini minuman cappucino cincau menjadi sangat digemari oleh masyarakat khususnya anak–anak yang terkadang tidak lagi  memperhatikan kebersihan air yang bisa memicu berbagai macam penyakit yang disebabkan oleh bakteri . Salah satu bakteri yang  terdapat dalam air yaitu Escherichia coli. Bakteri Escherichia coli merupakan flora normal didalam usus besar. Jika didapatkan kontaminasi bakteri ini pada suatu minuman maka merupakan suatu indikasi bahwa minuman tersebut  tercemar oleh kotoran manusia. Untuk mengetahui ada atau tidaknya bakteri Escherichia coli maka dilakukan pengujian bakteri Escherichia coli dengan menggunakan metode Most Probable Number (MPN) menggunakan uji pendahuluan dan uji penegasan.Uji pendahuluan bakteri coliform dengan media Lactose broth dari ke lima sampel didapatkan hasil positif mengandung coliform kemudian uji penegasan dengan media E.C broth didapatkan hasil negatif Escherichia coli karna tidak terbentuk gas pada masing-masing tabung durham. Jadi dapat disimpulkan bahwa dari  ke 5 sampel minuman cappucino cincau yang dijual di kawasan Rajabasa Bandar Lampung tersebut ternyata tidak tercemar bakteri Escherichia coli. yaitu Negatif/ 100 ml berdasarkan SNI 7388-2009. Kata kunci : cappucino cincau, Escherichia coli, Most Probable Number (MPN) 
IDENTIFIKASI METHANYL YELLOW PADA SEDIAAN KOSMETIK YANG DIJUAL DI PASAR TENGAH BANDAR LAMPUNG Gusti Ayu Rai Saputri; Agustina Retnaningsih; Rama Ardhy Permana
Jurnal Analis Farmasi Vol 2, No 3 (2017): Volume 2 Nomor 3
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (44.896 KB) | DOI: 10.33024/jaf.v2i3.1155

Abstract

Kosmetik saat ini masih menjadi salah satu pilihan untuk mempercantik diri misalnya perona pipi, perona mata dan perona bibir. Kosmetik ini merupakan jenis kosmetik dekoratif yang bersifat mencerahkan kulit wajah serta dapat menutupi bagian wajah yang kurang sempurna. Zat warna yang tidak diizinkan yang mungkin sengaja ditambahkan dalam kosmetik ini adalah Methanyl Yellow. Berdasarkan Peraturan Kepala BPOM RI NomorHK.03.1.23.08.11.07517 TAHUN 2011 tentang persyaratan teknis bahan kosmetika bahwa tidak boleh mengendung zat warna yang tidak diizinkan sebagai bahan pewarna pada kosmetik. Oleh sebab itu, perlu dilakukan penelitian pada kosmetik seperti perona pipi, perona mata dan perona bibir. Tujuan penelitian tersebut adalah untuk mengetahui apakah terdapat pewarna Methanyl Yellow pada sampel sediaan padat perona pipi, perona mata dan perona bibir yang dijual di Pasar Tengah Bandar Lampung. Metode yang digunakan adalah Kromatografi Lapis Tipis dengan fase diam silika gel G dan fase geraknya yaitu n-butanol : etanol : air : asaam asetat glasial dengan perbandingan 60:10:20:0,5. Dari hasil identifikasi pada sampel perona pipi, perona mata dan perona bibir menunjukan bahwa ketiganya tidak mengandung Methanyl Yellow, kemudian identifikasi dengan deteksi secara visual tidak menunjukan adanya bercak pada totolan sampel. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa sampel negatif mengandung Methanyl Yellow.   Kata kunci : Methanyl Yellow, Kosmetik, KLT.
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL MIKROALGA LAUT Nannochloropsis sp. TERHADAP BAKTERI Escherichia coli SECARA IN-VITRO Endah Ratnasari Mulatasih
Jurnal Analis Farmasi Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.249 KB) | DOI: 10.33024/jaf.v4i1.1305

Abstract

ANTIBACTERIAL ACTIVITY OF ETHANOL EXTRACT OF MARINE MICROALGAE Nannochloropsis sp. AGAINST Escherichia coli BACTERIA BY IN VITRO TECHNIQUE Marine microalgae has various advantages such as rapid growth and requires simple nutrients to grow and is able to withstand on various enviromental conditions. Some types of microalgae are having ability as antibacterial. This research aims to study the antibacterial activity of marine microalgae Nannochloropsis sp. against the Escherichia coli bacteria with the Kirby-Bauer diffusion Disk method. Nannochloropsis sp. grown for several days in Walne medium. The biomass of microalgae is dried and mashed into simplicia. Then, simplicia of Nannochloropsis sp. was macerated with 96% ethanol and concentrated by rotary evaporator. The results showed ethanol extract of marine microalgae Nannochloropsis sp. has inhibitory power against Escherichia coli bacteria. The average inhibition zone formed in the volume of extracts of 20, 30, 40, 60, 80 and 100 μL are 9.43; 15,13; 16.40; 17,82; 20.09; and 22.53 mm.Keywords: Nannochloropsis sp., Antibacteria, Escherichia coli Mikroalga laut memiliki berbagai kelebihan antara lain pertumbuhannya yang cepat dan membutuhkan nutrisi sederhana untuk tumbuhnya serta mampu bertahan pada berbagai kondisi lingkungan. Beberapa jenis mikroalga diketahui memiliki kemampuan sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri mikroalga laut Nannochloropsis sp. terhadap bakteri Escherichia coli dengan metode Disk diffusion Kirby-Bauer. Nannochloropsis sp. ditumbuhkan selama beberapa hari dalam medium Walne. Biomassa mikroalga yang diperoleh dikeringkan dan dihaluskan sehingga diperoleh simplisia Nannochloropsis sp. Simplisia tersebut kemudian di maserasi dengan etanol 96% dan dipekatkan menggunakan rotary evaporator. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etanol mikroalga laut Nannochloropsis sp. memiliki daya hambat terhadap bakteri Escherichia coli. Zona hambat rata-rata yang terbentuk yaitu volume ekstrak 20, 30, 40, 60, 80 dan 100 μL berturut-turut 9,43; 15,13; 16,40; 17,82; 20,09; dan 22,53 mm.Kata kunci: Nannochloropsis sp., Antibakteri, Escherichia coli
PERBANDINGAN KADAR METFORMIN HCL PADA SEDIAAN TABLET GENERIK DAN NAMA DAGANG SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET Ade Maria Ulfa; Robby Candra Purnama; Ridhatul Hidayah
Jurnal Analis Farmasi Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.062 KB) | DOI: 10.33024/jaf.v2i2.1172

Abstract

Diabetes Melitus adalah suatu gangguan kronik yang khususnya menyangkut metabolisme hidrat arang (glukosa) didalam tubuh. Prevalensi penyakit diabetes melitus berdasarkan wawancara pasien dan diagnosis dokter adalah sebesar 1,5% dan 2,1% pada tahun 2013. Tablet metformin HCl merupakan salah satu golongan obat antidiabetes oral yaitu golongan biguanida. Tablet metformin HCl ini tersedia dalam generik dan nama dagang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah tablet metformin memenuhi persyaratan Farmakope Indonesia Edisi IV yaitu tidak kurang dari 95,0% dan tidak lebih dari 105,0% dari jumlah yang tertera pada etiket dan mengetahui apakah terdapat perbedaan kadar secara signifikan antara tablet generik dan nama dagang. Obat metformin HCl diambil di Apotek Rosa Calista Bandar Lampung dan tersedia dua sampel yaitu sampel tablet metformin HCl generik dan nama dagang. Metode yang digunakan untuk menganalisa tablet metformin HCl adalah spektrofotometri ultraviolet. Dari hasil penelitian diperoleh panjang gelombang maksimum 232 nm dan hasil kadar yang didapat dari metformin HCl generik adalah 95,99% dan metformin HCl nama dagang adalah 96,71%. Kadar metformin HCl yang diperoleh kemudian diuji signifikansinya dengan menggunakan statistik, yaitu uji t. Dari uji t diperoleh tpercobaan < ttabel yaitu 0,952 < 3,747 maka dapat disimpulkan bahwa H0 diterima dan Ha ditolak, sehingga tidak terdapat perbedaan kadar secara signifikan antara metformin HCl generik dan nama dagang. Kata Kunci :Diabetes Melitus, Tablet Metformin HCl, Spektrofotometri Ultraviolet.
UJI DAYA HAMBAT DAUN SUKUN (Artocarpus altilis folium) TERHADAP Candida albicans Dan Bacillus subtilis DENGAN METODE DIFUSI Agustina Retnaningsih; Gusti Ayu Saputri; Eka Novita Sari
Jurnal Analis Farmasi Vol 2, No 3 (2017): Volume 2 Nomor 3
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (68.464 KB) | DOI: 10.33024/jaf.v2i3.1160

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui konsentrasi ekstrak etanol daun sukun yang memiliki daya antibakteri dan antifungi. Bahan uji yang digunakan adalah daun sukun yang telah dikeringkan, diserbuk, dilakukan proses maserasi menggunakan pelarut etanol 96% dengan penggantian pelarut 24 jam selama 3 hari dan hasil maserasi di evaporasi sehingga mendapatkan ekstrak kental daun sukun. Ekstrak yang diperoleh diuji antifungi dan antibakteri dengan menggunakan sumur difusi. Konsentrasi yang digunakan adalah 20%, 40%, 60%, 80% dan 100%. dengan menggunakan kontrol positif nystatin untuk jamur Candida albicans didapatkan zona hambat dengan konsentrasi 100%  sebesar 11,3 mm sedangkan untuk bakteri Bacillus subtilis menggunakan kontrol positif sefadroksil didapatkan diameter zona hambat rata-rata dengan konsentrasi 20% sebesar  9 mm, konsentrasi 40% sebesar 10,4 mm, konsentrasi 60% sebesar 10,8 mm, konsentrasi 80% sebesar 11,3 mm dan konsentrasi 100% sebesar 13,1 mm. Jadi ekstrak daun sukun (Artocarpus altilis) dapat menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans dan bakteri Bacillus subtilis dan dapat digolongkan ke dalam bahan yang mempunyai kemampuan menghambat tinggi. Kata kunci : Ekstrak daun sukun, Candida albicans, Bacillus subtilis dan Sumur difusi. 
ANALISA KADAR NIKOTIN PADA TEMBAKAU DENGAN PERLAKUAN DALAM BENTUK ROKOK LINTINGAN DAN ROKOK KRETEK DI PASAR MANDALA, LAMPUNG TENGAH MENGGUNAKAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS ade mariaulfa; Diah Astika Winahyu; Desti galuh
Jurnal Analis Farmasi Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.38 KB) | DOI: 10.33024/jaf.v1i2.1458

Abstract

Tembakau merupakan jenis tanaman yang sangat dikenal dikalangan masyarakat Indonesia. Kegunaan utama tembakau adalah sebagai bahan baku pembuatan rokok sigaret kretek, rokok filter, rokok lintingan dan biasa juga digunakan sebagai tembakau susur. Nikotin zat kimia yang terkandung dalam rokok, nikotin bersifat adiktif (kecanduan). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar nikotin pada tembakau dengan perlakuan rokok lintingan dan rokok kretek yang beredar di wilayah Pasar Mandala, Lampung Tengah apakah kadar nikotin yang diizinkan dalam sebatang rokok memenuhi persyaratan Peraturan Pemerintah No. 81 tahun 1999 tentang pengamanan rokok bagi kesehatan yaitu 1,5 mg/batang. Sampel yang digunakan adalah sampel tembakau dengan perlakuan dalam bentuk rokok lintingan dan rokok kretek pada pedagang yang berbeda. Analisis kuantitatif nikotin ditentukan dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Dari hasil penelitian dengan panjang gelombang (λ) 261 nm dengan persamaan y= b.X+a sehingga diperoleh koefisien korelasi (r) 0,9996. Hasil penelitian menunjukkan kadar rata-rata nikotin dalam ekstrak tembakau matahari sebesar 0,74 mg/batang, sampel rokok kretek sebesar 0,80 mg/batang. Hal ini menunjukkan bahwa kedua sampel tersebut diperoleh hasil kadar nikotin yang diizinkan dalam sebatang rokok memenuhi syarat Peraturan Pemerintah No.81 tahun 1999 tentang pengamanan rokok bagi kesehatan yaitu 1,5 mg/batang. Kata Kunci:Nikotin, tembakau, spektrofotometri UV-Vis.Tembakau merupakan jenis tanaman yang sangat dikenal dikalangan masyarakat Indonesia. Kegunaan utama tembakau adalah sebagai bahan baku pembuatan rokok sigaret kretek, rokok filter, rokok lintingan dan biasa juga digunakan sebagai tembakau susur. Nikotin zat kimia yang terkandung dalam rokok, nikotin bersifat adiktif (kecanduan). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar nikotin pada tembakau dengan perlakuan rokok lintingan dan rokok kretek yang beredar di wilayah Pasar Mandala, Lampung Tengah apakah kadar nikotin yang diizinkan dalam sebatang rokok memenuhi persyaratan Peraturan Pemerintah No. 81 tahun 1999 tentang pengamanan rokok bagi kesehatan yaitu 1,5 mg/batang. Sampel yang digunakan adalah sampel tembakau dengan perlakuan dalam bentuk rokok lintingan dan rokok kretek pada pedagang yang berbeda. Analisis kuantitatif nikotin ditentukan dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Dari hasil penelitian dengan panjang gelombang (λ) 261 nm dengan persamaan y= b.X+a sehingga diperoleh koefisien korelasi (r) 0,9996. Hasil penelitian menunjukkan kadar rata-rata nikotin dalam ekstrak tembakau matahari sebesar 0,74 mg/batang, sampel rokok kretek sebesar 0,80 mg/batang. Hal ini menunjukkan bahwa kedua sampel tersebut diperoleh hasil kadar nikotin yang diizinkan dalam sebatang rokok memenuhi syarat Peraturan Pemerintah No.81 tahun 1999 tentang pengamanan rokok bagi kesehatan yaitu 1,5 mg/batang. Kata Kunci:Nikotin, tembakau, spektrofotometri UV-Vis.
PENETAPAN KADAR HIDROKUINON PADA KRIM PEMUTIH HERBAL YANG DIJUAL DILORONG KING PASAR TENGAH KOTA BANDAR LAMPUNG MENGGUNAKAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-Vis Annisa Primadiamanti; Niken Feladita; Rani Juliana
Jurnal Analis Farmasi Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.979 KB) | DOI: 10.33024/jaf.v4i1.1301

Abstract

DETERMINATION OF HYDROQUINON WHITENING WHITENING IN CREAM IN LORONG KING, PASAR TENGAH CITY, BANDAR LAMPUNG CITY USING UV-Vis SPECTROFOTOMETRY UV-Vis METHODWhitening cream is one type of cosmetics which is a mixture of chemicals or other ingredients with properties that can bleach black (brown) stains on the skin. Hazardous whitening creams contain the composition of various chemical compounds such as hydroquinone. The use of hydroquinone according to BPOM regulations includes a class of hard drugs that can only be used based on a doctor's prescription.Hydroquinone is prohibited from being used without a doctor's prescription because it has dangerous side effects. The sample used was herbal whitening cream which was sold in the king market hallway of the city of Lampung city with UV-Vis spectrophotometry method with purposive sampling sampling technique.The samples were tested qualitatively and quantitatively. Qualitative sample testing by spectrophotometry, which is observing the form of the standard solution spectrum with the sample, the samples that contain positive hydroquinone are samples C and D because the resulting spectrum is identical to the spectrum form of the standard solution, while samples A and B are negative containing hydroquinone.In the quantitative test with UV-Vis spectrophotometry with ethanol solvents the results of testing positive samples containing hydroquinone are samples C and D with hydroquinone levels obtained by the sampleC and D with hydroquinone levels obtained sample C 0.00247% sample D 0.0025% can be concluded that 2 out of 4 samples were positive containing hydroquinone and not in accordance with BPOM decree No.18 of 2015. Keywords:   Herbal whitening cream, Hidrikuinon, UV-Vis spectrophotometry ABSTRAKKrim pemutih adalah salah satu jenis kosmetik yang merupakan campuran bahan kimia atau bahan lainnya dengan khasiat bisa memucatkan noda hitam (coklat) pada kulit.Krim pemutih yang berbahaya mengandung komposisi dari berbagai macam senyawa kimia misalnya hidrokuinon.Penggunaan hidrokuinon menurut peraturan BPOM termasuk golongan obat keras yang hanya dapat digunakan berdasarkan resep dokter.Hidrokuinon dilarang digunakan tanpa resep dokter karena memiliki efek samping berbahaya. Sampel yang digunakan adalah krim pemutih herbal yang dijual di lorong king pasar tengah kota bandar lampung dengan metode spektrofotometri UV-Vis dengan teknik analisa pengambilan sampel secara purposive sampling. Sampel diuji secara kualitatif dan kuantitatif. Pengujian sampel secara kualitatif dengan spektrofotometri, yaitu mengamati bentuk spektrum larutan baku dengan sampel, sampel yang positif mengandung hidrokuinon ialah sampel C dan D karena spektrum yang dihasilkan identik menyerupai bentuk spektrum larutan baku, sedangkan sampel A dan B negatif mengandung hidrokuinon. Pada uji kuantitatif dengan spektrofotometri UV-Vis dengan pelarut etanol hasil pengujian sampel yang positif mengandung hidrikuinon ialah sampel C dan D dengan kadar hidrokuinon yang diperoleh sampel C 0,00247 % sampel D 0,0025 % dapat disimpulkan 2 dari 4 sampel positif mengandung  hidrokuinon dan tidak sesuai dengan keputusan BPOM No.18 tahun 2015. Kata kunci:    Krimpemutih Herbal, Hidrikuinon, Spektrofotometri UV-Vis
IDENTIFIKASI FUROSEMID PADA JAMU PELANGSING YANG BEREDAR DI PASAR TENGAH DENGAN METODE KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT) Nofita Nofita; Niken Feladita; Aldono Fantoro
Jurnal Analis Farmasi Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (765.868 KB) | DOI: 10.33024/jaf.v2i2.1168

Abstract

Jamu pelangsing merupakan salah satu obat tradisional yang ada di Indonesia yang memiliki khasiat untuk menurunkan berat badan. Dari populasi sampel jamu pelangsing yang berada di Pasar Tengah ada kemungkinan penambahkan bahan  kimia obat (BKO). Berdasarkan Permenkes No. 007 Tahun 2012 tentang Registrasi Obat, obat tradisional dilarang mengandung bahan kimia obat (BKO). Di dalam jamu pelangsing diduga ditambahkan  BKO furosemid yang berkhasiat sebagai diuretik/pelancar air seni. Identifikasi furosemid pada sampel jamu pelangsing yang beredar di Pasar Tengah yaitu sampel A, B, C, D, dan E menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT). KLT merupakan metode pemisahan campuran analit dengan mengelusi analit melalui suatu lempeng kromatografi lalu melihat analit yang terpisah dengan penyemprotan dan visualisasi dibawah sinar ultraviolet. Untuk menarik kesimpulan dapat dilihat dari warna bercak dan selisih antara angka Rf sampel dengan Rf baku pembanding.  Dari hasil pengujian terhadap lima sampel jamu pelangsing, terdapat tiga sampel yang mengandung BKO furosemid, yaitu sampel A, B, dan E. Kata Kunci : jamu pelangsing, furosemid, KLT

Page 2 of 23 | Total Record : 228