cover
Contact Name
Rosnina A.G
Contact Email
-
Phone
+6282364568905
Journal Mail Official
agrium@unimal.ac.id
Editorial Address
Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh Main Campus, Cot Teungku Nie Street, Reuleut, Muara Batu, Aceh Utara District, Province of Aceh
Location
Kota lhokseumawe,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Agrium
ISSN : 18299288     EISSN : 26551837     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agrium (Journal of Agricultural Research) ISSN 1829-9288 (Print) ISSN 2655-1837 (Online ) is a scientific publication media in are of agriculture that is published regularly every year, March and September. The manuscript comes from the results of basic and applied research, and the results of the literature review in the scope of agriculture.
Articles 450 Documents
Respon Perakaran Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) Akibat Pemberian Konsentrasi Biourin Sapi Dan Dosis Pupuk NPK Jamidi, Jamidi; Zuliati, Septiarini; Wirda, Zurrahmi
Agrium Vol 20 No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/agrium.v20i2.11459

Abstract

Bibit kelapa sawit berkualitas dicirikan dengan memiliki pertumbuhan terutama perakaran yang baik. Pupuk organik mampu memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan pertumbuhan tanaman. Biourin sapi sebagai pupuk organik mengandung hormon dan unsur yang mendukung perkembangan akar bibit kelapa sawit. Pupuk NPK juga dapat mendukung pertumbuhan kelapa sawit. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh pemberian biourin sapi dan NPK serta interaksinya terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit. Penelitian dilaksanakan di Reuleut, Kabupaten Aceh Utara dan Laboraturium Pertanian Universitas Malikussaleh menggunakan Rancangan Acak Kelompok faktorial. Faktor pertama yaitu konsentrasi biourin sapi terdiri dari 0, 50, 75, dan 100 cc/Liter. Faktor kedua yaitu dosis pupuk NPK terdiri dari 0, 2, dan 3 gram/polybag. Peubah yang diamati meliputi tinggi bibit, jumlah daun, panjang akar, berat segar akar dan berat kering akar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biourin sapi meningkatkan pertumbuhan tinggi bibit, dan jumlah daun dan panjang akar bibit kelapa sawit. Pupuk NPK meningkatkan pertumbuhan tinggi bibit, jumlah daun, berat segar akar dan berat kering akar. Interaksi dari pemberian biourin sapi dan pupuk NPK meningkatkan jumlah daun dan panjang akar bibit kelapa sawit. Konsentrasi biourin sapi 100 cc/Liter dan dosis pupuk NPK 2 gram/polybag merupakan perlakuan terbaik.
Respon Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) Terhadap Pemberian Beberapa Dosis Fungi Mikoriza Abuskular (FMA) Di Pre Nursery Pada Tanah Ultisol Yuliatri, Yuliatri
Agrium Vol 20 No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/agrium.v20i2.11442

Abstract

Fungi Mikoroza Arbuskular (FMA) merupakan asosiasi antara salah satu fungi yang bersimbiosis dengan perakaran tanaman dan dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Tanaman kelapa sawit merupakan komoditi unggulan yang menghasilkan  lebih banyak minyak dibanding tanaman lain. Produktifitas tanaman kelapa sawit juga dapat ditingkatkan dengan menggunakan bibit unggul dan pemanfaatan mikroorganisme yang dapat membantu pertumbuhan tanaman. Tujuan penelitian untuk mendapatkan dosis FMA yang terbaik terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit di Pre Nursery pada Ultisol. Parameter yang diamati adalah Persentase Akar Terinfeksi, Tinggi Bibit, Jumlah Daun, Panjang Akar, Bobot segar Bibit, Bobot Segar Akar, Bobot Kering Bibit, Bobot Kering Akar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian dosis FMA 5-20 gram dapat meningkatkan derajat infeksi dengan kriteria tinggi yaitu berkisar 55-70%. Pemberian dosis 5 gram FMA menunjukkan derajat infeksi tertinggi yaitu 70%. Bibit kelapa sawit umur 16 MST menunjukkan pertumbuhan yang hampir sama pada semua variabel pengamatan baik tanpa diberi FMA maupun diberi FMA.
Respon Pemberian Beberapa Konsentrasi Pupuk Organik Cair Terhadap Keragaan Pertumbuhan Dan Hasil Tiga Varietas Kacang Tanah (Arachis hypogea L.) Rahma Elfiza, Dilla; Nilahayati, Nilahayati
Agrium Vol 20 No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/agrium.v20i2.11487

Abstract

Kacang tanah  merupakan tanaman kacang-kacangan terpenting kedua setelah kedelai yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Upaya peningkatan produksi kacang tanah di Indonesia dapat dilakukan antara lain melalui pemupukan menggunakan pupuk organik cair diikuti dengan penanaman varietas unggul. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk organik cair dan beberapa varietas terhadap pertumbuhan dan hasil kacang tanah. Penelitian dilaksanakan di Desa Tambon Tunong Aceh Utara pada bulan Juli-Oktober 2022. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap  Faktorial dengan tiga ulangan. Faktor Pupuk Organik Cair (POC) terdiri dari 4 taraf, P0=0 ml/l, P1=5 ml/l, P2 =10 ml/l, P3=15 ml/l. Faktor varietas  terdiri dari 3 taraf, V1= Kancil, V2=Takar 2, V3=Tasia 2. Data yang diperoleh dari penelitian dianalisis dengan menggunakan uji F. Jika terdapat pengaruh yang signifikan maka dilanjutkan dengan uji DMRT  5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian POC berpengaruh terhadap peubah tinggi tanaman dan jumlah polong per tanaman.  Konsentrasi POC 15 ml/l merupakan konsentrasi terbaik dengan tinggi tanaman 56,38 cm, jumlah polong 52,21 polong/tanaman. Faktor varietas hanya berpengaruh terhadap peubah tinggi tanaman, berat biji kering per plot dan produksi.  Tasia 2 merupaka varietas dengan pertumbuhan tertinggi yaitu 46,68 cm, sementara produksi terbaik terdapat pada varietas Kancil.
Pengaruh Perendaman Asam Sulfat (H2SO4) Terhadap Perkecambahan Benih Sirsak (Annona muricata L ) Sipahutar, Asrul; Adelina, Rasmita; Harahap, Sri Winaty
Agrium Vol 20 No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/agrium.v20i3.12837

Abstract

Tanaman sirsak merupakan tanaman yang kaya akan manfaat, oleh karena itu tanaman ini berpotensi untuk dikembangkan dalam rangka pengembangan agroindustri dan agribisnis. Salah satu kendala pada pembibitan sirsak yaitu benih tidak segera berkecambah (dorman). Hal itu disebabkan benih sirsak memiliki kulit yang tebal dan keras sehingga bersifat impermeabel terhadap air dan gas yang menyebabkan perkecambahan menjadi terhambat atau waktu yang dibutuhkan untuk menginduksi perkecambahan semakin lama. Perlakuan skarifikasi kimia memiliki tujuan untuk membuat kulit benih lebih mudah dimasuki air ketika imbibisi. Salah satu larutan kimia yang dapat digunakan yaitu larutan asam sulfat (H2SO4). Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh lama perendaman asam sulfat terhadap perkecambahan benih sirsak. Metode penelitian yang digunakan adalah rancangan acak kelompok Non faktorial dengan perlakuan sebagai berikut: P0 (kontrol), P1 (20 menit), P2 (30 menit) dan P3 (40 menit). Parameter pengamatan yang dilakukan yaitu persentase perkecambahan (%), tinggi bibit (cm), jumlah daun (helai), bobot basah (g). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan lama perendaman asam sulfat terhadap perkecambahan benih sirsak memberikan pengaruh yang nyata terhadap pengamatan persentase perkecambahan yaitu 81,25%, tetapi tidak memberikan pengaruh yang nyata pada tinggi bibit (cm), jumlah daun (helai) dan bobot basah tanaman (g). Perlakuan terbaik yaitu perendaman asam sulfat selama 30 menit.
Pengaruh Waktu Penyiangan Dan Populasi Kerapatan Jajagoan (Echinochloa crus-galli) Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Padi Sawah (Oryza sativa L.) Sumoharjo, Deden; Nasrullah, Nasrullah; Ramut, Anuar
Agrium Vol 20 No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/agrium.v20i2.11443

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu penyiangan dan kepadatan populasi jajagoan dengan jarak tanaman yang berbeda terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman padi sawah. Penelitian ini dilaksanakan di areal persawahan petani di Desa Lawe Hijo Kecamatan Bambel Kabupaten Aceh Tenggara dimulai pada bulan Mei dan selesai pada bulan Agustus 2022. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Petak Terpisah faktorial dengan 2 faktor perlakuan. Faktor pertama sebagai petak utama adalah waktu penyiangan terdiri dari 5 taraf, yaitu P0 (tanpa penyiangan), P1 (waktu penyiangan jajagoan 3 minggu setelah tanam), P2 (waktu penyiangan jajagoan 6 minggu setekah tanam ), P3 (waktu penyiangan jajagoan 9 minggu setelah tanam) dan P4 (waktu penyiangan jajagoan 12 minggu setelah tanam). Faktor kedua sebagai anak petak adalah populasi jajagoan terdiri dari 4 taraf yaitu J0 (tanpa populasi jajagoan), J1 (populasi jajagoan 105 per plot dengan jarak tanam 22 cm dihitung dari tanaman utama), J2 (populasi jajagoan 210 per plot dengan jarak tanam 16 cm dihitung dari tanaman utama) dan J3 (populasi jajagoan 210 per plot dengan jarak tanam 12 cm dihitung dari tanaman utama) dan peubah amatan yang diamati adalah tinggi tanaman, luas daun tanaman, jumlah anakan tanaman padi, jumlah anakan tanaman padi produktif, jumlah gabah berisi per malai tanaman padi, jumlah gabah hampa per malai tanaman padi, berat gabah kering tanaman padi per sampel tanaman dan bobot kering jajagoan. Interaksi waktu penyiangan dan kerapatan jajagoan berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 9 dan 12 minggu setelah tanam.
Uji Berbagai Jenis Varietas Dan Konsentrasi Biourin Kelinci Untuk Mengetahui Karakteristik Morfofisiologis Jagung Ketan (Zea mays ceratina) Safrina, Safrina; Nazirah, Laila; Nasruddin, Nasruddin; Khusrizal, Khusrizal; Jamidi, Jamidi; Hafifah, Hafifah
Agrium Vol 20 No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/agrium.v20i3.12890

Abstract

Salah satu teknik budidaya jagung ketan adalah penggunaan varietas unggul dan penggunaan pupuk organik biourine kelinci. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak kelompok  dengan dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah varietas yang terdiri dari (V1) varietas Arumba, (V2) varietas Kumala, (V3) varietas Srikandi, dan (V4) varietas Rasanya. Faktor kedua adalah konsentrasi biourine kelinci yang terdiri dari (U0) 0 ml/l, (U1) 150 ml/l, dan (U2) 250 ml/l. Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, luas daun, laju pertumbuhan relatif, laju asimilasi bersih umur berbunga, jumlah tongkol yang ditanam, panjang tongkol, berat tongkol, panjang tongkol tanpa tongkol, berat tongkol. tanpa tongkol, jumlah baris benih per tongkol, berat 100 biji, dan produksi ton/ha serta kandungan amilopektin.Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas terbaik adalah varietas Arumba (V1). dan pemberian biourinee terbaik terdapat pada perlakuan (U2) 250 ml/liter. Terdapat interaksi yang sangat nyata antara variasi perlakuan dan pemberian biourine kelinci terhadap beberapa parameter perlakuan
Respon Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Terong Ungu (Solanum melongena L.) Pada Konsentrasi Dan Jenis Pupuk Organik Cair Adelia Putri, Kiki; Sulistyono, Agus; Djarwantiningsih, Djarwantiningsih
Agrium Vol 20 No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/agrium.v20i2.11438

Abstract

Terong adalah jenis sayuran buah yang digemari, karena selain harga yang terjangkau juga mudah ditemukan di pasar, sehingga permintaannya  meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk dapat mengetahui adanya interaksi antara konsentrasi dan jenis pupuk organik cair (POC) pada pertumbuhan dan hasil tanaman terong ungu. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret-Juli 2022, yang berlokasi di lahan Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan acak kelompok  yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama yaitu konsentrasi POC dengan 5 taraf yaitu 10%, 15%, 20%, 25% dan 30%. Faktor kedua yaitu POC kulit pisang dan POC limbah ikan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat interaksi yang nyata antara konsentrasi dan jenis POC yang diaplikasi terhadap  tinggi tanaman, jumlah daun, bobot buah per buah per tanaman pada periode ke-3 dan ke-5 dan bobot buah per tanaman periode ke-3, ke-4 dan ke-5. Kombinasi konsentrasi POC 30% dan jenis POC limbah ikan menunjukkan hasil tertinggi pada tinggi tanaman (87,17 cm) dan jumlah daun (55,50 helai), sedangan perlakuan kombinasi antara konsentrasi POC 25% dan jenis POC limbah ikan memberikan hasil tertinggi pada bobot buah per buah per tanaman pada periode ke-3 (176,95 g) dan ke-5 (219,72 g) dan bobot buah per tanaman yang dipanen periode ke-3 (357,11 g), ke-4 (381,89 g) dan ke-5 (351,33 g).
Pengaruh Pemberian Dosis Pupuk Organik Cap 3 Kelapa Dan Berbagai Jenis Mulsa Organik Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Kacang Hijau (Vigna radiata L.) Nur, Hardianti; Mulyani, Cut; Marnita, Yenni
Agrium Vol 20 No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/agrium.v20i3.12838

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan produksi tanaman kacang hijau dengan pemberian dosis pupuk organik cap 3 kelapa dan berbagai jenis mulsa organik, serta mengetahui interaksi  antara pemberian dosis pupuk organik cap 3 kelapa dan berbagai jenis mulsa organik terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kacang hijau. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok pola factorial yang terdiri dari 2 faktor, yaitu faktor dosis pupuk organik cap 3 kelapa dengan notasi D yang terdiri dari 3 taraf yaitu : D‚ = 0,81 kg/plot (10 ton/ha), D‚‚ = 1,21 kg/plot (15 ton/ha), dan D‚ƒ = 1,62 kg/plot (20 ton/ha). Faktor Jenis Mulsa Organik  dengan notasi M yang terdiri dari 3 taraf yaitu : M‚ = Ampas tebu, M‚‚ = Tandan Kosong Kelapa Sawit, dan M‚ƒ = Jerami Padi. Parameter  yang diamati antara lain tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah polong per tanaman, jumlah polong perplot, berat 100 biji dan produksi per Ha (ton). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis pupuk organik cap 3 kelapa berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi tanaman kacang hijau umur 4, 5 dan 6 MST, Jumlah Polong per Plot dan Berat 100 biji. Hasil terbaik yaitu didapatkan pada perlakuan D‚ƒ = 1,62 kg/plot. Pemberian jenis mulsa organik memberikan pengaruh nyata pada parameter Jumlah Polong per Plot dan Berat 100 biji. Hasil terbaik diperoleh pada perlakuan jenis mulsa organik jerami padi yaitu M‚ƒ. Interaksi dosis pupuk organik cap 3 kelapa dengan berbagai jenis mulsa organik memberikan pengaruh sangat nyata terhadap parameter tinggi tanaman kacang hijau umur 4, 5 dan 6 MST dan berpengaruh nyata pada berat 100 biji. Interkasi terbaik diperoleh pada kombinasi perlakuan dosis pupuk organik cap 3 kelapa 1,62 kg/plot dan mulsa jerami padi.
Evaluasi Keragaan Hasil Dan Skoring Keparahan Penyakit Karat Daun Pada Tanaman Sorgum Andriani, Dewi; Aminah, Siti; Amadius Weihan, Rayhan; Ovianalisa, Ovianalisa
Agrium Vol 20 No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/agrium.v20i2.11444

Abstract

Sorgum (Sorghum bicolor L.) merupakan tanaman pangan fungsional dan alternatif sebagai pengganti beras dan gandum karena mengandung gizi unik dan bebas gluten. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaan hasil dan tingkat keparahan serta kriteria ketahanan penyakit karat daun pada galur F6 sorgum. Penelitian menggunakan Rancangan Augmented yang terdiri dari 20 galur F6 sorgum tanpa ulangan dan 5 varietas pembanding sebagai kontrol dengan 3 ulangan sehingga diperolah 35 satuan percobaan. Data dianalisis dengan uji F dan dilanjutkan dengan Uji BNT pada taraf 5%, kemudian dilanjutkan dengan perhitungan nilai heritabilitas dan korelasi pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai heritabilitas setiap karakter yang diamati tergolonng tinggi. Tingkat keparahan penyakit karat daun berkorelasi negatif terhadap bobot malai dan bobot biji malai-1  yang menunjukkan adanya tingkat penyakit rendah dengan bobot hasil yang tinggi. Terdapat 7 galur diantaranya A-19-18-3, A-21-14-3, A-21-14-2, A-16-21-5, B-15-25-3, B-1-24-2 dan B-4-6-7 yang memiliki bobot hasil yang baik dan tahan terhadap penyakit karat daun.
Pengaruh Lama Blansir Dan Suhu Pengeringan Terhadap Kualitas Bubuk Cabai Merah (Capsicum annuum L.) Hayati, Hayati; Nurahmi, Nurahmi; R, Yolanda
Agrium Vol 20 No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/agrium.v20i3.13024

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh lama blansir dan suhu pengeringan terhadap kualitas bubuk cabai merah varietas TM-999. Cabai merah merupakan komoditas hortikulturabernilai ekonomi tinggi yang digunakan luas dalam industri makanan dan farmasi. Cabai ini kayaakan nutrisi penting seperti karbohidrat, lemak, protein, kalsium, vitamin A, B1, dan C, serta memiliki potensi sebagai agen anti kanker berkat kandungan lasparaginase. Penelitian dilakukandi Laboratorium Teknologi Benih Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas SyiahKuala, Banda Aceh, selama Februari hingga Mei 2023. Penggunaan berbagai peralatan laboratorium seperti oven, kipas angin, ayakan 60 mesh, dan lainnya, mendukung penelitian ini. Sementara itu, bahan yang digunakan meliputi 9 kilogram cabai merah varietas TM-999 yang dipanen setelah mencapai usia 90 hari, serta bahan kimia tertentu. Penelitian mengikuti desain Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan variasi lama blansir (0, 2, dan 3 menit) dan suhu pengeringan (50°C, 55°C, dan 60°C). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama blansir berpengaruh signifikan terhadap warna a dan aroma, dengan lama blansir 3 menit memberikan kualitas bubuk cabai merah optimal. Suhu pengeringan berpengaruh pada kadar vitamin C, dengan suhu 50°C menjadi yang terbaik. Selain itu, penelitian ini tidak menemukan interaksi yang signifikan antara lama blansir dan suhu pengeringan terhadap kualitas cabai merah. Hasil ini memberikan panduan berharga untuk meningkatkan proses pengeringan dan kualitas bubuk cabai merah dalam aplikasi industri pangan dan farmasi.