cover
Contact Name
Ridwanta Manogu
Contact Email
ridwanta.manogu@uph.edu
Phone
021 5460901
Journal Mail Official
editor.diligentia@uph.edu
Editorial Address
Jl. MH Thamrin 1100 Lippo Karawaci, Tangerang 15811
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education
ISSN : -     EISSN : 26863707     DOI : 26863707
Core Subject : Religion, Education,
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education is a scientific journal of theology, Christian worldview, Christian education, philosophy of Christian education, and integration of faith and learning. It is published by the Department of Christian Religion Education at Universitas Pelita Harapan triannually in September, January and May.
Articles 185 Documents
Kepemimpinan yang Melayani Menurut Teladan Kristus [Servant Leadership According to Christ's Example] Neneng Andriani
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol 6, No 1 (2024): January
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v6i1.7399

Abstract

Every human being experiences leadership in their daily lives, as leadership is a process of influencing others. When someone tries to influence the thoughts, behaviours, or development of others in their personal or professional life, he is taking on the role as a leader. It is very important for a leader to understand how he will use his authority to influence others. The Christian has a very clear reference point in this matter, as the Bible is a foundation to determine how someone will lead, to lead like Jesus. The purpose of this paper is to describe the Christ-like leadership, which is servant leadership. Based on narrative stories about His life in the Bible, servant leadership was taught and practiced by Jesus Christ more than two thousand years ago, which is measured by His total commitment by serving fellow human beings. For Christian leaders, leadership as an act of service is not an option, but a command. Jesus served, so that we learn to serve with heart, head, hands, and habits. Servant leadership must be a living statement for those who live in Christ, which will be seen from the way they treat one another, and the way they introduce the love of Christ to the whole world.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Setiap manusia mengalami kepemimpinan dalam kehidupan sehari-hari, karena kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang lain. Ketika seseorang mencoba mempengaruhi pikiran, perilaku, atau perkembangan orang lain dalam kehidupan pribadi atau profesionalnya, dia mengambil peran sebagai pemimpin. Sangatlah penting bagi seorang pemimpin untuk memahami bagaimana ia akan menggunakan otoritasnya untuk mempengaruhi orang lain. Orang Kristen memiliki acuan yang sangat jelas dalam hal ini, karena Alkitab adalah dasar untuk menentukan bagaimana seseorang akan memimpin, memimpin seperti Yesus. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk menggambarkan kepemimpinan seperti Kristus, yaitu kepemimpinan yang melayani. Berdasarkan kisah-kisah naratif tentang kehidupan-Nya di dalam Alkitab, kepemimpinan-pelayan telah diajarkan dan dipraktekkan oleh Yesus Kristus lebih dari dua ribu tahun yang lalu, yang dilihat dari komitmen-Nya yang total dalam melayani sesama manusia. Bagi para pemimpin Kristen, kepemimpinan sebagai tindakan melayani bukanlah sebuah pilihan, melainkan sebuah perintah. Yesus telah melayani, sehingga kita belajar untuk melayani dengan hati, kepala, tangan, dan kebiasaan. Kepemimpinan yang melayani harus menjadi pernyataan yang hidup bagi mereka yang hidup di dalam Kristus, yang akan terlihat dari cara mereka memperlakukan satu sama lain, dan cara mereka memperkenalkan kasih Kristus kepada seluruh dunia.
Peran Guru Kristen Sebagai Penuntun: Sebuah Kajian Teologis Efesus 4:11-16 Dalam Konteks Pendidikan Kristen [The Role of Christian Teachers as Guides: A Theological Study of Ephesians 4:11-16 in the Context of Christian Education] Sri Susianti Zega; Musa Sinar Tarigan
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol 6, No 1 (2024): January
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v6i1.7867

Abstract

The role of teacher as a guide is very significant in teaching, especially to equip students to know God through Christian education. Teachers guide the students to understand knowledge, attitudes, skills, and spirituality based on Biblical principles. But in reality, teachers do not teach the Bible principles in learning, teachers do not guide the students, and have lack of knowledge of the Bible. Teachers should have understood the significance of guiding students based on the Bible. Hence, the purpose of writing this article is to present the significant role of teachers as a guide through the theological study based on Ephesians 4:11-16 for the context of Christian education with literature study as the research method. Teachers must guide students based on the truth of God's Word, through imitating Jesus as the Great Shepherd. Christian teachers’ role as guide do not only stop at knowledge in academic learning, but to be an impact for students to be a part of service to God and to build others up as members of the body of Christ. Christian teachers must guide students to achieve, namely: the unity of the faith in Christ as God and Savior in true knowledge, thorough maturity, and growth in accordance with the fullness of Christ and to ensure to be not tossed around by the waves of false teaching that ignore The Lord. This article concludes that the teacher's role as guide is one form for equipping students to grow more mature in Christ. The author suggests that Christian teachers understand that teachers are God's calling to reveal God's truth to students so that their lives base on Bible teaching, and Christian teachers must understand the students' needs to know God and grow spiritually to become more like Christ.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Peran guru sebagai pembimbing sangat penting dalam pengajaran, terutama untuk memperlengkapi murid-murid mengenal Tuhan melalui pendidikan Kristen. Guru membimbing murid untuk memahami pengetahuan, sikap, keterampilan, dan kerohanian berdasarkan prinsip-prinsip Alkitab. Namun pada kenyataannya, guru tidak mengajarkan prinsip-prinsip Alkitab dalam pembelajaran, guru tidak membimbing siswa, dan memiliki pengetahuan yang kurang tentang Alkitab. Seharusnya para guru memahami pentingnya membimbing murid berdasarkan Alkitab. Oleh karena itu, tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk memaparkan peran penting guru sebagai pembimbing melalui kajian teologis berdasarkan Efesus 4:11-16 dalam konteks pendidikan Kristen dengan metode studi literatur. Guru harus membimbing siswa berdasarkan kebenaran Firman Tuhan, dengan meneladani Yesus sebagai Gembala Agung. Peran guru Kristen sebagai pembimbing tidak hanya berhenti pada pengetahuan dalam pembelajaran akademis, tetapi menjadi dampak bagi siswa untuk menjadi bagian dari pelayanan kepada Tuhan dan membangun orang lain sebagai anggota tubuh Kristus. Guru Kristen harus membimbing murid-muridnya untuk mencapai, yaitu: kesatuan iman kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam pengetahuan yang benar, kedewasaan yang menyeluruh, dan pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus serta memastikan agar tidak terombang-ambing oleh gelombang pengajaran palsu yang mengabaikan Tuhan. Artikel ini menyimpulkan bahwa peran guru sebagai pembimbing adalah salah satu bentuk untuk memperlengkapi murid-muridnya agar bertumbuh semakin dewasa di dalam Kristus. Penulis menyarankan agar para guru Kristen memahami bahwa guru adalah panggilan Tuhan untuk menyatakan kebenaran Tuhan kepada murid-muridnya agar hidup mereka didasarkan pada pengajaran Alkitab, dan guru Kristen harus memahami kebutuhan murid-muridnya untuk mengenal Tuhan dan bertumbuh secara rohani agar semakin serupa dengan Kristus.
Oikumenitas dan Solidaritas menurut Dokumen Teologi Gereja HKBP Daniel Rizki Purba; Efran Mangatas Sianipar; Ricky Pramono Hasibuan; Mikael Harianja
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol 6, No 2 (2024): May
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v6i2.8161

Abstract

This article discusses the crucial role of the church in addressing global challenges such as environmental crises and social injustices. Through an examination of the Theological Document of the Huria Kristen Batak Protestant Church (HKBP), this article highlights the concepts of ecumenism and solidarity as the foundation for the church's actions in safeguarding the environment and supporting social welfare. Considering the negative impacts of modernization on the environment and society, HKBP emphasizes the importance of active involvement in environmental restoration and protection efforts, as well as combating all forms of discrimination. The article also depicts the role of HKBP as a catalyst for change, promoting inter-church cooperation in bringing liberation to all of God's creation. With a focus on the practical implementation of its theological doctrines, this article provides an insight into how the church can effectively become an agent of social justice advancement and environmental preservation.BAHASA INDONESIA ABSTRACTArtikel ini membahas peran penting gereja dalam menjawab tantangan global seperti krisis lingkungan dan ketidakadilan sosial. Melalui telaah terhadap Dokumen Teologi Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), artikel ini menyoroti konsep Oikumenisme dan solidaritas sebagai landasan tindakan gereja dalam menjaga lingkungan dan mendukung kesejahteraan sosial. Mempertimbangkan dampak negatif modernisasi terhadap lingkungan dan masyarakat, HKBP menekankan pentingnya keterlibatan aktif dalam upaya restorasi dan perlindungan lingkungan, serta memerangi segala bentuk diskriminasi. Artikel ini juga menggambarkan peran HKBP sebagai katalisator perubahan, mendorong kerja sama antar-gereja dalam membawa pembebasan bagi seluruh ciptaan Tuhan. Dengan fokus pada implementasi praktis dari doktrin-doktrin teologisnya, artikel ini memberikan gambaran tentang bagaimana gereja dapat secara efektif menjadi agen kemajuan keadilan sosial dan pelestarian lingkungan.
Stresor Pubertas dan Keterlibatan Orang Tua pada Remaja [Pubertal Stressors and Parental Involvement in Adolescents] Ganda Sari
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol 5, No 1 (2023): January
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v5i1.6504

Abstract

The science of developmental psychology has explained the challenges of adolescence, including the causes of adolescent changes, developmental tasks and things that can cause stress in adolescents. These challenges are stressors for adolescents and if not resolved properly, can increase prolonged stress and ultimately adolescents are unable to complete their developmental tasks properly. Parents, as God's representatives, can play a role through emotional and physical involvement that aims to reduce stressors. For this reason, the purpose of this paper is to provide insight to parents about things that happen in adolescent development, stressors faced by adolescents and proposed parental attitudes towards adolescents. Based on the results of the literature review, it is found that parents who are emotionally and physically involved show that the parents understand and understand the needs of adolescents. Forms of parental involvement in adolescents' needs through emotional support, appreciation support, instrumental support and informative support. BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Ilmu psikologi perkembangan telah menjelaskan tantangan-tantangan pada masa remaja, termasuk penyebab perubahan remaja, tugas-tugas perkembangan dan hal-hal yang dapat menyebabkan stres pada remaja. Tantangan-tantangan tersebut merupakan stressor bagi remaja dan jika tidak diselesaikan dengan baik, dapat meningkatkan stres yang berkepanjangan dan pada akhirnya remaja tidak dapat menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya dengan baik. Orang tua sebagai wakil Tuhan dapat berperan melalui keterlibatan emosional dan fisik yang bertujuan untuk mengurangi stresor. Untuk itu, tujuan dari penulisan ini adalah untuk memberikan pemahaman kepada orang tua mengenai hal-hal yang terjadi pada perkembangan remaja, stressor yang dihadapi remaja dan usulan sikap orang tua terhadap remaja. Berdasarkan hasil tinjauan pustaka, ditemukan bahwa orang tua yang terlibat secara emosional dan fisik menunjukkan bahwa orang tua mengerti dan memahami kebutuhan remaja. Bentuk keterlibatan orang tua terhadap kebutuhan remaja melalui: dukungan emosional, dukungan penghargaan, dukungan instrumental dan dukungan informatif.
Unveiling Shadows: Tracking Youth Disengagement from the Church [Menyingkap Bayangan: Melacak Penyebab Keterpisahan Kaum Muda dari Gereja] Samuel Ntsanwisi
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol 6, No 1 (2024): January
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v6i1.7541

Abstract

This study examines the waning attendance in youth ministry within rural and township areas of South Africa's "mainline churches" and its potential implications for youth development. Amidst prevailing challenges like substance abuse, adolescent pregnancy, and mental health concerns, the church, often a crucial source of guidance, has the potential to offer significant support. However, changing cultural dynamics, modernization, socio-economic influences, the challenges posed by urbanization, and the intersecting issues of LGBTQ inclusivity, disability considerations, and evolving identity dynamics, along with alternative entertainment, have collectively contributed to youth disengagement from conventional religious practices. This decline raises substantial concerns regarding its impact on the youth’s moral and spiritual well-being. Through a comprehensive literature review, this research aims to understand the underlying causes of this decline and propose strategies for revitalising the youth ministry. By metaphorically "illuminating the hidden obstacles," this study seeks to empower the church to foster spiritual growth, influence South Africa's youth positively, and address pressing challenges effectively.
Implikasi Praktis Konsep Teologis Munus Triplex bagi Pendidik Kristen [Practical Implications of the Munus Triplex Theological Concept for Christian Educators] Arthur Chandra
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol 6, No 1 (2024): January
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v6i1.7883

Abstract

This paper discusses the practical implications of the theological concept of the three roles of Christ's office which is one of the distinctive identities of Reformed theology with the term munus triplex in the realm of Christian education.  This theological concept explains the identity and work of Christ in salvation by carrying out the role of office as prophet, priest and king. The purpose of this study is to explain and apply the concept of Munus Triplex as one of the tools to manifest Christian theology concretely and specifically in the pedagogical context by presenting the identity and work of Christ as the centre of salvation, where Christian educators need to build it through certain habits with students continuously. The habit is built intentionally in presenting educators as the image of Christ through the implementation of the role of the office of prophet, priest and king.  Thus, the educator is expected to see Christ through the habits built by the Christian educator so that the educator can grow to love God and resemble Christ more and more. BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Tulisan ini membahas tentang implikasi praktis dari konsep teologis tiga peran jabatan Kristus yang menjadi salah satu identitas khas dari teologi Reformed dengan istilah munus triplex dalam ranah pendidikan Kristen.  Konsep teologis ini menjelaskan mengenai identitas dan karya Kristus dalam keselamatan dengan mengemban peran jabatan sebagai nabi, imam dan raja. Tujuan dalam penelitian ini adalah menjelaskan dan mengaplikasikan konsep Munus Triplex sebagai salah satu tools untuk mengejawantahkan teologi Kristen secara konkrit dan partikular dalam konteks pedagogik dengan menampilkan identitas dan karya Kristus sebagai pusat keselamatan, dimana pendidik Kristen perlu membangunnya melalui kebiasaan tertentu dengan naradidik secara kontinyu. Kebiasaan tersebut dibangun secara intensional dalam menampilkan pendidik sebagai gambar Kristus melalui pelaksanaan peran jabatan nabi, imam dan raja.  Dengan demikian naradidik diharapkan dapat melihat Kristus melalui kebiasaan yang dibangun pendidik Kristem sehingga naradidik dapat bertumbuh semakin mencintai Tuhan dan menyerupai Kristus. 
Peran Guru Kristen Sebagai Fasilitator dalam Menjelaskan Pembelajaran Bermakna bagi Siswa [The Role of Christian Teachers as Facilitators in Explaining Meaningful Learning for Students] Imelda Suwati Agnes Munte; Imanuel Adhitya Wulanata Chrismastianto
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol 6, No 2 (2024): May
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v6i2.8210

Abstract

Current Christian education has not been optimal in bringing students to the knowledge of God. Teachers only focus on delivering material so that knowledge stops in the cognitive domain and students do not understand the meaning and purpose of the lesson. The solution is teachers need to present meaningful learning for students. The purpose of this paper is to determine the role of Christian teachers as facilitators in developing meaningful learning for students. The method used is a literature review. Meaningful learning is a learning process that can bring students to the highest meaning of learning, namely God's truth. Epistemology is the  philosophical view that bridges the highest source of knowledge, the God's truth. The role of Christian teachers as facilitators in meaningful learning is to facilitate students to gain knowledge of God so that students' lives refer to Christian values. It can be concluded that the role of Christian teachers is important in developing meaningful learning for students so that students continue to grow in the God’s truth and glorify God in their lives. The suggestion for next researchers is to deepen about the application of the role of Christian teachers as facilitators in developing meaningful learning through direct observation and enriching reference sources. BAHASA INDONESIA ABSTRACTPendidikan Kristen saat ini belum maksimal dalam membawa murid-murid kepada pengenalan akan Tuhan. Guru hanya berfokus pada penyampaian materi sehingga pengetahuan berhenti pada ranah kognitif dan siswa tidak mengerti makna dan tujuan dari pelajaran tersebut. Solusinya adalah guru perlu menyajikan pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengetahui peran guru Kristen sebagai fasilitator dalam mengembangkan pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Metode yang digunakan adalah studi literatur. Pembelajaran yang bermakna adalah proses pembelajaran yang dapat membawa siswa menemukan makna tertinggi dari pembelajaran, yaitu kebenaran Tuhan. Epistemologi merupakan pandangan filsafat yang menjembatani sumber pengetahuan tertinggi yaitu kebenaran Tuhan. Peran guru Kristen sebagai fasilitator dalam pembelajaran bermakna adalah memfasilitasi siswa untuk mendapatkan pengetahuan tentang Tuhan sehingga kehidupan siswa mengacu pada nilai-nilai Kristiani. Dapat disimpulkan bahwa peran guru Kristen penting dalam mengembangkan pembelajaran yang bermakna bagi siswa agar siswa terus bertumbuh dalam kebenaran Tuhan dan memuliakan Tuhan dalam kehidupannya. Saran untuk peneliti selanjutnya adalah memperdalam tentang penerapan peran guru Kristen sebagai fasilitator dalam mengembangkan pembelajaran yang bermakna melalui observasi langsung dan memperkaya sumber referensi. 
Pentingnya Meningkatkan Kompetensi Pedagogik Guru Kristen dalam Proses Pembelajaran: Suatu Kajian Filosofi Kristen [The Importance of Improving the Pedagogical Competence of Christian Teachers in the Learning Process: a Study of Christian Philosophy] Yesika Sumbayak; Suparman Suparman
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol 5, No 1 (2023): January
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v5i1.6566

Abstract

Christian education is a God-centred education, having a transformative and holistic purpose to reconcile students who have fallen into sin and restore the image of God in students. Teachers as transformative and holistic agents need to have the right perspective on students. The teacher's perspective on students will affect the pedagogical competence of the teacher. A good pedagogical competence can create meaningful learning. However, in reality, secular philosophy has influenced teachers in achieving educational purpose as well as the way teachers view students. Secular education makes the teacher as the centre of education and views the students as machines or robots that receive knowledge according to what the teacher delivers. The purpose of this study is to examine the importance of pedagogical competence of teachers in Christian philosophy. This study uses a literature review method by researching several theories and journals. The results showed that it is important for Christian teachers as co-workers of God to develop pedagogical competence. Through this competence, it will help Christian teachers in applying learning methods that are able to transform students to be more like Christ. In conclusion, the basic thing that teachers need to have is awareness and humility to continuously learn and develop every ability they have as a form of accountability before God. BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Pendidikan Kristen adalah pendidikan yang berpusat pada Tuhan, yang memiliki tujuan transformatif dan holistik untuk mendamaikan siswa yang telah jatuh ke dalam dosa dan memulihkan gambar Allah dalam diri siswa. Guru sebagai agen transformatif dan holistik perlu memiliki cara pandang yang tepat terhadap siswa. Cara pandang guru terhadap siswa akan mempengaruhi kompetensi pedagogis yang dimiliki oleh guru. Kompetensi pedagogis yang baik dapat menciptakan pembelajaran yang bermakna. Namun pada kenyataannya, filosofi sekuler telah mempengaruhi guru dalam mencapai tujuan pendidikan dan juga cara pandang guru terhadap siswa. Pendidikan sekuler menjadikan guru sebagai pusat pendidikan dan memandang siswa sebagai mesin atau robot yang menerima pengetahuan sesuai dengan apa yang disampaikan oleh guru. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pentingnya kompetensi pedagogis guru dalam filsafat Kristen. Penelitian ini menggunakan metode tinjauan literatur dengan menelaah beberapa teori dan jurnal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penting bagi guru Kristen sebagai rekan sekerja Tuhan untuk mengembangkan kompetensi pedagogis. Melalui kompetensi ini, akan menolong guru Kristen dalam menerapkan metode pembelajaran yang mampu mentransformasi siswa menjadi semakin serupa dengan Kristus. Kesimpulannya, hal mendasar yang perlu dimiliki oleh para guru adalah kesadaran dan kerendahan hati untuk terus belajar dan mengembangkan setiap kemampuan yang dimilikinya sebagai bentuk pertanggungjawaban di hadapan Tuhan.
Peran Guru sebagai Penuntun dalam Mengembangkan Sikap Tanggung Jawab Murid: Sebuah Kajian Epistemologi Kristen [The Role of Teachers as Guides in Developing Students' Attitude of Responsibility: A Study of Christian Epistemology] Ferren Ferren; Bertha Natalina Silitonga
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol 6, No 1 (2024): January
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v6i1.7684

Abstract

Responsibility is an attitude needed to shape a person in making decisions and acting. Every student is expected to be responsible for themselves, the community, and the environment. Yet, in reality a lack of responsibility still occur among students. For example, KPAI data in 2020 showed 480 students were victims of bullying. This shows the need for the role of Christian teacher to guide students to an attitude of responsibility according to Christian ethics. Therefore, the purpose of this study are to explain the significance of the teacher's role in the formation of student responsibility and to explain the role of the teacher as a guide to develop the attitude of responsibility of the students. The method used is the literature review method. The results shows that a Christian teacher as a role model is needed for students transformation. Christian teacher is a God's coworker to introduce God and bring students in restoring relationships with God. For the next research it is suggested to explore deeper about the role of Christian teacher in character education, especially the responsibility and implementation of character education to develop students' responsiblity.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Tanggung jawab merupakan sikap yang diperlukan untuk membentuk seseorang dalam mengambil keputusan dan bertindak. Setiap mahasiswa diharapkan dapat bertanggung jawab terhadap diri sendiri, masyarakat, dan lingkungannya. Namun, pada kenyataannya sikap tanggung jawab masih banyak terjadi di kalangan pelajar. Sebagai contoh, data KPAI pada tahun 2020 menunjukkan 480 siswa menjadi korban perundungan. Hal ini menunjukkan perlunya peran guru agama Kristen untuk membimbing siswa memiliki sikap tanggung jawab sesuai dengan etika Kristen. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan pentingnya peran guru dalam pembentukan sikap tanggung jawab siswa dan menjelaskan peran guru sebagai pembimbing untuk mengembangkan sikap tanggung jawab siswa. Metode yang digunakan adalah metode tinjauan pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru Kristen sebagai teladan sangat dibutuhkan dalam proses transformasi siswa. Guru Kristen adalah rekan sekerja Tuhan untuk memperkenalkan Tuhan dan membawa siswa dalam memulihkan hubungan dengan Tuhan. Untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk menggali lebih dalam mengenai peran guru Kristen dalam pendidikan karakter, khususnya tanggung jawab dan implementasi pendidikan karakter untuk mengembangkan tanggung jawab siswa.
Hubungan Antara Profesionalisme Dosen dengan Karakter Kristiani Mahasiswa (Studi Korelasi di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pelita Harapan, Tangerang) [The Relationship Between Lecturer Professionalism and Student Christian Character (Correlation Study at the Faculty of Education, Pelita Harapan University, Tangerang)] Abednego Tri Gumono; Yusak Tanasyah; Amos Naolaka
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol 6, No 1 (2024): January
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v6i1.7884

Abstract

The realization of character education is a shared responsibility of both parents and educational institutions. Higher education as an integral educational facility has a responsibility to develop aspects of character. This is because character is an important domain in forming a student's personality as a whole. In this way, students can grow cognitively, affectively and psychometrically. The Faculty of Education, Pelita Harapan University has a profile of students who are competent, have character, have a calling as Christian teachers (Calling), and have compassion (compassion). To realize this profile, it must be supported by the professionalism of lecturers with the characteristics of having a loving spirit like the good Samaritan and a spirit of self-emptying of Christ in serving. The aim of this research is to determine the relationship between lecturer professionalism and student Christian character. The results of this research will provide an overview, evaluation, and input to build Christian character in a sustainable manner. The method used in this research is a correlative quantitative method. The research results show that lecturer professionalism is significantly related to students' Christian character. The research results show that there is a correlation between lecturer professionalism and student Christian character of .537. Thus, it can be concluded that the correlation between lecturer professionalism and student Christian character is in the strong category. The test results show the significance value (p = .000) is smaller than 0.05. This means that there is not enough evidence to accept the proposed hypothesis (reject Ho). Thus, it can be concluded that there is a significant correlation between lecturer professionalism and student Christian character.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Perwujudan pendidikan karakter merupakan tanggung jawab bersama antara orang tua dan institusi pendidikan. Perguruan tinggi sebagai salah satu sarana pendidikan yang tidak terpisahkan memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan aspek karakter. Hal ini dikarenakan karakter merupakan domain penting dalam membentuk kepribadian mahasiswa secara utuh. Dengan demikian, mahasiswa dapat berkembang secara kognitif, afektif dan psikomotorik. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pelita Harapan memiliki profil mahasiswa yang kompeten, berkarakter, memiliki panggilan sebagai guru Kristen (Calling), dan memiliki belas kasih (compassion). Untuk mewujudkan profil tersebut, harus didukung oleh profesionalisme dosen dengan ciri-ciri memiliki semangat mengasihi seperti orang Samaria yang baik hati dan semangat mengosongkan diri seperti Kristus dalam melayani. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara profesionalisme dosen dengan karakter kristiani mahasiswa. Hasil penelitian ini akan memberikan gambaran, evaluasi dan masukan untuk membangun karakter kristiani secara berkelanjutan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif korelasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa profesionalisme dosen berhubungan secara signifikan dengan karakter kristiani mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara profesionalisme dosen dengan karakter kristiani mahasiswa sebesar 0,537. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa korelasi antara profesionalisme dosen dengan karakter Kristen mahasiswa berada pada kategori kuat Hasil uji t menunjukkan nilai signifikansi (p=.000) lebih kecil dari 0.05. Hal ini berarti tidak terdapat cukup bukti untuk menerima hipotesis yang diajukan (tolak Ho). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara profesionalisme dosen dengan karakter kristiani mahasiswa.