cover
Contact Name
Ridwanta Manogu
Contact Email
ridwanta.manogu@uph.edu
Phone
021 5460901
Journal Mail Official
editor.diligentia@uph.edu
Editorial Address
Jl. MH Thamrin 1100 Lippo Karawaci, Tangerang 15811
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education
ISSN : -     EISSN : 26863707     DOI : 26863707
Core Subject : Religion, Education,
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education is a scientific journal of theology, Christian worldview, Christian education, philosophy of Christian education, and integration of faith and learning. It is published by the Department of Christian Religion Education at Universitas Pelita Harapan triannually in September, January and May.
Articles 185 Documents
Pentingnya Meningkatkan Kompetensi Pedagogik Guru Kristen dalam Proses Pembelajaran: Suatu Kajian Filosofi Kristen [The Importance of Improving the Pedagogical Competence of Christian Teachers in the Learning Process: a Study of Christian Philosophy] Sumbayak, Yesika; Suparman, Suparman
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol. 5 No. 1 (2023): January
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v5i1.6566

Abstract

Christian education is a God-centred education, having a transformative and holistic purpose to reconcile students who have fallen into sin and restore the image of God in students. Teachers as transformative and holistic agents need to have the right perspective on students. The teacher's perspective on students will affect the pedagogical competence of the teacher. A good pedagogical competence can create meaningful learning. However, in reality, secular philosophy has influenced teachers in achieving educational purpose as well as the way teachers view students. Secular education makes the teacher as the centre of education and views the students as machines or robots that receive knowledge according to what the teacher delivers. The purpose of this study is to examine the importance of pedagogical competence of teachers in Christian philosophy. This study uses a literature review method by researching several theories and journals. The results showed that it is important for Christian teachers as co-workers of God to develop pedagogical competence. Through this competence, it will help Christian teachers in applying learning methods that are able to transform students to be more like Christ. In conclusion, the basic thing that teachers need to have is awareness and humility to continuously learn and develop every ability they have as a form of accountability before God. BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Pendidikan Kristen adalah pendidikan yang berpusat pada Tuhan, yang memiliki tujuan transformatif dan holistik untuk mendamaikan siswa yang telah jatuh ke dalam dosa dan memulihkan gambar Allah dalam diri siswa. Guru sebagai agen transformatif dan holistik perlu memiliki cara pandang yang tepat terhadap siswa. Cara pandang guru terhadap siswa akan mempengaruhi kompetensi pedagogis yang dimiliki oleh guru. Kompetensi pedagogis yang baik dapat menciptakan pembelajaran yang bermakna. Namun pada kenyataannya, filosofi sekuler telah mempengaruhi guru dalam mencapai tujuan pendidikan dan juga cara pandang guru terhadap siswa. Pendidikan sekuler menjadikan guru sebagai pusat pendidikan dan memandang siswa sebagai mesin atau robot yang menerima pengetahuan sesuai dengan apa yang disampaikan oleh guru. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pentingnya kompetensi pedagogis guru dalam filsafat Kristen. Penelitian ini menggunakan metode tinjauan literatur dengan menelaah beberapa teori dan jurnal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penting bagi guru Kristen sebagai rekan sekerja Tuhan untuk mengembangkan kompetensi pedagogis. Melalui kompetensi ini, akan menolong guru Kristen dalam menerapkan metode pembelajaran yang mampu mentransformasi siswa menjadi semakin serupa dengan Kristus. Kesimpulannya, hal mendasar yang perlu dimiliki oleh para guru adalah kesadaran dan kerendahan hati untuk terus belajar dan mengembangkan setiap kemampuan yang dimilikinya sebagai bentuk pertanggungjawaban di hadapan Tuhan.
Kemampuan Membaca Pemahaman Siswa Sekolah Dasar [Reading Comprehension Skills of Elementary”¯School”¯Students] Frans, Sarah Adelheit; Ani, Yubali; Wijaya, Yesaya Adhi
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol. 5 No. 1 (2023): January
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v5i1.6567

Abstract

The ability to read comprehensively is the key to success in education. The ability to read comprehensively can help students understand in depth the contents of a reading so that students' knowledge can develop. This ability has been taught since the third grade of elementary school and its development is specifically carried out in Indonesian Language lessons but is useful in other subjects. However, there are still problems with low reading comprehension skills at the elementary level to a higher level. The purpose of writing this paper is to present the reading comprehension ability of elementary school students. The method of writing is a literature review by conducting an assessment of various sources. The results of the study show that the low reading comprehension ability is caused by low interest in reading, lack of motivation, until learning to read comprehension is boring. The teacher's role is needed in selecting and implementing appropriate reading comprehension learning strategies to be able to improve these abilities. There are many types of reading comprehension learning strategies and teachers must choose and apply the right strategies so that students can achieve learning objectives. The teacher's role in selecting and implementing learning strategies is influenced by the value system held by the teacher. Christian teachers must see their students as Imago Dei with their own uniqueness and diverse needs. In this way, Christian teachers will help students grow holistically. BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Kemampuan membaca secara komprehensif merupakan kunci keberhasilan dalam dunia pendidikan.Kemampuan membaca komprehensif dapat membantu siswa memahami secara mendalam isi suatu bacaan sehingga pengetahuan siswa dapat berkembang.Kemampuan ini telah diajarkan sejak kelas tiga sekolah dasar dan pengembangannya secara khusus dilakukan pada pelajaran Bahasa Indonesia, namun bermanfaat pada mata pelajaran lainnya.Namun, masih terdapat permasalahan rendahnya kemampuan membaca pemahaman di tingkat sekolah dasar hingga ke jenjang yang lebih tinggi.Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memaparkan kemampuan membaca pemahaman siswa sekolah dasar.Metode penulisan yang digunakan adalah kajian literatur dengan melakukan pengkajian dari berbagai sumber.Hasil kajian menunjukkan bahwa rendahnya kemampuan membaca pemahaman disebabkan oleh rendahnya minat baca, kurangnya motivasi, hingga pembelajaran membaca pemahaman yang membosankan.Peran guru sangat dibutuhkan dalam memilih dan menerapkan strategi pembelajaran membaca pemahaman yang tepat untuk dapat meningkatkan kemampuan tersebut.Ada banyak jenis strategi pembelajaran membaca pemahaman dan guru harus memilih dan menerapkan strategi yang tepat agar siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran.Peran guru dalam memilih dan menerapkan strategi pembelajaran dipengaruhi oleh sistem nilai yang dianut oleh guru.Guru Kristen harus melihat murid-muridnya sebagai Imago Dei dengan keunikan dan kebutuhan yang beragam. Dengan cara ini, guru-guru Kristen akan membantu para siswa bertumbuh secara holistik.
Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif untuk Meningkatkan Keaktifan Siswa Kelas IX dalam Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen [The Implementation of the Cooperative Learning Model to Increase Students' Activeness in a Grade 9 Biblical Studies Class] Br Hombing, Chindy Mutiara; Yanti, Yanti
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol. 5 No. 2 (2023): May
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v5i2.6804

Abstract

Students as beings created in the image of God have qualities that exceed other creatures, namely intellectual, social, and spiritual abilities that direct them to positive goals through their involvement in the learning process. Not only do they need to learn to listen to the teacher, but students are also expected to play an active role in their learning. In fact, the situation found indicate the tendency of student to only listen to the teacher's delivery, thus the learning is less interactive and collaborative. As a result, the learning atmosphere seems stiff and boring and even student does not have the opportunity to express their perspective on the learning material. This indicates the teacher's lack of attention to the existence of students as Imago Dei who have been specially equipped to experience the learning process. Thus, the problem of activity urges teachers to create an interactive learning atmosphere. The author proposes a method that can be applied, namely the cooperative learning model. The purpose of this study is to examine the results of the implementation of the cooperative learning model as an effort to increase student activity. The research method used is descriptive qualitative through a literature review of previous studies. The results of the implementation of the cooperative learning model can increase student activity measured based on three indicators of research success, namely student participation, social interaction and paying attention to teacher explanations in participating in learning. The author's suggestion for further research is to apply a cooperative learning model by using supporting methods such as role play and mind mapping to increase student activity.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Siswa sebagai ciptaan yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah memiliki kualitas yang melebihi ciptaan lainnya, yaitu kemampuan intelektual, sosial, dan spiritual yang mengarahkan siswa kepada tujuan yang positif melalui keterlibatannya dalam suatu proses pembelajaran. Siswa tidak hanya belajar dengan mendengarkan guru, tetapi siswa diharapkan dapat berperan aktif dalam pembelajaran. Kenyataannya, kondisi yang ditemukan menunjukkan adanya kecenderungan siswa hanya mendengarkan penyampaian guru sehingga pembelajaran kurang interaktif dan kolaboratif. Akibatnya, suasana pembelajaran terkesan kaku dan membosankan bahkan siswa tidak memiliki kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya terhadap materi pembelajaran. Hal ini mengindikasikan kurangnya perhatian guru terhadap keberadaan siswa sebagai Imago Dei yang telah dibekali secara khusus untuk mengalami proses pembelajaran. Dengan demikian, masalah aktivitas mendesak guru untuk menciptakan suasana pembelajaran yang interaktif. Penulis mengajukan sebuah metode yang dapat diterapkan, yaitu model pembelajaran kooperatif. Sehingga tujuan penelitian adalah untuk mengkaji hasil penerapan model pembelajaran kooperatif sebagai upaya meningkatkan aktivitas siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui studi literatur terhadap penelitian-penelitian sebelumnya. Hasil penerapan model pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan aktivitas siswa yang diukur berdasarkan tiga indikator keberhasilan penelitian, yaitu partisipasi siswa, interaksi sosial dan memperhatikan penjelasan guru dalam mengikuti pembelajaran. Saran penulis untuk penelitian selanjutnya adalah menerapkan model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan metode pendukung seperti role play dan mind mapping untuk meningkatkan aktivitas siswa.
Teologi Perjamuan Kudus menurut Kaum Anabaptis, Zwingli, dan Calvin: dalam Sejarah Reformasi [Theology of Holy Communion According to the Anabaptists, Zwingli, and Calvin: In the History of the Reformation] Rope, Denny
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol. 5 No. 3 (2023): September
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v5i3.6850

Abstract

The 5th century was a bleak time for the development of the church. The Bishop of Rome showed his supremacy over all churches and teachings, which led to the Reformation and the concept of Holy Communion. Holy Communion or Eucharist is interpreted as a form of Jesus' sacrifice accepted by His people through the fellowship of food and drink, namely the body (bread) and blood (wine). This raises the question of whether there is the presence of Christ Jesus in the food and drink or is it just a symbol. This research is to look at the views of reformer theologians Ulrich Zwingli, John Calvin and the Anabaptists on Holy Communion. The results of this study show that there are differences in understanding of Holy Communion. The Anabaptists understood the Supper in almost the same context as Zwingli, namely as a memorial without the presence of Christ. While John Calvin thought that Christ was present in the revelation of His Spirit to awaken His people to the work of salvation. The thing that makes their views on Eucharist theology the same is the excavation carried out based on the Word of God. The renewed understanding of Holy Communion is inseparable from the teaching of the Roman Catholic Church at that time which seemed to show its superiority where the Eucharist was considered the way for humans to get forgiveness of sins. The focus of Holy Communion can be understood as God's action to reveal the concept of Jesus' sacrifice as the powerful Christ, ruling through His Spirit and working in His members.  And the specific meaning for His people today is to remember, repent, and have faith in Jesus as Lord and Savior.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Abad ke 5 merupakan masa suram bagi perkembangan gereja. Uskup Roma menunjukkan supremasinya atas seluruh gereja dan pengajaran sehingga menggerakkan Reformasi dan salah satunya terhadap konsep Perjamuan Kudus. Perjamuan Kudus atau Ekaristi dimaknai sebagai bentuk pengorbanan Yesus yang diterima oleh umatNya melalui persekutuan makanan dan minuman yaitu tubuh (roti) dan darah (anggur). Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah terdapat kehadiran Kristus Yesus dalam makanan dan minuman atau hanya merupakan simbol saja. Penelitian ini untuk melihat pandangan dari para teolog reformator Ulrich Zwingli, John Calvin dan Kaum Anabaptis terhadap Perjamuan Kudus. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan pemahaman tentang Perjamuan Kudus. Bagi kaum Anabaptis memahami Perjamuan dalam konteks yang hampir sama dengan Zwingli yakni sebagai peringatan tanpa kehadiran Kristus. Sementara John Calvin beranggapan bahwa Kristus ada dalam penyataan RohNya untuk menyadarkan umatNya tentang karya keselamatan. Hal yang menjadikan pandangan mereka pada Ekaristi teologi sama adalah penggalian yang dilakukan berdasarkan Firman Allah. Pembaharuan pemahaman terhadap Perjamuan Kudus tidak terlepas dari pengajaran Gereja Katolik Roma pada masa itu yang nampaknya menunjukkan superioritasnya dimana Ekaristi dianggap sebagai jalan manusia mendapatkan pengampunan dosa. Fokus dari Perjamuan Kudus dapat dipahami sebagai tindakan Tuhan untuk menyatakan konsep pengorbanan Yesus sebagai Kristus yang berkuasa, memerintah melalui Roh-Nya dan bekerja dalam anggota-anggotaNya.  Dan makna khusus bagi umatNya saat ini adalah mengingat, bertobat, dan memiliki iman kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Pekerjaan Kristus dan Pekerjaan Manusia dalam Keselamatan [The Work of Christ and the Work of Man in Salvation] Setiawati, Riva Diyas
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol. 5 No. 2 (2023): May
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v5i2.6918

Abstract

The understanding of the assurance of salvation does not only affect the way people think, but also the way they live their life. Extreme conclusions that arise from the topic of assurance of salvation can make humans rely on themselves in obtaining salvation or live irresponsibly with guarantees that they will remain saved. This paper seeks to describe the saving work of Christ and human work as the results of salvation. It is concluded that humans are completely dependent on God in obtaining salvation and God Himself is also the one who maintains this salvation until the end of time. However, humans need to work together with God in the process of sanctification and spiritual growth. This awareness of the assurance of salvation should bring gratitude, which is expressed in obedience to God, true service, and preaching of the Gospel. Research method used in this paper is literature review.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Pemahaman akan jaminan keselamatan tidak hanya mempengaruhi cara berpikir manusia, tetapi juga cara mereka menjalani hidup. Kesimpulan ekstrim yang muncul dari topik jaminan keselamatan dapat membuat manusia mengandalkan diri sendiri dalam memperoleh keselamatan, atau hidup tidak bertanggung jawab dengan jaminan bahwa mereka akan tetap selamat. Tulisan ini berusaha untuk menjelaskan karya penyelamatan Kristus dan pekerjaan manusia sebagai hasil dari keselamatan. Disimpulkan bahwa manusia sepenuhnya bergantung pada Tuhan dalam memperoleh keselamatan dan Tuhan sendirilah yang memelihara keselamatan itu sampai akhir zaman. Namun demikian, manusia perlu bekerja sama dengan Tuhan dalam proses pengudusan dan pertumbuhan rohani. Kesadaran akan jaminan keselamatan ini seharusnya membawa rasa syukur yang diekspresikan dalam ketaatan kepada Allah, pelayanan yang benar, dan pemberitaan Injil.
Kristologi menurut Injil Yohanes [Christology According to the Gospel of John] Patiung, Ksatria Londong
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol. 5 No. 2 (2023): May
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v5i2.6967

Abstract

The understanding of Christology is sometimes vague. Some think that Jesus only has the nature of God and does not have a human nature, while others think that Jesus is an ordinary human being. Therefore, believers must have a correct understanding based on the truth of God's Word. The Gospels testify about Jesus Christ and His ministry. This paper specifically explains Christology from the perspective of the Gospel of John with its uniqueness. The Gospel of John affirms the belief that Jesus is the Messiah and the Son of God (John 20:30-31). John emphasizes that Jesus has a special personal relationship with God that no one else has. In addition to affirming Jesus as the Messiah and the Son of God, John also affirms Jesus' recognition of Himself as the "Son of Man".  Therefore, all Christians should believe that Jesus is both true God and true man. BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Pemahaman tentang Kristologi yang dimiliki orang Kristen kadang kala memiliki pemahaman yang kabur. Ada yang menganggap Yesus hanya memiliki natur Allah dan tidak memiliki natur manusia, ada pula yang menganggap Yesus sebagai manusia biasa. Oleh karena itu orang percaya harus memiliki pemahaman yang benar berdasarkan kebenaran Firman Allah. Kitab Injil menuliskan tentang Yesus Kristus dan pelayanan-nya. Tulisan ini khusus menjelaskan Kristologi dari sudut pandang Injil Yohanes dengan keunikannya. Injil Yohanes meneguhkan kepercayaan bahwa Yesus sebagai Mesias dan Anak Allah (Yoh. 20:30-31). Yohanes menekankan bahwa Yesus memiliki hubungan pribadi yang istimewa dengan Allah yang tidak dimiliki oleh siapa pun. Selain menegaskan Yesus sebagai Mesias dan Anak Allah, Yohanes juga menegaskan pengakuan Yesus akan diri-Nya sebagai “Anak Manusia”.  Untuk itu, semua orang Kristen harusnya memiliki kepercayaan bahwa Yesus adalah Allah sejati sekaligus manusia sejati.
Konsep Paradoks: Kedaulatan Allah dan Kebebasan Manusia Menurut Perspektif Teologi Reformed [A Paradoxical Concept: God's Sovereignty and Human Freedom According to a Reformed Theological Perspective] Zega, Sri Susianti
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol. 5 No. 3 (2023): September
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v5i3.7335

Abstract

Humans can only understand salvation through God's revelation in the Bible. The Bible teaches that the matter of salvation is both God's sovereignty and man's inseparable responsibility, which is understood as a paradoxical concept. But in reality, 6 out of 11 Christian students do not understand the paradoxical truth about salvation taught by the Bible according to a randomly distributed survey. Christian students who have accepted theological doctrines should understand the paradoxical truth about salvation. An important aim of writing this essay is to show the understanding of Reformed theology (represented by John Calvin, Louis Berkhof, Anthony Hoekema, and J.I. Packer) regarding salvation as God's sovereignty and human responsibility using literary sources. Reformed theologians (Calvin, Berkhof, Hoekema, and Packer) accepted the paradoxical concept and believed that humans contribute to the regeneration of identity through God's grace. God's grace is the main reason humans can obey this. Therefore, understanding the concept of paradoxical truth must be accompanied by love and humility before God.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Manusia hanya dapat memahami keselamatan melalui wahyu Allah melalui Alkitab. Alkitab mengajarkan bahwa mengusahakan keselamatan adalah kedaulatan Tuhan dan tanggung jawab manusia yang tidak terpisahkan, yang dipahami sebagai konsep paradoks. Namun pada kenyataannya, 6 dari 11 mahasiswa Kristen tidak memahami kebenaran paradoksal tentang keselamatan yang diajarkan oleh Alkitab, berdasarkan survei yang disebarkan secara acak. Mahasiswa Kristen yang telah menerima doktrin teologi seharusnya memahami kebenaran paradoksal tentang mengerjakan keselamatan. Tujuan penting dari penulisan esai ini adalah untuk menunjukkan pemahaman teologi Reformed (yang diwakili oleh John Calvin, Louis Berkhof, Anthony Hoekema, dan Packer) mengenai keselamatan sebagai kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia atas keselamatan dengan menggunakan sumber-sumber literatur. Konsep paradoksal dalam mengerjakan keselamatan sebagai kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia. Kebenaran yang diajarkan oleh Alkitab, para teolog Reformed (Calvin, Berkhof, Hoekema, dan Packer) menerima konsep paradoksal dan percaya bahwa manusia berkontribusi dalam regenerasi identitas melalui kasih karunia Allah. Kasih karunia Allah sebagai penyebab utama manusia dapat taat mengerjakan keselamatan. Oleh karena itu, memahami konsep kebenaran paradoksal harus disertai dengan kasih dan kerendahan hati di hadapan Tuhan.
Implications of a Biblical Christian Worldview: A Case Study of Sociology, Language, Art, and Pedagogy Lecturers’ Teaching Practices [Implikasi dari Pandangan Dunia Kristen yang Alkitabiah: Studi Kasus Praktik Pengajaran Dosen Sosiologi, Bahasa, Seni, dan Pedagogi] Siahaan, Meri Fuji
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol. 5 No. 3 (2023): September
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v5i3.7339

Abstract

The purpose of this research was to describe lecturers’ practices of integrating a biblical Christian worldview in teaching courses in sociology, Indonesian language, art, and pedagogy (assessment and teaching and learning theories). The participants were the lecturers in one of the education faculties in Tangerang.  The data were derived from interviews with five faculty members and collecting their course syllabus. Descriptive qualitative research with a case study approach was employed. The data were described and analyzed in the light of the current literature. The findings showed that those five faculty members have been implementing a biblical Christian worldview in their teaching with a pedagogy of transferring new information. This paper suggests faculty not use a biblical Christian worldview as just intellectual information with a goal of increasing head knowledge but rather use it to reorient students' hearts.
Kajian Natur Siswa sebagai Gambar dan Rupa Allah dalam Pendidikan Kristen yang Holistik [The Study of Students' Nature as the Image and Likeness of God in Holistic Christian Education] Hombing, Chindy Mutiara Br; Yanti, Yanti
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol. 5 No. 3 (2023): September
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v5i3.7344

Abstract

The philosophy of Christian education is based on the foundation of restoration of man as the image and likeness of God who fell into sin to be reconciled and redeemed to God. Christian education aims to transform students towards the likeness of God's character. Unfortunately, the practice of Christian education pays less attention to the development of the whole aspects of a student and instead only focuses on particular aspects, so that many students only obtain knowledge, but are lacking character and spiritual life shown in their life. This gap awakens the needs for a holistic approach, namely focusing on all aspects of human life. Therefore, the purpose of this article is to explain the implications of holistic Christian education practices based on the importance of students' natures in achieving the goals of Christian education. The method used here is literature study based on several focus studies, namely philosophical views, students as the image and likeness of God and holistic Christian education. As a result, the existence of holistic students is directed to learning that comes from God's truth through holistic Christian education. The practice of Christian education is recommended to provide teachings that touch the heart to bring humans to recovery towards the right way of life before God. Educational institutions present an integrated curriculum of spiritual aspects to realize a positive response and responsibility of students towards others and nature.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Filsafat pendidikan Kristen mendasari pada pemulihan manusia sebagai gambar dan rupa Allah yang jatuh ke dalam dosa untuk direkonsiliasi, ditebus dan didamaikan dengan Allah. Pendidikan Kristen bertujuan mentransformasi individu secara utuh untuk menuju keserupaan karakter Allah. Faktanya, praktik pendidikan Kristen kurang memperhatikan pengembangan semua aspek dan tidak jarang hanya terfokus pada satu aspek saja, sehingga banyak siswa yang hanya berpengetahuan baik namun karakter dan kehidupan spiritual yang ditunjukkan malah kurang atau buruk. Kesenjangan ini menyadarkan perlunya pendekatan holistik yaitu memberi perhatian kepada seluruh aspek kehidupan manusia. Oleh sebab itu, tujuan penulisan ini yaitu memaparkan implikasi praktik pendidikan Kristen yang holistik berdasarkan pertimbangan pentingnya natur siswa dalam mewujudkan tujuan pendidikan Kristen. Metode yang dipakai adalah studi literatur berdasarkan beberapa fokus kajian yakni tinjauan filosofis, siswa sebagai gambar dan rupa Allah dan pendidikan Kristen yang holistik. Hasilnya, keberadaan siswa yang holistik diarahkan kepada pembelajaran yang bersumber dari kebenaran Allah melalui pendidikan holistik. Praktik pendidikan Kristen disarankan memberikan pengajaran yang sampai menyentuh hati untuk membawa manusia kepada pemulihan menuju cara hidup yang benar di hadapan Allah. Institusi pendidikan menghadirkan kurikulum terintegrasi aspek spiritual untuk mewujudkan respons positif dan tanggung jawab siswa terhadap sesama dan alam.
Kepemimpinan yang Melayani Menurut Teladan Kristus [Servant Leadership According to Christ's Example] Andriani, Neneng
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol. 6 No. 1 (2024): January
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v6i1.7399

Abstract

Every human being experiences leadership in their daily lives, as leadership is a process of influencing others. When someone tries to influence the thoughts, behaviours, or development of others in their personal or professional life, he is taking on the role as a leader. It is very important for a leader to understand how he will use his authority to influence others. The Christian has a very clear reference point in this matter, as the Bible is a foundation to determine how someone will lead, to lead like Jesus. The purpose of this paper is to describe the Christ-like leadership, which is servant leadership. Based on narrative stories about His life in the Bible, servant leadership was taught and practiced by Jesus Christ more than two thousand years ago, which is measured by His total commitment by serving fellow human beings. For Christian leaders, leadership as an act of service is not an option, but a command. Jesus served, so that we learn to serve with heart, head, hands, and habits. Servant leadership must be a living statement for those who live in Christ, which will be seen from the way they treat one another, and the way they introduce the love of Christ to the whole world.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Setiap manusia mengalami kepemimpinan dalam kehidupan sehari-hari, karena kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang lain. Ketika seseorang mencoba mempengaruhi pikiran, perilaku, atau perkembangan orang lain dalam kehidupan pribadi atau profesionalnya, dia mengambil peran sebagai pemimpin. Sangatlah penting bagi seorang pemimpin untuk memahami bagaimana ia akan menggunakan otoritasnya untuk mempengaruhi orang lain. Orang Kristen memiliki acuan yang sangat jelas dalam hal ini, karena Alkitab adalah dasar untuk menentukan bagaimana seseorang akan memimpin, memimpin seperti Yesus. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk menggambarkan kepemimpinan seperti Kristus, yaitu kepemimpinan yang melayani. Berdasarkan kisah-kisah naratif tentang kehidupan-Nya di dalam Alkitab, kepemimpinan-pelayan telah diajarkan dan dipraktekkan oleh Yesus Kristus lebih dari dua ribu tahun yang lalu, yang dilihat dari komitmen-Nya yang total dalam melayani sesama manusia. Bagi para pemimpin Kristen, kepemimpinan sebagai tindakan melayani bukanlah sebuah pilihan, melainkan sebuah perintah. Yesus telah melayani, sehingga kita belajar untuk melayani dengan hati, kepala, tangan, dan kebiasaan. Kepemimpinan yang melayani harus menjadi pernyataan yang hidup bagi mereka yang hidup di dalam Kristus, yang akan terlihat dari cara mereka memperlakukan satu sama lain, dan cara mereka memperkenalkan kasih Kristus kepada seluruh dunia.