cover
Contact Name
Ridwanta Manogu
Contact Email
ridwanta.manogu@uph.edu
Phone
021 5460901
Journal Mail Official
editor.diligentia@uph.edu
Editorial Address
Jl. MH Thamrin 1100 Lippo Karawaci, Tangerang 15811
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education
ISSN : -     EISSN : 26863707     DOI : 26863707
Core Subject : Religion, Education,
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education is a scientific journal of theology, Christian worldview, Christian education, philosophy of Christian education, and integration of faith and learning. It is published by the Department of Christian Religion Education at Universitas Pelita Harapan triannually in September, January and May.
Articles 185 Documents
Teologi Penanggulangan Kemiskinan Dalam Upaya Mendorong Gereja Kemah Injil Indonesia Daerah Kota Samarinda Terlibat Mengentaskan Kemiskinan di Kota Samarinda [A Poverty Alleviation Theology as an Effort to Encourage Gereja Kemah Injil Indonesia in the Region of Samarinda City to be Involved in Alleviating Poverty in Samarinda City] Sekius, Daud
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol. 4 No. 3 (2022): September
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v4i3.6304

Abstract

Poverty is a social problem that always exists in the facts and realities of human life on earth. The church has a responsibility to take a role in overcoming and alleviating the problem of poverty. Through its existence, which includes human resources, local congregations, cooperatives, infrastructure, and facilities, as well as its financial potential, Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) in Samarinda City shows care and concern in contributing to poverty reduction in the city of Samarinda. This paper examines the context and relevance of poverty in the city of Samarinda by researching the literature. With textual analysis, this paper shows that in reflecting the various kinds of realities related to poverty, especially with a participatory approach in expressing methods and ideas in an effort to overcome this social problem, the author comes to the conclusion that poverty is a very complex social problem that cannot be generalized. GKII Samarinda should carry out holistic mission services, namely spiritual and physical services because God created humans and their world as a whole to be organized and managed as a whole. The church needs to take vital and strategic steps to carry out its role effectively in tackling welfare inequality by contributing to shaping the quality of community work, empowering the wealth of the church for economic development, and actualizing Biblical values to tranform the community's mindset.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Kemiskinan merupakan masalah sosial yang selalu ada dalam fakta dan realitas kehidupan manusia di muka bumi. Gereja memiliki tanggung jawab untuk mengambil peran dalam penanggulangan dan pengentasan masalah kemiskinan. Melalui eksistensinya yang meliputi Sumber Daya Manusia, Jemaat Lokal, Koperasi, Infrastruktur atau sarana dan prasarana, serta potensi keuangannya, Gereja Kemah Injil Indonesia Daerah Kota Samarinda memberikan perhatian, kepedulian dalam mengupayakan untuk berkontribusi dalam penanggulangan kemiskinan di kota Samarinda. Tulisan ini bersifat penelitian literatur dengan mengkaji konteks dan relevansinya di kota Samarinda. Dengan analisis tekstual, tulisan ini menunjukkan bahwa dalam merefleksikan berbagai macam realitas yang berkaitan dengan kemiskinan, terutama dengan pendekatan partisipatif dalam menuangkan metode dan gagasan dalam upaya menanggulangi masalah sosial tersebut, penulis sampai pada kesimpulan bahwa kemiskinan adalah masalah sosial yang sangat kompleks yang tidak dapat digeneralisasi. GKII daerah kota Samarinda sudah seharusnya menjalankan pelayanan Misi holistik yaitu pelayanan rohani dan jasmani karena Allah menciptakan manusia dan dunianya secara utuh untuk ditata dan dikelola secara utuh. Gereja perlu mengambil langkah vital dan strategis melaksanakan perannya secara efektif dalam menanggulangi ketimpangan kesejahteraan dengan cara berkontribusi untuk membentuk kualitas pekerjaan masyarakat, memberdayakan kekayaan gereja untuk pembangunan ekonomi kerakyatan, serta mengaktualisasikan nilai-nilai alkitabiah untuk mentranformasi mentalitas masyarakat.
Penggunaan Metode Diskusi untuk mengupayakan Keaktifan Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Ekonomi Kelas X [Using the Discussion Method to Enhance Student Learning Activeness in Grade 10 Economics Classes] Emmanuella, Theresia; Chrismastianto, Imanuel Adhitya Wulanata
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol. 5 No. 1 (2023): January
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v5i1.6328

Abstract

The problem of student learning activity can happen in the classroom community. Activeness is necessary for students to train them to be someone who wants to use all their abilities to understand science. Activity problems can occur due to lack of student interest in learning. It is parallel with students as human beings who have sinful natures. They tend to indulge their sense of laziness, and boredom and even rebel against everything that is not suitable for them. Then, the less active of students will also complicate learning in groups. So, student’s activeness needs to be pursued to achieve learning objectives. The selection of the proper learning method as a way of distributing material is one way of seeking student learning activities. Discussion as learning method can be an option that can be used to attract students' attention or interest because this method enchanted student’s involvement in learning. This paper will discuss how discussion as learning method can promote student activity with qualitative-descriptive research methods. After using this method, the research found that many students actively participated in learning. However, the shortcoming still found were that this method resulted in a class that was not conducive. This invites teachers not to forget the teacher's role in classroom control. BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Masalah keaktifan belajar siswa adalah salah satu masalah yang terjadi di dalam komunitas kelas. Keaktifan merupakan hal penting bagi siswa untuk melatihnya menjadi seorang yang mau menggunakan semua kemampuannya untuk memahami ilmu pengetahuan. Masalah keaktifan dapat terjadi karena kurangnya minat siswa dalam pembelajaran, hal ini sejalan dengan siswa sebagai manusia yang bernatur dosa. Siswa masih bisa memilih untuk menuruti rasa malas, bosan bahkan memberontak akan segala sesuatu yang tidak sesuai bagi dirinya. Selanjutnya, ketidakaktifan siswa juga akan mempersulit pembelajaran secara berkelompok. Jadi, keaktifan perlu diupayakan guna tercapainya tujuan pembelajaran. Pemilihan metode pembelajaran yang tepat sebagai cara penyaluran materi menjadi salah satu cara mengupayakan keaktifan belajar siswa. Metode diskusi dapat menjadi pilihan yang dapat digunakan untuk menarik perhatian atau minat siswa karena guru melibatkan mereka di dalam pembelajaran. Tentu dalam paper ini akan dibahas bagaimana penggunaan metode diskusi dapat mengupayakan keaktifan siswa dengan metode penelitian kualitatif-deskriptif. Setelah menggunakan metode ini, ditemukan beberapa keberhasilan yaitu banyak siswa yang ikut berpartisipasi aktif dalam pembelajaran pada sebuah kelas. Namun, pada kesempatan mengajar di kelas lainnya, kekurangan yang ditemukan yaitu metode ini menghasilkan kelas yang tidak kondusif. Hal ini mengajak guru untuk tidak melupakan peran guru dalam pengendalian kelas.
Sejarah Pemikiran Faith and Reason dalam Tradisi Reformed: dari Masa Abad Pertengahan hingga Masa Orthodoxy [A History of Thought on Faith and Reason in the Reformed Tradition: From the Middle Ages to the Period of Orthodoxy] Eliata, Stephen Rehmalem
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol. 4 No. 3 (2022): September
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v4i3.6337

Abstract

Research on historical thought of the Reformed tradition was started by Alexander Schweizer who proposed a method for reading history, namely centraldogmen. During its development, this method was received by a group of historians known as the Barthian tradition. In this tradition, the development of thought on the reformed tradition is considered to have been discontinued after John Calvin. These views surround the post-Calvinian theologians of the reformation tradition. Recent research tries to propose another method for reading history, namely by considering its continuity and discontinuity. With this new method, I intend to look at the history of the reformed tradition in the case of the relationship between faith and reason. This paper will discuss thoughts on the relationship between faith and reason from 3 different periods, that is the medieval period, the reformation period, and the orthodoxy period. From my analysis, I conclude that in the case of the relationship between faith and reason, there is a continuity of thought from the medieval period to the orthodoxy period. With this conclusion, the position of the Barthian tradition on reformed thinking needs to be re-evaluated.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Penelitian mengenai pemikiran sejarah tradisi reformasi dimulai oleh Alexander Schweizer yang mengajukan sebuah metode untuk membaca sejarah, yaitu centraldogmen. Dalam perkembangannya, metode ini diterima oleh sekelompok sejarawan yang dikenal dengan tradisi Barthian. Dalam tradisi ini, perkembangan pemikiran mengenai tradisi reformasi dianggap telah terhenti setelah John Calvin. Pandangan ini melingkupi para teolog tradisi reformasi pasca Calvin. Penelitian terbaru mencoba mengajukan metode lain dalam membaca sejarah, yaitu dengan mempertimbangkan kontinuitas dan diskontinuitasnya. Dengan metode baru ini, saya bermaksud untuk melihat sejarah tradisi Reformasi dalam hal hubungan antara iman dan akal budi. Tulisan ini akan membahas pemikiran-pemikiran mengenai relasi iman dan akal budi dari tiga periode yang berbeda, yaitu periode abad pertengahan, periode reformasi, dan periode ortodoksi. Dari hasil analisis saya, saya menyimpulkan bahwa dalam hal hubungan antara iman dan akal budi, terdapat kesinambungan pemikiran dari periode abad pertengahan hingga periode ortodoksi. Dengan kesimpulan ini, posisi tradisi Barthian dalam pemikiran reformasi perlu dievaluasi kembali.
Penggunaan Metode Pembelajaran Tanya Jawab Untuk Mendorong Keaktifan Siswa [Using the Question and Answer Learning Method to Encourage Students’ Activeness] Prananta, Samuel Reza; Nainggolan, Cathryne Berliana
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol. 4 No. 3 (2022): September
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v4i3.6339

Abstract

Teachers and students, while created in the image of God, are fallen. Student inactivity affects the learning process in the classroom. Students who are active in the classroom can increase the success of the learning process and student achievement. A Christian teacher should use a perspective based on Christian educational philosophy in looking at problems that occur in the classroom and how to overcome them. The researcher conducted a study over 5 weeks with grade 9 students at a school in Jember. The researcher found that the 9th graders were less active during the Biblical studies learning process. The researcher used the Socratic method as a solution to deal with this problem. The purpose of this study is to describe whether the Socratic method can influence student activity. The research method used is the descriptive qualitative method. The research results indicate that the Socratic method can increase student activity during the learning process. This is verified by fulfilment of five indicators of instruments measurement used by researcher. Suggestions for future research are that the questions given to students should be varied.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Guru dan murid adalah citra Allah yang telah jatuh. Ketidakaktifan siswa mempengaruhi proses pembelajaran di kelas. Padahal siswa yang aktif di dalam kelas dapat meningkatkan keberhasilan proses pembelajaran dan prestasi siswa. Seorang guru Kristen seharusnya menggunakan cara pandang yang berlandaskan pada filosofi pendidikan Kristen dalam melihat permasalahan yang terjadi di kelas dan bagaimana cara mengatasinya. Peneliti melakukan penelitian selama 5 minggu di kelas 9 di sebuah sekolah di Jember. Peneliti menemukan bahwa siswa kelas 9 kurang aktif selama proses pembelajaran studi Alkitab. Peneliti menggunakan metode pengajaran sokrates sebagai solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan apakah metode pengajaran sokrates dapat mempengaruhi keaktifan siswa. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pengajaran sokrates dapat meningkatkan aktivitas siswa selama proses pembelajaran. Hal ini dibuktikan dengan terpenuhinya lima indikator pengukuran instrumen yang digunakan peneliti. Saran untuk penelitian selanjutnya adalah pertanyaan yang diberikan kepada siswa harus bervariasi.
Peran Guru Kristen Sebagai Penuntun di Dalam Kelas [The Role of Christian Teachers as Guides in the Classroom] Peda Hella, Maria Tania Oktaviani Pelita; Christian, Grace Purnamasari
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol. 4 No. 3 (2022): September
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v4i3.6349

Abstract

The role of the teacher as a guide is expected in leading students in the class, not only in knowledge but also in all aspects of education. The role of a teacher as a guide must be to guide a student to understand and to do the will of the Lord in his or her life. Teachers must be able to guide students to experience the changes and growth that meet the educational purposes. The teacher's role as a guide in performing his or her role requires a student's response in learning. However, the fact is that in learning there are students who participate less actively in the classroom and hinder the learning process. This paper aims to analyse the role of Christian teachers as guides in building students' active participation in the classroom through a literature review. One strategies offered to solve the problem is is through the application of the learning method or media. It could be concluded that the teacher's role as a guide is essential in showing love, leading students to Christ, and encouraging the students’ active participation the goal of learning. The writer's advice for the next researcher is to make direct and thorough research possible so that the teacher can perform his/her role as a guide.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Peran guru sebagai pembimbing sangat diharapkan dalam membimbing murid-murid di kelas, tidak hanya dalam aspek pengetahuan tetapi juga dalam semua aspek pendidikan. Peran guru sebagai pembimbing haruslah membimbing murid untuk mengerti dan melakukan kehendak Tuhan dalam hidupnya. Guru harus dapat membimbing murid untuk mengalami perubahan dan pertumbuhan yang sesuai dengan tujuan pendidikan. Peran guru sebagai pembimbing dalam menjalankan perannya membutuhkan respon siswa dalam belajar. Namun, faktanya dalam pembelajaran terdapat siswa yang kurang berpartisipasi aktif di dalam kelas dan menghambat proses pembelajaran. Makalah ini bertujuan untuk menganalisis peran guru agama Kristen sebagai pemandu dalam membangun partisipasi aktif siswa di dalam kelas melalui kajian literatur. Salah satu strategi yang ditawarkan adalah melalui penerapan metode atau media pembelajaran. Dapat disimpulkan bahwa peran guru sebagai pembimbing sangat penting dalam menunjukkan kasih, menuntun siswa kepada Kristus dan mendorong partisipasi aktif siswa sebagai tujuan pembelajaran. Saran penulis untuk peneliti selanjutnya adalah untuk melakukan penelitian secara langsung dan menyeluruh agar guru dapat menjalankan perannya sebagai pembimbing.
Signifikansi Peran Guru Kristen Sebagai Gembala terhadap Motivasi Belajar Siswa [The Significance of the Role of Christian Teachers as Shepherds on Student Learning Motivation] Ginting, Cindy Claudia; Christian, Grace Purnamasari
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol. 5 No. 2 (2023): May
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v5i2.6350

Abstract

The teacher as a guide must be able to motivate students, not only in terms of knowledge but also guide students to understand their true purpose in life, which is to be like Christ. Based on research, 7 out of 10 children experience demotivation in learning because there is no guidance from the teacher, this shows that there are teachers who do not understand their role well. Therefore, the purpose of this study is to demonstrate the importance of the relevance of understanding Christ as the Great Shepherd. The research method used is a literature review. Christian teacher must first personally experience the shepherding of Christ so that he can understand that the students also need guidance to be able to understand their responsibilities. Christian teachers should improve the competence that is in themselves and always undergo transformation. Christian teacher must make Christ as the shepherd in his teaching and life because Christ is the authoritative God. Christian teacher should show his obedience to God in his duties and responsibilities as a guide who shepherds his students. Suggestions for future researchers are to focus more on studying how to measure a Christian teacher who has been shepherded by Christ.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Guru sebagai pembimbing harus dapat memotivasi siswa, tidak hanya dari segi pengetahuan tetapi juga membimbing siswa untuk memahami tujuan hidup mereka yang sebenarnya, yaitu menjadi seperti Kristus. Berdasarkan penelitian, 7 dari 10 anak mengalami demotivasi dalam belajar karena tidak ada bimbingan dari guru, hal ini menunjukkan bahwa masih ada guru yang belum memahami perannya dengan baik. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan pentingnya relevansi pemahaman tentang Kristus sebagai Gembala Agung. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur. Guru Kristen harus terlebih dahulu mengalami sendiri penggembalaan Kristus agar dapat memahami bahwa murid-muridnya juga membutuhkan bimbingan untuk dapat memahami tanggung jawabnya. Guru Kristen harus meningkatkan kompetensi yang ada di dalam dirinya dan selalu mengalami transformasi. Guru Kristen harus menjadikan Kristus sebagai gembala dalam pengajaran dan kehidupannya karena Kristus adalah Allah yang berotoritas. Guru agama Kristen harus menunjukkan ketaatannya kepada Tuhan dalam tugas dan tanggung jawabnya sebagai pembimbing yang menggembalakan anak didiknya. Saran untuk peneliti selanjutnya adalah untuk lebih fokus meneliti bagaimana mengukur seorang guru Kristen yang telah digembalakan oleh Kristus.
Kesetiaan dalam Pernikahan sebagai Karakteristik Seorang Pemimpin Kristen [Fidelity in Marriage as a Characteristic of a Christian Leader] Priyatna, Novel
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol. 4 No. 3 (2022): September
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v4i3.6382

Abstract

Being the husband of a wife is one of the requirements set by Paul for an church overseer. However, there are various interpretations of Paul's words written in 1 Timothy 3:2a. The purpose of this article is to dig deeper into what Paul meant when he set out this requirement and how it relates to Christian leadership. For Paul, a Christian leader must be someone who has good credibility, namely as a husband who is faithful to his wife in a monogamous marriage. This is a manifestation of his faithfulness to God Himself. By having this qualification, a Christian leader can be a good example to his congregation.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Suami dari satu isteri merupakan salah satu persyaratan yang ditetapkan oleh Paulus bagi seorang penilik jemaat. Namun demikian, terdapat berbagai macam interpretasi atas perkataan Paulus yang tertulis didalam 1 Timotius 3:2a. Tujuan artikel ini adalah untuk menggali lebih dalam apa yang Paulus maksudkan ketika ia menetapkan persyaratan tersebut dan bagaimana relevansinya terhadap kepemimpinan Kristen. Bagi Paulus, seorang pemimpin Kristen haruslah seseorang yang memiliki kredibilitas yang baik, yaitu sebagai suami yang setia kepada istrinya dalam pernikahan monogami. Hal ini sebagai perwujudan dari kesetiaannya kepada Allah sendiri. Dengan memiliki kualifikasi tersebut, seorang pemimpin Kristen dapat menjadi teladan yang baik bagi jemaatnya.
Komunitas Belajar yang Membawa Pertumbuhan Spiritualitas Siswa dalam Meresponi Panggilan Tuhan sebagai Garam dan Terang [A Learning Community that Brings Spiritual Growth to Students in Responding to God's Call to be Salt and Light] Emmanuella, Theresia; Chrismastianto, Imanuel Adhitya Wulanata
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol. 5 No. 3 (2023): September
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v5i3.6399

Abstract

Education has a role to teach knowledge as well as morals so that students are not only smart, but also have noble character. Juvenile delinquency occurs when moral values have not been internalized. Therefore, Christian education responds by stating that the purpose of Christian education is to bring students to spiritual growth, where moral values and Biblical values are components that must be realized in real action. This paper will focus on how Christian education relates to the learning community in the classroom and how to find a learning community that can bring about spiritual growth. Using a literature review, it is found that learning in a learning community must be done in conjunction with discipleship. Discipleship is the process of learning knowledge as well as instilling the value of biblical truth. The growth of spirituality is characterized by the awareness and desire to serve as salt and light or have a good impact on their environment (Matthew 4:13-14). Through anthropological studies, it is also found that humans have been created to live together. Teachers have a role to lead discipleship in the classroom and students also play a role. Therefore, teachers and students need to work together to achieve this spiritual growth through discipleship in the learning community.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Pendidikan memiliki peran untuk mengajarkan ilmu pengetahuan sekaligus moral sehingga murid tidak hanya cerdas, namun juga berakhlak mulia. Kenakalan remaja yang terjadi sampai saat ini menunjukkan bahwa ada nilai moral yang belum di aplikasikan oleh seseorang. Oleh sebab itu, pendidikan Kristen menjawab hal ini dengan menyatakan bahwa tujuan pendidikan Kristen adalah membawa siswa sampai kepada pertumbuhan spiritualitas, yang mana nilai moral dan nilai Alkitabiah merupakan komponen pertumbuhan spiritualitas yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Pendidikan Kristen akan berhubungan dengan komunitas belajar di dalam kelas dan memikirkan bagaimana menemukan komunitas belajar yang dapat membawa pertumbuhan spiritualitas adalah hal yang akan dijawab melalui karya tulis ini. Dengan menggunakan kajian literatur, di temukan bahwa pembelajaran di dalam komunitas belajar harus dilakukan bersamaan dengan pemuridan. Pemuridan adalah proses pembelajaran ilmu pengetahuan sekaligus penanaman nilai kebenaran Alkitab. Pertumbuhan spiritualitas ditandai dengan adanya kesadaran dan keinginan untuk melayani sebagai garam dan terang atau memberikan dampak yang baik bagi lingkungannya (Matius 4:13-14). Melalui kajian antropologi, juga ditemukan bahwa manusia memang sudah diciptakan untuk hidup bersama. Guru memiliki peran untuk memimpin pemuridan di kelas dan siswa juga berperan. Oleh sebab itu, guru dan siswa perlu bekerja sama untuk mencapai pertumbuhan spiritualitas tersebut melalui pemuridan dalam komunitas belajar.
Paskah Kristiani Menggenapi Kovenan Mesianik Dalam Kejadian 3:15 [The Christian Passover Fulfills the Messianic Covenant in Genesis 3:15] Setiawan, Tjutjun; Rondonuwu, Fery; Suaji, Sri Darajat; Simon, Simon
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol. 5 No. 1 (2023): January
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v5i1.6494

Abstract

Passover celebrations are always repeated every year for Christians, although not as festive as Christmas. Christian Passover events are a series of events from the death of Jesus Christ on the cross and His resurrection on the third day. There have been many attempts to reduce the events of the cross and deny the crucified figure of Jesus Christ. This research tries to explore and examine the meaning of Easter in Christianity and how it relates to the Messianic Covenant in Genesis 3:15. The method used is qualitative with a literature review approach, examining the red threads of the Old and New Testaments regarding Passover, where in the conclusion there is a relationship between Genesis 3:15 concerning the Messianic covenant as a type and its antitype or fulfilment is in the event of the cross, and this is a work God's salvation in overcoming human sin, on the one hand God's justice is satisfied by punishing sin on the cross, and on the other hand it shows God's love for humans. Thus, as people who believe in Jesus Christ, they must understand the meaning of this Passover in their daily lives, and moreover, theological high school students and church pastors must understand that and educate the congregation to maintain the spirit of Passover. BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Perayaan Paskah selalu berulang setiap tahun bagi umat Kristiani, meskipun tidak semeriah Natal. Peristiwa Paskah adalah suatu rangkaian peristiwa dari kematian Yesus Kristus di kayu salib dan kebangkitan-Nya pada hari yang ketiga. Banyak upaya untuk mereduksi peristiwa salib dan menafikan sosok Yesus Kristus yang tersalib. Penelitian ini mencoba menggali dan mengkaji makna paskah dalam kekristenan dan apa hubungannya dengan kovenan Mesianik dalam Kejadian 3:15. Metode yang dipergunakan adalah kualitatif dengan pendekatan kajian Pustaka, menelisik benang merah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tentang Paskah, di mana dalam simpulan terdapat hubungan antara Kejadian 3:15 tentang kovenan Mesianik sebagai tipe dan antitipenya atau penggenapannya ada pada peristiwa salib, dan ini merupakan karya keselamatan Allah dalam mengatasi dosa manusia, di satu sisi keadilan Allah terpuaskan dengan menghukum dosa di salib, dan di sisi lainnya menunjukkan kasih Allah pada manusia. Dengan demikian sebagai umat yang percaya kepada Yesus Kristus harus memahami makna Paskah ini dalam kehidupan sehari-hari dan terlebih bagi mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi dan para gembala gereja harus memahami itu dan mengedukasi jemaat untuk tetap menjaga semangat Paskah.
Stresor Pubertas dan Keterlibatan Orang Tua pada Remaja [Pubertal Stressors and Parental Involvement in Adolescents] Sari, Ganda
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol. 5 No. 1 (2023): January
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v5i1.6504

Abstract

The science of developmental psychology has explained the challenges of adolescence, including the causes of adolescent changes, developmental tasks and things that can cause stress in adolescents. These challenges are stressors for adolescents and if not resolved properly, can increase prolonged stress and ultimately adolescents are unable to complete their developmental tasks properly. Parents, as God's representatives, can play a role through emotional and physical involvement that aims to reduce stressors. For this reason, the purpose of this paper is to provide insight to parents about things that happen in adolescent development, stressors faced by adolescents and proposed parental attitudes towards adolescents. Based on the results of the literature review, it is found that parents who are emotionally and physically involved show that the parents understand and understand the needs of adolescents. Forms of parental involvement in adolescents' needs through emotional support, appreciation support, instrumental support and informative support. BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Ilmu psikologi perkembangan telah menjelaskan tantangan-tantangan pada masa remaja, termasuk penyebab perubahan remaja, tugas-tugas perkembangan dan hal-hal yang dapat menyebabkan stres pada remaja. Tantangan-tantangan tersebut merupakan stressor bagi remaja dan jika tidak diselesaikan dengan baik, dapat meningkatkan stres yang berkepanjangan dan pada akhirnya remaja tidak dapat menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya dengan baik. Orang tua sebagai wakil Tuhan dapat berperan melalui keterlibatan emosional dan fisik yang bertujuan untuk mengurangi stresor. Untuk itu, tujuan dari penulisan ini adalah untuk memberikan pemahaman kepada orang tua mengenai hal-hal yang terjadi pada perkembangan remaja, stressor yang dihadapi remaja dan usulan sikap orang tua terhadap remaja. Berdasarkan hasil tinjauan pustaka, ditemukan bahwa orang tua yang terlibat secara emosional dan fisik menunjukkan bahwa orang tua mengerti dan memahami kebutuhan remaja. Bentuk keterlibatan orang tua terhadap kebutuhan remaja melalui: dukungan emosional, dukungan penghargaan, dukungan instrumental dan dukungan informatif.