cover
Contact Name
Ridwanta Manogu
Contact Email
ridwanta.manogu@uph.edu
Phone
021 5460901
Journal Mail Official
editor.diligentia@uph.edu
Editorial Address
Jl. MH Thamrin 1100 Lippo Karawaci, Tangerang 15811
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education
ISSN : -     EISSN : 26863707     DOI : 26863707
Core Subject : Religion, Education,
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education is a scientific journal of theology, Christian worldview, Christian education, philosophy of Christian education, and integration of faith and learning. It is published by the Department of Christian Religion Education at Universitas Pelita Harapan triannually in September, January and May.
Articles 192 Documents
Gereja sebagai Keluarga Allah Bagi Para Mantan Narapidana [The Church as God's Family for Ex-Prisoners] Lase, Yolanda; Lindawati, Lindawati
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol. 5 No. 3 (2023): September
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v5i3.7409

Abstract

The church, as a representation of God's family, should actively provide support and guidance to individuals who have been released from prison and are capable of reintegration into society. Unfortunately, in reality, many churches fail to demonstrate acceptance towards former inmates, which leads to their isolation and drives them to seek support in less positive environments. This study utilizes a literature review approach, involving the search, selection, and evaluation of published materials like books, academic journals, articles, theses, and prior research reports relevant to the subject. The findings from this method reveal that the church's role as God's family remains largely unfulfilled, especially concerning those individuals labeled as 'ex-convicts.' Hence, it is imperative for the church to rekindle its commitment to embracing, loving, and guiding former prisoners through spiritual and social assistance, recovery and rehabilitation programs, community empowerment initiatives, and by offering hope and forgiveness to those seeking redemptionBAHASA INDONESIA ABSTRACT: Gereja sebagai keluarga Allah harus berperan dalam memberikan dukungan dan bimbingan kepada para mantan narapidana yang sehat setelah mereka dibebaskan dari penjara. Namun, pada kenyataannya, banyak gereja yang tidak menerima kunjungan mantan narapidana, sehingga kehadiran gereja justru mengucilkan mereka dan mendorong mereka untuk mencari dukungan dan bimbingan di lingkungan yang kurang positif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah tinjauan pustaka. Metode ini melibatkan pencarian, pemilihan, dan evaluasi literatur yang telah dipublikasikan, seperti buku, jurnal ilmiah, artikel, tesis, dan laporan penelitian terdahulu yang berkaitan dengan topik yang diteliti. Berdasarkan metode ini, diperoleh hasil bahwa peran gereja sebagai keluarga Allah belum sepenuhnya terlaksana, terutama bagi mereka yang dikenal sebagai ekses. Oleh karena itu, gereja perlu menyadarkan kembali bahwa hal tersebut termasuk menerima, mengasihi dan membimbing para mantan melalui pendampingan rohani, pendampingan sosial, pemulihan dan rehabilitasi, pemberdayaan masyarakat, serta memberikan pengharapan dan pengampunan kepada para mantan penyandang disabilitas.
Unveiling Shadows: Tracking Youth Disengagement from the Church [Menyingkap Bayangan: Melacak Penyebab Keterpisahan Kaum Muda dari Gereja] Ntsanwisi, Samuel
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol. 6 No. 1 (2024): January
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v6i1.7541

Abstract

This study examines the waning attendance in youth ministry within rural and township areas of South Africa's "mainline churches" and its potential implications for youth development. Amidst prevailing challenges like substance abuse, adolescent pregnancy, and mental health concerns, the church, often a crucial source of guidance, has the potential to offer significant support. However, changing cultural dynamics, modernization, socio-economic influences, the challenges posed by urbanization, and the intersecting issues of LGBTQ inclusivity, disability considerations, and evolving identity dynamics, along with alternative entertainment, have collectively contributed to youth disengagement from conventional religious practices. This decline raises substantial concerns regarding its impact on the youth’s moral and spiritual well-being. Through a comprehensive literature review, this research aims to understand the underlying causes of this decline and propose strategies for revitalising the youth ministry. By metaphorically "illuminating the hidden obstacles," this study seeks to empower the church to foster spiritual growth, influence South Africa's youth positively, and address pressing challenges effectively.
Peran Guru sebagai Penuntun dalam Mengembangkan Sikap Tanggung Jawab Murid: Sebuah Kajian Epistemologi Kristen [The Role of Teachers as Guides in Developing Students' Attitude of Responsibility: A Study of Christian Epistemology] Ferren, Ferren; Silitonga, Bertha Natalina
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol. 6 No. 1 (2024): January
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v6i1.7684

Abstract

Responsibility is an attitude needed to shape a person in making decisions and acting. Every student is expected to be responsible for themselves, the community, and the environment. Yet, in reality a lack of responsibility still occur among students. For example, KPAI data in 2020 showed 480 students were victims of bullying. This shows the need for the role of Christian teacher to guide students to an attitude of responsibility according to Christian ethics. Therefore, the purpose of this study are to explain the significance of the teacher's role in the formation of student responsibility and to explain the role of the teacher as a guide to develop the attitude of responsibility of the students. The method used is the literature review method. The results shows that a Christian teacher as a role model is needed for students transformation. Christian teacher is a God's coworker to introduce God and bring students in restoring relationships with God. For the next research it is suggested to explore deeper about the role of Christian teacher in character education, especially the responsibility and implementation of character education to develop students' responsiblity.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Tanggung jawab merupakan sikap yang diperlukan untuk membentuk seseorang dalam mengambil keputusan dan bertindak. Setiap mahasiswa diharapkan dapat bertanggung jawab terhadap diri sendiri, masyarakat, dan lingkungannya. Namun, pada kenyataannya sikap tanggung jawab masih banyak terjadi di kalangan pelajar. Sebagai contoh, data KPAI pada tahun 2020 menunjukkan 480 siswa menjadi korban perundungan. Hal ini menunjukkan perlunya peran guru agama Kristen untuk membimbing siswa memiliki sikap tanggung jawab sesuai dengan etika Kristen. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan pentingnya peran guru dalam pembentukan sikap tanggung jawab siswa dan menjelaskan peran guru sebagai pembimbing untuk mengembangkan sikap tanggung jawab siswa. Metode yang digunakan adalah metode tinjauan pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru Kristen sebagai teladan sangat dibutuhkan dalam proses transformasi siswa. Guru Kristen adalah rekan sekerja Tuhan untuk memperkenalkan Tuhan dan membawa siswa dalam memulihkan hubungan dengan Tuhan. Untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk menggali lebih dalam mengenai peran guru Kristen dalam pendidikan karakter, khususnya tanggung jawab dan implementasi pendidikan karakter untuk mengembangkan tanggung jawab siswa.
Tinjauan Teologis Mengenai Konsep Purgatory dan Implikasinya Terhadap Soteriologi [Theological Review of the Concept of Purgatory and Its Implications for Soteriology] Suparman, Suparman; Setyo Utomo, Bimo; Zebua, Dahlia Juliadil Veronica
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol. 6 No. 1 (2024): January
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v6i1.7685

Abstract

The concept of purgatory or what is known as purification is one of the concepts that the Catholic Church believes as a truth for those who during their lifetime had a close relationship with God, but were still not pure enough to enter heaven, so a purification process is needed. The Catholic Church provides the basis of Bible verses and Deuterocanonics to support its teachings and the process will take place according to the sins that have been committed while living in this world. This research uses qualitative methods with a library approach. Using the literature method, the researcher will explain the concept of purgatory in the teachings of the Catholic Church from accurate sources, originating from Catholic circles themselves which will be reviewed theologically-critically to find that the concept of purgatory is contrary to the redemptive work of Jesus Christ on the cross. In the end, the concept of purgatory is not in accordance with what God has stated in His Word and has implications for soteriology, namely: Jesus is the only way of salvation, salvation is a grace, and praying for the dead is not Biblical.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Konsep api penyucian atau yang dikenal dengan istilah purifikasi merupakan salah satu konsep yang diyakini Gereja Katolik sebagai sebuah kebenaran bagi mereka yang semasa hidupnya memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan, namun masih belum cukup murni untuk masuk surga, sehingga diperlukan proses pemurnian. Gereja Katolik memberikan dasar ayat-ayat Alkitab dan Deuterokanonika untuk mendukung ajarannya dan prosesnya akan berlangsung sesuai dengan dosa yang telah dilakukan selama hidup di dunia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan. Dengan menggunakan metode kepustakaan, peneliti akan menjelaskan konsep api penyucian dalam ajaran Gereja Katolik dari sumber-sumber yang akurat, yang berasal dari kalangan Katolik sendiri yang kemudian akan ditinjau secara teologis-kritis untuk menemukan bahwa konsep api penyucian bertentangan dengan karya penebusan Yesus Kristus di kayu salib. Pada akhirnya, konsep api penyucian tidak sesuai dengan apa yang telah Tuhan nyatakan dalam Firman-Nya dan berimplikasi pada soteriologi, yaitu: Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan, keselamatan adalah anugerah, dan mendoakan orang mati tidak Alkitabiah.
Guru Kristen sebagai Pembimbing dan Penuntun dalam Konsep Kelas Tiga Dinding Ki Hajar Dewantara Melalui Pembelajaran Autentik [The Christian Teacher as Mentor and Guide in Ki Hajar Dewantara's Third Wall Classroom Concept Through Authentic Learning] Sihombing, Sarali; Rahmadi, Pitaya
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol. 6 No. 1 (2024): January
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v6i1.7788

Abstract

The Christian teacher as guide and mentor is not focused on academic achievement only, but rather guides and assists students to become like Christ and responsible individuals. However, the reality is that many teachers still adopt traditional learning, neglect other skills, and distance themselves from Biblical truth. This article presents the role of the Christian teacher as a guide and mentor in the context of the relevance of science to the environment, especially Ki Hajar Dewantara's "Three Wall Classroom" concept through authentic learning based on biblical insights using a literature review. As a result, Christian teachers as mentors and guides are able to create holistic learning, meaningful and relevant learning, collaborate with reality, and bring students to the knowledge of God. In conclusion, the Christian teacher as a guide and mentor in the "Three Walls Classroom" through authentic learning is to center learning on Christ, motivate student development in all aspects, and become an agent of restoring students' relationship with God. As a suggestion, a teacher must understand the calling as a ministry. For future writers, it is suggested to dig deeper into educational issues and add relevant evidence or data.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Guru Kristen sebagai pembimbing dan penuntun bukanlah guru yang berfokus pada pencapaian akademik, melainkan membimbing dan mendampingi siswa serupa dengan Kristus dan menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Namun, realitanya banyak guru masih mengadopsi pembelajaran tradisional, mengabaikan keterampilan lain, dan memberi jarak dengan kebenaran Alkitab. Karya tulis ini memaparkan peran guru Kristen sebagai pembimbing dan penuntun dalam konteks relevansi ilmu pengetahuan dengan lingkungan terkhusus konsep "Kelas Tiga Dinding" Ki Hajar Dewantara melalui pembelajaran autentik berlandaskan wawasan Alkitabiah menggunakan kajian literatur. Hasilnya, guru Kristen sebagai pembimbing dan penuntun mampu menciptakan pembelajaran holistis, pembelajaran bermakna dan relevan, berkolaborasi dengan realita, dan membawa siswa kepada pengenalan akan Allah. Kesimpulannya, guru Kristen sebagai pembimbing dan penuntun dalam Kelas Tiga Dinding melalui pembelajaran autentik adalah memusatkan pembelajaran pada Kristus, memotivasi perkembangan siswa dalam segala aspek, dan menjadi agen pemulihan hubungan siswa dengan Allah. Sebagai saran, seorang guru harus memahami panggilannya sebagai suatu pelayanan. Bagi penulis selanjutnya, disarankan menggali lebih dalam isu pendidikan dan menambah bukti atau data relevan.
Peran Guru Kristen Sebagai Penuntun: Sebuah Kajian Teologis Efesus 4:11-16 Dalam Konteks Pendidikan Kristen [The Role of Christian Teachers as Guides: A Theological Study of Ephesians 4:11-16 in the Context of Christian Education] Zega, Sri Susianti; Tarigan, Musa Sinar
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol. 6 No. 1 (2024): January
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v6i1.7867

Abstract

The role of teacher as a guide is very significant in teaching, especially to equip students to know God through Christian education. Teachers guide the students to understand knowledge, attitudes, skills, and spirituality based on Biblical principles. But in reality, teachers do not teach the Bible principles in learning, teachers do not guide the students, and have lack of knowledge of the Bible. Teachers should have understood the significance of guiding students based on the Bible. Hence, the purpose of writing this article is to present the significant role of teachers as a guide through the theological study based on Ephesians 4:11-16 for the context of Christian education with literature study as the research method. Teachers must guide students based on the truth of God's Word, through imitating Jesus as the Great Shepherd. Christian teachers’ role as guide do not only stop at knowledge in academic learning, but to be an impact for students to be a part of service to God and to build others up as members of the body of Christ. Christian teachers must guide students to achieve, namely: the unity of the faith in Christ as God and Savior in true knowledge, thorough maturity, and growth in accordance with the fullness of Christ and to ensure to be not tossed around by the waves of false teaching that ignore The Lord. This article concludes that the teacher's role as guide is one form for equipping students to grow more mature in Christ. The author suggests that Christian teachers understand that teachers are God's calling to reveal God's truth to students so that their lives base on Bible teaching, and Christian teachers must understand the students' needs to know God and grow spiritually to become more like Christ.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Peran guru sebagai pembimbing sangat penting dalam pengajaran, terutama untuk memperlengkapi murid-murid mengenal Tuhan melalui pendidikan Kristen. Guru membimbing murid untuk memahami pengetahuan, sikap, keterampilan, dan kerohanian berdasarkan prinsip-prinsip Alkitab. Namun pada kenyataannya, guru tidak mengajarkan prinsip-prinsip Alkitab dalam pembelajaran, guru tidak membimbing siswa, dan memiliki pengetahuan yang kurang tentang Alkitab. Seharusnya para guru memahami pentingnya membimbing murid berdasarkan Alkitab. Oleh karena itu, tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk memaparkan peran penting guru sebagai pembimbing melalui kajian teologis berdasarkan Efesus 4:11-16 dalam konteks pendidikan Kristen dengan metode studi literatur. Guru harus membimbing siswa berdasarkan kebenaran Firman Tuhan, dengan meneladani Yesus sebagai Gembala Agung. Peran guru Kristen sebagai pembimbing tidak hanya berhenti pada pengetahuan dalam pembelajaran akademis, tetapi menjadi dampak bagi siswa untuk menjadi bagian dari pelayanan kepada Tuhan dan membangun orang lain sebagai anggota tubuh Kristus. Guru Kristen harus membimbing murid-muridnya untuk mencapai, yaitu: kesatuan iman kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam pengetahuan yang benar, kedewasaan yang menyeluruh, dan pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus serta memastikan agar tidak terombang-ambing oleh gelombang pengajaran palsu yang mengabaikan Tuhan. Artikel ini menyimpulkan bahwa peran guru sebagai pembimbing adalah salah satu bentuk untuk memperlengkapi murid-muridnya agar bertumbuh semakin dewasa di dalam Kristus. Penulis menyarankan agar para guru Kristen memahami bahwa guru adalah panggilan Tuhan untuk menyatakan kebenaran Tuhan kepada murid-muridnya agar hidup mereka didasarkan pada pengajaran Alkitab, dan guru Kristen harus memahami kebutuhan murid-muridnya untuk mengenal Tuhan dan bertumbuh secara rohani agar semakin serupa dengan Kristus.
Implikasi Praktis Konsep Teologis Munus Triplex bagi Pendidik Kristen [Practical Implications of the Munus Triplex Theological Concept for Christian Educators] Chandra, Arthur
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol. 6 No. 1 (2024): January
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v6i1.7883

Abstract

This paper discusses the practical implications of the theological concept of the three roles of Christ's office which is one of the distinctive identities of Reformed theology with the term munus triplex in the realm of Christian education.  This theological concept explains the identity and work of Christ in salvation by carrying out the role of office as prophet, priest and king. The purpose of this study is to explain and apply the concept of Munus Triplex as one of the tools to manifest Christian theology concretely and specifically in the pedagogical context by presenting the identity and work of Christ as the centre of salvation, where Christian educators need to build it through certain habits with students continuously. The habit is built intentionally in presenting educators as the image of Christ through the implementation of the role of the office of prophet, priest and king.  Thus, the educator is expected to see Christ through the habits built by the Christian educator so that the educator can grow to love God and resemble Christ more and more. BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Tulisan ini membahas tentang implikasi praktis dari konsep teologis tiga peran jabatan Kristus yang menjadi salah satu identitas khas dari teologi Reformed dengan istilah munus triplex dalam ranah pendidikan Kristen.  Konsep teologis ini menjelaskan mengenai identitas dan karya Kristus dalam keselamatan dengan mengemban peran jabatan sebagai nabi, imam dan raja. Tujuan dalam penelitian ini adalah menjelaskan dan mengaplikasikan konsep Munus Triplex sebagai salah satu tools untuk mengejawantahkan teologi Kristen secara konkrit dan partikular dalam konteks pedagogik dengan menampilkan identitas dan karya Kristus sebagai pusat keselamatan, dimana pendidik Kristen perlu membangunnya melalui kebiasaan tertentu dengan naradidik secara kontinyu. Kebiasaan tersebut dibangun secara intensional dalam menampilkan pendidik sebagai gambar Kristus melalui pelaksanaan peran jabatan nabi, imam dan raja.  Dengan demikian naradidik diharapkan dapat melihat Kristus melalui kebiasaan yang dibangun pendidik Kristem sehingga naradidik dapat bertumbuh semakin mencintai Tuhan dan menyerupai Kristus. 
Hubungan Antara Profesionalisme Dosen dengan Karakter Kristiani Mahasiswa (Studi Korelasi di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pelita Harapan, Tangerang) [The Relationship Between Lecturer Professionalism and Student Christian Character (Correlation Study at the Faculty of Education, Pelita Harapan University, Tangerang)] Gumono, Abednego Tri; Tanasyah, Yusak; Naolaka, Amos
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol. 6 No. 1 (2024): January
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v6i1.7884

Abstract

The realization of character education is a shared responsibility of both parents and educational institutions. Higher education as an integral educational facility has a responsibility to develop aspects of character. This is because character is an important domain in forming a student's personality as a whole. In this way, students can grow cognitively, affectively and psychometrically. The Faculty of Education, Pelita Harapan University has a profile of students who are competent, have character, have a calling as Christian teachers (Calling), and have compassion (compassion). To realize this profile, it must be supported by the professionalism of lecturers with the characteristics of having a loving spirit like the good Samaritan and a spirit of self-emptying of Christ in serving. The aim of this research is to determine the relationship between lecturer professionalism and student Christian character. The results of this research will provide an overview, evaluation, and input to build Christian character in a sustainable manner. The method used in this research is a correlative quantitative method. The research results show that lecturer professionalism is significantly related to students' Christian character. The research results show that there is a correlation between lecturer professionalism and student Christian character of .537. Thus, it can be concluded that the correlation between lecturer professionalism and student Christian character is in the strong category. The test results show the significance value (p = .000) is smaller than 0.05. This means that there is not enough evidence to accept the proposed hypothesis (reject Ho). Thus, it can be concluded that there is a significant correlation between lecturer professionalism and student Christian character.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Perwujudan pendidikan karakter merupakan tanggung jawab bersama antara orang tua dan institusi pendidikan. Perguruan tinggi sebagai salah satu sarana pendidikan yang tidak terpisahkan memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan aspek karakter. Hal ini dikarenakan karakter merupakan domain penting dalam membentuk kepribadian mahasiswa secara utuh. Dengan demikian, mahasiswa dapat berkembang secara kognitif, afektif dan psikomotorik. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pelita Harapan memiliki profil mahasiswa yang kompeten, berkarakter, memiliki panggilan sebagai guru Kristen (Calling), dan memiliki belas kasih (compassion). Untuk mewujudkan profil tersebut, harus didukung oleh profesionalisme dosen dengan ciri-ciri memiliki semangat mengasihi seperti orang Samaria yang baik hati dan semangat mengosongkan diri seperti Kristus dalam melayani. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara profesionalisme dosen dengan karakter kristiani mahasiswa. Hasil penelitian ini akan memberikan gambaran, evaluasi dan masukan untuk membangun karakter kristiani secara berkelanjutan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif korelasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa profesionalisme dosen berhubungan secara signifikan dengan karakter kristiani mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara profesionalisme dosen dengan karakter kristiani mahasiswa sebesar 0,537. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa korelasi antara profesionalisme dosen dengan karakter Kristen mahasiswa berada pada kategori kuat Hasil uji t menunjukkan nilai signifikansi (p=.000) lebih kecil dari 0.05. Hal ini berarti tidak terdapat cukup bukti untuk menerima hipotesis yang diajukan (tolak Ho). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara profesionalisme dosen dengan karakter kristiani mahasiswa.
Peran Guru Kristen Sebagai Penuntun Untuk Meningkatkan Numerasi Siswa Sigalingging, Fetty Hosanna; Sitompul, Henni
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol. 6 No. 2 (2024): May
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v6i2.7910

Abstract

The low numeracy of students is still an emerging topic of discussion and has not yet made progress. Research from PISA and OECD shows that Indonesia ranks low for numeracy skills. Many efforts have been made to improve numeracy, one of which is the implementation of the Christian teacher's role as a guide. Therefore, this article is written with the aim of examining the role of Christian teachers as guides to improve student numeracy. This research was conducted using a literature review. The Christian teacher as a guide means that the teacher plays a role in directing and providing guidance for students. In improving numeracy, Christian teachers play a role in directing students to the right mindset towards numeracy content. Christian teachers make Jesus as a shepherd an example in carrying out their role as a guide to improve numeracy. Christian teachers help students to improve numeracy according to numeracy indicators while keeping the Bible as the source of truth. Christian teachers will make Christ the center of education, which means that all aspects of education are worked on and focused on Christ. Thus students can utilize numeracy skills in accordance with biblical truth and glorify God. Future researchers are advised to examine more deeply the factors that influence numeracy and find solutions to the appropriate role of Christian teachers to improve numeracy skills.BAHASA INDONESIA ABSTRACTRendahnya kemampuan berhitung siswa masih menjadi perbincangan yang muncul dan belum mengalami kemajuan. Penelitian dari PISA dan OECD menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat rendah untuk kemampuan berhitung. Banyak upaya yang telah dilakukan untuk meningkatkan kemampuan berhitung, salah satunya adalah dengan menerapkan peran guru Kristen sebagai penuntun. Oleh karena itu, artikel ini ditulis dengan tujuan untuk mengkaji peran guru Kristen sebagai penuntun untuk meningkatkan kemampuan berhitung siswa. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan studi literatur. Guru Kristen sebagai penuntun berarti guru berperan untuk mengarahkan dan memberikan tuntunan kepada siswa. Dalam meningkatkan kemampuan berhitung, guru Kristen berperan dalam mengarahkan siswa agar memiliki pola pikir yang benar terhadap materi berhitung. Guru Kristen menjadikan Yesus sebagai gembala sebagai teladan dalam menjalankan perannya sebagai penuntun untuk meningkatkan kemampuan berhitung. Guru Kristen menolong siswa untuk meningkatkan kemampuan berhitung sesuai dengan indikator-indikator berhitung dengan tetap menjadikan Alkitab sebagai sumber kebenaran. Guru Kristen akan menjadikan Kristus sebagai pusat dalam pendidikan, yang berarti semua aspek pendidikan dikerjakan dan difokuskan pada Kristus. Dengan demikian siswa dapat menggunakan kemampuan berhitung sesuai dengan kebenaran Alkitab dan memuliakan Tuhan. Peneliti selanjutnya disarankan untuk meneliti lebih dalam lagi mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan berhitung dan mencari solusi mengenai peran guru Kristen yang tepat untuk meningkatkan kemampuan berhitung.
Penerapan Metode Demonstrasi Dalam Mengoptimalkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas Xii Ipa Pada Mata Pelajaran Fisika Santoso, Febri Dian; Gunanto, Yohanes Edi
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol. 6 No. 2 (2024): May
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v6i2.7930

Abstract

The background of this writing is based on the fact that critical thinking skills in Indonesia are categorized as low. Students' critical thinking skills are very important in the digital era. Technology plays an important role in education, especially for Christian teachers to have relevant competencies as facilitators. This writing aims to find out what competencies Christian teachers need to develop students' critical thinking skills in the digital era. The author uses a qualitative descriptive method in this research. The research results show that the competence of Christian teachers as facilitators is crucial for developing students' critical thinking skills in the digital era. In developing students' critical thinking skills in the digital era, Christian teachers as facilitators must operate within the framework of Christian education, which is based on Biblical truth. This approach aims to restore the image and likeness of God, which has been distorted in students. Humans, as images of God, possess unique qualities, making it essential for Christian teachers to develop students holistically. Holistic student development involves teachers fulfilling their role as facilitators in Christian education. The recommendation for further research is to examine the role of Christian teachers beyond that of facilitators in developing students' critical thinking skills in the digital era to evaluate the effectiveness of these roles.BAHASA INDONESIA ABSTRACTLatar belakang penulisan ini adalah fakta bahwa kemampuan berpikir kritis di Indonesia dikategorikan rendah. Kemampuan berpikir kritis siswa sangat penting di era digital. Teknologi memegang peranan penting dalam dunia pendidikan, khususnya bagi guru-guru Kristen untuk memiliki kompetensi yang relevan sebagai fasilitator. Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui seperti apa kompetensi guru Kristen yang dibutuhkan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa di era digital. Penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi guru Kristen sebagai fasilitator sangat dibutuhkan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa di era digital. Dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa di era digital, penerapan peran guru Kristen sebagai fasilitator perlu dilakukan dalam kerangka pendidikan Kristen yang mendasarkan pendidikannya pada kebenaran Alkitab untuk mengembalikan gambar dan rupa Allah yang telah terdistorsi dalam diri siswa di era digital. Manusia adalah gambar dan rupa Allah yang memiliki keunikan masing-masing. Oleh karena itu, hal ini membuat guru-guru Kristen harus mengembangkan siswa secara holistik. Pengembangan siswa secara holistik dilakukan dengan menjalankan perannya sebagai fasilitator dalam pendidikan Kristen. Rekomendasi untuk peneliti selanjutnya adalah meneliti efektivitas peran guru Kristen lainnya  dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa di era digital.