cover
Contact Name
Agus Herianto
Contact Email
agusherianto.ummat@gmail.com
Phone
+6287864593560
Journal Mail Official
geography.ummat@gmail.com
Editorial Address
Jl. KH Ahmad Dahlan No 1 Pagesangan, Kota Mataram
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan
ISSN : 23392835     EISSN : 26145529     DOI : https://doi.org/10.31764/geography
Core Subject : Science, Education,
Geography : Jurnal Kajian Penelitian & Pengembangan Pendidikan was founded upon the conviction that the development of learning and teaching was vitally important to higher education. It is committed to promote, enhance and share geography learning and teaching in all institutions of higher education throughout the world, and provides a forum for geographers and others, regardless of their specialisms, to discuss common educational interests, to present the results of educational research, and to advocate new ideas.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 2 (2020): SEPTEMBER" : 8 Documents clear
KAJIAN KARAKTERISTIK DAN DAYA DUKUNG EKOWISATA PANTAI LING’AL ALOR UNTUK PENGEMBANGAN KATEGORI REKREASI PANTAI Imanuel Lamma Wabang; Paulus Edison Plaimo; Isak Feridikson Alelang
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol 8, No 2 (2020): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/geography.v8i2.2641

Abstract

Abstrak: Pantai Ling’al terletak di  Desa Halerman, Kecamatan Alor Barat Daya,  Kabupaten Alor Provinsi Nusa Tenggara Timur.  Kawasan ini  memiliki daya tarik berupa pantai karang berpasir putih yang landai dengan pemandangan bawah laut yang indah. Penelitian ini dilaksanakan  pada bulan  September  2019. Penelitian bertujuan untuk mengkaji kesesuaian kawasan  untuk kegiatan ekowisata kategori rekreasi pantai dan menghitung daya dukung (carrying capacity).  Penelitian ini menggunakan  data primer dan data sekunder. Data primer berupa pengambilan data secara in-situ (pengukuran secara langsung dilapangan) berdasarkan matriks kesesuaian kawasan wisata pantai kategori rekreasi, sedangkan data sekunder pengambilan data dilakukan melalui studi pustaka. Berdasarkan hasil perhitungan Indeks Kesesuaian Wisata (IKW) diperoleh bahwa satu dari dua stasiun mempenyai kategori sangat sesuai yaitu stasiun pertama dengan nilai IKW 84,91%, dan pada stasiun kedua termasuk kategori sesuai dengan nilai IKW yaitu 75.40%. Daya dukung kawasan Pantai Ling’al dengan luasan yang dapat dimanfaatkan yaitu 2.176 m²  dengan daya tampung sebesar 170 orang /hari. berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada para steakholder pengambil kebijakan dalam pengelolan aset wisata dengan memperhatikan daya dukung lingkungan.   Abstract:  Ling'al Beach is located in Halerman Village, district of Southwest Alor, Alor regency of East Nusa Tenggara province.  This area has the appeal of a white sandy coral beach that is sloping with beautiful underwater scenery. The study was conducted in September 2019. The research aims to assess the conformity of area activities for the Coastal recreation category and calculate carrying capacity.  This research uses primary data and secondary data. Primary data in the form of data retrieval in-situ (measurements are directly in place) based on the matrix suitability of the beach recreation Area recreational category, while secondary data retrieval data is conducted through the study of the library. Based on the results of the calculation of tourism conformity index (IKW) is obtained that one of the two types of the station is very suitable category is the first station with a value of IKW 84.91%, and on the second station belongs to the value of IKW is 75.40%. The support of the area of Ling'al beach with the areas that can be utilized is 2,176 m² with a capacity of 170 people/day. Based on the results of the study is expected to provide information to the steakholder policy makers in the management of tourism assets by observing the environmental support
ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN KE NON PERTANIAN DI KOTA BATU INDONESIA Gunawan Prayitno; Aris Subagiyo; Rizal L Kusriyanto
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol 8, No 2 (2020): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/geography.v8i2.2653

Abstract

Abstrak: Kota Batu merupakan kota berbasis pariwisata dan pertanian yang pengembangan dan pembangunan  berfokus pada sektor pariwisata dan sektor pertanian. Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan meningkatnya pertumbuhan ekonomi, kondisi sektor pertanian Kota Batu mulai terancam akibat alih fungsi lahan pertanian ke lahan terbangun guna mendukung sektor pariwisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alih fungsi lahan pertanian (sawah) ke penggunaan non pertanian (permukiman, infrastruktur dan pariwisata). Metode penelitian yang digunakan adalah analisis peta perubahan guna lahan 2009, 2014 dan 2019 (peta citra) kemudian diolah menggunakan analisa GIS serta melakukan analisa factor penyebab alih fungsi lahan yang dilakukan. Hasil Analisa menunjukkan perubahan penggunaan lahan yang terjadi berdasarkan peta citra tahun 2009 hingga 2019. Penggunaan lahan sawah mengalami penyusutan sekitar 6,19 % sedangkan lahan permukiman bertambah sekitar 5,46 %. Berdasarkan analisa faktor diperoleh hasil bahwa desakan keuangan serta sektor pertanian bukan pekerjaan yang perlu dipertahankan adalah penyebab pemilik lahan melakukan alih fungsi lahan sawah yang dimiliki.Abstract:  Kota Batu is a city focused on tourism and agriculture whose growth and development is directed towards the tourism sector and the agricultural sector. Together with the growing population and economic growth, Batu City's agricultural sector has begun to be challenged due to the conversion of agricultural land into built-up land to sustain the tourism industry. The objective of this study is to identify the conversion of agricultural land (rice fields) to non-agricultural uses (settlements, infrastructure, and tourism). The research method used is to analyze land use change maps in 2009, 2014 and 2019 (image maps) and then to analyze the causes of land use change using GIS analysis. The findings of the study indicate that improvements in land use occurred from 2009 to 2019 based on the map of the photos. The use of paddy fields has dropped by around 6.19%, while residential land has risen by around 5.46%. Based on the analysis of the factor, the result shows that financial pressure and the agricultural sector that is not a job that needs to be maintained is the landowner's cause for changing the function of his own paddy fields.
PEMANTAUAN DAN MITIGASI TINGKAT POTENSI BENCANA KEKERINGAN DI KOTA DUMAI Eggy Arya Giofandi; Dhanu Sekarjati; Fitrah Andika Riyadhno
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol 8, No 2 (2020): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/geography.v8i2.2456

Abstract

Abstrak: Kekeringan lahan yang terjadi saat musim kemarau memberikan dampak buruk bagi vegetasi, salah satunya tanah Gambut sangat sensitif terhadap kenaikan suhu menimbulkan kebakaran hutan. Kota Dumai menjadi salah satu daerah yang sering mengalami kebakaran hutan dan lahan, efek terjadi kebakaran  ini menjadikan lahan tersebut memiliki kualitas yang menurun meliputi fisika, kimia, dan adanya erosi  tanah. Dalam tulisan  ini, kami memantau adanya peningkatan dan penuruan dalam beberapa kategori kekeringan lahan. Adapun parameter yang digunakan seperti Vegetation Health Index (VHI), Vegetation Condition Index (VCI), dan Temperature Condition Index (TCI) pada tahun 2013 dan tahun 2018. Hasil penelitian menjelaskan bahwa wilayah kekeringan mengalami kenaikan total selama periode pengamatan sebesar 23.119 ha lahan, dengan kategori tanpa kekeringan terjadi penurunan seluas 23.119 ha lahan, kemudian kategori kekeringan ringan terjadi peningkatan seluas 19.510 ha lahan, selanjutnya kategori kekeringan sedang terjadi peningkatan seluas 13.444 ha lahan, lalu kategori kekeringan parah terjadi penurunan seluas 9.163 ha lahan, dan kekeringan ekstrim mengalami penurunan seluas 672 ha lahan. hal ini sejalan dengan terjadinya kenaikan pada suhu tahun 2013 mencapai 38ºC  kemudian mengalami peningkatan menjadi 47,53ºC di tahun 2018 yang sedang mengalami kebakaran hutan dan lahan. Abstract: Land drought that occurs during the dry season has a negative impact on vegetation, one of which is Peat soil is very sensitive to rising temperature causing forest fires. Dumai City is one of the areas that often experience forest and land fires, the effect of this fire makes the land has a declining quality including physics, chemistry, and the presence of soil erosion. In this paper, we monitor the increase and decline in several categories of land drought. The parameters used such as vegetation health index (VHI), vegetation condition index (VCI), and temperature condition index (TCI) in 2013 and 2018. The results of the study explain the drought area experienced a total increase during the observation period of 23.119 hectares of land, with the category without drought decreased by 23.119 ha, then the category of mild drought increased by 19.510 ha, then the category of drought was an increase of 13.444 ha, then the severe drought category decreased by 9.163 ha, and extreme drought decreased by 672 ha. this is in line with the increase in temperature in 2013 which reached 38 ºC and then increased to 47.53 º C in 2018 which is experiencing forest and land fires.
PEMETAAN POTENSI PERKEBUNAN DESA AMADANOM KECAMATAN DAMPIT BERBASIS PARTISIPATIF Dian Dinanti; Bunga Annisa Fadillah; Diana Valentina; Muhammad Iqbal Hakim; Mayang Wigayatri
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol 8, No 2 (2020): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/geography.v8i2.2696

Abstract

Abstrak: Desa Amadanom merupakan salah satu desa yang berlokasi di Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang dengan luas wilayah sebesar 689,16 Ha dengan mata pencaharian masyarakat dominan pada sektor pertanian. Masyarakat Desa Amadanom mengandalkan hasil pertanian berupa hasil perkebunan terutama kopi. Penelitian ini bertujuan mengetahui pemetaan potensi perkebunan dengan menyusun akar masalah dan pohon masalah di Desa Amadanom dengan memperhatikan pola ruang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan kuantitatif dengan teknik pengumpulan data primer berupa observasi, wawancara, dokumentasi, Focus Group Discussion (FGD), dan Participatory Rural Appraisal (PRA). Analisis yang digunakan adalah analisis pola ruang, analisis potensi dan masalah, serta analisis akar dan pohon masalah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa penyebab permasalahan perkebunan yang mengakibatkan pengelolaan hasil perkebunan tidak optimal. Pengembangan Desa Amadanom diketahui belum maksimal dengan permasalahan perkebunan yang ada diantaranya hama dan penyakit serta kurangnya wawasan petani dalam perawatan dan pengolahan perkebunan. Pengolahan hasil perkebunan yang belum maksimal menyebabkan harga jual rendah.Abstract:  Amadanom Village is one of the villages located in Dampit Subdistrict, Malang Regency with an area of 689.16 Ha with dominant community livelihoods in the agricultural sector. Amadanom villagers rely on agricultural products in the form of agricultural products, especially coffee. This study aims to determine the mapping of the potential of plantations by arranging root causes and problem trees in Amadanom Village by paying attention to spatial patterns. The approach used in this study is a qualitative and quantitative approach with primary data collection techniques in the form of observation, interviews, documentation, Focus Group Discussion (FGD), and Participatory Rural Appraisal (PRA). The analysis used is spatial pattern analysis, analysis of potential and problems, as well as root and problem tree analysis. The results showed that there were several causes of plantation problems that resulted in suboptimal management of estate crops. The development of Amadanom Village is known to have not been maximized with existing plantation problems including pests and diseases as well as a lack of farmers' insights in the care and management of plantations. Processing of plantation products that have not been maximized causes low selling prices.
PERAN MUSYAWARAH GURU MATA PELAJARAN GEOGRAFI TINGKAT SMA DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALISME GURU TERHADAP PENYUSUNAN BAHAN AJAR Salma Huraini; Darwin Parlaungan Lubis; M Taufik Rahmadi
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol 8, No 2 (2020): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/geography.v8i2.2589

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) eksistensi MGMP Geografi tingkat SMA (2) partisipasi MGMP Geografi tingkat SMA dalam penyusunan bahan ajar, dan (3) peran MGMP Geografi tingkat SMA dalam meningkatkan profesionalisme guru terhadap penyusunan bahan ajar. Penelitian ini dilakukan di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara. Teknik analisis data yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif. Penentuan subjek penelitian menggunakan random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 30 orang. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah observasi ke lapangan, wawancara, angket dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) eksistensi MGMP saat ini termasuk kategori kurang baik dengan persentase 53,31% pada Kota medan dan 46,68% pada Kabupaten Deli Serdang (2) Partisipasi MGMP termasuk dalam kategori kurang baik dengan persentase 46,67% pada Kota Medan dan 53,34% pada Kabupaten Deli Serdang (3) Peran MGMP Geografi dalam meningkatkan profesionalisme guru terhadap penyusunan bahan ajar termasuk kedalam kategori kurang baik dengan persentase di 50% pada Kota Medan dan 50% pada Kabupaten Deli Serdang. Abstract: This study aims to determine (1) the existence of a high-level Geography MGMP (2) the participation of a high-level Geography MGMP in the preparation of teaching materials, and (3) the role of a high-level Geography MGMP in improving teacher professionalism in the preparation of teaching materials. This research was conducted in Medan City and Deli Serdang Regency, North Sumatra Province. The data analysis technique used is descriptive qualitative. The population in this study were all teachers who are members of MGMP Medan City and Deli Serdang Regency. Determination of the sample using random sampling with a total sample of 30 people. Data collection techniques used in this study were field observations, interviews, questionnaires and documentation studies. The results showed that (1) the existence of high school level MGMP in Medan City and Deli Serdang Regency is currently classified as inadequate with a percentage of 53.31% in Medan City and 46.68% in Deli Serdang Regency (2) MGMP participation is included in unfavorable category with a percentage of 46.67% in Medan City and 53.34% in Deli Serdang Regency (3) Role of Geography MGMP in improving teacher professionalism in the preparation of teaching materials is included in the category of unfavorable with a percentage at 50% in Medan City and 50 % in Deli Serdang Regency.
LOCUS OF CONTROL INTERNAL DAN NIAT WIRAUSAHA SISWA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN Yeyen Afista; Muhammad Kris Yuan Hidayatulloh
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol 8, No 2 (2020): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/geography.v8i2.2698

Abstract

Abstrak: Locus of control internal adalah salah satu faktor yang memiliki kontribusi terhadap niat kewirausahaan siswa sekolah menengah kejuruan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris hubungan antara Locus of control internal dan niat kewirausahaan pada siswa sekolah menengah kejuruan. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas XII di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Jombang sebanyak 392 siswa dan peserta penelitian secara total adalah 171 siswa. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah cluster random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan skala intensi kewirausahaan dan skala Locus of control internal. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis momen produk. Hasil analisis data menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara Locus of control internal dengan intensi berwirausaha, dengan tingkat signifikansi (p) sebesar 0,030. Locus of control internal berkontribusi 2,1 persen untuk niat wirausaha sehingga sisanya 97,9 persen dipengaruhi oleh variabel lain. Dapat disimpulkan dari penelitian ini bahwa Locus of control internal siswa dapat memprediksi niat kewirausahaan siswa.Abstract:  Internal locus of control is one of the factors that has contributed to the entrepreneurial intentions of vocational high school students. This study aims to empirically examine the relationship between internal locus of control and entrepreneurial intentions in vocational high school students. The population in this study were all students of class XII at 3 Jombang Vocational High School as many as 392 students and the total research participants were 171 students. The sampling technique used was cluster random sampling. Data collection is done by using the scale of entrepreneurial intentions and internal Locus of control scale. Data analysis was performed using product moment analysis techniques. The results of data analysis showed a significant positive relationship between internal Locus of control with entrepreneurial intentions, with a significance level (p) of 0.030. Internal locus of control contributes 2.1 percent to entrepreneurial intentions so the remaining 97.9 percent is influenced by other variables. It can be concluded from this study that students 'internal locus of control can predict students' entrepreneurial intentions.
ANALISIS KESESUAIAN PENGUNAAN LAHAN TERHADAP ARAHAN FUNGSI KAWASAN Nia Kurniati; Abd. Azis Ramdani; Rizal Efendi; Diah Rahmawati
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol 8, No 2 (2020): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/geography.v8i2.2639

Abstract

Abstrak: Persoalan lahan dan pemanfaatannya sering kali muncul bersamaan dengan perkembangan suatu kawasan. Salah satu masalah yang perlu di perhatikan adalah kesesuaian lahan terhadap jenis pengunaanya. Pengunaan lahan yang baik harus memperhatikan keterbatasan fisik lahan karena setiap lahan memiliki kemampuan dan karakteristik yang berbeda-beda guna mendukung pengunaanya.  Tujuan penelitian ini  (1) untuk mengetahui fungsi kawasan; (2) untuk mengetahui evaluasi pengunaan lahan; (3) untuk mengetahui kesesuaian lahan dan pengunaan lahan. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan analisis kuantitatif. Pengharkatan berjenjang ini dilakukan tiap unsur pada parameter agar sesuai dengan besaran kontribusi tiap unsur terhadap model yang dikembangkan dan yang diperoleh dari Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomer 41 Tahun 2007. Dari analisis yang telah dilakukan arahan fungsi kawasan yang mendominasi di Kabupaten Lombok Timur adalah kawasan dengan fungsi lindung dengan luas mencapai 66.155 Ha. Kawasan kedua yang mendominasi adalah penyangga dengan luas mencapai 56.980 Ha. Kawasan terakhir yang mendominasi adalah kawasan budidaya dengan luas 37.420 Ha. Kawasan yang memiliki daerah paling sempit di antara tiga kawasan adalah kawasan budidaya dengan luas 37.420 Ha. Sedangkan kesesuaian arahan fungsi kawasan terhadap penggunaan lahan di Kabupaten Lombok Timur menunjukkan sebesar 96.467 Ha penggunaan lahan sesuai, dan luas tidak sesuai yaitu sebesar 64.088 Ha. Hasil ini menjadi alat untuk merumuskan suatu kebijakan agar tidak terjadi ketidaksesuain penggunaan lahan di Kabupaten Lombok Timur.                    Abstract:  Land issues and their utilization often arise in conjunction with the development of an area. One of the problems that needs to be noticed is the suitability of the land to the type of use. Good land use should pay attention to the physical limitations of land because each land has different capabilities and characteristics to support its use.  The purpose of this research (1) is to know the functioning of the region; (2) to determine the evaluation of land use; (3) to determine the suitability of land and land use. This research uses a method of quantitative analysis approach. This tiered harmony is carried out by each element on the parameters to match the amount of contribution of each element to the model developed and obtained from Regulation of the Minister of Public Works No. 41 of 2007. From the analysis that has been carried out the direction of the function of the dominating area in East Lombok Regency is an area with a protected function with an area of 66,155 Ha. The second area that dominates is a buffer with an area of 56,980 Ha. The last area to dominate is the cultivation area with an area of 37,420 Ha. The area that has the narrowest area between the three regions is a cultivation area with an area of 37,420 ha. While the suitability of regional function directives towards land use in East Lombok Regency shows 96,467 ha of land use accordingly, and the area is not appropriate which is 64,088 Ha. This result became a tool to formulate a policy so as not to missesuain land use in East Lombok Regency
ANALISIS KEMATIAN BAYI DI TIGA PROVINSI DENGAN PERSENTASE TERTINGGI DI INDONESIA Suparna Parwodiwiyono; Witono Witono
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol 8, No 2 (2020): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/geography.v8i2.2701

Abstract

Abstrak: Kematian bayi di Indonesia secara umum masih relatif tinggi. Provinsi yang mempunyai persentase kasus kematian bayi tiga terbesar perlu mendapatkan perhatian faktor apa yang kemungkinan mempengaruhi terhadap kejadian tersebut. Hal ini perlu mendapatkan perhatian karena kasus ini akan berpengaruh terhadap kualitas hidup, kondisi kesehatan dan praktek penggunaan kontrasepsi. Tujuan penelitian ini untuk melihat kaitan umur, jarak kelahiran, jumlah anak masih hidup, dan pendidikan ibu terhadap kematian bayi di Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Selatan, dan Gorontalo.  Penelitian ini menggunakan data sekunder dari Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017. Umur memiliki hubungan signifikan dengan kejadian kematian bayi. Yang perlu diwaspadai bila umur ibu hamil kurang dari 20 tahun. Usia ini rentan   karena   masih   pada   tahap   masa reproduksi   awal   dan   organ   reproduksi belum tumbuh secara sempurna sehingga dapat berisiko terjadi gangguan pertumbuhan janin saat di kandungan. Demikian pula pada usia lebih dari 30  tahun seorang ibu sudah mulai muncul berbagai macam penyakit yang menurunkan kemampuan  ibu  untuk  melakukan  proses persalinan normal karena usia  maupun penyakit kronik yang dialaminya. Kematian bayi juga kemungkinan terjadi 1,695 kali lebih tinggi pada ibu yang memiliki 3 anak atau lebih dibandingkan pada ibu yang baru memiliki 1-2 anak yang masih hidup. Abstract:  Infant mortality in Indonesia in general is still relatively high. Provinces that have the third largest percentage of infant mortality cases need to get attention to what factors are likely to influence the incidence. This needs attention because this case will affect the quality of life, health conditions and the practice of contraceptive use. The purpose of this study was to look at the relationship of age, birth spacing, number of children still alive, and mother's education towards infant mortality in West Nusa Tenggara, South Kalimantan and Gorontalo. This study uses secondary data from the 2017 Indonesian Demographic and Health Survey (IDHS). Age has a significant relationship with infant mortality. That need to be aware of if the age of pregnant women is less than 20 years. This age is vulnerable because it is still in the early reproductive stages and the reproductive organs have not fully grown so that there can be a risk of fetal growth disturbance when in the womb. Similarly, at the age of more than 30 years a mother has begun to emerge various kinds of diseases that reduce the ability of mothers to carry out normal childbirth due to age and chronic disease they experience. Infant mortality is also likely to occur 1,695 times higher in mothers who have 3 or more children compared to mothers who have only 1-2 children who are still alive.

Page 1 of 1 | Total Record : 8