cover
Contact Name
I Komang Badra
Contact Email
-
Phone
+6285238148283
Journal Mail Official
pdpt.stkipamlapura@gmail.com
Editorial Address
Jalan Ngurah Rai Nomor 35 Amlapura
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Lampuhyang
ISSN : 20870760     EISSN : 27455661     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal LAMPUHYANG Jurnal Ilmiah Pendidikan, Agama dan Kebudayaan merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Lembaga Penjamin Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura. Jurnal LAMPUHYANG terbit dua kali dalam setahun yaitu bulan Januari dan Juli.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 1 No 1 (2010)" : 6 Documents clear
Penerapan Quantum Learning untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Matematika Siswa SMP Negeri 1 Bebandem I Komang Gede Sudarsana
LAMPUHYANG Vol 1 No 1 (2010)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v1i1.96

Abstract

Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan yang dilaksanakan dengan tujuan: (1) meningkatkan motivasi siswa dalam mempelajari matematika, (2) meningkatkan hasil belajar matematika siswa, dan (3) mendeskripsikan respon siswa terhadap penerapan quantum learning dalam pembelajaran matematika. Subjek dari penelitian ini adalah siswa kelas VIIID SMP Negeri 1 Bebandem Tahun Pelajaran 2009/2010 yang berjumlah 38 orang, terdiri dari siswa laki-laki 22 orang dan siswa perempuan 16 orang. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus. Data dikumpulkan dengan lembar observasi, tes hasil belajar, dan angket. Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis secara deskriptif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan quantum learning dalam pembelajaran matematika dapat: (1) meningkatkan motivasi belajar siswa yaitu dari skor rata-rata 26,76 pada siklus I menjadi 28,97 pada siklus II dan keduanya termasuk dalam kategori tinggi, (2) meningkatkan hasil belajar matematika siswa, yaitu dari nilai rata-rata 71,84 pada siklus I menjadi 75,26 pada siklus II, dan (3) respon siswa terhadap penerapan quantum learning dalam pembelajaran matematika adalah sangat positif, dengan skor rata-rata 61,20. Berdasarkan hasil penelitian ini maka ketiga hipotesis tindakan yang diajukan dapat diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan quantum learning dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar matematika siswa serta respon siswa terhadap penerapan quantum learning dalam pembelajaran matematika adalah sangat positif.
Hubungan antara Konsep Diri dengan Hasil Belajar Agama Hindu pada Siswa Kelas X Sekolah Menengah Atas Perhotelan Parisadha Amlapura I Wayan Dwija
LAMPUHYANG Vol 1 No 1 (2010)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v1i1.99

Abstract

Rumusan masalah penelitian ini adalah (1) bagaimana konsep diri siswa kelas X SMA.Perhotelan Parisadha Amlapura, (2) bagaimana Hasil belajar Agama Hindunya, (3) bagaimana hubungan konsep diri dengan hasil belajar Agama Hindu siswa tersebut. Tujuannya adalah (1) untuk mengetahui konsep diri siswa kelas X dan hasil belajar Agama Hindu serta hubungan antara konsep diri dengan hasil belajar Agama Hindu.Populasi penelitian ini adalah siswa Kelas X, sampel diambil dengan tehnik kuota random sampling. Metode pendekatannya adalah metode emperis. Data konsep diri dikumpulkan dengan angket, dan hasil belajar Agama Hindu melalui pencatatan dokumen. Uji Hipothesis menggunakan Produck Moment.Temuan penelitian, yaitu: (1) konsep diri siswa termasuk kategori sedang, (2) Hasil belajar Agama Hindu termasuk kategori sedang, dan (3) hubungan antara konsep diri dengan hasil belajar Agama Hindu tidak bersifat signifikan.Saran yang diajukan adalah: (1) kepada siswa kelas X SMA. Perhotelan Parisadha Amlapura disarankan agar membangun konsep diri secara positif, dengan memahami diri secara cermat dan mengembangkan segenap potensi diri secara maksimal, (2) kepada guru yang mengajar siswa kelas X, supaya mengoptimalkan fungsi segenap faktor yang berpengaruh terhadap hasil belajar siswa, (3) kepada orang tua siswa kelas X agar melaksanakan pola asuh secara demokratis supaya konsep diri anak tumbuhkembang maksimal.
Penerapan Problem Based Learning (PBL) dalam Menumbuhkan Budaya Sadar Berkonstitusi di Kalangan Mahasiswa I Gede Bandem
LAMPUHYANG Vol 1 No 1 (2010)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v1i1.100

Abstract

Dewasa ini dunia pendidikan kita menghadapai berbagai masalah yang sangat kopleks. Salah satu di antaranya adalah krisis moral dikalangan pelajar Siswa.Tawuran dan tidak jarang terjadi apabila mahasiswa berdemonstrasi bertindak anarkhis dalam menyampaikan aspirasinya. Salah satu penyebab dari semua itu adalah karena guru/dosen dalam mengajar masih banyak yang hanya mengutamakan penanaman knowledge/konsep dengan metode mengajar yang hanya menerapkan metode ceramah saja. Dengan metode ceramah saja maka akan terjadi komunikasi satu arah, siswa kurang aktif serta penekanannya hanya pada knowledge saja, sejumlah informasi atau konsep belaka. Untuk mengatasi hal itu maka dalam proses pembelajaran sangat perlu diterapkan Problem Based Learning (PBL). Dengan Problem Based Learning ini diharapkan dosen dapat membuka wawasan berfikir yang beragam dari seluruh mahasiswa, sehingga dapat mengaitkannya dalam kehidupan nyata. Dengan Problem Based Learning (PBL) ini juga diharapkan bermuara pada hasil berupa pengetahuan yang bermakna bagi mahasiswa. Pembelajaran ini paling sedikit ada delapan tahapan yaitu: (1) mengidentifikasi masalah, (2) mengumpulkan data, (3) menganalisis data, (4) memecahkan masalah berdasarkan pada data yang ada dan analisisnya, (5) memilih cara untuk memecahkan masalah, (6) merencanakan penerapan pemecahan masalah, (7) melakukan ujicoba terhadap rencana yang ditetapkan, dan (8) melakukan tindakan (action) untuk memecahkan masalah. Mudah-mudahan dengan penerapan Pembelajaran Berdasarkan Masalah ini akan bisa menumbuhkan budaya sadar berkonstiusi di kalangan mahasiswa yakni menyelesaikan masalah sesuai dengan konstituisi atau peraturan yang berlaku di Negara kita.
Motivasi Konversi Agama pada Masyarakat Sege dan Muntigunung Karangasem (Studi Komparatif) I Ketut Seken
LAMPUHYANG Vol 1 No 1 (2010)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v1i1.105

Abstract

Secara umum kecendrungan beragama di Bali mengikuti agama yang dianut oleh orang tuanya, tidak berdasarkan pertimbangan-pertimbangan logis. Fenomena ini kenyataannya di Sege dan Muntigunung tidak mutlak, mengingat di kedua tempat tersebut terjadi konversi agama dengan pertimbangan-pertimbangan yang logis, kendatipun dengan intensitas perkembangan yang berbeda. Proses konversi agama di Sege sangat berbeda dengan di Muntigunung. Di Sege diawali dengan mempelajari sebuah Alkitab namun di Muntigunung diawali dengan iming-iming bantuan kebutuhan sandang dan pangan dari pihak misionaris. Di Sege faktor utama terjadinya konversi agama disebabkan oleh faktor srada, kekosongan srada dan perkawinan, namun di Muntigunung terjadi konversi agama disebabkan oleh faktor ekonomi, dadia/klen, desa adat dan peran misionaris. Konversi agama yang disebabkan oleh srada sangat kuat bertahan, namun kalau faktor ekonomi sangat mudah kembali pada agama semula.
Nilai Pendidikan Agama Hindu dalam Wana Parwa I Wayan Gama
LAMPUHYANG Vol 1 No 1 (2010)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v1i1.106

Abstract

Dewasa ini, masyarakat dunia telah mengalami perkembangan pesat, karena pengaruh penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kesejahteraan hidup masyarakat modern merupakan buah dari proses pendidikan. Hiruk pikuk pergaulan masyarakat sekarang ini, semakin lepas dari etika pergaulan dan norma kehidupan. Hal tersebut mewajibkan masyarakat Hindu menenggok kembali kisah-kisah cerita masa lampau yang tersurat pada epos Wana Parwa, untuk menyadari agar sejarah pahit masa lampau tidak terulang di masa yang akan datang. Masyarakat modern dengan kecerdasan kognitif, afektif, dan psikomotor mampu mengantisipasi hal tersebut. Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui isi pesan pendidikan Agama Hindu yang ada di dalam cerita Wana Parwa, (2) untuk mengetahui ajaran agama Hindu yang tersurat dalam epos Wana Parwa, dan (3) untuk mengetahui nilai pendidikan Agama Hindu yang tertuang di dalam kisah Wana Parwa. Penelitian ini memiliki manfaat secara teoritis yaitu dapat digunakan sebagai informasi awal para pembaca, berkenaan dengan isi pesan nilai pendidikan Agama Hindu di dalam cerita Wana Parwa. Kemudian, secara praktis, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pegangan di dalam mengamalkan nilai-nilai pendidikan Agama Hindu, melalui refleksi kisah kehidupan masa lampau. Ajaran agama Hindu yang tersirat dalam epos Wana Parwa adalah ajaran etika, ahimsa, tat tuam asi, catur paramita, panca sradha, karmapala, nitisastra, dan dasa yama bratha. Nilai pendidikan Agama Hindu yang tertuang dalam cerita Wana Parwa meliputi nilai sopan santun, nilai kebenaran, nilai kesucian, nilai keindahan, nilai kejujuran, nilai toleransi, nilai penyadaran, nilai kebersihan hati, nilai kepercayaan, dan nilai kepahlawanan. Melalui penelitian ini, peneliti menyarankan kepada pendidik dan orang tua, untuk terus membaca cerita Ramayana dan Mahabrata, karena di dalam epos tersebut banyak ajaran agama Hindu yang menyimpan nilai-nilai pendidikan yang bisa digunakan sebagai pencerahan dan obor kehidupan kekinian.
Huluapad dan Tegen-tegenan di Desa Pakraman Muntigunung Kecamaan Kubu Kabupaten Karangasem Provinsi Bali I Made Regeg
LAMPUHYANG Vol 1 No 1 (2010)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v1i1.107

Abstract

Desa Pakraman Muntigunung, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem Provinsi Bali termasuk daerah sulit. Desa Pakraman tersebut mempunyai berbagai keunikan di antaranya adalah kepemimpinan adatnya dengan sistim Huluapad dan pelaksanaan upacara Tegen-tegenan. Diera globalisasi ternyata Huluapad tetap eksis dan sangat berperan dalam pelaksanaan panca yadnya, termasuk upacara Tegen-tegenan. Hal ini dikarenakan Huluapad dalam pergantiannya, menggunakan usia perkawinan (senioritas) dan ditunjuk dalam paruman desa Pakraman di Bale Agung. Bale Agung sangat disakralkan, jika berani menolak atau memaksakan diri dan berkata kasar (Baos gora) ingin menjadi pengurus, maka akan terjadi malapetaka di kemudian hari, baik bagi dirinya sendiri maupun keturunannya. Prinsip ngayah sampai sekarang masih terlaksana dengan baik. Hal ini terbukti setiap melaksanakan upacara panca yadnya termasuk upacara tegen-tegenan tetap berlangsung dengan baik dan sukses.Upacara Tegen-tegenan tetap dilaksanakan, karena pernah terjadi leluhur yang sudah di aben (Jero Mihyang) semestinya dapat bertemu di jabayan Pura Desa untuk bersama-sama menerima suguhan upakara tegen-tegenan tidak dilaksanakan sesuatu yang tidak masuk aka pernah terjadi yaitu adanya Bajag yang suka mencuri bayi, membawa karung dan juga gerubug menimpa krama desa Pakraman. Dengan kejadian itu upacara Tegen-tegenan merupakan rentetan dari upacara usaba Dalem tetap dilaksanakan, bahkan krama takut tidak tangkil dalam persembahan tersebut. Di manapun mereka berada pasti datang ke desa Pakraman Muntigunung untuk melaksanakan persembahan upakara Tegen-tegenan.

Page 1 of 1 | Total Record : 6