cover
Contact Name
I Komang Badra
Contact Email
-
Phone
+6285238148283
Journal Mail Official
pdpt.stkipamlapura@gmail.com
Editorial Address
Jalan Ngurah Rai Nomor 35 Amlapura
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Lampuhyang
ISSN : 20870760     EISSN : 27455661     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal LAMPUHYANG Jurnal Ilmiah Pendidikan, Agama dan Kebudayaan merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Lembaga Penjamin Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura. Jurnal LAMPUHYANG terbit dua kali dalam setahun yaitu bulan Januari dan Juli.
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol 13 No 2 (2022)" : 13 Documents clear
Asesmen Otentik dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Putu Andyka Putra Gotama; Ni Komang Suni Astini
LAMPUHYANG Vol 13 No 2 (2022)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v13i2.305

Abstract

Pendidikan yang relevan harus bersandar pada empat pilar pendidikan, yaitu (1) learning to know, yakni peserta didik mempelajari pengetahuan, (2) learning to do, yakni peserta didik menggunakan pengetahuannya untuk mengembangkan keterampilan, (3) learning to be, yakni peserta didik belajar menggunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk hidup, dan (4) learning to live together, yakni peserta didik belajar untuk menyadari bahwa adanya saling ketergantungan sehingga diperlukan adanya saling menghargai antara sesama manusia. Dengan demikian, pendidikan saat ini harus mampu membekali setiap peserta didik dengan pengetahuan, keterampilan, serta nilai-nilai dan sikap, yang mana proses belajar bukan semata-mata mencerminkan pengetahuan (knowledge-based) tetapi mencerminkan keempat pilar di atas. Melalui keempat pilar itulah dapat terbentuk kompetensi. Kompetensi adalah pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai yang dimiliki dan dikuasai peserta didik yang dapat tertampilkan secara nyata dalam memecahkan/menyelesaikan tugas-tugas dalam kehidupan. Kompetensi ini hendaknya benar-benar bisa diukur dengan bentuk evaluasi yang valid. Hal ini disebabkan karena kompetensi merupakan produk akhir dari sebuah pembelajaran, termasuk pembelajaran bahasa Indonesia. Salah satu assesmen yang bisa digunakan adalah Asesmen Otentik. Artikel ini ditulis untuk mengetahui bentuk dan jenis assesmen otentik dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Berdasarkan pembahasan, diperoleh hasil bahwa asesmen otentik merupakan penilaian yang terintegrasi dalam kegiatan belajar dan mengajar di kelas (berbasis kelas) melalui pengumpulan karya siswa (portofolio), hasil karya (produk), penugasan (proyek), kinerja (performance) dan tes tertulis (paper and pencil test). Beberapa prinsip yang harus diperhatikan guru mencakup (1) valid, (2) mendidik, (3) berorientasi pada kompetensi, (4) adil terbuka, (5) berkesinambungan, (6) menyeluruh dan, (7) bermakna. Kemudian, ada beberapa jenis assesmen otentik yaitu Wawancara lisan, Menceritakan kembali teks atau cerita, observasi guru, Portofolio, dan Rubrik. Seluruh jenis asesmen otentik ini sangat relevan jika digunakan untuk mengukur kompetensi peserta didik dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Berdasarkan hasil tersebut di atas, maka saran ingin diberikan kepada Lembaga pencetak tenaga pendidik agar memberikan penekanan pada model-model asesmen yang bisa dipakai karena asesmen adalah ujung tombak dari keberhasilan suatu pembelajaran. Kemudian, kepada guru bahasa Indonesia agar memahami isi artikel guna menambah pengetahuan mengenai evaluasi pengajaran bahasa Indonesia, dan bagi peneliti lain tentunya dapat melakukan penelitian-penelitian sejenis untuk mengembangkan pengetahuan terutama dalam bidang evaluasi pembelajaran bahasa Indonesia.
Bhairawa Tantra Dalam Upacara Penyalonarangan Di Pura Pesamuan Agung Desa Adat Padangbai Kecamatan Manggis Kabupaten Karangasem Ni Putu Gatriyani
LAMPUHYANG Vol 13 No 2 (2022)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v13i2.307

Abstract

Tradisi di suatu wilayah merupakan tata cara/pelaksanaan dari turun-temurun sesuai dresta di masyarakat setempat yang berhubungan dengan keyakinan beragama untuk penghormatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta Manifestasinya. Halnya seperti Bhairawa Tantra dalam pelaksanaan Upacara Penyalonarangan di Pura Pasamuhan Agung Desa Adat Padangbai, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem dilaksanakan pada sasih kalima dalam aci kajeng kliwon dipercaya memiliki unsur spiritual melawan kekuatan magis yang bersifat negatif dan memberikan spirit dalam meningkatkan rasa bhakti.Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut yaitu : (1).Bagaimana prosesi Upacara Penyalonarangan di Pura Pesamuhan Agung Desa Adat Padangbai, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem terkait bhairawa tantra?.(2). Apa Implikasi Upacara Penyalonarangan di Pura Pesamuhan Agung Desa Adat Padangbai, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem?. Tujuan dari penulisan ini adalah: (1). Untuk menganalisis prosesi Upacara Penyalonarangan di Pura Pesamuhan Agung Desa Adat Padangbai, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem terkait bhairawa tantra (2). Untuk menganalisis implikasi dari Upacara Penyalonarangan di Pura Pesamuhan Agung terhadap kehidupan sosial masyarakat di Desa Adat Padangbai, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Landasan Teori dalam penelitian ini menggunakan Teori relegi, Teori Interpretasi dan Teori Fungsional Struktural. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data diperoleh dari hasil wawancara. Prosesi Upacara Penyalonarangan terdiri atas tiga bagian, yakni upacara awal, yaitu diawali dengan prosesi ngadegang Ida Bhatara di Pura Pasamuhan Agung, yang dilaksanakan setiap kajeng dan kliwon pada sasihkalima, melaksanakan pecaruan di catuspata. Upacara inti tapakan-tapakan Ida Bhatara disolahkan berupa rangda, yang diyakini dari wujud Sang Hyang Bhairawi yaitu Durga merupakan sakti dari Dewa Siwa, tantra bhairawa terlihat dimana masyarakat memuja Sakti Siwa yaitu Dewi Durga dalam segala bentuk rupa dan wujud yang menyeramkan seperti : Bhatara Dalem Ped, Bhatara Lingsir, Bhatara Nyeneng, Bhatara Rangda, Bhatara Madu Segara, Rarung, Lenda, Lendi, wok sisya, Jaran guyang dan Jatayu (paksi agung). Ada yang disebut daratan yang merupakan orang kesurupan/ tidak sadarkan diri, diyakini tubuhnya telah dirasuki oleh abdi bhatari Durga, dalam ritualnya ada yang ingin dipersembahkan berupa arak (minuman keras), ada pula yang ingin dipersembahkan berupa ayam mentah yang masih hidup untuk dimakan darahnya. Implikasi Upacara Penyalonarangan di Desa Adat Padangbai adalahKeharmonisan Bhuana Agung dan Bhuana Alit, Penolak Wabah Penyakit,Pelestarian Seni, Adat (tradisi) dan Budaya, dan Penanaman Nilai Tatwa, Etika dan Susila.
Sesayut Pancoran Pada Ngusabha Dalem Di Desa Pakraman Seraya Kecamatan Karangasem Kabupaten Karangasem I Gede Sugiarka; I Ketut Dani Budiantara
LAMPUHYANG Vol 13 No 2 (2022)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v13i2.308

Abstract

Proses pelaksanaan upacara yadnya selalu mempergunakan sarana-sarana pendukung. Salah satu sarana yang digunakan adalah banten. Banten Sesayut Pancoran pada Usabha Dalem merupakan banten yang jarang dipergunakan, tetapi penting karena masyarakat tidak mengetahui dan memahami bentuk, fungsi dan makna yang dikandungnya. Untuk itu perlu dikaji bentuk, fungsi dan makna banten Sesayut Pancoran pada Usabha Dalem yang nantinya masyarakat Hindu di Desa Pakraman Seraya menjadi paham. Rumusan masalah yang diperoleh dari latar belakang tersebut sebagai berikut. (1) Bagaimana bentuk Sesayut Pancoran pada Usabha Dalem di Desa Pakraman Seraya, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem? (2) Apa Fungsi Sesayut Pancoran pada Usabha Dalem di Desa Pakraman Seraya, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem? (3) Apa Makna Sesayut Pancoran pada Usabha Dalem di Desa Pakraman Seraya, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem?. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, metode yang digunakan adalah metode pendekatan subjek penelitian dengan menggunakan metode pendekatan empiris, metode penentuan subjek penelitian dengan teknik purposive sampling, jenis data yang dipakai adalah data kualitatif dengan sumber data primer dan sekunder. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode wawancara dan pencatatan dokumen. Setelah data terkumpul dilakukan analisa data melalui metode deskriptif dengan teknik induksi dan argumentasi. Adapun hasil penelitian yang diperoleh, yaitu: (1) Bentuk Sesayut Pancoran pada Ngusabha Dalem di Desa Pakraman Seraya Kecamatan Karangsem, Kabupaten Karangsem adalah susunan banten yang terdiri atas: dulang, alas sesayut, tumpeng, telur ayam, galan (belayag), kelampet, kacang saur, buratwangi, jajan, buah-buahan, dan sampiyan nagasari, (2) Fungsi Sesayut Pancoran pada Ngusabha Dalem di Desa Pakraman Seraya, meliputi: fungsi religius, fungsi pendidikan, fungsi sosial ekonomi dan fungsi penyucian, (3) Makna Sesayut Pancoran pada Ngusabha Dalem di Desa Pakraman Seraya adalah sebagai anugrah, wujud sembah bhakti dan sthana Sang Hyang Widhi beserta manifestasi-Nya dalam memberikan pancaran anugerah untuk membersihkan diri dari pengaruh Sad Ripu dan untuk meleburkan segala kekotoran (mala) yang ada di bumi maupun dalam diri manusia yang muncul dari pikiran, perkataan, dan tingkah laku (Tri Kaya Parisudha) yang dapat mengakibatkan suatu penderitaan dalam hidup.
Afiksasi Dalam Gaguritan Sutasoma Jilid 1 Karya I Ketut Ruma (Tinjauan Morfologi Bahasa Bali) I Komang Simpen; I Wayan Jatiyasa; Ni Wayan Apriani
LAMPUHYANG Vol 13 No 2 (2022)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v13i2.309

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk untuk mendeskripsikan bentuk, fungsi, dan makna afiksasi bahasa Bali dalam Gaguritan Sutasoma Jilid 1 karya I Ketut Ruma. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif, dengan pendekatan penelitian empiris, yaitu pendekatan yang digunakan terhadap gejala yang telah ada secara alamiah dimana gejala-gejala yang diselidiki telah ada secara wajar dalam kehidupan sehari-hari. Gejala yang terjadi dimaksud adalah penggunaan afiksasi bahasa Bali yang digunakan dalam teks Gaguritan Sutasoma Jilid 1 karya I Ketut Ruma. Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder dengan data yang bersifat kualitatif. Sedangkan metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode pencatatan dokumen. Data dianalisis dengan metode analisis deskriptif kualitatif dengan langkah-langka reduksi awal, display data, conclusion drawing (penyimpulan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Bentuk afiksasi bahasa Bali dalam Gaguritan Sutasoma Jilid 1 karya I Ketut Ruma, yaitu: 1) prefiks N-, ma-, ka-, pa-, sa-, pra-, pari-, pati-, dan maka-; 2) sufiks -ang, -in, -an, -e, -n, dan -ing; 3) infiks –um- dan –in-; 4) konfiks pa-an, ma-an, dan ka-an; 5) Simulfiks ma-N dan pa-N; serta 6) kombinasi afiks ma-an, ma-N-in, dan ma-N-ang. 2) Fungsi afiksasi bahasa Bali dalam Gaguritan Sutasoma Jilid 1 karya I Ketut Ruma, yaitu berfungsi membentuk nomina, verba (verba tanggap dan tindak atau verba berobjek penerima dan berobjek penderita ), adjektiva, numerial, dan adverbial. 3) Makna afiksasi bahasa Bali dalam Gaguritan Sutasoma Jilid 1 karya I Ketut Ruma, yaitu: 1) melakukan pekerjaan (baik diri sendiri, untuk orang lain, dan bersama-sama), mengeluarkan, menghasilkan, mengandung, dan menjadi dalam keadaan yang tersebut dalam bentuk dasar/asal; dan 2) menyatakan pelaku, cara/alat, hal, persamaan waktu, arah, seluruh, tiba-tiba, berulang-ulang, rutin, serta mempertegas yang tersebut dalam bentuk dasar/asal.
Penerapan Supervisi Pendidikan Sebagai Upaya Peningkatan Mutu Pendidik di Sekolah Kejuruan Ni Putu Diah Untari Ningsih; I Putu Oky Ariartha
LAMPUHYANG Vol 13 No 2 (2022)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v13i2.310

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya menghasilkan lulusan yang kompeten, tenaga pendidik memiliki peran yang sangat penting dalam penyelenggaraan pendidikan berbasis kompetensi. Sehingga mutu pendidik sangat berpengaruh besar dalam peningkatan mutu dari pendidikan itu sendiri. Supaya mempunyai lulusan peserta didik yang diharapkan maka sekolah harus bisa meningkatkan mutu pendidiknya. Peningkatan kompetensi profesional yang dimiliki oleh tenaga pendidik di suatu sekolah, khususnya pada sekolah kejuruan dipengaruhi oleh penerapan supervisi pendidikan. Penelitian didasarkan pada bagaimata penerapan supervisi di sekolah kejuruan jika dibandingkan dengan sekolah lain dalam meningkatkan kualitas pendidikan serta bagaimana pengaruh supervisi di sekolah kejuruan terhadap daya kerja pendidik untuk menghasilkan lulusan yang sesuai dengan standar kompetensi. Dari pemaparan teori serta analisis yang telah dilakukan oleh peneliti, dapat disimpulkan bahwa : 1). Meningkatkan mutu pendidikan harus dibarengi dengan meningkatkan mutu guru, karena guru merupakan kunci penting dalam pelaksanaan pendidikan di lapangan, 2). Dengan dilaksanakannya kegiatan supervisi, guru dibantu dalam meningkatkan kompetensinya untuk meningkatkan hasil belajar siswa, 3). Penerapan supervisi di Sekolah Kejuruan tidak jauh berbeda dengan sekolah lainnya yang memiliki tujuan yang sama yakni untuk meningkatkan mutu guru sehingga menghasilkan lulusan yang kompeten.
Metode Membaca Tanpa Mengeja sebagai Metode Pembelajaran Bahasa bagi Anak Berkebutuhan Khusus Disleksia Sang Ayu Putu Nilayani; I Gusti Ayu Adi Rahayuni
LAMPUHYANG Vol 13 No 2 (2022)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makalah ini membahas tentang metode Membaca Tanpa Mengeja sebagai metode pembelajaran bahasa bagi anak berkebutuhan khusus disleksia. Metode membaca tanpa mengeja ini adalah suatu metode membaca tanpa memperkenalkan huruf dan bunyi tetapi langsung memperkenalkan suku kata menjadi kata dengan cara pembelajarann diulang-ulang dan bertahap. Disleksia merupakan suatu gangguan belajar pada anak-anak yang ditandai dengan kesulitan membaca, menulis, mengeja, atau berbicara dengan jelas. Berdasarkan penelitian-penelitian yang ada, penggunaan metode tanpa mengeja untuk anak berkebutuhan khusus disleksia ini dirasa cukup tepat digunakan. Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian-penelitian yang menunjukkan bahwa melalui metode membaca tanpa mngeja, kemampuan membaca anak berkebutuhan khusus disleksia mengalami peningkatan. Permasalahan pada makalah ini adalah mengenai bagaimanakah metode membaca tanpa mengeja, serta bagaimana penggunaan metode Membaca Tanpa Mengeja sebagai metode pembelajaran bahasa bagi anak berkebutuhan khusus disleksia. Tujuan makalah ini sesuai dengan permasalahan. Makalah ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sumber pengetahuan mengenai membaca tanpa mengeja dan mengenai anak berkebutuhan khusus disleksia. Makalah ini juga diharapkan dapat dijadikan pedoman bagi pembaca dalam menangani permasalahan membaca, menulis, mengeja, dan berbicara pada anak disleksia. Metode membaca tanpa mengeja untuk anak disleksia diawali dengan mengenalkan suku kata per suku kata. Anak dilarang keras diajarkan mengeja. Setelah anak disleksia mampu membaca, anak baru boleh dikenalkan dengan huruf. Penggunaan metode ini dikarenakan anak berkebutuhan khusus disleksia mengalami beberapa masalah, seperti kesulitan membedakan huruf dan bunyi, kesulitan mengingat kata atau huruf yang berurutan, serta kesulitan memahami tata bahasa.
Corak Kultur Bali dalam Penggunaan Multilingual pada Novel Kenanga Karya Oka Rusmini Ni Kadek Juliantari; I Nyoman Subadra
LAMPUHYANG Vol 13 No 2 (2022)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v13i2.313

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan corak kultur Bali yang tergambar melalui penggunaan multingual dalam Novel Kenanga karya Oka Rusmini. Sumber data dalam penelitian ini adalah novel Kenanga karya Oka Rusmini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi dokumentasi. Pengolahan data dilakukan melalui tiga tahap, yakni reduksi data, penyajian data, serta penarikan simpulan dan verifikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa multilingual yang digunakan dalam novel Kenanga dapat dilihat dari bentuk-bentuk lingual yang berasal dari bahasa Bali dan bahasa Asing yang digunakan berupa kata, frasa, dan kalimat. Akan tetapi, bentuk lingual tersebut didominasi oleh bentuk lingual yang berupa kata. Melalui penggunaan multilingual tersebut dapat dilihat corak kultur Bali, misalnya terkait dengan kesantunan berbahasa masyarakat Bali, yang dapat diamati dari percakapan penutur dan mitra tutur antarkasta yang sama dan antara kasta yang berbeda melalui pilihan bahasa yang menguntungkan mitra tutur, saat mereka mengomunikasikan berbagai topik tuturan, dalam suasana yang santai (nonformal), serta pada umumnya terjadi di lingkungan griya, dan tergambar pula nilai-nilai budaya Bali pada umumnya dilakukan oleh etnik Bali yang memang mendalami, menghayati, dan melakoni setiap budaya tersebut; multilingualisme digunakan pada topik-topik yang berkaitan dengan masalah adat istiadat dan religius.
Analisis Tingkat Kepuasan Layanan Manajemen oleh Tenaga Kependidikan Wenny Pebrianti
LAMPUHYANG Vol 13 No 2 (2022)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v13i2.280

Abstract

This study aims to measure the level of user satisfaction with services is an important factor in developing a service provision system that is responsive to user needs, costs and time, and maximizes service to users. The results of the assessment to 121 respondents who are education personnel, both civil servants and honorariumsshow that the assessment for job satisfaction and infrastructure is dominated by good answers by 43% and very good by 26%. The assessment for the leadership satisfaction aspect is dominated by good answers by 42% and sufficient by 30%. The assessment for the aspect of work atmosphere is dominated by good answers by 45% and very good by 34%. The assessment for the aspect of career development satisfaction above is a good answer of 39% and sufficient by 31% for the aspect of the Rights of Education Personnel dominated by good answers of 38% and sufficient 28%.
Pengaruh Model Inquiri Terhadap Literasi Sains Dan Hasil Belajar Ipa Siswa Kelas V Sdn 4 Sangsit Ni Ketut Erna Muliastrini; Ni Nyoman Lisna Handayani
LAMPUHYANG Vol 13 No 2 (2022)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v13i2.306

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya pengaruh implementasi model inquiri terhadap literasi sains dan hasil belajar IPA siswa kelas V SDN 4 Sangsit. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu dengan rancangan The Posttest-Only Control-Group Desain. Populasi penelitian adalah semua siswa V SD 4 Sangsit yang terdiri dari 40 siswa. Sebanyak 40 siswa dipilih sebagai sampel yang ditentukan dengan teknik random sampling. Data literasi Sains dikumpulkan dengan kuesioner dan hasil belajar IPA menggunakan tes pilihan ganda. Data dianalisis dengan menggunakan MANOVA (Multivariat Analysis of Variance) berbantuan SPSS 17.00 for windows. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa: Pertama, literasi sains antara siswa yang mengikuti model inquiri secara signifikan lebih baik daripada siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional. Kedua, prestasi belajar IPA antara siswa yang mengikuti pembelajaran model inquiri secara signifikan lebih baik daripada siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional. Ketiga, secara simultan literasi sains dan hasil belajar antara siswa yang mengikuti model inquiri secara signifikan lebih baik daripada siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional.
Sesayut Penuntun Dewa Dalam Piodalan Di Pura Penataran Agung Desa Gelumpang Kecamatan Karangasem Kabupaten Karangasem Ida Ayu Latri Anjani; I Komag Badra; Ni Kadek Ayu Paramandani
LAMPUHYANG Vol 13 No 2 (2022)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v13i2.311

Abstract

Ada tiga hal yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian kualitatif ini yaitu:(1) Bagaimana bentuk Sesayut Penuntun Dewa dalam Piodalan di Pura Penataran Agung Desa Gelumpang, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem? (2) Apa fungsi Sesayut Penuntun Dewa dalam Piodalan di Pura Penataran Agung Desa Gelumpang, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem? (3) Apa saja nilai pendidikan Agama Hindu yang terkandung dalam Sesayut Penuntun Dewa dalam Piodalan di Pura Penataran Agung Desa Gelumpang, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem? Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Metode yang digunakan adalah metode pendekatan subjek penelitian, metode penentuan subjek penelitian, metode pengumpulan data dan metode analisis data. Metode pendekatan subjek penelitian menggunakan metode pendekatan empiris. Penentuan subjek penelitian Non probality sampling atau purposive sampling. Metode pengumpulan data menggunakan metode wawancara, metode observasi, dan metode pencatatan dokumen. Sumber data primer bersumber dari informan Desa Gelumpang dan sumber data sekunder berasal dari kajian kepustakaan berupa literatur yang berkaitan dengan pokok permasalahan. Analisis data yang digunakan non statistik atau deskriptif dengan teknik induksi dan argumentasi. Berdasarkan analisis yang terkumpul disimpulkan: 1). Bentuk Sesayut Penuntun Dewa berbentuk Ongkara sebagai aksara suci Ida Sang Hyang Widhi, 2). Fungsi Sesayut Penuntun Dewa adalah sebagai sarana pendidikan, perwujudan Wasa dalam prabhawa-Nya Panca Dewat, alat konsentrasi, sarana peningkatan estetika, sarana peningkatan sosial ekonomi , dan sebagai sarana persembahan, 3). Nilai-nilai pendidikan Agama Hindu yang didasari oleh tattwa (aktivitas untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa), susila (nilai yang berlandaskan ajaran Tri Kaya Parisudha), upacara (pengungkapan rasa terima kasih kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar terhindar dari mala petaka).

Page 1 of 2 | Total Record : 13