cover
Contact Name
Widodo Kushartomo
Contact Email
widodokushartomo@gmail.com
Phone
+628176869150
Journal Mail Official
jmts@untar.ac.id
Editorial Address
Jl. Letjen S. Parman No. 1, Jakarta 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil
ISSN : -     EISSN : 2622545X     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/jmts
Core Subject : Engineering,
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil dikelola oleh Program Studi Sarjana Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara. JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil merupakan media publikasi hasil penelitian dan studi ilmiah dalam bidang Teknik Sipil yang diterbitkan 4 kali dalam setahun, yaitu pada bulan Februari, Mei, Agustus, dan November. Jurnal ini terbit pertama kali pada 1 Agustus 2018.
Articles 861 Documents
PENENTUAN LOKASI TOWER CRANE PADA PROYEK KONSTRUKSI BERBASIS SIMULASI Gerwyn Persulessy; Basuki Anondho
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 3, Nomor 4, November 2020
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v3i4.8694

Abstract

Development of high-level building construction projects that require complex equipment that can be used in high-level construction, equipment used to help complete construction projects called heavy equipment. One of the heavy equipment used in high-rise buildings is a tower crane. The use and layout of tower cranes can speed up the schedule and save on project costs. Therefore many methods have been developed to determine the tower crane layout. This study will discuss determining the location of tower cranes by discussing simulations. The location will be determined based on the site map data which is processed in the form of a geometric arrangement and tower crane data specifications. Location determination is done by comparing the total travel time of several simulated locations according to several different speed criteria in a construction project. Speed criteria are divided into four times the jib speed and trolley speed. Location of the location with the total travel time will be taken as the final result. Different speed criteria will make the total travel time change. ABSTRAKPerkembangan proyek pembangunan gedung bertingkat tinggi yang semakin kompleks menyebabkan diperlukannya peralatan yang dapat mempermudah pembangunan gedung bertingkat, peralatan yang digunakan untuk membantu menyelesaikan tugas konstruksi disebut alat berat. Salah satu peralatan berat yang digunakan pada gedung bertingkat tinggi adalah tower crane. Penggunaan dan tata letak tower crane yang baik dapat mempercepat jadwal dan menghemat biaya proyek. Oleh karena itu banyak dikembangkan metode-metode untuk menentukan tata letak tower crane. Penelitian ini akan membahas penetapan letak lokasi tower crane dengan pendekatan  simulasi. Letak lokasi akan ditetapkan berdasarkan data site map yang diolah dalam bentuk geometric layout dan data spesifikasi tower crane. Penetapan lokasi dilakukan dengan cara membandingkan total travel time dari beberapa lokasi yang disimulasi sesuai dengan beberapa kriteria kecepatan yang berbeda-beda pada suatu proyek konstruksi. Kriteria kecepatan terbagi menjadi empat berdasarkan besarnya kecepatan jib dan kecepatan trolley. Letak lokasi dengan total travel time terkecil akan diambil sebagai hasil akhir. Kriteria-kriteria kecepatan yang berbeda disimulasi akan membuat total travel time berubah.
PENGEMBANGAN TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT UNTUK MENINGKATKAN KELANCARAN LALU LINTAS DI LEBAK BULUS Irwan Budiman; Giovanni Pranata; Johannes Susanto
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 4, Nomor 2, Mei 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.10475

Abstract

Transportation is one of the most important components for every aspect of society in this world. Therefore, the TOD concept is needed in the implementation of transportation. At the present time, traffic jams often occur such as congestion of vehicles caused by people who do not want to walk. Actually this is because the place the people wants to go to is located far enough that it requires people to use private vehicles. The TOD concept is needed to solve this problem. To narrow down the research, the research was carried out in one place, namely in the Lebak Bulus area. In addition, it is also necessary to know the travel routes in the area and how the TOD is developed in Lebak Bulus. Researchers used data from respondents' responses consisting of MRT users and people in the surrounding area. The questionnaire was made to determine the desire or motivation of the people in walking, to find out about traffic conditions, and the condition of the MRT and its supporting areas in Lebak Bulus. The analysis carried out was by conducting online questionnaires. The development of the TOD area is needed to reduce congestion in the area.ABSTRAKTransportasi merupakan salah satu komponen terpenting bagi setiap aspek masyarakat di dunia ini tak terkecuali bagi masyarakat di Indonesia. Oleh sebab itu konsep TOD sangat dibutuhkan dalam pelaksanaan transportasi. Pada masa sekarang sering sekali terjadi kemacetan seperti padatnya ruas kendaraan yang disebabkan oleh masyarakat yang tidak mau berjalan kaki. Sebenarnya hal ini juga disebabkan karena tempat yang ingin dituju oleh masyarakat tersebut terletak cukup jauh sehingga mengharuskan masyarakat untuk menggunakan kendaraan pribadi. Konsep TOD diperlukan untuk mengatasi masalah tersebut. Untuk mempersempit penelitian maka penelitian dilakukan di satu tempat saja yaitu di daerah Lebak Bulus. Selain itu perlu juga untuk mengetahui rute perjalanan di daerah tersebut dan bagaimana pengembangan TOD di Lebak Bulus. Peneliti mengunakan data dari tanggapan responden yang terdiri dari pengguna MRT dan masyarakat di daerah sekitar. Kuisioner dibuat untuk mengetahui keinginan atau motivasi masayarakat dalam berjalan kaki, untuk mengetahui tentang kondisi lalu lintas, dan kondisi MRT dan area penunjangnya di Lebak Bulus. Analisis yang dilakukan adalah dengan melakukan quisioner secara online. Pengembangan kawasan TOD diperlukan untuk mengurangi kemacetan yang terjadi di daerah tersebut.
ANALISIS TINGKAT KETEPATAN WAKTU KRL COMMUTER LINE LINTAS TANAH ABANG-RANGKASBITUNG (STUDI KASUS: STASIUN JURANGMANGU) Felix Jonathan Christy; Dewi Linggasari; Hokbyan Angkat
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 3, Nomor 3, Agustus 2020
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v3i3.8411

Abstract

One of the modes of transportation that are of interest to the Jabodetabek community is the Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line. The title of this research is the Analysis of the Level of Late Departure of the Green Line KRL Against GAPEKA at Jurangmangu Station. The purpose of this study is to identify the timeliness of Green Line KRL departures by scheduling them at Jurangmangu Station and to classify the delay level of Green Line KRL departures and determine solutions that can be applied to reduce the level of KRL Green Line late departures, especially at Jurangmangu Station. The research method used to collect data on passenger characteristics and train delays is to online survey using a questionnaire and research at the station. Delay is analyzed by Gap Analysis by comparing the time in the field and the GAPEKA. The time difference is assessed based on the tolerance of delay from the Ministerial Regulation and passenger tolerance at Jurangmangu Station. Delay tolerance according to Ministerial Regulation is 6 minutes and according to passengers is 10 minutes. The results showed that the delay of train departures at Jurangmangu Station was still below the tolerance limit for delays.  ABSTRAKSalah satu moda transportasi yang diminati masyarakat Jabodetabek adalah Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line. Judul penelitian ini adalah Analisis Tingkat Keterlambatan Keberangkatan KRL Green Line Terhadap GAPEKA di Stasiun Jurangmangu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengindentifikasi ketepatan waktu keberangkatan KRL Green Line dengan penjadwalannya di Stasiun Jurangmangu serta mengklasifikasikan tingkat keterlambatan keberangkatan KRL Green Line dan menentukan solusi yang dapat diterapkan untuk mengurangi tingkat keterlambatan keberangkatan KRL Green Line terutama di Stasiun Jurangmangu. Metode Penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data karakteristik penumpang dan keterlambatan kereta adalah dengan survei secara online dengan menggunakan kuesioner dan penelitian langsung di stasiun. Keterlambatan dianalisis dengan Gap Analysis dengan membandingkan antara waktu di lapangan dan Grafik Perjalanan Kereta Api (GAPEKA). Kemudian perbedaan waktu tersebut dinilai berdasarkan toleransi keterlambatan dari Peraturan Menteri dan toleransi penumpang di Stasiun Jurangmangu. Toleransi keterlambatan menurut Peraturan Menteri adalah 6 menit dan menurut penumpang adalah 10 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlambatan keberangkatan kereta di Stasiun Jurangmangu masih di bawah batas toleransi keterlambatan.
ANALISIS DEFORMASI DAN TEGANGAN PADA BASCULE BRIDGE AKIBAT PENGARUH SUDUT ANGKAT JEMBATAN Dahniel Dahniel; F.X. Supartono
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 3, Nomor 4, November 2020
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v3i4.8369

Abstract

Bumi sedang menghadapi masalah pemanasan global yang besar sehingga membuat es di kutub mencair dan menambah tinggi muka air, juga mengurangi luas daratan. Dalam mengatasi masalah tersebut dibutuhkan suatu akses yang menghubungkan transportasi darat dan juga transportasi laut, jembatan bergerak merupakan solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Jembatan bergerak memiliki banyak jenis, salah satunya adalah jembatan bascule, jembatan bascule adalah jembatan bergerak yang bergerak arah vertikal dan horizontal untuk memberikan akses kendaraan laut dan darat. Jembatan bascule ini menggunakan rangka batang yang biasanya digunakan untuk jalur kereta api, tetapi jembatan kali ini untuk jalur kendaraan beroda. Model Jembatan bascule dibuat dengan menggunakan program Midas Civil menggunakan wizard rangka batang yang bergerak vertikal dengan sudut 0º, 30º, 45º, 60º. Hasil dari analisis menggunakan program Midas Civil menunjukkan bahwa untuk jalur kendaraan beroda, jembatan bascule tipe rangka batang bisa digunakan dengan ketentuan seperti dalam penelitian ini dengan menahan tegangan dan defleksi akibat beban mati dan beban hidup.  Kata kunci: Jembatan Bascule, Rangka Batang, Tegangan, Defleksi, Midas Civil.   The earth is facing a big problem of global warming that makes the polar ice melt and increase the water level, also reduce the land area. In overcoming this problem, we need an access that connects land transportation and also sea transportation, moving bridges are a solution to overcome these problems. Moving bridges have many types, one of which is the bascule bridge, the bascule bridge is a moving bridge that moves vertically and horizontallyto provide access to sea and land vehicles. This bascule bridge uses truss which is usually used for railroad lines, but this time the bridge is for wheeled vehicles. The bascule bridge model was created using the Midas Civil program using steel wand truss that moves vertically with angles of 0º, 30º, 45º, 60º. The results of the analysis using the Midas Civil program show that for wheeled vehicle lines, the truss type bascule bridge can be used with the provisions as in this study by holding stress and deflection due to dead load and live load. Keywords: Bascule Brdege, Truss, Stress, Deflection, Midas Civil.  
STUDI MANFAAT DAYA DUKUNG BELLED PILE DAN MULTI-BELLED PILE Kevin Septiadi; Aniek Prihatiningsih
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 3, Nomor 4, November 2020
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v3i4.8394

Abstract

Foundation is a part of a structure which has a function for to resist and distribute the structure load on it to the soil. The greater load of structure resisted by the foundation make the greater uplift capacity needed. In the pile foundation the bearing capacity be affected by skin friction of the pile and end-bearing resistance, therefore one of the alternative for increase bearing capacity of the pile foundation is by use belled pile or multi-belled pile. Belled pile and multi-belled pile was a modification from the bore pile. The concept of belled pile is enlarge the size of  the base pile with purpose to increase end-bearing resistance of the pile. In multi-belled pile enlarge size happen more than once, the enlarge size happen in the hard layer soil so this alternative will be suitable to applied in the soil that have a thin layer hard soil in the middle. In this study will be explained about bearing capacity behavior of the bore pile, belled-pile and multi-belled pile. The bearing capacity and volume of concrete of three type of pile will be compared. So the result of this study  will show how efficient the use of multi-belled pile compared by straight bore pile. Fondasi adalah sebuah bagian dari stukrtur yang berfungsi untuk menahan dan menyalurkan beban bangunan yang ada diatasnya ke tanah. Semakin besar beban bangunan yang ditahan fondasi maka semakin besar pula daya dukung yang dibutuhkan fondasi. Pada fondasi tiang daya dukung fondasi dipengaruhi oleh gesekan selimut tiang dan tahanan ujung tiang sehingga salah satu cara untuk meningkatkan daya dukung fondasi adalah dengan menggunakan belled pile atau multi-belled pile. Belled pile dan multi-belled pile merupakan hasil modifikasi dari fondasi tiang bor. Konsep dari belled-pile sendiri adalah memperbesar ukuran penampang ujung tiang sehingga diharapkan tahanan ujung dari tiang akan meningkat. Pada multi-belled pile perbesaran penampang terjadi lebih dari satu kali yaitu pada lapisan tanah keras sehingga sangat cocok untuk diaplikasikan pada lapisan tanah yang memiliki lapisan keras tipis di bagian tengah. Pada penulisan ini akan dibahas mengenai perilaku daya dukung fondasi tiang bor biasa, belled pile dan multi-belled. Daya dukung dan volume beton yang digunakan dari ketiga jenis tiang tersebut akan dibandingkan. Sehingga hasil studi ini akan menunjukan seberapa efisien pengunaan belled-pile dan multi-belled pile dibandingkan dengan fondasi tiang bor biasa.
STUDI PENGARUH KEMIRINGAN, JARAK, DAN PANJANG SOIL NAILING TERHADAP STABILITAS LERENG Melin Ester Simorangkir; Andryan Suhendra
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 3, Nomor 3, Agustus 2020
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v3i3.8754

Abstract

A landslide happened at a slope in South Sulawesi. The slope has 4 soil layers with a height of 15 m and a slope angle of 69,86°. Stability of the slope needs to be analized with a program based on limit equilibrium to know the value of its safety factor. After being analyzed, the safety factor of the slope is 0,883, which is less than 1,5. It shows that the slope need a soil reinforcement. For this analysis, soil nailing is being used to be the soil reinforcement. With using soil nailing, the stability of the slope needs to be analyzed again with a program based on limit equilibrium . In each analysis, there are some variations. The first analysis is a variety of nail inclination. The second analysis is a variety of nail spacing. The third analysis is a variety of nail length. The result of the safety factor of all analysis is more than minimal, 1,5. Pada suatu lereng di daerah Sulawesi Selatan, terjadi longsor. Lereng yang mengalami longsor tersebut memiliki 4 lapisan tanah dengan ketinggian lerengnya 15 m dan kemiringan lerengnya 69,86°. Stabilitas lereng perlu dianalisis menggunakan sebuah program berbasis metode kesetimbangan batas untuk mengetahui nilai keamanan lereng tersebut. Setelah dianalisis, diketahui nilai keamanan lereng di bawah 1,5, yaitu 0,883. Nilai keamanan lereng tersebut menunjukkan bahwa lereng tersebut membutuhkan sebuah metode perkuatan tanah. Pada analisis ini, metode perkuatan tanah yang digunakan pada lereng adalah soil nailing. Dengan menggunakan soil nailing, dilakukan analisis stabilitas lereng kembali menggunakan program berbasis metode kesetimbangan batas untuk memperoleh angka faktor keamanan lereng. Di setiap analisis menggunakan soil nailing, digunakan beberapa variasi nail. Analisis stabilitas lereng pertama menggunakan variasi kemiringan nail. Analisis stabilitas lereng kedua menggunakan variasi jarak antar nail. Analisis stabilitas lereng ketiga menggunakan variasi panjang nail. Hasil akhir faktor keamanan lereng setelah dilakukan semua analisis adalah lebih dari 1,5.
EFEK MODEL TANAH DENGAN BOUNDARY ELASTIC TERHADAP KAPASITAS LATERAL TIANG Leon Yulio; Hendy Wijaya; Amelia Yuwono
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 3, Nomor 3, Agustus 2020
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v3i3.8596

Abstract

Foundation is the most important part in building construction. Foundation has ability to hold axial force and lateral force. Foundation could be used for any kind of soil, for example like sandy soil and soft soil, etc. One kind of foundation that easy to use in practice is driven pile. Each foundation has its own strength to withstand load that occurs on surrounding soil.  To be able to determine the capacity of the pile on the surrounding soil it is necessary to design a pile in accordance with the design requirements of SNI 8460:2017. The capacity of driven pile is really determined by lateral shear that works on surrounding soil. By giving boundary elastic around sandy soil, can be evaluated how much model of sand soil that should be modeled and determine its effect on the soil and pile. To be able to know that, it is necessary to analyze the numerical model using PLAXIS 3D program. The result obtained by giving a boundary elastic around sandy soil affect the behavior of the soil and piles analysed. Fondasi adalah bagian terpenting dalam konstruksi sebuah bangunan. Fondasi memiliki kemampuan untuk menahan beban gaya aksial dan gaya lateral. Fondasi dapat digunakan dalam berbagai jenis tanah, seperti tanah pasir, tanah lunak, dll. Salah satu jenis fondasi yang mudah untuk digunakan dalam pelaksanaannya adalah tiang pancang. Setiap fondasi memiliki kekuatan masing-masing untuk menahan beban yang terjadi pada tanah disekitarnya. Untuk dapat mengetahui kapasitas tiang pada tanah disekitarnya perlu dilakukan perancangan tiang pancang yang sesuai dengan persyaratan desain SNI 8460:2017. Kapasitas fondasi tiang pancang sangat dipengaruhi dari tegangan lateral yang bekerja pada tanah disekitarnya. Dengan memberikan boundary elastic disekitar tanah pasir dapat dievaluasi seberapa besar model tanah pasir yang harus dimodelkan serta mengetahui pengaruhnya terhadap tanah dan tiang. Untuk dapat mengetahui hal tersebut maka perlu dianalisis dengan model numerik menggunakan program PLAXIS 3D. Hasil yang diperoleh dengan memberikan boundary elastic di sekitar tanah pasir mempengaruhi perilaku tanah dan tiang pancang yang dianalisis.
ANALISIS ALTERNATIF PERBAIKAN TANAH LUNAK DAN SANGAT LUNAK PADA JALAN TOL Christian Eka Putra; Chaidir Anwar Makarim
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 3, Nomor 4, November 2020
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v3i4.8382

Abstract

The existence of soft soil is one of the problems in the field of construction. Soft soil is soil that has high water content and low carrying capacity. In the case of this toll road, soil investigation at the site shows that the subgrade in the toll road planning is soft clay soil to a depth of 32 meters so that soil improvement is needed. High landfill built on soft subgrade without reinforcement will experience landslides. So it is necessary to strengthen the landfill and repair the subgrade to prevent road slides. The soil improvement methods in use are vacuum preloading and Prefabricated Vertical Drain with the vacuum functioning as an additional load. In addition to accelerating the consolidation process, the vacuum can also reduce the height of the embankment needed to achieve the desired planned road elevation. Strengthening with geotextile is also carried out on the landfill with a height of 5.94 meters so that there is no landslide on the fill. Using soil improvement methods such as vacuum preloading and prefabricated vertical drain will increase the bearing capacity of the soil so that differences in bearing capacity occur before and after repair. AbstrakKeberadaan tanah lunak menjadi salah satu masalah dalam bidang konstruksi. Tanah lunak adalah tanah yang memiliki kadar air yang tinggi dan daya dukung yang rendah. Pada kasus jalan tol ini, penyelidikan tanah di lokasi menunjukan bahwa tanah dasar pada perencanaan jalan tol merupakan tanah lempung lunak hingga kedalaman 32 meter sehingga dibutuhkan perbaikan tanah dasar. Timbunan tinggi yang dibangun di atas tanah dasar lunak tanpa perkuatan akan mengalami kelongsoran. Sehingga diperlukan perkuatan timbunan dan perbaikan tanah dasar untuk mencegah kelongsoran jalan. Metode perbaikan tanah yang digunakan adalah vacuum preloading dan Prefabricated Vertical Drain dengan vacuum berfungsi sebagai beban tambahan. Selain mempercepat proses penurunan, vacuum juga dapat mengurangi tinggi timbunan yang dibutuhkan untuk mencapai elevasi jalan rencana yang diinginkan. Perkuatan dengan geotextile juga dilakukan pada timbunan dengan tinggi yang mencapai 5.94 meter supaya tidak terjadi kelongsoran pada timbunan tersebut. Dengan menggunakan metode perbaikan tanah berupa vacuum preloading dan prefabricated vertical drain akan meningkatkan daya dukung tanah sehingga akan diketahui perbedaan daya dukung yang terjadi sebelum dan sesudah diperbaiki.
EVALUASI KINERJA VERTICAL DRAIN PADA PROYEK JALAN TOL DI SUMATERA DITINJAU DARI ASPEK KONSOLIDASI Erika Oktavia; Andryan Suhendra
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 4, Nomor 2, Mei 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.11080

Abstract

Over time, there has been more development, this has made less land for development. However, development still has to go on. One of the infrastructure that is currently needed is toll roads to increase the efficiency of movement from one place to another. One of the serious problems at this time is that many soils have small bearing capacity and large settlement, for example, such as soft soil. In order for this model soil to have a stable condition, the solution is loaded so that the pore water from the soil can be pressed out. However, it takes a long time to achieve the desired settlement, here the prefabricated vertical drain method is used to accelerate the settlement. Prefabricated vertical drain here makes the distance between the pore water that was previously thick as soft soil, to half the distance between prefabricated vertical drains. The analysis calculation in this thesis uses the one dimensional consolidation method, the finite element method, and the asaoka method as the calculation of the actual results from field data. The results of this study found that the difference in the degree of consolidation between the theoretical calculations and the Asaoka method was 3.4303%.
PENGUJIAN TANAH EKSPANSIF DENGAN SKALA MODEL MENGGUNAKAN KAYU DOWEL SEBAGAI PENGGANTI DINDING PENAHAN TANAH Richard Samuel; Alfred Jonathan Susilo
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 3, Nomor 3, Agustus 2020
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v3i3.8749

Abstract

Foundation is one of the most important thing in a construction. The frequently used foundation in construction is pile foundation. In Indonesia  the used of pile is adapt by the condition and quality of the soil. Indonesia had many types of soil, and one of them is expansive soil. Expansive soil is a type of clay that had a swelling and shrinkage potential where the swelling happen when the water content is increase and shrink when the water content decreased. One of the mineral that can cause swelling is montmorillonite mineral in expansive soil. The chemical chain between particles that influenced by the increase of water content is causing montmorillonite mineral to swell. The focus of this research is lateral movement that happened to pile as an effect of the swelling properties in expansive soil. This analysis will also inform the effectiveness on using different size and number of pile in expansive soil. Fondasi merupakan salah satu bagian terpenting dalam suatu konstruksi. Salah satunya yang sering digunakan pada proses pelaksanaan konstruksi adalah fondasi tiang pancang. Di Indonesia sendiri penggunaan fondasi tiang pancang disesuaikan dengan kondisi dan kualitas dari tanah yang ada. Indonesia memiliki berbagai macam tipe dan jenis tanah yang berbeda, salah satunya adalah tanah ekspansif. Tanah ekspansif merupakan jenis lempung yang memiliki daya pengembangan dan penyusutan dimana pengembangan tersebut terjadi jika adanya penambahan kadar air dan menyusut ketika terjadi pengurangan kadar air. Salah satu yang dapat menjadi penyebab terjadinya pengembangan adalah kandungan mineral montmorillonite yang terdapat pada tanah ekspansif. Ikatan kimia antar partikel yang dipengaruhi oleh adanya peningkatan kadar air tanah menyebabkan mineral montmorillonite pada tanah ekspansif tersebut akan mengembang. Analisis yang dilakukan akan berfokus pada pergeseran lateral yang terjadi pada  tiang pancang sebagai akibat dari dampak pengembangan yang terjadi pada tanah ekspansif. Analisis ini juga menghasilkan efektivitas pada penggunaan ukuran dan jumlah tiang pancang ditanah ekspansif.