cover
Contact Name
Widodo Kushartomo
Contact Email
widodokushartomo@gmail.com
Phone
+628176869150
Journal Mail Official
jmts@untar.ac.id
Editorial Address
Jl. Letjen S. Parman No. 1, Jakarta 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil
ISSN : -     EISSN : 2622545X     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/jmts
Core Subject : Engineering,
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil dikelola oleh Program Studi Sarjana Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara. JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil merupakan media publikasi hasil penelitian dan studi ilmiah dalam bidang Teknik Sipil yang diterbitkan 4 kali dalam setahun, yaitu pada bulan Februari, Mei, Agustus, dan November. Jurnal ini terbit pertama kali pada 1 Agustus 2018.
Articles 861 Documents
METODE PERBAIKAN TANAH DENGAN PREFABRICATED VERTICAL DRAIN (PVD) PADA JALAN TOL SERPONG-BALARAJA SEKSI 1B Shendy; Gregorius Sandjaja
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 6, Nomor 2, Mei 2023
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v6i2.21695

Abstract

On the Serpong-Balaraja Toll Road Section 1B there are soft slopes on some of these roads. This soft material has the potential to damage construction due to its high compressibility and low bearing capacity. An alternative soil improvement that will be carried out to overcome this soft soil is to use a Prefabricated Vertical Drain (PVD) to accelerate the settlement that will occur. This PVD can accelerate settlement by shortening the flow of water to the surface. The soft soil considered in this project is located at a depth of 8 m for zone 1 and 10 m for zone 2. The calculation results obtained in zone 1 when loaded by a 2,694 m high embankment is 88,6724 mm and for zone 2 with an embankment load as high as 5.385 m is 162,3204 mm. The PVD method will be installed using a triangular pattern with a distance of 1,25 m which can produce a 90% degree of consolidation within 25 weeks or 181 days taking into account the consolidation time with the PVD in accordance with existing monitoring. Abstrak Pada Jalan Tol Serpong-Balaraja Seksi 1B terdapat tanah lunak pada sebagian jalan tersebut. Tanak lunak ini memiliki potensi untuk merusak konstruksi dikarenakan kompresibilitas tinggi dan daya dukung rendah. Alternatif perbaikan tanah yang akan dilakukan untuk mengatasi tanah lunak ini adalah dengan menggunakan prefabricated vertical drain (PVD) untuk mempercepat penurunan yang akan terjadi. PVD ini dapat mempercepat penurunan dengan memperpendek aliran air ke permukaan. Tanah lunak yang ditinjau pada proyek ini terletak pada kedalaman 8 m untuk zona 1 dan 10 m untuk zona 2. Hasil perhitungan yang didapatkan pada zona 1 apabila dibebani oleh timbunan setinggi 2,694 m adalah sebesar 88,6724 mm dan untuk zona 2 dengan beban timbunan setinggi 5,385 m adalah sebesar 162,3204 mm. Metode PVD yang akan dipasang menggunakan pola segitiga berjarak 1,25 m yang dapat menghasilkan derajat konsolidasi 90% dalam waktu 25 minggu atau 181 hari dengan memperhatikan waktu konsolidasi dengan PVD sesuai dengan monitoring yang ada.
ANALISIS JUMLAH CARBON FOOTPRINT SEMEN PADA PEKERJAAN PLESTER DINDING PROYEK RUMAH TINGGAL Marcell Marcell; Basuki Anondho
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 6, Nomor 2, Mei 2023
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v6i2.21884

Abstract

In the world of construction, Occupational Health, Safety and Environment (OHS) is very important to do, and in OHS it is not only the occupational health and safety of construction workers that comes first. Environmental health also needs to be considered. One of the environmental pollution that occurs in construction is the carbon footprint. Carbon footprint is greenhouse gas emissions obtained from the calculation of carbon dioxide (CO2) emissions. The ongoing carbon footprint is causing global warming to hit the earth. The process of making cement to managing cement into residential wall plaster, causing carbon footprint. Carbon footprint is reviewed from the cement manufacturing process, cement transportation process, to the management process into residential cement wall plaster. The purpose of this study is to be able to calculate the amount of carbon dioxide (CO2) gas on the plastering of the walls of a residential house. There are differences and deviations in the thickness of the plastering of the walls of each house, therefore the analysis will compare the results of the differences in the thickness of the wall plaster. From the results of the analysis conducted on 5 different houses located in Sunter, North Jakarta, there were only 2 houses that met the threshold value standard of 5.000 ppm or 0,005 Tons / m3. The average emission result for 5 residential projects if the difference in cement wall plaster thickness is not taken into account is 0,005242 Tons / m3, while in reality on the ground it is 0,005381 Tons / m3. Abstrak Dalam dunia konstruksi Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L) sangat penting untuk dilakukan, dan dalam K3L bukan hanya kesehatan dan keselamatan kerja para pekerja konstruksi saja yang diutamakan. Kesehatan lingkungan juga perlu untuk diperhatikan. Pencemaran lingkungan yang terjadi dalam konstruksi salah satunya adalah carbon footprint. Carbon footprint merupakan emisi gas rumah kaca yang didapatkan dari perhitungan emisi gas karbon dioksida (CO2). Carbon footprint yang sedang berlangsung menyebabkan pemanasan global yang melanda bumi. Proses pembuatan semen sampai dengan pengelolaan semen menjadi plesteran rumah tinggal, menimbulkan carbon footprint. Carbon footprint ditinjau dari proses pembuatan semen, proses transportasi semen, sampai dengan proses pengelolaan menjadi plesteran rumah tinggal. Tujuan dalam penelitian ini untuk dapat menghitung jumlah gas karbon dioksida (CO2) pada plesteran dinding rumah tinggal. Terdapat adanya perbedaan dan penyimpangan ketebalan plesteran dinding dari tiap masing-masing rumah, oleh karena itu analisis akan membandingkan hasil akibat dari adanya perbedaan dari ketebalan plesteran. Dari hasil analisis yang dilakukan terhadap 5 rumah yang berbeda yang terletak di Sunter Jakarta Utara, hanya terdapat 2 rumah yang memenuhi standar nilai ambang batas sebesar 5.000 ppm atau 0,005 Ton/m3. Hasil rata-rata emisi untuk 5 proyek rumah tinggal jika perbedaan tebal plesteran tidak diperhitungkan adalah sebesar 0,005242 Ton/m3, sedangkan pada kenyataan di lapangan adalah sebesar 0,005381 Ton/m3.
ANALISIS BANGUNAN BERUNDAK DENGAN KETINGGIAN 4, 8, 12, 16, 20, DAN 24 LANTAI PADA TIANG UJUNG Kevin Anderson; Alfred Jonathan Susilo
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 6, Nomor 2, Mei 2023
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v6i2.21892

Abstract

Different elevation buildings require more careful foundation design than other structures. Because the different elevation buildings have different heights, so the placement of the foundation depths is also different. The load data to be used varies according to the height of the building to be analyzed. Starting from a four-story building to twenty-four floors. Each floor has a height of three meters. The foundation analyzed by using end bearing piles. The soil data is from Central Jakarta. The foundation will be analyzed under the following condition. The foundation will be placed at the same depth which is on end bearing and uses different pile diameters. In this study, the bearing capacity and soil settlement analysis was carried out using end bearing piles on the conditions described before. The result of this research will provide information about bearing capacity and settlement that occurs on different elevation building if the foundation uses an end bearing piles. This research concluded that the end bearing pile foundation can be used in all buildings even though they have different elevations in the building. The results of bearing capacity can support the load of the building and the settlement that occurs is relatively small throughout the building. Abstrak Bangunan berundak memerlukan perancangan fondasi yang lebih teliti daripada struktur lain. Karena bangunan berundak memiliki ketinggian yang berbeda-beda sehingga penempatan kedalaman fondasi juga berbeda-beda. Data beban yang akan digunakan bervariasi sesuai dengan ketinggian bangunan yang akan dianalisis. Mulai dari bangunan empat lantai hingga dua puluh empat lantai. Setiap lantainya memiliki ketinggian sebesar tiga meter. Fondasi yang dianalisa menggunakan fondasi tiang ujung. Data tanah berasal dari Jakarta Pusat. Fondasi akan dianalisis dengan kondisi berikut. Fondasi akan diletakkan pada kedalaman yang sama yaitu di tanah keras dengan dimensi diameter yang berbeda. Dalam penelitian ini dilakukan analisa daya dukung dan penurunan tanah menggunakan tiang ujung untuk mengetahui hasil daya dukung dan penurunan tanah pada kondisi yang telah dijelaskan. Hasil dari penelitian ini memberikan informasi mengenai daya dukung dan penurunan tanah yang terjadi pada bangunan berundak jika fondasi menggunakan fondasi tiang ujung. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa fondasi tiang ujung dapat digunakan pada seluruh bangunan meskipun memiliki perbedaan elevasi pada bangunannya. Daya dukung yang dihasilkan dapat menopang beban bangunan dan penurunan tanah yang terjadi relatif kecil pada seluruh bangunan.
ANALISIS EFISIENSI TIANG UJUNG PADA FONDASI TIANG BOR DI PROYEK GADING SERPONG Nathania Olivia Fernanda; Alfred Jonathan Susilo
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 6, Nomor 2, Mei 2023
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v6i2.21904

Abstract

The foundation is a building structure that is below ground level to support the load above it. So the foundation selection must be adjusted to the load used and the carrying capacity of the soil that can withstand the foundation used. This is because the selection is adjusted to the carrying capacity with conditions on the soil in the field. There will be two types in the selection of foundation poles end bearing piles and friction piles.  The pole used is a drill pole because it is quite easy to adjust the diameter and depth to be used.  Research in this journal will analyze the foundation of the drill pile using an end bearing pile, which is a foundation pole occupied on hard ground, and minimize There will be the decrease in the foundation.  The purpose of analyzing this foundation pile is to find out which end foundation pole is more efficient to use based on the calculation of bearing capacity, settlement, and work cost factors foundation pole.  In the study's results, an efficient and optimum pole was used based on calculations of an end bearing pile with a diameter of 60 cm and a depth of 48 m. Abstrak Fondasi merupakan struktur bangunan yang berada dibawah permukaan tanah untuk menumpu beban yang berada diatasnya. Sehingga dalam pemilihan suatu fondasi harus disesuaikan dengan beban yang digunakan serta daya dukung tanah yang mampu menahan fondasi yang digunakan. Hal ini dikarenakan pemilihan disesuaikan kapasitas daya dukung dengan kondisi pada tanah yang berada di lapangan. Dalam pemilihan tiang fondasi yang akan terdapat dua tipe yaitu tiang ujung (end bearing pile) dan tiang gesek (friction pile). Tiang yang digunakan merupakan tiang bor dikarenakan cukup mudah untuk mengatur diameter serta kedalaman yang akan digunakan. Dalam penelitian pada jurnal ini akan menganalisis fondasi tiang bor menggunakan tiang ujung (end bearing pile) merupakan tiang fondasi yang diduduki pada tanah keras dan meminimalisir akan terjadi penurunan pada fondasi. Tujuan menganalisis tiang fondasi ini untuk mengetahui tiang fondasi ujung yang lebih efisien untuk digunakan berdasarkan perhitungan daya dukung, penurunan, serta faktor biaya pengerjaan tiang fondasi. Dalam hasil penelitian didapat tiang yang efisien dan optimum digunakan berdasakan perhitungan yaitu tiang ujung dengan diameter 60 cm kedalaman 48 m.
ANALISIS PENURUNAN JALAN DI ATAS TANAH GAMBUT TANPA PERBAIKAN DI PEKANBARU Jonathan Wansons Khohara; Aniek Prihatiningsih
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 6, Nomor 2, Mei 2023
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v6i2.21919

Abstract

Indonesia is one of the countries that has the largest area of peat soil. Construction on peat soil may cause problems to the structure due to poor physical properties of peat soil such as having low bearing capacity, which usually soil improvement methods are used to solve this issue, however this requires additional cost during construction. There have been several cases where roads build on peat experience damages like the occurrence of settlement that results in road surface subsidence making the road uneven. This research will conduct a study in peat soil without soil improvement where the peatland will be used as a location for road construction, which the bearing capacity, settlement and time required for settlement to take place is predicted as well as the risks of not using soil improvements on peat. The analysis will be conducted in a condition where in the pavement will be placed right above the elevation of 0,0 m, and the pavement as well as vehicle will be considered as a load. The largest bearing capacity is 200,8648 kN/m2. The total settlement is 58,9 cm, whereas the time needed for primary consolidation to take place is 22,6997 years. Abstrak Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki luas lahan gambut terbesar di dunia. Pembangunan pada tanah gambut dapat menimbulkan beberapa masalah kepada konstruksi yang disebabkan oleh sifat fisik tanah gambut yang kurang bagus seperti memiliki daya dukung yang rendah, sehingga biasanya perlu dilakukan perkuatan tanah dan dibutuhkan biaya tambahan dalam konstruksi. Dalam penelitian ini akan dilakukan penelitian terhadap tanah gambut yang tidak diperbaiki atau diperkuat dimana tanah tersebut akan digunakan sebagai lokasi konstruksi jalan, yang akan dilakukan prediksi besar daya dukung, serta besar dan lama penurunan yang terjadi pada tanah tersebut serta risiko apa saja yang terdapat. Analisis pada penelitian ini dilakukan dalam kondisi dimana lapisan perkerasan jalan terletak tepat di atas elevasi 0,0 m dimana lapisan perkerasan dan kendaraan akan dianggap sebagai beban. Daya dukung terbesar yang diperoleh adalah 200,8648 kN/m2. Penurunan total yang terjadi adalah 58,9 cm, serta jumlah lama penurunan konsolidasi primer adalah 22,6997 tahun.
DAMPAK CHANGE ORDER PROYEK KONSTRUKSI BANGUNAN GEDUNG BERTINGKAT SEDANG Kevin Daniel Lakaoni; Mega Waty
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 6, Nomor 2, Mei 2023
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v6i2.21974

Abstract

The construction of medium-rise building construction projects in Indonesia is increasing and spreading throughout the region. In general, construction projects often experience changes in their implementation. Such changes can occur at the suggestion of the owner, contractor or consultant. Changes to a project in its execution are often known as change order. Change orders are brought on by a variety of things, including insufficient equipment, changing the scope of the job, altering the plan drawings, and variations between the field conditions and the drawing design. It's important to understand the effects of change orders in order to decrease their frequency. This study's objective is to ascertain the impact of change orders on medium-rise building construction projects. To that end, it has been broken down into a number of different variables, including cost, quality, time, organization, and others, and then put together into a questionnaire. There were 30 people that responded to the survey that was given out. The Partial Least Squares approach was used to do the analysis (Smart PLS 4.0 software). Change orders were shown to significantly affect cost and other factors in medium-rise buildings. Abstrak Pembangunan proyek konstruksi gedung bertingkat di Indonesia semakin bertambah banyak dan tersebar luas ke seluruh daerah. Pada umumnya proyek konstruksi sering mengalami perubahan dalam pelaksanaannya. Perubahan tersebut dapat terjadi atas ajuan dari pemilik, kontraktor ataupun konsultan dan harus disetujui oleh semua pihak. Perubahan pada proyek dalam pelaksanaannya sering dikenal sebagai change order. Change order disebabkan oleh beberapa faktor seperti perbedaan kondisi lapangan dengan gambar desain, perubahan lingkup pekerjaan, perubahan gambar rencana, peralatan yang tidak memadai dan lain-lain. Untuk mengurangi terjadinya change order maka perlu untuk mengetahui dampak dari change order. Change order memiliki dampak yang berbeda-beda pada setiap proyek. Riset ini bertujuan untuk mengenali dampak atau akibat change order pada proyek konstruksi bangunan gedung bertingkat sedang. Dampak change order dipecah dalam lima kategori yaitu biaya, mutu, waktu, organisasi serta lainnya kemudian disusun menjadi suatu kuesioner. Penyebaran kuesioner dilakukan dengan jumlah 30 responden. Dari hasil penyebaran kuesioner tersebut maka dilakukan pengolahan data menggunakan metode Partial Least Square (aplikasi Smart PLS). Setelah dilakukan analisis diperoleh bahwa change order berdampak signifikan terhadap variabel biaya dan lainnya pada proyek konstruksi bangunan gedung bertingkat sedang dengan nilai path coefficient sebesar 0,669 atau 66,9% untuk biaya dan 0,437 atau 43,7% untuk lainnya.
PENGARUH LINGKUNGAN KERJA, PELAKSANAAN K3, DAN TENAGA KERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA Vincentsius Wijaya; Mega Waty
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 6, Nomor 2, Mei 2023
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v6i2.21975

Abstract

Human resources play a significant role in an industry. In the implementation of the construction process or the process of building high-rise buildings, safety and health in construction work (K3), sufficient work areas, and a trained workforce are prioritized. So that workers can feel comfortable and safe in carrying out any construction work. With the existence of quality human resources so that it can affect the labor productivity of an industry. K3 is one of the significant aspects that can affect labor productivity. A messy or unconducive work area greatly affects the performance of workers. Labor is needed in every job done. If the selected workforce is not trained or does not meet the job criteria, it can affect labor productivity. This research was carried out by distributing questionnaires to construction workers with the aim of examining the influence exerted on the dependent variable by means of information processing using Partial Least Square (PLS) where several tests were carried out to find out what influences could have an impact on labor productivity. After analysis, it was found that the work area and labor variables had an effect on labor productivity. Abstrak Sumber daya manusia memegang peranan berarti dalam suatu industri. Dalam penerapan proses konstruksi atau proses pembangunan gedung gedung tinggi sangat diutamakan keselamatan serta kesehatan kerja konstruksi( K3), area kerja yang mencukupi, dan tenaga kerja yang telah terlatih. Sehingga para pekerja bisa merasa nyaman serta aman dalam melaksanakan sesuatu pekerjaan konstruksi. Dengan terdapatnya sumber daya manusia yang bermutu sehingga dapat mempengaruhi produktivitas tenaga kerja suatu industri. K3 ialah salah satu aspek berarti yang dapat mempengaruhi produktivitas tenaga kerja. Area kerja yang berantakan ataupun tidak kondusif sangat mempengaruhi kinerja para pekerja. Tenaga kerja sangat diperlukan dalam setiap pekerjaan yang dilakukan. Bila tenaga kerja yang diseleksi tidak terlatih ataupun tidak penuhi kriteria pekerjaan, maka dapat mempengaruhi produktivitas tenaga kerja. Riset ini dilakukan dengan menyebarkan kuisioner kepada para pelaku konstruksi yang bertujuan untuk meneliti pengaruh yang diberikan terhadap variabel terikat dengan tata cara pengolahan informasi memakai Partial Least Square (PLS) dimana dilakukan beberapa uji untuk dapat mengetahui pengaruh apa saja yang dapat berakibat pada produktivitas tenaga kerja. Setelah dilakukan analisis diperoleh bahwa variabel area kerja dan tenaga kerja berpengaruh terhadap produktivitas tenaga kerja.
PEMODELAN PARAMETER VIBRATION MONITORING TEST BERDASARKAN HASIL ITERASI NILAI RASIO REDAMAN (ξ) Veronica Chandra; Aniek Prihatiningsih; Ali Iskandar
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 6, Nomor 2, Mei 2023
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v6i2.21991

Abstract

The driven pile foundation is a foundation structure that not only withstands static loads but also dynamic loads due to vibrations generated during the pile driving process. It’s not impossible that the vibrations can cause damage to both the foundation structure itself and the surrounding building structures. Therefore, in this study dynamic soil modeling was carried out based on the dynamic parameters from the finite element back analysis of the Vibration Monitoring Test (VMT) which was measured using a geophone placed at a distance of 80 m from the vibration source originating from the foundation pile driving activity. The VMT parameter that was used was acceleration ay = 0,025 m/s2. The VMT parameter is modeled using a 2D finite element application and the dynamic parameter is obtained in the form of a damping ratio of 0,22 % with a percentage difference of 0,66 %. From the dynamic parameters that have been obtained, further research can be made by modeling the structure of the dynamic soil and analyzing the damage it causes. Abstrak Fondasi tiang pancang merupakan struktur fondasi yang tidak hanya menahan beban statis melainkan juga beban dinamik akibat getaran yang ditimbulkan ketika proses pemancangan tiang. Bukan hal yang tidak mungkin getaran tersebut dapat menyebabkan kerusakkan baik pada struktur fondasi itu sendiri maupun bagi struktur bangunan yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu, pada penelitian ini dilakukan pemodelan tanah dinamik berdasarkan parameter dinamik dari back analysis finite element Vibration Monitoring Test (VMT) yang diukur menggunakan alat geophone yang diletakkan pada titik dan jarak 80 m dari sumber getaran yang berasal dari aktivitas pemancangan tiang fondasi dengan parameter VMT yang digunakan adalah percepatan ay = 0,025 m/s2. Parameter VMT tersebut dimodelkan menggunakan aplikasi elemen hingga 2D dan diperoleh parameter dinamik berupa rasio redaman sebesar 0,22 % dengan persentase perbedaan sebesar 0,66 %. Dari parameter dinamik yang telah diperoleh, dapat dibuat penelitian lanjutan dengan memodelkan struktur pada tanah dinamik tersebut dan dianalisis dampak kerusakan yang ditimbulkannya.
ANALISIS DAYA DUKUNG DAN EFISIENSI TIANG PADA TANAH PASIR PADAT DAN PASIR LEPAS DENGAN KONFIGURASI TIANG 4, 9, 16 Christopher Benjiro; Alfred Jonathan Susilo
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 6, Nomor 2, Mei 2023
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v6i2.22003

Abstract

The bigger the building, the more piles on the group pile foundation to support the external load that will work on the group pile foundation. If the distance between the piles in the pile group foundation is too large, the piles may not work as a unit. Meanwhile, if the distance between the piles in the group pile foundation is getting smaller, there will be pressure bulbs or stresses that experience overlap so that the bearing capacity is not maximum. So the purpose of writing this journal is to determine the most effective distance between piles on loose sand and dense sand, as well as with various types of piles such as drilled piles and piles. From the results of this study, the carrying capacity and efficiency values ​​for sandy soils were obtained, the carrying capacity values ​​for sandy soils were greater than loose sand, and the efficiency values ​​for dense sand were greater than the efficiency values ​​for loose sandy soils. On sandy soils, the efficiency of the piles is greater than that of the drilled piles. On sandy soils, the effective spacing of the piles is 4-5 times the pile diameter. Abstrak Semakin besar banguan maka jumlah tiang pada fondasi tiang kelompok akan semakin banyak untuk mendukung beban luar yang akan bekerja diatas fondasi tiang kelompok tersebut. Jika jarak antara tiang dalam fondasi tiang kelompok terlalu tiang belum tentu bisa bekerja sebagai satu kesatuan. Sedangkan jika jarak tiang dalam fondasi tiang kelompok semakin kecil maka akan ada pressure bulbs atau tegangan yang mengalami overlap sehingga daya dukung tidak maksmial. Sehingga tujuan dari penulisan jurnal ini ada untuk menentukan berapa nilai jarak antara tiang yang paling efektif pada tanah pasir lepas dan pasir padat, serta dengan berbagai jenis tiang seperti tiang bor dan tiang pancang sehinnga fondasi tiang kelompok dapat mendukung bebannya dengan baik. Dari hasil penelitian ini didapat nilai daya dukung dan efisiensi pada tanah pasir,nilai daya dukung pada tanah pasir pada lebih besar dari pada pasir lepas,  nilai efisiensi pada pasir padat lebih besar dari pada nilai efisiensi pada tanah pasir lepas. Pada tanah pasir nilai efisiensi tiang pancang lebih besar dari pada efisiensi tiang bor. Pada tanah pasir jarak tiang yang efektif 4-5 kali diameter tiang.
ANALISIS VALUE ENGINEERING PADA PROYEK PERUMAHAN X DI TANGERANG SELATAN Robert chandra; Arianti Sutandi; Basuki Anondho
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 6, Nomor 2, Mei 2023
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v6i2.22080

Abstract

The cost of building a construction project is very important and requires good control so that the project can run according to plan. The research was conducted in one of the residential housing projects located in South Tangerang, the cost for architectural work is greater than other costs, for that an engineering value assessment was carried out to find out the cost savings of architectural work in project x, by identifying which work tends to incur high costs through the phase information, construction phase, analysis phase, development phase and recommendation phase, and using paired comparison and decision matrix methods. Furthermore, the determining factors are sought to be used as a substitute for the design. The cost of working on a red brick wall for a 7x10 type house is Rp. 2,468,993,947.28, after doing value engineering with alternative 1 (replacing red brick walls with bricks) a cost of Rp. 2,048,059,320.60 savings of Rp. 420,934,626.68 (17.04% of the total cost of wall work) and for a 7×12 type house a savings of Rp. 643,039,928.39 (17.60% of the total wall work cost). AbstrakBiaya pembangunan proyek konstruksi sangat penting dan memerlukan kontrol yang baik agar proyek dapat berjalan sesuai rencana. Penelitian dilakukan di salah satu proyek perumahan residensial yang terletak di Tangerang Selatan, biaya untuk pekerjaan arsitektural lebih besar dari biaya lainnya, untuk itu dilakukan penilaian value engineering untuk mengetahui penghematan biaya pekerjaan arsitektural di proyek x, dengan mengidentifikasi pekerjaan mana yang cenderung mengeluarkan biaya tinggi melalui fase informasi, fase konstruksi, fase analisis, fase pengembangan dan fase rekomendasi, dan menggunakan metode paired comparison dan decision matrix. Selanjutnya dicari faktor penentu untuk digunakan sebagai pengganti desain. Pengeluaran biaya pekerjaan dinding bata merah untuk rumah tipe 7×10 adalah sebesar Rp. 2.468.993.947,28, setelah dilakukan value engineering dengan alternatif 1 (mengganti dinding bata merah dengan dinding batako) didapatkan biaya sebesar Rp. 2.048.059.320,60 didapatkan penghematan Rp. 420.934.626,68 (17.04% dari total biaya pekerjaan dinding) dan untuk rumah tipe 7×12 didapatkan penghematan sebesar Rp. 643.039.928,39 (17.60% dari total biaya pekerjaan dinding).