cover
Contact Name
Fitriani
Contact Email
fitrianihuni@uho.ac.id
Phone
+6285298243005
Journal Mail Official
jurnal_jagat@uho.ac.id
Editorial Address
Jurusan Geografi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Jl. H.E.A. Mokodompit, Kampus Hijau Bumi Tridharma, Universitas Halu Oleo
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi)
Published by Universitas Halu Oleo
ISSN : 25499181     EISSN : 26846705     DOI : -
JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi) merupakan majalah Ilmiyah yang membaha teori dan praktik geografi serta kajian geografi fisik, pengindraan jauh, perencanaan dan pengembangan wilayah yang relevan dengan Negara Indonesia. Terbit pertama kali tahun 2017. Frekuensi terbit sebanyak dua kali dalam setahun, yang diterbirkan oleh Jurusan Geografi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Universitas Halu Oleo
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 116 Documents
Prediksi Perubahan Lahan Terbangun Dengan OBIA LCM Pada Citra Terfusi di Kota Kendari El-Mi’Raj, Adnan Maulana; Saleh, Fitra; Salihin, L.M Iradat
JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi) Vol 5, No 2 (2021): JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jagat.v5i2.21621

Abstract

Abstrak: Penggunaan lahan disetiap tahunnya akan mengalami perubahan. Perkembangan tersebut bisa jadi tidak terkendali, sehingga perencanaan prediksi perubahan lahan penting untuk dikaji. Dalam memprediksi dapat dilakukan dengan menggunakan citra, khususnya citra Landsat. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) distribusi penggunaan lahan terbangun di Kota Kendari pada tahun 2014 dan 2019 dengan metode OBIA pada citra terfusi; (2) melihat arah perubahan penggunaan lahan terbangun di Kota Kendari pada tahun 2024 dan 2029 dengan metode Land Change Modeler (LCM). Metode yang digunakan dalam penelitian ini  yaitu metode klasifikasi penggunaan lahan berbasis piksel OBIA dan pemodelan prediksi perubahan penggunaan lahan Land Change Modeler (LCM). Hasil penelitian ini antara lain: (1) luas lahan terbangun pada tahun 2014 di Kota Kendari seluas 6.061,85 hektar dan luas penggunaan lahan terbangun di Kota Kendari pada tahun 2019 seluas 6.716,96 hektar dengan perubahan penggunaan lahan terbangun tahun 2014 sampai dengan tahun 2019 dengan pertambahan luas 2,43%; (2) Arah perubahan penggunaan lahan terbangun di Kota Kendari diprediksikan cenderung berkembang ke arah Kecamatan Baruga karena dipengaruhi oleh dua faktor yaitu kemiringan lereng dan jaringan jalan. Kata Kunci : Penggunaan Lahan, Landsat 8 OLI, Penajaman Citra, OBIA, LCM Abstract: Land use will change every year. The development may be uncontrollable, so predictive planning of land changes is important to review. In predicting  can be done using  imagery, especially Landsat imagery. This study aims to:(1)  the distribution of land  use  built  in Kendari City in 2014 and 2019 with OBIA method on diffusion imagery; (2) see the direction of land use changes built in Kendari City in  2024 and 2029 with land change modeler  (LCM) method. The methods used in this study are OBIA pixel-based land  use  classification method and land use change prediction modeling land change modeler (LCM).  The results of this study include: (1) land area  built in 2014 in Kendari City aswide as 6,061.85 hectars and land use area built in Kendari City in 2019 aswide as 6,716.96 hectars with land use changes built in 2014 to 2019 with an increase  of  2.43%; (2) The direction of land use changes built in Kendari City  is predicted   to tend to  develop  towards  Baruga Subdistrict because it is influenced by two factors, namely slope and road network. Keywords: Land Use,  Landsat 8 OLI,  Image Sharpening,  OBIA, LCM
Kajian Risiko Bencana Berbasis Masyarakat Kasus: Gelombang Ekstrim dan Abrasi Pantai Desa Lowu-Lowu Kabupaten Buton Tengah Jamhir Safani
JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi) Vol 6, No 2 (2022): JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi)
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jagat.v6i2.28423

Abstract

Abstrak: Gelombang ekstrim dan abrasi pantai sebagai salah satu bencana hidrometeorologi yang meningkat kejadiannya di seluruh dunia. Berdasarkan informasi yang ada, kawasan pantai Desa Lowu-Lowu Kabupaten Buton Tengah, merupakan kawasan yang sangat rentan terhadap bahaya gelombang ekstrim dan abrasi pantai. Oleh karena itu kajian risiko bencana yang melibatkan partisipasi masyarakat merupakan hal yang urgen untuk dilakukan sebagai bagian dari rangkaian upaya pengurangan risiko bencana. Kegiatan ini bertujuan agar masyarakat Desa Lowu-Lowu secara partisipatif dapat menentukan tingkat risiko terhadap bahaya gelombang ekstrim dan abrasi pantai berdasarkan atas penilaian terhadap komponen-komponen bahaya, kerentanan, dan kapasitas. Metode yang digunakan adalah diskusi kelompok terarah dimana masyarakat dan para-pihak yang hadir secara partisipatif mengidentifikasi dan menilai tingkat ancaman bencana yang terjadi di wilayahnya, komponen-komponen yang rentan terhadap bahaya, dan komponen-komponen kapasitas yang dimiliki untuk menghadapi bahaya berdasarkan pada kriteria-kriteria akademik yang disepakati. Hasil-hasil penilaian tersebut selanjutnya dibuat dalam bentuk peta tematik ancaman dan risiko. Hasil analisis menunjukkan bahwa risiko terhadap bahaya gelombang ekstrim dan abrasi pantai Desa Lowu-Lowu dikelompokkan dalam dua kategori yaitu risiko tinggi dan rendah. Risiko tinggi berada di Dusun La Oda pada area jatuhan blok batuan di Pantai Wisata Singku sampai ke arah timur Dusun Lowu-Lowu yang menghadap ke arah utara. Risiko tinggi tersebut disebabkan oleh periode ancaman bencana yang berulang setiap tahun, banyaknya kelompok rentan yang bermukim di wialayah pantai yang terancam, dan rendahnya kapasitas masyarakat menghadapi bahaya gelombang ekstrim dan abrasi.Kata kunci: risiko bencana, berbasis-masyarakat, gelombang ekstrim dan abrasi pantai, Desa Lowu-Lowu. Abstract: Extreme waves and coastal abrasion are one of the hydrometeorological disasters that are increasing in incidence throughout the world. Based on available information, the coastal area of Lowu-Lowu Village, Central Buton Regency, is an area that is very vulnerable to the hazards of extreme waves and coastal abrasion. Therefore, a disaster risk assessment involving community participation is an urgent matter to be carried out as part of a series of disaster risk reduction efforts. This study aims to enable the people of Lowu-Lowu Village in a participatory manner to determine the level of risk of extreme waves and coastal abrasion based on an assessment of the components of hazard, vulnerability, and capacity. The method used is a focus group discussion in which the community and the parties present jointly identify and assess the level of disaster, vulnerability components, and capacity components. The assessments were carried out based on agreed academic criteria. The results of the assessment are then expressed in threat and risk thematic maps. The results of the analysis show that the risks of extreme waves and coastal abrasion in Lowu-Lowu Village are grouped into two categories, namely high and low risk. The high risk is in the La Oda sub-village nearby the rock block fall area from Singku Tourism Beach to the east of the Lowu-Lowu sub-village. The high risk is caused by the following reasons, which are the period of repeated disaster threats every year, the large number of vulnerable groups living in threatened coastal areas, and the low capacity of the community to face the threats of extreme waves and abrasion.Keywords:  disaster risk, community-based, extreme wave and coastal abrasion, Lowu-Lowu Village.
KAJIAN PERSEBARAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN PARIWISATA DI KECAMATAN BATAUGA KABUPATEN BUTON SELATAN La Ode Andi Gusman; Sawaluddin Sawaluddin; Anita Indriasary; Alfirman Alfirman; Ida Usman
JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi) Vol 6, No 2 (2022): JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi)
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jagat.v6i2.28315

Abstract

Abstrak: Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata yang didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, dan pemerintah. Penelitian ini bertujuan  untuk : (1) mendapatkan informasi persebaran objek wisata yang ada di Kecamatan Batauga Kabupaten Buton Selatan; (2) mengetahui kondisi objek wisata di Kecamatan Batauga Kabupaten Buton Selatan, dan (3) mengetahui strategi pengembangan pariwisata di Kecamatan Batauga Kabupaten Buton Selatan.  Metode analisis yang digunakan  pada penelitian ini adalah analisis pemetaan, analisis deskriptif, dan analisis SWOT. Hasil dari penelitian ini antara lain: (1) Kecamatan Batauga memiliki 8 objek wisata yang tersebar di 7 desa/kelurahan yaitu Lawela Selatan, Busoa, Laompo, Masiri, Majapahit, Bola dan Poogalampa; (2) Kondisi dan strategi pengembagan objek wisata di Kecamatan Batauga dijelaskan melalui salah satu objek wisata yaitu wisata permandian Kabura-burana: memiliki sarana prsarana seperti gazebo, masjid, kamarganti, dan warung. (3) Strategi pengembangan permandian Kabura-burana untuk strategi S-O adalah strategi pengembangan sebagai kawasan wisata alam, strategi pengembangan sumber air bersih, strategi pengembangan atraksi budaya. Strategi pengembangan untuk strategi W-O adalah strategi pengembangan sarana dan prasarana, dan strategi S-T adalah strategi pemanfaatan sumber daya alam, serta strategi W-T adalah strategi pengembangan pelestarian vegetasi. Kata Kunci: Kata kunci:Persebaran, kondisi, strategi pengembanganobjek wisata, BataugaAbstract: Tourism is a variety of tourism activities that is supported by various facilities and services provided by the community, businessmen, and government. This research aims to: (1) obtain information on the distribution of tourist objects in Batauga District, South Buton Regency; (2) know the condition of tourism objects in Batauga District, South Buton Regency, and (3) know the tourism development strategy in Batauga District, South Buton Regency. The data in this research is analyzed by using are mapping analysis, descriptive analysis, and SWOT analysis. The results of this study are: (1) Batauga district has 8 tourist objects that spread out into 7 villages, namely South Lawela, Busoa, Laompo, Masiri, Majapahit, Bola and Poogalampa; (2) The condition and tourism development strategies in Batauga District is explained trough one of tourist object, the Kabura-burana bathe destination has infrastructure, namely: gazebos, mosques, changing rooms, and stalls. Access to the Kabura-burana bathe destination can be passed using two wheels or four wheels transportation; (3) The strategy for developing Kabura-burana bathe destination for the S-O strategy is a development strategy as a natural tourism area, a strategy for developing clean water sources, and a strategy for developing cultural attractions. The development strategy for the W-O strategy is a strategy for developing facilities and infrastructure, and the ST strategy is a strategy for utilizing natural resources, and the W-T strategy is a strategy for developing vegetation conservation.Keywords: Distribution, condition, tourism development strategies, Batauga
Analisis Jenis-Jenis Morfologi Karst Daerah Pasarwajo Desa Dongkala Kabupaten Buton Muhamad Sugito; Ali Okto; Muliddin Muliddin; Hasria Hasria; Sawaludin Sawaludin
JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi) Vol 6, No 2 (2022): JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi)
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jagat.v6i2.28422

Abstract

Abstrak:Penelitian ini dilakukan di daerah Pasarwajo, Desa Dongkala, Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis batuan, variasi morfologi dan geomorfologi karst pada daerah penelitian. Metode pengumpulan data pada penelitian ini, terbagi atas tiga yaitu melalui observasi dan pengukuran langsung di lapangan menggunakan analisis petrologi dan analisis morfografi, melalui pengamatan di laboratorium menggunakan analisis petrografi serta melalui interpretasi peta citra satelit atau peta topografi menggunakan analisis morfometri. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat 2 satuan bentanglahan yaitu satuan bentanglahan kars dan satuan bentanglahan marine. Variasi morfologi karst pada daerah penelitian secara umum terbagi atas tiga yaitu morfologi eksokarst,morfologi endokarst dan morfologi mikro dengan geomorfologi karst tipe Gunung sewu.. Untuk satuan bentanglahan marin bentuklahan pesisir yang ada di daerah penelitian dibentuk oleh hasil erosi laut yang terdiri dari ciff, wave-cut platform, gua laut, notch dan stumb dengan jenis batuan packstone, wackstone dan endapan alluvial. Kata Kunci : Geomorfologi karst, Eksokasrt, Endokasrt, Mikrokarst Abstrak: This research was conducted in the Pasarwajo area,Dongkal village, Pasarwajo District, Buton Regency, Southeast Sulawesi Province. This research to determine the rock type, morphological variations and the karst geomorphology of the research area. Data collection methods in this research, divided into three, through direct observation and measurements in the field, using petrological analysis and morphographic analysis, through laboratory observations using petrographic analysis, and through the interpretation of the satellite image map or topographic maps using morphometric analysis. The result of the study showed that there were two fields, those were karst field and marine field.. In general, the variation of karst morphology in the research area is divided into three, the exokarst morphology,the endokarst morphology and the minor karst with the karst geomorphology of the Sewu mountain type. For marine field, the shoreline field which is located in the area of the study, was shaped by the effect of erosion of the sea consisted of cliff, wave-cut plataform, sea cave,notch adan stumb, the type of lithologi packstone, wackstone and alluvial deposit. Keywords: Karst Geomorphology, Exokarst, Endokarst, Mikrokasrt
PEMETAAN WILAYAH KAWASAN RAWAN PETIR MENGGUNAKAN METODE SIMPLE ADDITIVE WEIGHTING (STUDI KASUS: KOTA KENDARI, KONAWE SELATAN, KONAWE) Joshua Purba; La Ode Restele; Jamal Harimudin; Nurgiantoro Nurgiantoro; Irfan Ido
JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi) Vol 6, No 2 (2022): JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi)
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jagat.v6i2.28312

Abstract

Abstrak: Petir merupakan suatu proses pelepasan muatan listrik dari awan bermuatan (cumulonimbus (Cb)) yang terdapat di atmosfer. Aktivitas pelepasan muatan yang menuju objek tertentu dinamakan sambaran petir yang mana memiliki kekuatan yang beragam. Petir yang terjadi di atmosfer umum terjadi, namun apabila sambaran petir sampai ke daratan dan memiliki kekuatan yang besar dapat mengancam keselamatan jiwa dan harta benda manusia. Kota Kendari, Kabupaten Konawe Selatan, dan Kabupaten Konawe berada di wilayah iklim tropis dengan curah hujan tinggi yang terbentuk dari awan cumulonimbus yang dapat membentuk petir. Dikarenakan wilayah ini memiliki kepadatan penduduk cukup tinggi disertai pembangunan infrastruktur yang semakin berkembang sehingga perlu dilakukan  suatu  penelitian untuk menganalisis tingkat kerawanan sambaran petir. Terdapat 2 Faktor yang diperlukan untuk mengidentifikasi tingkat kerawanan sambaran petir, yaitu faktor ancaman menggunakan data kejadian petir CG (Cloud to Ground) tahun 2014–2019 dan faktor  kerentanan menggunakan data kepadatan penduduk dan luas lahan untuk rumah dan bangunan. Metode yang digunakan dalam penelitian  ini adalah Metode Simple Additive Weighting (SAW) untuk mendapatkan tingkat  kerawanan  sambaran petir pada beberapa kecamatan yang diinterpretasikan ke dalam peta tematik menggunakan software ArcGIS. Hasil analisis menunjukkan bahwa Kecamatan Bondoala, Kadia, Konda, dan Moramo Utara  memiliki  nilai  tingkat  kerawanan sambaran  petir  tinggi.  Kecamatan Abeli, Kendari, Kendari Barat, Moramo, dan Soropia memiliki tingkat kerawanan sedang. Kecamatan Baruga, Kambu, Mandonga, Nambo, Poasia, Puwatu, dan Wua-Wua memiliki tingkat kerawanan rendah. Kata kunci: Petir CG, Tingkat Kerawanan, Simple  Additive Weighting Abstract: Lightning is an electrical discharge process from loaded cloud (cumulonimbus (Cb)) that occurs in the atmosphere. The electrical discharge activity towards a particular object is called a lightning strike which has various strength. Lightning usually occurs in the atmosphere but if the lightning strike reaches the land and has a great power it can threatens the safety of human life and property. Kendari City, Konawe Selatan, and Konawe is a lightning strike prone area located on tropical high rainfall level potentially forming thunder cloud (cumulonimbus). Due to high population density and infrastructure development in this region, so that a research is needed to analyze lightning vulnerability level. This research was conducted based on 2 factors to identify the lightning strikes vulnerability. The first one is the threat factor using lightning CG events in 2014-2019 and the second one is using population density and areas used as residence and building. The method used in this research is Simple Additive Weighting to calculate the lightning strike vulnerability level in several district and the result is interpreted into thematic map using ArcGis software. Based on the calculation result it shows that Bondoala, Kadia, Konda, and Moramo Utara district have the highest lightning strike vulnerability level. Abeli, Kendari, Kendari Barat, Moramo, and Soropia district have moderate level. Baruga, Kambu, Mandonga, Nambo, Poasia, Puwatu, and Wua-Wua have the lowest lightning strike vulnerability level. Keywords: CG Lightning, Vulnerability Level, Simple  Additive Weighting
Morfotektonik Segmen Sesar Kolaka Daerah Tikonu dan Sekitarnya, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara Reza Pasca Purniawan Misu; Masri Masri; Suryawan Asfar; Laode Ngkoimani
JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi) Vol 6, No 2 (2022): JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi)
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jagat.v6i2.25304

Abstract

Analisis morfotektonik di salah satu segmen Sesar Kolaka telah dilakukan pada Daerah Tikonu dan sekitarnya, Kecamatan Wundulako, Kabupaten Kolaka. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat aktivitas tektonik relatif (IATR). Metode penelitian yang digunakan adalah geomorfologi tektonik dengan pendekatan kuantitatif (morfometri DAS dan nonDAS) dan pendekatan kualitatif (morfotektonik) melalui observasi lapangan. Analisis morfometri digunakan untuk menentukan indeks aktivitas tektonik relatif (IATR) yang terdiri atas lima parameter DAS; kurva hipsometrik integral, asimetri DAS (AF), indeks bentuk DAS (BS), indeks gradien panjang sungai (SL), rasio dasar lembah (VF), sedangkan sinousitas muka pegunungan (SMF) sebagai parameter nonDAS. Analisis morfotektonik meliputi analisis kelurusan dan pengamatan fitur morfotektonik pada tiap kelas aktivitas tektonik pada daerah penelitian. Pola kelurusan punggungan dan lembah sungai berarah tenggara-baratlaut searah Sesar Kolaka. Fitur morfotektonik mengindikasikan aktivitas Sesar Kolaka dicirikan dengan hadirnya triangular facet, sagpond, knickpoint, offset drainage channel, dan fault scarp. IATR daerah penelitian terbagi atas empat kelas, kelas aktivitas tektonik 1 (sangat tinggi) dengan luas daerah ± 3,58 km², kelas aktivitas tektonik 2 (tinggi) dengan luas daerah ± 58,468 km², kelas aktivitas tektonik 3 (menengah) dengan luas daerah ± 35,752 km², kelas aktivitas tektonik 4 (rendah) dengan luas daerah ± 14,764 km². Kelas aktivitas tektonik sangat tinggi dan tnggi dijumpai pada subDAS 10 di bagian selatan dan beberapa subDAS di bagian utara yang tersusun atas sekis dan gneiss disertai hadirnya triangular facet, mata air, knickpoint, gawir sesar, dan milonitik.
Analisis Persebaran Daerah Rawan Abrasi Pantai Di Pesisir Binongko, Kabupaten Wakatobi Hasnawati Hasnawati; Iradat Salihin; Ahmad Hidayat; Muliddin Muliddin; Noor Husna Khairisa
JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi) Vol 6, No 2 (2022): JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi)
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jagat.v6i2.28248

Abstract

Abstrak: Abrasi pantai adalah proses pengikisan pantai oleh tenaga gelombang laut dan arus laut yang bersifat merusak dan menyebabkan perubahan garis pantai. Ada dua faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan garis pantai. Pertama, faktor alami seperti gelombang laut, arus, angin, sedimentasi, topografi pesisir dan pasang surut. Sedangkan faktor kedua adalah faktor manusia (non-alami), seperti penambangan pasir, reklamasi pantai, dan pengerusakan vegetasi pantai. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui karakteristik pantai di Pesisir Binongko; (2) mengetahui sebaran daerah rawan abrasi pantai di pesisir Binongko. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu deskriptif kualitatif dengan menganalisis pengaruh karakteristik pantai di daerah yang rawan abrasi dengan teknik purposive sampling untuk melihat persebaran daerah rawan abrasi. Hasil penelitian ini antara lain: (1) Karakteristik pantai di Pesisir Binongko antara lain: terdapat lima pantai berpasir, empat pantai berbatu, dan satu pantai berlumpur. Selain itu, terdapat satu pantai pantai berbentuk cembung, empat pantai relatif datar, dan terdapat lima pantai cekung; (2) Persebaran daerah rawan abrasi pantai di Pesisir Binongko adalah sebagai berikut: Pada Kecamatan Binongko tahun 2010 sampai tahun 2020 abrasi terjadi seluas 15,907 ha dan akresi terjadi seluas 20,252 ha, sedangkan di Kecamatan Togo Binongko abrasi terjadi seluas 11,525 ha dan akresi terjadi seluas 7,304 ha. Kata kunci:     Karakteristik pantai, sebaran daerah rawan abrasi, Pesisir Pantai BinongkoAbstract: Coastal abrasion is the process of erosion of shore by the power waves and currents that are destructive and causing shoreline changes. There are two factors that cause shoreline changes. First, natural factors such as ocean waves, currents, wind, sedimentation, coastal topography and tides. The second factor is human factor (non-natural), such as sand mining, beach reclamation, and destruction of coastal vegetation. This study aims to: (1) determine the characteristics of the beach in the Binongko Coast; (2) determine the distribution of coastal abrasion-vulnerability areas on the Binongko Coast. Data in this research is analyzed by using descriptive qualitative method by analyzing the influence of coastal characteristics in areas where is vulnerable to abrasion with purposive sampling technique to see the distribution of vulnerable area of abrasion. The result softh is study are: (1) The characteristics of the beach on the Binongko Coast i.e. there are five beaches, four rocky shores, and one muddy shore. In addition, there is one convex beach, four relatively flat beaches, and five concave beaches; (2) In Binongko District from 2010 to 2020, abrasion occurred in an area of 15,907 acre and accretion occurred in an area of 20,252 acre, while in Togo Binongko District, abrasion occurred in an area of 11,525 acre and accretion occurred in an area of 7,304 acre.Keywords:     Beach characteristics, the distribution of vulnerable area of abrasion, Binongko Coast
EVALUASI SISTEM ZONASI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DAN MENENGAH ATAS DI KOTA KENDARI DENGAN MENGGUNAKAN (SIG) Adin Fitra Irawan; La Ode Hadini; Fitra Saleh; Golok Jaya; Irfan Ido
JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi) Vol 6, No 2 (2022): JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi)
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jagat.v6i2.28253

Abstract

Abstrak: Kebutuhan pendidikan yang semakin meningkat seiring dengan jumlah penduduk dan pembangunan yang semakin pesat mengakibatkan pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan  sistem zonasi sekolah. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk: (1) Mengetahui bagaimana distribusi Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas di Kota Kendari; (2) Mengevaluasi sistem zonasi Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas di Kota Kendari menggunakan Sistem Informasi Geografi. Metode analisis yang digunakan adalah analisis spasial pada citra dengan cara buffering kemudian dilakukan analisis clip berdasarkan batas kelurahan dan lahan terbangun (permukiman). Hasil dari penelitian ini antara lain: (1) Distribusi Sekolah Menengah Pertama tersebar di seluruh kecamatan dengan sebaran terbanyak pada Kecamatan Puuwatu sebanyak 5 SMP Negeri, dan Sekolah Menengah Atas tersebar di beberapa  kecamatan, dengan kecamatan yang tidak memiliki SMA Negeri yaitu Kecamatan Abeli yang di sebabkan kecamatan tersebut merupakan pemekaran dari Kecamatan Nambo; (2) Evaluasi sistem zonasi dari analisis spasial pada citra menghasilkan luasan  lahan terbangun SMP negeri terbesar terdapat pada Kelurahan Anduonohu dengan luasan 322,48 ha yang termaksud zonasi SMP Negeri 10, SMP Negeri 20, dan SMP Negeri 5, sedangkan luasan lahan terbangun SMA Negeri yang terbesar terdapat pada Kelurahan Rahandouna dengan luasan 222,86 ha yang termaksud zonasi SMA Negeri 2.Kata kunci: Zonasi Sekolah, SIG, Buffer.Abstrak: The increasing need for education along with the population and rapid development has resulted in the government having to issue a school zoning system policy. The aims of this study are to: (1) Find out how the distribution of junior and senior high schools in Kendari City is; (2) Evaluate the zoning system for Junior High Schools and Senior High Schools in Kendari City using the Geographic Information System. The analytical method used is spatial analysis of the image by buffering, then clip analysis is carried out based on the boundaries of the village and built-up land (settlement). The results of this study include: (1) The distribution of junior high schools in all sub-districts with the largest distribution in Puuwatu sub-district as many as 5 state junior high schools, and high school in several districts, with sub-districts that do not have a public high school, namely Abeli sub-district which is located in because the sub-district is a division of the Nambo Sub-district; (2) Evaluation of the zoning system from the spatial analysis of the image produces the areathe largest public junior high school built area is in Anduonohu Village with an area of 322,48 acre which includes the zoning of SMP Negeri 10, SMP Negeri 20, and SMP Negeri 5, while the largest built up land area for State Senior High Schools is located in the Village of Rahandouna with an area of 222,86 acre which includes the zoning of SMA Negeri 2.Keywords: School Zoning, GIS, Buffer.       
IDENTIFIKASI POTENSI DAN STRATEGI PENGEMBANGAN AGROWISATA KEBUN JERUK SIOMPU DI KABUPATEN BUTON SELATAN (STUDI KASUS : DESA WAINDAWULA, KECAMATAN SIOMPU) Rumiani Rumiani; La Ode Hadini; Jufri Karim; Golok Jaya; Fitrani Fitriani
JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi) Vol 6, No 2 (2022): JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi)
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jagat.v6i2.25341

Abstract

Abstrak: Agrowisata didefinisikan sebagai sistem kegiatan terpadu dan terkoordinasi untuk pengembangan pariwisata sekaligus pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi potensi lahan dan sosial ekonomi masyarakat yang dihasilkan dari adanya agrowisata kebun jeruk siompu; (2) mengetahui strategi pengembangan agrowisata kebun jeruk siompu. Metode penelitian ini adalah metode analisis deskriptif yaitu metode analisis laboratorium, metode kriteria kesesuaian lahan dan analisis SWOT. Hasil penelitian ini ialah: (1) Terdapat 2 kelas kesesuaian lahan yang dapat dijadikan sebagai dasar untuk pengembangan Agrowisata Kebun Jeruk Siompu yaitu kelas kesesuaian lahan S2 (cukup sesuai) dan S3 (sesuai marginal), terdapat subkelas kesesuaian lahan  S2 lp UL (1) seluas 15,756 ha, S2 eh UL (2 dan 5) dengan luas 26,944 ha, S2 rc, eh UL (3 dan 6) dengan luas 7,758 ha, S2 lp, eh UL (4) seluas 32,417 ha, S3 eh UL (7, 8, 9, 10, 11, 12) seluas 126,958, dan kelas tidak dapat dikembangkan yaitu kelas N eh UL (13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20) luas 156,769 ha. Potensi sosial ekonominya terdapat 3 dampak yaitu, dampak terhadap pendapatan masyarakat, kesempatan kerjadan keuntungan; (2) Strategi untuk pengembangan Agrowisatanya, yaitu: strategi pemanfaatan sumberdaya alam, pemanfaatan kualitas lahan yang sesuai, pengurangan faktor pembatas, pengembangan sarana wisata. Kata kunci: Agrowisata, Potensi Lahan, Sosial Ekonomi, Analisis SWOT Abstract: Agrotourism is defined as a system of integrated and coordinated activities for the development of tourism as well as agriculture. This study aims to: (1) identify the potential of land and socio-economic community resulting from the existence of Siompu citrus plantation agro-tourism; (2) know the strategy of agro-tourism development of Siompu citrus plantations. This research method is descriptive analysis method, namely laboratory analysis method, land suitability criteria method and SWOT analysis. The results of this study are: (1) There are 2 land suitability classes that can be used as the basis for the development of Siompu Citrus Gardens Agro-tourism, namely the S2 (moderately appropriate) and S3 (marginally appropriate), there is a land suitability subclass S2 lp UL (1 ) area 15,756 acre, S2 eh UL (2 and 5) area 26,944 acre, S2 rc, uh UL (3 and 6) area 7,758 acre, S2 lp, uh UL (4) area 32,417 acre, S3 uh UL (7, 8 , 9, 10, 11, 12) with an area of 126,958acre, and the class that cannot be developed is class N eh UL (13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20) with an area of 156.769 acre. The socio-economic potential has 3 impacts, namely, the impact on people's income, job opportunities and profits; (2) Strategies for the development of Agro-tourism are: utilizing natural resources, utilizing appropriate land quality, reducing limiting factors, developing tourism facilities. Keywords: Agrotourism, Land Potential, Socio-Economic, SWOT Analysis
KAJIAN DAYA DUKUNG LINGKUNGAN PANGAN DAN AIR DENGAN MEMANFAATKAN CITRA LANDSAT 8 (STUDI KASUS: KABUPATEN BUTON) Amilusri Amilusri; Jamal Harimudin; Fitra Saleh; Ahmad Hidayat; Nurgiantoro Nurgiantoro
JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi) Vol 6, No 2 (2022): JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi)
Publisher : Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jagat.v6i2.28350

Abstract

Abstrak: Penentuan besarnya daya dukung lingkungan dilakukan dengan cara mengetahui kapasitas yang dimiliki suatu lingkungan untuk memenuhi dan mendukung kegiatan manusia sebagai pengguna ruang untuk menjamin keberlangsungan hidupnya. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) memetakan jasa lingkungan penyedia pangan di Kabupaten Buton; (2) memetakan jasa lingkungan penyedia air di Kabupaten Buton. Metode yang digunakan adalah skoring dan bobot. Hasil Penelitian: (1) klasifikasi ketersediaan pangan Kabupaten Buton dibagi menjadi lima kelas, yaitu: Jasa ekosistem penyedia pangan kelas sangat rendah seluas 517,66 ha (0,30 %), kelas rendah seluas 97.107,90 ha (57,97 %), kelas sedang seluas 68.041,64 ha (40,62%), kelas tinggi seluas 539,70 ha (0,32 %), dan kelas sangat tinggi seluas 1.294,12 ha (0,77 %); (2) Jasa ekosistem penyedia air di Kabupaten Buton kelas sangat rendah seluas 35.998,34 (21.49 %), kelas rendah seluas 1.312,43 ha (0,78 %), kelas sedang seluas 11.8750,60 ha (70,89%), dan kelas tinggi seluas 11.439,25 ha (6,82 %). Kata kunci: Daya Dukung Lingkungan, Jasa Ekosistem, Kabupaten Buton Abstract: Determination of the carrying capacity of the environment is done by knowing the capacity of an environment to fulfill and support human activities as users of space to ensure its survival. This study aims to: (1) map the environmental services of food providers in Buton Regency; (2) map the environmental services of water providers in Buton Regency. The method used is scoring and weighting. Research results: (1) classification of food availability in Buton Regency is divided into five classes, namely: Ecosystem services providing food, very low class, covering an area of 517.66 acre (0.30 %), low class covering an area of 97,107.90 acre (57.97 %), medium class covering an area of 68,041.64 acre (40.62%), high class covering an area of 539.70 acre (0.32 %), and very high class area of 1,294.12 acre(0.77% );(2) Water supply ecosystem services in Buton Regency are very low class covering an area of 35,998.34 acre (21.49 %), low class covering an area of 1,312.43 acre (0.78%), medium class covering an area of 11,8750.60 acre (70.89%), and high class area of 11,439.25 ha (6.82%). Keywords: Environmental Carrying Capacity, Ecosystem Services, Buton Regency

Page 9 of 12 | Total Record : 116