cover
Contact Name
Fitriani
Contact Email
fitrianihuni@uho.ac.id
Phone
+6285298243005
Journal Mail Official
jurnal_jagat@uho.ac.id
Editorial Address
Jurusan Geografi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Jl. H.E.A. Mokodompit, Kampus Hijau Bumi Tridharma, Universitas Halu Oleo
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi)
Published by Universitas Halu Oleo
ISSN : 25499181     EISSN : 26846705     DOI : -
JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi) merupakan majalah Ilmiyah yang membaha teori dan praktik geografi serta kajian geografi fisik, pengindraan jauh, perencanaan dan pengembangan wilayah yang relevan dengan Negara Indonesia. Terbit pertama kali tahun 2017. Frekuensi terbit sebanyak dua kali dalam setahun, yang diterbirkan oleh Jurusan Geografi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Universitas Halu Oleo
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 116 Documents
Kajian Kearifan Lokal Masyarakat Pesisir Dalam Pelestarian Hutan Mangrove Di Kecamatan Mawasangka Saputu, Muh. Sumitran; Restele, La Ode; Sawaludin, Sawaludin
JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi) Vol 4, No 2 (2020): JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jagat.v4i2.12956

Abstract

Abstrak: Luasan mangrove yang ada di Kecamatan Mawasangka, tersebar di enam desa yaitu, Desa Oengkolaki, Desa Banga, Desa Tanailandu, Desa Kanapa-napa, Desa Terapung, dan Desa Air Bajo.Penelitian ini bertujuan untuk: (1)  mengetahui persebaran tutupan lahan hutan mangrove secara spasial di Kecamatan Mawasangka; (2) mengetahui kearifan lokal masyarakat pesisir Kecamatan Mawasangka dalam pelestarian hutan mangrove; (3) mengetahui seberapa besar peran masyarakat pesisir Kecamatan Mawasangka dalam pelestarian hutan mangrove. Metode yang digunakan pada penelitian ini ialahmetode observasi awal, wawancara mendalam, dan studi dokumen. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) sebaran tutupan lahan mangrove di Kecamatan Mawawasangka tersebar dibeberapa desa diantaranya, Desa Oengkolaki degan luas 25 ha, Desa Banga 88 ha, Desa Tanailandu 219 ha, Desa Kanapa-napa 68 ha, Desa Terapung 452 ha dan Desa Air Bajo 24 ha, dengan luas keseluruhan 966 ha; (2) bentuk kearifan lokal masyarakat pesisir Kecamatan Mawasangka, yaitu masih menjaga tradisi lama seperti, gotong royong menjaga hutan mangrove, menebang pohon tidak secara sembarangan, serta memanfaatkan dan mengelolah hutan mangrove dengan metode tebang tanam agar menjaga hutan mangrove tetap lestari; (3) masyarakat pesisir Kecamatan Mawasangka juga sangat berperan aktif dalam pelestarian hutan mangrove, yaitu berupa penanaman, pemeliharaan, pemanfaatan dan pengelolaan serta tidak menebang pohon mangrove secara besar – besaran.
Identifikasi Pusat Pertumbuhan dan Wilayah Pendukungnya dalam Pengembangan Wilayah Kota Kendari Yahya, Fifi; Harimuddin, Jamal; Restele, La Ode; Fitriani, Fitriani
JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi) Vol 5, No 2 (2021): JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jagat.v5i2.21509

Abstract

Abstrak Pusat pertumbuhan ialah wilayah atau kawasan yang pertumbuhannya sangat pesat sehingga dijadikan sebagai pusat pembangunan yang mempengaruhi wilayah lain di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui wilayah mana saja yang termasuk dalam kategori orde I sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di Kota Kendari; (2) mengetahui interaksi antara pusat pertumbuhan dan wilayah pendukung disekitarnya. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis skalogram untuk mengetahui pusat pertumbuhan wilayah dan analisis gravitasi untuk mengetahui interaksi antara pusat pertumbuhan dan wilayah pendukung. Hasil dari penelitian ini adalah: (1) wilayah yang termasuk dalam kategori orde I sebagai pusat pertumbuhan utama di Kota Kendari adalah Kelurahan Bende, Korumba dan Kambu; (2) pusat pertumbuhan Kelurahan Bende memiliki hubungan interaksi yang paling erat dengan Kelurahan Pondambea sebagai daerah sekitarnya (hinterland), pusat pertumbuhan Kelurahan Korumba memiliki hubungan interaksi yang paling erat dengan Kelurahan Alolama sebagai daerah hinterland, dan  pusat pertumbuhan Kelurahan Kambu memiliki hubungan interaksi yang paling erat dengan Kelurahan Padaleu sebagai hinterland. Kata Kunci: Pusat pertumbuhan, Interaksi wilayah, Analisis Skalogram, Analisis Gravitasi Abstract The growth center is a region or area that is very rapidly growing so that it is made as a development center affecting other regions around it. The research aims to: (1) Know which areas are intended in the category I order as the center of economic growth in the city of Kendari; (2) Know the interaction between the growth center and the surrounding area supporting. Data analysis methods used in this study: Analysis of Skalogram to find out the regional growth and Gravity analysis to know the interaction between growth centres and support areas. The results of the research include: (1) The region that belongs to the category of order I as the main growth center in the district of Kendari is Bende village, Korumba and Kambu; (2) village Bende Growth Center has the most closely related interaction with the village Pondambea as the surrounding area (hinterland), village Korumba Growth Center has the most closely related interaction with Alolama village as its surrounding area (hinterland) and village Kambu Growth Center has the most close interaction relationship with Padaleu village as its surrounding area (hinterland).Keywords: Growth Center, Area Interactions, Analysis Skalogram, Analysis Gravity
Analisis Temporal Mobilitas Penduduk Di Kecamatan Kontukowuna Kadir, Laode Muhamad; Widayati, Weka; Indriasary, Anita
JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi) Vol 5, No 1 (2021): JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jagat.v5i1.16170

Abstract

Abstrak: Laju pertumbuhan penduduk dan keadaan lahan mengakibatkan masyarakat melakukan kegiatan perpindah atau mobiltas ke berbagai daerah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tujuan dari penelitian ini antara lain: (1) untuk  mengetahui faktor  penarik dan faktor pendorong mobilitas penduduk; (2) untuk mengetahui tingkat mobilitas serta memetakan mobilitas penduduk di Kecamatan Kontukowuna secara temporal dari tahun 2013–2018. Metode penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan menggunakan metode regresi berganda. Hasil penelitian antara  lain: (1) diperoleh nilai SIG sebesar 0,000 dan nilai F hitung sebesar 142,309. Maka, sig<0,005 dan F hitung>F tabel, sehingga terdapat pengaruh simultan variabel X terhadap variabel Y. Faktor pendorong  dari daerah asal,  yaitu menyempitnya lapangan pekerjaan, rendahnya upah di daerah asal, tingkat fasilitas pendidikan yang kurang. Faktor penarik dari daerah tujuan yaitu kesempatan kerja yang luas di daerah tujuan, upah kerja yang lebih tinggi, fasilitas pendidikan yang baik, dan berpindah mengikuti keluarga; (2) wilayah di Kecamatan Kontukowuna yang memiliki tingkat mobilitas tinggi yaitu Desa Kilambibito, sedangkan desa-desa yang lain berada pada tingkat mobilitas rendah. Kata kunci: Penduduk, Mobilitas, Tingkat Mobilitas
Evaluasi Perbandingan Dampak Teknik Pertanian Padi Monokultur dan Minapadi terhadap Lingkungan di Desa Candibinangun Ardianti, Lutfi; Suratman, Suratman
JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi) Vol 4, No 2 (2020): JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jagat.v4i2.15315

Abstract

Penelitian ini memiliki tiga tujuan, yaitu (1) memahami pengaruh perbedaan pengelolaan lahan terhadap lingkungan, (2) membandingkan kondisi ekologis, dan (3) membandingkan keadaan tanah. Pengumpulan data dilakukan melalui survei lapangan terhadap empat kasus (L_S, LK_S, L_M, dan LK_M). Data primer dianalisis dengan menggunakan pendekatan ekologi spasial. Perbedaan pengelolaan antara budidaya padi monokultur dan budidaya ikan-padi secara hipotetis menyebabkan: lahan budidaya minapadi memiliki keanekaragaman hayati yang lebih beragam, tanah dan air pada sawah monokultur lebih tercemar, dan dampak negatif terhadap tanah terhadap rendaman di ladang pertanian memiliki berpotensi lebih tinggi. Perbandingan kondisi ekologi menunjukkan adanya keseimbangan ekologi dalam pertanian padi-ikan karena keberadaan ikan dan minimnya penggunaan bahan kimia. Perbandingan kondisi tanah dari data bor tanah menunjukkan efek reduksi dan oksidasi perendaman baik pada sawah monokultur maupun sawah budidaya ikan. Kondisi tanah dari kualitas tanahnya menunjukkan bahwa sawah budidaya ikan berkualitas baik sedangkan sawah monokultur berkualitas sedang. Secara umum budidaya padi-ikan memberikan kualitas tanah yang lebih baik, namun pengelolaan irigasi masih perlu ditingkatkan terkait dampak perendaman
Identifikasi Determinasi Faktor Penentu Lokasi Pembangunan Permukiman Masyarakat Dan Perumahan Yang Dibangun Oleh Swasta Di Kabupaten Muna Herfa, Putri; Ido, Irfan; Khairisa, Noor Husna
JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi) Vol 5, No 2 (2021): JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jagat.v5i2.21618

Abstract

Abstrak: Pertambahan penduduk di Kabupaten Muna menyebabkan peningkatan kebutuhan akan rumah. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi  faktor penentuan lokasi pembangunan permukiman masyarakat dan perumahan yang dibangun oleh swasta; (2) menganalisis perbedaan faktor dominan dalam penentuan lokasi pembangunan permukiman oleh masyarakat dan perumahan yang dibangun oleh swasta. Metode analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis kuantitatif dan analisis kualitatif yang dilanjutkan dengan analisis faktor lokasi pembangunan permukiman dan pembangunan perumahan. Hasil penelitian ini antara lain: (1) Faktor penentu lokasi pembangunan permukiman oleh masyarakat dengan 3 urutan teratas antara lain: pelayanan air, listrik dan telepon, faktor kondisi jaringan lingkungan, dan keberadaan ruang terbuka. Faktor penentu lokasi pembangunan perumahan oleh swasta adalah faktor tingkat kemiringan lahan, faktor ketersediaan jaringan listrik, faktor kedekatan jarak, dan faktor kemudahan dalam pemasaran; (2) Faktor dominan dalam penentuan lokasi pembangunan permukiman oleh masyarakat antara lain tempat tinggal asal, ketersediaan lahan yang luas, harga tanah yang terjangkau, masuk dalam wilayah kota dan kondisi lingkungan. Sedangkan pengembang cenderung mempertimbangkan faktor letak, yaitu lokasi termasuk dalam daerah pengembangan kota, kedekatan jarak, lokasi yang strategis, harga tanah dan untuk memenuhi kebutuhan perumahan daerah.Kata kunci: Faktor penentu lokasi permukiman, faktor penentu lokasi perumahanAbstrak: Population growth in Muna Regency causes an increase in the need of house.This research aims to: (1) identify factors in determining the location of settlements development and housing development; (2) analyze the differences of dominant factors in determining the location of residential development by the community and housing builtby the private sector. Data in this research is analized by using quantitative and qualitative analysis followed by factor analysis of location of settlements development and housing development. The results of this study shows that: (1) The determining factors for the location of settlement development by the community with the top 3 ranking, namely, water, electricity and telephone services, environmental network conditions, and the existence of open spaces. The determining factors for the location of housing development by the private sector are the land slope, the availability of the electricity network, the proximity factor, and the convenience factor in marketing; (2) The dominant factors in determining the location of residential development by the communityi.e.the original place of resident, the available land is wide, affordable land prices, included in the city area and environmental conditions. Mean while, private sector tend to consider location factors, namely location is in urban development areas, proximity to distances, strategic locations, land price and to meet regional housing needs.Keywords: Determining factors of settlement location, determining factors of housing location
Analisis Pengembangan Kawasan Agropolitan Di Kecamatan Sinjai Barat Hidayat, Ahmad; Suratman, Suratman; Hadmoko, Danang Sri
JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi) Vol 5, No 1 (2021): JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jagat.v5i1.17856

Abstract

Abstrak: Kecamatan Sinjai Barat adalah merupakan salah satu kecamatan yang ditetapkan sebagai kawasan agropolitan. Luas wilayah Kecamatan Sinjai Barat adalah 13,53 km2 atau 16,53% dari luas total wilayah Kabupaten Sinjai. Penelitian ini bertujuan : 1) mengidentifikasi jenis komoditas unggulan; 2) mengetahui kesesuaian lahan; 3) mengidentifikasi pola sebaran spasial pengembangan kawasan agropolitan. Metode penelitian adalah metode deskriptif berupa pengumpulan dan pengolahan data lapangan, metode pemetaan, metode Location Quotient (LQ), dan metode matching pada software atau program Land Classification and Landuse Planning (LCLP). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : 1) hasil perhitungan LQ komoditas padi, ketimun, sawi, kentang, wortel, kubis, tomat, serta buncis merupakan komoditas unggulan. 2) kelas kesesuaian lahan, padi dengan kelas kesesuaian lahan S2 (cukup sesuai) 329,49 Ha, S3 (sesuai marginal) 2821,77 Ha, kentang, wortel, sawi, buncis, dan tomat memiliki kelas kesesuaian lahan S2 742,02 Ha dan untuk kelas kesesuaian lahan S3 2409,24 Ha. Komoditas lainnya yakni ketimun dan buncis memiliki kelas kesesuaian lahan S2 742,02 Ha, S3 2062,82 Ha serta kelas kesesuaian lahan N (tidak sesuai) 346,42 Ha. 3) adapun luas lahan yang dapat digunakan untuk pengembangan komoditas padi 329,49 Ha, kentang, wortel dan tomat 1276,59 Ha, ketimun dan sawi 412,53 Ha, buncis 519,47 Ha serta kubis 613,18 Ha. Kata Kunci : Agropolitan, Komoditas Unggulan, LCLP, Kesesuaian Lahan
Evaluasi Daya Dukung Lingkungan Berbasis Kemampuan Lahan Di Kecamatan Kulisusu Utara Kabupaten Buton Utara Nirmala, Nirmala; Usman, Ida; Karim, Jufri
JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi) Vol 4, No 2 (2020): JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jagat.v4i2.15336

Abstract

Abstrak: Jumlah penduduk yang terus meningkat dan aktivitas pembangunan yang dilakukan menyebabkan kawasan lindung menjadi kawasan budidaya di Kecamatan Kulisusu Utara. Tujuan penelitian ini, yaitu: (1) mengetahui karakteristik lahan ; (2) mengetahui daya dukung lingkungan berbasis kemampuan lahan; (3) mengevaluasi daya dukung lingkungan berbasis kemampuan lahan. Metode penelitian ini yaitu: (1) pendekatan keruangan dengan melakukan analisis Sitem Informasi Geografi (SIG); (2) Overlay peta daya dukung lingkungan dan peta kemampuan lahan; (3) melakukan evaluasi daya dukung lingkungan terhadap kemampuan lahan. Hasil penelitian ini adalah: (1) wilayah Kecamatan Kulisusu Utara memiliki tanah tekstur lempung berdebu (sedang) seluas 9.790 ha, tekstur debu (sedang) seluas 15.882 ha, tekstur lempung liat berdebu (agak halus) seluas 16.448 ha dan tekstur lempung (sedang) seluas 3.422 ha. Kedalaman efektivitas berkisar antara <25 cm sampai 90 cm. Seluas 27.158 ha lahan tidak pernah terkena banjir, sedangkan 18.385 ha merupakan lahan yang jarang terjadi banjir. Kondisi drainase baik, tidak ada/sedikit kerikil atau batuan, serta tidak ada erosi hingga terjadi erosi >75% pada beberapa unit lahan; (2) kemampuan lahan di Kecamatan Kulisusu Utara terdiri dari Kelas II t l k  seluas 290 ha, kelas III t seluas 19.174 ha, kelas III t l seluas 16.297 ha, kelas IVl seluas 7.989 ha, kelas Vl seluas 1.642 ha, kelas VI l seluas 99 ha; (3) seluas 40.741,23 ha memiliki daya dukung yang sesuai terhadap kemampuan lahan, sedangkan seluas 4.748,77 ha memiliki daya dukung yang tidak sesuai terhadap kemampuan  lahan.Kata Kunci: Kemampuan Lahan, Daya Dukung Lingkungan
Mitigasi Penyebaran Covid-19 Melalui Pemetaan Kepadatan Pemukiman, Mobilitas Penduduk dan Lingkungan Kelurahan Kadia Kota Kendari Widayati, Weka; Sawaludin, Sawaludin; Indriasary, Anita; Romanti Aulia, Weko Indira; Rahim, Saban
JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi) Vol 5, No 2 (2021): JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jagat.v5i2.21510

Abstract

Abstrak: Isu pandemi Covid-19 menjadi perhatian dunia dan sampai saat ini belum diprediksi kapan akan berakhir. Penyebaran Covid-19 merubah pola interaksi dalam kurun waktu yang cepat dan drastis karena adanya pemberlakukan pembatasan pergerakan dan kegiatan manusia. Kota Kendari termasuk daerah yang terdampak penyebaran Covid-19 dan salah satu kelurahan yang terdampak dengan status zona merah adalah kelurahan Kadia. Dalam mengantisipasi penyebaran Covid-19 di kelurahan Kadia, perlu dilakukan mitigasi melalui pemetaan kepadatan pemukiman, mobilitas penduduk dan lingkungan. Tujuan kegiatan ini adalah melakukan mitigasi penyebaran Covid-19 melalui pemetaan kepadatan pemukiman, mobilitas penduduk dan lingkungan kelurahan Kadia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survey dan overlay peta. Hasil penelitian menunjukan kepadatan pemukiman di kelurahan Kadia pada tingkat yang tinggi (25-34) pada RW 002, RW 007 dan RW 008. Kepadatan penduduk di kelurahan Kadia yang tinggi pada (62-92) pada RW 001 RT 002, RW 002, RW 007 RT 001 dan 003, RW 008 RT 003, dan RW 009 RT 003. Tingkat mobilitas penduduk dikelurahan Kadia yang tinggi (90-174) pada RW 002 RT 002, RW 003 RT 001 dan 002, RW 004 RT 001, 002 dan 003, RW 005 RT 001, RW 006 RT 001, dan RW 007. Secara spasial kondisi lingkungan kelurahan Kadia didominasi oleh lahan terbangun dengan jumlah penduduk sebanyak 7775 jiwa. Berdasarkan hasil pemetaan kepadatan pemukiman, kepadatan penduduk, mobilitas penduduk dan lingkungan maka mitigasi tingkat potensial penyebaran Covid-19 di kelurahan Kadia difokuskan pada titik potensial yang tinggi (RW 002) dan titik potensial yang sedang (RW 007). Beberapa langkah mitgasi penyebaran Covid-19 yang dilakukan adalah memasang poster mitigasi penerapan protokol kesehatan dengan memakai masker, selalu mencuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak.Kata kunci : Mitigasi, Pandemi Covid-19, Pemetaan, Kelurahan Kadia Abstract: The issue of the Covid-19 pandemic has become a worldwide concern and until now it has not been predicted when it will end. The spread of Covid-19 changed the pattern of interaction in a fast and drastic period due to the imposition of restrictions on human movement and activities. Kendari City is one of the areas affected by the spread of Covid-19 and one of the ward affected by the red zone status is Kadia Ward. In anticipating the spread of Covid-19 in the Kadia sub-district, it is necessary to carry out mitigation through mapping the density of settlements, population mobility, and the environment. The purpose of this activity is to mitigate the spread of Covid-19 through mapping the density of settlements, population mobility, and the Kadia urban village environment. The method used in this research is survey and map overlay. The results showed that the density of settlements in the Kadia village was at a high level (25-34) in RW 002, RW 007, and RW 008. The population density in the Kadia ward was high at (62-92) in RW 001, RT 002, RW 002, RW. 007 RT 001 and 003, RW 008 RT 003, and RW 009 RT 003. The level of population mobility in Kadia kelurahan is high (90-174) in RW 002 RT 002, RW 003 RT 001 and 002, RW 004 RT 001, 002 and 003, RW 005, RT 001, RW 006, RT 001, and RW 007. Spatially, the environmental condition of the Kadia ward is dominated by built-up land with a population of 7775 people. Based on the results of mapping settlement density, population density, population mobility, and the environment, mitigation of the potential level of Covid-19 spread in the Kadia ward is focused on high potential points (RW 002) and medium potential points (RW 007). Some of the steps to mitigate the spread of Covid-19 were putting up a mitigation poster for the implementation of the health protocol by wearing a mask, always washing hands with soap, and keeping a distance.Keywords : Mitigation, Covid-19 Pandemic, Mapping, Kelurahan Kadia
Pemetaan Fenomena Urban Heat Island Di Kota Kendari Dengan Menggunakan Citra Resolusi Menengah Wardana, Fatimah; Golok Jaya, laode Muh.; Saleh, Fitra; Karim, Jufri
JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi) Vol 5, No 1 (2021): JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jagat.v5i1.17258

Abstract

Abstrak: Fenomena Urban Heat Island dapat dipetakan dengan parameter Suhu Permukaan Tanah (SPT) dan indeks kerapatan vegetasi (NDVI). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Urban Heat Island di Kota Kendari menggunakan Landsat 8 OLI/TIRS dan menganalisis kondisi eksisting sebaran fenomena Urban Heat Island di Kota Kendari. Proses dilakukan dengan mengolah data citra Landsat 8 OLI/TIRS perekaman 30 Agustus 2017. Analisis dilakukan dengan menggunakan algoritma Syariz untuk penentuan SPT yang kemudian dikorelasikan dengan nilai NDVI yang dihasilkan dari kaliberasi band 4 dan band 5 pada citra Landsat 8 OLI/TIRS. Hasil penelitian ini menunjukkan suhu permukaan tanah di kota Kendari berkisar antara 15,27 hingga 33,34. Dimana suhu 15 hingga 22adalah suhu daerah yang tidak terdeteksi atau tertutup awan. Persebaran suhu didominasi suhu antara 23-27 dengan luas 21.492,46 Ha atau 81,02% dari luas wilayah, dengan wilayah yang teridentifikasi sebagaui daerah UHI dengan suhu diantara 28-33 seluas 2.968,57 Ha atau 11,01% dari total luas wilayah Kota Kendari. Nilai korelasi antara SPT dan NDVI berada pada angka -0,66 yang berarti bahwa tingkat kerapatan vegetasi berbanding terbalik dengnan nilai suhu permukaan tanah atau semakin rendah indeks kerapatan vegetasinya, maka semakin tinggi suhu permukaan tanahnya.Kata kunci: Urban Heat Island, suhu permukaan tanah, Landsat 8, NDVIAbstract: The Urban Heat Island phenomenon can be mapped with the parameters of Land Surface Temperature (LST) and the Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). This study aims to analyze Urban Heat Island in Kendari City using Landsat 8 OLI / TIRS and analyze the existing conditions of the distribution of the Urban Heat Island phenomenon in Kendari City. The process is done by processing Landsat 8 OLI / TIRS image recording data on August 30, 2017. The analysis carried out using the Syariz algorithm to determine LST which is then correlated with NDVI values resulting from band 4 and band 5 in Landsat 8 OLI / TIRS images. The results showed that the  land surface temperature in Kendari ranged from 15.27°C to 33.34°C. The 15 to 22°C is the temperature of the clouded or undetected area. The temperature distribution is dominated by temperatures between 23-27 ° C with an area of 21,492.46 Ha or  81.02% of the total area, with areas identified as UHI are the areas with temperatures between 28-33 ° C with an area of 2,968.57 Ha or 11.01% of the total area of  Kendari City. The correlation value between SPT and NDVI is at -0.66, which means that the vegetation density level is inversely proportional to the value of the land surface temperature value or the lower the vegetation index value, the higher the surface temperature of the land.Keywords: Urban Heat Island, land surface temperature, Landsat 8, NDVI
Pemetaan Distribusi Kerentanan Penyakit Demam Berdarah di Kota Baubau Menggunakan Algoritma Machine Learning Mizan, Rahmat Azul; Widayani, Prima; Farda, Nur Mohammad
JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi) Vol 4, No 2 (2020): JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jagat.v4i2.14664

Abstract

Sejak tahun 2013 hingga tahun 2017 serangan penyakit demam berdarah (DBD) di Kota Baubau terus mengalami peningkatan jumlah angka kesakitan. Laporan Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2018 menunjukan fakta bahwa Baubau merupakan kota dengan angka kejadian DBD tertinggi ketiga dari 17 kabupaten/kota lainnya. Pemetaan distribusi tingkat kerentanan wilayah terhadap penyakit DBD merupakan langkah penting dalam mendukung penyusunan strategi penanganan penyakit DBD. Penelitian ini bertujuan memetakan dan mendeskripsikan distribusi tingkat kerentanan lokasi penelitian. Kota Baubau sebagai lokasi penelitian dengan mengambil populasi sebanyak 129 kasus kejadian sepanjang tahun 2015 hingga Februari 2016. Dalam penelitian ini, kami mensimulasikan distribusi kerentanan wilayah terhadap penyakit demam berdarah pada resolusi spasial 30x30 meter. Model dibuat menggunakan dua algoritma machine learning yang cukup kuat dan umum digunakan mencakup support vector machine (SVM) dan random forest (RF) dengan melibatkan sejumlah variabel seperti penggunaan/tutupan lahan, NDVI, BLFEI, LST, curah hujan dan kelembapan tahunan yang diturunkan dari citra Landsat 8 OLI/TIRS dan data iklim BMKG serta BWS. Kemampuan model dinilai menggunakan kurva area under curve-receiver operating characteristic (AUC-ROC). Hasil penelitian menunjukan Kecamatan Batupuaro dan Murhum merupakan kecamatan yang wilayah administrasinya didominasi oleh zona rentan sebesar 92,54% dan 41, 74% dari luas total wilayah masing-masing

Page 8 of 12 | Total Record : 116