cover
Contact Name
Muhrisun Afandi
Contact Email
risonaf@yahoo.com
Phone
+6282242810017
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat
ISSN : 25983865     EISSN : 26143461     DOI : https://doi.org/10.14421/panangkaran
Jurnal Panangkaran merupakan jurnal Assosiasi Peneliti Agama-agama yang bekerjasama dengan Pusat Penelitian dan Penerbitan LP2M UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai media komunikasi hasil penelitian para peneliti, ilmuwan dan cendekiawan. Tujuannya adalah untuk mewadahi, menyebarluaskan dan mendialogkan wacana ilmiah di bidang penelitian sosial keagamaan. Naskah yang dimuat dalam jurnal berasal dari hasil-hasil penelitian maupun kajian-kajian kritis para peneliti agama atau akademisi yang berkaitan dengan permasalahan kehidupan sosial keagamaan, kelekturan, pendidikan dan keagamaan, agama dan sains. Jurnal terbit setahun 2 kali pada bulan Juni dan Desember.
Articles 161 Documents
Menjadi Saleh di Mayantara: Memaknai 1 Korintus 8:9 dan 10:29 di Era Digital Abdillah, Aldi; Pratama, Judistian
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2022)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v6i1.2792

Abstract

During the high and rapid digital freedom in Indonesia, there is a problem related to ethical matters that is the poor level of digital decency. This article attempts to offer an ethical perspective based on a hermeneutic study of the biblical text. The text analysed is First Epistle of Paul to the Corinthians (1 Cor. 8:9 & 10:29). In 1 Corinthians 8:9 Paul speaks of the freedom of responsibility that the “strong” needs to show to the “weak.” In 1 Corinthians 10:29 the issue of suneidesis (conscience) is the core idea, namely that one needs to pay attention to the conscience of another in all the freedoms they have. The results of the existing interpretations create a theological-ethical construction in the freedom to interact digitally that can be applied multi-religiously in Indonesia. [Di tengah tinggi dan pesatnya kebebasan digital masyarakat Indonesia terselip masalah yang bersangkut paut dengan hal etis, yakni tingkat kesopanan digitalnya yang paling buruk. Artikel ini berusaha menawarkan suatu perspektif etis yang didasarkan pada studi hermeneutik atas teks Kitab Suci. Teks yang dianalisa ialah Pesan Paulus kepada Jemaat Korintus (1 Kor. 8:9 & 10:29). Di 1 Korintus 8:9 Paulus berbicara tentang kebebasan bertanggung jawab yang perlu diperagakan oleh ‘golongan kuat’ terhadap ‘golongan lemah.’ Sedangkan di 1 Korintus 10:29 hal mengenai suneidesis (hati nurani) adalah gagasan intinya, yakni ketika seseorang perlu memperhatikan hari nurani orang lain di dalam segala kebebasan yang ia miliki. Hasil tafsir menawarkan suatu perspektif teologis-etis dalam kebebasan berinteraksi secara digital yang bisa diterapkan secara multi-religius di Indonesia.]
Yang Sakral, Mitos, dan Kosmos: Analisis Kritis atas Fenomenologi Agama Mircea Eliade Fiamrillah Zifamina, Ikhbar
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2022)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v6i1.2806

Abstract

This article deals with the thought of Mircea Eliade in the phenomenology of religion. The method used in this study is the critical analysis for reviewing Eliade’s thinking about The Sacred, Myth, and Cosmos. The critical analysis of three concepts will lead to a context of phenomology of religion from Eliade. The urgency of this research lies in the implications of three concept in the discourse of religions studies, especially in the phenomenology of religion. This study concluded that: 1) Eliade’s concepts about The Sacred, Myth, and Cosmos indicates that phenomenology of religion from hiim was influenced by philosophy, especially phenomenological and hermeneutical, 2) The implications of the three concept in the phenomenology of religion from Eliade point to an approach that suggest the essence of meaning and interconnected of religious phenomenas, such as the supernatural-natural, spiritual-material, or sacred-profane. [Artikel ini membahas tentang pemikiran Mircea Eliade dalam fenomenologi agama. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis-kritis untuk meninjau pemikiran Eliade tentang Yang Sakral, Mitos dan Kosmos. Analisis kritis atas ketiga konsep tersebut akan mengarah pada konteks fenomenologi agama dari Eliade. Sehingga dalam hal ini, urgensi penelitian ini terletak pada implikasi ketiga konsep tersebut pada diskursus studi agama-agama, khususnya fenomenologi agama. Penelitian ini menyimpulkan bahwa : 1) Konsep Eliade tentang Yang Sakral, Mitos dan Kosmos menunjukkan fenomenologi agama Eliade dipengaruhi oleh filsafat, khususnya fenomenologi dan hermeneutika, 2) Implikasi ketiga konsep tersebut dalam fenomenologi agama Eliade mengarah pada pendekatan yang menujukkan esensi makna dan saling terkaitnya fenomena-fenomena agama, seperti yang supernatural-natural, spiritual-material, maupun sakral-profan.]
Tren Dakwah dan Praktik Komodifikasi Agama di Mayantara: Studi Aplikasi Islami Umma Husnudldlon, Auliya Ihza
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2022)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v6i1.2808

Abstract

The presence of internet-based communication technology has changed pre-existing relationships and established adjustments in various aspects of life. The expansion of religious interaction and communication in the media landscape is becoming popular, one of which is through mobile applications. This paper will examine the Umma application, an Islamic mobile application that has been downloaded more than 10 million times and has interesting features that are personalized for the Muslim community, as the tagline Pro Muslim Community Indonesia. Using netnographic methods, literature studies and observations on the Umma application, this study finds that businesses with a religious practice orientation have chosen the Indonesian Muslim community as a potential target market. Users are invited to practice worship mediated by the Umma application and implement a halal lifestyle by transacting through the features offered by Umma. Here, da'wah and Islamic values are presented in a new, practical way, wrapped in modernity and transactional. [Hadirnya teknologi komunikasi berbasis internet telah mengubah relasi-relasi yang sudah ada sebelumnya dan melahirkan penyesuaian di berbagai aspek kehidupan. Perluasan interaksi dan komunikasi keagamaan dalam lanskap media menjadi populer, salah satunya melalui aplikasi seluler. Tulisan ini akan mengkaji aplikasi Umma, salah satu aplikasi seluler Islami yang telah diunduh lebih dari 10 juta kali dan memiliki fitur menarik yang dipersonalisasikan untuk masyarakat muslim, sebagaimana tagline Pro Muslim Community Indonesia. Menggunakan metode netnografi, studi literatur dan observasi pada aplikasi Umma, penelitian ini menemukan bahwa bisnis dengan orientasi praktik keagamaan telah memilih masyarakat muslim Indonesia sebagai target market yang potensial. Para pengguna diajak untuk melakukan praktik ibadah dengan dimediasi oleh aplikasi Umma serta menerapkan gaya hidup halal dengan bertransaksi melalui fitur yang ditawarkan oleh Umma. Disini, dakwah dan nilai-nilai Islam dihadirkan dengan cara yang baru, praktis, dalam balutan modernitas dan transaksional.]
Islam-Lokal dan Lokal-Islam: Menonton Ujang Bustomi dan Om Hao di Youtube pada Masa Pandemi Arafat, M. Yaser; Aziz Faiz, Abd.; Mujibuddin, M
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2022)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v6i1.2809

Abstract

This article aims to describe religious expression on YouTube during the Covid 19 pandemic. Religious activities were relatively limited to social restriction policies with all their dynamics. Pandemic encouraged some people, they are Ujang Busthomi and Om Hao, to express their religiosity in real and on YouTube. The type of this research is qualitative with the data search method using YouTube observations on Kang Ujang Busthomi, account of Ujang Busthomi, and Kisah Tanah Jawa, account of Om Hao. This article finds that the pandemic situation encourages religious actors to express their religious expression awareness through YouTube. The variety of religious expression on YouTube, base on Ujang Busthomi and Om Hao account, revolves around two model. First, the expression of Islam-local style. Second, expression of local-Islam style. [Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan ekspresi keagamaan di YouTube pada masa pandemi. Selama pandemi, pembatasan sosial dengan segala dinamikanya mendorong sebagian orang mengekspresikan religiusitasnya tidak terbatas di ruang-ruang sosial nyata, namun juga di media sosial seperti YouTube. Keterbukaan ini mendorong munculnya ekspresi keagamaan dari tokoh penekun dunia supranatural, Ujang Busthomi dan Om Hao, yang sebelumnya lebih sering diungkapkan tidak secara terbuka. Data artikel ini didapatkan dengan menggunakan observasi akun YouTube Kang Ujang Busthomi dan Kisah Tanah Jawa. Penelitian ini menemukan bahwa situasi pandemi mendorong umat beragama mengekspresikan dimensi keagamaan dari kehidupan mereka secara lebih terbuka dan virtual. Adapun ekspresi keagamaan dua tokoh yang dikaji dapat dibaca menjadi dua model. Pertama, ekspresi keagamaan Islam-lokal. Kedua, ekspresi keagamaan lokal-Islam.]
Tradisi Manganan dalam Tinjauan Sosiologi Hukum Islam: Studi di Desa Rayung, Senori, Kabupaten Tuban Daud, Fathonah K.; Husna, Rizka Firdatul
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2022)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v6i1.2836

Abstract

This study focusses on the manganan tradition in Rayung Village, Senori District, Tuban Regency. The manganan tradition is a tradition that is identical to the thanksgiving ceremony namely, food alms, tahlil, and the sequence of processions that contain moral values ​​or coveyment for the community. This research is a qualitative-field research. At the field, researcher collects data from the informants and then compares the sources with each other. Data analysis in this study used the triangulation method in which collected interview, observations and documentation data were combined and compared with each other. This study concludes, that according to a examination of Islamic law sociology, the manganan tradition in Rayung Village is classified as 'urf sahih because it does not collide with Islamic law and even contains Islamic and society values. The manganan tradition reflects the reciprocal relationship between Islamic law (religion) and people's behavior (tradition/custom) as a constructive relationship for social integration. [Penelitian ini mengkaji tradisi manganan di Desa Rayung Kecamatan Senori Kabupaten Tuban. Tradisi manganan adalah suatu tradisi yang identik dengan upacara syukuran berupa sedekah makanan, tahlil, dan runtutan prosesi acara yang mengandung nilai-nilai moral ataupun nasehat untuk masyarakat. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif-lapangan (field research). Di lapangan, penulis mengumpulkan data dari narasumber kemudian membandingkan antara narasumber satu dengan narasumber yang lainnya. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode triangulasi yang mana data diperoleh dari observasi wawancara dan dokumentasi digabungkan dan dibandingkan satu sama lain. Penelitian ini menyimpulkan, menurut tinjauan sosiologi hukum Islam, tradisi manganan di Desa Rayung tergolong dalam ‘urf shahih karena tidak bertentangan dengan syari’at Islam dan bahkan mengandung nilai-nilai islami dan kemasyarakatan. Tradisi manganan mencerminkan hubungan yang resiprokal antara hukum Islam (agama) dengan tingkah laku masyarakat (tradisi/adat) sebagai hubungan yang konstruktif bagi integrasi sosial.]
Praktik Beragama dan Kearifan Lokal Masyarakat Jawa: Studi Kasus di Andong, Boyolali Isnanto, Muh.
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2022)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v6i1.2847

Abstract

The infiltration of global cultural, the development of information technology, differences and diversity of beliefs, professions, political affiliations, and class make the Andong very open, plural and has a high potential for conflict in religious and social life. This research is a case study using an ethnographic interpretive approach. The results showed that the religious practice and local wisdom of the Javanese people in Andong Boyolali can fortify people's lives from global influences so as to create harmony. There are values in religious practice and local wisdom that are quite basic, namely humans must be sincere in all aspects of life, wasilah Imam Syadzili: “Siro podo nyambut gawe kanggo wasilah kanggo ngadang rezekine Gusti Allah miturut kabisane” (You are working as a message to block the fortune of Allah SWT as much as possible) And also Mbah Idris's moral message: “Jembarno atimu, ciutno prasangkamu, gedekno pangapuromu, cilekno piwalesanmu, entengno ikhlasmu” (Expand your heart, narrow your prejudices, increase your forgiving nature, reduce your grudges, lighten your sincerity). [Masuknya budaya global, perkembangan teknologi informasi, perbedaan dan keberagaman keyakinan, profesi, afiliasi politik dan juga golongan menjadikan wilayah Andong sangat terbuka, plural dan memiliki potensi konflik yang cukup tinggi dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Penelitian ini adalah studi kasus dengan menggunakan pendekatan interpretative etnografik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik beragama dan kearifan lokal masyarakat Jawa di Andong Boyolali dapat membentengi kehidupan masyarakat dari pengaruh global tersebut sehingga dapat menciptakan keharmonisan. Terdapat nilai dalam praktek beragama dan kearifan lokal yang cukup mendasar yaitu manusia harus ikhlas dalam segala aspek kehidupan, wasilah Imam Syadzili : “Siro podo nyambut gawe kanggo wasilah kanggo ngadang rezekine Gusti Allah miturut kabisane”(Kamu pada bekerja sebagai pesan untuk menghadang rejeki Allah SWT semampunya) Dan juga pesan moral Mbah Idris: “Jembarno atimu, ciutno prasangkamu, gedekno pangapuromu, cilekno piwalesanmu, entengno ikhlasmu” (Lebarkan hatimu, sempitkan prasangkamu, besarkan sifat pemaafmu, kecilkan dendammu, ringankan ikhlasmu).]
The Practice of Social Support and Self-Adjustment: Minangkabau Students in Yogyakarta Nurhasanah; Lessy, Zulkipli
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2022)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v6i2.2719

Abstract

This research was mainly based on the number of Minangkabau students who migrated and continued their studies in Yogyakarta so that they required self-adjustment that was different from their place of origin. The purpose of this study is to discover the relationship between social support and self-adjustment among Minangkabau students in Yogyakarta. The null hypothesis states that there is a significant positive relationship between social support and self-adjustment. The higher the social support rises, the higher the individual adjustment makes. The lower the social support obtained, the lower the adjustment will be. The subjects of this study were Minangkabau students in Yogyakarta. The sampling technique in this study used the accidental sampling technique. The method used in this study is quantitative, while the data collection tools used are the social support scale and self-adjustment scale, the data analysis method using analysis prerequisite testing (normality test and linearity test) and hypothesis testing using the correlation of Pearson's product moment with the help of SPSS 23.0 for windows. Based on the research results that have been obtained, it can be seen and concluded that the hypothesis proposed in this study can be accepted, as evidenced by the results of the correlation coefficient of 0.502 and a significance value of 0.000 (p <0.05). This shows that there is a positive and significant relationship between social support and adjustment to Minangkabau students in Yogyakarta. [Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya mahasiswa Minangkabau yang merantau dan melanjutkan studi mereka di Yogyakarta sehingga membutuhkan suatu penyesuaian diri yang berbeda dengan tempat asalnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana hubungan dukungan sosial dengan penyesuaian diri mahasiswa Minangkabau yang berada di Yogyakarta. Hipotesis awal pada penelitian ini adalah terdapat hubungan positif yang signifikan antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri. Semakin tinggi dukungan sosial maka semakin tinggi pula penyesuaian diri individu. Sebaliknya, semakin rendah dukungan sosial yang didapat maka semakin rendah pula penyesuaian dirinya. Subyek penelitian ini adalah mahasiswa Minangkabau yang ada di Yogyakarta. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik accidental sampling. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif sedangkan alat pengumpulan data yang digunakan adalah skala dukungan sosial dan skala penyesuaian diri, metode analisis data dengan menggunakan pengujian prasyarat analisis (uji normalitas dan uji linearitas) dan uji hipotesis dengan menggunakan korelasi dari Pearson product moment dengan bantuan SPSS 23.0 for windows. Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh, maka dapat dilihat dan disimpulkan bahwa hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dapat diterima, dibuktikan dengan hasil koefisien korelasinya sebesar 0,502 dan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05). Hal tersebut menunjukkan bahwa adanya hubungan yang positif dan signifikan antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri pada mahasiswa Minangkabau di Yogyakarta.]
Tradisi Rabu Wekasan dalam Persepsi Milenial: Studi pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial UNNES Fafi Masiroh; Rikha Zulia; Azkia Shofani Aulia
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2022)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v6i2.2852

Abstract

The Rabu Wekasan tradition deal with islamic values because it was made from the assimilation of Javanese and Islamic cultures. The implementation of The Rabu Wekasan tradition gives pro and contra from various circles, this condition impend continuity of the tradition. The cultural action need to be carried out through society participation, especially millennials as the next generation of this country have to save the Rabu Wekasan traditions and rituals. The  information about millennial perceptions of The Rabu Wekasan tradition is very important to explore as a reference about the next actions of them in continuity of The Rabu Wekasan tradition. This study aims to tell the history of The Rabu Wekasan tradition and to analyze the perceptions of the Semarang State University Faculty of Social Sciences students as millenials about The Rabu Wekasan tradition. This research was conducted through observation, interviews, questionnaires and literature study. Sources of data collected are reduced, analyzed then concluded. The results show that The Rabu Wekasan tradition have a beginning from the worship of the Javanese people which then developed into a tradition. This is supported by it name which comes from the Javanese language. Millennial perceptions of The Rabu Wekasan tradition are positive, based on 100 students, 91% said that The Rabu Wekasan tradition is important to take care of, 82% felt responsible for take care of, 75% answered that the tradition is useful because it is a local identity and rich in meaning of life. [Tradisi Rabu Wekasan berkaitan erat dengan nilai-nilai Islam karena lahir dari asimilasi budaya Jawa dan Islam. Tradisi Rabu Wekasan dalam pelaksanaannya menuai pro dan kontra di berbagai kalangan, sehingga mengancam kelestarian tradisi tersebut. Gerakan kultural perlu dilakukan melalui andil masyarakat khususnya milenial sebagai penerus bangsa untuk menjaga tradisi dan ritualnya. Informasi terkait persepsi milenial terhadap Rabu Wekasan sangatlah penting untuk digali dalam rangka menjaga kelestarian tradisi tersebut, dan juga sebagai acuan untuk mengetahui tindakan milenial selanjutnya dalam melestarikan Rabu Wekasan. Penelitian ini bertujuan mengetahui sejarah Rabu Wekasan serta menganalisis persepsi mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Semarang terhadap Rabu Wekasan. Penelitian dilakukan melalui observasi, wawancara, kuesioner dan studi pustaka. Sumber data yang terkumpul direduksi, dianalisis kemudian ditarik kesimpulan. Hasilnya didapatkan bahwa sejarah Rabu Wekasan berasal dari ibadah yang dilakukan masyarakat Jawa kemudian berkembang menjadi tradisi. Hal tersebut didukung dengan namannya yang berasal dari Bahasa Jawa. Persepsi milenial terhadap Rabu Wekasan merupakan persepsi positif, yang ditunjukkan dari 100 mahasiswa, 91% mengatakan bahwa Rabu Wekasan penting untuk dilestarikan, 82% merasa bertanggung jawab untuk melestarikan, 75% menjawab tradisi tersebut bermanfaat karena merupakan identitas lokal serta kaya akan pembelajaran dan makna hidup.]
Elaborating Conflict in Maluku Based on Dialogical Liberative Perspective Muhammad, Iqtamar; Alfian, Andi
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2022)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v6i2.2903

Abstract

The conflict in Maluku is one of the largest religious conflicts that has ever occurred in Indonesia. This study aims to elaborate the relationship between conflict in Maluku and interreligious and cultural dialogue based on a dialogical-liberative perspective. By using the library research method, relying on books and journals related to research questions, this study attempts to discuss forms of interreligious dialogue and pre- and post-conflict culture in Maluku with a liberative dialogue approach. This study argues that liberative dialogue is a relevant approach for inter-religious dialogue in Maluku. The results of this study indicate that liberative dialogue can be an alternative for elaborating the conflict in Maluku. [Konflik di Maluku adalah salah satu konflik agama terbesar yang pernah terjadi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengelaborasi relasi antara konflik di Maluku dengan dialog antaragama dan budaya berdasar pada perspektif dialogis-liberatif. Dengan menggunakan pendekatan library reseach, dengan mengandalkan buku-buku dan jurnal yang berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan penelitian, penelitian ini berusaha mendiskusikan bentuk-bentuk dialog antarumat beragama dan budaya pra dan pasca konflik di Maluku dengan pendekatan dialog liberatif. Penelitian ini berargumentasi bahwa dialog liberatif adalah pendekatan yang relevan bagi dialog antar agama di Maluku. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dialog liberatif bisa menjadi alternatif untuk mengelaborasi konflik di Maluku.]
Agama dan Negara: Konstruksi Agama sebagai Fenomena Marginalisasi Kepercayaan Lokal Minahasa Sulawesi Utara Mandey, Geiby Natalia; Pinatik, Hun
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2022)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v6i2.2927

Abstract

This study explores the relationship between religion and the state which has an impact on the marginalization of local beliefs as a natural thing. The term "reasonable" refers to an ongoing social phenomenon and not a justification claim for the process of marginalization for local beliefs. The focus of this study is on the role of the state and Christianity in constructing religion as a phenomenon of marginalization of local Minahasa beliefs. The followers of local Minahasa beliefs are stigmatized as infidels because they practice rituals that are different from the world religion paradigm; One of them is the paradigm of Christianity. Stigma against adherents of faith is further strengthened through the history of the Indonesian state's policy of limiting the term religion in Indonesia.The state has legitimized the existence of “world religions” or “imported religions” as an intrinsic part of the life of the state; including Christianity. As a result, marginalization of local beliefs has become a natural practice. This research is based on Peter Berger's (1991) "social construction" approach and Sunder John Boopelan's "ritual of humiliation" (2017) to analyze the phenomenon of marginalization as a natural thing. This article uses qualitative research methods with descriptive analytical research to describe the relationship between religion and the state based on the findings. The argument in this study is that the marginalization of local believers is constructed by the relationship between the state as a public policy maker and Christianity as the majority in Minahasa. [Penelitian ini mengeksplorasi relasi agama dan negara yang berdampak pada marginalisasi kepercayaan lokal sebagai hal yang wajar. Istilah “wajar” mengacu pada fenomena sosial yang sedang terjadi dan bukan klaim pembenaran atas proses marginalisasi bagi kepercayaan lokal. Fokus kajian ini pada peran negara dan kekristenan dalam mengkonstruksi agama sebagai fenomena marginalisasi terhadap kepercayaan lokal Minahasa. Para pemeluk kepercayaan lokal Minahasa mendapat stigma kafir karena melakukan praktek ritual yang berbeda dari paradigma world religion (agama dunia); salah satunya paradigma agama Kristen. Stigma terhadap pemeluk kepercayaan semakin diperkuat melalui sejarah kebijakan Negara Indonesia yang membatasi istilah agama di Indonesia. Negara telah melegitimasi eksistensi “agama-agama dunia” atau “agama impor” sebagai bagian intrinsik dalam kehidupan bernegara; termasuk di dalamnya agama Kristen. Akibatnya, marginalisasi terhadap kepercayaan lokal menjadi praktek yang wajar. Penelitian ini berbasis pada pendekatan “konstruksi sosial” Peter Berger (1991) dan “ritual of humiliation” Sunder John Boopelan (2017) untuk menganalisa fenomena marginalisasi sebagai hal yang wajar.  Artikel ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif analitis untuk mendeskripsikan relasi agama dan negara berdasarkan temuan. Argumentasi dalam penelitian ini, bahwa marginalisasi terhadap pemeluk kepercayaan lokal dikonstruksi oleh relasi antara negara sebagai pembuat kebijakan publik dan agama Kristen sebagai mayoritas di Minahasa.]

Page 11 of 17 | Total Record : 161