cover
Contact Name
Erna Ikawati
Contact Email
-
Phone
+6281331656879
Journal Mail Official
jurnalkajiangender@gmail.com
Editorial Address
Jl. T. Rizal Nurdin Km. 4,5 Sihitang Padangsidimpuan, 22733
Location
Kota padangsidimpuan,
Sumatera utara
INDONESIA
Jurnal Kajian Gender dan Anak
ISSN : 25496344     EISSN : 25496352     DOI : https://doi.org/10.24952
Jurnal Kajian Gender dan Anak is published by the Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LPPM, IAIN Padangsidimpuan, North Sumatera. Launched in 2017, the journal has been issued two times a year every June and December. Jurnal Kajian Gender dan Anak is an peer-reviewed journal dedicated to interchange for the results of high quality research in all aspect of gender and child. The journal publishes state-of-art papers in fundamental theory, experiments and simulation, as well as applications, with a systematic proposed method, sufficient review on previous works, expanded discussion and concise conclusion. As our commitment to the advancement of science and technology, the Jurnal Kajian Gender dan Anak follows the open access policy that allows the published articles freely available online without any subscription
Articles 79 Documents
Ujaran Kebencian Di Media Sosial Berbasis Gender: Tinjauan Sosiologi Hukum Darania Anisa; Erna Ikawati
Jurnal Kajian Gender dan Anak Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : IAIN Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/gender.v4i2.3342

Abstract

Sosiologi hukum memfokuskan perhatian sekaligus menganalisis hubungan interaksi antarmanusia dalam suatu masyarakat dan konteks hukum, yaitu bagaimana mereka berkomunikasi, bekerja sama, dan berupaya mengatasi berbagai masalah sosial. Ketika struktur sosial dan budaya masyarakat masih sederhana, maka tata cara mereka berinteraksi satu sama lain juga masih sederhana, dalam kondisi itu tidak terjadi kendala yang ditemukan dalam hubungan sosial. Ketika terjadi perkembangan yang pesat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi terutama di bidang komunikasi dan informasi, maka tata cara dalam interaksi juga mengalami perubahan. Didukung hal tersebut, dewasa ini banyak sekali pemberitaan mengenai ujaran kebencian yang dilakukan di media sosial. Hal ini salah satu bentuk dari percepatan kemajuan teknologi sehingga penyebarluasan informasi dan hal lainnya tidak dapat dibendung dan terkontrol. Penelitian ini bentuk analisa bagaimana sosiologi hukum dalam teori konflik terhadap ujaran kebencian, serta pengaruh masyarakat yang menimbulkan ujaran kebencian, dan bagaimana keterkaitan media sosial terhadap ujaran kebencian serta penanggulangan/mengatasi penyebaran ujaran kebencian.AbstractSociology of law focuses attention as well as analyzes the relationship of interactions between people in a society and the legal context, namely how they communicate, cooperate, and try to overcome various social problems. When the social and cultural structure of society is still simple, the way they interact with each other is still simple, in that condition there are no obstacles to be found in social relations. When there is rapid development in science and technology, especially in the field of communication and information, the procedures for interaction also change. Supported by this, nowadays a lot of news about hate speech is carried out on social media. This is a form of accelerated technological progress so that the dissemination of information and other matters cannot be restrained and controlled. This research is a form of analysis of how the sociology of law in conflict theory on hate speech, as well as the influence of society that causes hate speech, and how social media is connected to hate speech and how to overcome / overcome the spread of hate speech.
PERSEPSI ORANG TUA DALAM MEMANFAATKAN DURASI PENGGUNAAN GADGET UNTUK ANAK USIA DINI SAAT SITUASI PANDEMI COVID-19 Maulana Arafat Lubis, Nashran Azizan, Erna Ikawati
Jurnal Kajian Gender dan Anak Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : IAIN Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/gender.v4i1.2834

Abstract

Akibat pandemi COVID-19 mewajibkan anak-anak agar belajar di rumah karena diberlakukannya lockdown dan physical distancing. Pembelajaran daring/online/jarak jauh. Akibatnya, gadget menjadi media mengatasi masalah bagi anak-anak untuk mengerjakan tugas dari guru. Tujuannya untuk mendeskripsikan persepsi orang tua dalam memanfaatkan durasi penggunaan gadget untuk anak usia dini saat situasi pandemi COVID-19. Ini menggunakan metode kualitatif. Sumber adalah para orang tua di Padangsidimpuan. Pengumpulannya menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data informan melalui media sosial online. Analisis data dilakukan dengan cara deskriptif. Keabsahan data menggunakan teknik triangulasi. Alat bantu menggunakan android atau smartphone. Hasilnya durasi penggunaan gadget pada anak usia dini saat situasi pandemi COVID-19 sudah cukup baik, karena  pelaksanaan 3D (dibutuhkan, didampingi, dipantau) sehingga anak-anak menggunakan gadget untuk belajar, main game, dan menonton berdurasi selama 1-3 jam/hari. Selain itu, harapan kepada pihak sekolah untuk tidak harus memberikan selalu tugas dan guru agar melakukan pembelajaran kepada anak didiknya dengan memberikan video terkait materi pelajaran dengan mengirim ke WhatsApp para orang tua.Kata Kunci: Durasi Penggunaan Gadget, Anak Usia Dini, Pandemi COVID-19AbstractThe effect of COVID 19 pandemic obliged that student to study at home because lockdown and physical distancing were conducted. All schools decided that learning used online system. Therefore gadget has become medium in doing task that was given by teacher. The purpose of this research is to describe parent’s perception in taking advantage of duration of using gadget toward early childhood in COVID 19 pandemic situation. This research used qualitative method and the source of data is parent in Padangsidimpuan. The data collection used observation, interview, and documentation. Data was gotten from informant by online social media. Data analysis was conducted by descriptive way. Data validity used triangulation technique. Research device used smart phone. The research result showed that taking advantage of duration of using gadget is good enough because student was accompanied, needed and monitored so student used gadget to study, to play game and watch that had duration 1-3 hours / day. Furthermore, parent hoped that school party does not always give task and asked to teacher to give the lesson by giving video concerning lesson material by sending to parent’s WhatsApp. Keywords: Duration Use of Gadget, Early Childhood, Covid 19 Pandemic
EKSISTENSI PEREMPUAN BATAK TOBA DITENGAH KEMELUT GENDER DI TAPANULI BAHAGIAN UTARA (ANALISIS SOSIOLOGIS) Harisan Boni Firmando
Jurnal Kajian Gender dan Anak Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : IAIN Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/gender.v5i2.4551

Abstract

Banyaknya kemelut gender yang dialami perempuan tidak menjadi penghalang bagi perempuan untuk tetap berkarya. Penelitian ini bertujuan untuk memahami eksistensi perempuan Batak Toba ditengah kemelut gender. Metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif digunakan sebagai metode dalam penelitian ini. Teknik observasi, wawancara, studi dokumen dan focus group discussion, dilakukan agar data dapat terkumpul sehingga dapat ditarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa walaupun di tengah kemelut gender perempuan dapat tetap eksis melakukan peran gandanya yang didasari oleh kebutuhan yang begitu kompleks di era modern. Berbagai persoalan dan kebutuhan di era modern ini menuntut perempuan mampu mengaktualisasikan dirinya secara maksimal. Eksistensi perempuan Batak Toba dapat dilihat dari aspek sosiologis serta sejarah perjalanan kehidupan perempuan di Tapanuli Bahagian Utara. Pada awalnya perempuan Batak Toba hanya mengurusi ruang privat, ruang publik didominasi peran laki-laki, namun seiring dengan perkembangan zaman kini perempuan telah mengurusi dua ruang secara bersamaan.AbstractThe number of gender conflicts experienced by women does not become a barrier for women to keep working. This study aims to understand the existence of Toba Batak women in the midst of a gender crisis. A qualitative method with a descriptive approach is used as a method in this study. Observation techniques, interviews, document studies and focus group discussions are carried out so that data can be collected so that conclusions can be drawn. The results of the study show that even in the midst of gender turmoil, women can still exist to carry out their dual roles based on the complex needs of the modern era. Various problems and needs in this modern era require women to be able to actualize themselves to the fullest. The existence of Toba Batak women can be seen from the sociological aspect as well as the history of the journey of women's lives in North Tapanuli. At first, Toba Batak women only took care of private spaces, public spaces were dominated by men's roles, but along with the development of today's women have taken care of two spaces simultaneously.
KETIDAKADILAN GENDER TERHADAP ISTERI PETANI DI KEC. PORTIBI KAB. PALUTA Santi Marito Hasibuan
Jurnal Kajian Gender dan Anak Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : IAIN Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/gender.v3i2.2828

Abstract

This study aims to identify forms of gender injustice against farmers' wives in Portibi District, Paluta Regency. The method used in this study is a qualitative-phenomenological method, while data collection is done by interview and observation methods. The results of this study concluded that the wife of a farmer in Portibi District experienced gender inequality. Forms of injustice experienced by farmers' wives occur in refroductive work, subordination, double burden, marginalization and domestic violence.Kata Kunci : Ketidakadilan, gender, isteri petani
POSISI PEREMPUAN DALAM HUKUM KELUARGA ISLAM DI INDONESIA (Analisis Kompilasi Hukum Islam Kajian Gender dan Feminisme) Darania Anisa; Erna Ikawati
Jurnal Kajian Gender dan Anak Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : IAIN Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/gender.v5i1.3730

Abstract

The rise of gender discourse and feminism lately is a reaction to the reality of gender inequality that has created injustice against women in the form of marginalization, subordination, discrimination and even violence that has been happening in the family so far. This discourse is directly proportional to the attitude of voicing the importance of reforming various legal rules that are considered gender biased.This study aims to see the position of women in family law through a review of the rules contained in the Islamic Law Compilation as applied law for the Religious Courts within the framework of a gender equality perspective. Studying the articles related to gender relations in the rules of family life, it appears that there are certain parts that appear to be gender biased, but in general it can be concluded that KHI is sufficient to show equality between men and women in family life. Gender equality is contained in the rules regarding equality in the position of husband and wife, restrictions on polygamy, joint property, divorce, due to divorce, child control and inheritance.Keywords : Women, KHI, Gender EqualityAbstrakMaraknya wacana gender dan feminisme akhir-akhir ini sebagai reaksi atas realitas ketimpangan gender yang telah melahirkan ketidakadilan terhadap perempuan berupa marginalisasi, subordinasi, diskriminasi bahkan kekerasan yang selama ini juga terjadi dalam keluarga. Wacana tersebut berbanding lurus dengan sikap menyuarakan pentingnya pembaruan terhadap berbagai aturan hukum yang dinilai bias gender.Penelitian ini bertujuan untuk melihat posisi perempuan dalam hukum keluarga melalui telaah terhadap aturan-aturan yang terdapat dalam Kompilasi Hukum Islam sebagi hukum terapan bagi Pengadilan Agama dalam kerangka perspektif kesetaraan gender. Telaah pasal-pasal yang terkait dengan relasi gender dalam aturan-aturan hidup berkeluarga, tampak aturan-aturan tersebut masih ada bagian tertentu yang terkesan bias gender, namun secara umum bisa disimpulkan bahwa KHI cukup menampakkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan keluarga. Kesetararaan gender terdapat pada aturan mengenai persamaan posisi suami istri, pembatasan poligami, harta bersama, perceraian, akibat perceraian, penguasaan anak dan kewarisan.
Implementasi Pendidikan Karakter Di Lingkungan Sekolah Hamidah Hamidah
Jurnal Kajian Gender dan Anak Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : IAIN Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/gender.v4i2.3337

Abstract

Mendidik karakter peserta didik merupakan tanggung jawab bersama. Mesti ada kerjasama yang erat antara para pelaku pendidikan di lingkungan keluarga (orangtua), sekolah (kepala sekolah, guru, pembimbing, organisasi kemasyarakatan), dan pemerintah. Semua pihak memikul tanggung jawab melaksanakan pendidikan karakter. Khusus di sekolah, maka peran kepala sekolah, para guru, pembimbing dan karyawan sangatlah penting, karena perannya memposisikan sebagai: 1) Konservator (pemeliharaan), 2), Inovator (pengembangan), 3) Transmit (penerus), 4) Transformator (penerjemaah), 5), Organisator (penyelenggara) untuk membantu peserta didik agar menjadi atau memiliki sifat peduli, berpendirian dan bertanggung jawab.AbstractEducating the character of students is a shared responsibility. There must be close collaboration between education actors in the family environment (parents), schools (principals, teachers, mentors, community organizations), and the government. All parties bear the responsibility of carrying out character education. Especially in schools, the role of the principal, teachers, supervisors and employees is very urgent, because their roles are positioned as: 1) Conservator (maintenance), 2), Innovator (development), 3) Transmit (successor), 4) Transformer (interpreter) ), 5), the organizer (organizer) to help students to become or have a caring, opinionated and responsible character. 
ANALISIS KEDEKATAN ORANG TUA DAN PERKEMBANGAN KECERDASAN SOSIAL PADA ANAK BROKEN HOME SANTRI PONDOK PESANTREN FALAHUSSYABAB YOGYAKARTA Khasbi Ainun Najib; Liza Savira
Jurnal Kajian Gender dan Anak Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : IAIN Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/gender.v5i2.4552

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kedekatan orang tua terhadap anaknya yang mempengaruhi perkembangan kecerdasan sosial pada anak-anak pondok pesantren Falahussyabab. Kecerdasan sosial menjadi hal yang sangat penting dikarenakan pada dasarnya manusia harus saling bergantung satu sama lain dan tidak bisa hidup sendiri. Banyak aktivitas manusia yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Banyaknya aktifitas sosial yang terjadi dimasyarakat dan semakin sedikitnya kecerdasan sosial yang terjadi. Lemahnya perkembangan kecerdasan sosial pada diri anak pondok pesantren Falahussyabab disebabkan anak memiliki latar belakang dari keluarga broken home. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan dokumentasi. Subjek dalam penelitian ini yaitu santri pondok pesantren Falahussyabab dengan kriteria usia 6-13 tahun yang berjumlah 75 santri. Kemudian teknik pengumpulan data yaitu menggunakan teknik observasi, wawancara. Selanjutnya hasil temuan dari penelitian ini memperoleh kesimpulan bahwa perkembangan kecerdasan sosial anak-anak santri Falahussyabab secara umum disebabkan dari latar belakang keluarga broken home dan kurang kasih sayang dari kedua orang tua.AbstractThis study aims to determine the relationship between the closeness of parents to their children that affect the development of social intelligence in the children of the Falahussyabab Islamic boarding school. Social intelligence is very important because basically humans have to depend on each other and cannot live alone. Many human activities are carried out in daily life. The number of social activities that occur in the community and the less social intelligence that occurs. The weak development of social intelligence in the children of the Falahussyabab Islamic boarding school is due to the child having a background from a broken home family. This research is a type of descriptive qualitative research with data collection techniques in the form of observation, interviews and documentation. The subjects in this study were the students of the Falahussyabab Islamic boarding school with the age criteria of 6-13 years, totaling 75 students. Then the data collection technique is using observation techniques, interviews. Furthermore, the findings from this study concluded that the development of social intelligence of Falahussyabab students was generally caused by a broken home family background and lack of affection from both parents.
MULTI PERAN WANITA KARIR PADA MASA PANDEMI COVID-19 Ricka Handayani
Jurnal Kajian Gender dan Anak Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : IAIN Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/gender.v4i1.2830

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis multi peran wanita karir pada masa pandemi covid-19 ini. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana peran wanita karir dalam menjalankan aktivitas mereka selain menjadi wanita karir, ibu rumah tangga, dan juga sebagai guru dalam mendampingi anak belajar daring. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi dan wawancara yang disebarkan kepada sumber data (informan). Intsrumennya berupa panduan wawancara dan dokumentasi. Informan ada 33 orang yang berasal dari kalangan dosen dan pegawai di lingkungan Institut Agama Islam Negeri Padangsidimpuan.Hasil menunjukkan bahwa informan merasa kesulitan pada masa pandemi covid-19 ini dengan tambahan peran sebagai guru pendamping untuk anak-anak yang sedang belajar di rumah. Ada kesulitan membagi waktu karena jam belajar anak sama dengan jam kerja si Ibu.Berdasarkan cara informan dalam mengatasi multiperannya salah satunya tetap membagi waktu seefektif dan seefisien mungkin dan  membuat perencanaan pekerjaan setiap harinya. Sehingga multiperan wanita karir dapat terlaksana dengan baik dan seimbang baik dalam urusan pekerjaan, rumah tangga, dan tugas belajar anak.Kata Kunci: Multi peran, wanita karir, Pandemi Covid-19 AbstractThis research aims to analyze the multi-role of career women in the Covid-19 pandemic. The problem of the research is how the role of career women carrying their activities besides being a career woman, housewife, and a teacher assisting children learn online. This research uses a qualitative descriptive approach. Data collection techniques used are documentation and interviews distributed to data sources (informant). The instrument in the form of interview guides and documentation. 33 informants in this research came from lecturers and employees within the State Islamic Institute Padangsidimpuan.The results showed that the informants found it difficult during the covid-19 pandemic with an additional role as a co-teacher for children who were studying at home. There is difficulty in dividing time because the child's studying hours are the same as the mother's work hours.Based on the results, there are several ways by informants in overcoming the difficulties of carrying out the role of one of them is still to divide the time as effectively and efficiently as possible and make work plans every day. So that the multi roles carried out by career women can be well implemented and balanced both in matters of work, household, and children's studying tasks.Keywords: multi-role, career woman, Covid-19 Pandemic
PENGARUH FILM HOROR TERHADAP PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN DAN EMOSIONAL ANAK Rizka Putri Ayuning Lestari Fajar; Triana Lestari
Jurnal Kajian Gender dan Anak Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : IAIN Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/gender.v5i1.3731

Abstract

Horror films are one of the film genres that are in great demand by many people, one of which is children. This study aims to see how horror films affect the personality and emotional conditions of children who watch them. The method used in this research is a case study method with a type of qualitative research. Subjects who became respondents in this study were children of high grade elementary school age, namely 11-13 years old. The data collection technique was done by means of observation, interview and documentation. The results showed that children who watched horror films would experience anxiety, fear, sleeplessness, thoughts that were not positive or unclear, acts of wanting to be left alone, imagining scary things to committing acts of violence either to others or to themselves. The disturbance that occurs depends on the level of the gloomy of a film. A good quality film shows an image and sound very clearly so that children will easily capture and record these impressions in their minds. This is what further causes various personality and emotional disorders to the child if the child is allowed to continue watching horror films without parental supervision.Keywords : Children, Emotional, Horror Movies, PersonalitiesAbstrakFilm horor menjadi salah satu genre film yang banyak diminati oleh banyak orang salah satunya anak-anak. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana pengaruh film horor pada kondisi kepribadian dan emosional anak yang menontonnya. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu metode studi kasus dengan jenis penelitian kualitatif. Subjek yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah anak-anak usia sekolah dasar kelas tinggi yaitu sekisar 11-13 tahun. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan anak yang menonton film horor akan mengalami kecemasan, ketakukan, kesulian tidur, pemikiran yang tidak positif atau tidak jernih, tindak ingin ditinggal sendiri, membayangkan hal-hal menyeramkan hingga melakukan tindak kekerasan baik pada orang lain atau dirinya sendiri. Gangguan yang terjadi tergantung pada tingkat keseraman sebuah film. Kualitas film yang baik menayangkan sebuah gambar dan suara dengan sangat jelas sehingga anak akan mudah menangkap dan merekam tayangan tersebut pada pikirannya. Hal inilah yang selanjutnya membuat berbagai gangguan pada kepribadian dan emosional anak jika anak dibiarkan terus menerus menonton film horor tanpa ada pengawasan orang tua.
Kewajiban Orang Tua Terhadap Anak (Kajian Menurut Hadis) Tatta Herawati Daulae
Jurnal Kajian Gender dan Anak Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : IAIN Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/gender.v4i2.3338

Abstract

Orang tua memiliki kewajiban terhadap anak-anaknya, mengasuh, memelihara dan mendidiknya agar tumbuh generasi yang sehat dan kuat fisiknya, generasi yang cerdas dan jujur, generasi yang bersih hatinya serta ikhlas, generasi yang beriman dan beramal sholeh dan berbakti kepada kedua orang tua. Setiap orang tua memiliki keinginan agar keturunannya menjadi anak-anak yang baik mendapat keselamatan dunia akhirat, maka untuk memperoleh keinginan tersebut orang tua dituntut melaksanakan kewajibannya dengan ikhlas dan jujur. Diantara kewajiban tersebut dijelaskan dalam hadis rasulullah SAW, bahwa sejak anak lahir dimulai dengan mengazankannya, mengiqomatkan, menyusui anak, menyembelih aqiqah, mencukur rambutnya, memberikan nama yang baik, melakukan penyunatan, mendidik anak dengan baik, memberikan makanan yang halal dan menikahkan anak. Dalam mendidik anak orang tua berkewajiban memberikan pendidikan aqidah, pendidikan ibadah, akhlak, social, intelektual, fisik, psikis, seksual dan pendidikan keterampilan.AbstractParents have an obligation to their children, nurture and educate them in order to grow  healthy and physically strong generation, smart and honest generation, generation that is clean in heart and sincere, generation that believe and ds good deeds and is devoted to both parents. Every parent has a desire that their offspring become good children to receive the salvation of the hereafter, so to get this desire parents are required to carry out their obligations sincerely and honestly. Among these obligations, it is explained in the hadith of the Prophet Muhammad, that from the time a child is born, it starts with reading azan, iqomah, breastfeeding children, slaughter aqiqah, shaving his hair, giving a good name, performing circumcision, educating children properly, providing halal food and marrying children. In educating children, parents are obliged to provide aqidah education, worship education, morals, social, intellectual, physical, psychological, sexual and skills education.