cover
Contact Name
Pepi Sugianto Umar
Contact Email
pepisugianto@poltekkesgorontalo.ac.id
Phone
+6282394946611
Journal Mail Official
pepisugianto@poltekkesgorontalo.ac.id
Editorial Address
Jalan Taman Pendidikan No. 36 Kel. Moodu Kec. Kota Timur Kota Gorontalo
Location
Kab. gorontalo,
Gorontalo
INDONESIA
JOURNAL HEALTH AND NUTRITIONS
ISSN : 24078484     EISSN : 25497618     DOI : -
Jurnal Health and Nutritions adalah terbitan berkala yang memuat artikel penelitian ilmiah di bidang gizi dan kesehatan. Jurnal Health and Nutritions diharapkan dapat menjadi media untuk menyampaikan temuan dan inovasi ilmiah di bidang gizi dan kesehatan kepada para praktisi di bidang gizi, baik yang bergerak di bidang pendidikan gizi maupun yang bergerak di bidang pelayanan gizi di rumah sakit dan puskesmas, serta para praktisi gizi di dinas kesehatan maupun institusi-institusi lain. Jurnal Health and Nutritions diterbitkan 2 kali dalam setahun (bulan Februari dan Agustus) oleh Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Gorontalo. Jurnal ini merupakan jurnal peer-reviewed dan open access journal yang berfokus pada ilmu gizi dan kesehatan.
Articles 196 Documents
ANALISIS KANDUNGAN ZAT BESI DAN UJI ORGANOLEPTIK PADA MUFFIN INOVATIF DENGAN SUBSTITUSI TEPUNG BAYAM MERAH DAN PUREE PISANG AMBON Vina Aprilia; M. Rachmat Kasmad; Ilham Kamaruddin
JOURNAL HEALTH AND NUTRITIONS Vol 12, No 1 (2026): Health and Nutritions
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jhn.v12i1.1668

Abstract

Iron is an essential mineral that plays a crucial role in hemoglobin formation. Inadequate iron intake may increase the risk of anemia, particularly among adolescent girls. One strategy to improve iron intake was through food innovation based on local ingredients. The study was aimed to analyze iron content, iron contribution of muffin, and organoleptic acceptance of innovative muffins substituted with red spinach flour and ambon banana puree. The experimental study employed a Completely Randomized Design (CRD) consisting of four formulations namely F0 (100%:0%:0%), F1 (80%:10%:5%), F2 (70%:20%:10%), and F3 (55%:30%:15%) for flour: red spinach flour: ambon banana puree. Iron content was analyzed using laboratory methods, while organoleptic evaluation assessed color, texture, smell and taste. The results showed significant differences in iron content among formulations, with F3 having the highest iron content and F0 the lowest, indicating that higher substitution levels of red spinach flour and ambon banana puree positively increased muffin iron content. Formulations 2 and 3 were able to meet the target 30% of daily iron requirements for adolescent girls with two cup muffin while remaining within the recommended energy limits for snacks. Organoleptic test results revealed that F2 was the best formulation, demonstrating the highest panelist preference and the most balanced sensory characteristics. The conclusion of the study was the substitution of red spinach flour and Ambon banana puree in muffins increases iron content, with F3 having the highest level, F2 and F3 were able to meet approximately 30% of iron requirements as snack options, while formulation F2 was considered the best due to its highest level of acceptability and most optimal sensory characteristics.Zat besi merupakan mineral esensial yang berperan penting dalam pembentukan hemoglobin. Kekurangan zat besi dapat meningkatkan risiko anemia, khususnya pada remaja putri. Upaya peningkatan asupan zat besi dapat dilakukan melalui inovasi pangan berbasis bahan lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan zat besi, pemenuhan zat besi muffin, serta penerimaan organoleptik muffin inovatif dengan substitusi tepung bayam merah dan puree pisang ambon. Penelitian ini menggunakan desain eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas empat formulasi, yaitu F0 (100%:0%:0%), F1 (80%:10%:5%), F2 (70%:20%:10%), dan F3 (55%:30%:15%) untuk perbandingan tepung terigu: tepung bayam merah: puree pisang ambon. Analisis kandungan zat besi dilakukan melalui analisis laboratorium, sedangkan uji organoleptik meliputi aspek warna, tekstur, aroma, dan rasa. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan kandungan zat besi pada setiap formulasi, dengan nilai tertinggi pada F3 dan terendah pada F0, yang menandakan bahwa peningkatan substitusi tepung bayam merah dan puree pisang ambon berpengaruh terhadap peningkatan kadar zat besi muffin. Formulasi 2 dan 3 mampu memenuhi target kontribusi 30% kebutuhan zat besi harian remaja putri dengan dua cup muffin dan tetap sesuai dengan batas energi makanan selingan. Hasil uji organoleptik menunjukkan bahwa F2 merupakan formulasi terbaik dengan tingkat penerimaan panelis tertinggi dan keseimbangan karakteristik sensorik yang optimal. Kesimpulan penelitian ini adalah substitusi tepung bayam merah dan puree pisang ambon pada muffin meningkatkan kadar zat besi dimana F3 memiliki kandungan tertinggi, F2 dan F3 mampu memenuhi sekitar tiga puluh persen kebutuhan zat besi sebagai makanan selingan, serta formulasi F2 menjadi yang terbaik karena paling disukai dan memiliki karakteristik sensorik paling optimal.
MENGENAL IDDSI (INTERNATIONAL DYSPHAGIA DIET STANDARDISATION INITIATIVE) MODIFIKASI TEKSTUR MAKANAN UNTUK DISFAGIA: LITERATUR REVIEW Wawang Suswan; Listiyani Eka Tyastuti; Meika Rahmawati Arifah
JOURNAL HEALTH AND NUTRITIONS Vol 12, No 1 (2026): Health and Nutritions
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jhn.v12i1.1603

Abstract

The modification of food and beverage textures represent a safe and efficacious means to ensure the nutrition requirements of patients with dysphagia. However, there are discrepancies between countries in regard to the standards and levels of texture modification diets. In 2015, the International Dysphagia Diet Standardisation Initiative (IDDSI) was introduced, comprising standardised terminology and definitions for the description of Texture-Modified Food (TMF) and Thickened Fluid (TF) for individuals with dysphagia. The use of IDDSI as a universal terminology of TMF and TL among countries to prevent confusion of fluid/food levelling identification. IDDSI employs three descriptors to identify the level texture modification, comprised of number, colour, and label. There were eight levels of IDDSI (level 0-7) for both TMF and TF. The IDDSI measurement system employs a range of easy to access instruments, including spoons, forks, chopsticks, syringes, and fingers. IDDSI has been adopted by countries in Asia, but Indonesia has not implemented IDDSI. Indonesia traditional food and beverages, such as bubur sumsum or hospital enteral formula can be measured easily with IDDSI framework. Thus, there was opportunity to adopt IDDSI framework for assessing Indonesian food. Further research is required, particularly within the context of hospital food services and should aim to describe the level of hospital foods and beverages based on IDDSI, and to develop thickeners utilising traditional ingredients for enhancing nutrition care of people with dysphagia.Modifikasi tekstur makanan dan minuman merupakan cara untuk memenuhi kebutuhan gizi dalam pengelolaan disfagia secara aman. Namun terdapat perbedaan di beberapa negara mengenai standar serta tingkatan dalam modifikasi tekstur diet. The International Dysphagia Diet Standardization Initiative (IDDSI) mulai diperkenalkan pada tahun 2015, berisi tentang terminologi standar dan definisi untuk menggambarkan modifikasi tekstur makanan dan minuman untuk pasien disfagia. IDDSI dapat digunakan sebagai standar universal untuk menghindari kebingungan akibat perbedaan level dan penamaan di tiap negara. Ada 3 indikator untuk mengidentifikasi tingkatan tekstur diet dalam IDDSI yaitu nomor, warna, dan label, dikelompokkan menjadi delapan level (level 0-7) untuk tekstur makanan modifikasi dan kekentalan cairan. Pengukuran IDDSI menggunakan alat sederhana yaitu sendok, garpu, sumpit, syringe serta jari tangan. IDDSI sudah diadopsi oleh banyak negara di Asia, namun saat ini belum ada penerapan kerangka kerja IDDSI dalam pengelolaan disfagia di Indonesia. Beberapa makanan dan minuman seperti bubur sumsum dan formula enteral Rumah Sakit (RS) dapat diukur menggunakan kerangka kerja IDDSI. Hal ini menggambarkan adanya peluang untuk mengadopsi kerangka kerja IDDSI pada makanan dan minuman yang umum di Indonesia. Perlu penelitian lebih lanjut dalam menggambarkan level makanan dan minuman standar RS sesuai kerangka kerja IDDSI serta pembuatan pengental dengan bahan tradisional untuk meningkatkan asuhan gizi dan pelayanan makan disfagia.
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN PARTISIPASI IBU DI POSYANDU DENGAN STATUS GIZI BALITA Winda Surita; Zulfiana Dewi; Rahmani Rahmani; Magdalena Magdalena
JOURNAL HEALTH AND NUTRITIONS Vol 12, No 1 (2026): Health and Nutritions
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jhn.v12i1.1644

Abstract

Stunting remains a significant problem in the Tandilang Community Health Center area, with a prevalence of 23% in 2024. Although community participation in Posyandu activities has increased, geographical barriers and limited food access are suspected to affect the nutritional status of children. The study aimed to analyze the relationship between maternal knowledge and participation in Posyandu with the nutritional status of children aged 12-59 months. The study used an analytical observational design with a cross-sectional approach. The population was all children under five in the working area, with a subject of 118 children selected by purposive sampling. Data were collected from September to November 2025 through questionnaire interviews and anthropometric measurements. Data analysis used the Chi-Square test. The result of study revealed that the majority of mothers had good knowledge (83.90%) and actively participated in Posyandu (82.20%). However, the proportion of stunted (40.68%) and severely stunted (6.78%) children was high. Bivariate analysis showed no significant relationship between maternal knowledge (p=0.919), Posyandu participation (p=0.769) and the nutritional status of children. The conclusion was showed that high maternal knowledge and active participation do not guarantee optimal nutritional status in children, indicating a knowledge-practice gap influenced by external factors such as economic and environmental conditions. It is recommended that health centers develop comprehensive nutrition programs, including sanitation improvement and integration of infectious disease management.Stunting masih menjadi masalah di wilayah kerja Puskesmas Tandilang dengan prevalensi 23% pada tahun 2024. Meskipun partisipasi masyarakat dalam Posyandu meningkat, hambatan geografis dan akses pangan diduga memengaruhi status gizi balita. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan pengetahuan dan partisipasi ibu di Posyandu dengan status gizi balita usia 12-59 bulan. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi adalah seluruh balita di wilayah kerja, dengan subjek sebanyak 118 balita yang dipilih secara purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan pada bulan September-November 2025 melalui wawancara kuesioner dan pengukuran antropometri. Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas ibu memiliki pengetahuan baik (83,90%) dan berpartisipasi aktif di Posyandu (82,20%). Namun, proporsi balita pendek (40,68%) dan sangat pendek (6,78%) masih tinggi. Analisis bivariat menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara pengetahuan ibu (p=0,919) dan partisipasi Posyandu (p=0,769) dengan status gizi balita. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa tingginya pengetahuan dan partisipasi aktif ibu belum menjamin status gizi balita optimal, mengindikasikan kesenjangan pengetahuan-praktik yang dipengaruhi faktor eksternal seperti kondisi ekonomi dan lingkungan. Disarankan Puskesmas mengembangkan program gizi komprehensif, termasuk perbaikan sanitasi dan integrasi penanganan penyakit infeksi.
ASUPAN PROTEIN DAN CAIRAN DENGAN KEJADIAN EDEMA PERIFER PASIEN DENGAN HEMODIALISIS RUTIN Nirmalasari Nirmalasari; Yade K. Yasin; Hasmyati Hasmyati
JOURNAL HEALTH AND NUTRITIONS Vol 12, No 1 (2026): Health and Nutritions
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jhn.v12i1.1664

Abstract

Chronic kidney disease (CKD) is a disorder of kidney function that can cause fluids, electrolytes, waste and metabolic toxins to accumulate in the body, requiring the patient to undergo hemodialysis therapy as a substitute for kidney function. In addition, CKD patients must monitor their diet, including protein and fluid intake, to prevent edema. The study aimed to determine the relationship between protein and fluid intake and incidence of peripheral edema in patients undergoing routine hemodialysis at Akademis Jaury Jusuf Putera Makassar Hospital. The research design used was analytical observational with a cross-sectional approach, involving 38 subject that met the inclusion criteria. Data on intake were collected using a 24-hour recall method, while data on peripheral edema were obtained through clinical examination. The correlational test was used the Spearman Rank test to determine the relationship between variables. In the study, the result of the univariate analysis showed that protein and fluid intake in patients undergoing routine hemodialysis were mostly in the aduquate categories, with some patients in the excessive category. Meanwhile, fluid intake was mostly in the excessive category, although some patients were still in the low and adequate categories. The correlational analysis showed a moderate relationship between protein intake and the occurrence of peripheral edema with a negative correlation direction (r=-0,355; p=0,029), and a strong relationship between fluid intake and the occurrence of peripheral edema with a positive correlation direction (r=0,692; p<0,001). Low protein intake was associated with the occurrence of peripheral edema, and excessive fluid intake was associated with the occurrence of peripheral edema.Penyakit ginjal kronik (PGK) adalah gangguan fungsi ginjal yang dapat menyebabkan cairan, elektrolit, limbah dan racun sisa metabolisme menumpuk dalam tubuh sehingga pasien memerlukan terapi hemodialisis sebagai pengganti ginjal. Selain itu, pasien PGK harus memperhatikan pengaturan diet termasuk pada asupan protein dan cairan untuk mencegah terjadinya edema. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara asupan protein dan cairan dengan kejadian edema perifer pasien dengan hemodialisis rutin di RS Akademis Jaury Jusuf Putera Makassar. Desain penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional dan melibatkan 38 subjek yang memenuhi kriteria inklusi. Pengumpulan data asupan dilakukan dengan metode recall 24 jam, sedangkan data edema perifer dilakukan dengan pemeriksaan klinis. Uji hubungan yang digunakan adalah uji Spearman Rank untuk mengetahui hubungan antar variabel. Pada penelitian ini didapatkan hasil analisis univariat pada asupan protein dan cairan pasien yang menjalani hemodialisis rutin mayoritas dalam kategori adekuat dan rendah dan terdapat beberapa pasien dalam kategori berlebih, sedangkan pada asupan cairan mayoritas dalam kategori berlebih, namun masih terdapat beberapa pasien dalam kategori rendah dan adekuat. Hasil analisis korelatif terdapat hubungan yang cukup antara asupan protein dengan kejadian edema perifer dengan arah korelasi negatif (r=-0,355; p=0,029), dan terdapat hubungan yang kuat antara asupan cairan dengan kejadian edema perifer dengan arah korelasi positif (r=0,692; p<0,001). Asupan protein yang rendah berhubungan dengan kejadian edema perifer, dan asupan cairan yang berlebih berhubungan dengan kejadian edema perifer.
HUBUNGAN FAKTOR SOSIAL EKONOMI, PERNIKAHAN DINI TERHADAP STATUS GIZI IBU DAN ANAK Riri Rezkyani Akbar; Muhammad Rachmat Kasmad; Poppy Elisano Arfanda; Hadijah Alimuddin; Nurul Ichsania
JOURNAL HEALTH AND NUTRITIONS Vol 12, No 1 (2026): Health and Nutritions
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jhn.v12i1.1665

Abstract

Early marriage remains a phenomenon that affects maternal health and child nutritional status, particularly in areas with low socioeconomic conditions. The study was aimed to determine the relationship between socioeconomic factors and early marriage with the nutritional status of mothers and children at the Antang Final Disposal Site (TPA Antang), Makassar. The study employed a cross-sectional design with a total sample of 20 respondents selected using a total sampling technique. Data were collected through interviews using structured questionnaires, anthropometric measurements of mothers and children, and supporting data from posyandu records. Data were analyzed using univariate and bivariate analyses with the Chi-Square test. The results showed that most mothers were married at the age of 14–16 years. Maternal nutritional status based on Body Mass Index (BMI) was predominantly underweight (65%). Child nutritional status based on weight-for-age indicated that most children had normal nutritional status, although undernutrition and severe undernutrition were still found. Bivariate analysis revealed that socioeconomic factors were not significantly associated with maternal or child nutritional status (p>0.05). Age at early marriage was also not significantly associated with maternal nutritional status (p>0.05). Although no statistically significant relationships were found, the study indicates a tendency for mothers who married at a very young age and came from low socioeconomic backgrounds to have poorer nutritional status. Nutrition education, prevention of early marriage, and improvement of family socioeconomic support are necessary.Pernikahan dini masih menjadi fenomena yang berdampak terhadap kesehatan ibu dan status gizi anak, terutama pada wilayah dengan kondisi sosial ekonomi rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor sosial ekonomi dan pernikahan dini terhadap status gizi ibu dan anak di TPA Antang Makassar. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan jumlah subjek sebanyak 20 responden yang diambil menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara menggunakan kuesioner, pengukuran antropometri ibu dan anak, serta data pendukung dari Posyandu. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ibu menikah pada usia 14–16 tahun. Status gizi ibu berdasarkan indeks massa tubuh (IMT) didominasi oleh kategori kurus (65%). Status gizi anak berdasarkan indikator berat badan menurut umur (BB/U) menunjukkan bahwa sebagian besar anak berada pada kategori gizi baik, namun masih ditemukan gizi kurang dan gizi buruk. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa faktor sosial ekonomi tidak berhubungan signifikan dengan status gizi ibu (p>0,05) maupun status gizi anak (p>0,05). Umur saat menikah juga tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan status gizi ibu (p>0,05). Meskipun tidak terdapat hubungan yang signifikan secara statistik, penelitian ini menunjukkan kecenderungan bahwa ibu yang menikah pada usia sangat muda dan berasal dari keluarga dengan sosial ekonomi rendah memiliki status gizi yang kurang optimal. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukasi gizi, pencegahan pernikahan dini, serta peningkatan dukungan sosial ekonomi keluarga.
HUBUNGAN TINGKAT PENDAPATAN KELUARGA DAN POLA MAKAN DENGAN STATUS GIZI BALITA Nur Ilmi Masnur; M. Rachmat Kasmad; Poppy Elisano Arfanda; Nurfaidah Nurfaidah; Kartini Kartini
JOURNAL HEALTH AND NUTRITIONS Vol 12, No 1 (2026): Health and Nutritions
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jhn.v12i1.1701

Abstract

Nutritional status of toddlers is an important indicator of child health influenced by socioeconomic factors and dietary patterns. The study was aimed to analyze the relationship between family income level and dietary patterns with the nutritional status of toddlers. The research employed a quantitative method with a cross-sectional design and a descriptive correlational approach. The sample consisted of 58 toddlers determined using the slovin formula. The variables measured included family income level and dietary patterns as independent variables and nutritional status of toddlers as the dependent variable. Data were collected through structured questionnaires and anthropometric measurements. The results showed that the majority of families had low income (94.8%), and many toddlers had moderate dietary patterns (55.2%). The nutritional status of toddlers was categorized into good nutrition (43.1%), undernutrition (41.4%), and severe malnutrition (15.5%). Statistical analysis using the chi-square test indicated that there was no significant association between family income and the nutritional status of toddlers (p=0.623), and no significant association between dietary patterns and nutritional status (p=0.774). In conclusion, the nutritional status of toddlers is not only influenced by family income and dietary patterns, but also by other factors such as parenting practices, nutritional knowledge, and environmental conditions. It is recommended to improve parental nutrition education, enhance feeding practices, and strengthen health programs as well as integrative environmental interventions to improve the nutritional status of toddlers. Status gizi balita merupakan indikator penting kesehatan anak yang dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi dan pola makan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat pendapatan keluarga dan pola makan dengan status gizi balita. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional serta pendekatan deskriptif korelasional. Sampel penelitian terdiri dari 58 balita yang ditentukan menggunakan rumus Slovin. Variabel yang diukur meliputi tingkat pendapatan keluarga dan pola makan sebagai variabel independen serta status gizi balita sebagai variabel dependen. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan pengukuran antropometri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga memiliki pendapatan rendah (94,8%), dan sebagian besar balita memiliki pola makan sedang (55,2%). Status gizi balita dikategorikan menjadi gizi baik (43,1%), gizi kurang (41,4%), dan gizi buruk (15,5%). Analisis statistik menggunakan uji chi-square menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pendapatan keluarga dengan status gizi balita (nilai p=0,623), serta tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pola makan dengan status gizi (nilai p=0,774). Kesimpulan, status gizi balita tidak hanya dipengaruhi oleh pendapatan keluarga dan pola makan, tetapi juga faktor lain seperti pola asuh pengasuhan, pengetahuan gizi dan kondisi lingkungan. Disarankan perlu peningkatan edukasi gizi kepada orang tua, perbaikan pola asuh dalam pemberian makan anak, serta dukungan program kesehatan dan perbaikan lingkungan secara terpadu guna meningkatkan status gizi balita.