cover
Contact Name
Pepi Sugianto Umar
Contact Email
pepisugianto@poltekkesgorontalo.ac.id
Phone
+6282394946611
Journal Mail Official
pepisugianto@poltekkesgorontalo.ac.id
Editorial Address
Jalan Taman Pendidikan No. 36 Kel. Moodu Kec. Kota Timur Kota Gorontalo
Location
Kab. gorontalo,
Gorontalo
INDONESIA
JOURNAL HEALTH AND NUTRITIONS
ISSN : 24078484     EISSN : 25497618     DOI : -
Jurnal Health and Nutritions adalah terbitan berkala yang memuat artikel penelitian ilmiah di bidang gizi dan kesehatan. Jurnal Health and Nutritions diharapkan dapat menjadi media untuk menyampaikan temuan dan inovasi ilmiah di bidang gizi dan kesehatan kepada para praktisi di bidang gizi, baik yang bergerak di bidang pendidikan gizi maupun yang bergerak di bidang pelayanan gizi di rumah sakit dan puskesmas, serta para praktisi gizi di dinas kesehatan maupun institusi-institusi lain. Jurnal Health and Nutritions diterbitkan 2 kali dalam setahun (bulan Februari dan Agustus) oleh Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Gorontalo. Jurnal ini merupakan jurnal peer-reviewed dan open access journal yang berfokus pada ilmu gizi dan kesehatan.
Articles 188 Documents
PENGARUH MODIFIKASI LAUK NABATI TERHADAP CITA RASA DAN DAYA TERIMA MENU MAKAN PAGI PASIEN RAWAT INAP Rosida, Oktania; Akhriani, Mayesti; Junita, Dera Elva; Wahyudi, Dian Arif
JOURNAL HEALTH AND NUTRITIONS Vol 11, No 2 (2025): Health and Nutritions
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jhn.v11i2.1342

Abstract

The acceptability of hospital food is reflected by the amount of food left over. High levels of leftover food result inadequate nutrition for patients and economy aspect indicate wasted costs, which makes the food budget inefficient and ineffective. The study was aimed to determine the effect of plant-based dish modification on the taste and acceptability of the breakfast menu for Class III inpatient patients. The study was quantitative that used a quasi-experimental design with a static group comparison design, conducted in October 2024, at Batin Mangunang Regional General Hospital. The sample consisted of all Class III soft food diet patients with total 30 respondents using purposive sampling as the sampling technique. The total population was 30 patients. Bivariate analysis in this study used the Wilcoxon test. Data collected was using the instrument questionnaire. The results of the study showed that there was an effect of modifying the plant-based dish (tofu) on acceptability and preference levels for appearance (p-value 0.000), color (p-value 0.001), shape (p-value 0.001), portion (p-value 0.001), presentation (p-value 0.001), taste (p-value 0.001), aroma (p-value 0.001), cooking level (p-value 0.001), seasoning (p-value 0.001), and temperature (p-value 0.001). Based on the results of the analysis, it was concluded that there was a relationship between modifications of the vegetable side dish menu of tofu and the acceptability which could affect the patient's food intake. Jumlah makanan yang tersisa sangat sedikit, menunjukkan daya terima makanan pasien rumah sakit. Tingkat sisa makanan yang tinggi dapat mengurangi kebutuhan gizi pasien dan secara ekonomis dapat menyebabkan anggaran makanan kurang efisien dan efektif. Tujuan penelitian untuk mengetahui bagaimana perubahan lauk nabati berdampak pada cita rasa dan daya terima menu makan pagi pasien rawat inap kelas III. Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain quasi eksperimen dengan rancangan perbandingan grup statis, dan telah dilakukan di RSUD Batin Mangunang pada bulan Oktober 2024. Pada penelitian ini, subjek yang digunakan ialah seluruh pasien diet makanan lunak kelas III, yang berjumlah 30 responden. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling dengan total populasi 30 pasien. Penelitian ini menggunakan uji Wilcoxon untuk analisis bivariat. Pengumpulan data menggunakan instrumen kuesioner. Hasil penelitian menyatakan bahwa terdapat pengaruh modifikasi lauk nabati tahu terhadap daya terima dan tingkat kesukaan penampilan (p-value 0,000), warna (p-value 0,000), bentuk (p-value 0,000), porsi (p-value 0,000), penyajian (p-value 0,000), rasa (p-value 0,000), aroma (p-value 0,000), tingkat kematangan (p-value 0,000), bumbu (p-value 0,000), dan suhu (p-value 0,000). Berdasarkan hasil analisis disimpulkan terdapat hubungan diantara modifikasi menu lauk nabati tahu dengan daya terima yang dapat memengaruhi asupan makan pasien.
TINGKAT STRES DAN KUALITAS TIDUR BERHUBUNGAN DENGAN STATUS GIZI PADA MAHASISWA GIZI Haryana, Nila Reswari; Harefa, Yashinta Niat; Juliarti, Juliarti; Rosmiati, Risti; Pratiwi, Caca
JOURNAL HEALTH AND NUTRITIONS Vol 11, No 2 (2025): Health and Nutritions
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jhn.v11i2.1426

Abstract

Nutrition problems remain a major public health concern, particularly among young adults. Common nutritional issues include undernutrition (wasting) and overnutrition (overweight and obesity), which can impact academic performance and overall health. Stress levels and sleep quality are known to influence nutritional status, yet limited studies have explored these factors among university students. This study aims to analyze the relationship between stress levels, sleep quality, and nutritional status among students of the Nutrition Study Program. A cross-sectional study was conducted in August 2024 involving students from the 2021 to 2023 grade students. A total of 72 respondents were selected using a proportional sampling technique. Data collection was carried out using a demographic questionnaire, the Perceived Stress Scale-10 (PSS-10) to assess stress levels, and the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) to measure sleep quality. Nutritional status was determined based on Body Mass Index (BMI) calculations. Data analysis was performed using descriptive statistics, chi-square tests, and logistic regression analysis. The chi-square test showed a significant association between stress levels and nutritional status (p = 0.000) and between sleep quality and nutritional status (p = 0.000). Logistic regression analysis further confirmed that stress levels (p = 0.000) and sleep quality (p = 0.004) were significant predictors of nutritional status. These findings highlight the importance of managing stress and improving sleep quality to maintain a healthy nutritional status among students. Future research should explore intervention strategies to mitigate the impact of stress and poor sleep quality on student in nutrition study program. Masalah gizi tetap menjadi perhatian utama dalam kesehatan masyarakat, terutama di kalangan dewasa muda. Permasalahan gizi yang umum terjadi meliputi gizi kurang (wasting) dan gizi lebih (kelebihan berat badan dan obesitas), yang dapat memengaruhi kinerja akademik dan kesehatan secara keseluruhan. Tingkat stres dan kualitas tidur diketahui berperan dalam status gizi, namun masih sedikit penelitian yang mengeksplorasi faktor-faktor ini di kalangan mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat stres, kualitas tidur, dan status gizi pada mahasiswa Program Studi Gizi. Penelitian ini menggunakan desain studi potong lintang (cross-sectional) dan dilaksanakan pada Agustus 2024 dengan melibatkan mahasiswa angkatan 2021 hingga 2023. Sebanyak 72 responden dipilih menggunakan teknik proportional sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner karakteristik demografi, Perceived Stress Scale-10 (PSS-10) untuk mengukur tingkat stres, dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) untuk menilai kualitas tidur. Status gizi ditentukan berdasarkan perhitungan Indeks Massa Tubuh (IMT). Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif, uji chi-square, dan regresi logistik. Hasil uji chi-square menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara tingkat stres dan status gizi (p = 0,000) serta antara kualitas tidur dan status gizi (p = 0,000). Analisis regresi logistik mengonfirmasi bahwa tingkat stres (p = 0,000) dan kualitas tidur (p = 0,004) merupakan prediktor signifikan terhadap status gizi. Temuan ini menyoroti pentingnya pengelolaan stres dan peningkatan kualitas tidur untuk menjaga status gizi yang sehat pada mahasiswa. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi strategi intervensi guna mengurangi dampak stres dan kualitas tidur yang buruk pada mahasiswa program studi gizi. 
ANALISIS DAYA TERIMA PROKIES PADA BALITA GIZI BAIK DAN GIZI KURANG Napu, Arifasno; Pangalo, Paulus; Domili, Indra; Tumenggung, Imran; Marendra, Zulfito; Dewi, Ayu Bulan Febry Kurnia; Pomalingo, Anna Yuliastani; Alam, Raden Ayu Cahyaning
JOURNAL HEALTH AND NUTRITIONS Vol 11, No 2 (2025): Health and Nutritions
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jhn.v11i2.1562

Abstract

Bi’o is a traditional Gorontalo food for toddlers which predominantly contains carbohydrates because it is only made from sago and palm sugar. Cookies in a pot/pan while stirring until thick/cookies, cooled and then ready to be served. Bi’o modified from sago and palm sugar are added with HPI (hydrolysis of mackerel protein), eggs, butter, chocolate and chocochip into a dough, molded, baked for 30 minutes at 150 degrees Celcius and the results are called prokies (protein cookies). The objective of study was to analyze the acceptability of prokies for well-nourishe and malnourished toddlers. The method of study was experimental research design that analyzing the acceptability of prokies. The pediatrician performs a medical examination. There were 38 well-nourished toddler respondents 39 malnourished toddler who met the criteria. The results indicated that  the average acceptability for prokies in well-nourished toddlers on the firts day was 4.11±0.65 and on the thirtieth day 4.18±0.56, while malnutrition on the first day was 4.00±0.61 and on the thirtieth day 4.33±0,66 which showed there was no signifikan difference ( p value = 0,05). Likewise, the reason for score aceptance was because the taste, aroma, color and texture average >4.0. The conclution showed that  prokies were liked by normal nutrition and wasted nutrition toddlers because of  taste, aroma, color and texture that were eaten completely in the first day to the thirtieth day, so it can be used to overcame in nutritional problems.Bi’o merupakan makanan tradisional Gorotalo untuk balita, sebagian besar hanya mengandung karbohidrat karena terbuat dari sagu dan gula aren. Bi’o dimasak dalam panci/wajan sambil diaduk hingga kental/matang, didinginkan lalu siap dihidangkan. Bi’o yang dimodifikasi yakni menggunakan sagu dan gula aren ditambahkan dengan HPI (hidrolisis protein ikan tenggiri), telur, mentega, coklat dan chocochip menjadi adonan, dicetak, dipanggang selama 30 menit pada suhu 150 derajat Celcius dan hasilnya disebut prokies (protein cookies). Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis daya terima prokies pada balita gizi baik dan gizi kurang. Desain penelitian menggunakan penelitian eksperimental dengan menganalisis daya terima prokies. Dokter anak melakukan pemeriksaan kesehatan. Responden balita gizi baik berjumlah 38 orang dan balita gizi kurang ada 39 orang yang memenuhi kriteria. Hasil penelitian  menunjukkan bahwa rata-rata tingkat kesukaan prokies balita gizi baik pada hari pertama adalah 4,11±0,65 dan pada hari ketiga puluh 4,18±0,56, sedangkan pada gizi kurang pada hari pertama adalah 4,00±0,61 dan pada hari ketiga puluh 4,33±0,66 yang menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan (p value = 0,05). Demikian pula, alasan kesukaan karena rasa, aroma, warna dan tekstur rata-rata >4,0. Kesimpulan menunjunkkan bahwa prokies disukai oleh balita gizi baik dan gizi kurang karena rasa, aroma, warna dan teksturnya serta dihabiskan sejak hari pertama hingga hari ketiga puluh sehingga dapat digunakan untuk mengatasi masalah gizi. 
POTENSI GIZI DAN PROBIOTIK PADA YOGHURT KACANG ALMOND (Prunus dulcis) DENGAN BUNGA TELANG (Clitoria ternatea) Hanifah, Hanifah; Kushargina, Rosyanne
JOURNAL HEALTH AND NUTRITIONS Vol 11, No 2 (2025): Health and Nutritions
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jhn.v11i2.1588

Abstract

Yoghurt usually prepared from animal milk, but it can be created from plants. Almond (Prunus dulcis) compounds  oil, fiber, and vitamins B (B1, B2, B3, and B6). Butterfly pea blossoms (Clitoria ternatea) boost antioxidants and attractiveness. The aim of the study was developing almond yoghurt products with the addition of butterfly pea flowers and evaluating their nutritional, antioxidant, and probiotical potential. The method was a Completely Randomized Design (CRD) that was utilized to test butterfly pea flower concentration (F1:10, F2:20, F3:30). The starters were lactobacillus bulgaricus, streptococcus thermophillus, and bifidobacterium. Hedonic quality, preference, nutritional content, total lactic acid bacteria, and antioxidant activity were dependent variables. Analyses included the Kruskal Wallis test and Mann-Whitney follow-up. 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) was utilized for antioxidant analysis and total plate count (TPC) for total lactic acid bacteria. The formula was determined using Exponential Comparison Method. The results indicated that there were significant differences (p-value<0.05) in color, texture, and taste quality but did not show significant differences in aroma quality (p-value>0.05). The selected formula (F2) from the organoleptic test results had a total energy nutritional content of 80.6 kcal, total fat 4.4%, carbohydrates 6.8%, and protein 3.5%. It had an antioxidant activity of 212 ppm with a lactic acid bacteria content of 1.8x107 colonies/mL and a pH level of 4. The conclusions was almond yogurt with 20 grams of butterfly pea flowers produced meets the Indonesian National Standard for Yogurt Quality but has very weak antioxidant activity. Antioxidant activity can be enhanced by adding other raw materials as antioxidant sources.Yoghurt salah satu minuman susu fermentasi yang umumnya terbuat dari susu hewani, tetapi dapat dikembangkan dari bahan baku nabati. Salah satunya adalah kacang almond (Prunus dulcis) dengan kandungan lemak, serat pangan, dan vitamin B (B1, B2, B3, B6). Penambahan bunga telang (Clitoria ternatea) dapat meningkatkan penampilan dan kandungan antioksidan. Tujuan penelitian mengembangkan produk yoghurt sari kacang almond dengan penambahan bunga telang dan mengevaluasi potensi gizi, antioksidan, serta probiotik. Metode penelitian adalah eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan peubah respon adalah konsentrasi bunga telang (F1:10, F2:20, F3:30). Starter bakteri yang digunakan adalah Lactobacillus bulgaricus, Streptococcus thermophillus, dan Bifidobacterium. Variabel dependen adalah mutu hedonik, tingkat kesukaan, kandungan gizi, total bakteri asam laktat, dan aktivitas antioksidan. Data yang didapatkan dianalisis menggunakan uji Kruskal Wallis dengan uji lanjut Mann-Whitney. Analisis antioksidan menggunakan metode 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) dan total bakteri asam laktat menggunakan metode total plate count (TPC). Penentuan formula terpilih menggunakan Metode Perbandingan Eksponensial (MPE). Hasil penelitian terdapat perbedaan signifikan (p-value<0,05) mutu warna, tekstur, dan rasa tetapi tidak menunjukkan perbedaan signifikan mutu aroma (p-value>0,05). Formula terpilih (F2) dari hasil uji organoleptik memiliki kandungan gizi energi total 80,6 kkal, lemak total 4,4%, karbohidrat 6,8%, dan protein 3,5%. Memiliki aktivitas antioksidan 212 ppm dengan kandungan bakteri asam laktat 1,8x107 koloni/mL dan kadar pH dengan nilai 4. Kesimpulan yoghurt almond penambahan 20 gram bunga telang yang dihasilkan memenuhi SNI Mutu Yoghurt namun memiliki aktivitas antioksidan yang sangat lemah. Aktivitas antioksidan dapat ditingkatkan dengan menambahkan bahan baku lain sebagai sumber antioksidan.
RELATIONSHIP BETWEEN MACRONUTRIENTS INTAKE AND CANCER STAGE WITH BODY MASS INDEX AMONG CANCER PATIENTS ON CHEMOTHERAPY Puspareni, Luh Desi; Nurrahmah, Putri; Atmaja, Taufiq Firdaus Al-Ghifari
JOURNAL HEALTH AND NUTRITIONS Vol 11, No 2 (2025): Health and Nutritions
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jhn.v11i2.1585

Abstract

Cancer is characterized by the uncontrolled growth and spread of abnormal cells, which can invade and destroy normal body tissue. Body mass index (BMI) is associated with cancer prognosis. Macronutrient intake affects BMI through lipogenesis, muscle formation, and lean body mass. Advanced cancer patients are at risk of malnutrition due to anorexia. The study aims to analyze the association between macronutrient intake and cancer stage with BMI of cancer patients undergoing chemotherapy. The study was used a cross-sectional design. Sampling was used a consecutive sampling technique with a sample size of 50 respondents. Macronutrient intake was collected through 3x24-hour non-consecutive food recalls. Cancer stage data were obtained from patient medical records. Body mass index (BMI) was calculated by dividing body weight (in kilograms) by square of height (in meters). Bivariate analysis used the Spearman-Rank correlation test. The results of the study showed that the median of energy and fat intakes were 1.051 kcal and 35.1 g. The mean of protein and fat intakes were 34.0±11.6 g and 152.4±47.5 g. The mean of energy, fat, and carbohydrate intake percentages were 58.5±17.5%, 70.5±28.6%, and 50.7±17.6%. The median of protein intake percentages was 48,7%. The percentage of energy, protein, and carbohydrate intake was considered a severe deficit, while the percentage of fat intake was considered a moderate deficit. There was association between energy intake and BMI (p-value=0.000; ρ=0.813), protein intake and BMI (p-value=0.000; ρ=0.723), fat intake and BMI (p-value=0.000; ρ=0.607), carbohydrate intake and BMI (p-value=0.000; ρ=0.812), and there was association between cancer stage and BMI (p-value=0.000; ρ=-0.606). It can be concluded that macronutrient intake and cancer stage was related to BMI in cancer patients. Kanker merupakan penyakit yang terjadi karena beberapa sel tumbuh abnormal secara cepat dan bermetastasis ke bagian tubuh lainnya. Indeks massa tubuh (IMT) berhubungan dengan prognosis kanker. Asupan zat gizi makro  memengaruhi IMT melalui lipogenesis, pembentukan otot, dan lean body mass. Pasien kanker stadium lanjut berisiko malnutrisi akibat anoreksia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan asupan zat gizi makro dan stadium kanker dengan BMI pasien kanker kemoterapi di RSUD KHZ. Musthafa. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional. Pengambilan subjek menggunakan teknik consecutive sampling dengan jumlah sampel 50 responden. Asupan zat gizi makro diperoleh dengan 3x24 hour non-consecutive food recall. Data stadium kanker diperoleh melalui rekam medik pasien. IMT dihitung dengan membagi berat badan (dalam kilogram) dengan tinggi badan yang dipangkat dua (dalam meter). Analisis bivariat menggunakan uji korelasi Spearman-Rank. Hasil penelitian menunjukkan median asupan energi dan lemak adalah 1.051 kkal dan 35,1 g. Rerata asupan protein dan lemak adalah 34,0±11,6 g dan 152,4±47,5 g. Rerata persentase asupan energi, lemak, dan karbohidrat adalah 58,5±17,5%, 70,5±28,6%, dan 50,7±17,6%. Median persentase asupan protein adalah 48,7%. Persentase asupan energi, protein, dan karbohidrat tergolong defisit berat, sedangkan persentase asupan lemak tergolong defisit sedang. Terdapat hubungan antara asupan energi dengan IMT (p-value=0,000; ρ=0,813), asupan protein dengan IMT (p-value=0,000; ρ=0,723), asupan lemak dengan IMT (p-value=0,000; ρ=0,607), asupan karbohidrat dengan IMT (p-value=0,000; ρ=0,812), dan terdapat hubungan antara stadium kanker dengan IMT (p-value=0,000; ρ= -0,606). Dapat disimpulkan bahwa asupan zat gizi makro dan stadium kanker berhubungan dengan IMT pasien kanker.
KERAGAMAN KONSUMSI PANGAN RUMAH TANGGA, ASUPAN ZAT BESI DAN ANEMIA: CROSS SECTIONAL STUDY PADA PEKERJA WANITA PERKEBUNAN Haya, Miratul; Widyanti, Fera
JOURNAL HEALTH AND NUTRITIONS Vol 11, No 2 (2025): Health and Nutritions
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jhn.v11i2.1605

Abstract

Anaemia in female workers is associated with low dietary diversity. Household dietary diversity contributes significantly to iron intake for the prevention of anaemia. The study aimed to determine the relationship between household dietary diversity, iron intake and anaemia in female workers. The study design was a cross-sectional study of 140 households with female workers aged 19–36 years in Seluma District, Bengkulu, Indonesia. Data were collected using the Household Dietary Diversity Score (HDDS), food recall and record, and haemoglobin level measurements. Analyses were performed using t-tests, Mann-Whitney tests, correlations, and regression (p<0.05). There was a significant correlation between household food consumption diversity (r=0.288; p=0.001) and iron intake (r=0.622; p<0.001) with anaemia status. Household food consumption diversity and iron intake explained 34.4% of the variation in haemoglobin levels as a marker of anaemia status (p<0.001), with iron intake as the dominant factor. The conclusion was dietary diversity and iron intake together contribute to anaemia status. Diverse consumption of iron-rich foods such as fish, legumes, and grains plays an important role in reducing the risk of anaemia among female workers. Anemia pada pekerja wanita berkaitan dengan rendahnya keragaman konsumsi pangan. Keragaman konsumsi pangan rumah tangga berkontribusi penting dalam pemenuhan zat besi untuk mencegah anemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara keragaman konsumsi pangan rumah tangga, asupan zat besi dan anemia pada pekerja wanita. Studi cross-sectional dengan subjek 140 rumah tangga pekerja wanita usia 19–36 tahun di Kabupaten Seluma, Bengkulu, Indonesia. Data dikumpulkan menggunakan metode Household Dietary Diversity Score (HDDS), food recall dan record, pengukuran kadar hemoglobin. Analisis dilakukan dengan uji t, Mann-whitney, korelasi, dan regresi (p<0,05). Hasil penelitian menunjukkan terdapat korelasi signifikan antara keragaman konsumsi pangan rumah tangga (r=0,288; p=0,001) dan asupan zat besi (r=0,622; p<0,001) dengan status anemia. Keragaman konsumsi pangan rumah tangga dan asupan zat besi menjelaskan 34,4% variasi kadar hemoglobin sebagai penanda status anemia (p<0,001) dengan asupan zat besi sebagai faktor dominan. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa keragaman konsumsi pangan dan asupan zat besi secara bersama-sama berkontribusi terhadap status anemia. Konsumsi pangan beragam dari sumber kaya zat besi seperti ikan, polong-polongan, dan biji-bijian berperan penting dalam menurunkan risiko anemia pada pekerja wanita.
ANALISIS MUTU ORGANOLEPTIK DAN MUTU KIMIA PIA BLACKPINK DENGAN PENAMBAHAN KULIT BUAH NAGA MERAH (HYLOCEREUS POLYRHIZUS) Febry K.D, Ayu Bulan; Amalia, Mutia Reski; Hadi, Novian Swasono; Setiawan, Denny Indra; Nuryani, Nuryani; R Ahmad, Rodiyatan Mardiyah
JOURNAL HEALTH AND NUTRITIONS Vol 11, No 2 (2025): Health and Nutritions
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jhn.v11i2.1463

Abstract

Pia is a traditional delicacy from Gorontalo that has been innovatively developed through the addition of red dragon fruit peel as a natural coloring agent and antioxidant source. This innovation aims to enhance the nutritional value and visual appeal of the product while utilizing dragon fruit peel waste, which is rich in anthocyanins. Objective of study was analyzed the organoleptic qualities (taste, color, aroma, and texture) and chemical composition of pia blackpink supplemented with 50 g, 60 g, 70 g, and 80 g of red dragon fruit peel. The methods of study was an experimental study employed a Completely Randomized Design (CRD) with four treatment levels and four replications. A total of 30 semi-trained panelists participated in the organoleptic evaluation. Proximate analysis was conducted to determine the content of protein, fat, carbohydrates, fiber, moisture, ash, and vitamin C. Results revealed that addition of red dragon fruit peel significantly improved organoleptic qualities, with the best results observed in the 80g treatment group (P4). The chemical composition of this variant included protein (8.12%), fat (5.20%), carbohydrates (72.58%), fiber (0.91%), moisture (13.24%), ash (0.86%), and vitamin C (225 mg/1000 g). The conclusion of the study was addition of red dragon fruit peel enhances both the sensory attributes and nutritional quality of pia, making it more appealing and beneficial to consumers. Pia adalah makanan khas Gorontalo yang dikembangkan dengan inovasi penambahan kulit buah naga merah sebagai pewarna alami sekaligus sumber antioksidan. Inovasi ini bertujuan meningkatkan nilai gizi dan daya tarik produk, sekaligus memanfaatkan limbah kulit buah naga yang kaya antosianin. Tujuan penelitian untuk menganalisis mutu organoleptik (rasa, warna, aroma, dan tekstur) serta kandungan kimia pia blackpink yang diberi tambahan kulit buah naga merah sebanyak 50 g, 60 g, 70 g, dan 80 g. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan empat replikasi, serta melibatkan 30 panelis agak terlatih dalam uji organoleptik. Uji kimia menggunakan analisis proksimat untuk mengetahui kadar protein, lemak, karbohidrat, serat, air, abu dan vitamin C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan kulit buah naga merah secara signifikan meningkatkan mutu organoleptik, dengan hasil terbaik pada penambahan 80 g (P4). Komposisi kimia pia tersebut meliputi protein 8,12%, lemak 5,20%, karbohidrat 72,58%, serat 0,91%, air 13,24%, abu 0,86%, dan vitamin C 225 mg/1000 g. Kesimpulan menunjukkan penambahan kulit buah naga tidak hanya meningkatkan rasa dan penampilan pia, tetapi juga menjadikannya lebih bergizi dan menarik bagi konsumen.
KEBIASAAN MINUM TEH BERHUBUNGAN SIGNIFIKAN DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL Talibo, Sofyawati D.; Pomalingo, Anna Y.; Kani, Nur Asri
JOURNAL HEALTH AND NUTRITIONS Vol 11, No 2 (2025): Health and Nutritions
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jhn.v11i2.1474

Abstract

Tea is a widely popular beverage around the world and has become part of many people daily routines. Although it offers various health benefits, tea also contains tannins, compounds that can inhibit the body's ability to absorb iron. The aim of study to examine the relationship between tea drinking habits and the incidence of anemia among pregnant women in the working area of the Dungaliyo Community Health Center. The study was quantitative study employed a cross-sectional approach, in which the independent and dependent variables were measured and observed at the same time. The sample size was determined using the Slovin formula, with a purposive sampling technique, resulting in 74 pregnant women as participants. The results of the study indicated that the respondents were 41 (55.4%)  categorized as having good tea drinking habits, while 33 (44.6%) had poor habits. In terms of anemia incidence, 41 respondents (55.4%) did not experience anemia, whereas 33 (44.6%) having anemia. Bivariate analysis showed a significant association between tea drinking habits and the incidence of anemia in pregnant women (p-value < 0.005). the conclusion was a significant association between tea drinking habits and the incidence of anemia among pregnant women. Teh adalah minuman yang sangat populer di seluruh dunia dan sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari banyak orang. Meskipun teh memiliki banyak manfaat, namum minuman teh mengandung tanin yang dapat menghambat penyerapan zat besi. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan kebiasaan minum teh dengan kejadian anemia pada ibu hamil. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel ditentukan dengan rumus slovin dengan teknik pengambilan purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identifikasi responden yang memiliki kebiasaan minum teh pada kategori baik sebanyak 41 responden (55.4%) dan tidak baik sebanyak 33 responden (44.6%). Identifikasi responden kejadian anemia pada ibu hamil diwilayah kerja Puskesmas Dungaliyo Kabupaten Gorontalo yaitu jumlah terbanyak pada kategori yang tidak mengalami anemia sebanyak 41 responden (55.4%) dan yang sedikit pada kategori mengalami anemia sebanyak 33 responden (44.6%). Berdasarkan hasil analisa uji bivariat menunjukkan bahwa kebiasaan minum teh dengan kejadian anemia pada ibu hamil (nilai p-value <0,005).  Dapat disimpulan bahwa terdapat hubungan antara kebiasaan minum teh dengan kejadian anemia pada ibu hamil.