cover
Contact Name
Rusmin Abdul Rauf
Contact Email
tahdis@uin-alauddin.ac.id
Phone
+6282344228117
Journal Mail Official
tahdis@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
Jl. H. M. Yasin Limpo No. 36 Romangpolong, Gowa, Sulawesi Selatan Kampus II Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis
ISSN : 20867891     EISSN : 27162109     DOI : 10.24252/tahdis
Tahdis : Jurnal Kajian Ilmu Hadis adalah jurnal Prodi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Alauddin Makassar yang berisi artikel ilmiah dan hasil penelitian berkaitan tentang Hadis dan Ilmu Hadis.
Articles 125 Documents
Kritik terhadap Kajian Hadis Feminis Islam Rusmin Abdul Rauf; Ummi Farhah
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 11 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/tahdis.v11i2.17087

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengkritik kajian Feminis Islam utamanya berkaitan dengan Hadis. Ada empat poin yang utama yang dikritik dalam artikel ini. Pertama, penolakan terhadap hadis. Kedua, celaan terhadap sahabat. Ketiga, meragukan integritas Imam Bukhari. Keempat, reinterpretasi terhadap Hadis. Penulis menggunakan pendekatan ilmu musthalah hadis dalam menelaah dan menganalisa pandangan feminis islam. Penulis menemukan bahwa ada kecenderungan dari feminis untuk menolak hadis yang dianggap sebagai hadis misoginis terlepas apakah hadis tersebut shahih atau tidak. Sehingga dasar dari penilaian kesahihan hadis yang dipergunakan oleh feminis bukan lagi integritas dan ketersambungan sanad akan tetapi kesesuaian dengan nilai-nilai feminism atau tidak. Artikel ini menyimpulkan bahwa ada kecenderungan feminis islam tidak mengusai ilmu musthalah hadis dan cenderung menolak kaidah-kaidah ilmu yang telah ditetapkan oleh ulama demi menyesuaikan makna hadis dengan ide-ide feminism.
Memotong Kumis dan Memanjangkan Jenggot Bagi Jama’ah Tabligh: Studi Living Hadis di Masjid al-Ittihad Yogyakarta Ulummudin Ulummudin
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 11 No 1 (2020): Tahdis
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/tahdis.v11i1.13327

Abstract

AbstrakKumis dan jenggot menjadi salah satu fenomena menarik yang menjadi identitas kelompok Jamaah Tabligh di masjid al-Ittihad Yogyakarta. Hampir seluruh anggotanya tidak ada yang berkumis. Sebaliknya, mereka pasti mempunyai jenggot. Praktek tersebut merupakan bentuk aplikasi terhadap hadis nabi yang memerintahkan untuk senantiasa mencukur kumis dan memelihara jenggot. Hadis tersebut diperoleh dari proses pengajian yang rutin digelar di masjid tersebut. Selanjutnya, fenomena ini dikaji melalui pendekatan teori ideologinya Pierre Bourdieu yang mengenal adanya habitus, doxa, dan arena. Habitusnya adalah menganggap bahwa mencukur kumis dan memelihara jenggot merupakan bagian dari sunnah surah, sedangkan doxanya ialah sosok yang diwakili oleh Pak Yahya yang berperan sebagai takmir masjid. Sementara, arena dari fenomena ini adalah komunitas Jamaah Tabligh di masjid al-Ittihad. Adapun proses ideologisasinya dilakukan secara bertahap melalui kajian tanpa ada paksaan dan disesuaikan dengan kesiapan mental para anggota. KeywordsKumis, jenggot, Living Hadis, Bourdieu, Jamaah Tabligh. AbstactMustache and beard are two of the Tablighi Jamaat identities in al-Ittihad mosque which is located in Yogyakarta. Most of their members do not have mustache, but keep beard. These practices are a form of aplication toward hadiths which order to cut mustache and own beard. The hadiths are gained from the process of learning which is continuously conducted in the mosque. This phenomenon is analyzed by using theory of ideology of Pierre Bourdieu which consists of habitus, doxa, and arena.  The habitus is deeming that cutting mustache and keeping beard are part of the sunnah of appearance, while the doxa is Mr. Yahya as a leader of the mosque. The arena of this phenomenon is Tablighi Jamaat community in al-Ittihad mosque. Beside, the process of ideology is applied gradually by a lesson without forcing and it is based on mental readiness of the members. KeywordsMustache, Beard, Living Hadith, Bourdieu, Tablighi Jamaat.
PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN DALAM SALAT LAIL (STUDI KEUTAMAAN SALAT LAIL DARI TINJAUN HADIS) Mubarak Taswin
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 12 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/tahdis.v12i1.19243

Abstract

Artikel ini mengungkapkan keutamaan salat lail yang menjadi bagian dari pembentukan akhlak dengan menyorot beberapa hadis yang berhubungan dengan keutamaan salat lail dan bertujuan untuk mengenal kualitas hadis tentang salat lail dan implikasi dari pelaksanaan secara rutinitas. Tulisan ini merupakan bentuk penelitian hadis maudu’i yang menggunakan pendekatan historis, normatif, linguistik. Dari hasil kajian ini terlihat bahwa kualitas hadis salat lail masuk dalam kategorisasi sahih dan dapat dijadikan sebagai hujja dan tentu implikasi dari pelaksanaan secara rutinitas mampu membentuk karakter dan kepribadian individu yang terungkap dari beberapa kondisi kejiwaan yang dirasakan.
المنهج النبوي لتنظيم صلاة النساء في المسجد النبوي Syed Mahmudul Hasan
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 11 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/tahdis.v11i2.15133

Abstract

إن الإسلام هو دين الرجال كما ادّعى المستشرقون والمبشرون. وفي تأييد هذا الإدعاء أشاروا إلى سيطرة الرجال على معابد الإسلام وتسلّطهم الجنسيّة من حيث لا يستأذن حضور النساء إطلاقاً. أنهم يتبنون هذه الموقف استدلالاً من آراء بعض علماء المسلمين تشدّدوا في قضية صلاة النساء في المساجد. أما حقيقة الإسلام في مسئلة العدالة والمساواة الجنسية تحقّق في جميع نواحي الحياة. جعل الإسلام مشاركة النساء في صلاة الجماعة في المساجد من حقوقهنّ الدينية. وتقدّم لهنّ النبي صلى الله عليه وسلم منهجاً كاملاً عن كيفية الممارسة لهذا الحق. واستخدم الباحث المنهج الاستقرائي لجمع الأحاديث التي تتحدّث عن تنظيم المصطفى صلى الله عليه وسلم لمشاركة النساء صلاة الجماعة في المسجد النبوي. ثم المنهج التحليلي لتحليل هذه القضية. وتوصل البحث إلى نتائج، أهمها أن الإسلام دين الإنسانية والعدالة والحقوق. فالإدعاء في إغلاق حقوقهنّ الدينية بإغلاق أبواب المساجد إدعاء كذب فاحش، تبنى من سوء الفهم لحقيقة الإسلام. لأن النبي صلى الله عليه وسلم لا يستأذن لهنّ الحضور في صلاة المسجد فقط، بل قدّم المشروع الكامل بدايةً من خروج البيت حتى الرجوع إليه، ليثبت حقوق النساء وليقرّر عدالة الشريعة الإنسانية الإسلامية.     
Relevansi dan Urgensi Aplikasi Metodologi Kritik Hadis Dalam Penelitian al-Sirah al-Nabawiyyah Firman Solihin
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 12 No 2 (2021): Tahdis Volume 12 Nomor 2 Tahun 2021
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/tahdis.v12i2.20175

Abstract

Kedudukan al-sīrah al-nabawiyah sangatlah penting, karena memotret sejarah Islam generasi awal (Nabi dan Sahabat), yang sejatinya menjadi wajah utama sejarah Islam secara keseluruhan. Tulisan ini bertujuan mengurai tentang al-sirah al-nabawiyyah, baik secara normatif maupun historis, dalam rangka mencari relevansi dan urgensi aplikasi metodologi kritik hadis dalam penelitiannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-kualitatif. Sumber datanya adalah kepustakaan dengan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi dokumen. Data-data yang yang telah terkumpul kemudian dianalisis-kritis menggunakan metode analisis isi (content analysis). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hadis dan sīrah pada dasarnya sama, baik secara linguistik maupun historis, hanya orientasinya yang berbeda; hadis sebagai piranti legislasi Islam (akidah dan syariat) sedangkan sīrah sebagai konstruksi sejarah Nabi Saw. Konstruksi sebagian besar riwayat al-sīrah al-nabawiyyah dalam sumber-sumber primernya tidak berbeda dengan hadis; diawali oleh mata rantai sanad. Sehingga, menerapkan metode kritik hadis dalam penelitian al-sīrah al-nabawiyyah bukan saja sesuai (relevan), melainkan sangat penting (urgen).
KRITIK TERHADAP PEMIKIRAN RASYID RIDHA TENTANG HADIS IMAM MAHDI Mutaqin Samsul Rizal; Purnama Faturohman Rizal
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 12 No 2 (2021): Tahdis Volume 12 Nomor 2 Tahun 2021
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/tahdis.v12i2.20761

Abstract

The discussion about Imam Mahdi its seem as endless among the scholars, both mutaqadimin and muta'akhirin ulama. Likewise among hadith researchers, there are always disagreements about the authenticity of Imam Mahdi's traditions. Among the scholars who reject the authenticity of Imam Mahdi's hadith is Rashid Rida, he said that the hadith about Imam Mahdi is contradictory, dhaif, and contain many israiliyat. This article aims to find out Rasyid Rida's views on the hadiths of al-Mahdi and how to answer this opinion. The research method that can facilitate this analysis is the Content Analysis method with a qualitative approach. Seeing Rasyid Rida's opinion regarding the hadith of al-Mahdi as stated in al-Manar's interpretation, then the sanad criticism was carried out consisting of Takhrij hadith, I'tibar, making a sanad scheme. There are two traditions from Ibn Majah's narrative commented on by Rasyid Ridha, with that comment in the sanad of the hadith there is rawi dha'if and considered tasyayu 'and there are narrators who are considered mudallis. This opinion of Rasyid Rida violates the ijma 'of the scholars who state that the hadiths of al-Mahdi are authentic and even reach the degree of meaningful mutual worry. The scholars have agreed that the hadiths of al-Mahdi are authentic and reach the degree of mutual concern, people who deny al-Mahdi are seen as Qur'aniyyun and deny Allah's uluhiyah.
KHALED M. ABOU EL FADL: Menuju Pembacaan Otoritatif Atas Hadis Nabi Melalui Hermeneutika Negosiatif Muhamad Abduh
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 12 No 2 (2021): Tahdis Volume 12 Nomor 2 Tahun 2021
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/tahdis.v12i2.21105

Abstract

ABSTRAK INDONESIAArtikel ini membahas tentang hermeneutika negosiasif dari pemikiran tokoh Islam kontemporer, Khaled M. Abou el Fadl. Inti dari analisis hermeneutika ini, terletak pada peran pengarang, teks, dan pembaca dalam menentukan makna. Di mana penentuan makna merupakan hasil proses negosiasi dari ketiga aspek tersebut secara berimbang tanpa adanya dominasi salah satu pihak, sehingga makna yang dihasilkan sesuai dengan apa yang dikehendaki dan tidak ada dominan atau otoritas dari penafsir/pembaca (reader). Melalui teori ini, Khaled mencoba mengkonstruksi idenya tentang otoritas dalam membaca teks. Khaled juga membatasi otoritarianisme pembacanya pada lima syarat, yaitu: kejujuran dalam memahami perintah Tuhan, ketekunan, kelengkapan, rasionalitas, menahan diri. Pemikiran ini hadir sebagai tanggapan atas kecemasan Khaled atas fatwa sewenang-wenang yang diajukan oleh Saudi Arabian CRLO (Council for Scientific Research and Legal Opinions), di mana mereka menggunakan hadis misoginis sebagai otoritas tertinggi untuk melegitimasi keabsahan fatwa mereka. Dari penelitian ini terlihat bahwa pola pikir Khaled tidak serta merta mengungkapkan hadits Nabi, namun yang paling menarik adalah upayanya untuk menentukan makna hadits melalui teori yang ia hasilkan yaitu melalui hermeneutika negosiatif.ABSTRAK INGGRISThis article discusses the negotiated hermeneutics from the ideas of contemporary Islamic thinker Khaled M. Abou el Fadl. The essence of the hermeneutic analysis of the idea lies in the role of the author (writer), text (text), and reader (reader) in determining meaning. The determination of the meaning of the results of the negotiation process from the three aspects in a balanced manner without any domination by either party. Through this theory, Abou el Fadl tries to construct his idea of the authority in reading the text. The concept of Islamic authority in its construction as a form to bridge God's will. Khaled limits the authoritarianism of readers to five conditions, namely: honesty in understanding God's commands, diligence, comprehensiveness, rationality, self-restraint. This idea came as a response to Khaled's anxiety over arbitrary fatwas put forward by the Saudi Arabian CRLO (Council for Scientific Research and Legal Opinions), in which they used misogynistic traditions as the highest authority to legitimacy the validity of their fatwa. From this study, it can be seen that Khaled's mindset is not necessarily revealing the Prophet's hadith, but what is most interesting is his attempt to determine the meaning of hadith through theory using negotiated hermeneutics.
STUDI QAWĀID AT-TAḤDĪṠ; ANALISA TENTANG PENILAIAN HADIS ḌAĪF DISEBABKAN ṢIGAH AT-TAMRĪḌ Muhammad Qomarullah
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 12 No 2 (2021): Tahdis Volume 12 Nomor 2 Tahun 2021
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/tahdis.v12i2.22840

Abstract

Abstract: This article is the rules for understanding the hadiths related to ṣīgah al-tamrīḍ. The problem that exists is about the fall in the quality of the hadith when the sanad and the hadith's mind use ṣīgah al-tamrīḍ in the hadith editorial. This is where the scholars differ due to different times, as the mutaqaddimin ulama never questioned the form of the sentence using ṣīgah al-tamrīḍ due to the habits of previous scholars of narrating hadith. However, medieval scholars such as as-Suyūṭī and Ibn Ḥajar have started to question the hadith which uses the sentence form ṣīgah al-tamrīḍ, but it is not so firm. Now, contemporary scholars such as al-Albānī have begun to see that this rule is important because the editorial team of the hadith uses the unclear form of ṣīgah al-tamrīḍ, so that ḍaīf can be indicated even though the Bukhārī hadith judged by ṣaḥīḥ scholars. Abstrak: Artikel ini merupakan kaidah-kaidah pemahaman hadis yang berkaitan dengan ṣīgah al-tamrīḍ. Adapun masalah yang ada yaitu tentang jatuhnya kualitas hadis ketika sanad dan matan hadis tersebut menggunakan ṣīgah al-tamrīḍ pada redaksi hadis. Disinilah para ulama berbeda pendapat disebabkan zaman yang berbeda sebagaimana ulama mutaqaddimin tidak mempermasalahkan bentuk kalimat yang menggunakan ṣīgah al-tamrīḍ disebabkan kebiasaan ulama terdahulu mereiwayatkan hadis. Tapi, ulama pertengahan seperti as-Suyūṭī dan Ibn Ḥajar mulai mempermasalahkan hadis yang menggunakan bentuk kalimat ṣīgah al-tamrīḍ, tapi belum begitu tegas. Nah, ulama kontemporer seperti al-Albānī mulai melihat bahwa kaidah ini penting karena redaksi hadis menggunakan bentuk ṣīgah al-tamrīḍ itu tidak jelas, sehingga dapat terindikasi ḍaīf walaupun hadis Bukhārī yang dinilai para ulama ṣaḥīḥ.
Jejak Penulisan Hadis di Mesir Abad ke 2-3 H (Kajian terhadap Kitab Musnad At- Thahawi) Lailiyatun Nafisah
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 12 No 2 (2021): Tahdis Volume 12 Nomor 2 Tahun 2021
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/tahdis.v12i2.23077

Abstract

                                                      AbstrakTulisan ini mengkaji tentang sejarah dari penulisan hadis di Mesir, mengingat daerah tersebut merupakan salah satu bagian Afrika Utara yang menjadi salah satu pusat kajian hadis, sehingga penting untuk mengkaji mengenai perkembangan hadis. Artikle ini termasuk dalam library research atau penelitian kepustakaan, melihat sumber- sumber utama berdasarkan kitab dari salah satu hasil ulama di Mesir, yaitu  Musnad At- Thahawi. Penulis menggunakan pendekatan historis- analisis untuk kemudian mengetahui berbagai peristiwa yang menjadi indikasi dari penyebaran hadis di Mesir. Hasil dari penelitian ini adalah bahwasannya;pertama, Perkembangan penulisan hadis di Mesir berkaitan erat dengan sejarah perkembangan islam itu sendiri, termasuk periodesasi- periodesasi hadis. Kedua, Karya Imam ath- Thahawi  yang berjudul Musnad Imam At- Thahawi, merupakan wujud dari salah satu corak perkembangan hadis di abad ke 3 Hijriah, dimana system penulisan hadis salah satunya dalam bentuk musnad.Kata Kunci: Mesir; Hadis; Musnad at-Thahawi                                                             AbstractThis paper examines the history of hadith writing in Egypt, considering that the area is one of the parts of North Africa, one of the centers of hadith studies, so it is important to study the development of hadith. This article is included in library research, looking at the main sources based on books from one of the scholars in Egypt, namely Musnad At-Tahawi. The author uses a historical-analytic approach to find out the various events that are an indication of the spread of hadith in Egypt. The results of this study are; first, the development of hadith writing in Egypt is closely related to the history of the development of Islam itself, including the periodization of hadith. Second, the work of Imam ath-Tahawi, entitled Musnad Imam At-Tahawi, is a manifestation of one of the patterns of hadith development in the 3rd century Hijri, where the hadith writing system is one of them in the form of a Musnad.Keywords: Egypt; Hadith; Musnad at- Thahawi.  
KORELASI HADIS NABI DAN INTEGRITAS DIRI SEBAGAI KONSEP KESEHATAN MENTAL MASYARAKAT MELAYU RIAU Nanda Dwi Sabriana
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 13 No 1 (2022): Tahdis Volume 13 Nomor 1 Tahun 2022
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/tahdis.v13i1.21795

Abstract

Abstrak Masyarakat muslim masa kini dihadapkan dengan pilihan yang sulit, di mana nilai-nilai keagamaan cenderung sering dijadikan antitesa dari disiplin ilmu-ilmu modern, tak terkecuali ilmu jiwa. Beberapa masyarakat muslim beranggapan bahwa kondisi jiwa yang sehat dan dianjurkan dalam agama hanyalah berputar pada konteks hubungan antara Hamba dengan Tuhannya. Hal demikian terjadi karena pemahaman keagamaan yang minim dan kaku, di mana pemaknaan atas naskah agama hanya ditinjau dari kacamata ilmu agama saja. Berkaca pada hal yang demikian, penulis mencoba menghadirkan diskusi yang membahas dan memberi perspektif lebih luas terkait korelasi yang hadir antara ilmu agama dengan konteks ilmu jiwa dan masyarakat yang hidup. Fenomena ini digambarkan dalam konsep integritas diri dan kesehatan mental yang dimiliki masyarakat Melayu Riau. Kemudian, penelitian ini menggunakan teori resepsi sebagai pisau analisis penelitian guna memahami konsep integritas diri dan implikasinya pada Masyarakat Melayu Riau. Serta korelasi yang dihasilkan dengan hadis-hadis bernuansa sehat mental. Secara Eksplisit penelitian ini mencoba mendiskusikan hadis-hadis nabi dengan konsep Integritas diri masyarakat Melayu Riau dan implikasinya dengan produktivitas dan peningkatan aktualisasi diri yang baik. Keywords Kesehatan mental, Melayu Riau, Integritas diri, hadis Abstract Today's Muslim societies are faced a difficult choice, where religious values tend to be often viewed as the antimathematical of modern science, and it is no exception to the science of the soul. Some Muslim societies believe that the healthy, advisable psychiatric conditions in religion are only twisting into the context of the relationship between servant and his god. This is so because of inadequate, rigid religious understanding, where its application of a religious text was based solely on the medium of religious science. Reflecting this, writers have tried to bring up discussions about it and give a broader perspective on the correlation that was present between religious science and the context of the study of the soul and living society. This phenomenon was depicted in the concept of self-integrity and mental health of the Riau malays. Later, the study used the theory of the reception as a research analysis knife to understand the concept of personal integrity and its implications on the Malay Riau. And the correlation produced by the hadis-hadiths has a sound mental tone. Explicitly this research is trying to discuss the prophet hadith with the concept of self-integrity of the Riau Malay community and its implications with productivity and increased self-actualization. Keywords Mental health, Riau Malay, self-integrity, hadith

Page 9 of 13 | Total Record : 125