Articles
125 Documents
DIKOTOMI HADIS AHAD-MUTAWATIR Menurut Pandangan Ali Mustafa Yaqub
Abdul Mutualli Abdul Mutualli
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 9 No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24252/tahdis.v9i2.12477
Dewasa ini orang banyak memperdebatkan kehujjahan hadis do’if, apakah boleh dijadikan landasan beramal atau malah sebaliknya. Mereka melupakan hadis ahad yang jauh pada abad kedua sudah menjadi perdebatan diantara ulama Mu’tazilah dan Ahlusunnah. Al-nadham sebagai ulama dari kelompok Mu’tazilah menganggap bahwa hadis ahad bersifat dhan sehingga tidak dapat dijadikan hujjah dalam hal aqidah, mereka menolak adanya penggunaan hadis ahad. Padahal periwayatan secara ahad tidak bisa terelakkan karena periwayatan hadis pada masa Nabi dengan cepat tersebar ke masyarakat. Para sahabat sangat antusias dalam menerima dan menyampaikan secara bebas hadis yang diterima dari Rasulullah saw. tanpa melihat berapa jumlah jalur orang yang menyampaikannya. Periwayatan secara ahad ataupun mutawatir tidak menjadi perhatian. Untuk mengkaji masalah tersebut maka penulis menggunakan pemikiran Ali Mustafa Yaqub dalam membahas “Dikotomi hadis ahad terdapat bukunya yang berjudul Kritik Hadis. Penting untuk memahami perdebatan tentang hadis ahad tersebut guna menambah wawasan. Menurut analisis penulis hadis ahad tidak bisa ditolak dan tidak dijadikan hujjah dalam masalah akidah, ketika ini dilakukan konsekuensinya banyak hadis yang akan ditolak, seperti tentang syurga dan beraka, dajjal, siksa kubur, mizan di akhirat dll. Hemat penulis adalah pembagian hadis ahad tetap ada dalam disiplin ilmu hadis namun bukan berarti pembagian ini akan menjatuhkan derajat hadis ahad.
Konsep Kecukupan Bahan Pangan Perspektif Islam
Kaslam Kaslam
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 10 No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24252/tahdis.v10i2.12466
Konsep kecukupan bahan pangan diatur dalam islam. Banyak dalil yang membahas metode dalam mengatur persediaan bahan pangan, mulai dari produksi, distribusi hingga pola konsumsinya. Bahan pangan menjadi tidak cukup ketika ada kesalahan dalam memproduksi atau memakmurkan bumi. Metode mengelolah lahan pertanian juga diatur dalam islam. Walaupun bahan pangan telah diproduksi mencukupi, tetapi pola distribusinya tidak merata juga akan mempengaruhi tingkat kecukupan bahan pangan bagi masyarakat. Distribusi harus merata dan terpola sehingga mencukupi untuk semua orang. Jika produksi dan distribusi bahan pangan telah aman, akan tetapi pola konsumsi belum memakai kaidah – kaidah islam, maka bahan pangan yang tersedia juga tidak akan mencukupi. Pola konsumsi yang tidak berlebih-lebihan dan tidak mubazzir adalah salah satu hal yang diatur dalam islam. Olehnya itu ketiga aspek ini harus berjalan dengan baik diatas petunjuk Al Qur’an dan Hadis.Kata Kunci : Bahan Pangan, Produksi, Distribusi, Konsumsi
Keistimewaan kucing; Kajian Tematik Hadis
Andi Alda Khairul Ummah
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 9 No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24252/tahdis.v9i1.12480
Kucing merupakan salah satu hewan yang lucu dan menggemaskan, dia memiliki mata yang indah dan bulu yang lembut. Bahkan, kucing termasuk salah satu hewan yang di sebutkan dalam hadis Rasulullah saw. Tapi jika dilihat fenomena pada zaman sekarang ada orang yang begitu menyukai hewan tersebut dan ada juga yang sangat tidak manyukainya. Permasalahannya adalah sebagian orang yang tidak menyukai kucing dia tega menelantarkan dan menganiaya hewan tersebut. Sehingga, banyak kucing yang tinggal di jalanan atau pasar-pasar. Dalam hadis Rasulullah saw ada yang bercerita tentang orang yang masuk neraka akibat menganiaya hewan ini. Dalam mengkaji atau memahami hadis tersebut penulis menggunakan metode tahlili yang dimana menjelaskan kosa kata dan syarah hadis tersebut. Hasil dari pemahaman hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar adalah bahwa tidak boleh mengurung kucing dan tidak memberinya makan atau minum karena hal tersebut termasuk dalam menganiayanya. Karena mengurung kucing wanita itupun masuk neraka sebagaimana yang telah di sebutkan diatas bahwa itu merupakan bentuk penganiayaan terhadap kucing. Sehingga kucing tersebut mati. Tidak hanya kucing hewan lain pun kita tidak boleh menganiaya meraka. Maka dari hasil pemahaman hadis tersebut sudah semestinya kita sebagai manusia sangat penting dalam memelihara kucung dan tidak boleh menganiaya hewan termasuk kucing karena kucing merupakan hewan yang istimewa dan kesayangan Rasulullah saw.
MANHAJ WAHIDUL ANAM DALAM MENULIS BUKU DEKONSTRUKSI KAIDAH ‘ADALAH AL-SHAHABAH IMPLIKASINYA TERHADAP STUDI ILMU HADIS
Wiwin Sri Winda Sari
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 9 No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24252/tahdis.v9i1.12479
Adanya konsep seluruh sahabat itu adil, memunculkan perdebatan yang panjang di kalangan para ulama, karena dalam praktek kajian studi ilmu hadis, menjadi salah satu syarat diterimanya suatu hadis apabila terpenuhinya kriteria keadilan seseorang yang berhak meriwayatkan suatu hadis. Dalam pandangan Islam, sebagian ulama menganggap bahwa sahabat adalah orang yang sangat terpuji yang tidak lagi diragukan keadilannya, sedangkan sebagian yang lain menganggp bahwa tidak semua sahabat itu adil karena pada hakikatnya mereka juga adalah manusia biasa yang tidak luput dari yang namanya kesalahan dan dosa. Sebelumnya telah banyak literatur yang membahas persoalan ini, namun diluar daripada itu, penting bagi kita untuk mengkaji kembali dengan merujuk pada pemikiran dan manhaj seorang tokoh kontemporer yakni Wahidul Anam dalam bukunya dekonstruksi kaidah ‘adalah al-shahabah implikasinya terhadap studi ilmu hadis. Tokoh ini termasuk orang yang karyanya banyak tertuang dalam kajian keislaman, dalam kajian ilmu hadis salah satunya. Metode yang digunakan Wahidul Anam dalam bukunya ialah metode deskriptif berdasarkan kajian yang menggunakan pendekatan historis dan pendekatan teologis normatif dengan memaparkan pendapat yang ada lalu kemudian menyimpulkannya. Melalui metode itu, dapat dipahami bahwa bagaimana manhaj Wahidul Anam dalam mengembalikan kaidah seluruh sahabat itu adil pada konstruksi awalnya.
KHALWAH; ANALYTICAL STUDY OF PROPHET MUHAMMAD'S TRADITION
Ummi Farqah
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 10 No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24252/tahdis.v10i2.12475
The purpose of this study is to understand the interpretation of the ahadith on the prohibition of khalwah. Nowadays, we are facing there are many people do not follow the limitation prescribed by shari’ah during their engagement period and they are still involving in khalwah in the Muslim world. This happens mainly because majority of those are not aware of the ahadith on prohibition of khalwah or they do not have better understanding of the ahadith. Thus, this study to analyze ahadith of the khalwah. The conclusion reached for this research shows that all interpretation of the ahadith agreed on the prohibition of khalwah. Finally, the result indicates that the understanding towards the ahadith on the prohibition of khalwah should be strongly instilled in every moslem. Thus, they will leave khalwah even they are engaged.
Pemaknaan Shalawat: Pandangan Majelis Dzikir Haqqul Yaqin
Muadilah Hs. Bunganegara
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 9 No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24252/tahdis.v9i2.12478
Shalawat merupakan bentuk seruan doa yang ditunjukkan kepada Rasulullah Saw. dengan maksud mendoakan atau memohonkan berkah kepada Allah Swt. Akan tetapi dewasa ini, pengaplikasian shalawat sudah berkembang mengikuti perkembangan zaman yang semakin menarik perhatian masyarakat, karena hadir dengan berbagai macam versi, misalnya shalawat yang dinyanyikan oleh artis terkenal sekarang. Tantangan yang hadir selanjutnya yaitu masyarakat yang pada umumnya hanya mengucapkan shalawat secara lisan, tanpa meresapi makna shalawatnya. Hal demikian berbeda pada Majelis dzikir haqqul yaqin sebagai salahsatu pengamal shalawat, mereka sangat menganjurkan untuk bershalawat dalam setiap aspek kehidupannya yang dimaknai melalui hati. Menurut mereka, sholawat memiliki nilai-nilai baik bagi pribadi maupun orang banyak. Sehingga sangat penting untuk mendeskripsikan ulang bagaimana sebenarnya pengaplikasian shalawat, yang tidak hanya dilakukan melalui lisan tapi juga memaknai shalawat denga hati, sebagaimana yang dilakukan penganut majelis dzikir haqqul yaqin sampai sekarang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, dilakukan dengan cara mengambil informasi dari penganut majelis dzikir, dan menambah informasi dari beberapa literature untuk menambah keakuratan suatu informasi. Sehingga ditengah maraknya versi shalawat yang hadir, penelitian ini dapat bertujuan untuk memulihkan kembali pemaknaan shalawat dengan harapan, dapat melahirkan kembali esensi shalawat-shalawat yang ditujukan kepada Nabi Muhammad Saw. sebagai suri tauladan dalam kehidupan umat manusia, yang memberikan pengaruh pada orang yang melafadzkannya.
KERAGAMAN BACAAN TAHIYAT DALAM SHALAT
Riska Riska
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 11 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24252/tahdis.v11i2.14109
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk memberikan penjelasan terhadap keragaman dan kesahihan hadis terkait dengan bacaan tahiyyat agar tidak terjadi perselisihan dan pertikaian dalam masyarakat dalam pelaksanaannya. Contoh kasus yang terjadi pada kalangan masyarakat awam tepatnya di daerah Tonrokassi Timur, Jeneponto masih memperselisihkan dan ada yang belum mengetahui bacaan tahiyat yang sesuai dengan ajaran Nabi saw. mereka beranggapan bahwa bacaan tahiyat hanya ada satu bacaan, karena inilah yang mereka terima dari ajaran orang tua mereka. Sehingga mereka tidak menerima bacaan yang lain, bahkan diantara mereka masih ada yang belum mengetahui tatacara tahiyat yang benar sesuai ajaran Nabi saw. metode penelitian yang digunakan ialah kajian pustaka dengan menelusuri, mengumpulkan, mengkaji kitab-kitab hadis yang berkaitan dengan bacaan tahiyat. Setelah penulusuran maka dapat dikatakan bahwa keragaman bacaan tahiyat semuanya diriwayatkan oleh perawi yang siqah sehingga dapat dinilai shahih.KeywordsShalat, Keragaman bacaan tahiyat, hadisAbstrakThe study was intended to provide an explanation for the variety and sacility of the hadith relating to tahiyat literature in order to prevent dissension and dissensioan in the society of implementation, an example in the case of ordinary people in region of eastern Tonrokassi in Jeneponto was still reporting and some had not yet known the tahiyat readings to fit the prophet’s teachings. They assumed that the printed text contained only one rading, since this was what they received from the teachings of their parents. So that they received no other reading, even some of them still did not know the correct ordinances according to the prophet’s teachings. The method of research used is the library study by searching, collecting, examining the books of the hadith relating to tahiyat literature, after the search it can be said that the diversity of tahiyat readings was all presented by the siqah recited and thus could be judged shahih.KeywordsPrayer, tahiyat readings diversity, hadith
ORISINALITAS HADIS NABI SAW. PERSPEKTIF ISLAMOLOG
Tasmin Tangngareng
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 11 No 1 (2020): Tahdis
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24252/tahdis.v11i1.15005
Artikel ini membahas tentang kajian hadis di kalangan Islamolog. Pemikiran Islamolog yang mengguncang dunia Islam khususnya para pengkaji hadis telah mendapat perhatian di kalangan agamawan. Hadis yang telah disepakati kesahihannya tiba-tiba mendapat sanggahan dan kritikan baik sanad dan matan hadis, tidak ada lagi yang orisinil dimata Islamolog. Artikel ini menggunakan pendekatan sosio-historis guna membaca literatur sejarah dan pendekatan ilmu hadis sebagai bentuk kritik keakuratan argumentasi Islamolog. Teori yang dihasilkan Islamolog cenderung kepada pengkajian sejarah, sehingga transmisi periwayatan (sanad) dalam pandangan Islamolog tidak ilmiah hanya rekayasa orang-orang abad pertama dan kedua Hijriyah. Hal ini tentu mengundang bantahan dan kritikan para ulama, terlepas adanya pergeseran keilmiahan suatu ilmu. Awal kemunculan Islam, standar ilmiah harus dengan hafalan yang tentu berbeda dengan zaman sekarang yang membutuhkan bukti tulisan.
Konsep Rahmat Dalam Islam Perspektif Hadis Nabi Muhammad SAW. (Innamā Anā Rahmatun Muhdātun)
Ruslan Rasid;
Marhumah Marhunmah;
Ahmad Rafiq
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 12 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24252/tahdis.v12i1.18689
Islam as the religion of Al-Salaam (salvation) highly upholds human values, one of the human values that cannot be separated from Islam is to be a figure who spreads mercy (love) to mankind regardless of background differences. There are several hadiths that point to the concept of grace and can be used as a life guide for Muslims in being religious in the midst of diversity. The purpose of this research was to analyze how the concept of grace in Islam based on the hadith of the Prophet Muhammad which reads "innamā anā rahmatun muhdātun," The research result states that the concept of mercy based on the hadith that grace in Islam was not limited to spreading compassion to anyone. But more than that, the mercy of Islam touches the joints of wider society. Islam does not invite someone to follow its teachings by force. Rahmat is also interpreted as an effort to pray for the good of others and to respect and respect all forms of differences.
أحاديث فضيلة الزهد في كتاب سَيْر السالكين للشيخ عبد الصمد الفَلِمْبَانِي دراسة تحليلية نقدية
Taufiq - Hidayat
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 11 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24252/tahdis.v11i2.15684
This research examines the Hadith Zuhud (Asceticism) in the Sayr Al-Salikiin of Abdus Somad Al-Falimbani in terms of matn (their text) and sanad (chain of narration). A brief introduction of the narrator of the hadith is also given. Attestation of the hadith in other books is examined and the status of hadith is determined, whether they remain daif (weak) or upgraded to be hasan (valid). The researcher used the inductive method to collect hadith Zuhud (Asceticism) in the Sayr Al-Salikiin of Abdus Somad Al-Falimbani as well as the critical approach on the attestation in other books and determine the status of the hadith and used the analytical method to conclude on some jurisprudence of the Hadith. As a result, the researcher found most of hadith in the Sayr Al-Salikiin are eligible to be upgraded into hasan. The rest remain daif due the unavailable attestation or weak narrator chain. The hadiths in the Sayr Al-Salikiin book about Zuhud (Asceticism) are thirty. But, The hadiths about advantages of asceticism five. hadiths that reach to the hasan level are one. And the rest remain daif due the unavailable attestation in another book or weaken narrator.