cover
Contact Name
Rusmin Abdul Rauf
Contact Email
tahdis@uin-alauddin.ac.id
Phone
+6282344228117
Journal Mail Official
tahdis@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
Jl. H. M. Yasin Limpo No. 36 Romangpolong, Gowa, Sulawesi Selatan Kampus II Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis
ISSN : 20867891     EISSN : 27162109     DOI : 10.24252/tahdis
Tahdis : Jurnal Kajian Ilmu Hadis adalah jurnal Prodi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Alauddin Makassar yang berisi artikel ilmiah dan hasil penelitian berkaitan tentang Hadis dan Ilmu Hadis.
Articles 130 Documents
HADITH ON THE EXCELLENCE OF AL-FATIHAH: THE EXAMINATION OF ITS CHAIN OF TRANSMISSION Andi Muhammad Ali Amiruddin
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 12 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/tahdis.v12i1.19581

Abstract

Hadith, as commonly defined by hadith scholars (al-muhddithun), is a record of the Prophet’s sayings, deeds and tacit approval. Even it may include the description of the Prophet’s features and physical appearance. Hadith contains details of faith and doctrine, ritual issues, ethics and many others which are related with the contents of the Quran and on the Quranic verses as well. This article is aimed at assessing the validity of a hadith on the excellence of al-Fatihah, the opening chapter of the Quran. In doing so, this article presents the chain of transmission of the hadith by assessing the details of all persons involved in relating the hadith.  It is found the hadith assessed is reliable and may be relevant for Muslims to use as a source for their religious activities.
LARANGAN MENDOAKAN DIRI SENDIRI MENINGGAL DUNIA (STUDI KRITIK SANAD METODE MATEMATIKA HADIS) Muhammad Irham
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 11 No 1 (2020): Tahdis
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/tahdis.v11i1.14101

Abstract

Artikel ini membahas seputar kritik sanad hadis tentang mendoakan diri sendiri meninggal dunia dengan menggunakan metode baru yang dirancang oleh penulis dengan sebutan matematika hadis. Matematika hadis berbeda dengan hadis matematika. Hadis matematika bersifat kajian tematik tentang hadis berkaitan dengan ilmu matematika, sedangkan matematik ahadis adalah sebuah metode baru dalam kritik hadis dengan banyak menggunakan angka dan simbol matematis. Metode matematika hadis dalam tahap pengembanganya bersifat numeral, penuh angka, inisial huruf, rumus, bahkan simbol matematika (eksakta secara umum) seperti £ (baca: lamda), ∑ (baca: sigma), dan Ω (baca: omega). Metode ini digunakan dalam artikel ini untuk memudahkan penulis dalam kritik sanadnya sekaligus memperkenalkan kepada khalayak dan menantikan saran kontruktif dalam pengembangan metode ini. Hasil penelitian ini adalah hadis tersebut adalah hadis sahih dengan dua puluh enam variasi matan di dalamnya. Berarti hadis ini diriwayatkan bi al-ma’na> dari tiga orang sahabat, yaitu Anas Ibn Ma>lik ra., Abu> Hurairah ra., dan Khabba>b ra.
ISLAM DAN MODERASI BERAGAMA DALAM PERSPEKTIF HADITS Faelasup Faelasup
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 12 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/tahdis.v12i1.19542

Abstract

Religious moderation is a tolerant attitude and recognizes compromise in seeing differences. This research makes an inventory of the hadiths related to religious moderation with the word وسطيه which means moderation. From the search for كتب التسعة, the word وسطيه was not found, but there are several words that are equivalent to وسطيه namely القصد and الاعتدال. The word القصد is mentioned 6 times. Meanwhile, the word الاعتدال is only found once in the 255th Hadith Tirmidhi. The principle of wasathiyah described in the hadith is Al-khairiyah (chosen or best), Al-‘adalah (fair attitude), Al-Tawazun (balance). Attasamuh (tolerant). Al-Istiqamah (Consistency), Raf al-halaj (eliminating difficulties).KeywordsIslam, Religious Moderation, Hadith
HADIS GAIR MA‘MŪL BIH (Studi atas Hadis Sahih Tapi Tidak Aplikatif) H. Rajab Z
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 11 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/tahdis.v11i2.16221

Abstract

Abstrak:Tulisan ini bermaksud menjelaskan tentang hadis gair ma‘mūl bih, suatu istilah untuk menunjukkan adanya hadis Nabi yang meskipun dapat diterima sebagai sumber ajaran agama, tetapi ternyata hadis-hadis tersebut tidak aplikatif. Penelitian dilakukan pada matn dari hadis dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan mengandalkan sumber-sumber pustaka, berupa kitab-kitab hadis, buku, artikel ilmiah dan sumber pustaka lain yang dianggap relevan. hasil penelitian menunjukkan bahwa istilah hadis gair ma‘mūl bih berkaitan dengan 2 hal, yang pertama, tentang hadis mutashābih, yaitu hadis yang di dalam teksnya terdapat lafal yang tidak dapat diungkap maknanya secara pasti, sehingga harus ditangguhkan pengamalan hadis tersebut atau maknanya dialihkan ke pengertian yang lain yang sebenarnya bukan makna dari lafal tersebut, dan kedua, tentang mukhtalif al-ḥadith, yaitu hadis yang kandungan matannya kontradiktif antara satu dengan lainnya. Ada beberapa faktoryang menjadi penyebab terjadinya pertentangan antarmatan hadis, yaitu al-qalb, al-Idrāj, ziyādat al-thiqah dan taṣḥīf. Faktor-faktor ini adalah shudhūdh hadis, dan hadis yang dimasukinya menjadi shādhdh, sedangkan hadis yang bertentang dengannya yang lebih kuat disebut maḥfūẓ.Abstract:This paper intends to explain the hadith gair ma'mūl bih, a term to indicate the existence of the Prophet's traditions which, although they can be accepted as a source of religious teachings, are in fact not applicable. The research was conducted on the matn of the hadith using descriptive qualitative methods by relying on literary sources, in the form of hadith books, books, scientific articles and other literature sources that are considered relevant. The results of the research show that the term hadith gair ma'mul bih is related to two things, about the hadith mutashābih, namely the hadith in which the text contains a pronunciation whose meaning cannot be revealed with certainty, so that the practice of the hadith must be postponed or the meaning is transferred to the meaning. the other which is actually not the meaning of the pronunciation, and about mukhtalif al-ḥadith, namely the hadith whose contents contradict one another. There are several factors that cause contradictions between the matanhadiths, namely al-qalb, al-Idrāj, ziyādat al-thiqah and taṣḥīf . These factors are the shudhūdh of hadith, and the hadith that it includes becomes shādhdh, while the hadith that is contrary to it which is stronger is called maḥfūẓ.
TINJAUAN HADIST DALAM PERSPEKTIF SUNNI DAN SYI'AH Seka Andrean
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 12 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/tahdis.v12i1.17584

Abstract

The majority of muslims view hadith as the root of islam's second teaching after the Qur'an. The focus of this research is on the hadith review in the perspective of sunni and shi'ah. This analysis concluded that the two peoples agreed that hadith was used as the root of the second law after the Qur'an. But in each of these people, there are differences about the acceptance of hadiths that can be used as arguments. The Sunnis define hadith is everything is encoded by Rasullulah SAW both in its words, deeds and statutes. Then the Shi'ite people define hadith as sunnah, because for them the hadith is not just a speech, an act or a statute of Rasullulah SAW alone. In the classification of hadith, based on its quality Sunni divides hadith into hadith saheeh, hadith hasan, and hadith dha'if. While shia divide hadith into hadith saheeh, hadith hasan, hadith muwassaq, and hadith dha'aif. Although the two have quite strong differences, but in the real world man will still need a hadith in his life. Then in saheeh. Sunnis consider that companions have a just nature and Shi'a considers that companions are wicked human beings, for for them a friendship with the Prophet SAW does not determine that man has a nature in kindness and honesty.
Sustainable Energi dalam Pandangan Islam Kaslam Kaslam; Kaslam Kaslam
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 11 No 1 (2020): Tahdis
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/tahdis.v11i1.13626

Abstract

Hadis Nabi tentang kerjasama muslim dalam tiga hal yaitu padang rumput, air dan api merupakan isyarat akan pentingnya menjaga ketiga sumber daya alam tersebut. Api dalam hal ini energi sudah menjadi kebutuhan pokok yang tidak bisa terpisahkan oleh aktivitas manusia dimuka bumi ini. Oleh karena itu, penggunaannya harus dilakukan secara arif dan bijaksana agar dapat lestari dan bisa dinikmati oleh setiap orang tanpa kekurangan. Penggunaan energi dalam memenuhi aktivitas sehari-hari masih didominasi oleh penggunaan energi fosil seperti minyak bumi dan batu bara yang tidak dapt diperbaharui. Fenomena penggunaan energi oleh masyarakat yang boros turut mempercepat laju menipisnya sumber energi ini. Oleh karena itu, penggunaan energi yang dapat diperbaharui mutlak untuk segera diterapkan demi kelangsungan pemenuhan kebutuhan energi masyarakat. Banyak potensi sumber daya alam yang diciptakan oleh Allah swt. yang dapat dimanfaatkan dan jumlah tak terbatas seperti matahari, pohon, air, laut, gunung dan angin. Dengan didukung oleh pengelolaan yang efektif dan efisien oleh pemerintah serta pola perilaku masyarakat yang sadar akan pentingnya hemat energi, maka sustainable energi dapat terwujud.Keyword : Penggunaan Energi, Sumber Energi, Sustainable Energi 
Hadis Tentang Perempuan Setengah Akal Dan Agamanya Habib Bullah
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 11 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/tahdis.v11i2.17138

Abstract

Islam sebagai agama rah}matan li al-‘a>lami>n menekankan keistimewaan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT, baik laki-laki maupun perempuan. Keduanya diciptakan dari “nafs wa>h}idah”  serta memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah. Perbedaannya hanya dalam tingkatan ketaqwaannya saja.  Selain laki-laki, perempuan adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang juga diberikan emban menjadi khalifah di muka bumi ini dengan memikul tanggung jawab yang sama, yaitu Amar ma’ru>f Nahi Munkar. Namun, terdapat perbedaan kodrati dan naluri yang dimiliki laki-laki dan perempuan, sehingga ada sebagian permasalahan perempuan diperlakukan khusus oleh syari’at Islam, seperti mendapatkan dispensasi dalam melakukan kewajiban shalat dan puasa ketika sedang haid atau nifas. Begitu juga perempuan mempunyai kodrat yang berbeda dengan laki-laki, misalnya dalam hal reproduksi dan naluri keibuan yang tidak dimiliki oleh laki-laki. Dalam berbagai literatur diungkap tentang bagaimana Islam mengentaskan berbagai ketidakadilan terutama jika dikaitkan dengan persoalan kaum perempuan dari penindasan. Di sisi lain, terdapat sebuah hadis Nabi Saw yang menyatakan bahwa perempuan itu akal dan agamanya “setengah” atau bisa dikatakan kurang akal dan agamanya. Hal tersebut terkesan diskrimanasi terhadap kaum perempuan. Dengan menggunakan legitimasi agama dari dalil hadis Nabi Muhammad Saw yang menyematkan perempuan akal dan agamanya setengah/separuh inilah, maka Islam bukanlah agama yang mengangkat derajat perempuan dan memberikan hak yang sama di antara makhluk ciptaan Tuhan. Dengan demikian perlu ada pemaknaan yang komprehensif tentang hadis tersebut sehingga memberi kesimpulan bahwa Islam benar-benar agama yang menjanjikan rahmat bagi semua makhluk.
Shamail Tirmidhi dalam Diskursus Literatur Hadis tentang Nabi Andi Muhammad Ali Amiruddin
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 11 No 1 (2020): Tahdis
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/tahdis.v11i1.14978

Abstract

Literatur kitab hadis merupakan sumber utama bagai umat Islam untuk mendapatkan informasi yang massif dan akurat terkait keberadaan Nabi Muhammad saw. Tulisan ini mencoba menelusuri kitab Shama>’il al-Tirmidhi sebagai salah satu kitab hadis yang secara khusus memuat gambaran tentang Muhammad, baik dari aspek keberadaanya sebagai Nabi, maupun untuk melihat sifat, hal-ihwal, kepribadian dan kualitas intelektual Muhammad sebagai seorang manusia yang ‘mendapatkan wahyu’ dari Tuhan. Tulisan ini berupaya menunjukkan keberadaan kitab Shama>’il al-Tirmidhi dengan melihat beberapa aspek dari kitab tersebut, menganalisis beberapa hadis yang termuat di dalamnya, yang pada akhirnya dimaksudkan untuk menunjukkan sejauh mana spesifikasi kitab Shama>’il al-Tirmidhi dapat dirujuk secara otoritatif sebagai literatur hadis yang representatif untuk mengkaji kepribadian Nabi Muhammad saw. Ditemukan bahwa hadis-hadis yang termuat dalam kitab Shama>’il al-Tirmidhi tidak memiliki keseragaman dari aspek kualitas hadis dan kandungannya. Berdasarkan kajian beberapa hadis dalam kitab Shama>’il al-Tirmidhi, ditemukan bahwa hadis-hadis yang memiliki kualitas yang lebih baik, tampaknya menyajikan keberadaan Muhammad pada posisinya sebagai seorang manusia yang mendapatkan wahyu ilahi. Sementara hadis-hadis yang memiliki kualitas yang lebih rendah cenderung untuk menggambarkan Muhammad sebagai manusia yang luar biasa, dan memiliki kualitas sebagai seorang yang memiliki kesucian yang tak dapat ditandingi
KITAB HADIS INDONESIA (Studi Kitab al-Arba’un al-Buldaniyyah Karya Abdus Salam al-Naqari) Taufik Kurahman
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 12 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/tahdis.v12i1.18159

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengenal salah satu karya terbaru ulama Indonesia dalam bidang hadis, yaitu kitab al-Arba’un al-Buldaniyyah karya Abdus Salam al-Naqari. Pengambilan karya tokoh tersebut tentu bermanfaat untuk mengenalkan bagaimana kayanya Indonesia akan kitab-kitab hadis yang ditulis oleh ulamanya. Untuk itu, artikel ini mengangkat beberapa persoalan penting mengenai objek yang dibahas. Pertama, artikel ini membahas beragam kitab hadis model arba’un karya ulama Nusantara secara umum. Kedua, pembahasan difokuskan pada diri al-Naqari sebagai penulis kitab hadis dikaji. Dan terakhir, artikel ini berfokus pada kitab al-Arba’un al-Buldaniyyah milik al-Naqari, tentang latar belakang penulisan, metodologi, serta sistematikanya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan model kajian kepustakaan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara dokumentasi, sehingga data-data yang ada bersumber dari berbagai jenis media cetak. Hasil penelitian menemukan bahwa Nusantara atau Indonesia memiliki banyak karya hadis model arba’un, termasuk milik al-Naqari. Al-Naqari merupakan seorang alim dari keluarga yang cinta agama Islam. Sedangkan al-Arba’un miliknya menggunakan metode dan sistematikanya tersendiri. 
Otoritas Hadis dalam Asbab al-Nuzul al-Jadid Egi Tanadi Taufik; Hadi Wiryawan
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 11 No 1 (2020): Tahdis
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/tahdis.v11i1.13075

Abstract

Tulisan ini mengidentifikasi otoritas Hadis dalam konsep Asbāb al-Nuzūl Jadīd  menurut M. Amin Abdullah. Asbāb al-Nuzūl Jadīd adalah paradigma tafsir kontemporer yang berbasis pada pola pikir kosmis (worldview), ideologis, antropologis dan teologis. Penulis berusaha mengkritisi peran Hadis sebagai sumber penafsiran dalam tafsir Qur’an kontemporer, terutama dalam metodologi Asbāb al-Nuzūl al-Jadīd.Hadis, yang mengalami beberapa tahapan transformasi dari budaya realitas (qaul, fi’il, taqrīr, shifat Nabi), budaya lisan (tradisi isnād), hingga ke budaya tulis (kodifikasi teks Hadis), menghadapi tantangan untuk terus bertahan di tengah kompleksitas masyarakat kontemporer yang dinamis dan fluktuatif. Terdapat interval antara wilayah ajaran (das sollen) dan wilayah realita (das sein) dalam penggunaan Hadis di tafsir kontemporer. Perbedaan tersebut membuat Hadis jarang dijadikan sebagai rujukan utama dalam tafsir kontemporer dan hanya dijadikan sebagai prawacana atau pre-text.Hermeneutika otoritarian Abou Fadl menjadi sarana untuk mengembangkan konsep Asbāb al-Nuzūl Jadīd dalam konsentrasi studi Hadis. Kritik normativitas matan dan desakralisasi isnad mampu mengungkap spirit Hadis dan meminimalisir subjektivitas perawi (idiosyncronic). Analisis di atas diharapkan mampu menjadi alternatif untuk mereduksi produk penafsiran bersumber Hadis yang sewenang-wenang (despotic interpretation).

Page 8 of 13 | Total Record : 130