cover
Contact Name
Zurrahmi
Contact Email
zurrahmi10@gmail.com
Phone
+6285265992150
Journal Mail Official
zurrahmi10@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Jurnal Ners
ISSN : -     EISSN : 25802194     DOI : 10.31004
Core Subject : Health,
Fokus Jurnal Ners meliputi bidang kajian riset keperawatan diantaranya Keperawatan Medikal Bedah, Keperawatan Maternitas, Keperawatan Gawat Darurat, Keperawatan Anak, Keperawatan Lansia, Keperawatan Jiwa, Keperawatan Keluarga, Keperawatan Masyarakat, Manajemen Keperawatan dan Terapi Komplementer yang dapat menunjang tindakan keperawatan Jurnal Ners dikelola dan diterbitkan oleh Program Studi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai Jurnal Ners adalah pengembangan dari Jurnal Program Studi Keperawatan STIKes Tuanku Tambusai yang mulai melakukan publikasi cetak tahun 2012 seiring dengan perubahan bentuk Institusi menjadi Universitas Pahlawan
Articles 351 Documents
Search results for , issue "Vol. 10 No. 1 (2026)" : 351 Documents clear
Analisis Tren Kasus Kecelakaan Lalu Lintas Berbasis Dashboard Ambulance Hebat di Kota Semarang Tahun 2023-2025 Sabrina Malika; Harsono Harsono; Ahmad Zaini; Wisnu Wardhana
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53018

Abstract

Road traffic accidents remain a major public health concern in Semarang City, driven by high urban mobility and the dominant use of motorcycles. This study aims to describe the patterns, trends, and spatial distribution of traffic accidents based on data from the Ambulance Hebat Dashboard for the period 2023–2025 and to evaluate the role of the dashboard in supporting emergency response. A descriptive quantitative approach was employed using secondary dashboard data complemented by an interview with the Field Coordinator. The findings indicate a fluctuating trend, with 1,553 cases recorded in 2023, decreasing to 1,257 in 2024, and increasing again to 1,303 cases in 2025, with motorcycles being the most frequently involved vehicle type. Spatial analysis identified high-risk clusters in Semarang Tengah, Banyumanik, Candisari, and Pedurungan. The dashboard effectively facilitates real-time monitoring and response, although minor technical limitations in data synchronization persist. These results highlight the need for optimizing digital infrastructure, integrating interagency data, and prioritizing interventions in high-risk areas to strengthen urban road safety and emergency care performance.
Analisis Konsep Kewaspadaan Klinis Perawat ICU Failasuf Wibisono; Eni Isriani; Siti Aisah; Satriya Pranata; M. Fatkhul Mubin
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53032

Abstract

Kewaspadaan klinis perawat ICU merupakan elemen fundamental dalam perawatan pasien kritis, yang memungkinkan deteksi dini perubahan kondisi, pengambilan keputusan tepat, dan peningkatan keselamatan pasien di lingkungan intensif yang dinamis. Penelitian menunjukkan perawat berpengalaman memiliki akurasi deteksi sepsis 30% lebih tinggi, meskipun faktor seperti shift panjang menurunkan tingkat kewaspadaan. Tujuan : Analisis ini bertujuan mengklarifikasi definisi, atribut, antecedent, konsekuensi, serta implikasi kewaspadaan klinis perawat ICU untuk mendukung pengembangan intervensi berbasis bukti yang meningkatkan praktik keperawatan intensif. Metode Walker and Avant (2018) diterapkan melalui delapan langkah sistematis, meliputi identifikasi penggunaan konsep dari kamus dan literatur, penentuan atribut (pemantauan sistematis, pengenalan pola, dll.), analisis antecedent-konsekuensi, kasus model/borderline/terkait/sebaliknya, serta referensi empiris dari studi terkini. Kewaspadaan klinis didefinisikan sebagai kemampuan mempertahankan perhatian berkelanjutan, mendeteksi perubahan dini, dan merespons cepat; antecedent mencakup pendidikan ICU, pengalaman >2 tahun, staffing optimal; konsekuensi meliputi penurunan komplikasi 30% dan mortalitas; model konsep dihasilkan dari kasus empiris, didukung survei vigilance skor 3,86/5. Model konsep ini memperkuat pemahaman aplikatif kewaspadaan klinis, mendorong pelatihan simulasi, instrumen pengukuran seperti Nursing Vigilance Scale, dan kebijakan rumah sakit untuk outcome pasien optimal. Clinical vigilance of ICU nurses is a fundamental element in the care of critically ill patients, enabling early detection of changes in patient conditions, accurate decision-making, and enhanced patient safety in a dynamic intensive care environment. Research indicates that experienced nurses have a 30% higher accuracy rate in detecting sepsis, although factors such as prolonged shifts may decrease levels of vigilance. Objective: This analysis aims to clarify the definition, attributes, antecedents, consequences, and implications of clinical vigilance among ICU nurses to support the development of evidence-based interventions that improve intensive nursing practice. Methods: The Walker and Avant (2018) concept analysis method was applied through eight systematic steps, including identifying concept usage from dictionaries and literature, determining attributes (systematic monitoring, pattern recognition, etc.), analyzing antecedents and consequences, constructing model/borderline/related/contrary cases, and incorporating empirical references from recent studies. Clinical vigilance is defined as the ability to maintain sustained attention, detect early changes, and respond rapidly; antecedents include ICU education, more than two years of experience, and optimal staffing; consequences involve a 30% reduction in complications and mortality; the conceptual model was developed from empirical cases, supported by vigilance survey scores of 3.86/5. This conceptual model strengthens the practical understanding of clinical vigilance, promoting simulation-based training, measurement instruments such as the Nursing Vigilance Scale, and hospital policies to optimize patient outcomes
Motivasi dan Self-Efficacy Terhadap Kinerja Perawat dalam Resusitasi Jantung Paru (Rjp) di Instalasi Gawat Erlinda Sari Pasaribu; Diah Arruum; Siti Saidah Nasution; Farida Linda Sari Siregar; Isti Ilmiati Fujiati
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53045

Abstract

Resusitasi Jantung Paru (RJP) merupakan bagian dari kinerja perawat dalam pencegahan kecacatan dan kematian untuk menjaga keselamatan pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Kinerja perawat dalam RJP berkaitan dengan motivasi dan Self-Efficacy. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan motivasi dan self-efficacy terhadap kinerja perawat dalam pelaksanaan RJP di IGD Rumah Sakit di Medan. Desain penelitian menggunakan deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel 73 perawat yang diambil dengan teknik total sampling. Instrumen penelitian yang digunakan berupa kuesioner motivasi, self-efficacy, dan kinerja perawat yang telah diuji validitas dan reliabilitas. Analisis data menggunakan uji pearson dan regresi linier berganda dengan p-value 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas perawat memiliki motivasi tinggi 93,2%, self-efficacy tinggi 97,3%, dan kinerja perawat seluruhnya baik. Terdapat hubungan positif dan signifikan antara motivasi dengan kinerja (p=0,000; r=0,425) serta antara self-efficacy dengan kinerja (p=0,000; r=0,401), yang berarti semakin tinggi motivasi dan self-efficacy maka semakin baik kinerja perawat. Analisis regresi menunjukkan bahwa kedua variabel berpengaruh signifikan dengan motivasi sebagai faktor dominan (β=0,350; p=0,001) . Kesimpulan bahwa terdapat hubungan antara motivasi dan self-efficacy dalam meningkatkan kinerja perawat pada pelaksanaan RJP. Manajer keperawatan perlu mengoptimalkan pelatihan berbasis simulasi klinis dan supervisi guna meningkatkan mutu pelayanan keperawatan gawat darurat.
Efektivitas Program Edukasi dalam Meningkatkan Perilaku Kesehatan Gigi dan Mulut Anak Usia Prasekolah di TK Al-Jawahir Kediri Meyrinda Tobing; Iin Indah Aris Wati; Putu Yuri Divina; Erwin Gunawan
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53046

Abstract

Abstrak Karies gigi merupakan masalah kesehatan mulut yang paling banyak dialami anak usia dini, terutama akibat konsumsi makanan kariogenik dan kebiasaan menyikat gigi yang kurang tepat. Data Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi karies pada anak usia 3–4 tahun mencapai 81,1% dan meningkat menjadi 92,6% pada usia 5–9 tahun. Kondisi ini diperburuk oleh rendahnya pengetahuan anak dan kurangnya perhatian orang tua terhadap kesehatan gigi susu. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas penyuluhan kesehatan gigi terhadap peningkatan pengetahuan anak prasekolah di TK Al-Jawahir Kediri. Kegiatan edukasi dilaksanakan pada 21 Oktober 2025 menggunakan metode ceramah interaktif, demonstrasi teknik menyikat gigi, praktik bersama, dan evaluasi pre-test serta post-test. Materi disampaikan menggunakan media visual, phantom gigi, dan ice breaker untuk meningkatkan keterlibatan anak. Sebanyak 24 anak berpartisipasi dalam penelitian ini. Analisis deskriptif menunjukkan rata-rata indeks DMF-T sebesar 3,04 yang menandakan tingginya beban karies pada responden. Hasil pre-test memperlihatkan bahwa tingkat pengetahuan awal anak masih rendah pada seluruh indikator penilaian. Setelah intervensi edukasi, seluruh aspek pengetahuan mengalami peningkatan yang signifikan, dengan persentase jawaban benar meningkat pada semua komponen, termasuk frekuensi menyikat gigi (62,5% menjadi 87,5%), waktu menyikat gigi (25% menjadi 83,3%), penggunaan pasta gigi (20,83% menjadi 87,5%), serta pengetahuan makanan sehat dan penyebab karies (62,5% menjadi 95,83–100%). Uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan yang bermakna antara skor pre-test dan post-test (p < 0,05). Dengan demikian, penyuluhan dengan pendekatan interaktif terbukti efektif meningkatkan pengetahuan kesehatan gigi anak usia dini dan dapat direkomendasikan sebagai program edukasi rutin di sekolah. Kata Kunci: DMF-T; Edukasi Menyikat Gigi; Karies Anak; Pengetahuan Anak Usia Dini; Penyuluhan Kesehatan Gigi. Abstract Dental caries is the most common oral health problem among young children, primarily caused by frequent consumption of cariogenic foods and improper toothbrushing habits. The 2018 National Basic Health Research (Riskesdas) reported that the prevalence of caries among children aged 3–4 years reached 81.1% and increased to 92.6% in those aged 5–9 years. This condition is further aggravated by limited oral health knowledge in children and insufficient parental attention to primary tooth care. This study aimed to evaluate the effectiveness of dental health education in improving the knowledge of preschool children at Al-Jawahir Kindergarten, Kediri. The educational intervention was conducted on October 21, 2025, using interactive lectures, toothbrushing demonstrations, guided practice, and pre-test and post-test assessments. The learning materials were delivered through visual media, dental phantoms, and ice breakers to enhance children’s engagement. A total of 24 children participated in the study. Descriptive analysis showed an average DMF-T index of 3.04, indicating a high caries burden among participants. The pre-test results demonstrated that children’s baseline knowledge was low across all assessment indicators. Following the educational intervention, all aspects of knowledge improved significantly, with increases in the percentage of correct responses for toothbrushing frequency (62.5% to 87.5%), appropriate brushing time (25% to 83.3%), use of toothpaste (20.83% to 87.5%), and understanding of healthy foods and caries-causing factors (62.5% to 95.83–100%). The Wilcoxon test revealed a significant difference between pre-test and post-test scores (p < 0.05). These findings indicate that interactive dental health education effectively enhances oral health knowledge in young children and can be recommended as a routine school-based educational program. Keywords: Childhood Caries; Dental Health Education: DMF-T; Early Childhood Knowledge; Toothbrushing Education.
Pengaruh Pijat Oksitosin Terhadap Pengeluaran Kolostrum Ibu Nifas Ratih Septiana Arpen; Elwitri Silvia; Dina Ayuning Tyas; Dewi Asmawati; Rika Armalini; Metta Julita
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53055

Abstract

Colostrum is the first essential fluid for newborns because it contains antibodies, immunoglobulins, and essential nutrients that function to enhance the infant’s immune system. However, in some postpartum mothers, the release of colostrum is often delayed due to insufficient stimulation of the hormone oxytocin, which plays a key role in the let-down reflex. Oxytocin massage is one of the non-pharmacological methods that can increase oxytocin stimulation and thereby accelerate colostrum release. This study aimed to determine the effect of oxytocin massage on colostrum release among postpartum mothers. This research employed a quasi-experimental design with a pretest–posttest with control group approach. The sample consisted of postpartum mothers who met the inclusion criteria, selected using purposive sampling. The measurement of colostrum release was conducted by observing the time of the first colostrum appearance after the intervention. Data were analyzed using statistical tests such as the t-test or Mann–Whitney, depending on the data distribution. The results showed a significant difference in the time of colostrum release between the group that received oxytocin massage and the control group, with a p-value < 0.05. Postpartum mothers who received oxytocin massage experienced earlier colostrum release compared to those who did not receive the intervention. In conclusion, oxytocin massage has a significant effect on accelerating colostrum release among postpartum mothers. It is recommended that healthcare providers implement oxytocin massage as a complementary intervention to enhance the success of early breastfeeding initiation (EBI) and support adequate breast milk production during the postpartum period.
Faktor Pendukung dan Hambatan Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit: Scoping Review Benita Edgina; Hanifa Maher Denny; Septo Pawelas Arso
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53060

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kepatuhan terhadap penerapan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di rumah sakit. Metode Penelitian ini menggunakan desain scoping review yang disusun berdasarkan pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses Extension for Scoping Reviews (PRISMA-ScR), dengan tujuan untuk memetakan secara komprehensif berbagai faktor-faktor yang mempengaruhi penerapan keselamatan dan kesehatan kerja di rumah sakit. Hasil: Review jurnal menunjukkan bahwa penerapan K3 di rumah sakit dipengaruhi oleh sikap dan pengetahuan tenaga kesehatan, ketersediaan APD, serta dukungan manajemen melalui pelatihan, penyuluhan, dan pemantauan. Berbagai potensi risiko seperti jatuh, tersandung, tersengat listrik, hingga gangguan keamanan masih ditemukan sehingga diperlukan pengendalian risiko yang tepat serta sosialisasi dan pemeriksaan berkala. Meskipun beberapa rumah sakit telah menerapkan sistem K3, pelaksanaannya belum optimal, terutama karena kendala seperti pandemi COVID-19. Faktor organisasi, lingkungan kerja, dan karakteristik individu juga berperan namun masih kurang diperhatikan, terlihat dari minimnya pelaporan kecelakaan kerja. Perbaikan pelaporan dan penguatan komitmen manajemen diperlukan untuk meningkatkan efektivitas K3 di rumah sakit. Kesimpulan: Terdapat pengaruh variabel pengetahuan, sikap, masa kerja, ketersediaan fasilitas, dan dukungan pimpinan terhadap penerapan K3RS
Peran Minuman Fungsional Berbasis Daun Ubi Jalar Pada Remaja Putri dengan Anemia di Lokus Stunting Entin Jubaedah; Suratmi Suratmi; Moh. Hisyam Hermawan
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53064

Abstract

Introduction: Functional drink is a functional food. As functional food, functional drinks must of course fulfill two main functions, namely providing nutritional intake and sensory satisfaction such as good taste and good texture. Sweet potato production in Indonesia from year to year has increased in 2014 production of 2,382,658 tons, slightly decreased in 2015 which amounted to 2,297,634 tons West Java Province is the largest sweet potato cultivator in Indonesia.. Sweet potato leaves can be used to increase the level of Fe will maintain the life of mice with anemia and increase Hb levels of pregnant women. Purpose: The aims of this research is to find out the effectiveness and role of sweet potato leaf-based functional drinks in adolescent girls with anemia as the first step in stunting prevention in Cirebon City Method: This study will use a Quasi Experiment design with a pretest-posttest control design approach. This design was chosen to measure the effectiveness of a functional drink intervention based on sweet potato leaves on increasing hemoglobin levels and nutritional status in adolescent girls with anemia at the stunting locus at the PONED Sitopeng Health Center Result: This functional drink formulation provides a contemporary taste and increases the content of vitamins and minerals. Fermentation of beverages also produces high levels of polyherorols, reaching 166 mg/L and 223 mg/L, Vitamin B6 as much as 0.07 mg, Vitamin C (3.7 mg), Magnesium (3.6 mg), Zinc (0.40 mg), Iron (0.92 mg) and Calcium (4.13 mg). Based on the results of the analysis, the comparison of the median Hb level of adolescent girls before the intervention was 11 and after the intervention was 14.8 and the p value was < 0.001, which means that statistically there is a significant difference between Hb before the intervention and after the intervention. Conclusion: Statistically, there was a median difference between Hemoglobin (Hb) levels before the intervention and after the intervention. The results of the study provide an idea that functional drinks made from sweet potato leaves are able to increase Hemoglobin (Hb) levels, so functional drinks based on sweet potato leaves are important to support the reduction of stunting.
Analisis Pelepasan Ion Fluorida Dari Resin Komposit Flowable Setelah Direndam Dalam Susu UHT Afrida Nurmalasari; Rakhmalita Arlini; Maria Luizinha Toto; Samantha Lay Dos Santos; Iriana Fitiariski; Erwin Gunawan
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53078

Abstract

Abstrak Upaya preventif dapat dilakukan, untuk mencegah terjadinya karies gigi pada anak, yaitu dengan aplikasi fissure sealant. Salah satu bahan sealant adalah resin komposit flowable, yang memiliki viskositas rendah dan memiliki kandungan fluorida dalam filler. Kandungan fluorida dapat mencegah proses demineralisasi karies gigi. Pelepasan ion fluorida dapat dipengaruhi keasaman pH larutan. Keadaan rongga mulut dengan pH yang rendah, menyebabkan bahan restorasi melepaskan ion fluorida lebih besar, dibandingkan pada keadaan pH yang tinggi. Susu UHT merupakan salah satu susu yang sering dikomsumsi oleh masyarakat. Kandungan asam susu UHT dapat menyebabkan suasana asam rongga mulut, dan mempengaruhi pelepasan ion fluorida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar pelepasan ion fluorida, dari resin komposit flowable pada perendaman susu UHT. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimental labratoris dengan true experimentaldesign, dengan type posttest control group design. Penelitian ini terdiri dari lima kelompok perlakuan, yang terdiri dari kelompok perendaman 6 jam dan 12 jam susu UHT, serta 6 jam dan 12 jam aquades, dan kelompok kontrol tanpa perendaman (masing-masing kelompok n=5). Data dianalisis dengan uji Kruskall Wallis dengan nilai p=0,000. Pada uji Mann Whitney, terdapat perbedaan yang bermakna pada kelompok perendaman susu UHT 6 jam dan 12 jam. Kesimpulan dari penelitian ini, bahwa terdapat pengaruh perendaman susu UHT, terhadap kadar pelepasan ion fluorida dari resin komposit flowable. Kata kunci : Pelepasan ion fluorida; Resin komposit flowable; Susu UHT. Abstract Preventive measures can be carried out, to prevent the occurrence of dental caries in children, which is the application of fissure sealants. One of the sealant material is flowable composite resin, which has a low viscosity and have a fluoride content of the filler. The content of fluoride can prevent demineralization of dental caries. Fluoride ion release can be influenced by the acidity of pH. The state of the oral cavity with a low pH, causes the restorative material releases fluoride ions is greater, than in the state of high pH. UHT milk is a milk which is often consumed by people. UHT milk acid content can lead to the acid environment of the oral cavity, and affects the release of fluoride ions. This study aims to determine the levels of fluoride ion release, from the flowable composite resin immersion UHT milk. This type of research is ekspermental labratoris with true experimental design, with type posttest control group design. This study consists of five treatment groups, consisting of a group of immersion 6 hours and 12 hours of UHT milk, and 6 hours and 12 hours of distilled water, and a control group without immersion (each group n = 5). Data were analyzed with the Kruskall Wallis test with p = 0.000. In Mann Whitney test, there were no significant differences in the immersion group UHT milk 6 hours and 12 hours. The conclusion of this study, that there are significant soaking UHT milk, to high levels of fluoride ion release of flowable composite resin. Keywords: Flowable composite resin, Fluoride ion release, UHT milk.
Evaluasi Program Penanganan Stunting Di Desa Kessing Kecamatan Donri-Donri Kabupaten Soppeng Sapriana Sapriana; Nurhardianti Nurhardianti; Akbar Akbar
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53083

Abstract

Stunting merupakan salah satu masalah kesehatan serius yang berhubungan dengan gizi balita di negara ini. Balita yang mengalami stunting akan memiliki tingkat kecerdasan tidak maksimal, menjadi lebih rentan terhadap penyakit, dan di masa depan dapat beresiko menurunnya tingkat produktivitas. Di Desa Kessing balita yang mengalami stunting menunjukkan adanya penurunan dari tahun sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi bagaimana pelaksanaan dan kendala terhadap program penanganan stunting di Desa Kessing, Kecamatan Donri-Donri, Kabupaten Soppeng. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Informan dalam penelitian berjumlah tujuh orang. Teknik pengambilan data menggunakan wawacara mendalam terhadap seluruh informan, observasi, survei dan riset kepustakaan. Hasil penelitian didapatkan bahwa penanganan stunting sudah berjalan optimal. Terdapat enam program yang telah dilaksanakan, meliputi: sosialisasi, pelaksanaan PMT, pemenuhan gizi bagi ibu hamil, program ASI eksklusif, dan pemberian vitamin A. Kendala yang dihadapi yakni orang tua yang tidak terima jika anaknya terindikasi stunting dan perlu adanya tambahan dana dari pemerintah.
Eksplorasi Pengalaman Perawat Dalam Penerapan Model Praktik Keperawatan Primer Di Instalasi Gawat Darurat RS Advent Bandung Daniel Shandy Niek Corsello; Lyna M. Hutapea
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53091

Abstract

Model Praktik Keperawatan Primer (MPKP) merupakan pendekatan keperawatan yang berfokus pada tanggung jawab personal perawat terhadap pasien, khususnya di lingkungan dinamis seperti Instalasi Gawat Darurat (IGD). Namun, pengalaman perawat dalam menerapkan MPKP di IGD masih kurang dipahami, terutama di konteks rumah sakit swasta seperti RS Advent Bandung. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna pengalaman perawat dalam menerapkan MPKP di IGD RS Advent Bandung, dengan fokus pada keberhasilan, pemahaman, tantangan, dan strategi adaptasi. Metode Penelitian: Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan tematik deskriptif Sandelowski (2000). Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan tujuh perawat yang terlibat dalam penerapan MPKP di IGD RS Advent Bandung. Analisis tematik dilakukan untuk mengidentifikasi tema utama, dengan validitas data dijaga melalui triangulasi sumber dan member checking. Hasil: Temuan menunjukkan bahwa perawat berhasil menerapkan MPKP, meningkatkan kualitas asuhan, otonomi, dan kepercayaan pasien. Pemahaman MPKP berkembang melalui pelatihan dan pendampingan, meskipun awalnya menghadapi kebingungan. Implementasi dilakukan secara bertahap dan terstruktur, namun tantangan seperti keterbatasan waktu, beban kerja, dan koordinasi antar unit muncul. Perawat mengembangkan strategi adaptasi efektif, seperti sistem buddy, template dokumentasi cepat, dan pelatihan manajemen stres. Dukungan sistem, termasuk pelatihan tambahan dan infrastruktur teknologi, diperlukan untuk keberlanjutan MPKP.