cover
Contact Name
Zurrahmi
Contact Email
zurrahmi10@gmail.com
Phone
+6285265992150
Journal Mail Official
zurrahmi10@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Jurnal Ners
ISSN : -     EISSN : 25802194     DOI : 10.31004
Core Subject : Health,
Fokus Jurnal Ners meliputi bidang kajian riset keperawatan diantaranya Keperawatan Medikal Bedah, Keperawatan Maternitas, Keperawatan Gawat Darurat, Keperawatan Anak, Keperawatan Lansia, Keperawatan Jiwa, Keperawatan Keluarga, Keperawatan Masyarakat, Manajemen Keperawatan dan Terapi Komplementer yang dapat menunjang tindakan keperawatan Jurnal Ners dikelola dan diterbitkan oleh Program Studi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai Jurnal Ners adalah pengembangan dari Jurnal Program Studi Keperawatan STIKes Tuanku Tambusai yang mulai melakukan publikasi cetak tahun 2012 seiring dengan perubahan bentuk Institusi menjadi Universitas Pahlawan
Articles 43 Documents
Search results for , issue "Vol. 10 No. 2 (2026)" : 43 Documents clear
Evaluasi Penggunaan Alat Pelindung Diri (Apd) Pada Perawat di Unit Gawat Darurat (Ugd) Rumah Sakit Mesra Tahun 2025 Rizki Samur; Nofiyadi Nofiyadi; Herniwanti Herniwanti
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.53470

Abstract

The use of Personal Protective Equipment (PPE) is an important component in preventing infection transmission, especially for nurses working in the Emergency Unit (ER) with high risk. Occupational Safety and Health (OSH) is an important aspect in every work environment in the world as an effort to prevent accidents and health problems due to work. This study aims to evaluate the level of compliance and effectiveness of the use of personal protective equipment (PPE) among nurses in the Emergency Unit (ER) of a hospital. The methods used include observation, interviews, and risk analysis using the USG and Fishbone Analysis approaches. The results of the study indicate that there are still shortcomings in aspects of human resources, standard operating procedures (SOP), supervision, facilities, and budget limitations that have the potential to increase the risk of accidents and exposure to occupational hazards. Conclusion: that although some nurses have implemented the use of PPE correctly, there is still a need for continuous education, supervision, and the provision of PPE facilities to improve occupational safety in the ER. It is hoped that the results of this study will be the basis for policy making related to occupational safety and health at Mesra Hospital
Dissociative Trauma and Obsessive–Compulsive Symptoms in Primary Care: A Case Report and Home-Based Interventions Anugrah Akbar Pambudi; Prastika Candra Triastuti; Arifah Pelangi Nusa
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53678

Abstract

Background In Bali, 1,884 cases of mental disorders were recorded in 2024, underscoring increasing mental health demands in primary care. Comorbid dissociation and obsessive–compulsive disorder (OCD) can be difficult to detect and manage, particularly when trauma histories are present. This case report describes a trauma-informed biopsychosocial approach using feasible home-based adjuncts in a primary care setting. Case Presentation A 21-year-old female university student presented with poor concentration, intrusive negative inner voices, intrusive sexual urges, fixation on strangers, compulsive pornography use, and compulsive masturbation, accompanied by shame, social withdrawal, and sleep disturbance. She disclosed repeated childhood sexual abuse. Screening showed clinically significant dissociation (Dissociative Experiences Scale [DES] >30) and severe OCD (Yale–Brown Obsessive Compulsive Scale [Y-BOCS] 28). Psychotic disorder was considered unlikely due to preserved reality testing. Management and Outcome The patient received psychoeducation and a primary care psychiatry plan emphasizing trauma-informed, home-based strategies: mindfulness breathing, grounding techniques, and omega-3 supplementation with nutritional counseling. At week 1, she reported mild relief of intrusive voices during dissociative episodes when applying breathing and grounding exercises. By week 3, she reported fewer dissociative episodes, reduced severity of compulsive behaviors (including decreased compulsive masturbation frequency), and improved sleep quality and mood stability alongside more regular eating patterns. Conclusion This case highlights that early, trauma-informed assessment using standardized tools (DES and Y-BOCS) can support accurate recognition of dissociative–OCD presentations in primary care. A biopsychosocial approach integrating structured home-based interventions (mindfulness, grounding, and nutrition/omega-3 support) may provide practical symptom relief and functional improvement while pathways to specialist care are arranged.
Pengaruh Keterampilan Resusitasi Jantung Paru (RJP) Mahasiswa Keperawatan Terhadap Kesiapan Praktik Bantuan Hidup Dasar dengan VR VIT R Nurse sebagai Variabel Moderator Rafa Izharul Haq; Riska Dami Ristanto
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.53738

Abstract

Keterampilan Resusitasi Jantung Paru (RJP) menjadi kompetensi krusial mahasiswa keperawatan dalam menghadapi kondisi gawat darurat Bantuan Hidup Dasar (BHD), namun pembelajaran konvensional terkendala keterbatasan simulasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh keterampilan RJP terhadap kesiapan praktik BHD dengan VR VIT R Nurse sebagai variabel moderator. Penelitian kuantitatif eksplanatori menggunakan PLS-SEM dilakukan pada populasi mahasiswa keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, dengan sampel 133 responden purposive sampling. Instrumen kuesioner Likert 1-5 (60 item) dianalisis melalui SmartPLS 4, mencakup outer model (loading >0.70, AVE >0.50, HTMT <0.90, Cronbach's α >0.70) dan inner model (R², f², bootstrapping 5.000 resample). Hasil menunjukkan keterampilan RJP berpengaruh positif signifikan terhadap kesiapan BHD (β=0.946, T=9.196, p=0.000, f²=1.311, R²=0.873), sementara VR tidak signifikan (T=0.032, p=0.975) dan tidak memoderasi (T=0.627, p=0.531). Penelitian menyimpulkan dominasi hard skill RJP sebagai prediktor utama, dengan VR sebagai pelengkap pembelajaran.
Pengaruh Coaching Terhadap Kinerja Perawat dan Kepuasan Pasien Rawat Jalan: Studi Quasi Eksperimen di Rumah Sakit X Elis Susilawati; Dwi Indah Iswanti; Fery Agusman
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.54316

Abstract

Rumah sakit sebagai pilar utama pelayanan kesehatan membutuhkan asuhan keperawatan yang berkualitas, namun berbagai penelitian menunjukkan bahwa kinerja perawat di Indonesia masih rendah dan berdampak pada mutu layanan serta kepuasan pasien. Rendahnya kinerja ini dipengaruhi oleh kurangnya pelatihan, komunikasi yang tidak efektif, motivasi rendah, beban kerja tinggi, serta ketidakpuasan terhadap kompensasi. Coaching dipandang sebagai pendekatan strategis untuk meningkatkan kemampuan, motivasi, dan interaksi perawat, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kinerja perawat dan berkontribusi terhadap peningkatan kepuasan pasien dalam pelayanan kesehatan. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh coaching terhadap kinerja perawat dan kepuasan pelayanan pasien di rawat jalan Rumah Sakit “X”. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan quasy eksperiment dengan desain pretest-posttest one group without control design. Penelitian di lakukan di Rumah Sakit “X” dengan populasi seluruh perawat di rawat jalan sejumlah 113. Teknik sampling penelitian menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel 97 responden. Instrumen penelitian ini berupa materi bimbingan/pelatihan dan kuesioner. Untuk menganalisis pengaruh coaching terhadap kinerja perawat dan kepuasan pelayanan pasien di rawat jalan Rumah Sakit X menggunakan uji paired T Test. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata responden berusia <40 tahun sebanyak 80 orang (82,5%), pendidikan rata-rata responden yaitu Ners sebanyak 63 orang (65%), dan rata-rata responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 94 orang (69,9%). Kinerja perawat sebelum coaching dalam kategori baik sebanyak 36 (37,1%), kurang baik 61 sebanyak (63,9%) sedang kinerja perawat sesudah coaching dalam kategori baik 89 (92,7%) dan kurang baik sebanyak 7 (7,3%). Kepuasan pelayanan sebelum Coaching dalam kategori baik 41 (42,3%) dan kurang baik sebanyak 56 (57,7%), sedangkan kepuasan pelayanan sesudah Coaching dalam kategori baik 83 (85,6%) dan kurang baik 13 (14,5%). Hasil uji analisis Paired T Test menunjukkan p Value sebesar 0,000 < nilai signifikansi yaitu 0,05 yang artinya pemberian Coaching terhadap perawat berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja perawat dan kepuasan layanan terhadap pasien di Rawat Jalan Rumah Sakit X.
Pengetahuan Self-Monitoring Gizi Remaja dan Asupan Makronutrien: Implikasi Untuk Penguatan Edukasi Program Uks Zuly Daima Ulfa; Jeff Agung Perdana; Arief Nur Wahyudi
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.54559

Abstract

Adolescents are vulnerable to imbalanced intake and poor diet quality, therefore, education is needed in the school context through nutrition self‑monitoring skills within the School Health Unit (UKS). This study examined the association between adolescents’ self-monitoring nutrition knowledge and energy–macronutrient intake derived from multi-day food records collected using the FatSecret app, and its implications for UKS strengthening. A cross-sectional analytic study was conducted at MA Darul Ulum Palangka Raya (river-basin/DAS area) in December 2025. Knowledge was assessed using a 15-item Likert questionnaire (physical activity, food logging/nutrition, and sleep–energy domains). Energy and macronutrients were calculated as each participant’s mean daily intake from multi-day diaries; the main analysis included ≥3 recording days (n=24) and sensitivity analysis included ≥2 days (n=27). Recorded fruit–vegetable intake was low (vegetables 12.2±19.0 g/day; fruit 33.1±47.2 g/day), and 33.3–37.0% recorded none during monitoring. The total scale showed good internal consistency (α=0.831–0.828). Total knowledge was associated with energy intake (Main ρ=0.461; p=0.023; Sens ρ=0.487; p=0.010). In adjusted linear regression, food logging/nutrition knowledge was associated with percent energy from fat (B=5.33; p=0.049), while the number of recording days was inversely associated (B=-1.34; p=0.042). Findings support UKS education emphasizing consistent logging and macronutrient composition literacy.
Analisis Hubungan Tingkat Stres Dan Kelelahan Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisa Aprianto Guntur Irawan; Endriawan Saputra
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.54662

Abstract

Pasien Gagal Ginjal Kronik (GGK) yang menjalani terapi hemodialisa secara rutin menghadapi berbagai perubahan fisiologis dan psikologis. Proses hemodialisa yang dilakukan seumur hidup seringkali menimbulkan stres dan kelelahan. Tingginya tingkat stres dapat memperburuk kondisi kelelahan dan menurunkan kualitas hidup pasien. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan tingkat stres dan kelelahan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Desain penelitian ini menggunakan deskripitf korelasi dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 32 responden yang diambil dengan menggunakan tekhnik purposive sampling. Pengukuran stres menggunakan Perceived Stress Scale (PSS-10) dan kelelahan menggunakan Functional Assessment of Chronic Illness Therapy-Fatigue (FACIT-F 40. Penelitian ini menggunakan analisa univariat dan bivariat. Analisis data menggunakan uji Chi-Square test. Hasil penelitian menunjukan pasien mengalami tingkat stres ringan sebanyak 18 responden (56%) dan stres berat sebanyak 14 responden (44%), sedangkan tingkat kelelahan ringan sebanyak 14 responden (44%) dan kelelahan berat sebanyak 18 responden (44%). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada hubungan tingkat stres dengan kelelahan pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa (p value = 0,009). Kedua variabel ini menunjukan mempunyai hubungan yang bermakna dengan pasien mengalami stres yang dapat menyebabkan kelelahan yang dirasakan pasien selama perawatan menjalani hemodialisa. Intervensi yang menargetkan pengurangan stres diharapkan dapat membantu menurunkan tingkat kelelahan dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Pasien Gagal Ginjal Kronik (GGK) yang menjalani terapi hemodialisa secara rutin menghadapi berbagai perubahan fisiologis dan psikologis. Proses hemodialisa yang dilakukan seumur hidup seringkali menimbulkan stres dan kelelahan. Tingginya tingkat stres dapat memperburuk kondisi kelelahan dan menurunkan kualitas hidup pasien. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan tingkat stres dan kelelahan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Desain penelitian ini menggunakan deskripitf korelasi dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 32 responden yang diambil dengan menggunakan tekhnik purposive sampling. Pengukuran stres menggunakan Perceived Stress Scale (PSS-10) dan kelelahan menggunakan Functional Assessment of Chronic Illness Therapy-Fatigue (FACIT-F 40. Penelitian ini menggunakan analisa univariat dan bivariat. Analisis data menggunakan uji Chi-Square test. Hasil penelitian menunjukan pasien mengalami tingkat stres ringan sebanyak 18 responden (56%) dan stres berat sebanyak 14 responden (44%), sedangkan tingkat kelelahan ringan sebanyak 14 responden (44%) dan kelelahan berat sebanyak 18 responden (44%). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada hubungan tingkat stres dengan kelelahan pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa (p value = 0,009). Kedua variabel ini menunjukan mempunyai hubungan yang bermakna dengan pasien mengalami stres yang dapat menyebabkan kelelahan yang dirasakan pasien selama perawatan menjalani hemodialisa. Intervensi yang menargetkan pengurangan stres diharapkan dapat membantu menurunkan tingkat kelelahan dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Hubungan Pengetahuan dan Dukungan Suami Terhadap Sikap Wanita Usia Subur Terkait Skrining Kanker Serviks Menggunakan Pemeriksaan Iva Riska Setiawati; Uway Wariah; Dian Nastiti; Ella Nurlailasari; Ni Putu Ika Novita Gunawan
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.54663

Abstract

Kanker serviks merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada perempuan, yang sebagian besar kasusnya masih ditemukan pada stadium lanjut akibat rendahnya pemanfaatan deteksi dini. Pemeriksaan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) merupakan metode skrining yang efektif, sederhana, dan terjangkau, namun cakupan pelaksanaannya masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pengetahuan dan dukungan suami terhadap sikap wanita usia subur (WUS) terkait skrining kanker serviks menggunakan pemeriksaan IVA dengan desain deskriptif korelasional dan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 52 WUS di Desa Lemahmulya, Kabupaten Karawang, yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling, dengan analisis data menggunakan uji statistik bivariat. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan WUS dengan sikap terhadap skrining kanker serviks (p-value = 0,209) serta tidak terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan suami dengan sikap WUS (p-value = 0,108). Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengetahuan dan dukungan suami tidak berhubungan secara signifikan dengan sikap wanita usia subur terhadap skrining kanker serviks menggunakan pemeriksaan IVA.
Efektifitas Terapi Bekam Basah Terhadap Penurunan Kadar Kolesterol dan Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi di Klinik Komplementer Dawan Usadha I Wayan Antariksawan; I Wayan Suardana; Kadek Yudi Aryawan; Gede Budi Widiarta; Ni Luh Seri Astuti; Ni Putu Ika Novita Gunawan
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.54668

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi tinggi dan berkontribusi besar terhadap morbiditas serta mortalitas akibat komplikasi kardiovaskular. Kondisi ini sering disertai gangguan metabolik seperti peningkatan kadar kolesterol yang memperberat risiko penyakit jantung. Terapi komplementer, salah satunya bekam basah, mulai banyak digunakan sebagai alternatif pendukung pengendalian hipertensi dan dislipidemia. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas terapi bekam basah terhadap penurunan kadar kolesterol dan tekanan darah pada pasien hipertensi di Klinik Komplementer Dawan Usadha The Holistic Nursing & Home Care. Penelitian menggunakan desain pre-eksperimental dengan pendekatan one group pretest–posttest design. Sampel terdiri dari 53 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengukuran kadar kolesterol serta tekanan darah sistolik dan diastolik dilakukan sebelum dan sesudah intervensi terapi bekam basah. Hasil analisis menunjukkan adanya penurunan bermakna pada kadar kolesterol (mean penurunan 18,00; p = 0,001), tekanan darah sistolik (mean penurunan 15,49; p = 0,001), dan diastolik (mean penurunan 5,11; p = 0,001). Disimpulkan bahwa terapi bekam basah efektif menurunkan kadar kolesterol dan tekanan darah pada pasien hipertensi, sehingga berpotensi menjadi intervensi komplementer dalam manajemen hipertensi berbasis keperawatan holistik.
Effectiveness of Intradialytic Stretching Exercises In Preventing Muscle Cramps in Individuals Undergoing Hemodialysis : A Systematic Review Tadi Tadi; Ika Yuni Widyawati; Ira Suarilah
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.54719

Abstract

Introduction: Individuals with Chronic Kidney Disease (CKD) may experience symptoms of uremic syndrome. Intradialytic stretching exercises have been proposed as a method to increase activity levels while reducing uremic symptoms. Muscle cramps are a common complication of hemodialysis treatment and often lead to early termination of sessions, therefore, timely intervention to address muscle cramps in hemodialysis patients is a critical priority. Objective: To systematically analyse the effectiveness of intradialytic stretching exercises on muscle cramps among individuals undergoing hemodialysis Methods: A systematic review was conducted through five major databases: Scopus, PubMed, Science Direct, ProQuest, and Wiley, for the last five years publication (2020 to 2025). Eligible studies included those that implemented intradialytic stretching exercises interventions focused on muscle cramps for individuals undergoing hemodialysis. Data extracted included study characteristics, sample demographics, design, and measured outcomes. Study quality was assessed using the Joanna Briggs Institute (JBI) critical appraisal tool, and findings were synthesized through narrative analysis. Result: Eleven studies (n=11) that obtained JBI quality assessment scores ranging from 77% to 92% were included in the final analysis, involving 809 participants from 7 countries, with intervention durations ranging from 4 to 24 weeks. The reviewed intradialytic stretching exercise interventions addressed aspects of muscle cramps, urea levels, and fatigue. Conclusion: Intradialytic stretching exercises demonstrate significant potential in preventing muscle cramps of individuals undergoing hemodialysis. Further research is needed to evaluate long-term outcomes and optimise intervention designs.
Stategies For Reducing Substance Abuse Among Street Children: A Systematic Review Irawan Faisal Adi; Ferry Efendi; Praba Diyan Rachmawati
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.54720

Abstract

Introduction: Substance abuse among adolescents, particularly street children, is a global public health concern influenced by demographic and social factors. While substance abuse in school settings has been widely studied, evidence focusing on street children remains limited. This review aims to evaluate strategies for reducing substance abuse among street children, with an emphasis on interventions affecting physical, mental, and social well-being. Method: This systematic review followed PRISMA 2020 guidelines and was registered in PROSPERO. Literature searches were conducted in four databases (Scopus, Web of Science, PubMed, and ProQuest), yielding 8,774 records. After screening and eligibility assessment, eight studies published between 2016 and 2025 were included. Study quality was appraised using the JBI critical appraisal tool, and findings were synthesized narratively. Results: Eight studies involving homeless or street-involved adolescents aged 10–19 years were reviewed. Commonly reported substance use included alcohol, cannabis, and inhalants. Interventions such as motivational interviewing, psychological reinforcement, and strength-based approaches were effective in reducing risky behaviors and increasing readiness for change. Conclusion: Motivational interviewing combined with community-based psychosocial support is effective in addressing substance abuse among high-risk adolescents. Sustainable interventions should be holistic and adapted to local cultural and structural contexts.