cover
Contact Name
Zurrahmi
Contact Email
zurrahmi10@gmail.com
Phone
+6285265992150
Journal Mail Official
zurrahmi10@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Jurnal Ners
ISSN : -     EISSN : 25802194     DOI : 10.31004
Core Subject : Health,
Fokus Jurnal Ners meliputi bidang kajian riset keperawatan diantaranya Keperawatan Medikal Bedah, Keperawatan Maternitas, Keperawatan Gawat Darurat, Keperawatan Anak, Keperawatan Lansia, Keperawatan Jiwa, Keperawatan Keluarga, Keperawatan Masyarakat, Manajemen Keperawatan dan Terapi Komplementer yang dapat menunjang tindakan keperawatan Jurnal Ners dikelola dan diterbitkan oleh Program Studi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai Jurnal Ners adalah pengembangan dari Jurnal Program Studi Keperawatan STIKes Tuanku Tambusai yang mulai melakukan publikasi cetak tahun 2012 seiring dengan perubahan bentuk Institusi menjadi Universitas Pahlawan
Articles 2,415 Documents
Efektifivitas Intervensi Perubahan Perilaku Petani dalam Penggunaan Pestisida Berbasis Pendekatan Transtheoretical Model Friska Eka Fitria; Nur Afrainin Syah; Jamsari Jamsari; Yuniar Lestari
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52921

Abstract

Penggunaan pestisida yang tidak aman dan sehat masih menjadi persoalan serius di sektor pertanian dan meningkatkan risiko kesehatan petani. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas intervensi berbasis Transtheoretical Model (TTM) dalam mendorong perubahan perilaku penggunaan pestisida yang aman dan sehat pada petani hortikultura di Kabupaten Solok. Penelitian menggunakan desain one group pretest–posttest dengan 36 responden yang dipilih menggunakan quota sampling. Instrumen berupa kuesioner TTM yang memetakan lima tahap perilaku: pra-kontemplasi, kontemplasi, persiapan, tindakan, dan pemeliharaan. Intervensi diberikan satu kali melalui penyuluhan menggunakan media berupa video edukasi, diskusi kelompok dan konseling individu, dan pelatihan penggunaan APD dan praktik dosis serta pencampuran pestisida yang tepat. Hasil menunjukkan pergeseran signifikan tahap perilaku, dengan mayoritas petani bergerak dari kontemplasi ke persiapan dan tindakan. Uji Wilcoxon menghasilkan p=0,000 (p≤0,05), menandakan adanya perbedaan bermakna antara pretest dan posttest. Sebanyak 72,2% petani mengalami perubahan perilaku ke arah positif. Temuan ini menegaskan bahwa intervensi yang disesuaikan dengan tahapan kesiapan individu lebih efektif dalam mendorong perubahan perilaku, serta berpotensi menjadi dasar penyusunan strategi peningkatan kesehatan kerja petani yang berkelanjutan.
The Influence of Social Media Exposure on Perceptions and Intentions to Electronic Cigarettes Among Adolescents (Systematic Literature Review Widia Widia; Rita Damayanti
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52927

Abstract

Abstrak Peningkatan konsumsi rokok elektrik (e-cigarette) pada remaja di berbagai negara menimbulkan kekhawatiran terkait perubahan persepsi risiko dan tingginya niat mencoba akibat paparan media sosial. Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube secara intensif menampilkan konten promosi, influencer marketing, dan unggahan teman sebaya yang berpotensi menormalisasi perilaku vaping. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh paparan media sosial terhadap persepsi dan niat merokok elektrik pada remaja serta faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut. Metode yang digunakan adalah systematic literature review (SLR) dengan pendekatan PRISMA, mencakup penyaringan 1.107 artikel dari PubMed, Scopus, ProQuest, dan ScienceDirect (2015–2025), 17 artikel memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paparan konten media sosial, khususnya iklan dan promosi dari influencer, memiliki pengaruh signifikan terhadap penurunan persepsi bahaya terhadap rokok elektrik. Intensitas paparan media sosial dan jenis konten yang diterima berkontribusi terhadap niat remaja untuk mencoba atau melanjutkan penggunaan rokok elektrik, dengan platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube memainkan peran utama dalam membentuk norma sosial dan persepsi terkait vaping. Temuan ini menekankan pentingnya pengawasan yang lebih ketat terhadap iklan rokok elektrik di media sosial dan perlunya kampanye edukasi kesehatan berbasis digital untuk meningkatkan kesadaran remaja tentang risiko penggunaan rokok elektrik. Kata Kunci: paparan media sosial, rokok elektrik, persepsi, niat menggunakan, remaja Abstract The increase in e-cigarette consumption among adolescents in various countries has raised concerns regarding changes in risk perception and high intention to try due to social media exposure. Platforms such as TikTok, Instagram, and YouTube intensively display promotional content, influencer marketing, and peer posts that have the potential to normalize vaping behavior. This study aims to analyze the influence of social media exposure on perceptions and intentions to smoke e-cigarettes among adolescents and the factors that influence these changes. The method used was a systematic literature review (SLR) with the PRISMA approach, covering the screening of 1,107 articles from PubMed, Scopus, ProQuest, and ScienceDirect (2015–2025), with 17 articles meeting the inclusion criteria. The results showed that exposure to social media content, particularly advertisements and promotions from influencers, had a significant effect on reducing the perception of harm associated with e-cigarettes. The intensity of social media exposure and the type of content received contributed to adolescents' intention to try or continue using e-cigarettes, with platforms such as Instagram, TikTok, and YouTube playing a major role in shaping social norms and perceptions related to vaping. These findings emphasize the importance of stricter monitoring of e-cigarette advertising on social media and the need for digital-based health education campaigns to raise adolescents' awareness of the risks of e-cigarette use. Keywords: social media exposure, electronic cigarettes, perception, intention to use, adolescents
Pengaruh Penerapan Model Erna (Emphaty, Responsivness, Nursing Care dan Akuntabilitas) Terhadap Kepuasan Pasien di Rsu Sarila Husada Kabupaten Sragen Erna Irawati; Fery Agusman; Witri Hastuti
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52949

Abstract

Rumah sakit menjadi salah satu fasilitas yang mempunyai peranan yang penting dan strategis dalam upaya peningkatan status kesehatan masyarakat. Seiring perkembangan jaman, masyarakat semakin kritis dan lebih selektif terhadap pelayanan publik termasuk pelayanan di Rumah Sakit. Sebagai penyedia layanan kesehatan rumah sakit dituntut memberikan pelayanan yang efektif, efisien dan berkualitas serta berorientasi pada kepuasan pasien sebagai pengguna jasa layanan kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh penerapan model ERNA (Emphaty, Responsivness, Nursing Care dan Akuntabilitas) di Rumah Sakit Umum Sarila Husada Sragen. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan quasy eksperiment dengan desain pretest-posttest control group design. Penelitian di lakukan di Rumah Sakit Umum Sarila Husada Sragen dengan jumlah populasi 216 pasien. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 69 responden. Pengumpulan data penelitian menggunakan kuesioner kepuasan pasien (SERQUAL). Untuk mengetahui perbedaan kepuasan responden kelompok kontrol dan intervensi menggunakan analisa data mann whitney sedang untuk menganalisis pengaruh masing-masing komponen ERNA (Emphaty, Responsivness, Nursing Care dan Akuntabilitas) menggunakan regresi linier berganda.. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata umur responden 42,19 tahun dengan standar deviasi 11,194 dengan umur terendah 17 tahun dan tertinggi 58 tahun. Responden tidak tamat Sekolah Dasar sebanyak 6 responden (8,7%), SD/sederajat 5 responden (7,2%), SLTP/Sederajat 25 responden (36,2%) dan perguruan tinggi 17 responden (24,6%). Responden dengan pekerjaan petani sebanyak 14 responden (20,3%), karyawan swasta 16 responden (23,2%), PNS 7 responden (10,1%), TNI/POLRI 3 responden (4,3), Wirausaha 26 responden (37,7% dan sebagai pelajar/mahasiswa sebanyak 3 responden (4,3%). Berdasarkan pembiayaan kesehatan sebanyak 23 responden (33,3%) kategori pasien umum dan 46 responden (66,7%) menggunakan BPJS/asuransi lainya. Tingkat kepuasan responden kelompok kontrol dalam kategori puas sebanyak 63 responden (91,3% dan kategori tidak puas sebanyak 6 responden (8,7%). Sedangkan tingkat kepuasan responden kelompok intervensi dalam kategori puas sebanyak 67 responden (97,1% dan tidak puas sebanyak 2 responden (2,9%). Hasil uji analisis mann whitney menunjukkan hasil nilai asymp. Sig (2-tailed) 0,049 < nilai signifikansi yaitu 0,05 yang bermakna terdapat perbedaan kepuasan pasien kelompok kontrol dan kelompok intervensi dengan penerapan ERNA (Emphaty, Responsivness, Nursing Care dan Akuntabilitas) di RSU Sarila Husada Kabupaten Sragen. Penerapan model ERNA mampu menjelaskan 93% variasi kepuasan pasien sedangkan 7% dipengaruhi oleh variabel lainya diluar penelitian. Hal ini menunjukkan bahwa model memiliki kemampuan prediktif yang sangat kuat. Namun nilai signifikansi p = 0,47 (>0,05) menunjukkan bahwa secara statistik model tersebut tidak signifikan
Studi Fenomenologi: Pengalaman Psikologis Perempuan Pasca Histerektomi : Literatur Riview Ibnu Fauzi; Sri Wahyuni; Herry Susanto
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52950

Abstract

Background: Hysterectomy is a surgical procedure involving the removal of the uterus, which may affect both the physical and psychological condition of women. The loss of the uterus is often associated with diminished femininity, decreased self-esteem, negative body image, and psychosexual disorders. In addition, social factors such as spousal support play a significant role in women’s psychological adaptation after hysterectomy. Objective: This literature review aims to analyze the psychological, sexual, and quality of life impacts experienced by women after hysterectomy, as well as the factors influencing their adaptation. Methods: This study employed a literature review method. Articles were retrieved from national and international databases such as PubMed, ScienceDirect, EBSCO, and Google Scholar. Keywords used included psychological issues after hysterectomy, body image, self-esteem, sexual function, and quality of life. Eligible articles were full-text national and international publications from the last eight years, screened for relevance to topic, research methods, and study results. Results: Hysterectomy may lead to depression, anxiety, negative body image, low self-esteem, and sexual dysfunction. However, spousal support, education, and psychological interventions have been shown to improve self-acceptance, confidence, and women’s quality of life. Conclusion: Hysterectomy has complex psychological impacts on women, ranging from depression, anxiety, and negative body image to sexual dysfunction. Spousal support, education, and psychological interventions are crucial to enhancing self-acceptance, quality of life, and overall well-being of women after hysterectomy. .
Eksplorasi Peningkatan Pengetahuan Kebersihan Mulut Anak Usia Prasekolah Melalui Program Edukasi Di TK Al-Munawaroh Kediri Ibnu Gunawan; Afrida Nurmalasari; Joko Widyastomo; Nabila Rifda; Erwin Gunawan
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52973

Abstract

Abstrak Karies gigi masih menjadi masalah kesehatan mulut yang paling banyak dialami anak usia dini. Riskesdas 2018 mencatat prevalensi karies sebesar 81,1% pada anak usia 3–4 tahun dan meningkat menjadi 92,6% pada usia 5–9 tahun. Kerentanan ini diperburuk oleh kebiasaan konsumsi makanan manis, teknik menyikat gigi yang kurang tepat, serta rendahnya pengetahuan anak dan orang tua mengenai kesehatan gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas penyuluhan kesehatan gigi terhadap peningkatan pengetahuan anak prasekolah di TK Al-Munawaroh Kediri. Kegiatan dilaksanakan pada 28 Oktober 2025 menggunakan metode ceramah interaktif, demonstrasi teknik menyikat gigi, praktik bersama, ice breaker, serta evaluasi pre-test dan post-test. Sebanyak 24 anak mengikuti kegiatan ini. Pemeriksaan awal menunjukkan nilai rerata DMF-T sebesar 2,08, menandakan tingkat karies kategori sedang pada kelompok usia dini. Hasil pre-test memperlihatkan bahwa pengetahuan awal anak masih rendah pada seluruh indikator penilaian. Setelah intervensi edukasi, terdapat peningkatan skor yang bermakna pada seluruh aspek pengetahuan, di mana rerata skor meningkat dari 2,06 ± 1,19 menjadi 4,31 ± 0,60. Uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan signifikan antara skor pre-test dan post-test (p < 0,001) dengan selisih rata-rata 2,25. Hasil ini menunjukkan bahwa metode edukasi yang melibatkan demonstrasi, praktik langsung, media visual, serta aktivitas interaktif terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman dan kemampuan anak dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut. Program edukasi seperti ini direkomendasikan sebagai kegiatan rutin sekolah untuk mendukung upaya pencegahan karies sejak usia dini. Kata Kunci: DMF-T; Edukasi Kesehatan Gigi; Karies Anak; Penyuluhan Prasekolah; Teknik Menyikat Gigi. Abstract Dental caries remains the most prevalent oral health problem among young children. The 2018 National Basic Health Research (Riskesdas) reported caries prevalence of 81.1% among children aged 3–4 years and 92.6% among those aged 5–9 years. This vulnerability is exacerbated by frequent intake of sugary foods, improper toothbrushing techniques, and limited oral health knowledge among children and their parents. This study aimed to evaluate the effectiveness of dental health education in improving the knowledge of preschool children at Al-Munawaroh Kindergarten, Kediri. The intervention was conducted on October 28, 2025, using interactive lectures, toothbrushing demonstrations, guided practice, ice-breaker activities, and pre-test and post-test assessments. A total of 24 children participated in the program. Initial examination showed a mean DMF-T score of 2.08, indicating a moderate level of caries in this age group. Pre-test results demonstrated low baseline knowledge across all assessment indicators. Following the educational intervention, children’s knowledge improved significantly, with the mean score increasing from 2.06 ± 1.19 to 4.31 ± 0.60. The Wilcoxon test indicated a statistically significant difference between pre-test and post-test scores (p < 0.001), with an average increase of 2.25 points. These findings confirm that educational strategies incorporating demonstrations, hands-on brushing practice, visual media, and interactive activities are effective in enhancing children’s understanding and skills in maintaining oral hygiene. Such programs are recommended as routine school-based interventions to support early prevention of dental caries. Keywords: Childhood Caries; Dental Health Education: DMF-T; Preschool Intervention; Toothbrushing Technique.
Severe Malnutrition With Gross Motor Developmental Delay In A 21-Month-Old Girl: A Family Medicine Case Report Salsabila Rahma Fadlillah; Zita Atzmardina
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53014

Abstract

Severe wasting is also referred to as severe acute malnutrition (SAM). It represents one of the most acute and life-threatening forms of malnutrition affecting vulnerable children worldwide with 13.6 million children under five globally. Indonesia's wasting prevalence (10.2%) exceeds Southeast Asia's 8.9% average, with severe wasting at 5.3%. Survivors face profound developmental delays, with neurobiological changes including reduced synapses and delayed myelination that persist despite nutritional recovery. We managed the toddler with SAM and gross developmental delay comprehensively, utilizing a family medicine approach. We made four home visits every week from July to August 2025 in the Cikupa Community Health Centre area. Patients are given a thorough and all-encompassing management plan, such as patient-centered interventions that involve a family and community approach. After weekly home visits for one month, the patient's weight and height increased. Although the patient's development remained at a score of 6, significant gross motor development was gradually occurring. This case exemplifies family medicine's transformative power in managing SAM with developmental delay through comprehensive management.
Analisis Tren Kasus Kecelakaan Lalu Lintas Berbasis Dashboard Ambulance Hebat di Kota Semarang Tahun 2023-2025 Sabrina Malika; Harsono Harsono; Ahmad Zaini; Wisnu Wardhana
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53018

Abstract

Road traffic accidents remain a major public health concern in Semarang City, driven by high urban mobility and the dominant use of motorcycles. This study aims to describe the patterns, trends, and spatial distribution of traffic accidents based on data from the Ambulance Hebat Dashboard for the period 2023–2025 and to evaluate the role of the dashboard in supporting emergency response. A descriptive quantitative approach was employed using secondary dashboard data complemented by an interview with the Field Coordinator. The findings indicate a fluctuating trend, with 1,553 cases recorded in 2023, decreasing to 1,257 in 2024, and increasing again to 1,303 cases in 2025, with motorcycles being the most frequently involved vehicle type. Spatial analysis identified high-risk clusters in Semarang Tengah, Banyumanik, Candisari, and Pedurungan. The dashboard effectively facilitates real-time monitoring and response, although minor technical limitations in data synchronization persist. These results highlight the need for optimizing digital infrastructure, integrating interagency data, and prioritizing interventions in high-risk areas to strengthen urban road safety and emergency care performance.
Analisis Konsep Kewaspadaan Klinis Perawat ICU Failasuf Wibisono; Eni Isriani; Siti Aisah; Satriya Pranata; M. Fatkhul Mubin
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53032

Abstract

Kewaspadaan klinis perawat ICU merupakan elemen fundamental dalam perawatan pasien kritis, yang memungkinkan deteksi dini perubahan kondisi, pengambilan keputusan tepat, dan peningkatan keselamatan pasien di lingkungan intensif yang dinamis. Penelitian menunjukkan perawat berpengalaman memiliki akurasi deteksi sepsis 30% lebih tinggi, meskipun faktor seperti shift panjang menurunkan tingkat kewaspadaan. Tujuan : Analisis ini bertujuan mengklarifikasi definisi, atribut, antecedent, konsekuensi, serta implikasi kewaspadaan klinis perawat ICU untuk mendukung pengembangan intervensi berbasis bukti yang meningkatkan praktik keperawatan intensif. Metode Walker and Avant (2018) diterapkan melalui delapan langkah sistematis, meliputi identifikasi penggunaan konsep dari kamus dan literatur, penentuan atribut (pemantauan sistematis, pengenalan pola, dll.), analisis antecedent-konsekuensi, kasus model/borderline/terkait/sebaliknya, serta referensi empiris dari studi terkini. Kewaspadaan klinis didefinisikan sebagai kemampuan mempertahankan perhatian berkelanjutan, mendeteksi perubahan dini, dan merespons cepat; antecedent mencakup pendidikan ICU, pengalaman >2 tahun, staffing optimal; konsekuensi meliputi penurunan komplikasi 30% dan mortalitas; model konsep dihasilkan dari kasus empiris, didukung survei vigilance skor 3,86/5. Model konsep ini memperkuat pemahaman aplikatif kewaspadaan klinis, mendorong pelatihan simulasi, instrumen pengukuran seperti Nursing Vigilance Scale, dan kebijakan rumah sakit untuk outcome pasien optimal. Clinical vigilance of ICU nurses is a fundamental element in the care of critically ill patients, enabling early detection of changes in patient conditions, accurate decision-making, and enhanced patient safety in a dynamic intensive care environment. Research indicates that experienced nurses have a 30% higher accuracy rate in detecting sepsis, although factors such as prolonged shifts may decrease levels of vigilance. Objective: This analysis aims to clarify the definition, attributes, antecedents, consequences, and implications of clinical vigilance among ICU nurses to support the development of evidence-based interventions that improve intensive nursing practice. Methods: The Walker and Avant (2018) concept analysis method was applied through eight systematic steps, including identifying concept usage from dictionaries and literature, determining attributes (systematic monitoring, pattern recognition, etc.), analyzing antecedents and consequences, constructing model/borderline/related/contrary cases, and incorporating empirical references from recent studies. Clinical vigilance is defined as the ability to maintain sustained attention, detect early changes, and respond rapidly; antecedents include ICU education, more than two years of experience, and optimal staffing; consequences involve a 30% reduction in complications and mortality; the conceptual model was developed from empirical cases, supported by vigilance survey scores of 3.86/5. This conceptual model strengthens the practical understanding of clinical vigilance, promoting simulation-based training, measurement instruments such as the Nursing Vigilance Scale, and hospital policies to optimize patient outcomes
Motivasi dan Self-Efficacy Terhadap Kinerja Perawat dalam Resusitasi Jantung Paru (Rjp) di Instalasi Gawat Erlinda Sari Pasaribu; Diah Arruum; Siti Saidah Nasution; Farida Linda Sari Siregar; Isti Ilmiati Fujiati
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53045

Abstract

Resusitasi Jantung Paru (RJP) merupakan bagian dari kinerja perawat dalam pencegahan kecacatan dan kematian untuk menjaga keselamatan pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Kinerja perawat dalam RJP berkaitan dengan motivasi dan Self-Efficacy. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan motivasi dan self-efficacy terhadap kinerja perawat dalam pelaksanaan RJP di IGD Rumah Sakit di Medan. Desain penelitian menggunakan deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel 73 perawat yang diambil dengan teknik total sampling. Instrumen penelitian yang digunakan berupa kuesioner motivasi, self-efficacy, dan kinerja perawat yang telah diuji validitas dan reliabilitas. Analisis data menggunakan uji pearson dan regresi linier berganda dengan p-value 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas perawat memiliki motivasi tinggi 93,2%, self-efficacy tinggi 97,3%, dan kinerja perawat seluruhnya baik. Terdapat hubungan positif dan signifikan antara motivasi dengan kinerja (p=0,000; r=0,425) serta antara self-efficacy dengan kinerja (p=0,000; r=0,401), yang berarti semakin tinggi motivasi dan self-efficacy maka semakin baik kinerja perawat. Analisis regresi menunjukkan bahwa kedua variabel berpengaruh signifikan dengan motivasi sebagai faktor dominan (β=0,350; p=0,001) . Kesimpulan bahwa terdapat hubungan antara motivasi dan self-efficacy dalam meningkatkan kinerja perawat pada pelaksanaan RJP. Manajer keperawatan perlu mengoptimalkan pelatihan berbasis simulasi klinis dan supervisi guna meningkatkan mutu pelayanan keperawatan gawat darurat.
Efektivitas Program Edukasi dalam Meningkatkan Perilaku Kesehatan Gigi dan Mulut Anak Usia Prasekolah di TK Al-Jawahir Kediri Meyrinda Tobing; Iin Indah Aris Wati; Putu Yuri Divina; Erwin Gunawan
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53046

Abstract

Abstrak Karies gigi merupakan masalah kesehatan mulut yang paling banyak dialami anak usia dini, terutama akibat konsumsi makanan kariogenik dan kebiasaan menyikat gigi yang kurang tepat. Data Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi karies pada anak usia 3–4 tahun mencapai 81,1% dan meningkat menjadi 92,6% pada usia 5–9 tahun. Kondisi ini diperburuk oleh rendahnya pengetahuan anak dan kurangnya perhatian orang tua terhadap kesehatan gigi susu. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas penyuluhan kesehatan gigi terhadap peningkatan pengetahuan anak prasekolah di TK Al-Jawahir Kediri. Kegiatan edukasi dilaksanakan pada 21 Oktober 2025 menggunakan metode ceramah interaktif, demonstrasi teknik menyikat gigi, praktik bersama, dan evaluasi pre-test serta post-test. Materi disampaikan menggunakan media visual, phantom gigi, dan ice breaker untuk meningkatkan keterlibatan anak. Sebanyak 24 anak berpartisipasi dalam penelitian ini. Analisis deskriptif menunjukkan rata-rata indeks DMF-T sebesar 3,04 yang menandakan tingginya beban karies pada responden. Hasil pre-test memperlihatkan bahwa tingkat pengetahuan awal anak masih rendah pada seluruh indikator penilaian. Setelah intervensi edukasi, seluruh aspek pengetahuan mengalami peningkatan yang signifikan, dengan persentase jawaban benar meningkat pada semua komponen, termasuk frekuensi menyikat gigi (62,5% menjadi 87,5%), waktu menyikat gigi (25% menjadi 83,3%), penggunaan pasta gigi (20,83% menjadi 87,5%), serta pengetahuan makanan sehat dan penyebab karies (62,5% menjadi 95,83–100%). Uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan yang bermakna antara skor pre-test dan post-test (p < 0,05). Dengan demikian, penyuluhan dengan pendekatan interaktif terbukti efektif meningkatkan pengetahuan kesehatan gigi anak usia dini dan dapat direkomendasikan sebagai program edukasi rutin di sekolah. Kata Kunci: DMF-T; Edukasi Menyikat Gigi; Karies Anak; Pengetahuan Anak Usia Dini; Penyuluhan Kesehatan Gigi. Abstract Dental caries is the most common oral health problem among young children, primarily caused by frequent consumption of cariogenic foods and improper toothbrushing habits. The 2018 National Basic Health Research (Riskesdas) reported that the prevalence of caries among children aged 3–4 years reached 81.1% and increased to 92.6% in those aged 5–9 years. This condition is further aggravated by limited oral health knowledge in children and insufficient parental attention to primary tooth care. This study aimed to evaluate the effectiveness of dental health education in improving the knowledge of preschool children at Al-Jawahir Kindergarten, Kediri. The educational intervention was conducted on October 21, 2025, using interactive lectures, toothbrushing demonstrations, guided practice, and pre-test and post-test assessments. The learning materials were delivered through visual media, dental phantoms, and ice breakers to enhance children’s engagement. A total of 24 children participated in the study. Descriptive analysis showed an average DMF-T index of 3.04, indicating a high caries burden among participants. The pre-test results demonstrated that children’s baseline knowledge was low across all assessment indicators. Following the educational intervention, all aspects of knowledge improved significantly, with increases in the percentage of correct responses for toothbrushing frequency (62.5% to 87.5%), appropriate brushing time (25% to 83.3%), use of toothpaste (20.83% to 87.5%), and understanding of healthy foods and caries-causing factors (62.5% to 95.83–100%). The Wilcoxon test revealed a significant difference between pre-test and post-test scores (p < 0.05). These findings indicate that interactive dental health education effectively enhances oral health knowledge in young children and can be recommended as a routine school-based educational program. Keywords: Childhood Caries; Dental Health Education: DMF-T; Early Childhood Knowledge; Toothbrushing Education.