cover
Contact Name
Elsi Dwi Hapsari
Contact Email
elsidhapsari2@gmail.com
Phone
+6287839259788
Journal Mail Official
elsidhapsari2@gmail.com
Editorial Address
Sekretariat DPP PPNI Graha PPNI Jl. Lenteng Agung Raya No 64, Kec. Jagakarsa, RT 006 RW O8, Jakarta Selatan
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)
ISSN : 25031376     EISSN : 25498576     DOI : http://dx.doi.org/10.32419/jppni.v4i3
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) merupakan jurnal resmi Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia ini merupakan jurnal dengan peer-review yang diterbitkan secara berkala setiap 4 bulan sekali (April, Agustus, Desember), berfokus pada pengembangan keperawatan di Indonesia. Tujuan diterbitkan JPPNI adalah untuk mewujudkan keperawatan sebagai suatu profesi yang ditandai oleh kegiatan ilmiah yaitu kegiatan penelitian yang dilakukan oleh perawat di Indonesia, dikomunikasikan melalui media jurnal yang dikelola oleh organisasi profesi, dan didistribusikan ke kalangan perawat, pemangku kepentingan, dan masyarakat.
Articles 205 Documents
Penerapan Fungsi Manajemen Kepala Ruangan dalam Pengendalian Mutu Keperawatan Nurdiana -; Rr. Tutik Sri Hariyati; Siti Anisah
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 2, No 3 (2017)
Publisher : Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (651.064 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v2i3.93

Abstract

ABSTRAKTujuan: Mengidentifikasi masalah penerapan fungsi pengendalian mutu dan mengembangkan solusi pemecahan masalah di ruang rawat inap. Metode: Metode yang digunakan analisis hasil dan gap implementasi menggunakan kajian literatur. Permasalahan dianalisis menggunakan diagramfishbone. Penyelesaian masalah menggunakan tools Plan Do Study Action (PDSA). Data diambil melalui wawancara terstruktur, survei, dan observasi lapangan pada 11 responden kepala ruangan dan 88 staf perawat pada tanggal 19-27 Oktober 2017. Data dianalisis secara deskriptif dengan melihat distribusi frekuensi persepsi kepala ruangan dan staf tentang pengendalian mutu dan pelaksanaan fungsi manajemen dalam pengendalian mutu. Hasil: Fungsi pengendalian mutu keperawatan belum dilaksanakan optimal pada tahap perencanaan, pemantauan dan tindak lanjut masalah (45,45%). Implementasi penyelesaian dalam bentuk sosialisasi dan workshop yaitu panduan, prosedur, kamus dan instrumen pemantauan indikator mutu keperawatan. Hasil evaluasi menunjukkan 62% Kepala Ruangan meningkat pengetahuannya tentang pengendalian mutu dengan rata-rata skor pre-post test meningkat 1,33 poin dari 6,10 menjadi 7,43. Survei pasca implementasi menghasilkan persepsi yang baik dari 86,67% Kepala Ruangan mengenai pengendalian mutu keperawatan. Diskusi: Program pengendalian mutu merupakan salah satu fungsi utama kepala ruangan. Rumah sakit telah memiliki program pengendalian mutu yang dipersyaratkan standar akreditasi rumah sakit, namun kepatuhan penerapannya masih perlu dipertahankan. Rumah sakit dipersyaratkan untuk dapat mempertahankan kepatuhan dan kesinambungan pengendalian mutu guna mengevaluasi proses kerja secara berkelanjutan. Kesimpulan: Sosialisasi mengenai penerapan pengendalian mutu keperawatan cukup efektif meningkatkan pengetahuan kepala ruangan dan tentang program mutu yang dipersyaratkan akreditasi rumah sakit. Pimpinan rumah sakit perlu memberi pengakuan, dukungan, dan motivasi bagi kepala ruangan penerapan pengendalian mutu keperawatan di ruangan rawat.Kata Kunci: fungsi manajemen, mutu keperawatan, pengendalian mutu, perawat manajer.IMPLEMENTATION OF MANAGEMENT FUNCTION OF HEAD OF WARD IN NURSING QUALITY CONTROLABSTRACTObjective: To identify problems in implementing quality control functions and develop solutions to problems in the inpatient ward. Method: The research employed results analysis and implementation gap by using literature review. Problems were analyzed usingfishbone diagram. Problem were solved using Plan Do Study Action (PDSA) tools. Data were taken through structured interviews, surveys, andfield observations in 11 heads ofward and 88 nursing staff between 19 and 27 October 2017. Data were analyzed descriptively by identifying the frequency distribution of the perception of head nurse and staff regarding quality control and the implementation of management functions in quality control. Results: The function of nursing quality control was not optimally implemented at the stages of planning, monitoring and follow-up of the problem (45.45%). The solutions were implemented in the form of socialization and workshops, including guidelines, procedures, dictionaries and monitoring instruments for nursing quality indicators. The results of evaluation indicated that the average score of pre-posttest on knowledge about quality control increased by 1.33 points 6.10 to 7.43 in 62% of the Heads of Ward. The post-implementation survey produced a good perception in 86.67% of the Head of the Ward regarding the nursing quality control. Discussion: The quality control program is one of the primary functions of the head of ward. The hospital has had a quality control program that is required by hospital accreditation standards, but it should maintain the adherence of its application. Hospitals are required to maintain adherence and sustainability of quality control in order to evaluate the sustainable work process. Conclusion: The socialization of the application of nursing quality control is quite effective in increasing the knowledge ofthe head ofward. In regard to the program of quality required by the hospital accreditation, the board of hospital management should give recognition, support, and motivation for the heads of ward to implement nursing quality control in the nursing ward.Keywords: management function, nursing quality, quality control, nurse- manager.
Hubungan Kadar HbA1c dan Kualitas Tidur pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Anggri Noorana Zahra; Misella Elvira Farida
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 3, No 3 (2018)
Publisher : Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.247 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v3i3.170

Abstract

ABSTRAKKualitas tidur yang buruk pada pasien diabetes melitus tipe 2 akan berdampak pada kualitas hidupnya. Kualitas tidur yang buruk disebabkan oleh komplikasi diabetes melitus yang diakibatkan oleh status kontrol gula darah yang buruk. Kadar HbA1c dapat menggambarkan status kontrol gula darah pasien dalam tiga bulan terakhir. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan kadar HbA1c dengan kualitas tidur pada pasien diabetes melitus tipe 2. Metode: Penelitian ini menggunakan metode cross sectional. Responden adalah pasien diabetes melitus tipe 2 sebanyak 110 orang yang dipilih dengan teknik consecutive sampling. Lokasi penelitian di Poli Endokrin RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. Data kadar HbA1c diperoleh dari hasil pemeriksaan HbA1c responden dalam tiga bulan terakhir dan kualitas tidur diukur dengan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Analisis data menggunakan uji deskriptif dan analisis bivariat dengan menggunakan chi square. Hasil penelitian: Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kadar HbA1c dengan kualitas tidur responden (p=0,000) dimana responden dengan kadar HbA1c pada kategori diabetes memiliki peluang 45 kali untuk memiliki kualitas tidur yang buruk dibandingkan responden dengan kadar HbA1c pada kategori normal. Diskusi: Kontrol gula darah yang buruk dapat menyebabkan penderita diabetes menderita neuropati diabetik yang menyebabkan nyeri pada kaki dan osmotik diabetes yang dapat menyebabkan nokturia. Hal tersebut dapat menurunkan kualitas tidur pasien diabetes. Kesimpulan: Penelitian ini merekomendasikan kepada perawat agar memberikan intervensi yang tepat dalam penatalaksanaan diabetes melitus sehingga pasien dapat mempertahankan status kontrol gula darah yang baik dan mendapatkan kualitas tidur yang baik.Kata kunci: diabetes melitus tipe 2, kadar HbA1c, kualitas tidur, Pittsburgh Sleep Quality Index.The Relationship Between HbA1c Level and Sleep Quality in Patients with Type 2 Diabetes MellitusABSTRACTPoor sleep quality in patients with type 2 diabetes mellitus (T2DM) will have an impact on their quality of life. Poor sleep quality is caused by complications of diabetes mellitus that is caused by poor glycemic control. HbA1c level describes the patient’s glycemic control in the last three months. Objective: This study aims to identify the relationship between HbA1c level and sleep quality in patients with T2DM. Methods: The study was using a cross sectional approach, 110 patients with T2DM at the Endocrine Polyclinic of Dr. Cipto Mangunkusumo National General Referal Hospital Jakarta were recruited by consecutive sampling technique. HbA1c level was taken from the results of HbA1c examination of respondents in the last three months and sleep quality was measured by the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). The gathered data were analyzed using descriptive and chi-square test. Results: The results of this study indicated that there was a significant correlation between HbA1c level and the sleep quality of respondents (p=0,000). The respondents with HbA1c level in the diabetes category have a 45 times greater chance of experiencing poor sleep quality compared to respondents with levels HbA1c in the normal category. Discussion: Poor blood glycemic control can cause patients to suffer from diabetic neuropathy, which causes pain or uncomfortable sensation in the legs, and osmotic diuresis, which can cause nocturia. It can reduce the sleep quality of diabetes patients. Conclusion: This study recommends the nurses to provid education and encourage patients with T2DM to maintain their glycemic control to promote healthy sleep among diabetic.Keywords: Type 2 diabetes mellitus, HbA1c level, sleep quality, pittsburgh sleep quality index.
TERAPI LANTUNAN ASMAUL HUSNA DAN TEKNIK RELAKSASI TERHADAP KADAR GULA DARAH PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 ., Ernawati
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.825 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v1i1.9

Abstract

ABSTRAKTujuan penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas terapi mendengarkanlantunan asmaul husna dan teknik relaksasi terhadap kadar gula darah pasien diabetes melitus (DM)tipe 2. Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah quasi experiment dengan pendekatanpretest-postest tanpa kelompok kontrol. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode nonprobability sampling melalui teknik accidental sampling sebanyak 25 pasien DM yang datang berobatke Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Ciputat, Tangerang. Analisis data meliputi univariat dan bivariatmenggunakan uji statistik paired t test. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terjadi penurunan kadargula darah, tetapi secara statistik tidak ada hubungan antara terapi mendengarkan lantunan asmaulhusna dan teknik relaksasi terhadap kadar gula darah pasien DM tipe 2 (p=0,27; α=0,05). Diskusi:Pasien perlu mendapatkan asuhan keperawatan komprehensif meliputi aspek biopsikososial,kultural, dan spiritual guna mengendalikan kadar gula darah pada pasien DM tipe 2. Simpulan:Terapi lantunan asmaul husna dan teknik relaksasi menjadi pilihan yang tepat untuk menimbulkanrelaksasi sehingga dapat menurunkan tingkat cemas yang pada akhirnya dapat mengendalikankadar gula darah pasien.Kata Kunci: kadar gula darah, asmaul husna, terapi relaksasi, pasien diabetes melitus tipe 2.ABSTRACTObjectives: This study aimed to identify the effectiveness of therapy by listening to chant of the Asmaul Husna and relaxation techniques on blood glucose levels in patients with type 2 diabetes mellitus(DM). Methods: It was a quasi experiment with pretest-posttest approach without control group.Samples were taken using non-probability sampling method through accidental sampling techniquenumbering 25 DM patients who came to Free Health Services located at Ciputat, Tangerang. Datawere tested with univariate and bivariate analysis by using paired t test. Results: Blood glucoselevel decreased, but statistically there was no correlation of therapy by listening to chant of Asmaul Husna and relaxation techniques with blood glucose levels in patients with type 2 DM (p=0.27;α=0.05). Discussion: Patients with type 2 DM needed to obtain a comprehensive nursing care,including biopsychosocial, cultural and spiritual aspects in order to control their blood glucose levels.Conclusion: Therapy by listening to chant of Asma ul Husna and relaxation techniques could bethe right choices to aid relaxation so as to reduce anxiety levels that could eventually control bloodglucose levels of the patients.Keywords: blood glucose levels, Asma ul Husna, relaxation therapy, patients with type 2 diabetesmellitus.
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KELULUSAN UJI KOMPETENSI NERS INDONESIA (UKNI) DI REGIONAL SULAWESI Ayu Hartina; Takdir Tahir; Nurhaya Nurdin; Midawati Djafar
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.719 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v2i2.84

Abstract

ABSTRAKTujuan penelitian: Mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kelulusan dalam pelaksanaan UKNI di institusi regional Sulawesi. Metode: Penelitian ini menggunakan survei analitik dengan model pendekatan cross sectional study. Penelitian ini menggunakan kuesioner dengan skala Guttman. Pengambilan data dilakukan pada 16 Desember 2016-19 April 2017, sebanyak 72 orang lulusan ners sebagai sampel dari berbagai institusi keperawatan di wilayah Sulawesi, pengambilan sampel dilakukan secara cluster sampling, lalu diberikan kuesioner saat briefing H-1 sebelum ujian kompetensi ners. Uji statistik yang digunakan yaitu uji Pearson correlation dengan tingkat kemaknaan p-value =0,05. Hasil: Ada hubungan kesiapan ujian (p=0,001), try out UKNI (p=0,03), prestasi akademik (p=0,03), dan peran institusi (p=0,005) dengan tingkat kelulusan uji kompetensi ners dan tidak ada hubungan kondisi fisik (p=0,555), praktik profesi dengan tingkat kelulusan uji kompetensi ners. Kesimpulan: Faktor yang paling dominan berhubungan dengan kelulusan uji kompetensi adalah kesiapan uji kompetensi. Perlu dilakukan penelitian lanjutan yang terkait sistem bimbingan profesi dan pemahaman blueprint terhadap kelulusan uji kompetensi ners.Kata Kunci: uji kompetensi, tingkat kelulusan, prestasi akademikFACTORS RELATED TO A PASS IN TEST OF COMPETENCE FOR INDONESIAN NURSES IN SULAWESI REGIONABSTRACTObjective: To identify factors related to the pass in the Test of Competence for Indonesian Nurses in regional institutions of Sulawesi. Methods: This research employed analytical survey with cross sectional study approach. It used Guttman scale for the questionnaire. Data were collected from 16 December 2016 until 19 April 2017, involving 72 nursing graduates as samples from various nursing institutions in Sulawesi, taken using cluster sampling, and given questionnaire during a briefing session held one day before the test of competence for nurses. The statistical test used Pearson correlation test with significance level ofp-value=0.05. Results: There was correlation of test readiness (p=0.001), try-out for the Test of Competence for Indonesian Nurses (p=0.03), academic achievement (p=0.03), and institutional role (p=0.005) with the passing rate of the test of competence for nurses and there was correlation ofphysical condition (p=0.555), professional practice with the passing level of the test of competence for nurses. Conclusion: The most dominant factor related to the pass in the competence test is the readiness for the competence test. It is necessary to conduct further research on professional guidance system and understanding of blueprint concerning the pass in the test of competence for nurses.Keywords: competence test, passing rate, academic achievement
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TERKAIT PROFESI DAN MOTIVASI MAHASISWA TINGKAT AKHIR UNTUK MENJADI PERAWAT PROFESIONAL Ni Made K. Wardani; Ice Yulia Wardani
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 1, No 3 (2016)
Publisher : Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.888 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v1i3.34

Abstract

AbstrakMahasiswa keperawatan harus memiliki pengetahuan yang baik terkait perawat profesional sertamemiliki motivasi yang tinggi untuk dapat menjadi seorang perawat profesional. Tujuan penelitian:untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan terkait profesi dan motivasi mahasiswa tingkat akhiruntuk menjadi perawat profesional. Metode: Penelitian ini menggunakan metode cross-sectionaldengan rancangan deskriptif koleratif dan menggunakan total sampling terhadap 156 mahasiswayang dilakukan pada bulan Juni 2016 di universitas negeri dan bulan September 2016 di universitasswasta, dengan kuesioner yang dibuat oleh peneliti sendiri dan sudah dilakukan uji validitas danreliabilitas. Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkantidak terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan terkait profesi dan motivasimahasiswa tingkat akhir untuk menjadi seorang perawat profesional (p value=0,447). Selain itu,memiliki pengetahuan saja tidak cukup untuk dapat memotivasi diri mahasiswa keperawatan untukmenjadi perawat profesional. Kesimpulan: pengetahuan dan motivasi tidak saling berpengaruhuntuk menjadikan seseorang menjadi perawat profesional.Kata Kunci: pengetahuan, motivasi, perawat professionalTHE CORRELATION BETWEEN LEVELS OF KNOWLEDGE OF PROFESSION AND MOTIVATIONOF FINAL YEAR STUDENTS FOR BECOMING PROFESSIONAL NURSESABSTRACTNursing students should have a comprehensive knowledge of professional nurse and highmotivation for becoming professional nurses. Objective: To identify the correlation between thelevels of knowledge of profession and the motivation of fi nal year students for becoming professionalnurses. Methods: This study employed cross-sectional method with correlative descriptive design.It employed total sampling on 156 students. It was conducted in June at a state university and inSeptember at a private university. It used a questionnaire made by the researcher and its validityand reliability had been tested. Data were analyzed using chi-square test. Result: The results of thestudy indicated that there was no signifi cant correlation between levels of knowledge of professionand motivation of fi nal year students for becoming professional nurses (p value=0.447). In addition,having knowledge alone is not enough to be able to motivate nursing students for becomingprofessional nurses. Conclusion: Knowledge and motivation do not in fl uence each other to makesomeone become a professional nurse.Keywords: knowledge, motivation, professional nurses
PENGETAHUAN DAN STIGMA PERAWAT TERKAIT ORANG DENGAN HIV/AIDS (ODHA) Sandy Dwi Aryanto; Ibrahim Rahmat; Anita Kustanti
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.683 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v3i2.107

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Stigma merupakan masalah yang dihadapi orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Dampak buruk terjadinya stigma adalah sulitnya memutuskan rantai penularan HIV/AIDS. Stigma dapat terjadi dimana saja, salah satunya didalam pelayanan kesehatan dan pelaku stigma adalah perawat. Perawat merupakan bagian garis depan dalam melakukan perawatan yang seharusnya tidak melakukan sikap negatif seperti stigma. Sikap stigma yang dilakukan oleh perawat disebabkan karena adanya ketakutan dan adanya kesalahan presepsi tetang penularan atau pencegahan HIV/AIDS. Faktor yang menyebabkan hal tersebut dipengaruhi oleh pengetahuan. Tujuan Penelitian: Mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan stigma perawat terkait ODHA di salah satu rumah sakit swasta di Yogyakarta. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Subjek pada penelitian ini adalah perawat yang bekerja di bangsal yang kemungkinan menangani pasien ODHA di salah satu rumah sakit swasta di Yogyakarta dengan jumlah 63 orang. Data diambil dari bulan Desember 2016-Februari 2017. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini dengan kuesioner HIV-KQ-18 untuk mengukur tingkat pengetahuan dan kuesioner SHASS untuk mengukur sikap stigma. Pada kuesioner HIV-KQ-18 dilakukan uji kerterbacaan. Kuesioner SHASS telah dilakukan uji validitas dan uji reliabilitas pada penelitian sebelumnya. Analisis menggunakan uji korelasi Spearman rank. Hasil: Sebanyak 40 (63.5%) responden mempunyai pengetahuan cukup dan sebanyak 50 (79.4%) responden mempunyai stigma tinggi. Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dengan stigma perawat terkait ODHA di salah satu RS swasta di Yogyakarta. Kesimpulan: Pengetahuan perawat tentang ODHA masih perlu ditingkatkan. Perlu dilakukan usaha terkait masih tingginya stigma perawat tentang ODHA, misalnya bagi institusi pendidikan dapat menambahkan kurikulum stigma perawat terkait ODHA, melakukan kuliah atau workshop dengan ahli, ODHA, Dinas Kesehatan, dan pelayanan kesehatan, dan pelatihan tentang HIV/AIDS.Kata kunci: ODHA, pengetahuan, stigma perawatKNOWLEDGE WITH NURSE’S STIGMA RELATED PLWHA ABSTRACTBackground: Stigma is a problem faced by people living with HIV/AIDS (PLWHA). The adverse effect of stigma is difficulty in conducting prevention for HIV/ADIS transmission. Stigma could be occur in everywhere, including health facilities with the actor are nurses. Nurse as a leading care provider should not giving stigma. Stigma produced by nurse are a result of scares and misperception regard HIV/AIDS transmission and prevention. These factors are affected by knowledge. Objective: To understand the correlation between knowledge with nurse’s stigma related PLWHA in the one of private hospital in Yogyakarta. Method: This was a quantitative research with cross sectional design. Subject on this research was 63 nurses whose working in the ward to handle care for PLWHA patients in a one of the private hospital in Yogyakarta. Data collected from December 2016 unitl February 2017. Instruments on this research was HIV-KQ-18 designed to measure the knowledge level and SHASS questionnaire to measure the stigma. The HIV-KQ-18 questionnaire was not tested for validity and reliability testing, only a reading test was conducted. The SHASS questionnaire has been tested for validity and reliability testing by previous researchers. Data analyzed with spearman rank correlation. Result: 40 respondents (63,5%) have enough knowledge and 50 respondents (79,4%) in a high stigma. There was no significant correlation between knowledge with nurse’s stigma related PLWHA in a one of the private hospital in Yogyakarta. Conclusion: Nurses knowledge about PLWHA still needs to be improved. Efforts need to be made regarding the high stigma of nurses about PLWHA, for example for educational institutions can add a stigma curriculum for nurses related to PLWHA, conduct lectures or workshops with experts, PLWHA, Health Services, and health services, and training about HIV/AIDS.Keyword: knowledge, nurses stigma, PLWHA
Edukasi Meningkatkan Pengetahuan dan Sikap Ibu dalam Pencegahan Kejang Demam Berulang Puspitasari, Jayanti Dwi; Nurhaeni, Nani; Allenidekania, Allenidekania
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 4, No 3 (2019)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.881 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v4i3.186

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Kejang demam yang terjadi berulang akan mengakibatkan efek yang buruk bagi anak, terutama untuk kecerdasan dan perkembangan otak. Salah satu cara untuk mencegah kejang demam berulang adalah dengan memberikan edukasi kesehatan kepada ibu. Edukasi kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan ibu, sehingga sikap ibu akan berubah kearah positif. Tujuan: untuk mengetahui pengaruh edukasi kesehatan terhadap pengetahuan dan sikap ibu dalam pencegahan kejang demam berulang. Metode: Desain penelitian ini adalah Quasi Experiment dengan teknik pre test and post test nonequevalent control group pada 58 responden (kelompok intervensi=29 dan kelompok kontrol=29). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner A, B, C dan media audiovisual. Responden adalah ibu yang memiliki balita pernah mengalami kejang demam dan pernah dirawat di rumah sakit. Kelompok intervensi diberikan edukasi kesehatan tentang pencegahan kejang demam berulang dengan media video, sedangkan kelompok kontrol tidak diberikan intervensi. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis bivariat dengan uji paired t-test dan independent t-test dan multivariate dengan MANCOVA. Hasil: ada pengaruh edukasi kesehatan terhadap pengetahuan (p=0,001) dan sikap (p=0,001). Kesimpulan: Edukasi dapat dimasukkan ke dalam rencana asuhan keperawatan ketika anak pertama kali dirawat di rumah sakit karena kejang demam, karena terbukti dapat meningkatkan pengetahuan ibu sehingga ibu dapat mengambil sikap yang positif untuk pencegahan terjadinya kejang demam berulang.Kata kunci: edukasi kesehatan, pengetahuan, sikap, kejang, demamThe Effect of Health Education on Knowledge and Attitude of Mothers in Preventing the Recurrent Febrile Seizures Abstract The Recurrent Febrile Seizures (RFS) could affect the children intelligence and their brain development. Health education is one of the ways in order to prevent the RFS. By providing health education among mothers, it might increase their knowledge and could lead to a positive attitude in preventing the RFS. Aim: This study was aimed at investigating the effect of health education on knowledge and attitude of mothers in preventing the RFS among hospitalized children. Method: This was a quasi-experimental study with pre- and post-test nonequivalent control group with total sample was 58 respondents (intervention group, n=29, and control group, n=29). The instruments used in this study were questionnaire A, B, C and audiovisual media. Respondents in this determination are mothers who have children who have experienced febrile seizures and have been hospitalized. The video guidelines on RFS prevention was performed in the intervention group, while there was no intervention performed in the control group.Data was analysed with univariate (paired t-test and unpaired t-test) and multivariate with MANCOVA. Result: There was a significant effect of health education on knowledge (p=0.001), and attitude (p=0.001). Conclusion: Health education should be included in the nursing care plan when the children with RFS were admitted to the hospital.Keywords: Health education, knowledge, attitude, febrile, seizures
HUBUNGAN PERSEPSI LINGKUNGAN PEMBELAJARAN KLINIK DENGAN PERILAKU CARING PADA MAHASISWA PROFESI NERS Layuk, Yenny Tangke; Harjanto, Totok; Hapsari, Elsi Dwi
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.617 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v1i2.24

Abstract

ABSTRAKTujuan: Untuk mengetahui hubungan antara persepsi lingkungan pembelajaran klinik dengan perilakucaring pada mahasiswa Profesi Ners. Metode: Subjek penelitian ialah mahasiswa Profesi Ners satuinstitusi pendidikan ners di Yogyakarta pada tahun 2012/2013. Responden penelitian berjumlah 61orang. Alat penelitian yang digunakan ialah kuesioner Clinical Learning Environment and Supervision(CLES) untuk mengetahui lingkungan pembelajaran klinik dan kuesioner Caring Behavior Inventory(CBI) untuk mengetahui perilaku caring. Analisis data menggunakan bivariat korelasi dengan ujikorelasi Pearson. Hasil: Suasana ruang perawatan, gaya kepemimpinan, nilai-nilai keperawatan diruangan, nilai-nilai pembelajaran di ruangan, dan hubungan supervisi paling banyak pada persepsipositif. Subskala gaya kepemimpinan kepala ruangan dengan persepsi positif paling banyak(98,53 persen). Kecenderungan perilaku caring pada mahasiswa Profesi Ners paling banyak padakategori rendah (41,0 persen). Suasana ruang perawatan (p=0,006) dan nilai-nilai keperawatan diruangan (p=0,004) memiliki hubungan signifi kan dengan perilaku caring pada mahasiswa ProfesiNers. Diskusi: Suasana ruang perawatan yang positif dan semangat tim yang baik di lingkunganklinik yang baik dalam menunjang mahasiswa pada hasil dari pembelajaran klinik. Kedua subskalatersebut memiliki hubungan yang signifi kan pada perilaku caring pada mahasiswa Profesi Ners satuinstitusi pendidikan ners di Yogyakarta. Kesimpulan: Persepsi lingkungan pembelajaran klinik yangberhubungan signifi kan dengan perilaku caring pada mahasiswa Profesi Ners satu institusi pendidikanners di Yogyakarta yaitu subskala suasana ruang perawatan dan nilai-nilai keperawatan di ruangan.Kata Kunci: pembelajaran, klinik, perilaku, caring, profesi.ABSTRACTObjective: To learn about the relationship between the perception of the clinical learning environmentand caring behavior of the nursing internship students of one institution of nursing education inYogyakarta. Material and methods: Subject of the research were nursing internship students of oneinstitution of nursing education in Yogyakarta in 2012/2013. Total of the participants were 61 students.The data was collected using the Learning Environment and Supervision (CLES) instrument to learnabout clinical learning environment and Caring Behavior Inventory (CBI), an instrument to learn caringbehavior. Data was analyzed with using correlation bivariate with Pearson correlation test. Results:The atmosphere of the ward, leadership style, nursing values in the ward, learning values in theward, and the relationship of the supervisor mostly made positive perception. The leadership styleof head nurse of the ward had most positive perception (98,53%). The tendency of caring behaviorof students mostly in low category (41.0%). The atmosphere at the ward (p=0,006) and values ofnursing in the ward (p=0,004) signifi cantly had relation to caring behavior of the nursing internshipstudents of one institution of nursing education in Yogyakarta. Discussion: Positive atmosphere andspirit of the team in the clinical practice fi eld were important to improve outcome of clinical learningfor nursing students. Both sub-scales had signifi cant relation to caring behavior to nursing internshipstudents of one institution of nursing education in Yogyakarta. Conclusion: Perception of clinicallearning environment that signifi cantly related to caring behavior for nursing internship students of oneinstitution of nursing education in Yogyakarta were the atmosphere and the nursing values in the ward.Keywords: learning, clinic, behavior, caring, internship.
Pengaruh Penggantian Kateter Intravena dan Set Infus Terhadap Terjadinya Phlebitis ni luh widani
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.059 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v3i1.98

Abstract

ABSTRAKPemasangan infus adalah prosedur umum pada pasien di rumah sakit dimana komplikasi yang umum terjadi adalah phlebitis. Tujuan penelitian: menganalisis pengaruh penggantian kateter intravena (iv) dan set infus terhadap kejadian phlebitis. Metode: penelitian kuantitatif, desain Kohort, sampel sebanyak 247 diambil secara purposif, pasien dewasa yang terpasang infus perifer dirawat di RS Sint Carolus Jakarta pada Bulan November 2016.. Dilakukan pengamatan tusukan infus sejak pemasangan sampai pencabutan oleh peneliti dan dua orang asisten. Data dikumpulkan dengan melihat rekam medis untuk melihat karakteristik pasien dan lembar observasi dan VIP score (Visual infusion phlebitis score). Uji statistik yang digunakan adalah kendall-tau-C dan kendall-tau-B dengan tingkat kemaknaan p<0,05. Hasil: Kejadian phelebitis 5,3%. Analisis bivariate Kendal’s tau C menunjukkanada hubungan pemberian terapi iv bolus (p=0,03), lama pemasangan kateter iv (p=0,00) terhadap terjadinya phlebitis (p<0,05). Uji regresi logistik didapatkan variabel independen memberikan kontribusi kejadian phlebitis sebesar 24,5%. Uji probabilitas disimpulkan responden yang tidak diganti tusukan infus rutin dan set drip secara rutin berisiko phlebitis sebesar 100%. Diskusi: Hasil penelitian ini menyimpulkan pentingnya penggantian kateter intravena perifer dan penggantian set infus untuk pemberian terapi drip secara rutin untuk mencegah terjadinya phlebitis. Kesimpulan: penelitian lebih lanjut menganalisis faktor risiko phlebitis di luar faktor yang telah diteliti seperti faktor tetesan dan ketrampilan perawat dalam pemasangan infus.Kata kunci: Kateter Intravena, phlebitis, set infusEFFECT OF REPLACEMENT OF INTRAVENOUS CATHETER AND INFUSION SET ON PHLEBITIS ABSTRACTInfusion is a common procedure in patients in hospitals in which the most common complication is phlebitis. Objective: To analyze the effect of the replacement of intravenous catheter (iv) and infusion set on the incidence ofphlebitis. Methods: This research is quantitative with cohort design. 247 samples were takenpurposively, consisting of adult patients receiving peripheral infusions treated at Saint Carolus Hospital of Jakarta in November 2016. The researcher and two assistants observed infusion punctures from insertion until extraction. Data were collected by reading medical records to see patient characteristics and observation sheets and VIP (Visual infusion phlebitis) score. The statistical test used Kendall’ tau-C and Kendall’s tau-B with a significance level of p <0.05. Results: the incidence of phlebitis was 5.3%. The results of bivariate analysis using Kendal’s tau-C showed that there was a correlation between iv bolus therapy (p=0.03), iv catheter insertion time (p=0.00) to incidence of phlebitis (p<0.05). The logistic regression test found that the independent variables contributed to the incidence of phlebitis by 24.5%. the probability test concluded that respondents whose infusion puncture and set drip were not regularly replaced had a risk of phlebitis by 100%. Discussion: The results of this research concluded the importance of replacing peripheral intravenous catheter and replacing infusion sets for drip therapy regularly in order to prevent phlebitis. Conclusion: Further research is recommended to analyze the risk factors for phlebitis beyond the factors that have been investigated such as droplet factors and nurses’ skills in infusion insertion.Keywords: Intravenous catheter, phlebitis, infusion set
Persepsi Perawat Mengenai Spiritualitas dan Pemenuhan Kebutuhan Spiritual Pasien DI INSTALASI GAWAT DARURAT Ita Yuni Asih; Dody Setyawan
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.379 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v4i1.175

Abstract

ABSTRAKKepadatan pasien dan pergantian pasien yang cepat di Instalasi Gawat Darurat (IGD) menyebabkan perawat kurang optimal dalam memberikan asuhan keperawatan kebutuhan spiritual bagi pasien. Kondisi tersebut dapat mempengaruhi persepsi perawat IGD akan spiritualitas dan pemenuhan kebutuhan spiritual pasien. Pemenuhan kebutuhan spiritual pasien IGD yang baik juga dapat meningkatan hasil pengobatan yang baik. Perawat yang memiliki persepsi spiritual yang baik akan mempunyai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan spiritual pasien. Tujuan: untuk mengetahui gambaran persepsi perawat mengenai spiritualitas dan pemenuhan kabutuhan spiritual pasien di IGD. Metode: penelitian ini menggunakan studi deskriptif survei. Sampel diambil menggunakan teknik total sampling dan diperoleh 75 responden. Data diambil dengan menggunakan kuesioner Spiritual Care-Giving Scale (SCGS) dan dianalisis dengan analisa univariat. Hasil penelitian: lebih dari separuh perawat IGD mempersepsikan kebutuhan spiritual dan pemenuhan kebutuhan spiritual pasien sebagai hal yang sangat penting (57,3%). Setiap aspek juga dipersepsikan sangat penting oleh perawat IGD, yaitu atribut dalam pemenuhan kebutuhan spiritual (77,3%), perspektif kebutuhan spiritual (60%), gambaran pemenuhan kebutuhan spiritual (54,7%), sikap dalam pemenuhan kebutuhan spiritual (88%), dan nilai-nilai dalam pemenuhan kebutuhan spiritual (65,3%). Kesimpulan: aspek yang perlu diperbaiki adalah nilai-nilai dalam pemenuhan kebutuhan spiritual. Nilai-nilai dari spiritualitas diartikan sebagai bagian dari keperawatan holistik yang sangat penting. Oleh karena itu, perawat IGD perlu meningkatkan pemahaman tentang spiritualitas agar implementasi pemenuhan kebutuhan spiritual pasien di IGD dapat positif diperkuat.Kata kunci: perawat gawat darurat, persepsi, spiritualNurses’ Perception of Spirituality and Fulfill the Spiritual Needs of Patients in the Emergency DepartmentABSTRACTPatient overcrowding and rapid patient turnover in emergency department cause nurses to be less than optimal in providing patients spiritual needs. This condition can affect the emergency nurses’ perceptions of spirituality and fulfill the patient’s spiritual needs. A good fulfillment of the emergency patients spiritual needs can also improved a good treatment results. Nurses who have a good spiritual perception will have the ability to fulfill the patient’s spiritual needs. Objective: describe nurses’ perception of spirituality and fulfill the spiritual needs of patients in the emergency department. Methods: This study was used descriptive survey research. Samples were taken using total sampling technique and obtained 75 participants. Data were taken using the Spiritual Care Giving Scale (SCGS) questionnaire and analyzed by univariate analysis. Results: more than a half of emergency nurses considered spiritual needs and fulfilled the patient’s spiritual needs as very important (57,3%). Every aspects is also perceived to be very important by emergency nurses, that is attributes in meeting spiritual needs (77.3%), perspective of spiritual needs (60%), description of meeting spiritual needs (54.7%), attitudes in meeting spiritual needs (88%), and values in meeting spiritual needs (65.3%). Conclusion: An aspect that need to be improved are values in fulfilling spiritual needs. The value of spirituality is interpreted as a very important part of holistic nursing. Consequently, emergency nurses need to improve their understanding of spirituality so that the implementation of fulfilling patients spiritual needs in emergency department can be positively reinforced. Keywords: emergency nurse, perception, spiritual

Page 6 of 21 | Total Record : 205