cover
Contact Name
Elsi Dwi Hapsari
Contact Email
elsidhapsari2@gmail.com
Phone
+6287839259788
Journal Mail Official
elsidhapsari2@gmail.com
Editorial Address
Sekretariat DPP PPNI Graha PPNI Jl. Lenteng Agung Raya No 64, Kec. Jagakarsa, RT 006 RW O8, Jakarta Selatan
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)
ISSN : 25031376     EISSN : 25498576     DOI : http://dx.doi.org/10.32419/jppni.v4i3
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) merupakan jurnal resmi Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia ini merupakan jurnal dengan peer-review yang diterbitkan secara berkala setiap 4 bulan sekali (April, Agustus, Desember), berfokus pada pengembangan keperawatan di Indonesia. Tujuan diterbitkan JPPNI adalah untuk mewujudkan keperawatan sebagai suatu profesi yang ditandai oleh kegiatan ilmiah yaitu kegiatan penelitian yang dilakukan oleh perawat di Indonesia, dikomunikasikan melalui media jurnal yang dikelola oleh organisasi profesi, dan didistribusikan ke kalangan perawat, pemangku kepentingan, dan masyarakat.
Articles 215 Documents
The Correlation between Self-esteem and Self-diagnosis Behavior Regarding Mental Health among Adolescents at Senior High School X in Jakarta Hia, Panca Sinar Prapenta; Pasaribu, Jesika
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 10, No 2 (2025)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v10i2.706

Abstract

Research objective: Currently, adolescents tend to self-diagnose due to the influence of their environment and a lack of knowledge about mental health. A key driver factor for adolescents to engage in self-diagnosis is that they are still in the stage of understanding self-concept. The purpose of this study was to determine the relationship between self-esteem and self-diagnosis behaviour regarding mental health in adolescents. Method: The research method used was descriptive correlation. The inclusion criteria for this study were students in grades XI and XII at SMA X Jakarta. Data collection was conducted from October to December 2024. The research instruments used were the Rosenberg Self-Esteem Scale, which had a Cronbach's alpha (ɑ=0.86), and the Self-Identification of Having Mental Illness (SELF-I), which had a Cronbach's alpha (ɑ=0.90). Univariate analysis was conducted by processing central tendency data for self-esteem and self-diagnosis, while bivariate analysis was performed using Kendall's tau-b correlation test. Results: The bivariate test showed a significant relationship between self-esteem and self-diagnosis behaviour (p-value 0.001). Discussion: The study's results indicate the importance of adolescents having high self-esteem to reduce the risk of self-diagnosis behavior. Adolescents need to have good self-esteem to maintain mental health in the future. Conclusion: Respondents are advised to increase their mental health awareness, be more discerning when filtering information from unofficial sources to avoid misinformation and seek professional help immediately. Schools need to implement mental health literacy programs that cover the dangers of self-diagnosis and how to access professional help.Keywords: adolescent, mental health, self-diagnosis, self-esteem
Hubungan Kelekatan Orang Tua-Anak dengan Regulasi Emosi pada Remaja di Jakarta Amellia, Najwa; Putri, Yossie Susanti Eka
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 10, No 2 (2025)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v10i2.700

Abstract

Kelekatan orang tua-anak merujuk pada kualitas hubungan emosional yang dibangun melalui interaksi yang hangat, responsif, dan konsisten yang berperan penting dalam perkembangan kemampuan regulasi emosi remaja. Tujuan Penelitian: Mengetahui hubungan kelekatan orang tua-anak dengan regulasi emosi pada remaja di Jakarta. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional analitik. Pengambilan sampel menggunakan teknik probability sampling dengan metode cluster sampling, melibatkan 428 responden berusia 13–19 tahun di beberapa sekolah menengah di Jakarta. Instrumen yang digunakan mencakup Inventory of Parent and Peer Attachment-Revised (IPPA-R) dan Emotion Regulation Questionnaire for Children and Adolescents (ERQ-CA). Pengumpulan data dilakukan melalui pengisian kuesioner selama bulan Februari–Maret 2025, dan analisis bivariat menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil: Rata-rata skor kelekatan orang tua-anak adalah 55,34. Sebanyak 239 remaja (55,8%) memiliki tingkat kelekatan yang tinggi, sementara 189 remaja (44,2%) memiliki tingkat kelekatan yang rendah. Dimensi kelekatan yang paling dominan dimiliki responden ialah kepercayaan (56,8%), diikuti keterasingan (24,4%), dan komunikasi (18,8%). Terdapat hubungan yang signifikan antara kelekatan orang tua-anak dan regulasi emosi pada remaja dengan arah korelasi negatif (p-value = 0,036; r = –0,101). Diskusi: Kelekatan yang tinggi tidak secara otomatis menyebabkan rendahnya regulasi emosi, melainkan mencerminkan ketidakseimbangan dimensi kelekatan, khususnya tingginya keterasingan dan rendahnya komunikasi, yang menghambat remaja dalam mengelola emosi secara adaptif. Simpulan: Perawat perlu melakukan skrining keterasingan emosional pada remaja dan mengembangkan intervensi berbasis keluarga yang berfokus pada peningkatan komunikasi dan pengurangan keterasingan. Integrasi materi kelekatan dalam kurikulum sekolah serta kampanye digital diperlukan sebagai upaya promotif kesehatan mental remaja.Kata Kunci: kelekatan orang tua-anak, regulasi emosi, remaja Correlation Between Parent–Child Attachment and Emotion Regulation Among Adolescents in Jakarta ABSTRACTParent–child attachment refers to the quality of the emotional bond developed through warm, responsive, and consistent interactions, which plays a crucial role in the development of adolescents’ emotional regulation abilities. Objective: This research aims to examine the correlation between parent–child attachment and emotion regulation among adolescents in Jakarta. Methods: This was an analytical cross-sectional research. The sample was selected using probability sampling through a cluster sampling technique, involving 428 adolescents aged 13–19 years from several secondary schools in Jakarta. Data were collected using the Inventory of Parent and Peer Attachment–Revised (IPPA-R) and the Emotion Regulation Questionnaire for Children and Adolescents (ERQ-CA). The survey was conducted between February and March 2025, and bivariate analysis was performed using Pearson correlation tests. Results: The average parent–child attachment score was 55.34. A total of 239 adolescents (55.8%) had high attachment levels, while 189 adolescents (44.2%) had low levels of attachment. The most dominant attachment dimension was trust (56.8%), followed by alienation (24.4%) and communication (18.8%). A significant negative correlation was found between parent–child attachment and emotion regulation (p = 0.036; r = –0.101). Discussion: High attachment levels do not automatically lead to better emotional regulation; rather, the imbalance among attachment dimensions—particularly high alienation and low communication—may hinder adolescents’ ability to regulate emotions adaptively. Conclusion: Nurses are encouraged to conduct emotional alienation screening among adolescents and develop family-based interventions focusing on enhancing communication and reducing alienation. Integration of attachment-focused content into school curricula and digital campaigns is recommended as part of adolescent mental health promotion efforts.Keywords: parent–child attachment, emotion regulation, adolescents
Literature Review: Identitas Profesional Perawat bagi Mahasiswa Sarjana Keperawatan Mediawati, Ati Surya; Aulia, Syifa Nurul; Agustina, Hana Rizmadewi; Dheandra, Putri Vidahlia
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 10, No 2 (2025)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v10i2.627

Abstract

Undang-Undang No 17 tahun 2023 menjelaskan bahwa yang dibutuhkan untuk membangun kesehatan masyarakat adalah sumber daya manusia yang berkualitas dan produktif. Hal tersebut bisa didapatkan dari identitas profesional perawat yang baik. Identitas profesional perlu ditanamkan sejak mahasiswa karena akan berpengaruh pada identitas profesional saat ia menjadi perawat sehingga mempengaruhi pemberian layanan keperawatan, kinerja perawat, dan kolaborasi perawat dengan tenaga kesehatan lainnya. Tujuan: Studi literatur ini bertujuanmengetahui bagaimana identitas profesional perawat bagi mahasiswa sarjana keperawatan. Metode: Metodepada penelitian ini adalah literature review dari database elektronik yaitu PubMed, Scopus, dan Ebsco yang dipublikasikan tahun 2020-2024. Pencarian artikel menggunakan pendekatan Population, Concept, dan Context (PCC) yaitu Population: Mahasiswa Tingkat Sarjana Keperawatan; Concept: Identitas Profesional Perawat; dan Context: Pendidikan Keperawatan Tingkat Sarjana. Hasil: Analisis dari 8 Artikel menunjukan sebagian besar mahasiswa tingkat sarjana keperawatan memiliki identitas profesional yang rendah. Diskusi: Identitas profesional dapat meningkat saat adanya kondisi tanggap darurat seperti pada pandemi Covid-19. Setelah menjalani perkuliahan selama 3 tahun identitas profesional juga dapat meningkat. Lingkungan akademik, sistem dan model pembelajaran dari kampus, perencanaan karir, pengalaman magang, jenis kelamin, usia, kepedulian, tekanan kerja, dan dukungan sosial dari masyarakat berpengaruh pada pembentukan identitas profesional. Kesimpulan: Identitas profesional pada mahasiswa keperawatan menunjukkan hasil yang berbeda. Oleh karena itu, institusi pendidikan perlu melakukan upaya untuk menumbuhkan identitas profesional yang kuat pada mahasiswanya.
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI DENGAN MOTIVASI KADER POSYANDU LANSIA DALAM MELENGKAPI PENGISIAN KARTU MENUJU SEHAT Alifah, Yosiana Nur; Iskandar, Asep; Kusumawardani, Lita Heni
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 10, No 2 (2025)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v10i2.640

Abstract

Tujuan penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara persepsi dengan motivasi kader posyandu lansia dalam melengkapi pengisian Kartu Menuju Sehat (KMS). Metode: Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Teknik sampling menggunakan total sampling dengan jumlah responden 103 orang. Instrumen penelitian berupa kuesioner persepsi dan motivasi yang menggunakan skala likert. Analisis menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat dengan uji Somers’d. Hasil: Hasil univariat menunjukkan karakteristik responden mayoritas berusia 45 – 55 tahun. Mayoritas kader berpendidikan terakhir SMA ibu rumah tangga dengan pendapatan < UMK Banyumas tahun 2024. Mayoritas kader sudah menjabat ≥ 3 tahun. Kader sudah pernah mengikuti pelatihan mengenai tata cara pengisian KMS lansia. Selain itu, semua kader telah mendapatkan insentif dan mayoritas mendapatkan satu tahun sekali. Mayoritas kader memiliki persepsi dengan kategori sedang sebesar 85,4% dan motivasi dengan kategori rendah sebesar 56,3%. Analisis uji Somers’d diperoleh hasil nilai p-value = 0,001 (p<0,05) yang menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara persepsi dan motivasi kader dalam melengkapi pengisian KMS. Kekuatan hubungan termasuk dalam kategori sedang dengan nilai r = 0,429 dan menunjukkan arah hubungan positif. Diskusi: Motivasi kader posyandu lansia yang rendah dalam melengkapi pengisian KMS menghambat pemantauan kesehatan lansia. Motivasi ini dipengaruhi oleh persepsi keyakinan diri kader terhadap kemampuan yang dimiliki. Kesimpulan: Semakin baik persepsi kader, maka motivasi kader dalam melengkapi pengisian KMS cenderung meningkat.Kata Kunci: Kader, Kartu Menuju Sehat (KMS), motivasi, persepsi, posyandu lansia.
Pola Menyusui dan Permulaan Laktasi dengan Kejadian Hiperbilirubinemia Wardani, Eva Cahya; Aprilina, Happy Dwi; Elsanti, Devita; Ekawati, Endah
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 10, No 2 (2025)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v10i2.679

Abstract

ABSTRAKHiperbilirubinemia merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi pada bayi baru lahir dan berisiko menimbulkan komplikasi neurologis. Faktor yang berkontribusi terhadap kejadian hiperbilirubinemia ialah pola menyusui dan permulaan laktasi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pola menyusui dan permulaan laktasi dengan kejadian hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan metode cross-sectional. Sampel terdiri dari 54 ibu postpartum yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner pola menyusui, lembar observasi, dan pengukuran kadar bilirubin menggunakan alat transcutaneus bilirubin (TcB). Analisis data dilakukan menggunakan uji Fisher exact. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden (74,1%) memiliki pola menyusui yang kurang baik, dan 87% mengalami permulaan laktasi pada hari kedua. Angka kejadian hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir mencapai 50%. Uji statistik menunjukkan hubungan signifikan antara pola menyusui dan kejadian hiperbilirubinemia (p = 0,028) serta antara permulaan laktasi dan kejadian hiperbilirubinemia (p = 0,010). Diskusi: Temuan ini menunjukkan bahwa keterlambatan dalam pemberian ASI dan pola menyusui yang tidak optimal dapat memperlambat proses eliminasi bilirubin pada bayi sehingga meningkatkan risiko hiperbilirubinemia. Hal ini menegaskan pentingnya inisiasi menyusui dini dan pendampingan menyusui yang efektif sejak awal kelahiran. Kesimpulan: Pola menyusui yang kurang baik dan permulaan laktasi yang terlambat meningkatkan risiko hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir. Oleh karena itu, edukasi laktasi bagi ibu postpartum perlu ditingkatkan untuk mencegah kejadian hiperbilirubinemia. Kata Kunci: ASI eksklusif,  bayi baru lahir, hiperbilirubinemia, permulaan laktasi, pola menyusui Breastfeeding Patterns and Initiation of Lactation in Relation to the Incidence of Hyperbilirubinemia ABSTRACTHyperbilirubinemia is a common health issue in newborns and poses a risk of neurological complications. Two contributing factors to the incidence of hyperbilirubinemia are breastfeeding patterns and the timing of lactation initiation. Objective: This research aims to analyze the correlation between breastfeeding patterns and the initiation of lactation with the incidence of hyperbilirubinemia in newborns at Prof. Dr. Margono Soekarjo Regional General Hospital. Methods: This research employed a quantitative design with a cross-sectional method. The sample consisted of 54 postpartum mothers selected through purposive sampling. Data were collected using a breastfeeding pattern questionnaire, observation sheets, and measurement of bilirubin levels using a Transcutaneous Bilirubinometer (TcB). Data analysis was conducted using the Fisher’s Exact Test. Results: The findings revealed that the majority of respondents (74.1%) exhibited poor breastfeeding patterns, and 87% initiated lactation on the second day postpartum. The incidence of hyperbilirubinemia in newborns reached 50%. Statistical analysis showed a significant correlation between breastfeeding patterns and the incidence of hyperbilirubinemia (p = 0.028), as well as between the timing of lactation initiation and hyperbilirubinemia (p = 0.010). Discussion: These results suggest that delayed breastfeeding initiation and suboptimal breastfeeding patterns may hinder the elimination of bilirubin in newborns, thereby increasing the risk of hyperbilirubinemia. This underscores the importance of early initiation of breastfeeding and effective lactation support from the beginning of birth. Conclusion: Inadequate breastfeeding patterns and delayed initiation of lactation elevate the risk of hyperbilirubinemia in newborns. Therefore, enhanced lactation education for postpartum mothers is essential to prevent the occurrence of hyperbilirubinemia.Keywords: exclusive breastfeeding, newborn, hyperbilirubinemia, initiation of lactation, breastfeeding pattern
ANALISIS PELAKSANAAN CODE TRAUMA DI INSTALASI GAWAT DARURAT Aziz Syaifudin Fathoni; Sutono Sutono; Darsih Darsiih; Sri Setiyarini
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 10, No 3 (2025)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v10i3.762

Abstract

Code trauma merupakan sistem penanganan kegawatdaruratan yang dirancang untuk mempercepat respons tim medis terhadap pasien trauma berat. Aktivasi yang tepat dan cepat menjadi faktor kunci untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas. Namun, implementasi code traumasering kali menghadapi kendala seperti keterlambatan waktu pengambilan keputusan dan hambatan yang dapat memengaruhi outcome pasien. Tujuan penelitian: Menganalisis pelaksanaan code trauma di instalasi gawat darurat (IGD), meliputi penyebab aktivasi, waktu keputusan, jenis operasi dan hambatan yang dihadapi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional). Penelitian ini menggunakan instrumen berupa formulir pemantauan code trauma yang merupakan instrumen standar pelayanan di rumah sakit tempat penelitian dilakukan. Formulir ini telah divalidasi oleh tim trauma rumah sakit dan digunakan secara rutin dalam pelaksanaan code trauma. Data diperoleh dari telaah dokumen pada 45 kasus code trauma. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif berupa distribusi frekuensi dan persentase. Hasil: Karakteristik responden pada pasien code trauma berusia 19–35 tahun sejumlah 33,3% dan berjenis kelamin laki laki sejumlah 62,2%. Jenis cedera merupakan faktor utama yang paling sering memicu aktivasi code trauma, tercatat sebesar 47,6%. Waktu pengambilan keputusan pada 77,8% kasus tercapai, sementara 22,2% kasus mengalami keterlambatan, dan penyebab keterlambatannya 35,3% karena menunggu hasil pemeriksaan penunjang, 29,9% karena prolonged resuscitation dan menunggu kamar operasi, sedangkan kategori operasi emergensi 53,3% dalam aktivasi code trauma. Diskusi: Pelaksanaan code trauma telah berjalan cukup efektif dengan mayoritas kasus memenuhi standar waktu keputusan. Hasil penelitian ini bisa menjadi bahan rujukan untuk membuat kebijakan selanjutnya terkait pelaksanaan code traumadi IGD. Kesimpulan: Pelaksanaan code trauma telah berjalan cukup efektif dengan mayoritas kasus memenuhi standar waktu keputusan. Hasil penelitian ini bisa menjadi bahan rujukan untuk membuat kebijakan selanjutnya terkait pelaksanaan code trauma di IGD.Kata Kunci: aktivasi tim trauma, instalasi gawat darurat, trauma Analysis of Code Trauma Implementationi in the Emergency DepartmentABSTRACTCode trauma is an emergency response system designed to accelerate the medical team’s response to patients with severe traumatic injuries. Timely and accurate activation is a key factor in reducing morbidity and mortality. However, the implementation of a code trauma system often encounters challenges, including delays in decision making and barriers that may influence patient outcomes. Objective: This study aims to analyze the implementation of code trauma in the Emergency Department (ED), focusing on the causes of activation, decision-making time, types of surgical procedures, and the barriers encountered during its implementation. Methods: This study employed a quantitative descriptive design with a cross-sectional approach. Data were collected using a code trauma monitoring form, which serves as a standard service instrument in the hospital where the study was conducted. The instrument had been validated by the hospital’s trauma team and is routinely used in code trauma management. Data were obtained through document review of 45 code trauma cases. The data were analyzed using descriptive statistics, including frequency and percentage distributions. Results: The characteristics of code trauma patients showed that 33.3% were aged 19–35 years and 62.2% were male. Type of injury was the most common factor triggering code trauma activation, accounting for 47.6% of cases. Decision-making time met the standard in 77.8% of cases, while 22.2% experienced delays. The main causes of delay included waiting for supporting diagnostic results (35.3%), prolonged resuscitation and waiting for operating room availability (29.9%). Emergency surgical procedures accounted for 53.3% of operations performed following code trauma activation. Conclusion: The implementation of the code trauma system has been relatively effective, as most cases met the standard decision-making time. These findings may serve as a reference for developing future policies related to code trauma implementation in the Emergency Department.Keywords: trauma team activation, emergency department, trauma
ANALISIS KEBUTUHAN EDUKASI KESEHATAN IBU POSTPARTUM TENTANG PERAWATAN BAYI BARU LAHIR: STUDI KUALITATIF Puspa Silvia Jati; Wenny Artanty Nisman; Ika Parmawati; Rumi Saryati
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 10, No 3 (2025)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v10i3.644

Abstract

World Health Organization (WHO) melaporkan 2,4 juta bayi meninggal pada bulan pertama kehidupan pada tahun 2020. Laporan ini mengungkapkan kurangnya perawatan berkualitas sebagai salah satu penyebab kematian bayi. Edukasi terkait perawatan bayi baru lahir akan menunjang praktik perawatan yang baik. Dalam merancang edukasi kesehatan, perlu dilakukan analisis kebutuhan agar edukasi dapat optimal. Tujuan Penelitian: Mengeksplorasi kebutuhan edukasi perawatan bayi baru lahir bagi ibu postpartum di Rumah Sakit Umum Pusat dr. Soeradji, Tirtonegoro, Klaten. Metode: Metode kualitatif deskriptif. Pengambilan data dilakukan dari bulan November hingga Desember 2023. Subjek penelitian berjumlah 10 orang, menggunakan purposive sampling dan analisis data tematik. Hasil: Analisis menghasilkan tiga tema, yaituperbedaan kebutuhan informasi ibu postpartum, keragaman preferensi media dan metode penyampaian edukasi, serta preferensi ibu terkait pengaturan tempat, waktu, dan durasi edukasi. Diskusi: Ibu posptpartum membutuhkan edukasi yang komprehensif, interaktif, dan mudah dipahami. Variasi preferensi media, metode, informasi, dan teknis pelaksanaan menunjukkan pentingnya penyusunan edukasi yang fleksibel, multimodal, dan menyesuaikan kebutuhan ibu untuk meningkatkan pemahaman dan kualitas perawatan bayi baru lahir. Kesimpulan: Berdasarkan hasil wawancara, diketahui bahwa terdapat perbedaan kebutuhan informasi bagi ibu postpartum. Selain itu, terdapat perbedaan preferensi terkait metode dan teknis pelaksanaan edukasi ibu postpartum tentang perawatan bayi baru lahir. Rumah sakit diharapkan mampu menyelenggarakan edukasi perawatan bayi baru lahir dengan lebih komprehensif terkait materi-materi dan media edukasi yang efektif seperti video dan alat peraga. Kata Kunci: ibu postpartum, bayi baru lahir, perawatan bayi, edukasi, kebutuhan edukasi Analysis of Postpartum Mothers’ Health Education Needs Regarding Newborn Care: A Qualitative StudyABSTRACTThe World Health Organization (WHO) reported that 2.4 million infants died during the first month of life in 2020. The report highlights inadequate quality of care as one of the contributing factors to neonatal mortality. Education on newborn care supports appropriate caregiving practices. In developing effective health education programs, a needs assessment is necessary to ensure that educational interventions address the actual needs of postpartum mothers.  Objective: This study aimed to explore the educational needs of postpartum mothers regarding newborn care at Dr. Soeradji Tirtonegoro General Hospital, Klaten. Methods: This study used a descriptive qualitative design. Data were collected from November to December 2023. Ten participants were recruited through purposive sampling. Data were analyzed using thematic analysis. Results: The analysis identified three main themes: differences in postpartum mothers’ informational needs, variations in preferred educational media and delivery methods, and mothers’ preferences regarding the setting, timing, and duration of educational sessions. Discussion: Postpartum mothers require comprehensive, interactive, and easily understandable education. Variations in preferences for media, methods, content, and implementation procedures indicate the need for flexible and multimodal educational strategies that accommodate mothers’ needs in order to improve understanding and enhance the quality of newborn care. Conclusion: The findings indicate differences in informational needs among postpartum mothers. Variations also exist in their preferences regarding the methods and technical aspects of educational delivery. Hospitals are therefore expected to provide more comprehensive newborn care education, including the use of effective educational media such as videos and demonstration tools.Keywords: postpartum mothers, newborn, infant care, education, educational needs
POLA ASUH ORANG TUA DAN PERILAKU KONSUMSI MAKANAN BERISIKO PADA REMAJA DI KOTA DEPOK Caroline Febe Yolanda; Widyatuti Widyatuti
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 10, No 3 (2025)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v10i3.721

Abstract

Makanan merupakan salah satu faktor risiko penyakit tidak menular (PTM), baik secara global maupun nasional. Konsumsi makanan tidak sehat yang dilakukan secara terus-menerus dapat menjadi perilaku konsumsi makanan berisiko. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi konsumsi makanan individu ialah orang tua individu. Tujuan penelitian: Mengetahui adanya hubungan antara pola asuh orang tua dengan perilaku konsumsi makanan berisiko pada remaja di Kota Depok. Metode: Penelitian ini menggunakan metode cross-sectional. Sampel terdiri atas 110 remaja yang berusia 15–18 tahun yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini ialah kuesioner karakteristik responden, Parenting Style Questionnaire (PSQ), dan Eating Behaviour Pattern Questionnaire (EBPQ). Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik chi-square. Hasil: Sebagian besar remaja memiliki pola asuh otoritatif (80%) dan perilaku konsumsi makanan yang baik (54,5%). Uji statistik menunjukkan tidak adanya hubungan yang bermakna antara pola asuh orang tua dan perilaku konsumsi makanan berisiko pada remaja di Kota Depok (p value = 0,632). Diskusi: Pola asuh orang tua bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi perilaku konsumsi makanan remaja. Ada faktor-faktor lain yang memengaruhinya, misalnya teman sebaya, lingkungan sekolah, dan sebagainya. Kesimpulan: Tidak ada hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dengan perilaku konsumsi makanan berisiko. Oleh karena itu, hasil penelitian ini dapat menjadi pemicu bagi penelitian selanjutnya untuk mempertimbangkan untuk mengambil sampel dengan jumlah yang lebih besar dan merata serta dapat meneliti lebih dalam mengenai faktor-faktor lain yang memengaruhi perilaku konsumsi makanan pada remaja. Kata Kunci: konsumsi makanan, orang tua, perilaku, pola asuh, remaja Parenting Styles and Risky Food Consumption Behavior among Adolescents in Depok CityABSTRACTFood consumption is one of the major risk factors for non-communicable diseases (NCDs) at both global and national levels. Continuous consumption of unhealthy foods may lead to risky eating behaviors. One factor that may influence individual eating behavior is parental influence. Objective: This study aimed to examine the correlation between parenting style and risky food consumption behavior among adolescents in Depok City. Methods: This study employed a cross-sectional design. The sample consisted of 110 adolescents aged 15–18 years who were selected using purposive sampling. The research instruments included a respondent characteristics questionnaire, the Parenting Style Questionnaire (PSQ), and the Eating Behaviour Pattern Questionnaire (EBPQ). Data were analyzed using the Chi-square statistical test. Results: Most adolescents experienced an authoritative parenting style (80%) and demonstrated good food consumption behavior (54.5%). The statistical analysis showed no significant correlation between parenting style and risky food consumption behavior among adolescents in Depok City (p = 0.632). Discussion: Parenting style is not the only factor that influences adolescents’ food consumption behavior. Other factors, such as peer influence, school environment, and social context, may also contribute to shaping adolescents’ eating patterns. Conclusion: There was no significant correlation between parenting style and risky food consumption behavior among adolescents. These findings suggest that future studies should consider larger and more representative samples and further examine other factors that may influence adolescents’ food consumption behavior. Keywords: food consumption, parents, behavior, parenting style, adolescents 
GAMBARAN PERILAKU WORKAHOLISM PADA MAHASISWA KESEHATAN DI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN Adinda Arka Maulita; Hasby Pri Choiruna; Wahyu Ekowati
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 10, No 3 (2025)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v10i3.702

Abstract

Perilaku workaholism adalah perilaku individu yang tidak terkendali dengan pekerjaannya tanpa memikirkan waktu istirahat yang berdampak negatif terhadap kesehatan psikis, fisik, dan hubungan sosial. Dalam hal ini, mahasiswa kesehatan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) berpotensi memiliki perilaku workaholism. Mahasiswa kesehatan dituntut untuk mencapai prestasi akademik, sekaligus menjadi individu yang kuat, mandiri, dan produktif untuk mendapat pengakuan dari orang lain. Tujuan penelitian: Mengidentifikasi gambaran perilaku workaholism pada mahasiswa kesehatan Unsoed yang nantinya akan memiliki dampak negatif dan atau positif. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional yang melibatkan 347 mahasiswa kesehatan Unsoed dengan menggunakan cluster random sampling. Data diperoleh melalui pengisian kuesioner Workaholism Addiction Risk Test (WART) pada 18 Agustus 2024, kemudian diolah menggunakan analisis univariat berupa distribusi frekuensi dan persentase pada variabel perilaku workaholism. Hasil: Responden berperilaku workaholism tingkat sedang sebanyak 57,1%, tingkat rendah sebanyak 38,3%, dan tingkat tinggi sebanyak 4,6%. Diksusi: Responden pada penelitian ini yang memiliki workaholism paling rendah memiliki karakteristik sulit untuk mendelegasikan tugas, tetapi tetap pada kontrol diri yang baik, kepercayaan diri yang tinggi, dan komunkasi yang baik, sedangkan responden yang memiliki workaholism tinggi memiliki karakteristik karakteristik sulit mendelegasikan tugas, kontrol diri yang kurang baik, kompulsif yang tinggi, mementingkan harga diri hingga komunikasi terganggu. Kesimpulan: Sebagian besar responden berperilaku workaholism tingkat sedang dan tinggi cenderung berdampak negatif pada mahasiswa. Oleh karena itu, peneliti selanjutnya direkomendasikan meneliti jumlah dan durasi kegiatan setiap mahasiswa dengan perilaku workaholism.Kata Kunci: harga diri, mahasiswa kesehatan, workaholismOverview of Workaholism Behavior among Health Students at Jenderal Soedirman UniversityABSTRACTWorkaholism refers to an uncontrollable tendency to work excessively without adequate consideration of rest, which may negatively affect psychological health, physical well-being, and social relationships. Health students at Jenderal Soedirman University (Unsoed) may be at risk of developing workaholism due to academic demands and expectations to achieve high performance while maintaining productivity, independence, and social recognition. Objective: This study aimed to identify the level of workaholism behavior among health students at Jenderal Soedirman University and its potential positive and negative implications. Methods: This study employed a quantitative descriptive design with a cross-sectional approach. A total of 347 health students at Jenderal Soedirman University participated in the study and were selected using cluster random sampling. Data were collected on August 18, 2024 using the Workaholism Addiction Risk Test (WART) questionnaire. The data were analyzed using univariate analysis to determine the frequency distribution and percentage of workaholism behavior levels. Results: The results showed that 57.1% of respondents demonstrated a moderate level of workaholism, 38.3% showed a low level, and 4.6% exhibited a high level. Discussion: Respondents with the lowest level of workaholism tended to have difficulty delegating tasks but maintained good self-control, high self-confidence, and effective communication skills. In contrast, respondents with a high level of workaholism showed difficulty delegating tasks, poor self-control, strong compulsive tendencies, a strong focus on self-esteem, and impaired communication. Conclusion: Most respondents exhibited moderate levels of workaholism and higher levels of workaholism, which tended to have negative effects on students. Future research is recommended to examine contextual factors such as the number and duration of student activities associated with workaholism behavior.Keywords: self-esteem, health students, workaholism 
PENGALAMAN TENAGA MEDIS, KESEHATAN, DAN NONKESEHATAN DALAM MENERAPKAN INTERPROFESSIONAL COLLABORATION BERBASIS INTEGRASI KEISLAMAN PADA LANSIA Eny Sutria; Aidah Fitriani; Patima Patima; Nur Azizah
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 10, No 3 (2025)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v10i3.713

Abstract

Lansia yang berada pada tahap akhir kehidupan mengalami perubahan fisik, psikologis, sosial, dan spiritual yang kompleks sehingga memerlukan pendekatan perawatan yang holistik dan terintegrasi. Interprofessional collaboration (IPC) menjadi strategi penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan lansia, termasuk melalui integrasi nilai-nilai keislaman dalam praktik asuhan. Meskipun layanan terpadu telah diterapkan, implementasi IPC yang terstruktur dan kolaboratif antara tenaga kesehatan dan nonkesehatan belum sepenuhnya optimal. Tujuan Penelitian: Penelitian ini mengeksplorasi pengalaman tenaga medis, kesehatan, dan nonkesehatan dalam penerapan IPC berbasis integrasi keislaman di Sentra Gau Mabaji Kab. Gowa. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi. Partisipan berjumlah sepuluh orang yang terdiri atas tenaga medis, kesehatan dan nonkesehatan, yang terlibat langsung dalam pelayanan lansia. Pengumpulan data dilakukan melalui focus group discussion (FGD) dan dianalisis menggunakan metode Colaizzi. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi metode, sumber, peneliti, dan teori. Hasil: Ada tiga tema yang teridentifikasi: 1) pentingnya pemeriksaan kapasitas fisik sebagai dasar kebutuhan intervensi pada lansia, 2) kolaborasi interprofesional melalui kejelasan peran dan fungsi dalam pelayanan lansia, dan 3) penerapan IPC berbasis intervensi spiritual dan motivasi. Diskusi: Pentingnya pemahaman oleh masing-masing profesi tentang praktik kolaborasi berdasarkan tugas dan fungsinya menjadi kunci keberhasilan penerapan IPC serta intervensi spiritual dan motivasi akan memberikan perasaan bermakna bagi diri lansia. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model IPC berbasis integrasi keislaman berkontribusi positif dalam mewujudkan pelayanan lansia yang holistik, bermakna, dan berpusat pada kebutuhan lansia. Penguatan kebijakan, pelatihan kolaboratif, dan sistem dokumentasi terintegrasi diperlukan untuk mengoptimalkan praktik IPC pada pelayanan lansia.Kata Kunci: integrasi, interprofessional kolaborasi, lansia, spiritual Experiences of Medical, Health, and Non-Health Personnel in Implementing Islamic Integration–Based Interprofessional Collaboration for Older AdultsABSTRACTOlder adults in the late stage of life experience complex physical, psychological, social, and spiritual changes that require a holistic and integrated approach to care. Interprofessional Collaboration (IPC) has become an important strategy to improve the quality of elderly care, including the integration of Islamic values in care practices. Although integrated services have been implemented, the structured and collaborative implementation of IPC among medical, health, and non-health personnel has not yet been fully optimized. Objective: This study explores the experiences of medical, health, and non-health personnel in implementing Islamic integration–based IPC at Sentra Gau Mabaji, Gowa Regency. Methods: This study used a qualitative approach with a phenomenological design. Ten participants were involved, consisting of medical, health, and non-health personnel who were directly engaged in elderly care services. Data were collected through Focus Group Discussions (FGDs) and analyzed using the Colaizzi method. Data credibility was maintained through triangulation of methods, sources, researchers, and theories. Results: Three main themes emerged from the analysis: (1) the importance of assessing physical capacity as the basis for determining intervention needs in older adults; (2) interprofessional collaboration through clear roles and responsibilities in elderly care services; and (3) the implementation of IPC through spiritual and motivational interventions. Discussion: A clear understanding among each profession regarding collaborative practice based on their respective roles and responsibilities is a key factor in the successful implementation of IPC. In addition, spiritual and motivational interventions provide older adults with a sense of meaning and psychological support. Conclusion: The findings indicate that the implementation of an Islamic integration–based IPC model contributes positively to the delivery of holistic, meaningful, and patient-centered care for older adults. Strengthening policies, collaborative training, and integrated documentation systems are necessary to optimize IPC practices in elderly care services.Keywords: integration, interprofessional collaboration, older adults, spiritual