cover
Contact Name
Elsi Dwi Hapsari
Contact Email
elsidhapsari2@gmail.com
Phone
+6287839259788
Journal Mail Official
elsidhapsari2@gmail.com
Editorial Address
Sekretariat DPP PPNI Graha PPNI Jl. Lenteng Agung Raya No 64, Kec. Jagakarsa, RT 006 RW O8, Jakarta Selatan
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)
ISSN : 25031376     EISSN : 25498576     DOI : http://dx.doi.org/10.32419/jppni.v4i3
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) merupakan jurnal resmi Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia ini merupakan jurnal dengan peer-review yang diterbitkan secara berkala setiap 4 bulan sekali (April, Agustus, Desember), berfokus pada pengembangan keperawatan di Indonesia. Tujuan diterbitkan JPPNI adalah untuk mewujudkan keperawatan sebagai suatu profesi yang ditandai oleh kegiatan ilmiah yaitu kegiatan penelitian yang dilakukan oleh perawat di Indonesia, dikomunikasikan melalui media jurnal yang dikelola oleh organisasi profesi, dan didistribusikan ke kalangan perawat, pemangku kepentingan, dan masyarakat.
Articles 205 Documents
GAMBARAN PENGALAMAN REMAJA PUTRI BERKEBUTUHAN KHUSUS DALAM MENGHADAPI MENSTRUASI Daniswari, Handitya; Hapsari, Elsi Dwi; Lismidiati, Wiwin
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.683 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v1i1.14

Abstract

ABSTRAKTujuan penelitian: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengalaman remajaputri berkebutuhan khusus (retardasi mental) dalam menghadapi menstruasi di SLBN 1 Bantul.Metode: Penelitian dengan rancangan kualitatif dan pendekatan fenomenologi. Partisipan penelitianadalah delapan siswi retardasi mental ringan dan sedang di SLB N 1 Bantul. Wawancara langsungsecara mendalam kepada partisipan menggunakan pedoman interview tidak terstruktur denganpertanyaan open-ended. Analisis data menggunakan metode Colaizzi. Hasil: Partisipan padapenelitian ini berusia 17–20 tahun (75 persen), mengalami menarche pada usia 14–16 tahun (62,5persen), pendidikan SMA (50 persen), dan tingkat retardasi mental sedang (87,5 persen). Temayang dihasilkan pada penelitian ini adalah ambivalensi saat mengalami menarche, peran pentingibu dalam menghadapi menarche, ragam persepsi tentang arti menstruasi, perubahan normal yangdirasakan saat menstruasi, koping saat mengalami nyeri menstruasi, serta kesadaran terhadapnorma sosial terkait menstruasi versus kurang adekuatnya perawatan diri. Diskusi: Pengalamanremaja putri berkebutuhan khusus (retardasi mental) dalam menghadapi menstruasi secaragaris besar sama dengan yang dialami remaja normal, kecuali pada aspek kebersihan diri, caramembersihkan pembalut, masalah emosi, serta persepsi yang salah terkait kehamilan. Simpulan:Peran ibu sebagai caregiver sangat penting untuk memberikan pendidikan terkait menstruasi.Kata Kunci: menstruasi, retardasi mental.ABSTRACTObjective: This study aimed to identify menstrual experience in adolescents with special needs(mental retardation) at the Special School 1 Bantul. Method: This was a qualitative research withphenomenological approach. participants were eight female students with mild and moderatemental retardation. Direct in-depth interview was carried out with partisipants by using unstructuredinterviews guidelines with open-ended questions. Data were analyzed using Colaizzi’s method.Result: Participants in this study aged 17-20 years (75%), experienced menarche at 14-16 years old(62.5%), had high school education (50%), and had moderate mental retardation (87.5%). Themesproduced in this study were ambivalence when experiencing menarche, important role of mother tochild in facing menarche, various perceptions about the meaning of menstruation, abnormal changesfelt during menstruation, coping when experiencing menstrual pain, and awareness of social normsrelated to menstruation versus inadequate self-care. Discussion: Female adolescents with mentalretardation had experience of menstruation similar with normal teenagers, except in terms of personalhygiene, pad cleaning, emotional problems, and wrong perception about pregnancy. Conclusion:Mothers play very important role as caregiver in providing education about menstruation.Keywords: menstruation, mental retardation.
Lingkungan Rumah Sakit dan Tingkat Kecemasan Mahaiswa Saat Melakukan Praktek Klinik Eka Malfasari; Yeni Devita; Fitry Erlin; Indah Ramadania
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.968 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v2i2.89

Abstract

AbstrakMahasiswa keperawatan mempunyai pengalaman kecemasan ketika melakukan praktik klinik di rumah sakit. Kecemasan yang sangat parah bisa menyebabkan penurunan perfoma dan bisa membahayakan pasien. Walaupun mahasiswa sudah mempersiapkan diri dengan baik, namun ternyata terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan kecemasan, termasuk lingkungan rumah sakit. Tujuan penelitian: Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat apakah terdapat hubungan antara lingkungan rumah sakit dengan kecemasan mahasiswa keperawatan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan desain deskriptif korelasi dan menggunakan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian ini berjumlah 73 responden yang merupakan mahasiswa keperawatan yang sedang menjalankan praktik klinik di rumah sakit. Pengambilan sampel menggunakan accidental sampling dan data diambil selama bulan Juli 2017. Variabel kecemasan dalam penelitian ini diukur menggunakan DASS 21 dengan mengambil bagian kecemasan sedangkan kuesioner untuk variabel lingkungan rumah sakit adalah rancangan peneliti dan telah dilakukan uji validitas dan reliabilitasnya. Penelitian ini menggunakan analisis chi square. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara lingkungan rumah sakit dengan kecemasan mahasiswa keperawatan (p value=0,045). Rekomendasi: Penelitian ini merekomendasikan untuk melanjutkan penelitian untuk mengatasi kecemasan mahasiswa saat melakukan praktik klinik di rumah sakit.Kata kunci: kecemasan, lingkungan rumah sakitHOSPITAL ENVIRONMENT AND ANXIETY LEVEL IN STUDENTS WHEN DOING CLINICAL PRACTICESAbstractNursing students have experiences of anxiety when doing clinical practices in a hospital. Very severe anxiety can decrease performance and endanger patients. Although students have prepared themselves well, there are several factors causing anxiety, including hospital environment. Objective: This research aims to identify the correlation between hospital environment and anxiety in nursing students. Methods: This research is a quantitative research using descriptive correlation design and using cross sectional approach. The samples were 73 respondents who were nursing students conducting clinical practices in the hospital. Samples were taken using accidental sampling and data was collected during July 2017. The anxiety variable was measured using DASS 21 by taking the anxiety section. Questionnaire for hospital environment variable was made by researcher and its validity and reliability had been tested. Data were analyzed using chi square. Results: The results of this research indicated that there was a significant correlation between hospital environment and anxiety in nursing students with p value=0.045. Conclusion: This research recommends that further research should be conducted to overcome anxiety in students when conducting clinical practices in the hospital.Keywords: Anxiety, hospital environment
Tingkat Kecemasan dan Stres pada Mahasiswa yang Mengikuti Objective structure clinical examination (OSCE) Vina Rachmawati; Mustikasari Mustikasari
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 3, No 3 (2018)
Publisher : Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.466 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v3i3.166

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini membahas mengenai tingkat kecemasan dan stres yang dialami oleh mahasiswa mengikuti OSCE. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat kecemasan dan stres pada mahasiswa yang mengikuti OSCE. Metode: Penelitian ini melibatkan 109 responden dengan kriteria inklusi yaitu mahasiswa aktif dan sudah mengikuti ujian OSCE praktikum anak. Penelitian ini menggunakan total sampling. Instrumen yang digunakan yaitu Hamilton Rating Scale Anxiety (HRS-A) dan Perceived Stress Scale (PSS). Uji reliabilitas instrumen HRS-A memiliki nilai Cronbanch’s Alpa yaitu 0,752 dan uji reliabilitas instrumen PSS memiliki nilai Cronbanch’s Alpa yaitu 0,706. Data dianalisis secara univariat. Hasil penelitian: mahasiswa yang mengalami kecemasan ringan yaitu 71 (65,14%), kecemasan sedang 19 (17,43%), kecemasan berat 17 (15,6%), dan panik 2 (1,83%. Mahasiswa yang mengalami stres ringan 1 (0,9%), stres sedang 78 (71,6%) dan stres berat 30 (27,5%). Kesimpulan: Hasil penelitian ini diharapkan bisa memberikan informasi bagi institusi pendidikan mengenai gambaran tingkat kecemasan dan stres pada mahasiswa yang mengikuti OSCE. Sebagian mahasiswa mengalami kecemasan sedang berat dan panik sehingga perlu penelitian lanjutan tentang faktor faktor yang mempengaruhi tingkat stres dan kecemasan serta strategi koping yang digunakan dalam mengatasi kondisi stres yang muncul saat melaksanakan OSCE.Kata Kunci: Kecemasan, stres, mahasiswa keperawatan dan OSCE Anxiety and Stress Level in Students Who Take Objective Structure Clinical Examination (OSCE)ABSTRACTThis study discusses the level of anxiety and stress experienced by students following the OSCE. Objective: This study aims to describe the level of anxiety and stress in students who take OSCE. Method: This study involved 109 respondents with inclusion criteria, namely active students who had taken the OSCE examination for their practicum. This research uses total sampling. This research has successfully passed the ethical test. The instruments used were Hamilton Rating Anxiety Scale (HRS-A) and Perceived Stress Scale (PSS). The reliability test of the HRS-A instrument has a Cronbanch’s Alpa value of 0.752 and the reliability test of the PSS instrument has a Cronbanch’s Alpa value of 0.706. Data was analysed with univariate analysis. Results: The results showed that of 109 respondents, students experienced mild anxiety, namely 71 (65.14%), moderate anxiety 19 (17.43%) and severe anxiety 17 (15.6%) and panic 2 (1.83%). The results showed that of 109 respondents, students who experienced mild stress 1 (0.9%), moderate stress 78 (71.6%) and severe stress 30 (27.5%) Conclusion: The results of this study are expected to provide information for educational institutions regarding the description of anxiety and stress levels in students who take part in OSCE Some students experience moderate anxiety and panic, so it is necessary to further research on the factors that influence stress and anxiety levels and coping strategies used in dealing with stress conditions that arise when implementing OSCE.Keywords: anxiety, stress, nursing student and OSCE
Pengaruh Relaksasi Religius terhadap Penurunan Tingkat Insomnia pada Lansia Di PSLU Bondowoso Trisna Vitaliati
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.347 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v2i1.80

Abstract

ABSTRAKTujuan penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengidenfikasi pengaruh relaksasi religius terhadap penurunan tingkat insomia di PSLU Bondowoso. Metode: Metode penelitian yang digunakan ialah quasi experimental dengan pendekatan pre-post test control group design menggunakan instrumen Insomnia Rating Scale, dilakukan pada kelompok intervensi (n=31) dan kelompok kontrol (n=31). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan skor rerata perubahan tingkat insomnia pada kelompok intervensi maupun kelompok kontrol. Pada hasil uji Mann Whitney didapatkan nilai p-value=0,021 sehingga dapat disimpulkan bahwa terapi relaksasi religius berpengaruh secara signifikan terhadap penurunan tingkat insomnia pada lansia. Diskusi: Relaksasi religius akan membuat seseorang merasa tenang sehingga kemudian menekan kerja saraf simpatis dan mengaktifkan kerja sistem saraf parasimpatis. Perlakuan relaksasi religius cukup efektif untuk memperpendek waktu dari mulai merebahkan tubuh hingga tertidur dan mudah memasuki tidur. Hal ini membuktikan bahwa relaksasi religius yang dilakukan dapat membuat lebih relaks sehingga kesulitan ketika mengawali tidur dapat diatasi dengan perlakuan ini. Kesimpulan: Teknik relaksasi religius efektif menurunkan tingkat insomnia pada lansia sehingga program ini disarankan dapat diterapkan pada lansia sebagai bagian dari program kesehatan lansia.Kata Kunci: insomnia, lansia, relaksasi religius.EFFECT OF RELIGIUS RELAXATION ON DECREASING INSOMNIA LEVEL IN THE ELDERLY AT PSLU BONDOWOSOABSTRACTObjective: This study aims to identify the effect of religious relaxation on decreasing insomnia level at PSLU Bondowoso. Methods: This study was quasi-experimental with pre-posttest control group design using Insomnia Rating Scale and was conducted on intervention group (n=31) and control group (n=31). Data were analyzed using univariate and bivariate. Results: The results of the study indicated the average score of changes in insomnia levels in intervention group and control group. The results ofMann-Whitney test indicated p-value=0.021 so it could be concluded that religious relaxation therapy significantly affected the decrease in insomnia levels in the elderly. Discussion: Religious relaxation will make a person feel calm, which will then press the work of sympathetic nervous and activate the work of the parasympathetic nervous system. The treatment of religious relaxation is effective to shorten the time from lying down to falling asleep and easily entering into sleep. This proves that religious relaxation can make a person more relaxed so that difficulty when initiating sleep can be overcome by this treatment. Conclusion: Religious relaxation technique is effective in decreasing insomnia levels in the elderly so that this program is recommended to be applied in the elderly as a part of elderly health program.Keywords: insomnia, elderly, religious relaxation
Tingkat Risiko Kejadian Kardiovaskular pada Penyandang Diabetes Melitus Tipe 2 Aini, Fiska Nur; Wicaksana, Anggi Lukman; Pangastuti, Heny Suseani
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 4, No 3 (2019)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (719.439 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v4i3.191

Abstract

ABSTRAKIndividu dengan diabetes melitus tipe 2 memiliki risiko dua hingga tiga kali lipat terjadinya risiko kejadian kardiovaskular, yaitu serangan jantung atau stroke. Organisasi kesehatan dunia dan masyarakat international hipertensi mengembangkan alat untuk memprediksi tingkat risiko kejadian kardiovaskular dalam kurun waktu sepuluh tahun yang akan datang. Tujuan: Penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkatan risiko kardiovaskular pada penyandang diabetes tipe 2 dalam sepuluh tahun mendatang di Yogyakarta. Metode: Penelitian cross-sectional dilakukan di Puskesmas Depok, Yogyakarta dengan menggunakan teknik proportional sampling pada tiga Puskesmas Depok. Responden penelitian yaitu pasien terdiagnosis diabetes tipe 2, berusia 40-79 tahun, dan tidak memiliki komplikasi atau penyakit lain. Instrumen yang digunakan yaitu WHO/ISH risk prediction charts wilayah Indonesia (SEAR B) untuk menilai tingkatan risiko kejadian kardiovaskular. Data diklasifikasikan berdasarkan tingkat risiko kejadian kardiovaskuler yang dimiliki. Data dianalisis secara univariat. Hasil: Sejumlah 66 responden terlibat dengan mayoritas responden adalah perempuan, tidak bekerja, menikah dan rerata usia 61,02 ± 8,86. Tingkat risiko kejadian kardiovaskular penyandang diabetes tipe 2 di Puskesmas Depok, Yogyakarta dalam kurun waktu sepuluh tahun mendatang yaitu risiko rendah 56,1%; risiko sedang 30,3%; risiko tinggi 9,1%; dan risiko sangat tinggi 4,5%. Lebih dari separuh responden memiliki risiko rendah (<10%) terkena serangan jantung atau stroke dalam waktu sepuluh tahun mendatang. Selain itu, satu dari tiga responden memiliki risiko sedang (10-20%) terjadi serangan jantung atau stroke. Kesimpulan: Separuh dari responden penyandang diabetes memiliki risiko non-fatal kejadian kardiovaskular.Kata Kunci: diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, insidenRisk Level of Cardiovascular Event Among Type 2 Diabetes Mellitus ABSTRACTIndividuals with type 2 diabetes have two to three times risk of cardiovascular event, as heart and stroke attack. World Health Organization and International Society of Hypertension had developed a prediction method of the risk level of cardiovascular event for the following ten years. Objective: This study aimed to identify the risk level of cardiovascular event over the next ten years on people with type 2 diabetes in Yogyakarta. Method: The study used a cross-sectional design in three Public Health Centers Depok, Yogyakarta using proportional sampling technique. The respondents were patients diagnosed with type 2 diabetes, age of 40-79 years, and no comorbidity. The WHO/ISH risk prediction charts for diabetes population in Indonesian (SEAR B) was used to assess the risk level of cardiovascular event. Data was analyzed with univariae analysis. Results: A total of 66 respondents were recruited after reviewing eligibility criteria. The majority of the respondents were women, unemployed, married, and the average age was 61.02 ± 8.86. The risk levels of cardiovascular event among participants in the next ten years were gradually low risk (56.1%); moderate risk (30.3%); high risk (9.1%); and very high risk (4.5%). More than a half of participants had low risk or less than 10% for being cardiovascular event in the following ten years. Furthermore, one third of participants had moderate risk or 10-20% developing cardiac arrest or stroke attack. Conclusion: A half of diabetes participants had non-fatal risk of cardiovascular event.Keywords: type 2 diabetes, cardiovascular disease, incidence
MANFAAT LATIHAN RELAKSASI HYPNOBIRTHING PADA PROSES PERSALINAN KALA I Yayuk Nuryanti; Wenny Artanty Nisman; Risanto Siswosudarmo
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 1, No 3 (2016)
Publisher : Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.147 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v1i3.30

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Hypnobirthing merupakan salah satu teknik autohipnosis yang merupakan bagiandari tindakan mandiri perawat untuk menyiapkan proses persalinan dalam mengurangi kecemasandan nyeri persalinan. Tujuan penelitian: untuk mengetahui perbedaan nyeri persalinan dan lamapersalinan kala I antara kelompok ibu hamil yang dilatih relaksasi hypnobirthing dengan yang tidakdilatih. Metode: desain penelitian secara quasi eksperimen, sampel diambil secara consecutivesejumlah 82 orang di 4 BPM Kabupaten Klaten. Data dianalisis dengan uji chi square dan regresilogistik. Hasil penelitian didapatkan perbedaan persentase antara kelompok perlakuan dengankelompok kontrol, untuk rasa tidak nyeri perbedaan 23% dengan RR 2,94 (95% CI 1,17–7,41) p= 0,013. Pada kala I tidak lama perbedaan 19% dengan RR 1,26 (95% CI 1,01–1,57) p = 0,035.Hasil ini menunjukkan kemungkinan tidak nyeri hampir 3 kali dan kemungkinan kala I tidak lamahampir 1,5 kali pada kelompok perlakuan. Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa relaksasihypnobirthing dan multiparitas memberi efek yang signifi kan untuk mengurangi nyeri persalinan danmempersingkat lama kala I. Kesimpulan: Latihan relaksasi hypnobirthing memberi manfaat untukmengurangi nyeri persalinan dan memperpendek lama kala I pada proses persalinan normal. Saran:Hypnobirthing perlu diberikan kepada ibu hamil sebagai bagian dari perawatan kehamilanuntuk menyiapkan psikologis ibu dalam menghadapi persalinan. Untuk pengembangan penelitianselanjutnya, perlu ditambahkan faktor-faktor yang memengaruhi nyeri persalinan.Kata Kunci: hypnobirthing, persalinan, nyeri persalinan, persalinan kala I.BENEFITS OF HYPNOBIRTHING EXERCISE IN THE FIRST STAGE OF LABORABSTRACTIntroduction: Hypnobirthing is a technique of autohypnosis which is a part of self-nursing care toprepare a more comfortable labor process. Objective: To identify difference in labor pain, durationof the fi rst stage of labor between pregnant mothers trained with hypnobirthing and those whowere not trained. Methods: This study employed a quasi experimental design involving 4 privatemidwives in Klaten Regency. Samples were 82 mothers taken consecutively. Data were statisticallyanalyzed using Chi square-test and logistic regression. Results: There were differences betweenthe treatment group and the control group. The difference in feeling no pain was 23% with RR of2.94 (95% CI 1.17-7.41) p=0.013; the difference in the short duration of the fi rst stage of labor was19% with RR of 1.26 (95% CI 1.01-1.57) p=0.035. The results indicated that the probability of feelingno pain was almost three times and the probability of short duration of the fi rst stage of labor wasone and a half times in the treatment group. The logistic regression showed that hypnobirthing andmultiparity had a signifi cant effect on reducing pain during labor process and shorthening durationof the fi rst stage of labor. Conclusion: Hypnobirthing exercise was bene fi cial in reducing pain andshorthening duration of the fi rst stage of labor process. Suggestion: Hypnobirthing should be givento pregnant women as part of prenatal care for psychological condition of mothers in facing the labor.Further research needs to be include factors that affect pain labor.Keywords: hypnobirthing, labor process, pain labor, fi rst stage of labor
Faktor yang Berhubungan dengan Ruam Popok pada Bayi Baru Lahir Anik Rustiyaningsih1; Yeni Rustina; Tuti Nuraini
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.786 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v3i2.103

Abstract

ABSTRAKTujuan Penelitian: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian ruam popok pada bayi baru lahir di ruang perinatal sebuah rumah sakit rujukan di Jakarta, Indonesia. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan metode survey. Sampel (n=95) dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Kejadian ruam popok diobservasi menggunakan instrumen DDSIS (Diaper Dermatitis Severity Index Score). Instrumen dijamin validitas isinya dengan konsultasi ahli. Uji validitas konstruk dengan statistik korelasi Pearson Product Moment. Nilai korelasi antar item tiap sub skala DDSIS yaitu eritema/kemerahan (r=0,767), papula/pustula (r=0,733) dan erosi (r=0,711) lebih besar dari r tabel (r=0,2017). Uji reliabilitas didapatkan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,77. Nilai Kappa untuk uji inter-rater reliability oleh dua orang observer yaitu 0,95. Analisis multivariat yang digunakan adalah regresi logistik ganda. Hasil: Ada dua faktor yang berhubungan dengan kejadian ruam popok yaitu infeksi mikroorganisme (p-value=0,015; OR=7,6) dan lama hari rawat (p-value=0,012; OR=3,9). Faktor yang paling dominan adalah infeksi mikroorganisme. Diskusi: Bayi baru lahir dengan diagnosis penyakit infeksi dan dirawat delapan hari atau lebih memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap kejadian ruam popok. Kesimpulan: Hasil penelitian ini mengindikasikan perlunya evaluasi kembali pelaksanaan Universal Standard Precaution di rumah sakit.Kata kunci: ruam popok, DDSIS (Diaper Dermatitis Severity Index Score), bayi baru lahir, rumah sakit, faktor risikoFACTORS ASSOCIATED WITH NEWBORNS’ DIAPER RASH ABSTRACTObjective: The purpose of this study was to determine factors associated with newborns ’ diaper rash in a referral hospital in Jakarta, Indonesia. Method: This study used a cross-sectional design survey. The samples (n=95) were selected using consecutive sampling technique. The prevalence of diaper rash was observed using a DDSIS (Diaper Dermatitis Severity Index Score). The content validity of the instrument was tested using expert judgment. The construct validity values of DDSIS subscales were: erythema/redness (r=0.767), papules/pustules (r=0.733) and erosion (r=0.7ll). All the values were greater than r table (r=0.20l7). The reliability was showed by Cronbach’s Alpha value (a=0.77). Kappa value for inter-rater reliability test by two observers was 0.95. The multivariate analysis was conducted using multiple logistic regression. Results: There are two factors related to newborns ’ diaper rash. These factors are microorganism infection (p-value=0.0l5; OR=7.6) and length of stay (p-value=0.0l2; OR=3.9). The most dominant factor is microorganism infection. Discussion: Newborns diagnosed with an infectious disease and hospitalized eight days or more have a higher riskfor diaper rash. Conclusion: The results of this study indicate the need to re-evaluate the implementation of Universal Standard Precaution in hospital.Keywords: diaper rash, DDSIS (Diaper Dermatitis Severity Index Score), newborns, hospitals, risk factors.
Peningkatan Kemampuan Timbang Terima Pasien Melalui Budaya Komunikasi SITUATION, BACKGROUND, ASSESSMENT, RECOMMENDATION (SBAR) DI RS DI BEKASI Anggraini, Dian; Novieastari, Enie; Nuraini, Tuti
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.532 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v4i2.182

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Komunikasi tidak efektif dalam timbang terima dapat meningkatkan kejadian medication error, membahayakan pasien, memperpanjang proses perawatan, menurunkan kepuasan pasien, memperpanjang hari rawat pasien yang akan berdampak pada kurangnya mutu asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien. Upaya meningkatkan mutu pelayanan salah satunya dengan menerapkan komunikasi Situation, Background, Assessment, Recommendation (SBAR). Komunikasi SBAR sudah mulai diterapkan pada kebijakan akreditasi rumah sakit, di beberapa rumah sakit masih ada yang belum menerapkan komunikasi SBAR. Tujuan: penelitian ini bertujuan mengidentifikasi perbedaan pengetahuan dan kemampuan perawat setelah pelatihan SBAR. Metode: pre-eksperiment dengan pre-post tanpa kelompok kontrol, sampel penelitian seluruh Perawat Primer dan Penanggung Jawab shift (n= 17). Pengukuran pengetahuan dengan melakukan tes tertulis sebelum dan sesudah pelatihan, dan untuk data kemampuan perawat timbang terima dengan komunikasi SBAR dilakukan pengamatan timbang terima sebelum dan sesudah pelatihan dengan menggunakan lembar observasi. Analisis data dengan uji t berpasangan dan uji Wilcoxon. Hasil: ada perbedaan yang bermakna rerata pengetahuan sebelum dan sesudah pelatihan (p-value <0,001), ada perbedaan yang bermakna rerata kemampuan perawat sebelum dan sesudah pelatihan komunikasi SBAR dalam timbang terima pasien antar shift (p-value <0,001). Kesimpulan: komunikasi SBAR efektif untuk meningkatkan sosialisasi, motivasi, mentoring, supervisi, serta pengembangan pendidikan yang berkelanjutan.Kata Kunci: Komunikasi, pengetahuan, SBAR, timbang terimaImprovement of the Handover Ability Through Situation, Background, Assessment, Recommendation (Sbar) Communication Culture in Hospital at Bekasi City ABSTRACTBackground: Ineffective communication in the handover can increase the incidence of medication errors, endanger the patient, prolong the treatment process, reduce patient satisfaction, extend patient care days which will have an impact on the lack of quality nursing care provided to patients. To improve quality of service, one of them is to apply SBAR communication. SBAR communication is already implemented in accreditation policy at hospital. Meanwhile, there are some hospital not yet implement it. Objective: this study was to identify differences in nurses’ knowledge and abilities after training. Methods: pre-experiment with pre-post without a control group, a sample of all Primary Nurse and Shift Guidance (n = 17), Measurement of knowledge by conducting a written test before and after training, and measurement of the ability to handover nurses with SBAR communication conducted handover observations before and after training using observation sheets. Data analysis by paired t-test and Wilcoxon test. Results: there were significant differences in the mean of knowledge before and after training (p-value <0.001), there were significant differences in the mean ability of nurses before and after SBAR communication training in the handover of patients between shifts (p-value <0.001). Discussion: SBAR communication must become a culture, its implementation needs managerial support and nurse commitment. Conclusion: communication with SBAR could improve effectively socialization, motivation, mentoring, supervision, and continuing education development.Keywords: Communication, knowledge, SBAR, handover
PENGEMBANGAN ALAT UKUR BEBAN KERJA MENTAL PERAWAT DALAM INTERAKSI ASUHAN KEPERAWATAN Mediawati, Ati Surya; Nurachmah, Elly; Mansyur, Muchtaruddin; Eryando, Tries
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.627 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v1i2.20

Abstract

ABSTRAKKetika melakukan asuhan keperawatan, perawat perlu berinteraksi dengan klien. Interaksi dapatdilaksanakan dengan baik apabila perawatannya mampu beradaptasi dengan beban kerja mentalyang dimanifestasikan ke dalam gejala fi sik, psikologis, dan perilaku yang ditampilkan. Tujuanpenelitian: mengembangkan alat ukur beban kerja mental saat berinteraksi dengan klien dalampemberian asuhan keperawatan. Metode: Penelitian menggunakan metode deskriptif analitis. Alatukur dikembangkan dengan menggunakan pendekatan interpretasi terhadap skala interval danskala ordinal yang diisi oleh 596 partisipan yang diproses melalui sebelas case processing data.Penelitian dilaksanakan di provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatra Barat, dan Sulawesi Selatan.Validitas dan reliabilitas variabel persepsi Teruji (p=0,996 sebelum interaksi dan p=0,993 setelahinteraksi), observasi (p=0,844 sebelum interaksi, p=0,711) orientasi (p=0,711), identifi kasi (p=0,769),eksplorasi (p=0,773), resolusi (p=0,820), setelah interaksi (p=0,772), angket klien (p=0,64). Hasil:Hasil pengujian model Con fi rmatory Factor Analysis (CFA) melalui program Lisrel menghasilkanp-value=0,150 (p>0,05) dan RMSEA=0,075 (RMSEA<0,1). Diskusi: Diperlukan dukungan regulasisebagai implikasi dalam penggunaan alat ukur. Simpulan: alat ukur ini vaild dan reliabel sebagaiinformasi diagnostik pengukuran beban kerja mental.Kata Kunci: alat ukur, beban kerja mental, interaksi.ABSTRACTNurses in providing nursing care need to interact with clients. Such interaction can be successfullyperformed if the treatment can adapt to mental workload which is manifested into physical,psychological and behavioral symptoms. Objectives: developing a mental workload instrumentwhen interacting with clients in providing nursing care. Methods: It employed a descriptive analyticmethod. The instrument was developed by employing the approach to the interpretation of scaleinterval and ordinal scale which were fi lled by 596 participants and processed through 11 caseprocessing data. The research was conducted in the provinces of West Java, Central Java, WestSumatra and South Sulawesi. Validity and reliability of the perception variables were tested (p=0.996before the interaction and p=0.993 after the interaction), observation (p=0.844 before the interaction,p=0.711), orientation (p=0.711), identifi cation (p=0.769), exploration (p=0.773), resolution (p=0.820),after the interaction (p=0.772), client questionnaire (p=0.64). Results: The results of Con fi rmatoryFactor Analysis (CFA) usingLisrel software indicated p-value=0.150 (p>0.05) and RMSEA=0.075(RMSEA <0.1). Discussion: Regulatory support is needed as an implication for the use of theinstrument. Conclusion: This instrument is valid and reliable to measure mental workload fordiagnostic information.Keywords: instrument, mental workload, interaction.
Hubungan Harga Diri dengan Kualitas Hidup Wanita Menopause Ami Novianti Subagya; Wenny Artanty; Elsi Dwi Hapsari
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 2, No 3 (2017)
Publisher : Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (463.911 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v2i3.94

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Penurunan harga diri wanita menopause akan memengaruhi kualitas hidupnya. Namun demikian masih sedikit informasi yang menjelaskan hubungan harga diri dengan kualitas hidup wanita menopause. Tujuan: Mengetahui hubungan antara harga diri dengan kualitas hidup wanita menopause di Dusun Jogonalan Kidul Kasihan Bantul. Metode: Penelitian non eksperimen dengan rancangan penelitian cross sectional. Penelitian dilaksanakan pada Agustus-September 2011. Sebanyak 61 wanita menopause di Dusun Jogonalan Kidul Kasihan Bantul dipilih secara proporsional sampling. Semua wanita menopause yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi penelitian dimasukkan ke dalam sampel penelitian. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Menopause Rating Scale (MRS), Rosenberg Self Esteem Scale (RSES) dan World Organization Quality of Live-Bref (WHOQOL-BREF). Ketiga kuesioner menggunakan versi Indonesia yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data menggunakan Spearman Rank. Hasil: Lebih dari setengah responden (65,67%) memiliki harga diri tinggi. Keluhan yang paling banyak dirasakan oleh responden adalah keluhan rasa tidak nyaman pada otot dan persendian (77,05%). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa harga diri memiliki hubungan yang bermakna (p<0,05) dengan semua domain kualitas hidup yaitu hubungan positif yang kuat (r=0,839) untuk domain fisik, (r=0,826) untuk domain psikologi, (r=0,822) untuk domain hubungan sosial, (r=0,643) untuk domain lingkungan. Kesimpulan: Ada hubungan antara harga diri dengan kualitas hidup wanita menopause di Dusun Jogonalan Kidul Kasihan Bantul. Lebih dari setengah responden memiliki harga diri tinggi. Untuk itu, penyuluhan pada aspek psikologis tetap harus ditingkatkan dan perlu dukungan dari petugas kesehatan lain.Kata kunci: harga diri, kualitas hidup, wanita menopauseCORRELATION BETWEEN SELF-ESTEEM AND QUALITY OF LIFE IN MENOPAUSAL WOMENABSTRACTBackground: A decline in self-esteem of menopausal women will affect their life quality. However, there is only a little information that explains the correlation between self-esteem and quality of life in menopausal women. Objective: To identify the correlation between self-esteem and quality of life in menopausal women at Jogonalan Kidul Hamlet, Kasihan, Bantul. Methods: This research is non-experimental with cross sectional design. It was conducted in August-September 2011. 61 menopausal women in Jogonalan Kidul Hamlet, Poor Bantul were selected through proportional sampling. All menopausal women who met the inclusion and exclusion criteria were included in the research sample. Data were collected using Menopause Rating Scale (MRS) questionnaires, Rosenberg Self Esteem Scale (RSES) and Quality of Live- Breve World Organization (WHOQOL-BREF). The three questionnaires were in Indonesian version of which validity and reliability had been tested. Data were analyzed using Spearman’s Rank. Results: More than half of respondents (65.67%) had high self-esteem. Complaints that were felt by most respondents were complaints of discomfort in the muscles and joints (77.05 The results of statistical test show that self-esteem had a significant correlation (p<0.05) with all domains of quality of life that is a strong positive correlation (r=0.839) for physical domain, (r=0.826) for psychological domain, (r=0.822) for social relations domain, (r=0.643) for environmental domain. Conclusion: There is a correlation between self-esteem and quality of life in menopausal women at Jogonalan Kidul Hamlet, Kasihan, Bantul. More than half of the respondents have high self-esteem. Therefore, counseling for psychological aspects should still be improved and supported by other healthcare workers.Keywords: self-esteem, quality of life, menopausal women

Page 7 of 21 | Total Record : 205