cover
Contact Name
Eri Hendra Jubhari
Contact Email
webpdgi@gmail.com
Phone
+628124235346
Journal Mail Official
webpdgi@gmail.com
Editorial Address
Ruko Malino A4. Baruga, Antang, Makassar
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
MDJ (Makassar Dental Journal)
ISSN : 20898134     EISSN : 25485830     DOI : 10.35856/mdj
Core Subject : Health,
The journal receives a manuscript from the following area below Dentistry science and development with interdisciplinary and multidisciplinary approach: Dental Public Health and Epidemiology Oral and Maxillofacial Surgery Dental Conservation and Endodontics Preventive Dentistry Biomedical Dentistry Dental Radiology Pediatric Dentistry Oral Pathology Prosthodontics Traumatology Oral Biology Biomaterials Orthodontics Periodontics
Articles 812 Documents
Marsupialisasi pada pasien anak dengan ranula rekuren (laporan kasus) Muhammad Irfan Rasul
Makassar Dental Journal Vol. 6 No. 3 (2017): Vol 6 No 3 Desember 2017
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.051 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v6i3.34

Abstract

Ranula merupakan istilah untuk menggambarkan suatu mukokel yang terjadi pada dasar mulut. Biasanya tampak unilateral dan berupa benjolan berfluktuasi berwarna kebiruan seperti perut katak. Insidennya terutama terjadi pada anak-anak dan dewasa muda. Pada laporan kasus ini melaporkan seorang pasien anak perempuan dengan keluhan utama benjolan besar di bawah lidah, kadang terasa nyeri dan memiliki riwayat dilakukan operasi kurang lebih lima bulan lalu tetapi sering muncul kembali. Pasien tersebut dikonsulkan ke dokter gigi spesialis bedah mulut dan maksilofasial, kemudian diputuskan untuk dilakukan proses pengangkatan kista dengan marsupialisasi dengan menggunakan anastesi umum. Setelah dilakukan operasi kemudian dilakukan kontrol selama 3 bulan dan menunjukkan hasil yang baik.
Periodontal estetik: perawatan depigmentasi gingiva dengan kombinasi alat kauter dan pisau bedah (laporan kasus) Esthetic periodontal: treatment of gingival depigmentation with combine tools cauter and scalpel (case report) Harryanto Sutandy; Sri Oktawati
Makassar Dental Journal Vol. 6 No. 3 (2017): Vol 6 No 3 Desember 2017
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.721 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v6i3.35

Abstract

Pendahuluan: Pigmentasi oral adalah perubahan warna mukosa mulut atau gingiva terkait dengan beberapa faktor eksogen dan endogen. Lesi berpigmen mulut dapat memiliki berbagai etiologi, termasuk obat-obatan, logam berat, genetika, gangguan endokrin, dan peradangan, merokok juga dapat merangsang produksi melanin dan menyebabkan pigmentasi. Warna melanin pigmentasi oral dapat bervariasi dari ringan sampai coklat tua atau hitam, tergantung pada jumlah dan distribusi melanin dalam jaringan.Pigmentasi oral lebih diakibatkan oleh aktivitas melanositdaripada jumlah melanosit di jaringan.Pigmentasi gingiva paling banyak ditemukan pada regio anterior dan daerah labial gingiva, baik pada laki-laki maupun perempuan. Meskipun pigmentasi melanin bukan masalah medis, pasien sering mengeluh tentang warna gingiva yang hitam mengganggu penampilan. Pada laporan kasus kali ini akan memaparkan teknik ablasi gingiva menggunakan kombinasi teknik kauter dan pisau bedah. Tujuan: memaparkan teknik ablasi gingiva menggunakan kombinasi alat kauter dan pisau bedah. Kasus: Pasien wanita 24 tahun, mengeluh tentang warna gingiva yang gelap pada rahang atas. Pasien tidak memiliki kebiasaan buruk seperti merokok. Pasien dianatesi lokal (inibsa). Dengan menggunakan kauter jaringan berpigmentasi dibuang, kemudian dihaluskan menggunakan blade no.15 dengan metode slicing. Pembuangan jaringan epitel dilakukan dari mucogingival junction menuju ke puncak interdental papila. Perlu diperhatikan tidak mengambil jaringan terlalu dalam tetapi seluas mungkin sampai keseluruhan pigmentasi hilang. Disisakan selapis tipis pada daerah attached gingiva. Kemudian daerah operasi diberi periodontal pek, pasien diresepkan analgetik. Hasil: Kontrol 1 minggu dilakukan pembukaan pek dan debridemen, gingiva masih kemerahan, setelah 2 minggu warna gingiva normal, pasien sangat puas, dan kontrol setelah 4 minggu gingiva telah mengalami penyembuhan dan tidak terjadi repigmentasi.
Desain implan khusus untuk pasien dengan kelainan parafungsi (bruxism) A specific implant design for parafunctional patients (bruxism) Rustan Ambo Asse; Edy Machmud
Makassar Dental Journal Vol. 6 No. 3 (2017): Vol 6 No 3 Desember 2017
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.614 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v6i3.37

Abstract

Bruxism (bruksisme) adalah suatu kelainan parafungsi yang terjadi pada seseorang yaitu sering menggeretukkan giginya terutama pada malam hari sewaktu tidur. Tanda khas pada orang yang menderita bruxism adalah abrasi mahkota gigi alaminya, oleh karena tekanan oklusal yang diberikan pada permukaan oklusal gigi saat menggeretuk/menggerus. Pertanyaan yang timbul adalah bagaimana seandainya seseorang dengan kondisi bruxism ingin dibuatkan restorasi implan. Apakah ada desain khusus agar tidak terjadi hal- hal yang tidak diinginkan dalam perawatan. Oleh karena itu tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran dan informasi tentang desain implan khusus untuk pasien dengan kelainan bruxism (parafungsi). Kesimpulan: Bruxism adalah suatu kondisi yang tidak menguntungkan bagi pasien yang ingin dibuatkan restorasi implan, oleh karena itu perlu desain implan khusus agar perawatan menjadi optimal.
Manifestasi klinis ulser rongga mulut pada penderita tuberkulosis Sumintarti .; Oryza Sativa
Makassar Dental Journal Vol. 6 No. 3 (2017): Vol 6 No 3 Desember 2017
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.955 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v6i3.38

Abstract

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi menular yang menyerang berbagai organ tubuh terutama paru-paru yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penderita TB dapat menunjukkan gambaran klinis oral walaupun sangat jarang. Salah satunya yaitu ulser, yaitu lesi yang berupa hilangnya lapisan epitel hingga dibawah jaringan mukosa. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran klinis ulser rongga mulut pada penderita TB dan keberadaan infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis terhadap ulser. Penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional study ini dilakukan melalui pemeriksaan rongga mulut pada 30 penderita TB untuk melihat adanya ulser dan gambaran klinisnya. Untuk melihat keberadaan Mycobacterium tuberculosis dengan kultur pada medium Lowenstein-Jensen serta pewarnaan Ziehl-Neelsen.Penelitian ini menunjukkan bahwa kejadian ulser pada penderita TB ditemukan pada satu orang dengan gambaran klinis ulser berupa lesi tunggal, terletak di gingiva bukal rahang atas, ireguler, batasnya jelas, dan tidak nyeri. Hasil kultur laboratorium menunjukkan bahwa tidak ditemukan infeksi dari Mycobacterium tuberculosis. Dalam penelitian ini diketahui bahwa angka kejadian ulser pada penderita TB yaitu 3,3% dan ulser TB bersifat non spesifik pada gambaran klinisnya. Kata kunci: tuberkulosis, ulser, Mycobacterium tuberculosis ABSTRACT
Penggunaan fiber polyethylene (ribbond) sebagai splint periodontal Asdar Gani; Sri Oktawati; Arni Irawaty Djais; Miftahendarwati .; Novita Sari Silamba
Makassar Dental Journal Vol. 6 No. 3 (2017): Vol 6 No 3 Desember 2017
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.996 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v6i3.39

Abstract

Kerusakan struktur pendukung gigi dapat menyebabkan terjadinya mobilitas gigi. Mobilitas gigi akan berefek buruk pada fungsi, estetika, dan rasa nyaman pasien. Splinting digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Saat dihadapkan dengan dilema mengenai cara mengatasi gigi dengan permasalahan periodontal, splinting gigi yang mengalami mobilitas dengan gigi di sebelahnya yang lebih kuat merupakan suatu pilihan yang tepat. Artikel ini bertujuan untuk membantu memberi gambaran para klinisi tentang salah satu bahan splinting yaitu mewadahi para klinisi tentang gambaran terbaru mengenai bahan splinting fiber polyethylene (ribbond) dan pengaplikasianya dalam kasus periodontal. Ribbond adalah salah satu bahan yang biasa digunakan pada splinting telah menjadi populer saat ini dan terbuat dari fiber polyethylene molekul ultra-high. Selain digunakan sebagai splinting, fiber ribbon dapat diaplikasikan beragam kasus lain pada bidang kedokteran gigi.
Gambaran status karies pada anak usia 12-15 tahun yang mengkonsumsi air minum kemasan di SMP Nusantara, Tahun 2016 Description of dental caries status children aged 12-15 years that consumed bottled water in Nusantara Junior High School 2016 Maria Tanumihardja; Dwayne Daniel Fredrick Rehatta
Makassar Dental Journal Vol. 6 No. 3 (2017): Vol 6 No 3 Desember 2017
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.138 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v6i3.40

Abstract

Latar belakang: Prevalensi karies di Indonesia berdasarkan Riskesdas pada tahun 2007 dan 2013 meningkat dari 23,2% menjadi 25,9%. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat karies di Indonesia masih tinggi. Demikian juga kota Makassar memiliki prevalensi karies cukup tinggi sebesar 50%. Fluor berkontribusi mencegah karies dengan meningkatkan resistensi enamel terhadap lingkungan asam. Dewasa ini, masyarakat beralih untuk mengkonsumsi air minum kemasan karena alasan kebersihan, praktis, dan mudah diperoleh. Penelitian sebelumnya menunjukkan air minum kemasan tidak mengandung fluor. Tujuan: Untuk mengevaluasi gambaran status karies anak usia 12-15 tahun yang mengonsumsi air minum kemasan di SMP Nusantara. Metode: Jenis penelitian ini adalah observasional dengarancangan penelitian cross sectional study. Penelitian dilaksanakan bulan Mei 2016 yang melibatkan 44 siswa yang mengkonsumsi air minum kemasan hingga dilakukan penelitian. Status karies diperiksa menggunakan indeks DMF-T dan setiap siswa juga mengisi kuisioner terkait asupan makanan dan kebersihan mulutnya. Selain itu, dilakukan pemeriksaan kadar fluor dalam air minum kemasan. Analisis data menggunakan analisis univariat. Hasil: Nilai rerata DMF-T subjek penelitian 2,06 (kategori rendah), dengan rerata DMF-T yang mengkonsumsi air minum kemasan rendah sebesar 1,95. Rerata kadar fluor dalam air minum kemasan berada di kategori 0,7-1,2 mg/L. Kesimpulan: Adanya kandungan fluor dalam air minum kemasan diperkirakan berkontribusi terhadap nilai DMF-T yang rendah dalam penelitian ini.
Suplemen MDJ Journal
Makassar Dental Journal Vol. 6 No. S-1 (2017): Vol 6 Suplemen 1 2017
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.282 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v6iS-1.41

Abstract

Suplemen 1 Volume 6
Konsumsi yogurt menurunkan jumlah koloni bakteri kariogenik dalam saliva pada usia remaja Muhammad Ilyas; Clarissa Phielip
Makassar Dental Journal Vol. 1 No. 1 (2012): Vol 1 No 1, Februari 2012
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.218 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v1i1.42

Abstract

Program pencegahan karies pada masyarakat saat ini memiliki tujuan utama untuk menurunkan jumlah koloni bakteri kariogenik, khususnya bakteri golongan Streptococcus. Salah satu cara yang dikembangkan adalah metode probiotik melalui yogurt. Penelitian eksperimen laboratorium ini menggunakan cross over design with control group. Sampel diambil secara acak sebanyak 15 orang dari mahasiswa preklinik FKG-Unhas angkatan 2008-2010. Hasil penelitian memperlihatkan perbedaan yang bermakna antara sebelum dan sesudah meminum yogurt terhadap penurunan jumlah koloni bakteri kariogenik dalam saliva (p < 0,05) dan terdapat perbedaan yang bermakna antara suhu yogurt terhadap penurunan rerata jumlah bakteri kariogenik dalam saliva setelah mengkonsumsi selama enam dan sembilan hari (p < 0 ,05). Selain itu, terdapat perbedaan yang bermakna terhadap pH saliva antara sebelum dan sesudah meminum yogurt (p < 0,05). Dapat disimpulkan bahwa meskipun terjadi penurunan pH saliva segera setelah meminum yogurt, tetapi tidak melewati pH 5,5 sehingga tidak mengakibatkan demineralisasi email yang menyebabkan terjadinya karies gigi. Kata kunci: yogurt, koloni Streptococcus, pH saliva
Tingkat keasaman minuman ringan mempengaruhi kelarutan mineral gigi Nurlindah Hamrun; Dewi Kartika
Makassar Dental Journal Vol. 1 No. 1 (2012): Vol 1 No 1, Februari 2012
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.267 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v1i1.43

Abstract

Demineralisasi atau kelarutan mineral gigi dapat terjadi apabila gigi berada dalam lingkungan pH di bawah 5,5. Saat ini, banyak minuman ringan dengan pH di bawah 5,5 yang dikonsumsi oleh masyarakat. Rendahnya pH berperan pada demineralisasi karena akan meningkatkan konsentrasi ion hidrogen yang selanjutnya akan merusak hidroksiapatit. Penelitian dengan rancangan quasi experiment ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh keasaman minuman ringan terhadap kelarutan mineral gigi. Dikumpulkan lima belas potongan gigi yang dibagi dalam 3 kelompok. Tiap sampel ditimbang sebelum direndam dalam minuman ringan (pre test). Kelompok I direndam dalam minuman ringan yang mengandung asam karbonat, kelompok II dalam asam fosfat, dan kelompok III direndam dalam air mineral (kontrol). Penimbangan berat sampel dilakukan 24, 48, dan 72 jam setelah perendaman (post test). Hasil menunjukkan bahwa sampel yang direndam dalam minuman yang mengandung asam karbonat menyebabkan kelarutan mineral lebih besar dibandingkan yang direndam dalam asam fosfat dan air.
Frenektomi berperan pada keberhasilan perawatan ortodontik Andi Asmira A. Kasim; Eka Erwansyah
Makassar Dental Journal Vol. 1 No. 1 (2012): Vol 1 No 1, Februari 2012
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (311.028 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v1i1.44

Abstract

Latar belakang: Frenulum merupakan jaringan ikat yang menghubungkan bibir, pipi atau lidah dengan tulang rahang. Perlekatan frenulum yang abnormal menyebabkan diastema sentralis dan ankiloglosia. Untuk menghilangkan keadaan maloklusi tersebut diperlukan frenektomi, baik sebelum ataupun sesudah perawatan ortodontik. Tujuan: Untuk memaparkan peranan frenektomi terhadap keberhasilan perawatan ortodontik. Pembahasan: Hampir semua pengguna piranti ortodontik memiliki risiko relaps. Akan tetapi, pasien dengan frenulum abnormal memiliki risiko relaps dua kali lebih besar dibanding pada pasien dengan frenulum normal. Simpulan: Pada kasus diastema sentralis, prosedur frenektomi sebelum perawatan ortodontik dilakukan untuk memudahkan pergerakan insisivus sentralis ke mesial sedangkan setelah perawatan ortodontik dilakukan untuk mencegah relapsnya diastema sentralis. Pada kasus angkiloglosia, frenektomi dibutuhkan untuk mendukung stabilitas penempatan piranti ortodontik lepasan rahang bawah.

Page 4 of 82 | Total Record : 812


Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 2 (2025): Volume 14 Issue 2 August 2025 Vol. 14 No. 1 (2025): Volume 14 Issue 1 April 2025 Vol. 13 No. 3 (2024): Volume 13 Issue 3 Desember 2024 Vol. 13 No. 2 (2024): Volume 13 Issue 2 Agustus 2024 Vol. 13 No. 1 (2024): Volume 13 Issue 1 April 2024 Vol. 12 No. 3 (2023): Volume 12 Issue 3 Desember 2023 Vol. 12 No. 2 (2023): Volume 12 Issue 2 Agustus 2023 Vol. 12 No. 1 (2023): Volume 12 Issue 1 April 2023 Vol. 11 No. 3 (2022): Volume 11 Issue 3 Desember 2022 Vol. 11 No. 2 (2022): Volume 11 Issue 2 Agustus 2022 Vol. 11 No. 1 (2022): Volume 11 Issue 1 April 2022 Vol. 10 No. 3 (2021): Volume 10 Issue 3 Desember 2021 Vol. 10 No. 2 (2021): Volume 10 Issue 2 Agustus 2021 Vol. 10 No. 1 (2021): Volume 10 Issue 1 April 2021 Vol. 9 No. 3 (2020): Volume 9 Issue 3 December 2020 Vol. 9 No. 2 (2020): Volume 9 No 2 Agustus 2020 Vol. 9 No. 1 (2020): Volume 9 No 1 April 2020 Vol. 8 No. 3 (2019): Vol 8 No 3 Desember 2019 Vol. 8 No. 2 (2019): Vol 8 No 2 Agustus 2019 Vol. 8 No. S - 2 (2019): Volume 8 Suplemen 2 2019 Vol. 8 No. S - 1 (2019): Volume 8 Suplemen 1 2019 Vol. 8 No. 1 (2019): Volume 8 No 1 April 2019 Vol. 7 No. 3 (2018): Volume 7 No 3 Desember 2018 Vol. 7 No. 2 (2018): Vol 7 No 2 Agustus 2018 Vol. 7 No. 1 (2018): Vol 7 No 1 April 2018 Vol. 6 No. 3 (2017): Vol 6 No 3 Desember 2017 Vol. 6 No. 2 (2017): Vol 6 No 2 Agustus 2017 Vol. 6 No. 1 (2017): Vol 6 No 1 April 2017 Vol. 6 No. S-1 (2017): Vol 6 Suplemen 1 2017 Vol. 5 No. 3 (2016): Vol 5 No 3 Desember 2016 Vol. 5 No. 2 (2016): Vol 5 No 2 Agustus 2016 Vol. 5 No. S - 1 (2016): Vol 5 Suplemen 1 2016 Vol. 5 No. 1 (2016): Vol 5 No 1 April 2016 Vol. 4 No. 6 (2015): Vol 4 No 6 Desember 2015 Vol. 4 No. 5 (2015): Vol 4 No 5 Oktober 2015 Vol. 4 No. 4 (2015): Vol 4 No 4 Agustus 2015 Vol. 4 No. 3 (2015): Vol 4 No 3 Juni 2015 Vol. 4 No. 2 (2015): Vol 4 No 2 April 2015 Vol. 4 No. 1 (2015): Vol 4 No 1 Februari 2015 Vol. 3 No. 6 (2014): Vol 3 No 6 Desember 2014 Vol. 3 No. 5 (2014): Vol 3 No 5 Oktober 2014 Vol. 3 No. 4 (2014): Vol 3 No 4 Agustus 2014 Vol. 3 No. 3 (2014): Vol 3 No 3 Juni 2014 Vol. 3 No. 2 (2014): Vol 3 No 2 April 2014 Vol. 3 No. 1 (2014): Vol 3 No 1 Februari 2014 Vol. 2 No. 6 (2013): Vol 2 No 6 Desember 2013 Vol. 2 No. 5 (2013): Vol 2 No 5 Oktober 2013 Vol. 2 No. 4 (2013): Vol 2 No 4 Agustus 2013 Vol. 2 No. 3 (2013): Vol 2 No 3 Juni 2013 Vol. 2 No. 2 (2013): Vol 2 No 2 April 2013 Vol. 2 No. 1 (2013): Vol 2 No 1 Februari 2013 Vol. 1 No. 6 (2012): Vol 1 No 6, Desember 2012 Vol. 1 No. 5 (2012): Vol 1 No 5, Oktober 2012 Vol. 1 No. 4 (2012): Vol 1 No 4, Agustus 2012 Vol. 1 No. 3 (2012): Vol 1 No 3, Juni 2012 Vol. 1 No. 2 (2012): Vol 1 No 2, April 2012 Vol. 1 No. 1 (2012): Vol 1 No 1, Februari 2012 More Issue