cover
Contact Name
Eri Hendra Jubhari
Contact Email
webpdgi@gmail.com
Phone
+628124235346
Journal Mail Official
webpdgi@gmail.com
Editorial Address
Ruko Malino A4. Baruga, Antang, Makassar
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
MDJ (Makassar Dental Journal)
ISSN : 20898134     EISSN : 25485830     DOI : 10.35856/mdj
Core Subject : Health,
The journal receives a manuscript from the following area below Dentistry science and development with interdisciplinary and multidisciplinary approach: Dental Public Health and Epidemiology Oral and Maxillofacial Surgery Dental Conservation and Endodontics Preventive Dentistry Biomedical Dentistry Dental Radiology Pediatric Dentistry Oral Pathology Prosthodontics Traumatology Oral Biology Biomaterials Orthodontics Periodontics
Articles 812 Documents
Perawatan perio-estetik dengan crown lengthening dan depigmentasi gingiva (laporan kasus) Perio-aesthetic treatment with crown lengthening and gingival depigmentation (case report) Shek Wendy; Arni Irawati Djais
Makassar Dental Journal Vol. 6 No. 2 (2017): Vol 6 No 2 Agustus 2017
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (538.182 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v6i2.23

Abstract

Masalah dan tujuan: Senyuman dapat menunjang penampilan dan menambah kepercayaan diri seseorang. Senyuman terbentuk dari harmonisasi yang baik antara gigi dalam relasi dengan tulang alveolar dan gingiva sebagai bagian dari rongga mulut. Excessive ginigival display (EGD) atau gummy smile, mahkota klinis yang pendek dan gingiva yang berwarna kecoklatan sering menjadi keluhan pasien. Salah satu penyebab gummy smile dan mahkota klinis pendek adalah altered passive eruption. Gingiva berwarna kecoklatan disebabkan oleh hiperpigmentasi melanin. Laporan kasus ini bertujuan untuk memaparkan koreksi altered passive eruption dengan bedah crown lengthening dan depigmentasi gingiva yang berwarna kecoklatan untuk mengembalikan fungsi dan estetika. Kasus: Seorang pria berusia 25 tahun datang ke Bagian Periodonsia RSGM Unhas, dengan keluhan gigi depan atas terlihat pendek dan gusi berwarna coklat. Pasien didiagnosis sebagai altered passive eruption dan pigmentasi gingiva. Penatalaksanaan dilakukan bedah crown lengthening menggunakan Chu’s aesthetic gauge dan dilanjutkan depigmentasi gingiva menggunakan scalpel. Kontrol 2 bulan menunjukkan altered passive eruption terkoreksi, gingiva berwarna coral pink. Pasien merasa puas dengan hasil perawatan yang dicapai. Simpulan: Crown lengthening dan depigmentasi gingiva merupakan perawatan yang efektif dalam mengkoreksi gangguan fungsi dan estetika yang berkaitan dengan altered passive eruption dan hiperpigmentasi gingiva.
Prevalensi diskolorisasi gigi pada anak prasekolah di kota Makassar Prevalence of tooth discoloration in preschool children in Makassar Nurhaedah Ghalib; Uce Ayuandyka
Makassar Dental Journal Vol. 6 No. 2 (2017): Vol 6 No 2 Agustus 2017
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.471 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v6i2.24

Abstract

Latar belakang: Perubahan warna atau diskolorisasi adalah suatu kondisi pada gigi yang mengalami perubahan dalam corak, warna atau translusensi. Perubahan warna gigi dapat disebabkan oleh faktor intrinsik dan ekstrinsik. Perubahan warna gigi terjadi pada gigi permanen maupun gigi sulung. Pada gigi sulung, diskolorisasi gigi umumnya disebabkan oleh faktor intrinsik yang dapat terjadi selama masa pembentukan gigi, yaitu pada trimester kedua intra uterin kemudian dilanjutkan sampai anak berusia 8 tahun. Perubahan warna ini dapat disebabkan oleh kelainan herediter, demam tinggi yang terjadi pada masa pembentukkan email dan dentin, penggunaan obat-obatan tertentu dalam jangka waktu yang lama seperti tetrasiklin, trauma, serta mengkonsumsi fluoride dalam kadar yang berlebih dan dalam jangka waktu yang lama.Tujuan: Untuk mengetahui persentase penyebab terjadinya diskolorisasi gigi pada anak prasekolah di kota Makassar. Metode: Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan cross sectional study-observational descriptive. Lokasi penelitian dilakukan di 76 taman kanak-kanak di Kota Makassar dengan sampel sebanyak 3.766 anak. Prosedur dimulai dengan memberikan penyuluhan kepada orang tua dan siswa kemudian dilanjutkan dengan pengisian informed consent. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan pada anak dan penentuan diskolorisasi menggunakan shade guide. Setelah itu, peneliti melakukan pengamatan untuk menentukan penyebab diskolorisasi. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan angka kejadian diskolorisasi gigi yang cukup rendah ditemukan pada anak pra sekolah di Kota Makassar, yaitu sebesar 10,67% dengan persentase kejadian pada siswa laki-laki sebesar 55,97% dan siswa perempuan sebesar 44,03%. Diskolorisasi gigi lebih banyak terjadi pada usia 5 tahun dengan persentase 70,4%; 89,3% diskolorisasi disebabkan oleh faktor intrinsik.
Komplikasi pascareseksi mandibula (laporan kasus) Hasmawati Hasan; Andi Tajrin; Arni Irawaty Djais
Makassar Dental Journal Vol. 6 No. 2 (2017): Vol 6 No 2 Agustus 2017
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.134 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v6i2.25

Abstract

Kasus komplikasi setelah reseksi mandibula akibat ameloblastoma telah dilaporkan berupa patahnya plat, merupakan kasus yang jarang ditemukan. Laporan kasus ini bertujuan menjelaskan penatalaksaan kasus komplikasi patahnya plat pascareseksi mandibula. Laporan kasus: Seorang pasien berumur 21 tahun datang ke rumah sakit swasta dengan keluhan rasa nyeri dan tidak nyaman pada daerah bekas operasi pascareseksi mandibula akibat tumor ameloblastoma dengan tindakan radikal dan pemasangan plat. Dari anamnesis pasien menyatakan tiba-tiba terjadi rasa nyeri dan tidak nyaman pada rahangnya. Pemeriksaan intraoral pasien sulit membuka mulut. Pemeriksaan ekstraoral tampak pembengkakan. Pada pemeriksaan foto ronsen panoramik terlihat plat tidak menyatu lagi. Pasien didiagnosis mengalami kepatahan plat penyangga mandibula. Penatalaksanaannya dengan tindakan operasi penggantian plat yang utuh untuk mengembalikan fungsi mastikasi pasien. Simpulan: Komplikasi patahnya plat pasca reseksi mandibula pada pasien ameloblastoma dapat terjadi dan perawatannya dengan penggantian plat yang utuh dan lebih kuat.
Sifat saliva dan hubungannya dengan pemakaian gigi tiruan lepasan Sitti Arpa; Eri H. Jubhari
Makassar Dental Journal Vol. 6 No. 2 (2017): Vol 6 No 2 Agustus 2017
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.09 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v6i2.26

Abstract

Saliva adalah cairan yang lebih kental daripada air biasa. Selain kelenjar saliva minor, ada tiga kelenjar saliva mayor yang mengeluarkan saliva, yaitu kelenjar parotis, kelenjar submandibularis, dan kelenjar sublingualis. Dalam setiap hari sekitar 1000-1500 cc saliva dikeluarkan oleh kelenjar saliva, karena dibutuhkan jumlah saliva yang cukup untuk kenyamanan dan memelihara kesehatan mulut. Saliva berperan penting dalam pemakaian gigi tiruan lepasan untuk melindungi mukosa oral dari iritasi mekanik dan infeksi, serta untuk memberikan retensi. Suatu kondisi saliva yang memadai untuk penggunaan gigi tiruan adalah saliva yang encer, yang dihasilkan oleh sel serus.
Hubungan tingkat kebersihan rongga mulut dengan status penyakit gingivitis pada ibu hamil di RSUD DR. RM. Djoelham Binjai Suci Erawati; Irene Anastasia; Shanna Sukmadara
Makassar Dental Journal Vol. 6 No. 2 (2017): Vol 6 No 2 Agustus 2017
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (56.799 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v6i2.27

Abstract

Latar Belakang: Gingivitis pada saat kehamilan disebabkan oleh peningkatan konsentrasi hormon estrogen dan progesteron. Keadaan ini ditandai dengan papila interdental yang memerah, bengkak, mudah berdarah disertai rasa sakit menyebabkan gingiva menjadi sensitif khususnya terhadap toksin maupun iritan seperti plak dan kalkulus yang mengakibatkan gingiva mengalami peradangan. Tujuan: Untuk melihat hubungan antara tingkat kebersihan dengan tingkat keparahan gingivitis terhadap wanita hamil. Metode: Sebanyak 32 wanita hamil di RSUD DR. RM. Djoelham Binjai dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu 16 orang trimester kedua dan 16 orang trimester ketiga dilakukan pemeriksaan status OHI-S dan gingivitis dengan menggunakan indeks OHI-S dan indeks gingivitis. Hasil: Berdasarkan hasil penelitian terdapat hasil yang signifikan (p<0,05) yang menunjukkan terdapat hubungan antara tingkat kebersihan mulut dengan keparahan gingivitis pada wanita hamil trimester ketiga. Kesimpulan: Pada wanita hamil trimester ketiga terdapat hubungan antara tingkat kebersihan mulut dengan keparahan gingivitis dibandingkan dengan trismester kedua. Meskipun tingkat keparahan gingivitis dipengaruhi oleh tingkat kebersihan mulut peningkatan keparahan gingivitis yang terjadi pada wanita hamil dipengaruhi juga oleh faktor hormon. Hal ini dikarenakan peningkatan hormon pada wanita hamil memuncak pada trimester ketiga kehamilan.
Status kebersihan gigi dan mulut pada remaja usia 12-15 tahun di SMPN 4 Watampone Kecamatan Tanete Riattang Kabupaten Bone Ayub Irmadani Anwar; Lutfiah .; Nursyamsi .
Makassar Dental Journal Vol. 6 No. 2 (2017): Vol 6 No 2 Agustus 2017
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.824 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v6i2.28

Abstract

Pendahuluan: Nilai kebersihan gigi dan mulut penting untuk diketahui tiap individu. Hal tersebut berperan dalam upaya pencegahan terhadap terjadinya karies. Dalam pertumbuhan dan perkembangan, remaja sering mengalami masalah kesehatan, salah satunya masalah kebersihan gigi dan mulut. World Health Organization (WHO) merekomendasikan bahwa pelajar sekolah merupakan kelompok yang tepat untuk dilakukannya upaya promosi kesehatan dalam menjaga kesehatan rongga mulut serta jaringan di sekitarnya. Tujuan: untuk mengetahui status kebersihan gigi dan mulut pada remaja usia 12-15 tahun pada Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 di Kecamatan Tanete Riattang Kabupaten Watampone. Metode Penelitian: Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif observasi dan desain penelitian cross sectional study. Penelitian ini dilaksanakan di lokasi, SMP Negeri 4 Kecamatan Tanette Riattang Kabupaten Watampone dengan sampel penelitian ini sebanyak 93 siswa. Hasil: Pada penelitian ini perempuan memiliki nilai OHIS 1,20±0,70, nilai tersebut lebih tinggi dibandingan dengan laki-laki yaitu 0,91±0,49 tetapi masih dalam kategori baik. Simpulan: Status kebersihan gigi dan mulut pada remaja usia 12-15 tahun di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Kecamatan Tanete Riattang Kabupaten Watampone berada pada kategori baik dengan nilai OHIS 1,11±0,65 yang berarti rata-rata siswa memiliki debris dan kalkulus yang menutupi 1/3 permukaan gigi dari servikal gigi.
StatusmaloklusimahasiswaFakultasKedokteran Gigi Universitas Hasanuddin yang diukur berdasarkan Occlusion Feature Index (OFI) Malocclusion status of faculty of dentistry students in Hasanuddin University measured by Occlusion Feature Index (OFI) Donald R. Nahusona; Widya Aprilia
Makassar Dental Journal Vol. 6 No. 3 (2017): Vol 6 No 3 Desember 2017
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.831 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v6i3.30

Abstract

Latar belakang: Maloklusi merupakan masalah umum yang dijumpai pada seluruh bagian dunia dan bervariasi tergantung dari genetik, lingkungan,dan ras. Maloklusi menempati urutan ketiga pada prevalensi penyakit patologis pada mulut, berada di bawah karies gigi dan penyakit periodontal sehingga menjadikan maloklusi sebagai prioritas ketiga pada masalah kesehatan mulut di seluruh dunia. Metode yang bervariasi untukmenilai keparahanmaloklusi telah banyak dikembangkan untuk mengutamakan perawatan ortodontik.Salah satu indeks yang dapat digunakan untuk mengukur maloklusi adalah Occlusion Feature Index (OFI). Tujuan: Untuk mengetahui status maloklusi pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin yang diukur berdasarkan OFI.Metode:Penelitianini merupakan penelitian observasi deskriptif dengan desain cross-sectional dan melibatkan 144 sampel dengan metode simple random sampling.Sampel diperiksa dan diukur menggunakan OFI. Data kemudian dianalisis dan disajikan dalam bentuk tabel. Hasil: Status maloklusi dengan persentase tertinggi adalah maloklusi sangat ringan (slight), yaitu 62 sampel atau 43,1%, diikuti oleh maloklusi ringan (mild) 46 sampel atau 31,9%, kemudian maloklusi sedang (moderate) 31 sampel atau 21,5%, dan maloklusi berat (severe) 5 sampel atau 3,5%. Simpulan: Status maloklusi mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin masih tergolong ke dalam kategori maloklusi sangat ringan (slight).Kata Kunci: status maloklusi, occlusion feature index
Tatalaksana oral lichen planus akibat stres pada diabetes melitus Management of oral lichen planus due to stress in diabetes mellitus Ade Puspa Sari; Nafi'ah .; Dwi Setianingtyas; Iwan Hernawan; Bagus Soebadi
Makassar Dental Journal Vol. 6 No. 3 (2017): Vol 6 No 3 Desember 2017
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1034.8 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v6i3.31

Abstract

Pendahuluan: Oral lichen planus (OLP) merupakan penyakit inflamasi kronik pada membran mukosa mulut dengan karakteristik tanda klinis adanya retikuler papula berwarna putih yang dimediasi oleh sistem imun seluler ditandai oleh respon sel-T sitotoksik terhadap keratinosit basal dengan stres bisa sebagai faktor pemicu. Diagnosis OLP berdasarkan gambaran klinis yang khas ditunjang dengan pemeriksaan histopatologi. Tujuan: Melaporkan tata laksana kasus oral lichen planus dipicu stres pada pasien diabetes melitus. Kasus: Seorang wanita usia 68 tahun dengan keluhan nyeri, pasien sulit makan, sariawan yang persisten pada pipi kanan dan kiri sejak 4 tahun yang lalu, hilang kambuh. Pasien memiliki riwayat diabetes melitus. Kondisi pasien terlihat cemas pada saat anamnesis. Pemeriksaan klinis intra oral pada mukosa bukal bilateral terdapat papula putih berbentuk jala-jala (wickham’s striae) dan ulserasi. Tata laksana: Pasien diterapi dengan obat kumur anastetikum, kortikosteroid sistemik, deksametason elixir, obat kumur antiseptik dan multivitamin, menghindari makanan yang pedas dan berbumbu tajam serta pemeriksaan DASS 42. Pasien dirujuk untuk pemeriksaan darah lengkap dan glukosa sewaktu, glukosa 2 JPP, HbA1c, dan ke psikiater. Simpulan: Depresi sedang dengan gejala somatik dapat sebagai faktor predisposisi menyebabkan gangguan sistem imun yang memicu penyakit autoimun. Perawatan dengan mengelola stres serta terapi simtomatis dengan kortikoseroid sistemik dan topikal serta mempertahankan oral higiene.
Kombinasi perancah silk-fibroin dari kepompong ulat sutera (Bombyx mori) dan konsentrat platelet sebagai inovasi terapi regenerasi tulang alveolar Silk-fibroin scaffold from silkworm cocoon (Bombyx mori) and platelet concentrate-based mineralized plasmati Adrian Rustam; Fransiske Tatengkeng; Andi Muh. Fahruddin; Arni Irawaty Djais
Makassar Dental Journal Vol. 6 No. 3 (2017): Vol 6 No 3 Desember 2017
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (666.024 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v6i3.32

Abstract

Latar belakang: Destruksi tulang alveolar secara progresif akan berdampak buruk pada aspek fungsional, estetik, dan prognosis perawatan prostetik. Upaya regenerasi diperlukan untuk mengembalikan fungsi tulang alveolar. Dewasa ini, penggunaan konsentrat platelet seperti platelet-rich fibrin (PRF) dan platelet-rich plasma (PRP) terbukti mampu memicu pembentukan tulang alveolar. Namun, proses penyembuhan tulang memakan waktu lama. Selain itu, volume tulang yang terbentuk sulit dipertahankan sehingga konsentrat platelet perlu dimodifikasi. Penambahan scaffold bone-graft terbukti dapat meningkatkan efektivitas konsentrat platelet. Kandungan silk-fibroin dalam kepompong ulat sutera (Bombyx mori) berpotensi sebagai material scaffold yang ideal karena memiliki sifat mekanis dan biokompatibilitas yang unggul. Tujuan: Mengkaji potensi scaffold silk-fibroin kepompong ulat sutera yang dikombinasikan dengan konsentrat platelet sebagai inovasi terapi regenerasi tulang alveolar. Pembahasan: Mineralized plasmatic matrix (MPM) merupakan terobosan terbaru yang mengkombinasikan scaffold bone-graft dengan PRP dan PRF. Konsentrat platelet dalam MPM kaya akan growth factor (PDGF, TGF-β, VEGF, IGF), monosit, dan serabut fibrin yang berperan dalam menstimulasi proliferasi, diferensiasi, dan migrasi sel-sel osteoprgenitor, dan osteogenik pada area kerusakan. Penggunaan scaffold silk-fibroin yang disintesis dari kepompong ulat sutera mampu meningkatkan efektivitas konsentrat platelet dengan cara mempercepat proses osteogenesis dan menyediakan matriks ekstraseluler yang akan memandu migrasi sel osteogenik saat proses pematangan tulang. Selain itu, silk-fibroin mampu menginduksi angiogenesis, memfasilitasi osteokonduksi, dan mengoptimalkan proses osteoinduksi. Dengan sifat mekanisnya yang unggul, silk-fibroin mampu mempertahankan volume tulang. Simpulan: Perpaduan scaffold silk-fibroin kepompong ulat sutera dengan konsentrat platelet berpotensi dalam menstimulasi dan mempercepat proses pembentukan serta mempertahankan volume tulang alveolar.
Efektivitas penggunaan gel ekstrak daun sirih (Piper betle Linn) dan gel ekstrak biji kakao (Theobroma cacao L) terhadap kekerasan permukaan email secara in vitro Juni Jekti Nugroho; Wirna Regina Hafsari
Makassar Dental Journal Vol. 6 No. 3 (2017): Vol 6 No 3 Desember 2017
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.237 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v6i3.33

Abstract

Saat ini telah berkembang beberapa cara untuk meningkatkan kekerasan permukaan email untuk mencegah karies, salah satunya adalah pengaplikasian gel berbahan dasar herbal. Penggunaan bahan dasar herbal lebih dipilih masyarakat karena memiliki efek samping yang relatif lebih kecil dibandingkan obat sintesis. Daun sirih dan biji kakao merupakan tanaman obat yang sering digunakan oleh masyarakat dalam menghambat karies. Hal ini disebabkan keduanya memiliki kandungan yang mempengaruhi kekerasan permukaan email. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan gel ekstrak daun sirih dan biji kakao terhadap kekerasan permukaan email. Sampel gigi premolar satu rahang atas dengan non-karies yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sampel, dibagi menjadi 3 kelompok; gel ekstrak daun sirih, gel ekstrak biji kakao, dan larutan akuades sebagai kontrol negatif. Masing-masing kelompok perlakuan terdiri atas 8 sampel. Sampel didekoronasi pada daerah cementoenamel junction dan ditanam pada balok orthoplast dengan permukaan labial menghadap ke atas. Sampel lalu diaplikasikan dengan perlakuan pada sisi bukal permukaan email dengan lama waktu pengaplikasian 5, 15 dan 35 menit. Sebelum dan setelah aplikasi pada masing-masing kelompok perlakuan diukur menggunakan alat uji kekerasan Universal Hardness Tester. Data dikumpul dan dianalisis menggunakan uji repeated ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan nilai kekerasan permukaan email yang signifikan sebelum dan setelah aplikasi gel ekstrak biji kakao (p<0,05), serta terdapat perbedaan nilai kekerasan permukaan email yang tidak signifikan sebelum dan setelah aplikasi gel ekstrak daun sirih dan akuades (p>0,05). Disimpulkan bahwa gel ekstrak biji kakao lebih efektif meningkatkan nilai kekerasan permukaan email.

Page 3 of 82 | Total Record : 812


Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 2 (2025): Volume 14 Issue 2 August 2025 Vol. 14 No. 1 (2025): Volume 14 Issue 1 April 2025 Vol. 13 No. 3 (2024): Volume 13 Issue 3 Desember 2024 Vol. 13 No. 2 (2024): Volume 13 Issue 2 Agustus 2024 Vol. 13 No. 1 (2024): Volume 13 Issue 1 April 2024 Vol. 12 No. 3 (2023): Volume 12 Issue 3 Desember 2023 Vol. 12 No. 2 (2023): Volume 12 Issue 2 Agustus 2023 Vol. 12 No. 1 (2023): Volume 12 Issue 1 April 2023 Vol. 11 No. 3 (2022): Volume 11 Issue 3 Desember 2022 Vol. 11 No. 2 (2022): Volume 11 Issue 2 Agustus 2022 Vol. 11 No. 1 (2022): Volume 11 Issue 1 April 2022 Vol. 10 No. 3 (2021): Volume 10 Issue 3 Desember 2021 Vol. 10 No. 2 (2021): Volume 10 Issue 2 Agustus 2021 Vol. 10 No. 1 (2021): Volume 10 Issue 1 April 2021 Vol. 9 No. 3 (2020): Volume 9 Issue 3 December 2020 Vol. 9 No. 2 (2020): Volume 9 No 2 Agustus 2020 Vol. 9 No. 1 (2020): Volume 9 No 1 April 2020 Vol. 8 No. 3 (2019): Vol 8 No 3 Desember 2019 Vol. 8 No. S - 2 (2019): Volume 8 Suplemen 2 2019 Vol. 8 No. 2 (2019): Vol 8 No 2 Agustus 2019 Vol. 8 No. 1 (2019): Volume 8 No 1 April 2019 Vol. 8 No. S - 1 (2019): Volume 8 Suplemen 1 2019 Vol. 7 No. 3 (2018): Volume 7 No 3 Desember 2018 Vol. 7 No. 2 (2018): Vol 7 No 2 Agustus 2018 Vol. 7 No. 1 (2018): Vol 7 No 1 April 2018 Vol. 6 No. 3 (2017): Vol 6 No 3 Desember 2017 Vol. 6 No. 2 (2017): Vol 6 No 2 Agustus 2017 Vol. 6 No. S-1 (2017): Vol 6 Suplemen 1 2017 Vol. 6 No. 1 (2017): Vol 6 No 1 April 2017 Vol. 5 No. 3 (2016): Vol 5 No 3 Desember 2016 Vol. 5 No. 2 (2016): Vol 5 No 2 Agustus 2016 Vol. 5 No. 1 (2016): Vol 5 No 1 April 2016 Vol. 5 No. S - 1 (2016): Vol 5 Suplemen 1 2016 Vol. 4 No. 6 (2015): Vol 4 No 6 Desember 2015 Vol. 4 No. 5 (2015): Vol 4 No 5 Oktober 2015 Vol. 4 No. 4 (2015): Vol 4 No 4 Agustus 2015 Vol. 4 No. 3 (2015): Vol 4 No 3 Juni 2015 Vol. 4 No. 2 (2015): Vol 4 No 2 April 2015 Vol. 4 No. 1 (2015): Vol 4 No 1 Februari 2015 Vol. 3 No. 6 (2014): Vol 3 No 6 Desember 2014 Vol. 3 No. 5 (2014): Vol 3 No 5 Oktober 2014 Vol. 3 No. 4 (2014): Vol 3 No 4 Agustus 2014 Vol. 3 No. 3 (2014): Vol 3 No 3 Juni 2014 Vol. 3 No. 2 (2014): Vol 3 No 2 April 2014 Vol. 3 No. 1 (2014): Vol 3 No 1 Februari 2014 Vol. 2 No. 6 (2013): Vol 2 No 6 Desember 2013 Vol. 2 No. 5 (2013): Vol 2 No 5 Oktober 2013 Vol. 2 No. 4 (2013): Vol 2 No 4 Agustus 2013 Vol. 2 No. 3 (2013): Vol 2 No 3 Juni 2013 Vol. 2 No. 2 (2013): Vol 2 No 2 April 2013 Vol. 2 No. 1 (2013): Vol 2 No 1 Februari 2013 Vol. 1 No. 6 (2012): Vol 1 No 6, Desember 2012 Vol. 1 No. 5 (2012): Vol 1 No 5, Oktober 2012 Vol. 1 No. 4 (2012): Vol 1 No 4, Agustus 2012 Vol. 1 No. 3 (2012): Vol 1 No 3, Juni 2012 Vol. 1 No. 2 (2012): Vol 1 No 2, April 2012 Vol. 1 No. 1 (2012): Vol 1 No 1, Februari 2012 More Issue