cover
Contact Name
Zainuddin Nasution
Contact Email
zainuddin.nasution@kemdikbud.go.id
Phone
+6287877488487
Journal Mail Official
zainuddin.nasution@kemdikbud.go.id
Editorial Address
Pusdatin, Kemendikbud. Jl. R.E. Martadinata, Ciputat, Tangerang Selatan, Telepon (021) 7418808; Faksimilie (7401727; Tromol Pos 7/CPA Ciputat 15411
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Jurnal Teknodik
ISSN : 20883978     EISSN : 25794833     DOI : 10.32550
Core Subject : Science, Education,
Scope: The scope of TEKNODIK Journal is about Educational Technology (Learning), as a discipline, subject material, or profession. The process of activities includes Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation (ADDIE). The scope of TEKNODIK Journal is not only in the form of study, research, or development, but also book review on education technology. Focus: 1. Distant and Open Learning; 2. Information and Communication Technology (ICT) for Education; 3. Learning Strategy; 4. Learning Media; 5. Innovative Learning System or Model; 6. Development of Digital Learning Content; 7. Utilization of ICT and other media for Education (Learning)
Articles 406 Documents
PERANAN PERPUSTAKAAN SEBAGAI MEDIA PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KARAKTER Mohamad Adning, S.Pd, M.Pd Mohamad Adning, S.Pd, M.Pd
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol. XV No.2 Desember 2011
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (37.105 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v0i0.102

Abstract

Abstrak:Pemanfaatan dan penggunan sumber belajar di arah kepada pembentukan karakter bangsa melalui pendidikan karakter. Dari berbagai sumber belajar yang ada, diantaranya adalah perpustakaan. Tanpa disadari Perpustakaan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam pendidikan karakter, karena perpustakaan sebagai wadah pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, informasi dan rekreasi bagi peserta didik. Melalui tulisan ini akan digambarkan jenis perpustakaan yang ada, fungsi, peranan dan sumbangan perpustakan sebagai media pengembang pendidikan karakter.Kata Kunci: Perpustakaan, Media Pembelajaran, Pendidikan Karakter.Abstract:Utilization and use of learning resources are driven to the formation of national character through character education. Among the variety of learning resources, library is one of them. Library unwittingly becomes an inseparable part of character education, because the library functions as a forum for managing the collection of stationery, printed works, and/or professional record with a standardized system to meet the needs of education, information and recreation for students. This paper describes the types of existing libraries and its functions, role and contribution as media in developing the character education Keywords: library, character education.
PENGEMBANGAN MODEL FASILITASI BELAJAR DALAM MEMPERDAYAKAN MASYARAKAT PELAKU USAHA KECIL Asep Saepudin
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol. 10 No. 19, Desember 2006
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.179 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v10i19.397

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang upaya pemberdayaan masyarakat pelaku usaha kecil yang berada pada sentra  usaha kerajinan Cibeusi di Kabupaten Sumedang, dengan fokus permasalahan bagaimana model fasilitasi belajar yang dapat memberdayakan kelompok pelaku usaha kecil dalam mengembangkan kemandirian usaha produktifnya?. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan program pemberdayaan pada masyarakat pelaku usaha kecil melalui model fasilitasi belajar. Model fasilitasi belajar dirumuskan berdasarkan dukungan teoritis yang mengkaji tentang: konsep pembelajaran, pemberdayaan dan usaha kecil. Disain penelitian menggunakan Research and Development, dengan metode studi kasus, deskriptif, dan uji eksperimen. Analisis data menggunakan analisis kualitatif  dan kuantitatif, dengan sampel penelitian 30 orang diambil secara purposif. Temuan penelitian ini: (1) secara alamiah dalam menjalankan usahanya anggota kelompok dihadapkan pada keterbatasan pengetahuan, sikap dan keterampilan, sehingga mereka membutuhkan fasilitasi belajar, (3) kegiatan model fasilitasi belajar adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan penilaian pembelajaran, (4) uji coba model menunjukan hasil efektif, dengan indikator: pertama adanya keterlibatan aktif anggota kelompok. Kedua, data nilai pre-test dan post-tes menunjukkan angka signifikan. Kesimpulan penelitian adalah bahwa model fasilitasi belajar dipandang efektif dan berimplikasi  teoritis dan praktis.
MERANCANG MODEL BLENDED LEARNING DESIGNING BLENDED LEARNING MODEL Uwes Anis Chaeruman
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol. 17 No. 4, Desember 2013
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.123 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v17i4.577

Abstract

Dalam era komunikasi instan dewasa ini, cara belajar dan proses pembelajaran telah berubah. Kondisi ini membawa pembelajaran ke era e-learning di mana upaya belajar dan membelajarkan dapat difasilitasi dengan teknologi informasi dan komunikasi. Mengkombinasikan teknologi informasi dan komunikasi yang tepat (blended learning) merupakan salah satu isu penting dalam merancang e-learning yang baik. Oleh karena itu diperlukan semacam panduan (framework) yang dapat menjadikan acuan dalam memilih dan menentukan blended learning yang tepat sesuai kondisi dan tujuan yang ingin dicapai. Artikel ini mencoba memberikan framework untuk menjawab permasalahan tersebut. Framework yang coba ditawarkan dalam artikel ini mengacu pada konsep e-learning, empat kuadran seting belajara menurut Noord, dua kontinum strategi pembelajaran menurut Smaldino dkk., dan empat standar proses pembelajaran yang penulis adaptasi dari Horton. Framewrok tersebut adalah bahwa dam merancang blneded learning perlu mempertimbangkan beberapa unsur sebagai berikut: 1) upaya memfasilitasi pengalaman belajar sebagai esensi dari e-learning; 2) optimalisasi empat standar proses pembelajaran dalam konteks e-learning; 3) pemilihan dan penentuan strategi pembelajaran yang tepat; dan 4) pemilihan dan penentuan teknologi dan tool TIK yang tepat dalam empat kuadran seting belajar. In the era of instant communication, today, learning and instructional process has changed. This condition has led learning into a new era called e-learning, where learning process can be facilitated with proper use of information and communication technology. Combining information and communication technology appropriately to facilitate learning has become an impportant issue in e-learning design context. Therefore, we need such a kind of framework as a guidance in selecting and determining the appropritae blended learning strategy to address the learning objectives to be achieved. The framework offered in this article refered to the essential concept of e-learning itself, four quadrants of learning seting offered by Noord, two continuum of instructional strategy offerd by Smaldino et. al., and four standard of e-learning process adapted by author from the work of Norton. The framework offered are that in designing blended learning, we should consider the following aspects: 1) efforts to facilitate learning experiences as the essence of e-learning; 2) optimalization of the four learning process standard in the context of e-learning; 3) selection and determination of appropriate learning strategies; and 4) selection and determination of apropriate learning seting and ICTs used in four quadrants of learning seting. 
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BAHASA INGGRIS BERBASIS KOMPETENSI UNTUK MAHASISWA AKUNTANSI POLITEKNIK (Tahap Analisis Kebutuhan) I Nyoman Sukra
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol.18 No. 2 Agustus 2014
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (47.784 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v0i0.125

Abstract

Abstrak:Tujuan penelitian adalah untuk menghasilkan sebuah buku ajar berbasis kompetensi yang mampu meningkatkan kompetensi mahasiswa. Penelitian dilaksanakan pada Jurusan Akuntansi Politeknik Negeri Bali. Pengembangan bahan ajar menggunakan pendekatan model Dick & Carey dengan 2 tahapan waktu pelaksanaan. Tahapan I bertujuan menghasilkan draf buku ajar dan tahun II menghasilkan buku ajar. Tujuan tahun I direalisasikan dengan melakukan analisis kebutuhan. Data documenter dan hasil quessioner berupa informasi selanjutnya dianalisis scara deskriptif. Dari analisis ini ditemukan 12 standar kompetensi yang dapat dikembangkan menjadi 44 kompetensi dasar serta indikator pencapaiannya. Umur mahasiswa ada pada kisaran 18-19 tahun. Mereka rata-rata lulusan SMK dan SMU. Mahasiswa belum mamiliki motivasi belajar yang tinggi serta konsep Bahasa Inggris yang baik. Penilaian mereka terhadap pembelajaran Bahasa Inggris kurang memuaskan. Hal ini dikarenakan para dosen sering menggunakan metode pembelajaran konvensional serta jarang melakukan orientasi dalam pembelajaran. Buku Bahasa Inggris pegangan mahasiswa belum memenuhi kriteria sebuah buku ajar. Dengan mengacu pada hasil analisis kebutuhan dan kriteria dari sebuah buku ajar maka tersusunlah draf buku ajar berbasis kompetensi dengan materi pokok listening, speaking, reading dan writing. Pembelajarannya berorientasi pada pendekatan konstruktivisme dengan metode Student Center Learning (SCL). Tahapan pembelajarannya terdiri dari: pendahuluan yang meliputi orientasi, penggalian ide dan pengetauan awal; pembelajaran inti meliputi rekonstruksi dan aplikasi ide; dan penutup meliputi tanya jawab, penarikan kesimpulan dan evalusi dengan menggunakan formatif tes yang dikemas dalam tes uji kompetensi.Kata kunci: pengembangan, Bahan Ajar Bahasa Inggris, kompetensi Abstract:The aim of this research is to provide an instructional book, which can improve the English communicative competence of the students. This research and development was conducted at the Accounting Department of Bali State Politeknik in the year 2014. This research applied the research and development by Dick & Carey and was planned for 2 years. In the first year, the needs analysis was done in order to result in the prototype of the instructional material. In the second year, the research will be continued to provide the instructional book. The documenter data and the result of questioner in form of information then analyzed descriptively. The result of the analysis identified 12 standards of competences and 44 basic competences. The average age of the first semester students of the Accounting Department were 18-19 years. They graduated from SMK and SMU. However, they did not have high motivation and good English concept yet. Their evaluation to the English instructional was less fulfilled as the lecturers often applied a conventional teaching method and seldom did instructional orientation. The books used by the students did not meet the criteria of an instructional book yet. Based on the result of the need analysis and the characteristics of a instructional book, the prototype of the instructional book, as the final product of this first year reseach, was develoved with a reference to standards of competences and basic competences and the indicators of the achievement. The basic material of this book are listening, speaking, reading and writing with constructivis approach and Student Center Learing oriented. The steps of the instructional activity consist of introduction, which envelops orientation, eliciting idea, and prior knowledge; main activity envelops reconsruction and applicaton of ideas; and closing envelops questioning and answering, conclusion, and evaluation by using formatif test of competence.Key words: development, English Instructional Material, competence.
PENYELENGGARAAN SIARAN TELEVISI UNTUK PENDIDIKAN DI INDONESIA: SEBUAH KAJIAN HISTORIS Sudirman Siahaan; Rahmi Rivalina
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol. 12 No. 2, Desember 2008
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (63.066 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v12i2.409

Abstract

Pada awalnya, gagasan untuk menyelenggarakan siaran televisi yang khusus berkiprah di bidang pendidikan/pembelajaran dimulai dari kerjasama Pusat Teknologi Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan (Pustekkom) dengan UNICEF/UNESCO memproduksi program televisi pendidikan/ pembelajaran untuk ditayangkan melalui stasiun televisi yang ada. Program yang diproduksi adalah mengenai pengembangan watak anak-anak. Keberhasilan yang dicapai dilanjutkan dengan pengembangan film serial Aku Cinta Indonesia (ACI) yang ditayangkan setiap hari Minggu oleh stasiun TVRI Jakarta. Melalui kerjasama dengan pemerintah Australia, Belanda, dan Kanada, gagasan untuk menyelenggarakan siaran televisi pendidikan/pembelajaran secara perlahanlahan mulai mengarah jelas. Sumber daya dipersiapkan dan demikian juga dengan programprogram pendidikan/pembelajaran yang akan ditayangkan. Kerjasama terhenti namun perjuangan untuk penyelenggaraan siaran televisi pendidikan/pembelajaran tiada pernah berhenti. Perjuangan berikutnya adalah menjalin kerjasama dengan perusahaan swasta, PT. Cipta Televisi Pendidikan Indonesia (grup PT. Lamtoro Gung Persada) yang pada akhirnya berhasil mendirikan stasiun Televisi Pendidikan Indonesia (Stasiun TPI). Melalui stasiun TPI ditayangkanlah programprogram pendidikan/pembelajaran yang dikenal dengan Siaran Televisi Pendidikan Sekolah (STVPS). Kerjasama yang disepakati berlangsung selama 15 tahun ternyata hanya dapat bertahap selama 5 tahun. Pada tahun 1997, PT. Medicitra Indostar mendedikasikan satu saluran khusus pada satelit Cakrawarta-1 untuk penyelenggaraan siaran televisi pendidikan melalui satelit siaran langsung (SSL). Kegiatan ini juga ternyata tidak berlangsung lama. Pada tanggal 12 Oktober 2004, perjuangan untuk menyelenggarakan siaran televisi yang secara khusus berkiprah di bidang pendidikan/pembelajaran menuai hasil dengan dicanangkannya Siaran Televisi Edukasi (TVE) oleh Menteri Pendidikan Abdul Malik Fadjar. Siaran TVE yang diawali dengan mengudara selama 2 jam tayang setiap harinya, kini meningkat menjadi 24 jam setiap harinya sejak tahun 2009.
INTENSITAS PEMANFAATAN SUMBER BELAJAR DAN SIKAP MAHASISWA PADA PROFESI GURU TERHADAP PRESTASI BELAJAR PROFESI KEGURUAN Eka Khristiyanta Purnama
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol.XVI No.2 Juni 2012
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1152.471 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v0i0.17

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui apakah ada perbedaan prestasi belajar profesi keguruan antara mahasiswa yang memiliki intensitas pemanfaatan sumber belajar tinggi dengan yang rendah, 2) mengetahui apakah ada perbedaan prestasi belajar profesi keguruan antara mahasiswa yang memiliki sikap pada profesi guru tinggi dengan yang rendah, 3) mengetahui apakah ada interaksi antara intensitas pemanfaatan sumber belajar dengan sikap pada profesi guru terhadap prestasi belajar profesi keguruan pada para mahasiswa. Penelitian ini merupakan penelitian Ex Post Facto yang datanya diambil setelah kegiatan berlangsung dengan jumlah populasi 155 mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas PGRI Yogyakarta. Teknik pengambilan sample dengan teknik Cluster Random Sampling dengan jumlah sample 80 mahasiswa. Teknik pengumpulan data dengan dua metode yaitu untuk variabel intensitas pemanfaatan sumber belajar dan sikap pada profesi guru digunakan angket, sedangkan variabel prestasi belajar profesi keguruan digunakan tes. Teknik analisa data dilakukan dengan teknik Analisa Varians (ANAVA) dengan taraf signifikansi á : 0.05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) ada perbedaan signifikan antara mahasiswa yang memiliki intensitas pemanfaatan sumber belajar tinggi dengan yang rendah mengenai prestasi belajar profesi keguruan yaitu P : 0.0110.05, 3) tidak ada interaksi antara intensitas pemanfaatan sumber belajar dengan sikap pada profesi guru terhadap prestasi belajar profesi keguruan pada para mahasiswa yaitu : : 0.520>0.05. Kesimpulan penelitian yaitu ada pengaruh signifikan antara intensitas pemanfaatan sumber belajar dan sikap pada profesi guru terhadap prestasi belajar profesi keguruan.
PENGEMBANG TEKNOLOGI PEMBELAJARAN: KEBUTUHAN PELUANG DAN TANTANGAN DI INDONESIA purwanto purwanto
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol.19 No. 2 Agustus 2015
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.678 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v19i2.157

Abstract

Abstrak:Tulisan ini menyajikan hasil analisis penulis mengenai kebutuhan akan peluang dan tantangan bagi pengembang teknologi pembelajaran, suatu jabatan fungsional baru yang dibina oleh Kemendikbud pada saat ini. Permasalahan yang diajukan adalah: (1) mengapa diperlukan pengembang teknologi pembelajaran; (2) bagaimana peluang untuk menduduki jabatan pengembang teknologi pembelajaran di lembaga pendidikan; dan (3) apakah tantangan yang dihadapi oleh pengembang teknologi pembelajaran saat ini. Hasil kajian literatur dan pengamatan terhadap perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) terkini menunjukkan bahwa PTP diperlukan karena beberapa hal berikut ini: (1) berkembangnya budaya kerja secara kolaboratif; 2) perlunya pembagian kerja karena disebabkan berkembangnya kawasan pekerjaan; (3) perubahan paradigma pembelajaran; dan 4) perkembangan pesat teknologi pembelajaran. PTP lahir sebagai akibat dari terjadinya hyperspesialisasi, yaitu pekerjaan yang sebelumnya dilakukan oleh satu orang menjadi dikerjakan oleh beberapa orang profesional yang berbeda untuk bagian-bagian yang lebih khusus. Penulis menyimpulkan bahwa jabatan PTP terbuka bagi yang memiliki kompetensi, karena: (1) telah menjadi kebijakan pemerintah; (2) kebutuhan yang terus meningkat akan aneka sumber belajar, media, dan digital learning object; dan (3) banyak lembaga pendidikan saat ini yang memanfaatkan teknologi pembelajaran. Selain itu, tantangan yang dihadapi PTP saat ini yaitu: (1) PTP harus kreatif dan inovatif mengembangkan model pembelajaran yang sesuai paradigma belajar abad 21; (2) PTP perlu meningkatkan kompetensi di bidang pembelajaran dan teknologi, khususnya mengenai media terbaru; dan (3) PTP perlu menunjukkan karya nyata dan menawarkan solusi atas permasalahan dalam pembelajaran.Kata Kunci: pengembang teknologi pembelajaran, perubahan paradigma, kompetensiAbstract:This paper presents the author’s analysis about the need for opportunity and challenges for Instructional Designers, a new functional position nurtured by the Ministry of Education and Culture recently. The proposed questions are: (1) why Instructional Designers are required; (2) how the oportunities for the people to hold an Instructional Designer post in an educational institution are; and (3) what challenges Instructional Designers face are. The result of literature review and observation towards the latest ICT development shows that Instructional Designers are required because of: (1) developing collaborative working culture; (2) the need for specification of jobs; (3) learning paradigm changes; and (4) fast ICT development. Instructional Designers were born as a result of Hyperspecialization. It is a job which is done by one person, which should then be done by some different professional persons to hold different more specific parts of the job. The author concludes that Instructional Designer post is open for those who has right competences, because: (1) it has become a government policy; (2) the need for various learning sources, media, and digital learning object is continuously increasing; (3) many educational institutions has been applying learning technology. Beside that, the challenges Instructional Designer face are: (1) Instructional Designers must be creative and innovative in developing learning models in accordance with the 21st learning paradigm; (2) Instructional Designers need to enhance their competency in the field of education and technology, especially the newest media; and (3) Instructional Deisgners should show their real work and offer the solutions for the whole problems in learning.Key Words: Instructional Designers; paradigm changes; competence
Guru Dan Portal Rumah Belajar Supandri - Supandri
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol. 22 No. 1, Juni 2018
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.961 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v21i3.325

Abstract

Adapun tujuan membahas dalam judul tulisan  ini adalah  membahas Guru  dan Portal Rumah Belajar. Berikut  kutipan dari Himpunan Peraturan Tentang Guru Kemdikbud Direktorat Jendral Pendidikan Dasar, 2013 bahwa  Guru adalah predikat pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada anak usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Sedangkan Portal Rumah Belajar  merupakan pintu besar layanan pembelajaran yang telah menyediakan  sistem manajemen pembelajaran atau lebih dikenal dengan Learning Management Syistem (LMS) adalah suatu perangkat lunak atau software untuk keperluan  administrasi,dokumentasi, laporan sebuah kegiatan, kegiatan belajar mengajar dan kegiatan secara online yang terhubung secara langsung ke internet dan materi pelatihan yang semuanya dilakukan secara  online.(Rumah Belajar Pustekkom Kemdikbud 2014).
Kumpulan Abstrak Redaksi Teknodik
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol.XVII No.1 Maret 2013
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.536 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v0i0.61

Abstract

PERAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASIDALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013ROLE OF INFORMATION AND COMMUNICATION TECHNOLOGYIN IMPLEMENTATION OF CURRICULUM 2013Oos M. AnwasPusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan, KemdikbudJalan R.E. Martadinata, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten(oos.anwas@kemdikbud.go.id) STUDI TENTANG KONTRIBUSI PUSTEKKOM TERHADAPPROGRAM “BERMUTU”STUDY OF THE CONTRIBUTION OF PUSTEKKOMTO THE “BERMUTU” PROGRAMWaldopoPusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan, KemdikbudJalan R.E. Martadinata, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten(waldopo@kemdikbud.go.id/waldopo@gmail.com)
PERANAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DALAM PENGEMBANGAN BANK SOAL DAERAH Rogers Pakpahan
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol. 20 No. 2, Desember 2016
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.75 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v20i2.240

Abstract

ABSTRAK: Masalah yang menjadi fokus kajian adalah mengenai peranan Teknologi Informasi dan Komunikasi(TIK) dalam pengembangan Bank Soal Daerah sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan di suatu wilayah.Tujuan kajian ini adalah untuk mendeskripsikan peranan TIK dalam pengembangan Bank Soal Daerah untukmeningkatkan mutu pendidikan. Proses pengembangan instrumen penilaian (soal standar) menggunakan internetdan komputer serta perangkatnya. Pengelolaan Bank Soal Daerah dapat dilakukan secara bersama antara satuanpendidikan dengan dinas pendidikan provinsi atau kabupaten/kota. Bank Soal Daerah dengan soal standar membantupara pendidik dalam pelaksanaan penilaian. Hasil penilaian digunakan untuk perbaikan dalam pembelajaransehingga terjadi peningkatan mutu pendidikan. Permintaan soal oleh satuan pendidikan dilakukan denganmemanfaatkan jaringan teknologi informasi atau melalui internet sehingga kerahasiaan soal terjamin. Kajian inimenyimpulkan bahwa pemanfaatan TIK berperan untuk mewujudkan Bank Soal Daerah dan pengembangan soalstandar yang digunakan oleh pendidik pada penilaian internal. Penggunaan soal standar oleh sekolah diharapkandapat meningkatkan mutu pendidikan melalui upaya sekolah menelusuri dan membandingkan hasil penilaianantarsekolah.Kata kunci: penilaian, bank soal daerah, mutu pendidikan, soal standar.ABSTRACT: The problem that is focused on in this study is about the role of Information and CommunicationTechnology (ICT) in the development of Regional Question-Bank in order to improve educational quality in theregion. The objective of this study is to describe the role of ICT in the Regional Question-Bank development toimprove educational quality. Regional Question-Bank management is carried out by educational units with provincial/district/city educational office. Regional Question-Bank with standardized questions supports teachers performingassessment. The assessment result is used to improve their teaching process so that the educational quality willimprove too. Question inquiry from the educational units is served through the internet that keeps its confidentiality.Thisstudy concludes that ICT plays roles in Regional Question-Bank development as well as its standardized contentthat will be used by teachers for their internal assessment. The usage of standardized questions by schools isexpected to be able to improve educational quality through inter-school assessment comparison.Keywords: assessment, regional question-bank, educational quality,standardized questions.

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Jurnal Teknodik Vol. 29 No. 1, Juni 2025 Jurnal Teknodik Vol. 28 No. 2, Desember 2024 Jurnal Teknodik Vol. 28 No. 1, Juni 2024 Jurnal Teknodik Vol. 27 No. 2, Desember 2023 Jurnal Teknodik Vol. 27 No. 1, Juni 2023 Jurnal Teknodik Vol. 26 No. 2, Desember 2022 Jurnal Teknodik Vol. 26 No. 1, Juni 2022 Jurnal Teknodik Vol.XVI No.4 Desember 2012 Jurnal Teknodik Vol.XVI No.3 September 2012 Jurnal Teknodik Vol. 25 No. 2, Desember 2021 Jurnal Teknodik Vol. 25 No. 1, Juni 2021 Jurnal Teknodik Vol. 24 No. 2, Desember 2020 Jurnal Teknodik Vol. 24 No. 1, Juni 2020 Jurnal Teknodik Vol. 23 No. 2, Desember 2019 Jurnal Teknodik Vol. 23 No. 1, Juni 2019 Jurnal Teknodik Vol. 10 No. 18, Juni 2006 Jurnal Teknodik Vol. 09 No. 16, Juni 2005 Jurnal Teknodik Vol. 8 No. 14, Juni 2004 Jurnal Teknodik Vol. 17 No. 4, Desember 2013 Jurnal Teknodik Vol,17 No. 3, September 2013 Jurnal Teknodik Vol. 12 No. 2, Desember 2008 Jurnal Teknodik Vol. 10 No. 19, Desember 2006 Jurnal Teknodik Vol. 8 No. 15, Desember 2004 Jurnal Teknodik Vol. 22 No. 2, Desember 2018 Jurnal Teknodik Vol. 22 No. 1, Juni 2018 Jurnal Teknodik Vol. 14 No. 1, Juni 2010 Jurnal Teknodik Vol. 13 No. 1, Juni 2009 Jurnal Teknodik Vol. 12 No. 1, Juni 2008 Jurnal Teknodik Vol. 11 No. 3, Agustus 2007 Jurnal Teknodik Vol. 21 No. 2, Desember 2017 Jurnal Teknodik Vol. 20 No. 2, Desember 2016 Juni Jurnal Teknodik Vol. 20 No. 1 Juni 2016 Jurnal Teknodik Vol.19 No. 2 Agustus 2015 Jurnal Teknodik Vol.19 No. 1 April 2015 Jurnal Teknodik Vol.18 No. 3 Desember 2014 Jurnal Teknodik Vol.18 No. 2 Agustus 2014 Jurnal Teknodik Vol.18 No.1 April 2014 Jurnal Teknodik Jurnal Teknodik Vol.XVII No.2 Juni 2013 Jurnal Teknodik Vol.XVII No.1 Maret 2013 Jurnal Teknodik Vol.XVI No.2 Juni 2012 Jurnal Teknodik Vol. XV No.2 Desember 2011 Jurnal Teknodik Vol.XVI No.1 Maret 2012 Jurnal Teknodik Vol.XV No.1 Juli 2011 More Issue