cover
Contact Name
Made Nopen Supriadi
Contact Email
jurnal.sttab@gmail.com
Phone
+6282307662979
Journal Mail Official
jurnal.sttab@gmail.com
Editorial Address
Jl. Sadang 2, No. 58, RT/RW: 007/002, Kel. Lingkar Barat, Kec. Gading Cempaka
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Manna Rafflesia
ISSN : 23564547     EISSN : 27210006     DOI : 10.38091
Core Subject : Religion,
Manna Rafflesia (Jurnal Teologi Agama Kristen) yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu (STTAB). Jurnal ini diterbitkan sebagai upaya untuk melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Secara khusus dalam bidang penelitian. Jurnal ini diterbitkan 2 kali dalam setahun (per 6 bulan), yaitu pada Bulan April dan Oktober. Jurnal Manna Rafflesia merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 229 Documents
IMPLEMENTASI MEMBANGUN RELASI BERDASARKAN EFESUS 5:1-2 TERHADAP KEUTUHAN JEMAAT SEBAGAI ANGGOTA TUBUH KRISTUS Santoso, Joko
Manna Rafflesia Vol. 10 No. 2 (2024): April
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38091/man_raf.v10i2.413

Abstract

Abstraksi: Penelitian ini membahas tentang keaneka-ragaman budaya, sosial, suku, bahasa dan bangsa berpotensi timbulnya konflik multi dimensi yang berdampak pada relasi dan interaksi. Tujuan penelitian meletakkan dasar membangun hubungan berdasarkan Efesus 5:1-2. Metode yang digunakan Deskriptif Kuantitatif. Tujuan penelitian ini untuk mengukur seberapa besar pemahaman dan praktek membangun relasi dalam kehidupan bersama sebagai anggota tubuh Kristus. Hasilnya didapatkan: 1). Paham dan Praktek makna menjadi penurut sebesar 45,5 % dan 34,5%, 2). Paham dan Praktek makna hidup dalam kasih sebesar 58,2 % dan 69,1%. 3). Paham dan Praktek makna teladan Kristus sebesar 65,5% dan 74,5%. 4). Paham dan Praktek makna memberi korban yang berkenan sebesar 94,5 dan 74,5%. Simpulan aspek paham memberi korban yang berkenan pada tingkat “sangat baik”, sedangkan aspek praktek pada mengikuti teladan Kristus pada tingkat “lebih baik”yang menunjukkan bahwa tidak secara otomatis memiliki pemahaman dapat dipraktekkan, tetapi perlu diperjuangkan.
TITIK TEMU MORALITAS DAN PLURALISME: REFLEKTIF ETIS TEOLOGIS DALAM LANSKAP TEOLOGIA YANG BERAGAM Natasaputra, Esther; Marampa, Elieser R; Undras, Indaldo
Manna Rafflesia Vol. 10 No. 2 (2024): April
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38091/man_raf.v10i2.419

Abstract

Moralitas yang rendah sangat berdampak pada hilangnya sikap toleransi antar masyarakat, yang mana hal itu dapat menimbulkan kekerasan fisik maupun non fisik baik di dunia digital maupun dunia nyata. Penelitian ini bertujuan untuk membangun kehidupan kekristenan yang mengedepankan kebersamaan dalam teologi beragam demi membangun bangsa dan negara yang hidup dalam damai sejahtera dan aman. Menggunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literatur maka dapat disimpulkan bahwa titik temu moralitas dan pluralisme harus dapat berkontribusi pada pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana nilai-nilai etika teologis dapat diintegrasikan secara efektif dalam konteks pluralistik, mendorong dialog antaragama, dan menciptakan dasar untuk tindakan moral bersama di tengah-tengah keragaman teologis. Maka dalam menuangkan kajian teoritik moralitas dan pluralisme sebagai titik temu dan tantangan moralitas dan pluralisme dalam kemajemukan, diperlukan konsep dan nilai yang diaktualisasikan dalam teologi beragam sebagai dasar titik temu kekristenan.
STRATEGI PENGINJILAN KONTEKSTUAL BERDASARKAN KISAH PARA RASUL 17:23 BAGI ALIRAN KEPERCAYAAN MALESUNG MINAHASA SULAWESI UTARA Dien, Berens Melvil Deweyan
Manna Rafflesia Vol. 10 No. 2 (2024): April
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38091/man_raf.v10i2.428

Abstract

Tulisan ini berisi satu studi dalam mengaplikasikan pendekatan Paulus mengenai satu metode yang didasarkan pada Kisah Para Rasul 17:23 untuk memperkenalkan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kepada masyarakat suku Minahasa yang memeluk kepercayaan Malesung sebagai satu system keagamaan yang memiliki kemiripan konteks seperti yang dihadapi Paulus di Atena. Malesung sebagai satu sistem kepercayaan tidak masuk dalam hubungan perjanjian secara eksklusif dengan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, karena jika tidak demikian maka para pemrakarsanya tentu tidak akan meninggalkan iman dan identitas mereka sebagai orang Kristen. Malesung memiliki sejumlah nilai mendasar yang mirip dengan yang dimiliki Humanisme sebagai satu agama baru yang sedang mendominasi semua aspek kehidupan manusia, sehingga kemungkinan besar keduanya akan bisa melebur. Menggunkan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literature dan eksegesa teks dalam Alkitab maka dapat disimpulkan bahwa, mengkomunikasikan strategi penginjilan kontekstual berdasarkan Kis 17:23 bagi aliran kepercayaan malesung Minahasa Sulawesi Utara, adalah mengetahui secara jelas tentang karakteristik aliran kepercayaan malesung yang terkait dengan unsur-unsur dasar kepercayaan Malesung. Dari hasil eksegesa dan dasar Teologis dari Kisah Para Rasul 17:23, prinsip penginjilan yang kontekstual tidak boleh goyah bahwa isi Injil (Yesus Kristus sudah mati, dikuburkan, dan bangkit untuk menyelesaikan persoalan dasar kemanusiaan itu sendiri, yakni dosa) tidak berubah, cara menyampaikannya bisa berubah disesuaikan dengan era apapun yang dicanangkan manusia.
MULTI-OIKOS DALAM ULTIMATE OIKOS: RELASI INNER LIFE ALLAH SEBAGAI BASIS KONSTRUKSI HOME Wowor, Alter Imanuel; Rampengan, Priscila Feibe; Sianturi, RJ Natongam; Toisuta, Fiona Anggraini
Manna Rafflesia Vol. 10 No. 2 (2024): April
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38091/man_raf.v10i2.430

Abstract

Ketidakmampuan nalar manusia untuk memahami secara utuh tentang dirinya sendiri dan berbagai hal yang berada di dalam alam semesta ini merupakan suatu kenyataan atas natur manusia sebagai makhluk yang terbatas atau tidak sempurna. Dalam rangka menjembatani kesenjangan atau keterbatasan nalarnya, manusia cenderung menggunakan metafora untuk menjelaskan berbagai hal yang dirasa asing atau sulit untuk dipahami secara komprehensif. Pada dasarnya, metafora ini sendiri merupakan salah satu instrumen untuk berteologi. Menggunakan pendekatan metafora untuk memandang keberadaan multi-oikos dapat membuat seorang teolog menemukan atau merumuskan berbagai gagasan teologis yang segar dan relevan dalam berbagai konteks. Penelitian ini sendiri dikerjakan dengan menggunakan pendekatan kualitatif, secara khusus lewat bantuan studi pustaka. Lewat pendekatan teologi konstruktif, artikel ini menegaskan bahwa gagasan Allah sebagai The Ultimate Oikos merupakan dasar untuk memaknai oikos dalam berbagai varian skala dan bentuknya. Selain itu, dengan menggunakan lensa Trinitas sebagai basis teologis, artikel ini membahas tentang relasi (being) dan aksi (doing) dari ketiga pribadi Allah yang harus dimaknai secara simultan dalam rangka menjadi fundamen atas nilai-nilai esensial dari oikos. Dengan demikian, artikel ini menawarkan suatu paradigma kreatif dan imajinatif untuk mengonstruksi suatu teologi multi-oikos sebagai basis dalam berteologi. Artikel ini diakhiri dengan suatu refleksi yang memperlihatkan bahwa seorang teolog perlu memiliki kesadaran dan kepekaan untuk mempertimbangkan keberadaan multi-oikos dalam aktivitas berteologinya.
TEOLOGI KOMUNIKASI DAN MISI KRISTEN: STRATEGI EFEKTIF UNTUK MENJANGKAU GENERASI PENERUS DI ERA DIGITAL Imannuel, Leo; Sinlae, Demsi Yanto; silaen, Riko
Manna Rafflesia Vol. 10 No. 2 (2024): April
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38091/man_raf.v10i2.432

Abstract

Perubahan cara melakukan aktivitas berkomunikasi verbal maupun secara digital atau pesan dalam media sosial saat ini bagi generasi penerus mengunakan media gadget dan internet adalah hal yang wajar. Namun adanya perubahan yang dapat dilihat dari realita dan problematika dalam keluarga Kristen muncul karena ketidaksiapan menghadapi perubahan cara berkomunikasi di era digital. Oleh sebab itu tujuan dari penelitian ini supaya gereja dan kekristenan dapat memaksimalkan komunikasi dan misi Kristen: sebagai upaya strategi yang efektif dalam menjangkau generasi penerus di era digital untuk membawa perubahan dan penjakauan jiwa. Maka dapat dissimpulkan bahwa gereja harus berani merangkul dan memanfaatkan teknologi dengan arif fan biajkasan, sehingga misi Kristen dapat tetap relevan dan efektif dalam menyebarkan ajaran Injil di era digital kepada generasi penerus. Dan tentunya membawa mereka dalam dunia pemuridan sehingga regenerasi tersu diupayakan dalam membangun misi Kristen, maka gereja mampu memberikan kontribusi yang aktif dan berkelanjutan bagi misi Kristen, khususnya bagi gereja dan kekristenan untuk lebih memahami pentingnya teologi komunikasi dalam konteks misi Kristen. Selanjutnya kekristenan mampu memberikan strategi dalam mengaktualisasikan misi Kristen bagi generasi penerus dan menjawab tantangan komunikasi bagi generasi era digital ini. Maka gereja dapat memanfaatkan teknologi dan media sosial dalam melakukan strategi efektif untuk komunikasi misi kristen.
KAJIAN ALKITAB TENTANG CARA MENGKOMUNIKASIKAN DAN MENGENDALIKAN AMARAH Gulo, Manase; Panggabean, Saut Maruli P; Ayawaila, Estherlina Maria
Manna Rafflesia Vol. 10 No. 2 (2024): April
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38091/man_raf.v10i2.444

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk memberikan rumusan tentang cara mengkomunikasikan dan mengendalikan amarah menurut teori alkitab baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Rumusan teori ini dibuat sebagai pedoman bagi setiap orang yang sedang dikuasai amarah agar mampu menemukan cara mengkomunikasikan dan mengendalikan amarah. Mengingat banyak orang yang tidak bisa mengkomunikasikan dan mengendalikan amarah. Akibatnya ada yang melakukan tindakan-tindakan criminal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian literature (literature review), dengan pendekatan kajian alkitab. Hasil Penelitian menyatakan bahwa alkitab telah memberikan pedoman mengenai cara mengkomunikasikan dan mengendalikan amarah yakni: Pertama, apabila marah, tempatnya di tempat tidur atau di kamar tidur. Kedua, Apabila ada masalah yang harus dilakukan adalah lekas menyelesaikan masalah tersebut. Durasi waktu singkat sebelum matahari terbenam. Ketiga, Gaya komunikasi dalam menyampaikan amarah hendaknya dengan lemah lembut karena perkataan lemah lembut mampu menyeselesaikan amarah dan konflik. Lemah lembut yang dimaksud dengan santun. Keempat, apabila sudah terjadi masalah karena perlakuan orang lain, atau tekanan hidup harus memiliki ketahanan dalam bersabar sesuai prinsip Alkitab cepat mendengar dan lambat marah. Alkitab menyatakan dengan tegas bahwa keempat teori ini mampu mengatasi amarah yang tidak terkontrol.
TRANSFORMASI HIDUP DALAM KEKUDUSAN: UPAYA PENINGKATAN MORALITAS KEPEMIMPINAN GEREJA Sigarlaki, Indra Richard
Manna Rafflesia Vol. 10 No. 2 (2024): April
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38091/man_raf.v10i2.445

Abstract

Kekudusan dan moralitas saat ini memang harus menjadi bagian penting dalam kepemimpinan Gereja dan di dalam komunitas gereja. Kajian transformasi hidup dalam kekudusan merupakan peran dan upaya yang dilakukan oleh kepemimpinan gereja dalam meningkatkan moralitas kepemimpinan gereja dan juga secara umum kepada umat Tuhan. Sehingga peran dari transformasi ini memperkuat komitmen pemimpin dan jemaat gereja terhadap kekudusan hidup. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literature maka dapat disimpulkan bahwa adanya kekristenan harus memiliki pemahaman terkait kajian teoretik kekudusan dalam etis teologis, di mana hal itu sangat menekankan moralitas dan kepemimpinan Kristen dalam peran kepemimpinan gereja untuk membangun kekudusan hidup, maka diperlukan strategi peningkatan moralitas dalam kepemimpinan gereja. Strategi-strategi yang digunakan oleh pemimpin gereja, seperti pembinaan spiritual, menekankan ajaran moral, dan pembangunan komunitas yang jauh dari keduniawian, dan tentunya untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan moralitas berdasarkan Alkitabaiah yang radikal dan berkelanjutan. Yang memberikan arah moral yang jelas, tetapi juga mempromosikan integrasi nilai-nilai kekudusan dalam tindakan sehari-hari para pemimpin gereja dan jemaat gereja, sehingga menciptakan dampak positif dalam pembentukan karakter dan kualitas kehidupan spiritual komunitas gereja.
GEREJA DAN KETAHANAN PANGAN: REFLEKSI TEOLOGIS DARI TRADISI AGRARIS UMAT ALLAH DALAM PENGELOLAAN TANAH Kadarmanto, Mulyo; Hepi, Ike Albert
Manna Rafflesia Vol. 11 No. 1 (2024): Oktober
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38091/man_raf.v11i1.322

Abstract

This writing aims to investigate the life of Israel as an agrarian society in the management and utilization of land products. This is very necessary to address the food crisis as a global challenge that requires the role of all levels of society to overcome it, including the church in it. This research was conducted using qualitative research, through a literature study approach. Then it was found that the people's food security is one of God's goals in regulating the lives of His people through the Torah law which regulates the governance of Israel's agrarian life. This is the foundation that offers a community of believers to participate in strengthening food security. A manifestation of concern that goes beyond the boundaries of faith and nationality as the church's witness in overcoming food insecurity.
THEOLOGICAL AND PSYCHOLOGICAL STUDIES: THE FINAL DESTINATION OF DEAD BABIES AND THE IMPLICATIONS FOR THE NIAS ISLANDS LUTHERAN CONGREGATION Gulo, Fenius; Maria, Raisa Fransiska
Manna Rafflesia Vol. 11 No. 1 (2024): Oktober
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38091/man_raf.v11i1.396

Abstract

The death of babies on the Nias Islands, where most of the population adheres to Lutheran Christian beliefs, has become a serious problem from a theological and psychological perspective. Theologically, congregations are confused about the certainty of their baby's destination or safety when they die. The state of grief and confusing doctrines about soteriology related to dead babies have intimidated the psychology of parents whose children died as babies. To overcome this problem, researchers conducted a study using qualitative research methods. Based on theological investigation, the destination of a baby's death depends on the will of God, who is abundant in grace. He was able to choose someone to save from the womb. Meanwhile, from a psychological perspective, it is denied that parents whose babies die experience psychological disorders. Theological and psychological studies regarding the final destination of dead babies for the Nias Islands Lutheran congregation are the novelty of this research.
BERMISI DALAM MASYARAKAT MAJEMUK MELALUI DIALOG DAN KERJA SAMA Illu, Jonidius; Duapadang, Enry Yakobus; Borrong, Robert P
Manna Rafflesia Vol. 11 No. 1 (2024): Oktober
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38091/man_raf.v11i1.398

Abstract

Indonesia is a pluralistic society because its citizens consist of various ethnic groups, races, religions, and social groups. Missions in a pluralistic society certainly have their own characteristics and uniqueness. This paper is a study of church missions in the context of a pluralistic society, taking West Sulawesi as the location of the research. The research method used to write this article is a qualitative method in the library, supplemented by field observations by observing the phenomena of church members' lives and interviews with several church leaders. This study employs a qualitative method with a case study approach, involving in-depth interviews with church leaders, congregation members, and other religious figures involved in interfaith dialogue and cooperation.. The results of the study indicate that honest and open dialogue, along with cooperation in social and humanitarian projects, can be effective tools for building mutually beneficial relationships between religious communities. This approach not only strengthens the role of the church in society but also helps to overcome prejudices and conflicts that may arise due to religious and cultural differences. These findings highlight the importance of cultural understanding, empathy, and communication skills in the implementation of missions in a pluralistic society. The study concludes that missions focusing on dialogue and cooperation are not only relevant but also essential in promoting peace and harmony in a pluralistic society. Practical recommendations are provided for churches and mission organizations in developing programs that support interfaith integration and cooperation, as well as advocating for policies that encourage inclusiveness and tolerance in society.