cover
Contact Name
Made Nopen Supriadi
Contact Email
jurnal.sttab@gmail.com
Phone
+6282307662979
Journal Mail Official
jurnal.sttab@gmail.com
Editorial Address
Jl. Sadang 2, No. 58, RT/RW: 007/002, Kel. Lingkar Barat, Kec. Gading Cempaka
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Manna Rafflesia
ISSN : 23564547     EISSN : 27210006     DOI : 10.38091
Core Subject : Religion,
Manna Rafflesia (Jurnal Teologi Agama Kristen) yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu (STTAB). Jurnal ini diterbitkan sebagai upaya untuk melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Secara khusus dalam bidang penelitian. Jurnal ini diterbitkan 2 kali dalam setahun (per 6 bulan), yaitu pada Bulan April dan Oktober. Jurnal Manna Rafflesia merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 229 Documents
RESOLUSI KONFLIK: MEMAKNAI PENGAMPUNAN DALAM MATIUS 6:12, 14-15 DAN IMPLIKASINYA Marisi, Candra Gunawan; Hariyanto, Henok
Manna Rafflesia Vol. 10 No. 2 (2024): April
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38091/man_raf.v10i2.349

Abstract

Konflik adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan manusia khususnya dalam konteks kemajemukan masyarakat di Indonesia. Konflik interpersonal dan antar kelompok tidak bisa dihindari dalam kehidupan manusia khususnya dalam masyarakat majemuk. Dampak negatif tersebut diantaranya retaknya hubungan interpersonal atau antar kelompok, kehancuran harta benda, aksi kekerasan dan bahkan sampai hilangnya nyawa seseorang. Penelitian ini bertujuan menganalisa petisi kelima Doa Bapa Kami tentang makna pengampunan secara vertikal dan horizontal dalam Matius 6:12, 14-15 sebagai resolusi konflik. Metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, serta dengan analisis dan tinjauan pustaka untuk meneliti sejarah bagaimana konteks sosio-politik-ekonomi pembaca pertama Injil Matius pada abad pertama. Hasil yang ditemukan adalah manusia dapat mengampuni dosa dan hutang sesamanya, karena telah terlebih dahulu mengalami pengampunan dari Tuhan, dan yang kedua adalah resolusi konflik bukan untuk mendapatkan, menerima atau mencari keuntungan, melainkan rela untuk berkorban, memberi, sebagaimana Allah memberikan Anak-Nya yang Tunggal untuk melakukan pendamaian (resolusi konflik).
DINAMIKA AGAMA DAN POTENSI KONFLIK DALAM RISET CLIFFORD GEERTZ: URGENSI MODERASI BERAGAMA DAN RELEVANSI DENGAN TEOLOGI KRISTEN Mawikere, Marde Christian Stenly; Hura, Sudiria; Tulung, Virginia Rebeca
Manna Rafflesia Vol. 10 No. 2 (2024): April
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38091/man_raf.v10i2.364

Abstract

Artikel ini membahas dinamika agama dan potensi konflik dengan memanfaatkan perspektif Clifford Geertz sebagai kerangka teoretis utama. Penelitian ini melibatkan analisis mendalam terhadap interaksi agama-agama dan potensi konflik yang muncul dalam masyarakat, dengan fokus khusus pada urgensi penerapan konsep moderasi beragama. Dalam konteks ini, studi ini menjelajahi relevansi konsep tersebut dengan teologi Kristen sebagai satu kerangka referensi. Pendekatan ini tidak hanya menggali aspek sosial dan budaya, tetapi juga mendorong pemahaman lebih mendalam terhadap dinamika agama, secara khusus teologi Kristen dalam konteks relevansi dan kontribusinya dalam konsep moderasi beragama.
HOMILETIK INTERKULTURAL: BERKHOTBAH DI TENGAH MASYARAKAT METROPOLITAN Christi, Apin Militia
Manna Rafflesia Vol. 10 No. 2 (2024): April
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38091/man_raf.v10i2.367

Abstract

Menjadi pengkhotbah yang berhasil di kota Metropolitan dibutuhkan kecakapan budaya. Pengkhotbah harus membangun relasi dan jembatan antara pendengar yang berasal dari berbagai latar belakang agama, tingkat pendidikan, status sosial, dan tentunya suku. Oleh karena itu, dibutuhkan prinsip dan cara berkhotbah interkultural agar masyarakat metropolitan dapat memahami pesan yang hendak disampaikan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan literatur review. Hasil penelitian menunjukkan bahwa homiletik interkulural dapat tercapai apabila sang pengkhotbah memiliki kecakapan komunikasi lintas budaya dengan pertolongan Roh Kudus sebagai Roh yang menembus batas budaya, menyeimbangkan antara isu budaya lokal dengan kontemporer, menggunakan teknologi, mengundang pengkhotbah dari budaya lain, dan tentunya kesadaran untuk mengembangkan misi serta ibadah multikultural.
KITAB YUNUS DAN REVIVAL: SEBUAH STUDI LITERER-TEOLOGIS Nggadas, Deky Hidnas Yan
Manna Rafflesia Vol. 10 No. 2 (2024): April
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38091/man_raf.v10i2.370

Abstract

Artikel ini membahas tentang tema kebangunan (revival) dalam Kitab Yunus. Secara sepintas tampak sulit membahas revival dalam kitab Yunus. Namun ini menjadi tantangan untuk menemukan kebutuhan revival yang didasarkan pada kitab Yunus. Dengan menggunakan metode analisis literer-teologis, Kitab Yunus dan Revival akan dipaparkan dalam penelitian ini. Lebih spesifik, penulis mengamati sejumlah leithworter (pengulangan kata-kata kunci) dalam seluruh Kitab Yunus. Pengulangan kata-kata kunci itu menggarisbawahi ironi karakter spiritual dari tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Melalui analisis tersebut, penulis menggarisbawahi kontribusi Kitab Yunus mengenai kebutuhan akan revival di dalam Kekristenan masa kini. Hasil penelitian ini menemukan dan menjelaskan kontribusi kitab Yunus akan revival.
AMNESTI: HAK PREROGATIF ILAHI YESUS YANG DIBERIKAN KEPADA PENJAHAT DI KAYU SALIB DILIHAT DARI SISI HUKUM POSITIF Christiaan, John Abraham; Simon, Simon; Dully, Stefanus
Manna Rafflesia Vol. 10 No. 2 (2024): April
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38091/man_raf.v10i2.381

Abstract

Penelitian ini hendak membuktikan suatu kata “amnesti” yang di dalam hukum positif Indonesia dikenal adanya pengampunan atau penghapusan hukuman yang diberikan Presiden kepada orang atau kelompok yang bersalah melakukan tindak pidana berdasarkan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap (in kracht van gewisjde). Amnesti yang diberikan oleh Presiden apakah dapat langsung diberikan ataukan menempuh berbagai prosedur serta membutuhkan waktu berapa lama, dan apa konsekwensinya ketika seseorang atau suatu kelompok telah menerima Amnesti. Dalam teologi Kristen, juga dikenal adanya amnesti atau pengampunan dosa. Pengampunan dosa diperlukan bagi seseorang untuk dapat mencapai Firdaus. Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan, dan juga melalui penelusuran dari berbagai sumber untuk menggali dan menemukan makna perkataan Yesus sebagaimana pada judul penilitian. Temuan penelitian ini mengemukakan bahwa pemberian amnesti kepada penjahat diatas kayu salib yang dilakukan Yesus menunjukan Ia adalah Tuhan pemilik kuasa yang dapat mengampuni dosa manusia.
PENERAPAN NILAI-NILAI ETIKA DAN MORAL DALAM KONTEKS CARA HIDUP ORANG KRISTEN BERDASARKAN 1 PETRUS 2:11-12 Silaen, Riste Tioma
Manna Rafflesia Vol. 10 No. 2 (2024): April
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38091/man_raf.v10i2.386

Abstract

Kehidupan sosial orang Kristen selalu dihadapkan pada tuntutan untuk memiliki dasar yang kuat dalam aspek etika dan moralitas, dengan pemahaman yang mendalam mengenai apa yang diizinkan, layak, dan pantas, serta menanggung tanggung jawab sebagai pembawa kebenaran dan kebajikan. Namun, tidak semua individu Kristen merespons panggilan ilahi untuk mengikuti jalan kebenaran dan kebajikan tersebut. Sebagian mengalami kecenderungan egois yang berpotensi mengarah pada perbuatan jahat yang dipicu oleh keinginan duniawi, yang berpotensi merugikan diri sendiri, keluarga, komunitas, dan bahkan negara. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini dilakukan untuk memberikan landasan Alkitabiah yang menggambarkan bagaimana orang percaya dapat membangun etika dan moral dalam konteks sosial. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan eksegese terhadap 1 Petrus 2:11-12. Hasil penelitian menunjukkan bahwa etika dan moralitas orang Kristen melibatkan penolakan terhadap keinginan-keinginan duniawi, perlawanan terhadap kejahatan, pelaksanaan perbuatan baik, dan penghormatan kepada Tuhan. Gaya hidup yang bertentangan dengan prinsip-prinsip tersebut harus dihindari karena berpotensi mengganggu harmoni sosial. Orang Kristen diharapkan untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, yaitu dengan ketaatan, penolakan diri, dan fokus pada hal-hal yang baik.
HANS GEORG GADAMER'S HERMENEUTICS VS BIBLICAL HERMENEUTICS: A COMPARATIVE ANALYSIS Latumahina, Dina Elisabeth; Sudarmanto, Gunaryo
Manna Rafflesia Vol. 10 No. 2 (2024): April
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38091/man_raf.v10i2.389

Abstract

At first, Hermeneutics as an interacting science was only used among the church as a method of Scripture Interpretation, with a standard system or method of hermeneutics. This hermeneutics is often referred to as Traditional Hermeneutics or Biblical Hermeneutics. However, in its development, Hermeneutics came out of biblical studies into the scope of philosophy, art, literature, and history. This hermeneutics is referred to as New Hermeneutics and appears in various variants. The purpose of this article is to introduce the New Hermeneutics system of the Postmodernist era, specifically Hans Georg Gadamer's Hermeneutics, and compare it objectively with the Biblical Hermeneutics System with the standard Grammatical-Historical method, which is often used to interpret the Bible. This study uses the comparative analysis study method to find fundamental similarities and differences between Hans Georg Gadamer's hermeneutic concepts and Biblical hermeneutics. Finally, the author makes conclusions and recommendations for Bible interpreters who are doing hermeneutics.
MENGUNGKAP “VISI KEJAHATAN” DALAM PERUMPAMAAN SEPULUH GADIS (MAT. 25:1-13) Siburian, Carel Hot Asi
Manna Rafflesia Vol. 10 No. 2 (2024): April
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38091/man_raf.v10i2.390

Abstract

Perumpamaan sepuluh gadis selalu dibaca dengan pendekatan alegoris; bahwa lima gadis bodoh yang tidak mempersiapkan minyak ketika menanti sang mempelai adalah gambaran manusia yang tidak siap sedia dalam menantikan kedatangan Kerajaan Allah; lima gadis bijaksana lainnya adalah mereka yang siap; dan mempelai laki-laki yang disejajarkan dengan figur Yesus. Namun pembacaan demikian menghilangkan “ketegangan” yang muncul. Dengan pendekatan tafsir naratif-kritis, artikel ini menawarkan pembacaan bahwa elemen “kejahatan” justru hadir dalam perumpamaan sepuluh gadis. Kejahatan itu terletak pada sikap tidak welas asih yang ditunjukkan oleh lima gadis bijaksana dan mempelai laki-laki. Elemen kejutan seperti 1) Tidak adanya mempelai perempuan, 2) Siapakah kesepuluh gadis?, 3) Siapakah penjual minyak yang buka tengah malam? 4) Pesta apa yang diadakan tengah malam, dan 5) Keterlambatan mempelai laki-laki akan dijawab dalam artikel ini. Artikel ini juga menawarkan pandangan bahwa Matius 25:31-46 justru merupakan ‘kesimpulan’ dari perumpamaan sepuluh gadis, dan lima gadis bijaksana serta mempelai laki-laki gagal melakukannya.
PHUBBING DALAM PERSPEKTIF ETIS TOLOGIS: KAJIAN MEREDUKSI ANTI SOSIAL DALAM MASYARAKAT Budiyana, Hardi; Arifianto, Yonatan Alex; Purdaryanto, Samuel
Manna Rafflesia Vol. 10 No. 2 (2024): April
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38091/man_raf.v10i2.405

Abstract

Kecanggihan teknologi dan informasi yang kian masif hadir untuk memanjakan dan membantu manusia melakukan tugasnya dengan mudah, namun ketergantungan atau kecanduan akan gadget memicu timbulnya karakter baru dalam masyarakat. Salah satu karakter baru yang muncul di era teknologi ini yaitu phubbing. Tujuan penulisan Artikel ini, agar umat Tuhan dapat memahami pentingnya sikap menghargai dalam komunikasi. Dan prilaku tersebut dapat merusak hubungan. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur dan wawancara maka dapat disimpulkan bahwa kekristenan harus mengetahui hakikat dan definisi phubbing dan dampaknya, dimana Phubbing merupakan perilaku kurang peduli dianggap sebagai perilaku anti-sosial yang dapat merusak hubungan sosial dan kesehatan mental. Maka orang Kristen dapat menggunakan prinsip-prinsip Alkitab untuk membimbing perilaku dan interaksi dengan orang lain, termasuk penggunaan teknologi dan memberikan pengajaran pendidikan Kristen terkait menghormati dan menempatkan skala prioritas dalam peribadatan. Phubbing dan anti sosial dalam perspektif etis teologis dapat dianggap sebagai perilaku yang mereduksi anti-sosial dalam masyarakat. Oleh karena itu, menghindari phubbing dapat membantu meningkatkan kualitas hubungan sosial dan mengurangi dampak negatif dari kebiasaan ini pada kesehatan mental. Maka aktualisasi dari peran gereja dalam mereduksi anti sosial dapat dilakukan dengan berbagai cara untuk menghindari sikap dan prilaku phubbing.
UPAYA BERTEOLOGI KONTEKSTUAL: PENGAJARAN TENTANG POLA ASUH ANAK DALAM EFESUS 6:1-4 TERHADAP POLA ASUH ETNIS JAWA Sugiono, Sugiono; Sumiyati, Sumiyati
Manna Rafflesia Vol. 10 No. 2 (2024): April
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38091/man_raf.v10i2.411

Abstract

Di era kemajuan teknologi peran orang tua dalam tugasnya mengasuh seorang anak bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Pentingnya pola asuh yang relevan sangat dibutuhkan untuk memberikan edukasi terhadap generasi digital yang telah kecanduan terhadap kecanggihan teknologi digital. Tujuan penelitian ini ialah mendapatkan gambaran tentang konsep pola asuh berdasarkan Efesus 6:1-4 dan menurut Etnis Jawa. Dari hasil pembahasan akan dicari persamaan dan perbedaan yang akan menjadi model pendekatan teologi kontekstual bagi masyarakat Jawa. Penelitian ini memakai metode kualitatif dengan sebuah pendekatan eksegesa, etnografi, wawancara, kepustakaan dan metode kontekstual. Hasil yang ditemukan mengungkapkan bahwa Orang tua seharusnya menjadi seorang yang bertanggung jawab mendidik anak dengan hati yang melayani. Keterhubungan yang erat antara anak dengan orang tuanya memampukan orang tua memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kehidupan seorang anak, dan sebaliknya jika seorang anak dengan patuh menyediakan hati diperlengkapi oleh orang tua maka pola asuh yang benar akan menunjang seluruh kehidupan anak dimasa depan.