cover
Contact Name
Dwi Septian Wijaya
Contact Email
admin@jurnalmedikahutama.com
Phone
+6281334291827
Journal Mail Official
admin@jurnalmedikahutama.com
Editorial Address
Jl. Gas Alam No. 59 Curug Cimanggis Depok
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Medika Hutama
ISSN : 27158039     EISSN : 27159728     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Medika Hutama adalah jurnal hasil penelitian, studi kasus, dan tinjauan pustaka di bidang Kesehatan dan Kedokteran
Articles 533 Documents
Skizofrenia dan Toksoplasmosis Dwirahmi Arniamantha
Jurnal Medika Hutama Vol. 3 No. 03 April (2022): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Toksoplasmosis merupakan infeksi akibat Toxoplasma gondii yang dapat menjadi predileksi utama infeksi sistem saraf pusat dan berkaitan dengan peningkatan angka kejadian gangguan psikiatri. Toxoplasma gondii adalah parasit obligat intraseluler dengan neurotropisme yang ketat, memiliki kemampuan bertransmigrasi melintasi sawar darah-otak dan menginvasi sel-sel otak hospes yang terinfeksi serta menyebabkan kerusakan neurologis struktural. Beberapa studi baik secara in vivo maupun in vitro menunjukkan bahwa infeksi Toxoplasma gondii dapat memengaruhi struktur dan fungsi sel-sel otak, serta mengubah beberapa proses sel hospes, termasuk proses dopaminergik, triptofan-kinurenin, dan jalur lainnya. Selain itu, banyak penelitian yang telah dilalukan menunjukkan hasil seroprevalensi antibodi IgG anti-Toxoplasma gondii pada individu dengan skizofrenia lebih tinggi daripada individu non-skizofrenia atau kontrol Selain akibat kerusakan fisik langsung oleh Toxoplasma gondii pada otak, parasit juga mengganggu kerja sejumlah neurotransmitter. Meskipun telah banyak bukti bahwa infeksi Toxoplasma gondii berkontribusi dalam patogenesis gangguan psikiatri pada manusia dan mempengaruhi perilaku manusia dan hewan, masih banyak pertanyaan mengenai hal ini untuk diteliti lebih lanjut.
HIPERKOAGULASI PADA IBU HAMIL DENGAN COVID-19 Enjel ina
Jurnal Medika Hutama Vol. 3 No. 03 April (2022): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kehamilan adalah keadaan protrombotik fisiologis, wanita hamil mungkin berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi koagulopati dan/atau tromboemboli yang terkait dengan COVID-19. Metodeyang digunakan adalah studi literatur yang diambil dari berbagai jurnal nasional dan internasional, metode ini berupaya meringkas kondisi pemahaman terkini mengenai suatu topik. Hasil yang didapatkan, 1063 wanita memenuhi kriteria inklusi, di mana tiga (0,28, 95% CI 0,0 hingga 0,6) memiliki trombosis arteri dan/atau vena, tujuh (0,66, 95% CI 0,17 hingga 1,1) memiliki DIC, dan tiga lainnya (0,28, 95% CI 0,0-0,6) mengalami koagulopati tanpa memenuhi definisi DIC. 537 wanita (56%) telah dilaporkan melahirkan dan 426 (40%) memiliki kehamilan yang sedang berlangsung. Ada 17 (1,6, 95% CI 0,85 hingga 2,3) kematian ibu di mana DIC dilaporkan sebagai faktor. berdasarkan data menunjukkan bahwa koagulopati dan tromboemboli keduanya meningkat pada kehamilan yang terkena COVID-19
Suplementasi vitamin D pada ibu hamil Made Ayu Purnama Sari
Jurnal Medika Hutama Vol. 3 No. 03 April (2022): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Vitamin D merupakan prohormon penting karena reseptor vitamin D (VDR) ada di banyak sel dan jaringan di seluruh tubuh. Pada masa kehamilan, vitamin D memainkan peran penting dalam embriogenesis, terutama perkembangan tulang janin dan homeostasis kalsium. Beberapa penelitian menunjukkan kekurangan vitamin D pada kehamilan dapat menyebabkan komplikasi untuk ibu, seperti diabetes mellitus gestasional (GDM), preeklamsia, operasi caesar, dan depresi pasca persalinan. Sementara itu, kekurangan vitamin D pada janin dapat menyebabkan komplikasi seperti berat badan lahir rendah (BBLR), kelahiran prematur, Intra Uterine Growth Restriction (IUGR), infeksi saluran pernapasan, efek pada antropometri, resiko autisme, dan dampak pada pematangan paru-paru. Kebutuhan vitamin D yang cukup untuk mencapai target serum pada janin atau bayi dapat disarankan dengan dosis sebesar 800 hingga 1000 IU per hari selama prakonsepsi atau kehamilan.
A LITERATURE REVIEW ( Imunodefisiensi Primer): Imunodefisiensi Primer IDA BAGUS ADITYA NUGRAHA; I WAYAN WAWAN; KETUT SUARDAMANA
Jurnal Medika Hutama Vol. 3 No. 03 April (2022): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Primary immunodeficiency disorder (PID) refers to a heterogeneous group of over 130 disorders that result from defects in immune system development and/or function. PIDs are broadly classified as disorders of adaptive immunity (i.e., T-cell, B-cell or combined immunodeficiencies) or of innate immunity (e.g., phagocyte and complement disorders). Although the clinical manifestations of PIDs are highly variable, most disorders involve at least an increased susceptibility to infection. Early diagnosis and treatment are imperative for preventing significant disease-associated morbidity and, therefore, consultation with a clinical immunologist is essential. PIDs should be suspected in patients with: recurrent sinus or ear infections or pneumonias within a 1 year period; failure to thrive; poor response to prolonged use of antibiotics; persistent thrush or skin abscesses; or a family history of PID. Patients with multiple autoimmune diseases should also be evaluated. Diagnostic testing often involves lymphocyte proliferation assays, flow cytometry, measurement of serum immunoglobulin (Ig) levels, assessment of serum specific antibody titers in response to vaccine antigens, neutrophil function assays, stimulation assays for cytokine responses, and complement studies. The treatment of PIDs is complex and generally requires both supportive and definitive strategies. Ig replacement therapy is the mainstay of therapy for B-cell disorders, and is also an important supportive treatment for many patients with combined immunodeficiency disorders. The heterogeneous group of disorders involving the T-cell arm of the adaptive system, such as severe combined immunodeficiency (SCID), require immune reconstitution as soon as possible. The treatment of innate immunodeficiency disorders varies depending on the type of defect, but may involve antifungal and antibiotic prophylaxis, cytokine replacement, vaccinations and bone marrow transplantation.
AKTIVITAS TUMBUHAN KELOR (Moringa oleifera) DALAM PENYEMBUHAN TUKAK PEPTIK: LITERATURE REVIEW Kadek Dian Widyapurwanti
Jurnal Medika Hutama Vol. 3 No. 03 April (2022): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Peptic ulcer is one of the gastrointestinal disorders that can have serious effects when not handled properly. In 2020, the mortality rate of peptic ulcers was reported to reach 14.95%. Many people have done peptic ulcer therapy by using synthetic drugs. To improve healing and reduce side effects caused by synthetic drugs, it is necessary to support therapy using plants that have healing activity in peptic ulcers. Moringa oleifera is one of the plants reported to have anti-ulcer activity. Objective: This work aims to examine the effectiveness of the plant M.oleifera in the treatment of peptic ulcers. Methods: Data analysis was carried out by reviewing the scientific literature. Results: Moringa plant parts consisting of leaves, root bark, seeds, and bark were reported to have anti-ulcer activity, anti-ulcer activity was caused by phytochemical content in Moringa plants such as flavonoids, isothiocyanates, tannins, alkaloids, and terpenoids. Conclusion: Moringa oleifera can be used as a therapeutic agent for peptic ulcer healing.
POTENSI ANTIBAKTERI BEBERAPA BAGIAN TUMBUHAN KELOR (Moringa oleifera) TERHADAP BAKTERI GRAM POSITIF DAN GRAM NEGATIF: LITERATURE REVIEW Elisabeth Angelina
Jurnal Medika Hutama Vol. 3 No. 03 April (2022): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Bakteri berkembang secara alami pada tubuh manusia. Namun, tidak sedikit juga bakteri yang bersifat merugikan. Menurut WHO, sebanyak 8,7% pasien mengalami infeksi bakteri selama perawatan di rumah sakit. Penanganan yang diberikan berupa obat konvensional. Namun, obat konvensional dikenal memiliki efek samping yang relatif tinggi. Untuk meminimalisir hal tersebut, maka dapat digunakan alternatif lain seperti obat yang berasal dari bahan herbal yang memiliki aktivitas antbakteri. Salah satunya adalah tumbuhan kelor (Moringa oleifera). Tujuan: Untuk mengetahui beberapa bagian tumbuhan kelor yang berpotensi sebagai antibakteri terhadap bakteri Gram positif dan Gram negatif. Metode: Data dianalisis menggunakan metode literature review. Hasil: Bagian tumbuhan kelor seperti akar, biji, batang, daun, dan buah memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Gram positif dan Gram negatif karena mengandung flavonoid, alkaloid, tanin, dan saponin. Kesimpulan: Akar, biji, batang, daun, dan buah kelor berpotensi sebagai antibakteri terhadap bakteri Gram positif dan Gram negatif.
HUBUNGAN ANTARA KETUBAN PECAH DINI DENGAN KEJADIAN ASFIKSIA DAN SEPSIS NEONATORUM Ilu Salsabila Sefin
Jurnal Medika Hutama Vol. 3 No. 03 April (2022): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Premature rupture of membranes (PROM) is one of the most common pregnancy complications. PROM is the rupture of the membranes before there are signs of labor. PROM is also one of the causes of morbidity and mortality in obstetrics. The causes of neonatal morbidity associated with PROM include asphyxia and neonatal sepsis. The purpose of this study was to determine the relationship between premature rupture of membranes and the incidence of asphyxia and neonatal sepsis. The research method used is literature review from several national and international journals which are then summarized into a topic of discussion and presented in articles. The results of the study showed a significant relationship between PROM and the incidence of neonatal asphyxia and neonatal sepsis.
PENGARUH EKSTRAK BUNGA TELANG (Clitoria ternatea) TERHADAP Escherichia coli DAN Staphylococcus aureus Dina Trianggaluh Fauziah
Jurnal Medika Hutama Vol. 3 No. 03 April (2022): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Telang flower is a plant also known as flower telang which contains saponins, alkaloids, flavonoids, triterpenoids and phenols which function as laxative, diuretic, blood purifier and anthelmintic. This study aims to determine the effect of telang flower on antibacterial test. The extraction method used is maceration and soxhletation, the yield obtained by maceration (1.40%) and soxhletation (2.15%) methods. The average inhibitory power of telang flower extract on the antibacterial test of Escherichia coli on the maceration method (11.6 mm) and the soxhletation method (12.6 mm), while the antibacterial testing of Staphylococcus aureus with the maceration method (13.3 mm) and soxhletation (10,6 mm). Qualitative identification showed the presence of alkaloids, tannins and saponins.
A CASE REPORT : Komplikasi dan Tatalaksana Snakebite: Komplikasi dan Tatalaksana Snakebite IDA BAGUS ADITYA NUGRAHA
Jurnal Medika Hutama Vol. 3 No. 03 April (2022): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia as one of the largest tropical and agricultural countries in the world shared the particularly high burden cases of snakebite. The clinical manifestations of snakebite could vary according to the type of venoms. This case reported a 75 years old male patient with snakebite in Pedis Sinistra come with bleeding and anuria. Bleeding caused by snake venom is presenting with blood clotting disturbances as the result of venom-induced consumption coagulopathy (VICC). VICC, a disseminated intravascular coagulation (DIC)-like syndrome, is characterised by low levels or undetectable of fibrinogen, resulting in incoagulable blood. Renal manifestations vary from urinary sediment changes with mild proteinuria to renal failure. Nephropathy in snakebite is the result of several mechanisms including the inflammatory process, direct nephrotoxicity, and immunologic reaction. Appropriate first aid treatment and comprehensive management of snakebite cases are warranted to reduce mortality and morbidity rates. The patient was diagnosed with VICC and acute kidney injury (AKI) related snakebite. The patient was applied pressure immobilization bandage, given antivenom, fresh frozen plasma (FFP), thrombocyte concentrate (TC), antibiotic, and renal replacement theraphy. After the treatment, bleeding was improved, but after iatrogenic pnemothorax and pneumonia occured, the patient's condition deteriorated. Unfortunately, the patient has died on 13rd day of treatment with causa mortis multiple organ failure.
Analisis Kualitas Pelayanan Pasien Menggunakan Diagram Kartesius di Rawat Inap Rumah Sakit RSUD Bima Tahun 2021 Hanafi Hairudin
Jurnal Medika Hutama Vol. 3 No. 03 April (2022): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kualitas pelayanan merupakan hal yang sangat penting dalam menciptakan kepuasan konsumen atau pelanggan, sehingga dapat menciptakan kesetiaan atau loyalitas kepada perusahaan karena memberikan kualitas yang memuaskan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode cross sectional yang bertujuan untuk mengetahui kualitas pelayanan rawat inap RSUD Bima dengan menggunakan diagram kartesius yang terdiri dari Bukti fisik, Kehandalan, Daya Tanggap, Jaminan, dan Empati. Populasi adalah seluruh pasien yang dirawat inap kelas VIP, kelas I, kelas II, dan kelas III di RSUD Bima. Sampel penelitian sebesar 137 pasien yang sedang dirawat inap di RSUD Bima secara one shot measurement dengan tekhnik purposive sampling. Pengumpulan data observasi, penyebaran angket, wawancara dan telaah dokumen. Analisa data menggunakan analisis univariat, dan analisis kartesius. Berdasarkan analisis ServQual, hasil menunjukan bahwa kualitas pelayanan pasien di instalasi rawat inap RSUD Bima tahun 2021 sudah sangat memuaskan (94,29%). Pada Bukti Fisik sebesar 96,87%; Kehandalan sebesar 89,92%; Daya Tanggap sebesar 93,98%, Jaminan sebesar 93,52%, dan pada Empati sebesar 97,30%. Hasil analisis kartesius, ditemukan 3 faktor yang menjadi prioritas yaitu: Kehandalan (prosedur penerimaan rawat inap yang cepat dantepat, pelayanan memuaskan sesuai kebutuhan pasien). Empati (memberikan jaminan apabila terjadi kesalahan pada hasil kinerja petugas, tersedianya jaminan ketersediaan obat). Daya tanggap (pelayanan di isnstalasi rawat inap RSUD Bima dimulai tepat waktu). 5 faktor yang harus dipertahankan yaitu: Kehandalan (prosedur pelayanan rawat inap yang mudah dan tidak terbelit belit) Daya tanggap (petugas rawat inap menyampaikan informasi dengan jelas dan mudah dimengerti, petugas rawat inap selalu sesuai jadwal, petugas rawat inap memberikan tanggapan yang baik dan tepat terhadap keluhan pasien). Empati (pelayanan memberikan layanan yang sama tidak membedakan pasien, petugas memberikan kesempatan bertanya dan mengajukan keluhan). Jaminan (rumah sakit RSUD Bima memberikan jaminan apabila terjadi kesalahan pada hasil kinerja petugas). Bukti fisik (Petugas diinstalasi petugas rawat inap RSUD Bima berpenampilan rapi dan sopan).Saran: Pihak RSUD Bima dapat memaksimalkan pelayanan yang diprioritaskan dan mempertahankan pelayanan yang sudah diberikan.