cover
Contact Name
Sari Melati
Contact Email
sari@ulm.ac.id
Phone
+62082155601967
Journal Mail Official
jtam.himasapta@ulm.ac.id
Editorial Address
Ruang Jurnal Himasapta PS Teknik Pertambangan, Lab. LTP Lt.2 Fakultas Teknik, Universitas Lambung Mangkurat Jl. Jend. Ach. Yani KM. 36,5 Banjarbaru 70714
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Jurnal Himasapta
ISSN : 25797816     EISSN : 25274619     DOI : 10.20257
Jurnal Himasapta merupakan berkala ilmiah yang terbit setiap bulan April, Agustus dan Desember serta memuat artikel ilmiah tentang Geosains untuk Aplikasi Pertambangan mulai dari Eksplorasi & Geologi, Geomekanika, Pengolahan Minerba, Ekonomi Mineral, dan Lingkungan Tambang. Artikel yang dimuat dari hasil penelitian tugas akhir/skripsi mahasiswa Program Studi atau Jurusan Teknik Pertambangan. Jurnal Himasapta terbit secara online sejak April 2016 di www.mining-unlam.ac.id Terdaftar sebagai jurnal elektronik nasional dengan ISSN 2527-4619 pada berdasarkan SK no. 0005.25274619/JI.3.1/SK.ISSN/2016.05 - 19 Mei 2016. Bergabung dan dialihkan penerbitan online sejak November 2017 dalam rangka penerbitan jurnal tugas akhir mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat ke http://ft.jtam.unlam.ac.id/index.php/himasapta Mendapatkan ISSN (cetak) dengan nomor 2579-7816 berdasarkan SK no. 0005.25797816/JI.3.1/SK.ISSN/2017.05 - 4 Mei 2017. Karena alasan keselamatan arsip dan data, dialihkan lagi ke laman https://ppjp.ulm.ac.id/journals/index.php/jhs/index pada awal tahun 2019.
Articles 226 Documents
Analisis produktivitas alat gali muat dan alat angkut pada pemindahan overburden PT Riung Harapan Mitra Lestari Kuratji, Jerry Michael; Putri, Karina Shella; Fikri, Hafidz Noor
Jurnal Himasapta Vol 10, No 3 (2025): Jurnal Himasapta Volume 10 Nomor 3 Tahun 2025
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v10i3.18062

Abstract

ABSTRAKPeralatan mekanis dalam operasi penambangan memegang peranan penting untuk mencapai target produksi yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Kajian teknis yang mencakup faktor manusia, alat, dan alam perlu dilakukan untuk meningkatkan produktivitas alat gali muat dan alat angkut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan memberikan rekomendasi perbaikan terhadap produktivitas alat gali muat Excavator Komatsu 501 dan alat angkut Dump Truck Volvo FMX 400 yang digunakan di PT Riung Harapan Mitra Lestari. Berdasarkan hasil perhitungan, produktivitas aktual Excavator Komatsu 501 adalah 260,77 BCM/jam, sedangkan Dump Truck Volvo FMX 400 adalah 37,85 BCM/jam. Meskipun alat gali muat telah mencapai target produktivitas perusahaan sebesar 260 BCM/jam, terdapat dua hari (5 Agustus dan 13 Agustus) yang tidak tercapai. Di sisi lain, alat angkut belum mencapai target perusahaan sebesar 42 BCM/jam. Faktorfaktor yang mempengaruhi produktivitas antara lain cycle time, delay time, dan kecepatan alat angkut. Rekomendasi perbaikan untuk Excavator Komatsu 501 meliputi pengurangan delay time dan cycle time, yang dapat meningkatkan produktivitas menjadi 260,60 BCM/jam dan 260,15 BCM/jam. Untuk Dump Truck Volvo FMX 400, perbaikan dilakukan melalui peningkatan kecepatan alat dan pengurangan delay time, yang dapat meningkatkan produktivitas menjadi 42,50 BCM/jam setelah dilakukan simulasi perbaikan kedua.Kata-kata Kunci: Cycle time, Delay time, Excavator Penambangan, Truk ABSTRACTMechanical equipment in mining operations plays a crucial role in achieving the production targets set by the company. Atechnical study that includes human, equipment, and environmental factors is necessary to improve the productivity of excavator and haulage equipment. This study aims to analyze and provide recommendations for improving productivity of Komatsu 500 Excavator and Volvo FMX 400 Dump Truck used in PT Riung Harapan Mitra Lestari. Based on the calculations, the actual productivity of Komatsu 500 Excavator is 260.77 BCM/hour, while Volvo FMX 400 Dump Truck is 37.85 BCM/hour. Although the excavator has met the company's productivity target of 260 BCM/ hour, there were two days (August 5th and August 13th) when the target was not achieved. On the other hand, the haulage truck has not reached the company's target of 42 BCM/ hour. Factors affecting productivity include cycle time, delay time, and haulage truck speed. The recommended improvements for Komatsu 500 Excavator involved reducing delay time and cycle time, which could increase its productivity to 260.60 BCM/hour and 260.15 BCM/hour, respectively. For Volvo FMX 400 Dump Truck, improvements can be made by increasing speed and reducing delay time, which could increase productivity to 42.50 BCM/hour after the second improvement simulation. Keywords: Cycle time, Delay time, Mining Excavator, Truck
Evaluasi produktivitas alat berat dalam proses pengumpanan batubara di crushing plant PT Binuang Mitra Bersama Ramadhan, Satrio; Triantoro, Agus; Mustofa, Adip
Jurnal Himasapta Vol 10, No 1 (2025): Jurnal Himasapta Volume 10 Nomor 1 Tahun 2025
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v10i1.14986

Abstract

PT Binuang Mitra Bersama memiliki satu unit crushing plant dalam upaya memenuhi permintaan konsumen, dan penetapan target produksi dengan batubara. Target produktivitas unit crushing plant PT Binuang Mitra Bersama sebesar 300 ton/jam. Namun pada kenyataannya pencapaian produktivitas crushing plant sebesar 270,41 ton/jam sehingga tidak mencapai target produktivitas yang ditetapkan perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis produktivitas alat berat yang bekerja pada proses pengumpanan crushing plant. Setelah dilakukan penelitian dan evaluasi, ketercapaian produktivitas aktual pada unit excavator yaitu 267,70 ton/jam dengan nilai physical availability sebesar 75,20% dan nilai used of availability sebesar 60,11%. Untuk memenuhi target produktivitas sebesar 300 ton/jam, dilakukan simulasi terhadap metode pengumpanan alat support (Komatsu PC 300) dan perbaikan ukuran raw material batubara. Setelah dilakukan simulasi, pola pengumpanan maka produktivitas swing angle yang memenuhi target produksi adalah swing angle 90o dengan produktivitas maksimal 313,74 ton/jam dan simulasi perbaikan ukuran raw material menghasilkan produktivitas sebesar 311,43 ton/jam.
ESTIMASI POTENSI SUMBERDAYA BATUBARA PADA PT USAHA BARATAMA JESINDO KECAMATAN SATUI KABUPATEN TANAH BUMBU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Abdi, Ariadi; Triantoro, Agus; Riswan, Riswan; Pillayati, Pillayati
Jurnal Himasapta Vol 10, No 2 (2025): Jurnal Himasapta Volume 10 Nomor 2 Tahun 2025
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v10i2.16339

Abstract

Dalam kegiatan eksplorasi ini perusahaan menemukan adanya endapan batubara yang diharapkan cukup potensial untuk ditambang. Hal tersebut melatarbelakangi penulis melakukan penelitian mengenai Estimasi Sumberdaya Batubara PT Usaha Baratama Jesindo. Tujuan penelitian ini membuat permodelan endapan batubara menggunakan data eksplorasi serta menghitung sumberdaya batubara yang terdapat di bagian Utara IUP dengan  metode circular.Pengerjaan penelitian dibantu dengan Software Minescape 4.118 dengan permodelan dan perhitungan sumberdaya dengan metode circular serta densitas batubara yang digunakan 1,3 ton/m3.Penelitian menghasilkan permodelan batubara dengan 3 seam yaitu seam A, seam B, seam C dengan kedudukan batubara N 23° E - N 25° E dengan Dip 20° - 22°. Ketebalan semu dari seam paling atas, yaitu seam A dengan ketebalan  0,57 – 0,90 m, seam B dengan ketebalan 0,99 – 1,33 m, seam C dengan ketebalan 9,52 – 12,80 m. Hasil estimasi sumberdaya batubara menggunakan metode circular yang ada di wilayah konsesi PT Usaha Baratama Jesindo khususnya di Blok Utara dengan menggunakan metode SNI 5015:2011 diketahui jumlah total sumberdaya terukur 3.965.612 ton batubara, sumberdaya tertunjuk 8.606.064 ton, sumberdaya tereka 16.319.494 ton.
Analisis Kestabilan Lereng Tumpukan Batubara ROM pada PT Adaro Indonesia Kabupaten Tabalong Kalimantan Selatan Arni, Akbar; Hakim, Romla Noor; Arief, Muhammad Zaini
Jurnal Himasapta Vol 10, No 3 (2025): Jurnal Himasapta Volume 10 Nomor 3 Tahun 2025
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v10i3.18169

Abstract

Dalam kegiatan pertambangan, batubara yang telah ditambang akan disimpan sementara di ROM (Run of Mine) sebelum diangkut ke pelabuhan dan dijual. Ketika tidak terjadi proses bargaining, batubara yang berasal dari pit akan terus menumpuk di ROM. Penumpukan ini menyebabkan bertambahnya luas dan tinggi tumpukan batubara seiring dengan berjalannya aktivitas penambangan. Peningkatan tinggi tumpukan tersebut berbanding lurus dengan meningkatnya potensi terjadinya longsor. Oleh sebab itu, diperlukan kajian geoteknik untuk menganalisis stabilitas lereng dan memperkirakan risiko longsor pada tumpukan batubara di ROM. Pengambilan dan pengumpulan data dilakukan secara berkala selama dua bulan agar data yang diperoleh bersifat representatif dan dapat digunakan sebagai dasar penelitian. Data yang dikumpulkan meliputi tinggi dan sudut kemiringan lereng tumpukan batubara, geometri tumpukan, jenis serta spesifikasi alat yang beroperasi di ROM, data uji laboratorium batubara, dan data hasil uji CBR. Hasil analisis menunjukkan bahwa tinggi maksimum tumpukan batubara yang aman diterapkan di ROM 19 adalah 15 meter dengan faktor keamanan (FK) ≥ 1,2. Desain geometri tumpukan batubara di ROM 19 menggunakan kombinasi lereng dengan dua bench, yaitu bench pertama setinggi 8 meter dan bench kedua setinggi 7 meter, masing-masing dengan sudut kemiringan 30° dan jarak antar-bench sebesar 8 meter. Kata-kata kunci: faktor keamanan, geometri lereng, kestabilan lereng, run of mine ABSTRACTIn mining operations, coal extracted from the pit is temporarily stored at the Run of Mine (ROM) area prior to transportation to the port and final sale. When no bargaining process occurs, coal continues to accumulate at the ROM, leading to an increase in both the height and area of the stockpile as mining activities progress. The increase in stockpile height is directly associated with a higher risk of slope instability and potential failure. Therefore, a geotechnical assessment is required to evaluate slope stability and to estimate the risk of failure in coal stockpiles at the ROM. Data collection was conducted periodically over a two-month period to ensure representative results for this study. The collected data included the actual height and slope angle of the coal stockpile, stockpile geometry, types and specifications of equipment operating at the ROM, laboratory test results of coal samples, and California Bearing Ratio (CBR) test data.The analysis results indicate that the maximum safe coal stockpile height applicable at ROM 19 is 15 m, with a factor of safety (FS) ≥ 1.2. The proposed stockpile geometry at ROM 19 adopts a combined slope configuration with two benches. The first bench has a height of 8 m with a slope angle of 30°, while the second bench has a height of 7 m with a slope angle of 30°, and the horizontal distance between the two benches is 8 m. Keywords: safety factor, slope geometry, slope stability, run of mine
Kajian powder factor peledakan terhadap fragmentasi hasil peledakan pada pit Aster PT Madhani Talatah Nusantara Amrullah, Risky; Santoso, Eko; Ramadhan, Satrio; Melati, Sari
Jurnal Himasapta Vol 10, No 2 (2025): Jurnal Himasapta Volume 10 Nomor 2 Tahun 2025
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v10i2.16338

Abstract

Powder Factor (PF) adalah salah satu faktor yang sangat diperhatikan dalam suatu kegiatan peledakan. Powder Factor (PF) adalah perbandingan antara jumlah bahan peledak yang digunakan terhadap volume batuan yang akan diledakkan. Pada kegiatan peledakan nilai powder factor ini dijadikan suatu acuan dalam menilai keberhasilan dari suatu kegiatan peledakan. Dari nilai powder factor ini, akan mempengaruhi beberapa faktor diantaranya fragmentasi batuan hasil peledakan dan digging time alat gali muat.Metode analisis fragmentasi batuan hasil peledakan yang digunakan adalah dengan menggunakan software split desktop 2.0 untuk mengetahui nilai persentase fragmentasi aktual peledakan. Peledakan overburden pada PT Madhani Talatah Nusantara menetapkan standar nilai powder factor yakni 0,17 – 0,24 Kg/m3 dan persentase fragmentasi ukuran boulder ≥ 117 cm yang ditargetkan tidak lebih dari 15%. Berdasarkan hasil penelitian terhadap 7 hari peledakan, didapatkan nilai powder factor berada pada 0,21 – 0,24 Kg/m3. Kemudian fragmentasi aktual boulder ≥ 117 cm didapatkan persentase rata-rata sebesar 0.1% dan sudah memenuhi standar perusahaan. Ditinjau dari fragmentasi batuan aktual setelah dilakukan uji coba peledakan dengan nilai PF 0,21 sampai 0,24 didaptkan  nilai powder factor yang paling optimal adalah 0,21 Kg/m3. ABSTRACTPowder Factor (PF) is one of factors that is highly considered in blasting activities. Powder Factor (PF) is the ratio between amount of explosives used and volume of rock to be blasted. In blasting operations, Powder Factor value serves as a benchmark for assessing the success of a blasting operation. This value influences several factors, including fragmentation of the blasted rock and digging time of excavation equipment.The method used to analyze rock fragmentation resulting from blasting is to use Split Desktop 2.0 software to determine actual percentage of fragmentation from blasting. Blasting of overburden at PT Madhani Talatah Nusantara sets the standard powder factor value at 0.17–0.24 kg/m³ and targets a fragmentation percentage for boulder-sized fragments (≥117 cm) of no more than 15%.Based on the results of research in 7 days of blasting, powder factor value was found between 0.21 and 0.24 kg/m3. Then, the actual fragmentation of boulders ≥ 117 cm was found to have an average percentage of 0.1% and met Ccompany standards. Based on the actual rock fragmentation after conducting blasting tests with a powder factor (PF) of 0.21 to 0.24, the most optimal powder factor value was found to be 0.21 kg/m³. 
Analisis Korelasi antara Ground Vibration dengan Fragmentasi Aktual Hasil Peledakan pada PT Borneo Alam Semesta Jobsite PT Binuang Mitra Bersama Afifah, Sukma; Santoso, Eko; Hakim, Romla Noor
Jurnal Himasapta Vol 10, No 2 (2025): Jurnal Himasapta Volume 10 Nomor 2 Tahun 2025
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v10i2.5862

Abstract

ABSTRAKFragmentasi dan ground vibration merupakan indikator penting hasil peledakan. Fragmentasi yang distribusi ukuran fragmen dan ground vibration yang dinyatakan dengan nilai PPV (peak particel velocity), harus memenuhi kriteria dan ambang batas yang efektif dan aman. Usaha pencapaian target distribusi fragmentasi seringkali berbenturan dengan upaya untuk mencegah tingginya tingkat ground vibration. Oleh karena itu, pada penelitian ini korelasi antara ukuran fragmen dan PPV dikaji tingkat pengaruh dan korelasinya. Korelasi tersebut adalah antara besar energi yang dilepaskan saat peledakan dengan ukuran fragmentasi juga nilai getaran tanah yang dihasilkan. Sebagaimana hipotesa awal dari penelitian ini adalah “PPV yang semakin besar dihasil dari energi yang semakin besar dan energi yang semakin besar akan menghasilkan fragmentasi yang semakin kecil, maka seharusnya semakin besar PPV menghasilkan fragmentasi yang semakin kecil”. Kegiatan penelitian ini dimulai dengan pengumpulan data berupa nilai PPV ground Vibration terbesar di setiap peledakan, juga pengambilan foto beraian batuan hasil peledakan. Image anlaysis menggunakan aplikasi Split Dekstop dilakukan terhadap foto-foto beraian batuan hasil peledakan guna mendapatkan distribusi fragmentasi aktual, dengan output distribusi fragmentasi aktual berupa persentase fragmen berukuran kurang dari 50 cm dan persentase boulder. Setelah didapatkan nilai PPV Ground Vibration tertinggi, analisis korelasi linear dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antar variabel PPV maksimum dan persentase fragmen berukuran < 50 cm. Nilai PPV ground vibration selama penelitian berkisar antara 0,49 mm/s sampai 1,56 mm/s. Data ukuran fragmen aktual rata-rata baik, boulder kurang dari 15%. Korelasi antara Ground Vibration terhadap fragmentasi batuan size  kurang dari 50 cm membentuk hubungan linear dengan persamaan y = 8,5967x + 79,237, dengan koefisien determinasi R2 = 0,5359. Artinya, keduanya memiliki hubungan yang positif, dimana apabila nilai PPV ground vibration semakin besar, maka persentase fragmentasi size kurang dari 50 cm semakin banyak. Apabila nilai PPV ground vibration semakin kecil, maka persentase fragmentasi batuan size kurang dari 50 cm semakin sedikit. Korelasi antara ground vibration terhadap persentase fragmentasi batuan boulder berupa hubungan linear dengan persamaan y = -8,5967x + 20,763. Artinya, memiliki hubungan yang negatif, dimana apabila nilai PPV ground vibration semakin besar maka persentase fragmentasi boulder semakin kecil, apabila nilai PPV ground vibration semakin kecil maka persentase fragmentasi boulder semakin besar. Kata-kata kunci: Peledakan, getaran, fragmentasi, korelasi linier ABSTRACTFragmentation and ground vibration are critical indicators of blasting performance. Fragmentation, represented by the fragment size distribution, and ground vibration, quantified by the Peak Particle Velocity (PPV), must both satisfy effective and safe operational thresholds. However, efforts to achieve optimal fragmentation distribution often conflict with the necessity to minimize excessive ground vibration levels. This study investigates the correlation between fragment size and PPV, examining both the influence and degree of their relationship. The correlation is assessed based on the energy released during blasting and its simultaneous effect on fragmentation size and ground vibration intensity. The initial hypothesis of this research posits that: “Larger PPV values result from higher explosive energy, and higher energy levels produce finer fragmentation; therefore, higher PPV should be associated with smaller fragment sizes.” The research began with data collection, including the highest PPV value recorded in each blast and photographs of blasted rock piles. Image analysis was conducted using Split-Desktop software to determine the actual fragmentation distribution. The outputs include the percentage of fragments smaller than 50 cm and the percentage of boulders. Subsequently, a linear correlation analysis was performed between maximum PPV and the percentage of fragments smaller than 50 cm. During the study, PPV values ranged from 0.49 mm/s to 1.56 mm/s. Overall, the actual fragment size distribution was satisfactory, with boulders accounting for less than 15%. The correlation between ground vibration (PPV) and the percentage of fragments smaller than 50 cm showed a positive linear relationship, described by the equation: y = 8.5967x + 79.237, with a coefficient of determination R² = 0.5359. This indicates that an increase in PPV is associated with a higher percentage of fragments smaller than 50 cm. Conversely, lower PPV values correspond to a reduced proportion of fine fragmentation. On the other hand, the correlation between PPV and the percentage of boulders exhibited a negative linear relationship, described by the equation: y = -8.5967x + 20.763. This implies that higher PPV values result in a lower proportion of boulders, while lower PPV values lead to a higher boulder content. Keywords: Blasting, Fragmentation, Ground Vibration, Linear Correlation 
Survey of Coal Stock Opname Using Terrestrial Method at PT Lamindo Inter Multikon, Bunyu Site Taufik, Muhammad; Syafi'i, Ahmad Ali; Hakim, Romla Noor
Jurnal Himasapta Vol 10, No 1 (2025): Jurnal Himasapta Volume 10 Nomor 1 Tahun 2025
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v10i1.14889

Abstract

The mining industry's coal stock opname survey is a crucial process to ensure inventory data accuracy. This study observes the application of the terrestrial survey method in measuring coal stockpiles at PT Lamindo Inter Multikon, Bunyu Site, North Kalimantan. Data collection was conducted using a Total Station, which was then processed using SURPAC software to generate a Digital Terrain Model (DTM) and calculate the stockpile volume. The survey results were compared with weighbridge data to assess volume discrepancies. The findings showed that the stockpile volume was 71,161.918 m³, with a weight of 64,045.7262 tons. However, a comparison with weighbridge data revealed a discrepancy of 7,916.27 tons or 12.36%, exceeding the tolerance limit recommended in good mining practices. Factors contributing to this discrepancy include the moisture condition of the coal at the time of weighing and differences in the basement model used in DTM calculations. Therefore, improving the accuracy of basement data collection and implementing supporting infrastructure to minimize the impact of moisture on coal weight is necessary.
Penggunaan kriging untuk analisis distribusi ash content, moisture dan sulfur di tambang batubara formasi Warukin Pillayati, Pillayati; Nurhakim, Nurhakim; Fikri, Hafidz Noor
Jurnal Himasapta Vol 10, No 1 (2025): Jurnal Himasapta Volume 10 Nomor 1 Tahun 2025
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v10i1.15008

Abstract

Tambang batubara di daerah penelitian menggunakan metode poligonal untuk mengestimasi sumber daya batubara di area konsesi, baik untuk data kuantitas maupun kualitas. Metode ini dipilih karena penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kondisi geologi di daerah ini adalah moderat. Masalah yang dihadapi dalam menggunakan metode poligonal adalah kualitas batubara pada lapisan batubara yang sama kadang-kadang nilainya bervariasi. Penelitian ini kemudian menerapkan metode geostatistik untuk menganalisis hubungan spasial antar data kualitas batubara. Metode geostatistik yang digunakan untuk menghitung kualitas batubara adalah pendekatan ordinary kriging dengan menggunakan variogram spherical.
PERENCANAAN SETTLING POND 6RA PADA AREA DISPOSAL PT ADARO INDONESIA KABUPATEN TABALONG PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Wandari, Iesa Fitri; Putri, Karina Shella; Syafi'i, Ahmad Ali
Jurnal Himasapta Vol 10, No 2 (2025): Jurnal Himasapta Volume 10 Nomor 2 Tahun 2025
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v10i2.16310

Abstract

Pertambangan adalah proses mengambil bahan alam dari bawah permukaan tanah untuk digunakan secara ekonomis di atas permukaan. Mencakup penelitian, eksploitasi, dan pengelolaan mineral atau batubara, termasuk tahap penyelidikan, eksplorasi, studi kelayakan, pembangunan, ekstraksi, pengolahan, pemurnian, transportasi, penjualan, dan kegiatan pasca-tambang. Kegiatan pertambangan merupakan salah satu sektor industri yang memiliki peran penting dalam perekonomian, baik di tingkat nasional maupun global. Intensitas curah hujan adalah jumlah hujan yang jatuh dalam periode waktu yang relatif singkat, diukur dalam satuan seperti mm/jam, mm/menit, dan mm/detik. Besarnya curah hujan selama satu jam dihitung dengan menggunakan metode partial series, yang melibatkan data curah hujan dalam periode satu jam. Intensitas curah hujan berkaitan dengan jumlah hujan yang terjadi dan berbanding terbalik dengan durasi waktu kejadian tersebut. Saat ini, PT Adaro Indonesia memiliki settling pond yang berada di sisi timur kaki disposal overburden. Kondisi settling pond tersebut dinyatakan sudah mulai jenuh oleh mine infrastructure planning. Sehingga dibutuhkan perencanaan pembuatan settling pond baru di lokasi yang berbeda. Perencanaan settling pond dibuat berdasarkan perhitungan kecepatan pengendapan dan debit air limpasan permukaan. Penentuan rekomendasi pembuatan desain settling pond dengan 4 kompartemen dan 1 sedimen pond.
Perancangan pit dan penjadwalan tambang batubara menurut analisis sensitivitas Break Even Stripping Ratio Adiatma, Diyan; Santoso, Eko; Melati, Sari
Jurnal Himasapta Vol 10, No 3 (2025): Jurnal Himasapta Volume 10 Nomor 3 Tahun 2025
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v10i3.18170

Abstract

Sektor pertambangan merupakan salah satu sektor usaha yang memiliki potensi pendapatan tinggi, namun juga diikuti oleh tingkat risiko yang besar. Risiko tersebut dapat berasal dari fluktuasi kondisi ekonomi, khususnya perubahan harga komoditas, serta keterbatasan dan karakteristik bahan galian yang ditambang. Oleh karena itu, sebelum kegiatan penambangan dilakukan, diperlukan beberapa alternatif desain pit agar rencana penambangan dapat disesuaikan dengan kondisi ekonomi yang terjadi selama umur tambang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sensitivitas Break Even Stripping Ratio (BESR) sebagai kriteria utama dalam perancangan Pit Alfa, merancang Pit Alfa berdasarkan tiga nilai BESR, serta menyusun penjadwalan penambangan untuk masing-masing desain pit. Analisis sensitivitas dilakukan dengan memvariasikan nilai BESR sebesar ±10%. Alternatif rancangan pit disusun dalam tiga skenario, yaitu kondisi yang diharapkan, kondisi peningkatan sebesar 10%, dan kondisi penurunan sebesar 10%. Perancangan pit dilakukan menggunakan perangkat lunak Minescape dengan model topografi dan endapan batubara yang telah tersedia. Geometri lereng Pit Alfa mengikuti geometri lereng yang diterapkan pada Pit Clara. Tahapan penambangan dirancang untuk memenuhi target produksi sebesar 50.000 ton batubara per bulan. Hasil analisis menunjukkan bahwa BESR paling sensitif terhadap perubahan harga batubara. Pada harga batubara USD 42,39/ton, Pit Alfa dirancang dengan BESR 5,31, menghasilkan luas pit 24,4 ha, cadangan batubara 770.135 ton, dan umur tambang 14 bulan. Pada kondisi harga turun 10%, BESR sebesar 4,24 menghasilkan luas pit 18,2 ha, cadangan 546.884 ton, dan umur tambang 11 bulan. Sebaliknya, pada harga naik 10%, BESR sebesar 6,39 menghasilkan luas pit 30 ha, cadangan 936.780 ton, dan umur tambang 18 bulan. Kata kunci : analisis sensitivitas, BESR, penjadwalan tambang, perancangan pit ABSTRACTThe mining sector is one of the industries with high revenue potential; however, it is also associated with significant risks. These risks arise from fluctuations in economic conditions, particularly changes in commodity prices, as well as the availability and characteristics of the mined mineral resources. Therefore, prior to mining operations, several alternative pit designs must be prepared to allow flexibility in adapting to economic conditions throughout the mine life.This study aims to analyse the sensitivity of the Break Even Stripping Ratio (BESR) as a key criterion in the design of Pit Alfa, to develop Pit Alfa designs based on three BESR values, and to establish mining schedules for each pit design. The sensitivity analysis was conducted by varying the BESR parameter by ±10%. Three pit design scenarios were evaluated, representing the expected condition, a 10% increase, and a 10% decrease.Pit design was performed using Minescape software, utilizing available topographic and coal deposit models. The slope geometry of Pit Alfa was designed to follow the slope geometry applied at Pit Clara. Mining stages were developed to achieve a production target of 50,000 tons of coal per month.The results indicate that BESR is most sensitive to changes in coal price. At a coal price of USD 42.39 per ton, Pit Alfa was designed with a BESR of 5.31, resulting in a pit area of 24.4 ha, coal reserves of 770,135 tons, and a mine life of 14 months. When coal prices decrease by 10%, a BESR of 4.24 produces a pit area of 18.2 ha, coal reserves of 546,884 tons, and a mine life of 11 months. Conversely, when coal prices increase by 10%, a BESR of 6.39 yields a pit area of 30 ha, coal reserves of 936,780 tons, and a mine life of 18 months. Keywords: sensitivity analysis, break even stripping ratio, mine scheduling, pit design

Filter by Year

2016 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 10, No 3 (2025): Jurnal Himasapta Volume 10 Nomor 3 Tahun 2025 Vol 10, No 2 (2025): Jurnal Himasapta Volume 10 Nomor 2 Tahun 2025 Vol 10, No 1 (2025): Jurnal Himasapta Volume 10 Nomor 1 Tahun 2025 Vol 9, No 3 (2024): Jurnal Himasapta Volume 9 Nomor 03 Desember 2024 Vol 9, No 2 (2024): Jurnal Himasapta Volume 9 Nomor 02 Agustus 2024 Vol 9, No 1 (2024): Jurnal Himasapta Volume 9 Nomor 01 April 2024 Vol 8, No 3 (2023): Jurnal Himasapta Volume 8 Nomor 03 Desember 2023 Vol 8, No 2 (2023): Jurnal Himasapta Volume 8 Nomor 02 Agustus 2023 Vol 8, No 1 (2023): Jurnal Himasapta Volume 8 Nomor 01 April 2023 Vol 7, No 3 (2022): Jurnal Himasapta Volume 7 Nomor 03 Desember 2022 Vol 7, No 2 (2022): Jurnal Himasapta Volume 7 Nomor 02 Agustus 2022 Vol 7, No 1 (2022): Jurnal Himasapta Volume 7 Nomor 01 April 2022 Vol 6, No 3 (2021): Jurnal Himasapta Volume 6 Nomor 03 Desember 2021 Vol 6, No 1 (2021): Jurnal Himasapta Volume 6 Nomor 01 April 2021 Vol 6, No 2 (2021): Jurnal Himasapta Volume 6 Nomor 2 Agustus 2021 Vol 5, No 3 (2020): Jurnal Himasapta Volume 5 Nomor 03 Desember 2020 Vol 5, No 2 (2020): Jurnal Himasapta Volume 5 Nomor 02 Agustus 2020 Vol 5, No 1 (2020): Jurnal Himasapta Volume 5 Nomor 1 April 2020 Vol 4, No 01 (2019): Jurnal Himasapta Volume 04 Nomor 01 April 2019 Vol 4, No 3 (2019): Jurnal Himasapta Volume 04 Nomor 03 Desember 2019 Vol 4, No 2 (2019): Jurnal Himasapta Volume 04 Nomor 02 Agustus 2019 Vol 3, No 03 (2018): Jurnal Himasapta Volume 03 Nomor 03 Desember 2018 Vol 3, No 02 (2018): Jurnal Himasapta Volume 03 Nomor 02 Agustus 2018 Vol 3, No 01 (2018): Jurnal Himasapta Volume 03 Nomor 01 April 2018 Vol 2, No 03 (2017): Jurnal Himasapta Volume 02 Nomor 03 Desember 2017 Vol 2, No 02 (2017): Jurnal Himasapta Volume 02 Nomor 02 Agustus 2017 Vol 2, No 01 (2017): Jurnal Himasapta Volume 02 Nomor 01 April 2017 Vol 1, No 03 (2016): Jurnal Himasapta Volume 01 Nomor 02 Desember 2016 Vol 1, No 02 (2016): Jurnal Himasapta Volume 01 Nomor 02 Agustus 2016 Vol 1, No 01 (2016): Jurnal Himasapta Volume 01 Nomor 01 April 2016 More Issue