cover
Contact Name
Agus Budiharto
Contact Email
phpbun_2006@yahoo.co.id
Phone
+622518313083
Journal Mail Official
deciyantos@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 1 Bogor 16111, Jawa Barat, Indonesia
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Perspektif, Review Penelitian Tanaman Industri
ISSN : 14128004     EISSN : 25408240     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Majalah Perspektif Review Penelitian Tanaman Industri memuat makalah tinjauan (review) fokus pada Penelitian dan kebijakan dengan ruang lingkup (scope) komoditas Tanaman Industri/perkebunan, antara lain : nilam, kelapa sawit, kakao, tembakau, kopi, karet, kapas, cengkeh, lada, tanaman obat, rempah, kelapa, palma, sagu, pinang, temu-temuan, aren, jarak pagar, jarak kepyar, dan tebu.
Articles 201 Documents
PERTANIAN PRESISI DALAM BUDIDAYA LADA The Precision Farming on Pepper Cultivation Joko Pitono
Perspektif Vol 18, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.713 KB) | DOI: 10.21082/psp.v18n2.2019.91-103

Abstract

Nilai ekonomi lada pada subsektor perkebunan cukup penting dan perlu penguatan daya saingnya untuk menghadapi semakin tajamnya kompetisi pasar ke depan. Peningkatan efisiensi dan presisi dalam penanganan budidaya di lapangan menjadi salah satu penentunya. Peningkatan efisiensi tersebut memungkinkan dilakukan melalui pendekatan pertanian presisi. Konsep dasar pertanian presisi adalah penggunaan input seakurat mungkin sesuai kebutuhan tanaman, sehingga diperoleh keuntungan berupa penghematan dalam pembiayaan input, tenaga kerja, dan hasil panen yang lebih baik. Penerapan pertanian presisi memungkinkan diterapkan mulai dari pendekatan sederhana hingga tingkat yang lebih komplek, tentunya akan diikuti oleh konsekuensi perbedaan keakurasian dan besaran investasi instrumen teknologi yang digunakannya. Pada review ini diulas tentang relevansi antara penerapan pertanian presisi dengan karakteristik budidaya lada yang tergolong padat input, serta pendekatan sederhana yang memungkinkan dilakukan petani untuk memperbaiki presisi dan efisiensi usahatani ladanya. Selain itu, diuraikan juga tentang perkembangan hasil penelitian dan teknologi saat ini yang berpeluang dimanfaatkan untuk perbaikan budidaya lada ke depan. Dan strategi untuk percepatan penerapan inovasi pertanian presisi pada budidaya lada tersebut diantaranya dapat dilakukan melalui peningkatan kapasitas SDM dan kelembagaan, penguatan mekanisasi dan digitalisasi di tataran on-farm dan off-farm, serta pemberian insentif atas penerapannya. ABSTRACT The economic value of pepper in the estate subsector is important and its competitiveness should be strengthened to challenge the increasingly sharp market competition in the future. Increasing efficiency and precision in the on-farm level is one of the important factors to face the challenge. The cultivation efficiency can be improved through a precision farming approach. The basic concept of precision farming is the use of inputs accurately according to plants need to obtain benefits both by saving cost of inputs and labor, and getting better yields. The precision farming can be applied from a simple approach to a more complex level.  This determines the accuracy level and the investments related to the instruments used in the technology.  This paper reviews the relevance of precision farming application and the characteristics of pepper cultivation that is classified as input-intensive, as well as a simple approach that allows farmers to improve the precision and efficiency of their farming systems. In addition, it also elaborates the development of current research and technology which are potential to improve pepper cultivation in the future. The strategies for accelerating the application of precision agricultural innovations in pepper cultivation could be performed through increasing human resource and institutional capacity, strengthening mechanization, digitalization at the on- and off-farm levels, and providing incentives for the farmers as a reward for their implementation. 
Kemajuan Genetik Varietas Unggul Kapas Indonesia Yang Dilepas Tahun 1990-2003 EMY SULISTYOWATI; HASNAM HASNAM
Perspektif Vol 6, No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.951 KB) | DOI: 10.21082/p.v6n1.2007.%p

Abstract

ABSTRAKKanesia 1 dan Kanesia 2 adalah dua varietas unggul kapas yang dihasilkan dari kegiatan seleksi individu dari  populasi  Reba  BTK 12 dan Tak Fa 1 dan merupakan varietas pioneer bagi berkembangnya arietas-varietas unggul kapas Indonesia. Varietas unggul berikutnya dirakit dengan pendekatan pengumpulan gen (‘genes pooling’) ataupun piramida gen (‘genes pyramiding’) dengan memanfaatkan sumber-sumber genetik dalam koleksi plasma nutfah kapas dan menghasilkan tujuh varietas kapas Indonesia baru (Kanesia 3 Kanesia 9). Dibandingkan dengan Kanesia 1 dan Kanesia 2, tujuh varietas kapas unggul   tersebut   menunjukkan   perbaikan   tingkat produktivitas dan mutu serat yang cukup tajam; secara paralel juga dilakukan perbaikan ketahanan terhadap hama yang difokuskan pada hama penghisap daun kapas     (Amrasca biguttula) melalui mekanisme ketahanan fisik tanaman yang ditunjukkan dengan kerapatan bulu pada batang dan daun, sehingga secara drastis mengurangi pemakaian pestisida.  Makalah ini menyajikan kemajuan genetik yang telah dicapai pada program perakitan varietas Kanesia 1 sampai Kanesia 9, dan arah pemuliaan kapas dimasa datangKata kunci :  Gossypium hirsutum, kemajuan genetik, produktivitas,   mutu   serat,   Amrasca biguttula ABSTRACTGenetic Progress Of Indonesian Cotton Varieties Released In 1990 - 2003Kanesia 1 and Kanesia 2 are two high yielding cotton varieties which were obtained from individual selection from populations of Reba BTK-12 and Tak Fa 1, and have pioneered the development of the engineering of Indonesian national cotton varieties. The other high yielding varieties are engineered by using gene pooling or genes pyramiding approaches involving the use of genetic sources in the cotton germplasm  collection  which  have  resulted  in  the release of seven more new Indonesian cotton varieties (Kanesia 3 - Kanesia 9).  As compared to Kanesia 1 and 2, the seven new Kanesias show a significant increase in productivity level as well as fibre properties. In parallel, those are accomplished with improved resistance to insect pests focusing on jassid (A. biguttula) via physical resistance mechanism expressed by long and high hair density on leaves and stem; this has resulted in reduced insecticide usage.  This paper reviews the genetic improvements which have been obtained from breeding program of Indonesia national cotton varieties, Kanesia 1 - Kanesia 9 and describes the future cotton breeding programmes.Key words:  Gossypium hirsutum, genetic progress, productivity, fiber properties, Amrasca biguttula
Extraction of Galactomannan on the Coconut Meat, “Sapal”, and Function for Food Rindengan Barlina
Perspektif Vol 14, No 1 (2015): Juni, 2015
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (739.374 KB) | DOI: 10.21082/p.v14n1.2015.37-49

Abstract

ABSTRACTGalactomannan is a polymer containing units mannopiranosa with βeta-(1-4) and unit galactopiranosa with bonding αlfa-(1-6). Galactomannan source that has been developed is of plant seeds Leguminoceae, the fenugreek (Trigonellafoenum graecum). The price of 250 mg extract of fenugreek yield 85% galactomannan reach to US $ 26.75 (Rp.250,000). Galactomannan compound also contained in the coconut meat. The more mature of coconuts fruit, galactomannan compounds will increase. Coconut pulp that has been processed into flour can be substituted on the processing of snacks so that the product has Glykemik index (GI) is low. Isolation galactomannan using 4% of furnace ash solution and coconut pulp 400 g obtained galactomannan isolates 134,4g. The use of coconut galactomannan isolates for 52 days in the rabbit (hypercholesterolemia), can prevent the increase in total cholesterol levels of 24 mg / dl, cholesterol- drugs only 16 mg /dl, preventing the increase in LDL of 15 mg /dl together with cholesterol- drugs, increase HDL 1 mg /dl, while the drug to increase HDL 2 mg /dl, and prevent the increase in triglycerides (TG) 18 mg /dl. By looking at the benefits galactomannan in the food industry, health, environmental and economic value, this potential needs to develope.Keywords: Coconut, sapal, galactomannan, isolation, food, health Ekstrak Galaktomanan pada Daging Buah Kelapa dan Ampasnya serta Manfaatnya untuk Pangan RINGKASANGalaktomanan adalah polimer yang mengandung unit mannopiranosa dengan ikatan βeta– (1– 4) dan unit galaktopiranosa dengan ikatan αlfa – (1– 6). Sumber galaktomanan yang telah dikembangkan adalah dari biji tanaman Leguminoceae, yaitu fenugreek (Trigonellafoenum graecum). Harga 250 mg ekstrak fenugreek berkadar 85% galaktomanan mencapai US$ 26,75 atau Rp.250.000.- Senyawa galaktomanan terkandung juga pada daging buah kelapa. Semakin matang buah kelapa berat galaktomanan akan meningkat dan terbukti pada ampas kelapa terkandung kadar galaktomanan yang tinggi. Galaktomanan memiliki banyak manfaat dalam industri pangan, kesehatan dan lingkungan hidup. Ampas kelapa yang telah diolah menjadi tepung dapat disubstitusi pada pengolahan makanan ringan sehingga produk memiliki Indeks Glykemik (IG) rendah. Isolasi galaktomanan menggunakan larutan isolat abu tungku 4% pada ampas kelapa 400 g diperoleh berat kering isolat galaktomanan 134,4g. Penggunaan isolat galaktomanan kelapa selama 52 hari pada kelinci percobaan (hiperkolesterol), dapat mencegah kenaikan kadar total kolesterol 24 mg/dl, obat penurun kolesterol hanya 16 mg/dl, mencegah kenaikan LDL 15 mg/dl sama dengan obat penurun kolesterol, meningkatkan HDL 1 mg/dl, sedangkan yang diberi obat meningkatkan HDL 2 mg/dl dan mencegah kenaikan trigliserida (TG) 18 mg/dl. Dengan melihat manfaat galaktomanan dalam industri pangan, kesehatan, lingkungan hidup dan nilai ekonomi yang cukup baik, maka potensi ini perlu dikembangkan.Kata kunci: Kelapa, ampas, galaktomanan, isolasi, pangan, kesehatan
Status of Research and Improvement Efforts of Alcohol Patchouli Content In Oil Patchouli SETIAWAN .; ROSIHAN ROSMAN
Perspektif Vol 12, No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v12n2.2013.%p

Abstract

Patchouli (Pogostemon cablin Benth.) as the oil-producing plant is known through patchouli oil. Patchouli oil is one of natural ingredient that has a very important role in the industry of cosmetics and perfumes. Patchoulol (patchouli alcohol/PA) is the most important compound which secretes aroma and are often used as an indicator of the quality of patchouli oil. But this time, the PA content of Indonesian patchouli oil mostly <31%, whereas the ISO standard requires over 31%. Therefor, efforts to increase the patcouli alcohol content is higher indispensable either through improved crop and post harvest. Various studies have been conducted from land suitability and climate, varieties and post-harvest. The results showed that the content of PA can be improved more than 50% Key words : Patchouli, patchouli alcohol, technology, improvements
ABAKA (Musa textilis Nee) SEBAGAI SUMBER SERAT ALAM, PENGHASIL BAHAN BAKU PULP / Abaca (Musa textilis Nee) As Thesourceof Naturalfiber, Producingraw Materialfor Budi Santoso; Mastur Mastur; Fitriningdyah Tri Kadarwati
Perspektif Vol 15, No 1 (2016): Juni, 2016
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (738.38 KB) | DOI: 10.21082/psp.v15n1.2016.01-10

Abstract

Abaca-producing natural fiber as raw material for pulp paper money. Natural fibers derived from abaca, have environmentally friendly nature and local wisdom, highly favored by consumers manufacturer. Nowadays the need for abaca fiber in the country is still imported. Pulp and paper are derived from abaca has advantages including a tear-resistant, when it becomes difficult falsified paper or paper produced is used for Paper that is difficult to imitate, stamp paper dukomen (seals, certificates, diplomas and other important papers). Bank Indonesia (BI) in 2014 is more serious to use raw materials of cotton fiber and abaca fiber in the country. This is in accordance with the Currency Act N0. 7 Year 2011 on article 9 (2) in order to give priority to domestic raw materials (local) to maintain the quality, safety and competitive prices in the printing Rupiah. The first harvest abaca at age 18-20 months after planting. At that time there has been no income for farmers, their inter-cropping between chili + abaca provide a source of income, because chili is a seasonal crop that yields chilli can assist in meeting the needs of farmers in financial trouble. Besides, there is no plant stand (Jabon, or sengon). The pattern of intercropping abaca + small chilli may generate profits of Rp. 21.333 million, - thus the development of abaca has good prospects. The purpose of the writing of this review is to provide support for the existence of abaca development innovation as a source of natural fiber which contribute in providing raw materials of paper money dicanakan by Bank Indonesia and to create employment in rural areas, and provide a source of income of farmers.
PENGEMBANGAN TANAMAN PEMANIS Stevia rebaudiana (BERTONI) DI INDONESIA DJAJADI DJAJADI
Perspektif Vol 13, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.638 KB) | DOI: 10.21082/p.v13n1.2014.%p

Abstract

ABSTRAKStevia rebaudiana (Bertoni) merupakan tanaman pemanis termasuk famili Asteraceae, dan berasal dari Paraguay yang saat ini menyebar ke beberapa negara Asia, Eropa, dan Canada. Daun tanaman ini mengandung steviosid dan rebaudiosid A yang tingkat kemanisannya sampai 300 kali dari sukrosa yang terkandung dalam tanaman tebu.  Selain  sebagai  bahan  pemanis  makanan  dan minuman,  ekstrak  daun  stevia  juga  bermanfaat  bagi kesehatan, karena berkadar kalori rendah, anti oksidan, anti  jamur,  dan  non  karsinogenik.  Oleh  karena  itu tanaman  ini  berpotensi  untuk  dikembangkan  di Indonesia  sebagai  substitusi  impor  gula  yang  terus meningkat.  Saat  ini  budidaya  stevia  secara  komersial terdapat  di  Kecamatan  Tawangmangu,  Kabupaten Karanganyar. Pengembang­an stevia dapat diarahkan ke daerah  lain  dengan  ketinggian  di  atas  700  m  di  atas permukaan laut dan mempunyai curah hujan rata­rata minimal 1400 mm/tahun. Kendala pengembangan stevia  antara lain adalah perbanyakan bibit dalam jumlah besar  dan masih adanya rasa pahit dalam ekstrak produknya, serta  harga  jualnya  yang  masih  belum  kompetitif.  Diperlukan dukungan penelitian yang difokuskan pada teknik  perbanyakan  bibit  yang  efektif  dan  efisien, identifikasi  kesesuaian  lahan,  dan  perbaikan  teknologi pasca panen untuk meningkatkan daya saing dan nilai jualnya.Kata kunci:  Stevia  rebaudiana,  steviosid,  kesesuaian llahan, nilai ekonomi Extention of Stevia rebaudiana (Bertoni) Cropping in IndonesiaABSTRACTStevia  rebaudiana  Bertoni  is  a  bushy  shrub  of  the Asteraceae family, indigenous plant of Paraguay.   Now the  plants  are  cultivated  in  some  countries  of  Asia, Europe  and  Canada.  The  Stevia  leaves  have  stevioside and rebaudioside which are the major metabolites and these  compounds  have  sweetness  characteristic  250  to 300 times of sucrose in sugar cane.  As sweetener of foods  and beverages, extracted leaves of Stevia has safety and functional  properties  for  human  health  due  to  low calorie  content,  antioxidant,  antibiotics,  and  non­carcinogenetic materials.   In Indonesia, Stevia might be important  to  substitute  sugar  demand  which  has  still been  imported.    The  plant  is  now  most  cultivated  in district  of  Tawangmangu,  Central  Java.    The  cropping area  could  be  directed  to  areas  with  latitude  of  700  m above  sea  level  with  annual  precipitation  of  1400  mm. The constraints to extent the cropping area includes the difficulty of propagation for large scales of cultivation, bitter  after  taste  of  stevia,  and  the  low  competitive  of price  product.                 Research  focusing  on  efficiency  of propagation  techniques,  identifying  suitable  cropping areas and technologies of post harvesting are important to support the spread out of stevia cropping in Indonesia.Keyword :  Stevia  rebaudiana,  stevioside,  suitable  cropping          area, economic value
PENGEPEREMAJAAN KARET DAN MODEL PENGEMBANGAN TUMPANGSARI KARET BERKELANJUTAN DI INDOENSIA Replanting and Sustainable Development of Participatory Rubber Intercropping Modeling in Indonesia Sahuri Sahuri; Iman Satra Nugraha
Perspektif Vol 18, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.821 KB) | DOI: 10.21082/psp.v18n2.2019.87-90

Abstract

Model tumpangsari karet partisipatif berkelanjutan merupakan salah satu strategi yang dapat dilakukan oleh petani agar dapat bertahan dalam kondisi harga karet rendah saat ini. Tulisan ini membahas model tumpangsari karet partisipatif, implementasi model, kendala teknis pengembangan model, inovasi teknologi dan kelembagaan model, tantangan pengembangan model, dan perspektif kebijakan pengembangan model. Model tumpangsari karet partisipatif merupakan salah satu strategi untuk meningkatkan produktivitas usahatani karet rakyat melalui inisiasi dan partisipasi petani serta layak secara finansial. Model ini dapat meningkatkan pendapatan petani, produktivitas lahan dan dan produktivitas karet. Kendala teknis pengembangan model ini adalah naungan tajuk tanaman karet sehingga tidak dapat berkelanjutan dan produktivitas tanaman sela menurun. Diperlukan modifikasi jarak tanam karet melalui jarak tanam ganda sehingga dapat mengembangkan model ini dalam jangka panjang. Kendala sosial dan ekonomi dapat diatasi melalui model tumpangsari karet partisipatif dan didukung oleh kebijakan pemerintah dan kelembagaan partisipatif yang kuat. Tantangan pengembangan model ini pada skala yang lebih luas antara lain: sikap mental ketergantungan petani pada bantuan pemerintah; lemahnya koordinasi antarinstansi pemerintah dan nonpemerintah; dan tidak terjaminnya kontinuitas anggaran merupakan tantangan yang dapat mengganggu upaya mobilisasi partisipasi petani dan masyarakat untuk menjalankan program secara komprehensif. Selain itu, tantangan yang harus dihadapi untuk memperlancar pelaksanaan program model ini antara lain meningkatkan peran pemerintah, penyuluh, menyederhanakan birokrasi administrasi, dan mendapatkan komitmen yang kuat dari pimpinan eksekutif dan legislatif  di daerah secara menyeluruh dan konsisten yang didukung oleh lembaga penelitian, penyuluh pertanian, dan lembaga keuangan daerah. Perspektif kebijakan pemerintah diperlukan untuk mendukung dan penyangga harga karet dan tanaman ekonomis lainnya di tingkat usahatani melalui penguatan kelembagaan ekonomi seperti lembaga pengolahan hasil, penyimpanan, dan pemasaran. Diperlukan juga dukungan bimbingan teknis dan pendampingan manajemen model usahatani ini untuk mempercepat adopsi teknologi. Secara sosial diperlukan diseminasi teknologi untuk mengetahui tingkat adaptasi teknologi di tingkat petani sehingga mempermudah petani dalam melaksanakan sistem usahataninya. ABSTRACTSustainable of participatory rubber intercropping model is one strategy that can be carried out by farmers in order to survive in the current low rubber price condition. In according with this issue, participatory rubber intercropping models, model implementation, technical constraints of model development, technological innovation and institutional models, challenges to the development of models, and implications of model policies are discussed. The participatory rubber intercropping model is one of the strategies to increase the productivity of smallholder rubber farming through the initiation and participation of farmers and is financially feasible. This model can increase farmers' income, land productivity and rubber productivity. Technic obstacle the development of rubber intercropping model was rubber canopy shading so that it cannot be sustainable and rubber intercrops productivity decreases. In according needed to modify rubber spacing to extend the period of intercrops cultivation. Social and economic constraints can be overcome through a participatory rubber intercropping model and supported by strong government policies and participatory institutions. The challenges of developing this model on a broader scale include: the mental attitude of farmers' dependence on government assistance; weak coordination between government and non-government agencies; and not guaranteeing budget continuity are challenges that can disrupt efforts to mobilize farmers and community participation to carry out comprehensive programs. In addition, challenges that must be faced to expedite the implementation of this model program include increasing the role of government, extension workers, simplifying administrative bureaucracy, and obtaining strong commitments from executive and legislative leaders in the region as a whole and consistently supported by research institutions, agricultural extension workers, and regional financial institutions. The government policy perspective is needed to support and support the price of rubber and other economic crops at the farm level through strengthening economic institutions such as processing, storage and marketing institutions. There is also a need for technical guidance and management assistance for this model to accelerate technology adoption. Socially necessary technology dissemination to determine the level of technological adaptation at the farm level so that farmers make it easier to implement this systems. 
Kontaminasi Cendawan dan Mikotoksin pada Tumbuhan Obat RITA NOVERIZA
Perspektif Vol 7, No 1 (2008): Juni 2008
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.653 KB) | DOI: 10.21082/p.v7n1.2008.%p

Abstract

ABSTRAKTumbuhan obat seringkali terkontaminasi oleh berbagai cendawan, yang akan mengakibatkan pembusukan dan memproduksi mikotoksin. Beberapa tumbuhan obat yang dipakai sebagai bahan campuran jamu di Malaysia dan Indonesia (seperti jahe, kunyit, kencur,   kayu   rapat,   sambiloto,   dll),   dideteksi mengandung aflatoksin. Aspergillus flavus, A. Parasiticus dan A. ochraceus dijumpai pada buah Azadirachta indica, buah Jatropha curcas, akar Morinda lucida. Cendawan tersebut  memproduksi  aflatoksin  dan  okratoksin  A yang   sangat   berbahaya   bagi   kesehatan   manusia. Faktor-faktor penyebabnya adalah genetik tumbuhan,penanganan sebelum dan setelah panen. Kondisi yang tidak cukup bersih selama pengeringan, transportasi, dan penyimpanan dari bahan baku atau produk dapat menyebabkan   tumbuhnya   bakteri,   cendawan   dan mikotoksin.  Kesadaran tentang  pentingnya  mening-katkan metode penyiapan bahan baku  tumbuhan obatyang  bebas  kontaminasi  cendawan  dan  mikotoksin dari konsumen, peneliti, petani dan pedagang perlu ditingkatkan. Selain itu perlu dilakukan monitoring tentang distribusi dan tingkat kontaminasi aflatoksin pada produk atau bahan baku tumbuhan obat yang beredar   di   pasar.   Tulisan   ini   bertujuan   untuk memberikan informasi tentang cendawan kontaminan pada tumbuhan obat, serta faktor-faktor penyebabnya dan bahayanya untuk kesehatan manusia serta strategi atau upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengendalikan kontaminasi cendawan.Kata kunci : Cendawan kontaminan, mikotoksin, tumbuhan obat. ABSTRACTContamination  of  fungal  and  mycotoxins  on medicinal plantsMedicinal  plants  regularly  contaminated  by  fungi producing mycotoxin. Some medicinal plant used as ingredients in commercial traditional herbal medicines  (jamu) in  Malaysia  and  Indonesia (such  as  ginger, cekur,  turmeric,  kayu  rapat,  sambiloto,  etc.)  was detected  contained  aflatoxin.  Aspergillus  flavus,  A. parasiticus and A. ochraceus were found in Azadirachta indica and Jatropha curcas fruits also in Morinda lucida root. These fungi produce aflatoxins and ochratoxin A and very risky to human health. Fungal contamination on  those  plants  and  product was caused  by plant genetic,  preharvest (plant  cultivation,  environment stress) and post harvest treatments. Furthermore, the condition  of  raw  material  or  plant  product  was uncleaned during drying, transportation and storage causing   the   occurance   of   bacteria,   fungal   and mycotoxins.    Therefore,    the    awareness    among consumers, researches, farmers and traders regarding the importance in improving the processing methods (harvest, drying, transportation and storage) need to be more  concerned.  In  addition,  monitoring  covering distribution  and  contamination  level  of  molds  and mycotoxin on medicinal plant in the market need to be conducted. The purpose of this article is to provide the practical   information   on   fungal   contaminant   and mycotoxin levels in medicinal plants, which hazardous to human health; also the strategies in preventing and controlling fungal contamination.Key words : Fungal contaminant, mycotoxins, medicinal plant.
Peningkatan Produktivitas dan Peluang Pengembangan Ylang-Ylang di Indonesia MUHAMAD DJAZULI
Perspektif Vol 4, No 2 (2005): Desember 2005
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.235 KB) | DOI: 10.21082/p.v4n2.2005.%p

Abstract

ABSTRAKTanaman ylang-ylang (Cananga odoratum Baill, forma genuina) merupakan salah satu komoditas penghasil minyak atsiri yang sangat potensial untukdikembangkan di Indonesia sebagai komoditas ekspor. Dibandingkan dengan kenanga (C. odoratum Bail, forma macrophylla), pohon ylang-ylang lebih pendek, masa berbunga lebih cepat, mutu minyak lebih baik dan harga pasar yang lebih tinggi. Peluang pasar minyak ylang-ylang di dunia masih cukup besar dengan harga berkisar US$ 110 /kg.  Informasi tentang budidaya tanaman dan permintaan pasar minyak ylang-ylang masih sangat terbatas. Sentra produksi ylang-ylang di Indonesia berada di Jawa Barat dan Banten.  Untuk pengembangan sentra produksi baru harus didukung dengan kondisi agroekologi yang sesuai, penerapan teknik budidaya seperti penggunaan benih berser-tifikat, pemupukan berimbang, dan pengendalian hama dan penyakit. Selain itu, pemangkasan pucuk sangat diperlukan untuk mencegah pengguguran cabang dan memudahkan pemanenan. Penerapan sistem pola tumpangsari dengan tanaman atsiri lain di bawah  tegakan  ylang-ylang  sangat potensial  bagi peningkatan produktivitas lahan dan diversifikasi bahan baku penyulingan minyak. Dengan adanya peningkatan produktivitas lahan dan tanaman ylang-ylang yang nyata, tentunya akan diikuti dengan peningkatan pendapatan pengusaha perkebunan dan kesejahteraan masyarakat sekitar kebun, baik sebagai petani penggarap maupun sebagai buruh pemetik bunga. Dengan demikian, diharapkan sentra-sentra produksi ylang-ylang yang baru di Indonesia akan segera tumbuh dan berkembang.Kata kunci : Ylang-ylang, Cananga odoratum Baill forma genuina, produktivitas, pengembangan ABSTRACTProductivity Inprovement and Prospect of Ylang-Ylang Development in IndonesiaYlang-ylang (Cananga odoratum Baill, forma genuina) is one of essential oil crops which is potentially developed in Indonesia as an export commodity. Early harvest period, short plant, and high quality and price of ylang-ylang oil are advantage characteristics of ylang-ylang compared to kenanga (C. odoratum Baill, forma macrophylla). International market for ylang-ylang oil is widely open and current  price  is US$ 110/kg. Information  of  ylang-ylang  in  Indonesia especially cultivation technology and marketing prospect is very limited. Banten and West Java are the production center of ylang-ylang. To develop new planting  areas,  it should be supported with suitable agro ecology and reccomended cultivation technology such as application of sertificate seeds, balanced fertilizer,  and integrated pest control. Top cutting application is also necessary for preventing lower branch fall and easy harvesting.  Inter cropping with other essential oil crops  such  as  patchouli,  etiver  grass, and  Java citronella grass under ylang-ylang trees improves land productivity  nd provides other raw aterials for distillation industry. Increasing productivity of land and ylang-ylang should be followed by the increasing income of the estate owner and prosperity of the people surrounding the estate, both as farmer workers and flower pickers. Hopefully, some new production centers of ylang-ylang in Indonesia will develop.Keywords : Ylang-ylang, Cananga odoratum Baill forma genuina, productivity, development
Peningkatan Daya Saing Jambu Mente Menunjang Agribisnis ROBBER ZAUBIN; EDY MULYONO
Perspektif Vol 1, No 2 (2002): Desember 2002
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2093.085 KB) | DOI: 10.21082/p.v1n2.2002.66-72

Abstract

Jambu mente (Anacardium occidentals L.) merupakan salah satu komoditas perkebunan penghasil devisa yang cukup penting. Pada tahu 1999 produksinya arealnya adalah 535 745 ha dengan produksi 86 924 ton. Dari + 46% produk mente yang diekspor, 94.4% berbentuk gelondong dan hanya 5.56% dalam bentuk kacang. Permintaan mente dunia adalah + 1000 000 ton, yang dipenuhi oleh India 30%, Brazil dan Afrika, masing-masing 20%, Vietnam 15% dan negara-negara penghasil mente lainnya 9%. Indonesia hanya memasok 6% dari kebutuhan dunia. Untuk dapat bersaing dengan negara-negara penghasil mente lainnya dipasar dunia, Indonesia harus dapat meningkatkan produktivitasnya secara efisien, meningkatkan mutu produknya dan melakukan diversifikasi. Permasalahan pada agribisnis jambu mente teruama berada pada sektor hulu. Biaya produksi sebenarnya dapat ditekan apabila digunakan bahan tanaman yang unggul pada wilayah yang memenuhi persyaratan tumbuhnya, diikuti dengan penerapan budidaya yang direkomendasikan. Perkebunan jambu mente yang ada kini pada umumnya terdiri atas bahan tanaman dengan potensi genetik yang rendah dan harus diganti dengan bahan tanaman yang unggul. Varietas unggul Gunung Gangsir dan tipe-tipe mente harapan dapat digunakan sebagai bahan menggantikan tanaman yang ada melalui penyambungan. Teknologi penyambungan (grafting) telah tersedia sehingga terbuka peluang untuk meningkatkan potensi produksi dari 350 kg/ha menjadi 1500 kg/ ha. Pemupukan merupakan salah satu komponen budidaya penting untuk mewujudkan Potensi produksi bahan tanaman,namun menerapannya tergantung pada kondisi perekonomian petani. Keterkaitan antara sektor budidaya dengan penyedia sarana produksi perlu ditingkatkan. Saat ini alat kacip yang baik telah tersedia dengan rendemen kacang utuh + 90%. Produk-produk jambu mente sampai kini masih berupa produk primer sehingga perlu diupayakan diversifikasi dengan mengacu pada permintaan pasar.Diversifikasi produk untuk menghasilkan produk-produk setengah jadi dan siap pakai sebaiknya dilakukan oleh sektor hilir, sedang teknologi proses dan peralatan yang dibutuhkan untuk menyiapkan bahan bakunya ditransfer kepada sektor hulu. Buah semu jambu mente dapat diproses menjadi sari buah jernih, jelly, anggur, dan sebagainya sedangkan CNSL (cashewnut shell liquid) merupakan bahan baku penting pada industi cat, kimia, kampas rem, plastik dan kayu. Dengan demikian penelitian untuk menunjang indusri hulu akan lebih terarah dan bermanfaat menunjang industri hilir, yang merupakan bagian dari usaha agribisnis jambu mente.Kata kunci : Jambu mente, daya saing, biaya produksi, diversifikasi, nilai tambah, agribisnis.

Page 6 of 21 | Total Record : 201