cover
Contact Name
Y. Th. Latupapua
Contact Email
vithaforester@gmail.com
Phone
+6281354051315
Journal Mail Official
jhppk.unpatti@gmail.com
Editorial Address
PROGRAM STUDI MANAJEMEN HUTAN PASCASARJANA UNPATTI Jl. Dr. Ir. M. Latumeten, Lantai 3 Kampus PGSD, Ambon
Location
Kota ambon,
Maluku
INDONESIA
Jurnal Hutan Pulau-Pulau Kecil : Jurnal Ilmu-Ilmu Kehutanan dan Pertanian
Published by Universitas Pattimura
ISSN : 25411241     EISSN : 26218798     DOI : 10.30598/jhppk
Core Subject : Agriculture,
Tropical forests in the area of ??small islands have their own uniqueness. Its biodiversity and ecology depend on highly complex and interconnected systems. Managing forests in small islands in a sustainable manner require extensive application in various scientific disciplines. The small island forest journal (JHPPK) is a periodical scientific article and conceptual thinking on tropical forest management that covers all aspects of forest planning, forest policy, utilization of forest resources, forest society, forest ecology, forest inventory, silviculture, ecotourism, and regional ecosystem management. JHPPK also welcomes topics that directly or indirectly support the management of tropical forests, eg, economics, anthropology, social, and environment.
Articles 196 Documents
HABITAT BURUNG KAKATUA PUTIH (Cacatua alba) DI SITE MONITORING RESORT AKE JAWI KAWASAN TAMAN NASIONAL AKETAJAWE LOLOBATA Lilipory, Virlly Steffany; Pattinasarany, C K; Latupapua, Lesly
JURNAL HUTAN PULAU-PULAU KECIL Vol 9 No 1 (2025): JHPPK
Publisher : Program Studi Manajemen Hutan, Pascasarjana Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/jhppk.v9i1.18893

Abstract

Kakatua putih (Cacatua alba) merupakan burung endemik Maluku Utara yang saat ini berstatus terancam punah menurut IUCN. Penurunan populasi burung ini disebabkan oleh hilangnya habitat serta tingginya tingkat perburuan dan perdagangan ilegal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi habitat dan populasi Cacatua alba di Site Monitoring Resort Ake Jawi, Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Metode yang digunakan mencakup analisis vegetasi menggunakan kombinasi metode jalur dan garis berpetak, serta survei populasi dengan metode jalur transek (line transect sampling). Hasil penelitian menunjukkan bahwa habitat Kakatua putih di Ake Jawi didominasi oleh vegetasi hutan primer dengan keberadaan pohon yang menyediakan tempat bersarang dan sumber pakan, seperti Palem Doko (Corypha utan), Kenari (Canarium sp.), dan Samama (Anthocephalus cadamba). Populasi burung ini ditemukan tersebar di beberapa jalur pengamatan dengan kepadatan yang bervariasi. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah bagi upaya konservasi Kakatua putih serta pengelolaan habitatnya di Taman Nasional Aketajawe Lolobata.
ANALISIS PENDAPATAN PETERNAK SAPI POTONG YANG MENGIKUTI DAN TIDAK MENGIKUTI PROGRAM INSEMINASI BUATAN (IB) DI KECAMATAN KAIRATU KABUPATEN SERAM BAGIAN BARAT Leiwakabessy, Benony; Ririmase, Pieter. M.; Tatipikalawan, Jomima Martha
JURNAL HUTAN PULAU-PULAU KECIL Vol 9 No 1 (2025): JHPPK
Publisher : Program Studi Manajemen Hutan, Pascasarjana Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/jhppk.v9i1.19132

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan perbedaan pendapatan antara peternak sapi potong yang mengikuti program IB dan yang tidak mengikuti program IB/non IB dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan peternak sapi di Kecamatan Kairatu Kabupaten Seram Bagian Barat. Data primer dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dan observasi pada 60 peternak (30 peternak yang mengikusi program IB, 30 tidak mengikuti/non IB) pada tiga desa sampel yaitu Desa Kairatu, Desa Waimital, dan Desa Waipirit yang dipilih secara purposive sampling. Analisis statistik deskriptif, uji beda rata–rata (independent sample t-test), dan regresi berganda diterapkan untuk mengolah data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan per tahun peternak yang mengikuti program IB (Rp 12.575.000) secara signifikan lebih tinggi dibanding non-IB (Rp 6.353.333,33), dengan selisih Rp 6.221.667,67 (t=2,148; p<0,05). Faktor yang mempengaruhi pendapatan peternak sapi adalah biaya produksi, harga jual, sapi hasil IB/non IB dan jumlah sapi yang dipasarkan.
PENDEKATAN TERPADU DALAM STRATEGI PENGELOLAAN MANGROVE DI NEGERI RUTONG KOTA AMBON Soselisa, Fanny; Pattimahu, Debby V.; Puttuhena, Jusmy D; Metiary, Brian G
JURNAL HUTAN PULAU-PULAU KECIL Vol 9 No 1 (2025): JHPPK
Publisher : Program Studi Manajemen Hutan, Pascasarjana Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/jhppk.v9i1.19212

Abstract

Dalam rangka pengelolaan hutan mangrove berkelanjutan di Negeri Rutong maka diharapkan dapat merumuskan prioritas strategi pengelolaannya yang tepat dan terintegrasi, sehingga akan mendorong partisipasi dan kolaborasi semua pemangku kepentingan terkait dalam pengelolannya. Adapun Tujuan dari penelitian yang akan dicapai adalah: Menganalisis faktor internal dan eksternal dalam pengelolaan ekosistem mangrove dan Menentukan prioritas strategi pengelolaan hutan mangrove. Ppenelitian yang akan dilakukan adalah bertempat di Negeri Rutong, Kecamatan Leitimur Selatan Kota Ambon. Teknik pengumpulan data menggunakan kuisioner yang diberikan kepada actor kunci, diikuti dengan identifikasi internal factor dan eksternal factor, hasil Penelitian menunjukkan bahwa Hasil analisis menunjukkan bahwa pengelolaan hutan mangrove berada dalam Kuadran I, yang berarti meski menghadapi ancaman eksternal, pengelolaan ini masih memiliki kekuatan internal yang signifikan. Dengan demikian, strategi yang direkomendasikan adalah memanfaatkan kekuatan yang ada untuk mengambil peluang serta mengatasi kelemahan.
DINAMIKA PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DAN DAMPAKNYA TERHADAP DEBIT AIR LIMPASAN PERMUKAAN (RUNOFF) DI DAS WAILELA Veerman, Verend Agsel; Boreel, Aryanto; Berhitu, Pieter. Thomas
JURNAL HUTAN PULAU-PULAU KECIL Vol 9 No 1 (2025): JHPPK
Publisher : Program Studi Manajemen Hutan, Pascasarjana Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/jhppk.v9i1.19385

Abstract

Pertumbuhan populasi yang terjadi menyebabkan peningkatan kebutuhan lahan untuk permukiman sehingga memicu terjadinya alih fungsi lahan. Perubahan ini berdampak negatif terhadap lingkungan, salah satunya adalah meningkatnya debit air limpasan permukaan (runoff). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika perubahan pemanfaatan lahan dan dampaknya terhadap debit air limpasan permukaan (runoff) di Daerah Aliran Sungai (DAS) Wailela. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis spasial dengan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG), cellular automata dan metode rasional. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat dua kelas yang mengalami peningkatan luasan terbesar, yaitu area bervegetasi dan permukiman. Hasil uji akurasi prediksi pemanfaatan lahan tahun 2023 di DAS Wailela menunjukkan nilai akurasi sebesar 93%, dan prediksi pemanfaatan lahan hingga tahun 2044 menunjukkan bahwa kelas pemanfaatan lahan permukiman akan mengalami peningkatan luasan. Hasil perhitungan debit runoff harian menunjukkan bahwa akan mengalami kenaikkan debit pada periode 2023-2044 dari 50,99 m3/s menjadi 52,62 m3/s.
EVALUASI KINERJA PENYULUH KEHUTANAN DALAM PENDAMPINGAN KELOMPOK TANI PERHUTANAN SOSIAL DI KPHL BUKIT DAUN, BENGKULU Oktoyoki, Hefri; Siswahyono, Siswahyono; Krisna Fachreza, Muhammad
JURNAL HUTAN PULAU-PULAU KECIL Vol 9 No 1 (2025): JHPPK
Publisher : Program Studi Manajemen Hutan, Pascasarjana Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/jhppk.v9i1.20529

Abstract

Ketimpangan akses terhadap kawasan hutan mendorong lahirnya program Perhutanan Sosial (PS) di Indonesia sebagai upaya legalisasi dan pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan hutan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kinerja penyuluh kehutanan dalam mendampingi kelompok tani hutan di wilayah kerja KPHL Bukit Daun, Provinsi Bengkulu. Menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif, penelitian melibatkan seluruh penyuluh resmi yang terdaftar melalui metode sensus total (n=16). Instrumen penilaian mengacu pada indikator kinerja Balai PSKL Wilayah Sumatera yang mencakup aspek sosialisasi, penyusunan dokumen perencanaan, pelaporan, penguatan kelembagaan, serta pemanfaatan sistem informasi GoKUPS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas penyuluh memiliki kinerja dalam kategori "cukup baik" (72,66 poin), sementara hanya tujuh orang berada dalam kategori "baik". Nilai tertinggi diperoleh pada aspek administratif kelembagaan, sedangkan nilai terendah terdapat pada aspek pengembangan produk dan literasi digital. Karakteristik penyuluh dengan kinerja tinggi umumnya memiliki pendidikan S1, pengalaman kerja di atas 10 tahun, dan frekuensi pelatihan lebih dari tiga kali. Penelitian ini menegaskan pentingnya revitalisasi sistem penyuluhan kehutanan melalui pelatihan berbasis digital, penguatan kapasitas ekonomi lokal, dan integrasi lintas sektor. Temuan ini berkontribusi pada penguatan praktik Community-Based Forest Management (CBFM) di Indonesia dengan menyoroti peran penyuluh sebagai agen perubahan dalam mewujudkan keberlanjutan program perhutanan sosial.
DAYA TARIK DAN DAYA DUKUNG FISIK OBJEK WISATA PANTAI TIHULESSY DI DESA HUKURILA KECAMATAN LEITUMUR SELATAN Rifandy Sanmas, Muhammad; Puttileihalat, Maya.M.S
JURNAL HUTAN PULAU-PULAU KECIL Vol 9 No 1 (2025): JHPPK
Publisher : Program Studi Manajemen Hutan, Pascasarjana Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/jhppk.v9i1.19821

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya tarik objek wisata pantai Tihulessy, mengetahui Daya Dukung Fisik terhadap objek wisata pantai Tihulessy di Desa Hukurila Kecamatan Leitimur Selatan. Penelitian ini mengunakan metode observasi, dan wawancara dengan mengunakan kuisioner yang diberikan kepada pengunjung dan masyarakat di sekitar area wisata secara sengaja (purposive sampling), dokumentasi, dan studi literature yang dianalisis secara dekskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukan daya tarik pada objek wisata pantai Tihulessy meliputi 8 kriteria penilaian yaitu daya Tarik wisata, aksesibilitas, akomodasi, sarana prasarana, kebutuhan air bersih, kondisi di sekitar kawasan, pengelolaan dan pelayanan serta keamanan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan nilai dari daya tarik objek wisata pantai Tihulessy karena pantai ini disebut sebagai desa wisata Bahari berkelanjutan (DEWI BULAN) yang dikenal akan keindahan bawah laut. Pantai ini membentang menghadap ke arah timur dengan pasir yang berwarna coklat dengan batuan yang menghiasi bibir pantai, terdapat endapan pasir hitam yang diduga merupakan hasil dari aktivitas vulkanisme daerah setempat. Jarak lokasi objek wisata dari pusat kota 13 km dan memakan waktu kurang lebih 32 menit. Kawasan pantai Tihulessy ini sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai objek wisata. Daya dukung fisik dapat diketahui bahwa Wisata Pantai Tihulessy memiliki daya dukung fisik 1.110 pengunjung per hari untuk kategori berpiknik, 703 pengunjung per hari untuk kategori berenang, dan 867 pengunjung per hari untuk kategori berperahu. Sehingga dapat menampung semua kegiatan pengunjung dengan nyaman sambil menjaga kelestarian Pantai.
ANALISIS DISPERSI SEDIMEN DI MUARA WAERUHU KOTA AMBON Suhartono, Patrisia; Putuhena, Jusmy D; Boreel, Aryanto
JURNAL HUTAN PULAU-PULAU KECIL Vol 9 No 1 (2025): JHPPK
Publisher : Program Studi Manajemen Hutan, Pascasarjana Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/jhppk.v9i1.15611

Abstract

Sedimentasi merupakan pengendapan material batuan yang diangkut oleh bantuan air atau angin. Dengan kata lain, sedimentasi adalah suatu proses pengendapan zat padat dalam air yang dilakukan dengan memanfaatkan gaya gravitasi dan mengendap di wilayah tertentu. Akhirnya mengakibatkan fungsi hidrologis DAS tidak berjalan sebagaimana mestinya sehingga sering terjadi banjir pada saat musim hujan dengan intensitas yang tinggi, menyebabkan debit sungai menjadi meningkat. Mengurangi tingkat sedimentasi tersebut diperlukan suatu sistem yang tepat dan cermat agar penyediaan air tetap terpenuhi. Salah satunya dengan menganalisis tingkat penyebaran sedimen di saluran irigasi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebaran sedimen di muara Waeruhu, Kota Ambon dari tahun 1990, 2000, 2010 dan 2020. Pada Penelitian ini menggunakan citra satelit landsat 5 TM tahun 1990 dan 2000, landsat 7 ETM tahun 2010 dan landsat 8 OLI tahun 2020 (Path 108/Row 62) yang diunduh secara langsung dari website United States Geological Survey (USGS). Menggunakan klasifikasi terbimbing dengan bantuan analisis deskriptif yang digunakan dalam pengukuran dan pengamatan selama survey di lapangan. Berdasarkan hasil penelitian di tahun 2020 sebesar 0,22 ton/tahun sedimen tersebar di muara Waeruhu. Berbagai faktor yang mempengaruhi terjadinya sedimentasi pada Muara yaitu : intensitas dan curah hujan, tata guna lahan, dan jenis tanah.
STRATEGI PENGELOLAAN HUTAN KEMASYARAKATAN (HKm) DI HUTAN LINDUNG PULAU SAPARUA NEGERI PORTO KECAMATAN SAPARUA KABUPATEN MALUKU TENGAH Tetelepta, Lukas; Mardiatmoko, Gun; Pattimahu, Debby. V.
JURNAL HUTAN PULAU-PULAU KECIL Vol 9 No 2 (2025): JHPPK
Publisher : Program Studi Manajemen Hutan, Pascasarjana Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/jhppk.v9i2.20077

Abstract

Adapun tujuan dalam Penelitian ini adalah: menganalisis kondisi ekologi, ekonomi, dan sosial masyarakat pengelola hutan kemasyarakatan, serta menganalisis strategi pengelolaan hutan kemasyaraktan (HKm) dan merumuskan alternatif strategi pengelolaan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus sampai Nopember 2023 di Negeri Porto Kecamatan Saparua Kabupaten Maluku Tengah. Pemilihan lokasi ditentukan secara purposive dengan pertimbangan bahwa wilayah tersebut (1) memiliki izin pengelolaan HKm, (2) pengelolaan HKm mendukung kearifan lokal dan berbasis pada masyarakat. Pengolahan data dilakukan dari Januari - Desember 2024. Teknik Pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Penentuan sampel dilakukan dengan memilih kelompok (HKm) Amapolo beranggotakan 30 petani, dengan metode purposive sampling (Sugiyono 2017). Penentuan sampel mempertimbangkan beberapa indikator yaitu anggota yang aktif, umur produktif, dan petani cengkih di dalam hutan kemasyarakatan, kapasitas dan pengetahuan responden dalam memberikan informasi secara lengkap dan relevan. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif, dan SWOT. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa Aspek ekologi: Areal HKm Amapolo adalah hutan lindung yang mendukung kesuburan tanah dan air. Aspek ekonomi: petani belum merasakan manfaat langsung dari program pengembangan ekonomi berupa kopi tuni di HKm. Aspek sosial: Program HKm Amapolo belum berkembang dengan baik. Menurut hasil pembobotan dari diagram SWOT faktor internal dan eksternal, hasil analisis menunjukkan bahwa faktor internal kekuatan mencapai 1.81; faktor internal kelemahan mencapai 1.67; dan faktor eksternal peluang mencapai 1.91; dan faktor eksternal ancaman mencapai 1.80. Posisi strategi pengembangan hutan kemasyarakatan berada di kuadran 1 dengan nilai koordinat (0.14; 0.11).
ANALISIS TINGKAT KERENTANAN BENCANA BANJIR DI DESA WAIHERU KECAMATAN BAGUALA KOTA AMBON La Enta, Restaa S; Nanlohy, Willem; Puturuhu, Ferad
JURNAL HUTAN PULAU-PULAU KECIL Vol 9 No 2 (2025): JHPPK
Publisher : Program Studi Manajemen Hutan, Pascasarjana Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/jhppk.v9i2.20421

Abstract

Desa Waiheru merupakan lokasi penelitian yang berada di Kecamatan Baguala Kota Ambon. Pada bulan Juli 2024 daerah Kota Ambon dilanda curah hujan yang tinggi sehingga meluapnya air sungai dan berdampak pada sejumlah rumah warga di Desa Waiheru terendam banjir. ketinggian banjir yang mencapai hingga 1m sangat berdampak buruk bagi aktivitas kegiatan masyarakat. selain rumah warga yang terendam, jalan raya sekitar waiheru juga terendam banjir. Akibatnya terjadi kemacetan arus lalu lintas di daerah tersebut. Juga lahan pertanian seluas 1,5ha dari 4ha yang berada tepat dibelakang Kantor Desa Waiheru di RT 21 dan RT 04 perumnas terendam banjir sehingga menyebabkan tanaman tersebut gagal panen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kerentanan bencana banjir di Desa Waiheru Kecamatan Baguala Kota Ambon, penelitian ini menggunakan teknik overlay dengan metote skoring dan pembobotan. Variabel yang digunakan meliputi kerentanan fisik, kerentanan sosial, kerentanan ekonomi dan kerentanan lingkungan. Hasil penellitian ini menunjukan bahwa tingkat kerentanan banjir di Desa Waiheru adalah kerentanan sedang dengan skor 0,7648. Hasil akhir dari penelitian ini adalah menghasilkan peta indeks tingkat kerentanan banjir.
STUDI ETNOBOTANI PEMANFAATAN TUMBUHAN BERKHASIAT OBAT OLEH MASYARAKAT ETNIS KAO, TOBELO DAN GALELA HALMAHERA UTARA Patty, Alfred Lodewyk; Popoko, Stefen; Hunila, Ernny; Tandisalla, Johana
JURNAL HUTAN PULAU-PULAU KECIL Vol 9 No 2 (2025): JHPPK
Publisher : Program Studi Manajemen Hutan, Pascasarjana Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/jhppk.v9i2.20894

Abstract

Sebagai daerah kepulauan, Maluku Utara memiliki keragaman hayati yang tinggi termasuk keragaman suku, budaya dan tradisi lokal. Tumbuhan obat merupakan suatu entitas yang tumbuh dan dimanfaatkan oleh masyarakat lokal untuk kepentingan peningkatan derajat kesehatan sesuai pengetahuan yang dimiliki. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisir jenis tumbuhan berkhasiat obat dan pemanfaatannya oleh masyarakat Suku Kao, Suku Tobelo dan Suku Galela di Halmahera Utara. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah survey lapangan melalui wawancara dengan 105 responden yang terseleksi melalui teknik Snowball Sampling, serta melakukan penelusuran ke lokasi/habitus tumbuhan obat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 83 jenis tumbuhan obat dari 45 family yang dimanfaatkan oleh masyarakat suku Kao, suku Tobelo dan suku Galela dalam pengobatan tradisional berdasarkan pengetahuan lokal yang dimiliki. Spesies tumbuhan obat yang paling banyak digunakan berbentuk herba dan daun adalah bagian tumbuhan yang paling sering dipakai. Adapun metode preparasi yang paling sering dipakai adalah perebusan dan sebagain besar diaplikasikan dengan cara diminum. Berragam jenis penyakit yang diobati menggunakan ramuan dari tumbuhan obat yaitu penyakit organ dalam, penyakit kulit, penyakit otot dan persendian, serta penyakit mulut dan gigi.