cover
Contact Name
Made Ratna Dian Aryani
Contact Email
dian_aryani@unud.ac.id
Phone
+6281999556168
Journal Mail Official
jurnal.sakura@unud.ac.id
Editorial Address
Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana Jalan Pulau Nias 13, Sanglah, Denpasar Bali Indonesia 80114
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Sakura : Sastra, Bahasa, Kebudayaan dan Pranata Jepang
Published by Universitas Udayana
ISSN : 26231328     EISSN : 26230151     DOI : https://doi.org/10.24843/JS.2019.v01
Jurnal SAKURA : Sastra, Bahasa, Kebudayaan dan Pranata Jepang, merupakan jurnal yang memuat artikel hasil penelitian serta kajian ilmiah di bidang sastra, linguistik, kebudayaan dan pranata Jepang. Terbit dua kali dalam setahun, pada bulan Februari dan Agustus. Jurnal SAKURA bertujuan menjadi wadah bagi para peneliti, dosen, mahasiswa dan para praktisi di bidang Sastra, Linguistik, Kebudayaan dan Pranata Jepang untuk mempublikasikan karya ilmiahnya secara luas
Articles 122 Documents
Analisis Idiom Bahasa Jepang dengan Unsur Hewan yang Hidup di Air Siti Heriani Indamatul Mustaqimah; Della Yulita; Alif Maula Akmal
Jurnal Sakura : Sastra, Bahasa, Kebudayaan dan Pranata Jepang Vol 6 No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JS.2024.v06.i02.p06

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur pembentukan, makna leksikal dan makna idiomatikal pada idiom bahasa Jepang, beserta makna konotasi yang terdapat pada idiom dengan unsur hewan yang hidup di air. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode simak yang dilanjutkan dengan teknik catat. Sumber data yang digunakan adalah dari buku yang berjudul Kodansha’s Dictionary of Basic Japanese Idioms karya Garrison, dkk. tahun 2002. Data yang ditemukan dianalisis dengan menggunakan metode padan ekstralingual dan disajikan dengan metode informal. Penelitian ini menggunakan teori jenis makna menurut Chaer dan teori struktur pembentukan idiom menurut Akimoto. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah terdapat 20 idiom berbahasa Jepang dengan unsur hewan yang hidup di air. Berdasarkan idiom-idiom tersebut ditemukan 8 idiom kata kerja, 11 idiom kata benda, dan 1 idiom kata sifat. Semua idiom yang ditemukan memiliki memiliki makna idiomatikal dan beberapa makna konotasi dengan 11 idiom berkonotasi negatif, 5 idiom berkonotasi positif, dan 4 idiom berkonotasi netral.
Makna Lotus dalam Lagu LiSA - GURENGE Alya Husna Nabila; Diana Puspitasari; Muammar Kadafi
Jurnal Sakura : Sastra, Bahasa, Kebudayaan dan Pranata Jepang Vol 6 No 1 (2024)
Publisher : Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JS.2024.v06.i01.p01

Abstract

This research contains the meaning of lotus in the song LiSA - Gurenge which has an implied meaning regarding the philosophical value of lotus which is analogous to the stages of human life. The purpose of this study is to describe the representation of the lotus flower and its meaning in the Gurenge song for Japanese society. This study uses a qualitative descriptive method, see note, then the theoretical concept used in this research is the semiotic theory of Charles Sanders Peirce. The results of this study found that there is a representation of the living teaching of the Lotus Sutra which is believed by Tiantai and Nichiren Buddhists who are widespread in East Asia. Based on the results of the research, it can be concluded that the Gurenge song describes the human process in an effort to achieve the highest enlightenment to reach nirvana in accordance with Buddhist teachings
Representasi Unsur Kebudayaan Jepang pada Era Taisho dalam Anime Kimetsu no Yaiba Annisa Eka Wulandari; Neneng Konety; Nurfarah Nidatya
Jurnal Sakura : Sastra, Bahasa, Kebudayaan dan Pranata Jepang Vol 6 No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JS.2024.v06.i02.p11

Abstract

Penelitian ini bertujuan menelusuri unsur-unsur kebudayaan era Taisho yang tersemat dalam anime Kimetsu no Yaiba. Peneliti menggunakan metode kualitatif dan melakukan pengumpulan data dengan teknik simak dan tinjauan pustaka terhadap beberapa artikel jurnal terkait. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori unsur-unsur kebudayaan menurut C. Kluckhohn. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anime Kimetsu no Yaiba yang memiliki latar waktu pada era Taisho menunjukkan unsur-unsur kebudayaan menurut C. Kluckhohn yang terdiri dari sistem teknologi dan peralatan hidup, sistem mata pencaharian, kesenian, sistem religi, sistem kekerabatan dan organisasi sosial, sistem pengetahuan, serta sistem bahasa. Unsur-unsur tersebut ditampilkan di anime ini dalam berbagai cara, misalnya melalui objek, peralatan sehari-hari, tarian, tata kota, pekerjaan, hingga pakaian. Dengan adanya unsur-unsur ini, penonton dapat menonton anime Kimetsu no Yaiba sebagai hiburan sekaligus menggali dan memahami kekayaan warisan budaya Jepang pada era Taisho. This research is titled "Representation of Japanese Cultural Elements in the Taisho Era in the Anime Kimetsu no Yaiba" with the aim of exploring the cultural elements of the Taisho era embedded in the anime Kimetsu no Yaiba. The researcher employs a qualitative method and collects data through observation techniques and literature review of several related journal articles. The theory utilized in this research is the theory of cultural elements according to C. Kluckhohn. The findings indicate that the anime Kimetsu no Yaiba, set in the Taisho era, exhibits cultural elements according to C. Kluckhohn, which include the technological system and living equipment, livelihood system, arts, religious system, kinship system and social organization, knowledge system, and language system. These elements are portrayed in the anime in various ways, such as through objects, everyday equipment, dances, city layout, occupations, and clothing. With these elements, viewers can watch Kimetsu no Yaiba as entertainment while also exploring and understanding the richness of Japanese cultural heritage in the Taisho era.
Nilai Moral Tokoh Utama dalam Anime Hotaru No Haka Karya Isao Takahata : Pendekatan Sosiologi Sastra Rizky Andika Darmawan; Poppy Rahayu; Eva Jeniar Noverisa
Jurnal Sakura : Sastra, Bahasa, Kebudayaan dan Pranata Jepang Vol 6 No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JS.2024.v06.i02.p02

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan unsur intrinsik dan ekstrinsik yang terdapat dalam anime Hotaru no Haka serta mendeskripsikan nilai moral apa saja yang ada pada tokoh utama dalam anime Hotaru no Haka, yaitu Seita Yokokawa dan Setsuko Yokokawa dianalisis menggunakan dua teori nilai moral. Teori pertama, yaitu teori jenis-jenis nilai moral dalam karya sastra menurut Nurgiyantoro, kemudian teori kedua nilai moral dalam bushido menurut Nitobe. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik studi pustaka kualitatf dan dipadukan dengan teknik simak catat. Hasil dari penelitian ini adalah dari tiga jenis nilai moral dalam karya sastra menurut Nurgiyantoro, terdapat dua nilai moral pada Seita Yokokawa dan juga dua nilai moral pada Setsuko Yokokawa, semuanya merupakan nilai moral hubungan manusia dengan dirinya sendiri dan hubungan manusia dengan sesama manusia. Sedangkan, dari tujuh jenis nilai moral dalam bushido menurut Nitobe, terdapat enam nilai moral pada Seita Yokokawa, yaitu nilai moral keberanian, rasa kemanusiaan, kesopanan, ketulusan hati, kehormatan, dan kesetiaan, serta lima nilai moral pada Setsuko Yokokawa, yaitu nilai moral rasa kemanusiaan, kesopanan, ketulusan hati, kehormatan, dan kesetiaan.
Performativitas Gender Crossplay: Membangun Persona Bishoujo Pada Male to Female (M2F) Crossplayer Asep Achmad Muhlisian
Jurnal Sakura : Sastra, Bahasa, Kebudayaan dan Pranata Jepang Vol 6 No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JS.2024.v06.i02.p07

Abstract

This study discusses crossplay efforts in building the Bishoujo persona in M2F crossplayer as a form of fluid crossplay gender performativity referring to Judith Butler's theory. This research is a quasi-ethnographic research in Bandung which involves 3 research subjects taken using perposive sampling technique. Data were collected through field observations, social media and in-depth interviews. The results shows that the bishoujo persona was built by emphasizing the similarities with the characters shown in the crossplay. In the process of performing the persona, the three respondents tried their best to match their character through costumes and make-up. The beautiful bishoujo female persona which is more sexy and erotic clearly shown by two respondents. Besides that, it is not only sexy and beautiful, but the female fighter persona or female fighter character with sharper eyes and the ability to use a sword also appears in the bishoujo persona. While one respondent described the bishoujo persona as being more cheerful, with rounder eyes and a loving nature. This is in accordance with Butler's statement that gender identity appears to be seen as something fluid that can move and change in different contexts and times.
Pendidikan Karakter dalam Anime: Analisis Psikologi Tokoh Naruto pada Serial Anime Naruto Hafitta Illa; Misbahus Surur
Jurnal Sakura : Sastra, Bahasa, Kebudayaan dan Pranata Jepang Vol 6 No 1 (2024)
Publisher : Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JS.2024.v06.i01.p03

Abstract

Naruto anime is one of the anime that can be used as an educational watch that supports us in teaching character education to the younger generation. The purpose of this study is to analyze the psychology of the main characters of Naruto anime and find out the influence of Naruto anime in shaping characters and values in the audience. This study used a qualitative approach with data collection techniques, watch-listen-record and read-record. From this research, it can be found that there are several psychological aspects of Naruto characters, namely 1) loneliness and rejection, 2) social care, 3) motivation and determination, 4) self-development, 5) courage and confidence, 6) empathy, and the influence of the anime in shaping the character and values in the audience, namely 1) inspiration to overcome obstacles, 2) the importance of friendship, 3) face conflict peacefully, 4) courage to oppose injustice. The conclusion obtained is that the character Naruto shows a rich journey in terms of psychology, from a difficult childhood to strong self-development. In addition, Naruto Anime can inspire and shape characters and values in its audience.
Front Matter Jurnal Sakura Volume 6. No. 2. Agustus 2024 Redaktur Jurnal Sakura
Jurnal Sakura : Sastra, Bahasa, Kebudayaan dan Pranata Jepang Vol 6 No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

-
Analisis Kontrastif Makna Peribahasa Jepang dan Indonesia yang Terbentuk dari Kata Uang dan Emas Lutphia Rizki Pratama; Herniwati Herniwati; Aep Saeful Bachri
Jurnal Sakura : Sastra, Bahasa, Kebudayaan dan Pranata Jepang Vol 6 No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JS.2024.v06.i02.p03

Abstract

Peribahasa digunakan untuk mengungkapkan baik saran ataupun kritikan yang tidak dapat disampaikan secara lugas dengan perkataan biasa. Peribahasa biasanya menggunakan objek lain seperti binatang, tumbuhan, unsur alam, dan lainnya sebagai objek perumpamaan. Salah satu contohnya yaitu peribahasa yang menggunakan kata uang (kane) dan emas (kin) sebagai objek perumpamaannya. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui persamaan dan perbedaan pada peribahasa Jepang dan Indonesia yang memiliki makna peribahasa dan terbentuk dari kata yang sama. Penelitian ini akan dikaji dengan menggunakan teori lingustik kognitif dan kontrastif. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Sumber data utama dalam penelitian ini adalah kamus peribahasa Jepang jitsuyou kotowaza kanyouku jiten dan kamus peribahasa Inonesia. Dari penelitian yang telah dilakukan ditemukan 2 peribahasa kane dalam bahasa Jepang yang memiliki makna peribahasa yang sama dengan peribahasa uang dalam bahasa Indonesia. Tidak ditemukan peribahasa kin yang memiliki makna yang sama dengan peribahasa emas dalam bahasa Indonesia, tetapi ditemukan 1 peribahasa kin yang memiliki makna peribahasa yang sama dengan peribahasa uang dalam bahasa Indonesia.
Konsep Roh George Wilhelm Hegel dalam Film Animasi When Marnie Was There Karya Studio Chibli Ferani Wulan Puspitasari; Syihabbudin Syihabbudin
Jurnal Sakura : Sastra, Bahasa, Kebudayaan dan Pranata Jepang Vol 6 No 1 (2024)
Publisher : Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JS.2024.v06.i01.p06

Abstract

Studio Ghibli adalah studio animasi terkenal di Jepang yang didirikan pada tahun 1985, dipimpin oleh Hayao Miyazaki, Isao Takahata dan Toshio Suzuki. Studio Ghibli telah menghasilkan sejumlah film seperti ‘Nausicaa of The Valley of The Wind’, ‘Princess Mononoke’, ‘My Neighbor Tottoro’, ‘Howl’s Moving Castle’, ‘Spirited Away’. Dalam karya studio ini, terdapat beberapa animasi yang memiliki tema fantasy yang tampak ajaib, salah satunya adalah film animasi “When Marnie Was There”. When Marnie Was There adalah film animasi Studio Ghibli yang ditulis dan disutradarai oleh Hiromasa Yonebayashi dan dirilis pada 19 Juli 2014. Film When Marnie Was There dibuat berdasarkan pada novel dengan judul yang sama karya Joan G. RobinsonDalam film animasi “When Marnie Was There” terdapat unsur yang berkaitan dengan filsafat roh yang dikemukakan oleh George William Hegel, yaitu seorang filsuf Jerman yang dikenal dengan metode dialektikanya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode penelitian deskriptif dengan sumber data yang berasal dari film animasi “When Marnie Was There”.
A Metafora pada Lirik Lagu Shinkai Karya Eve Pendekatan Teori Ullman dan Halley Tri Adhi Yudha Nugroho; Tadjuddin Nur
Jurnal Sakura : Sastra, Bahasa, Kebudayaan dan Pranata Jepang Vol 6 No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JS.2024.v06.i02.p08

Abstract

This research is titled "Metaphor in Eve's Shinkai song lyrics using Ullman and Halley's theory". This research analyzes the metaphors contained in Eve's song lyrics entitled Shinkai. This research uses Ullman and Halley's metaphor theory and uses descriptive analysis method. The purpose of this study is to explain and describe the use and meaning of metaphors used by the author in the lyrics of the song he composed in this study is the lyrics again titled Shinkai. The lyrics of the song Shinkai contain metaphors that are creatively created by the songwriter and the listeners of the song try to interpret them. The result of this research is that 4 types of metaphors were found, namely anthropomorphic, abstracting, and synesthetic metaphors proposed by Ullman and terrestrial metaphors proposed by Halley. The song uses metaphors to create strong and profound imagery to describe the darkness and despair felt by the subject of the song. These metaphors help listeners to understand complex feelings through more figurative and imaginative language.

Page 11 of 13 | Total Record : 122