cover
Contact Name
Made Ratna Dian Aryani
Contact Email
dian_aryani@unud.ac.id
Phone
+6281999556168
Journal Mail Official
jurnal.sakura@unud.ac.id
Editorial Address
Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana Jalan Pulau Nias 13, Sanglah, Denpasar Bali Indonesia 80114
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Sakura : Sastra, Bahasa, Kebudayaan dan Pranata Jepang
Published by Universitas Udayana
ISSN : 26231328     EISSN : 26230151     DOI : https://doi.org/10.24843/JS.2019.v01
Jurnal SAKURA : Sastra, Bahasa, Kebudayaan dan Pranata Jepang, merupakan jurnal yang memuat artikel hasil penelitian serta kajian ilmiah di bidang sastra, linguistik, kebudayaan dan pranata Jepang. Terbit dua kali dalam setahun, pada bulan Februari dan Agustus. Jurnal SAKURA bertujuan menjadi wadah bagi para peneliti, dosen, mahasiswa dan para praktisi di bidang Sastra, Linguistik, Kebudayaan dan Pranata Jepang untuk mempublikasikan karya ilmiahnya secara luas
Articles 122 Documents
Hoikusho sebagai Faktor Utama Work Life Balance dalam Anime Gakuen Babysitters Alifia Natania; Nunuk Endah Srimulyani
Jurnal Sakura : Sastra, Bahasa, Kebudayaan dan Pranata Jepang Vol 5 No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JS.2023.v05.i02.p09

Abstract

Work Life Balance (WLB) adalah salah satu isu krusial di Jepang dan di berbagai belahan dunia. WLB adalah keseimbangan antara kehidupan pribadi dengan pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana “Morinomiya hoikushisetsu” sebagai salah satu alternatif bentuk Tempat Pengasuhan Anak (hoikusho) menjadi pilar utama dalam harmonisasi WLB para staff, guru pengajar dan murid SMA dalam anime Gakuen Babysitters. Anime ini menceritakan tentang kehidupan kakak beradik yang menjadi yatim piatu akibat kecelakaan pesawat terbang yang terjadi pada orang tua mereka sehingga sang kakak harus merawat adiknya sendirian sembari bersekolah di SMA. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, dengan menggunakan teori representasi oleh Stuart Hall. Dari hasil analisis dapat diketahui bahwa hoikusho pada sekolah Morinomiya telah berhasil memadukan berbagai kepentingan para para guru, staff, dan siswa untuk menitipkan anak atau adik mereka dengan biaya yang sangat rendah karena sistem sukarelawan yang dibangun seperti kegiatan ekstra kurikuler sekolah. Di sisi lain, institusi sekolah sebagai inisiator juga mendapatkan keuntungan karena staff mereka merasa tenang dan nyaman bekerja/belajar karena anak atau adik mereka berada dalam pengasuhan yang aman dan terjangkau dari segi jarak dan finansial. Sebagai kesimpulan, anime Gakuen Babysitters ini menggambarkan pentingnya Tempat Pengasuhan Anak sebagai syarat terwujudnya WLB bagi orang-orang yang harus berperan ganda. Ekstra kurikuler pengasuhan anak dalam anime ini juga menembus batas kemusykilan kurangnya hoikusho di Jepang.
Cinta Altruistik pada Tokoh Utama dalam Anime Sword Art Online: Alicization Shakira Fernata Anvaria; Diana Puspitasari; Yudi Suryadi
Jurnal Sakura : Sastra, Bahasa, Kebudayaan dan Pranata Jepang Vol 5 No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JS.2023.v05.i02.p05

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang altruistik pada tokoh dalam dalam anime Sword Art Online: Alicization dengan tujuan untuk mengetahui bentuk afirmatif dan tindakan altruistik yang nampak dalam anime tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan data berupa tangkapan layar, dialog, serta monolog yang menyiratkan altruistik. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik simak dan catat. Penelitian ini menggunakan teori cinta altruistik menurut Stephen G. Post. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para tokoh utama menunjukkan bentuk afeksi afirmatifnya melalui (1) kepedulian ketika melihat orang lain membutuhkan dukungan atau jatuh sakit, (2) perbaikan agar orang lain tidak melakukan tindakan kebencian atau tindakan berbahaya, (3) bersimpati dengan orang lain yang mengalami penderitaan akibat ketidakadilan, dan (4) kemurahan hati dalam bertindak untuk kesejahteraan orang lain. Bentuk tindakan altruistiknya yaitu melindungi, menolong, dan menyelamatkan orang lain dengan tujuan untuk memberikan kesejahteraan serta menghilangkan penderitaan orang lain dengan mengorbankan dirinya dan kehilangan nyawa. Dari hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa cinta mampu mendorong seseorang untuk melakukan apa saja demi orang yang dicintai, bahkan sampai diungkapkan dalam tindakan altruistik yang mengorbankan dirinya sendiri.
Fungsi Diksi Onomatope dalam Buku Cerita Bergambar Bertema Gempa dan Tsunami Kadek Dea Shinta; Silvia Damayanti; Ni Made Andry Anita Dewi
Jurnal Sakura : Sastra, Bahasa, Kebudayaan dan Pranata Jepang Vol 5 No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JS.2023.v05.i02.p10

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membahas makna dan fungsi diksi onomatope Jepang yang digunakan pada dua buku cerita bergambar bertema bencana gempa bumi dan tsunami. Teori yang digunakan adalah teori onomatope Jepang, teori Stilistika, teori Semiotika. Hasil penelitian menemukan diksi onomatope dalam dua buku cerita bergambar bertema bencana dapat mempresentasikan alam, manusia, dan benda/sesuatu. Diksi onomatope yang ditemukan cenderung memiliki makna yang merepresentasikan gerakan oleh tanah atau benda saat gempa, suara yang merepresentasikan ombak tsunami, maupun suara lainnya yang dihasilkan karena aktivitas bencana, dan keadaan lingkungan maupun perasaan manusia yang dipengaruhi oleh suasana sebelum, saat, dan sesudah peristiwa bencana. Berdasarkan hasil tersebut, diksi onomatope yang ditemukan dapat diketahui memiliki 3 fungsi utama. Pertama, fungsi menjelaskan detail informasi berdasarkan intensitas gempa atau kekuatan ombak tsunami. Kedua berfngsi memperkuat atau menekankan sesuatuu benda atau hal yang direpresentasikan. Ketiga, berfungsi menambah nilai estetika pada tulisan dalam bentuk repetisi kata yang berirama dari peniruan suara objek nyata.
Studi Komparatif Onomatope Benda Mati Bahasa Jepang dan Bahasa Jawa Teguh Santoso; Althaf Gauhar Auliawan
Jurnal Sakura : Sastra, Bahasa, Kebudayaan dan Pranata Jepang Vol 5 No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JS.2023.v05.i02.p01

Abstract

This research is entitled ‘‘Comparative Study of Inanimate Onomatopoeic Studies in Japanese and Javanese Language’’. This study uses a qualitative method with a reference to a comparative study approach. The data used in this study came from various mixed data, including the novel Emas Sumawur, Panjebar Spirit magazine and the Japanese Yonkoma comic. The data collection in this study used a descriptive approach. The descriptive research method used is the study of Sudaryanto Onomatopoeia in Japanese is divided into two types, namely: giongo (words that imitate the sound of living things or sounds that come out of inanimate objects) and gitaigo (words that directly describe the state of sound). In Javanese, onomatopoeia are words that are formed based on imitation of sounds in the natural surroundings and sounds of certain inanimate objects. In this study, because the number of Japanese onomatopoeia is the highest compared to Javanese, this onomatopoeic research is only limited to words based on imitation of sounds on inanimate objects. In this study, the description of the comparative study used the study of Tarigan, while the onomatopoeic description of inanimate objects used the study of Akimoto (2002) and Mulyani This study aims to obtain a description of the differences or similarities of onomatopoeic inanimate objects in Japanese and Javanese based on data findings. The results of the research on inanimate objects in Japanese and Javanese, there are 16 data to find out how the differences or similarities of the onomatopoeia are.
Representasi Peristiwa Sejarah Genkou yang Terdapat dalam Video Game Ghost of Tsushima Erica Chen; Renny Anggraeny
Jurnal Sakura : Sastra, Bahasa, Kebudayaan dan Pranata Jepang Vol 5 No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JS.2023.v05.i02.p06

Abstract

Artikel ini membahas mengenai representasi peristiwa sejarah genkou yang terdapat dalam video game berjudul Ghost of Tsushima hasil kembangan Sucker Punch Productions. Metode yang digunakan dalam artikel ini ialah metode simak dan catat dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Teori yang digunakan dalam artikel ini adalah teori new historicism yang dikemukakan oleh Greenblatt. Berdasarkan hasil penelitian, video game tersebut merepresentasikan peristiwa sejarah genkou ke dalam delapan peristiwa. Kedelapan peristiwa ini tidak sepenuhnya sesuai dengan peristiwa yang terjadi dalam fakta sejarah genkou. Oleh karena itu, peristiwa-peristiwa tersebut terbagi menjadi tiga kategori yang terdiri dari peristiwa yang sesuai, peristiwa yang mirip, dan peristiwa yang berbeda. Peristiwa yang paling sesuai dalam merepresentasikan peristiwa sejarah genkou ialah pertahanan 80 orang samurai yang dipimpin oleh Shimura. Delapan puluh orang samurai melawan ribuan pasukan Mongol merupakan kejadian yang khas dari sejarah genkou. Detail kecil mengenai pemimpin dari kedelapan puluh samurai yang merupakan seorang jito di pulau Tsushima juga direpresentasikan dalam game.
Struktur Pembentuk Nomina Tempat dalam Bahasa Jepang pada Novel Berjudul Fune wo Amu Karya Shion Miura Aji Satrio Pamungkas; Ketut Widya Purnawati; I Nyoman Rauh Artana
Jurnal Sakura : Sastra, Bahasa, Kebudayaan dan Pranata Jepang Vol 5 No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JS.2023.v05.i02.p11

Abstract

"The Structure of Forming Nouns of Place in Japanese in a Novel Entitled Fune Wo Amu by Shion Miura" is the title of this study. The purpose of this research is to learn more about the structure of the formation of place nouns in Japanese which is found in a novel entitled Fune Wo Amu by Shion Miura. Descriptive qualitative method is the method used in this research. Japanese Morphological Theory and the Semantic Theory by Tsujimura (2014) are the theory used in this research. Based on the result of this research, it can be concluded that noun place marker suffixes can be attached to bound morphemes, nouns, verbal nouns, and root verbs (ren'y?kei). The kango type of word is the type of word that is most often attached by place marking suffixes in Japanese. In addition, when compared to other types of place noun-forming suffixes such as ~? (-ba, -jo?), ~? (-dokoro, -sho, -jo), ~? (-kan), ~? (-ya), ~? (-chi), ~? (-ten), ~? (-in), and ~? (-do?), the suffix ~? (-shitsu) produces the most place nouns.
Representasi Budaya Jepang dalam Ryokan pada Anime Hanasaku Iroha San San; Ni Luh Putu Ari Sulatri; Ni Putu Luhur Wedayanti
Jurnal Sakura : Sastra, Bahasa, Kebudayaan dan Pranata Jepang Vol 5 No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JS.2023.v05.i02.p02

Abstract

This research is titled "Representation of Japanese Culture on Ryokan in the Hanasaku Iroha Anime". This study aims to determine the characteristics of the ryokan depicted in the Hanasaku Iroha anime and the representation of Japanese culture in the ryokan. The data was collected using the observation method, analyzing the data using the descriptive method, and presenting the data analysis using the informal method. The theory used is the Theory of Anthropology and the Semiotic Theory of Roland Barthes. Based on the research results, it is known that the depiction of the ryokan in the Hanasaku Iroha anime is divided into the location of the ryokan and the food facilities in the ryokan. Most of the ryokan are built near the onsen with the aim of allowing guests to enjoy the onsen with the natural heat of the mountains, but it is possible that ryokan are also built in urban areas. The food facilities in the ryokan are kaiseki ryori as Japanese specialties which are one of the attractions for guests to stay. In the cultural representation of the ryokan, there are three cultural concepts found in the data. The first is the concept of uchi-soto which is seen from the genkan area with guests as soto and staff as uchi so that when entering the ryokan, guests have entered the uchi area of ??the ryokan. Second, the representation of the wabi-sabi concept can be seen from the ryokan garden focuses on imperfection and simplicity. Finally, the embodiment of the wa and ma concepts is depicted from the washitsu room which emphasizes harmony and empty space.
Penggunaan No Da dalam Kalimat Bahasa Jepang: Kajian Sintaksis dan Semantik Adinda Nabila Balqis; Sri Iriantini
Jurnal Sakura : Sastra, Bahasa, Kebudayaan dan Pranata Jepang Vol 5 No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JS.2023.v05.i02.p7

Abstract

This research aim to determine the function and meaning of modality no da in Japanese sentences found in various media such as anime. This research was conducted using descriptive qualitative method by collecting data to analyze in the form of sample sentences containing no da modality based on theory according to Noda (1997). The results of this research show that no da is used when the speaker and the interlocutor know the situation set in the conversation. Modality no da has various functions, including : as a nominalizer, expression delivery, question and conjunction that combines one clause with another. The meaning of modality no da varies depending on the function and verb attached to modality no da.
Kajian Psikolinguistik dalam Penguasaan Kosa Kata Bahasa Jepang Mahasiswa Program Studi Sastra Jepang Universitas Udayana Ni Putu Candra Lestari; Silvia Damayanti; Ni Made Andry Anita Dewi
Jurnal Sakura : Sastra, Bahasa, Kebudayaan dan Pranata Jepang Vol 5 No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JS.2023.v05.i02.p12

Abstract

Psycholinguistics is related to three things, namely language comprehension, language production, and language acquisition. One of the goals of language acquisition studies is to facilitate the process of language acquisition, including foreign languages, for example Japanese. The dimension of acquiring Japanese is closely related to learning Japanese and mastering it. One of the basic things in mastering Japanese is vocabulary mastery. Vocabulary mastery reflects mastery of reading, writing, listening, and speaking skills. This study describes an evaluation of students' Japanese vocabulary mastery, as well as the potential for mastery associated with the six dimensions of language acquisition by Klein (1986). The main subjects of this research are all active students of the Japanese study program at Udayana University starting from the 2018 to 2021 class, totaling 258 people. Data were collected by the test method, where students worked on questions about knowledge of Japanese vocabulary which included competency components according to international standards of Japanese language skills, namely on the fulfillment of eight indicators of vocabulary knowledge tested, namely: reading Kanji; write Kanji characters; determine vocabulary according to context; determine synonyms; use words in sentences; determine the correct form of the word; compose sentences; and determine connecting words in a discourse. Data were analyzed descriptively qualitatively. The research resulted in an evaluation that the level of students' Japanese language proficiency was 54%. It is necessary to hold reading and writing exercises as a follow-up step. Regarding the potential for students' mastery of Japanese, the propensity and access factors are very important to improve.
Perkembangan Kepribadian Karakter Daiba Nana dalam Serial Animasi Shoujo? Kageki Revue Starlight: Tinjauan Psikoanalisis Marisa Rianti Sutanto; Muhammad Rasyid Ridha
Jurnal Sakura : Sastra, Bahasa, Kebudayaan dan Pranata Jepang Vol 5 No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JS.2023.v05.i02.p03

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk memahami perkembangan kepribadian Daiba Nana dalam anime Shoujo?Kageki Revue Starlight. Penulis menggunakan metode psikologi sastra dengan acuan teori psikoanalisis Sigmund Freud. Sumber data berasal dari dialog, monolog dan perilaku yang mencerminkan keadaan psikologis Daiba Nana dengan acuan teori dinamika kepribadian dan mekanisme pertahanan ego. Dinamika kepribadian memuat insting dan distribusi energi psikis. Insting dapat terlihat dari cara objek penelitian berperilaku dan dari cara berbicaranya, dan dapat dibagi menjadi insting hidup dengan insting kematian. Distribusi energi psikis berpengaruh atas tindakan yang dilakukan oleh objek penelitian bersumber dari id, ego, atau superego, dan dicerminkan oleh insting yang mendorong perilakunya. Dorongan dari distribusi energi psikis dan insting dapat menimbulkan konflik dalam diri dan menciptakan kecemasan, yang kemudian akan direspon oleh mekanisme pertahanan ego untuk menenangkan kecemasan tersebut. Dalam sejumlah kejadian dalam cerita, memperlihatkan ketidakmampuan objek penelitian dalam menanggapi tegangan yang berasal dari masalah-masalah atau konflik yang dihadapinya, sehingga memutuskan untuk menghindari konflik dan membuat kepribadiannya tidak berkembang karena terus berada dalam keadaan yang selalu sama.

Page 9 of 13 | Total Record : 122